PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< May 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, May 02, 2007
Curriculum Vitae

Sebuah tip untuk yang merasa butuh penyemangat: menyusun atau mengatur ulang CV deh. Mencatat emang dashyat; ia mampu mengumpulkan lagi apa-apa yang sebenarnya sudah terlupa. Bisa jadi sebuah refleksi, sebuah rangkuman pencapaian atau sekedar membantu mengingat. Yang penting apa-apa yang sudah lewat kejadian jadi punya bukti itu pernah terjadi (tentang seberapa obyektif pencatatan yang dilakukan, bisa dibicarakan di lain kesempatan).

Tadi malam, ada kebutuhan yang 'mengharuskan' aku meng-update CV, sesuatu yang tidak pernah aku lakukan dalam dua tahun terakhir, tepatnya setelah dapat pekerjaan. Mengerikan ya?

Saat sedang mendaftar kualifikasi dan kompetensi yang aku punya, minat-minatku, hal-hal yang sudah aku pelajari dan ingin aku pelajari di masa depan, dan hal-hal yang aku yakin banget bisa aku lakukan dengan amat baik, kok semuanya jadi terasa enteng ya?

Maksudnya, aku punya skor TOEFL yang cukup oke, aku pernah melakukan berbagai jenis pekerjaan yang ngasih banyak pengalaman, GPA-ku juga not so bad. (Duh, seberapa parah coba sampai aku lupa GPA-ku sendiri. Well, yeah, mine is not 3,7 yang dengan mudah dihapal di luar kepala dan dijual ke mana-mana).

Ketika membaca CV itu, aku ngerasa, dammit, I'm qualified for just about any job I want, termasuk buat jadi penjinak singa. Jadi, apa yang aku takutkan?

Anehnya, kok tiba-tiba ada telpon pagi ini minta CV juga dari orang yang berbeda. Seperti kata Yohanes Surya, (se)mesta (mendu)kung. Masih percaya kebetulan itu ada atau semua, bahkan sampai hal terkecil pun, memang sudah ada implikasinya?

Posted at 01:48 pm by i_artharini
Comment (1)  

Monday, April 30, 2007
Daftar Hidup

Apa yang terjadi dengan 'life list'-ku? Kok udah lama banget ya aku nggak nyatet daftar yang isinya hal-hal yang pengen aku capai dalam hidup. Oke, kegalauan ini dimulai tadi malam, pas nonton 'High Fidelity'.

Yes, yes, aku terlalu sering menonton film itu. Tapi semakin aku tua, aku jadi semakin ngerti, yang dibahas jadi semakin relevan. Sebenarnya nonton itu juga nggak sengaja. Awalnya mau nonton film-film bertema young girls as heroine di dunia fantasi. Pertamanya mau nonton 'Pan's Labyrinth' yang baru dibeli. Eh, ternyata itu film nggak jalan di laptop. Terus ganti 'Spirited Away' dulu. Pas balik lagi mau nonton 'Pan's...', ternyata tetap aja nggak jalan.

Kadung udah berada di mood nonton, ya udahlah, nonton 'High Fidelity'. Anyway, aku jadi bertanya-tanya, di mana daftar hidupku? Gara-gara mbaca artikel keren di New York Times ini, aku juga jadi bertanya-tanya, apa yang seharusnya ada di daftar hidupku. Salah satu karakter di laporan itu diceritain menulis:

---
“life list,” with 35 goals and dreams, in pink ink.

She wants: To write a novel. Own a (red) Jeep Wrangler. Get into college. Name her firstborn daughter Carmen. Go to carnival in Rio de Janeiro. Learn to surf. Live in a Spanish-speaking country. Learn to play the doppio movimiento of Chopin’s Sonata in B Flat. Own a dog. Be a bridesmaid. Vote for president. Write a really good poem. Never get divorced.
---



Sama kaya Rob Gordon di High Fidelity, mungkin aku nggak pernah benar-benar berkomitmen ama sesuatu. Mimpiku, pekerjaanku, keluargaku, diriku sendiri, hal-hal yang aku kerjakan, dst. Aku selalu punya satu kaki yang udah siap-siap jalan ke luar. Dan itu, mencegahku untuk berkomitmen. Sebuah evaluasi, kayaknya aku belum pernah benar-benar menseriusi sesuatu. Seperti katanya Rob Gordon, "that equals suicide. By tiny, tiny increments".

Atau mungkin karena aku takut gagal. Jadi dengan tidak menentukan target, maka aku nggak bakal kecewa-kecewa banget. Oke, mungkin ketiadaan daftar hidup itu bisa diasosiasikan dengan kecenderunganku untuk tidak teratur. (Menurut sebuah tes psikologis, aku punya nilai 'orderly' yang rendah banget)

Tapi, di tengah-tengah sikap penuh kekacauan itu, pas mau lulus SMA dulu aku sempet punya daftar deh, mentargetkan nilai-nilai yang harus aku capai. Dan pas mau lulus kuliah, di blog lama, kayaknya sempet nulis my top five dream job.

Sekarang, kenapa saat aku benar-benar punya kendali atas 'aku mau jadi siapa' sebenarnya, kok malah nggak punya daftar sama sekali ya. Ini bukan sekedar sama dengan bunuh diri, ini udah bunuh diri itu sendiri.

Oke, mungkin punya program 50 buku setahun. Tapi, please. You can't just read books for the rest of your lives, right? Or, can I? Arghhh, Nari, Nari, ayo, please, be serious.

Seharusnya ini menyenangkan kan? Mendaftar apa-apa yang kamu inginkan. Tapi kok aku malah ngerasa takut ya, ketika itu nggak tercapai. My heart, please be brave. Start writing that list.


Posted at 08:10 pm by i_artharini
Make a comment  

Hati-hati

Seorang penulis yang pernah aku wawancarai bilang, dalam fiksi, kita bisa melihat sejauh apa we can go. 'Go' dalam artian karakter, tingkah laku, efek dari tingkah laku kita, pokoknya seberapa ekstrim kita bisa berlaku dan konsekuensi seberat apa yang bisa kita terima.

Nah, Minggu malam kemarin nonton 'Notes on a Scandal' yang kualitas bajakannya udah okeeee banget. Singkatnya, seorang guru, lebih tua, closeted lesbian (allegedly), secara nggak sengaja mengetahui rahasia perselingkuhan temen deketnya, seorang guru, lebih muda dengan muridnya yang masih di bawah umur.

Yang membuat aku takut dan berdoa sepanjang film, 'Tuhan, tolong jangan jadikan saya Barbara Covett (tokohnya Judi Dench yang lebih tua, dst, dst).' Aku mungkin belum berada di kelas yang sama seperti Barbara, tapi aku jadi takut dengan kecenderungan yang aku miliki untuk 'grab a popcorn and enjoy the story' ketika ada kisah-kisah romantika kehidupan nyata yang tersebar di sekitarku, along with its ups and downs.

Ada positifnya sih berada di posisi yang diceritain; bisa belajar banyak, mengetes kemampuan diri, etc. Tapi, ini kan yang jadi 'sasana latihan' kehidupannya orang lain. Takutnya, aku nggak bisa lagi ngeliat batasan ini kehidupan punya siapa. Dan ketika aku nggak ngedapetin cerita-cerita itu lagi, kemungkinannya bisa banyak. Mulai dari posesif, menuntut, menghabiskan waktu dengan memikirkan cerita itu, mempertimbangkan segala kemungkinan, dan, yang paling bahaya, jadi bermain-main dengan tanggungan orang lain.

Oke, mungkin aku jadi terlalu dramatis. Tapi, hal yang remeh nggak akan selamanya remeh. Suatu saat, bisa jadi serius. Baca 'Emma' kalau nggak percaya. (Arrgghhh, aku berharap bisa berhenti mengutip buku sebagai referensi dan bersandar pada pengalaman sendiri. Tapi, seperti katanya Deborah Ellis, emang di fiksi kok kita bisa ngeliat sejauh apa kita bisa go.)

Aku cuma ingin berhati-hati. Aku punya kerapuhan-kerapuhan sendiri dengan kondisi pribadi sekarang. Jangan sampai cerita-cerita yang masuk itu jadi malah membuat kecanduan dan justru tambah rapuh.

Posted at 05:35 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, April 27, 2007
Affliction Bag.2

Nah ini. Mungkin bisa buat Ccr, tapi juga bisa buat refleksi pribadi. Aku kok tiba-tiba ngerasa seperti yang dibilangin partner sms-mu itu ya, Ccr.

"Gadis remaja yang gelisah dengan identitasnya".

Ada disorientasi kesedihan yang terjadi deh kayaknya. Perasaan not worthy, unloved, unaccepted yang berujung pada kesedihan ini (aha, jadi udah ketemu sumbernya?) bukannya 'sepatutnya' dimiliki oleh gadis-gadis remaja?

Bukankah masalah insekuritas adalah suatu fase yang kita nggak ngalamin lagi ketika usia semakin bertambah? Sama halnya kayak jerawat masa puber atau menyukai boyband atau oh, oh, oh, ini nih...suka ama band-band emo.

Jadi, kenapa aku masih berkubang dalam kolam kesedihan yang sama?

(Btw, ngeliat-liat dailypuppy.com malah jadi pengen nangis terus. Ada sesuatu yang rapuh dan manis, tapi di saat bersamaan begitu...godlike, begitu tak bisa tertampung di hati saya, begitu menandai awal sebuah kehidupan, dan lagi-lagi, membuat nangis)

Posted at 10:36 pm by i_artharini
Make a comment  

Pemanasan Global

Hari Bumi emang udah hampir seminggu lalu. Tapi, nggak tau kenapa, hari ini bener-bener, semua topik tentang pemanasan global berkumpul jadi satu. Sepanjang hari dikasih tanda-tanda terus untuk inget ama masalah bumi yang satu ini.

Pagi-pagi, pas baca Muda-nya Kompas (cieeeee...make anak Kanisius nih? Ngikutin kita nih? Ngerasa kecolongan ama kita nggak? Ooops...excuse me, that was my PMS talking :p) topiknya pemanasan global. Good choice, I take my hats off to para penulis dan siapa pun yang memikirkan untuk mengangkat tema itu.

Pas lagi di jalan, dari dalam bis 46, tiba-tiba ngeliat Toyota Rush yang warna trademark-nya biru elektrik itu. Masih biru. Masih mengkilap. Kalau masuk, pasti baunya masih bau baru. Tiba-tiba jadi keinget beberapa malam sebelumnya liat episode serial 'Weeds'.

Di serial itu, si ibu dulu punya Range Rover, typical suburban American soccer mom dengan SUV-SUV mereka. Pas pulang, dia mbawa mobil baru. Merknya sih nggak disebut dan aku juga nggak ingat, apakah si ibu membawa pulang sebuah Prius. Anaknya protes, mobil lamanya kemana, "I like the old car better. This is ugly."

Kata ibunya, "Range Rover is just obnoxious. This is environmentally friendly. There's this thing now called 'global warming'."

Spot on, spot on. Range Rover is just exactly that. Obnoxious. Sama dengan Hummer. Obnoxious. Begitu pun dengan SUV-SUV lainnya. Fortuner, Rush, dan...my dad's Trooper, I guess. Keliatan keren, emang. Tapi tetep obnoxious. Menyinggung, norak, ngeselin, arogan, nggak punya manner, nggak sopan, sekedar penanda 'gue punya duit' tanpa punya tanggung jawab dengan lingkungan. Mulai sekarang, aku akan bilang 'Range Rover' buat orang-orang yang obnoxious.

Masih di bis 46 yang sama, di perempatan Kuningan ngeliat ada Rush lain lagi. Sekarang warnanya hitam. "Duh, Rush lagi. Ini mobil kayaknya belum lama masuk pasar kok udah banyak banget ditemuin di jalan sih. Siapa sih yang pada nggak bertanggung jawab ama lingkungan kayak gini?"

Baru aja, mak cep mulutku nutup. Eh, bis 46-nya jalan, ngeduluin Rush, dan di pojok kanan dashboard deketnya supir ada topi dengan tulisan gede-gede: 'P-O-L-I-S-I'.
Ealaaaahhhh. Pantesan aja.

Ini bukan lagi sekedar arogansi sama lingkungan, tapi juga arogansi untuk jadi kebal hukum terhadap institusinya sendiri. Motivasi topi itu ditaruh di pojok kanan deket supir kayaknya nggak jauh beda deh sama orang-orang yang nempelin stiker 'pers' di mobilnya atau nggantung ID wartawan di spion mobil. Bener kan?

Dan, hari ini tadi liputannya juga pas tentang perubahan iklim/pemanasan global di Walhi.

Man, kenapa aku balik ngerasa paling bener sendiri gini ya?


Posted at 07:48 pm by i_artharini
Make a comment  

SMS

Words to live by: "SMS itu murah. Yang lebih penting, gimana perlakuan dia ke elu."
(courtesy dari Sic)

Jadi, kalau misalnya SMS itu murah secara ekonomi, kenapa aku jadi takut banget dengan semua implikasi-implikasinya? Ini kan cuman SMS, bukan pemanasan global  yang masang AC di sini atau ngegeber SUV terus efeknya ditabung buat beberapa tahun lagi.

Tapi si QQ yang sekarang berubah jadi Ccr bilang, "Nari, lu harus bermain cantik. Secantik Al Gore yang bilang, '(pemanasan global) lebih penting dari perang Irak. Karena semua nanti nggak bakal ada kalau kita terlambat bertindak.' Lu harus bisa membungkusnya secantik itu."

Nah, nah. Jadi?

(Seorang cowok handsome berusia 27 tahun yang tinggal di Jakarta dan menyatakan dirinya single di status Friendsternya nggak bakalan bener-bener single kan?)

Posted at 07:37 pm by i_artharini
Make a comment  

Oooohhhh



Mungkin cuma perlu ini, Nari. Atau, lebih banyak foto-foto seperti itu.

Posted at 04:35 pm by i_artharini
Make a comment  

Affliction

Pernah terbangun dengan sebuah resolusi: aku cuman pengen bahagia hari ini? (Beneran ya, membuka dengan pertanyaan itu emang cara mengawali tulisan paling gampang.) Kenapa ya, sekarang kok aku jadi terbangun dengan pagi-pagi seperti itu terus?

Tapi, pada tengah hari, aku menemukan sebuah kesedihan yang besar banget dan nggak bisa nggak membuatku pengen nangis. Aku, sudah pasti lebih tua dari terakhir kali serangan-serangan seperti ini terjadi dan bisa dibilang lebih bijaksana. Tapi kenapa ya? Kesedihan yang belum aku temuin sumbernya ini kok tiba-tiba datang lagi dan membuatku ngerasa mak-less.

Aku bisa ngenalin beberapa elemen-elemennya yang nggak rasional, kayak this hatred for people yang berlaku biasa-biasa aja dan nggak ada yang salah sebenernya dengan mereka. But I hate them. Dan semua hal aku anggap membuatku merasa kesal.

Rasanya cuman pengen pulang, terus nangis, terus tidur, bangun, terus nangis lagi. Penyebabnya abstrak. Emang terasa seperti kesedihan yang abstrak. Therefore, seharusnya ini kesedihan yang nggak rasional. Tapi apa sih ini yang membuat aku nangis?

Posted at 03:06 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, April 24, 2007
Perempuan Gua

Apa yang terjadiiii? I felt like I've been living in a cave for the last....entah how many weeks. Ya walaupun di dalam guanya ada novel-novel Jane Austen atau perbincangan-perbincangan (baca: gosip) tentang Budiman Sudjatmiko yang I have to admit, cute, atau tetek-bengek ngerjain ID atau per-sms-an nggak penting yang sekarang nggak ada hasilnya kan, but still. It's a cave!

Huks, huks, huks.

Maghrib-maghrib dipanggil Hanum. "Nariiiii, sini, sini. Aduh, udah lama nggak ke kantor deh. Ada apa di kantor?"
(Masa aku cerita BS ke dia, nggak mungkin kan?) "Apa yaaa? Aku nggak tau ada gosip apa."
"Ya, nggak usah gosip. Anak-anak pada mau ada acara apa?"
me: (equally dumbfounded)

Hanum: "Aduhhhh, kantor sepi deh. Anak-anak pada jalan semua. CP ke Palembang, IF ke Bangka, AD ke Shanghai..."
me: "AD ke Shanghaiiiiii?????"
Hanum: "Lho, iyaaaa. Sembilan hari lagi. Buat itu lhoo..."
me: "Olimpiade Fisika ya?"
Hanum: "Iya. Bas ke India...."
me: "Hahhhhh??? Ke Indiaaa?? Kapan? Berapa lama?"
Hanum: "Lho, Nari gimana sih. Malah aku yang jarang ke kantor, tau."

(Indeed, girl. Aku nggak abis-abisnya bertanya pada diri sendiri)

Terus, jadi inget. Siangnya, pas liputan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional ditanyain sama anak Sindo. "Tlc mana? Udah berangkat ke Vietnam ya?"
"Haaaahhhhh, Tlc mau ke Vietnaam? Kok aku baru tau siihhh???"

Dan, CS datang ke kantor terus iseng-iseng aku tanyain kapan dia berangkat ke Amerika. This 1st of May. Tlc? 8th of May. Bas? 3rd of May (menurut Hanum). Me? Tetap di Jakarta, ngurusin ID, ID, ID lagi. Am I that invisible? Hello, hello, helloooooo.

Oke, biar adil, aku emang udah dapet giliran ke Singapura, cuma satu malam. But it's a one night Singapore, sebuah paket yang kayaknya dengan mudah didapatkan reporter-reporter lain. Dan, oh ya, sebelumnya pernah one night Kuala Lumpur, ngikut rombongan pejabat sementara Gubernur Aceh.

Tapi yang ke Amerika, Perancis, Vietnam, India, Shanghai. Those are great places. And yes, I am being jealous. Huks, huks, huks. Why not me?

Dan tiba-tiba jadi teringat duit yang ilang di ATM, yah, kalo duitnya masih ada mah, Mei ini bisa jalan sendiri ke Vietnam, Thailand, Kamboja. Menghela nafas nih. Ini emang saat mataku berkaca-kaca. Dan ini juga saatku bilang ke diri sendiri: 'ya kalo sistem nggak ngasih apa yang kamu pengenin, usahain sendiri dong'. Atau, 'ya namanya rejeki orang lain, semua orang udah dapet bagiannya sendiri-sendiri, kok nggak bersyukur ama apa yang udah didapetin sih?'

Aku tahu semua itu. Udah hapal di luar kepala, malah.

Tapi, sekarang, saat ini, aku cuman lagi pengen ngiri.


p.s: Newmont Minahasa Raya dan Richard Ness dapat vonis bebas, btw. Despite all the debate on tidak mencemarkan/mencemarkan, it feels like a sad day.



Posted at 09:19 pm by i_artharini
Make a comment  

Sunday, April 22, 2007
Peresensi Juga Manusia

Duh, aku selalu deg-deg-an kalau nulis resensi. Takutnya, ketika aku terlihat sangat mudah dipuaskan gitu, padahal sebenernya kalau dipikir-pikir rada lama dikit aja, kayaknya masih belum segitu puas kan? Masih ada yang ngganjel kan?

Well, walaupun mungkin rasa ngganjel atau belum puas itu lebih karena pengaruh suara banyak yang nggak setuju sama pendapat kita juga kan? Terus, kalau udah gitu, aku jadi malu mengakui selera sendiri.

Anyway. Iseng-iseng nulis resensinya 'Kala' karena merasa butuh mengekspresikan nulis feature. Dengan halaman yang ada, feature sering dibabat-babat tanpa alasan jelas. Katanya kalimatnya terlalu berbunga-bunga. Pembelaan diri: "Lho, ini kan feature. Bukannya ini saatnya kalimat jadi berbunga-bunga?"

(Although, 'berbunga-bunga' kayaknya nggak pernah jadi gayaku deh. I always strive to be simplistic, deskriptif tapi memperhatikan ritme. Makanya keseeeeel banget pas feature tentang penulis Kanada, Camilla Gibb yang awalnya dibuat rada crescendo jadi diganti dengan dua kalimat simpel yang monoton. Huks)

Terus. Ngerasa rada deg-degan pas mbaca resensi 'Kala' di Harian Kini, karena ternyata peresensinya nggak sesuka itu sama 'Kala' kayak aku. Well, ada satu saat aku mempertanyakan, apakah aku segitu terpesonanya ama sosok Joko Anwar sebagai pribadi sampai udah percaya aja sama semua yang dia sodorin. Am I missing something?

Tapi, sambil terus mbaca, aku nemuin satu kesalahan yang menurutku fatal dilakukan oleh peresensi Harian Kini. Please read these passages:

*SPOILER ALERT! SPOILER ALERT! SPOILER ALERT*

"Film ini menyuguhkan tema berbeda di tengah-tengah film percintaan remaja dan horor. Sebuah dunia mistis bercampur metafisik, namun diceritakan secara realis.

Sayang, gagasan unik itu tidak diimbangi dengan pengadeganan yang mampu menerjemahkan gagasan itu. Cerita mengenai perburuan harta karun tidak nyambung dengan ramalan Jayabaya mengenai akan datangnya ratu adil.

Gagasan mengenai ratu adil itu melompat terlalu jauh, mengawang-awang. Apalagi, jika benar sang ratu menyamar sebagai Ranti si penyanyi kafe (Fahrani). Mungkin, karena ide yang melangit itu, Joko menyiasatinya dengan menciptakan sebuah waktu yang tidak jelas."

Hellooooo. Are we watching the same movie? Ratu adil, walaupun pakai istilah 'ratu' yang otomatis menunjukkan jenis kelamin tertentu, pada film ini tidak merujuk ke sosok Ranti. Ranti cuma penjaga rahasia. Ratu adil itu Eros.

Dari sisi itu aja, aku udah ngerasa lega, arah review yang aku tulis, beda.

Terus, kalau masalah sambung-menyambung, ide yang terlalu jauh melompat, terlalu awang-awang. Come on! Ini tuh film yang nggak harus mikir berat-berat gitu kok. Duduk dan nikmatin aja. Dan ngeloncatnya juga nggak sampe segitu jauhnya.  

Masih banyak hal-hal lain yang bisa membuatku rapture in awe daripada sekedar membahas nyambung tidaknya perburuan harta karun dengan ramalan Jayabaya. Dari mulai dialog-dialognya yang...sumpah deh, baru ini ada film Indonesia yang dialognya 'quotable'. Belum lagi settingnya, kostumnya, pencahayaan noir-nya.

Dibanding semua keunggulan film ini, ketersambungan cerita yang disebut-sebut sebagai flaw film ini oleh peresensi Harian Kini, jadi kerasa keciiiiil banget.

(Btw, kenapa aku repot-repot mereview resensi sih?)

Oke, but I'm still a coward in a way. Masalahnya, mungkin aku nggak bakal berani ngomong gini kalau nggak mbaca blog Sinema Indonesia. Pas iseng-iseng mbuka, ternyata udah ada review 'Kala'. And yes! They like it as well. Berarti aku nggak 'salah'. Hehehe.

Nah, dari sini, aku belajar: peresensi juga manusia. Mereka bisa salah tangkap arti sebuah film atau malah nggak pe-de dengan penilaiannya sendiri dan nyari pengesahan selera dari peresensi lain.

Well, tapi kenapa aku masih terus pengen nulis resensi ya? Mungkin biar jadi 'peresensi lain' yang nggak peduli ama apa selera orang dan bisa ngasih legitimasi itu? Hahahah. Udah ah. Jadi geli sendiri.  

Posted at 05:47 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page