"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Wednesday, May 24, 2006
Ffiuh...
Gila. Udah lama banget blog ini nggak diisi. Padahal ada banyak
cerita sebenarnya yang bisa dibongkar dari otak. Kayak, dua weekend
berturut-turut yang dihabiskan di luar kota. Pertama, secara mendadak
dapat limpahan undangan untuk ke Kuala Lumpur. Limpahan, karena awalnya
yang diundang temen. Tapi dia merasa it's too much hassle untuk
persiapan pergi yang cuma semalem, sementara dia masih ribet dengan
persiapan nikahnya.
Dikasih tau Sabtu pagi, berangkat Minggu sore, pulang lagi Senin sore.
Kerjaannya? Muter-muter ngikutin pejabat Gubernur Aceh silaturahmi sama
masyarakat Aceh di sana, terus ketemu ama Menteri-menteri di sana. Yang
jatuh-jatuhnya cuma...kunjungan basa-basi. Terkungkung dalam mobil,
nggak sempet jalan-jalan. Tapi, ah ya sudahlah, namanya juga gratisan.
Terus akhir minggu berikutnya, ya itu..ke Bandung, buat nikahan si
temen. Rame, seru, kayak 'out-of-town slumber party', berbagi kamar
dengan tiga temen lain. Besok paginya dandan heboh. Foto-foto. Liat FO.
Ah...fun times, lah.
Di antara itu, ada pergantian kepala suku desk tempatku sekarang
berada. Suatu perubahan yang aku yakin, akan mengarah ke sesuatu yang
negatif. Oops. Hmm, mungkin cara pandang ini yang membuatku jadi kesal
ngadepin semuanya. Perubahan yang awalnya mau aku jadikan kesempatan
untuk minta pindah. Dan ternyata gagal.
Walaupun kepala suku sebelumnya memberikan rasa tenang dan alasan yang
sangat masuk akal untuk tetap semangat. Tapi, harapan untuk terus
berjuang itu jadi kandas gara-gara attitude kepala suku yang baru. Ah,
itu mungkin karena aku manja aja. Harusnya semua-semua itu tidak
mempengaruhi perang yang terjadi di dalam kan?
Dan argh, sekarang diperparah pula dengan harus mundur lagi, ngerjain
sesuatu yang harusnya udah selesai. Jadi males banget berusaha.
Perang dingin dengan seorang sahabat juga terjadi. Sesuatu yang,
sungguh, belum aku lihat ujungnya. Juga pengenangan akan sosok dari
fase kehidupan yang sudah lalu. Sampai akhirnya berakhir dengan
pembicaraan yang membuatku menahan air mata dengan seorang teman dekat,
yang sudah lama tidak berbincang.
Banyak perubahan yang terjadi dengan orang-orang di sekitarku, tapi
kayaknya aku masih orang yang sama. Entah kenapa, itu malah terasa
tragis.
"But we went on, reminding me of that epitaph in the Greek anthology: when I sank, the other ships sailed on."
(Virginia Woolf; A Writer's Diary; Monday, January 26th, 1931)
Ah, selamat tinggal cerita yang manis.
Posted at 05:51 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, May 02, 2006
Kembali sebentar menjadi nyinyir:
"...Di tengah kritik Sutardji terhadap kecenderungan
pemuda yang menjadi seniman, cerpenis Hudan Hidayat melihat,
sesungguhnya Chairil tidaklah 'merdeka' benar. Ia tetap terikat, atau
mengikatkan diri, melalui persambungan ide dan cita-cita yang menjadi
'ide dunia'. Mungkin hidup Chairil yang pendek, belum memungkinkan dia
memiliki, atau mencari peralatan puisinya sendiri. 'Pandangan dunia'
Chairil, belum mencapai tingkatan antitesis.
"Barulah pada Sutardji, semangat untuk melakukan
antitesis dan menuliskannya dalam puisi, mewujud. Kalau 'generasi
teks' kini setengah pongah sambil resah sendiri tak kunjung menemukan
keautentikan eksistensi dan ekspresi, mengunyah dekonstruksi dalam
wacana dan bukan dalam karya kreatif, maka Sutardji melalui kredo
puisinya, telah melakukan pembalikan kata-kata, bukan untuk mengantar
pengertian," tutur penulis antologi cerpen Keluarga Gila.
Maka dalam perspektif Hudan, mengenang Chairil,
adalah upaya untuk mencari keautentikan dan ekspresi diri. Bila
Chairil menjawab masa kemerdekaan dengan individualitas dan semangat
untuk lepas dari kumpulan, adalah tugas generasi sekarang, menjawab
zamannya sendiri dengan keautentikan eksistensi dan ekspresi diri kita
sendiri.
"Bukan membebek pada tonggak orang luar maupun orang
dalam. Tapi mencari sebuah orientasi baru. Pandangan dunia baru.
Keberbahasaan baru. Seperti yang ditunjukkan oleh sebuah novel yang
menolak segala macam ukuran ke dalam dirinya," ungkap Hudan, yang
bersama Mariana Aminuddin, menulis novel Tuan dan Nona Kosong.
(Media Indonesia, Minggu, 30/4/06)
Tanggapanku: Hah! Jadi itu to arahnya?
P.S.: Ini sebenarnya artikel yang lumayan oke. Terutama pada bagian
awal, tentang Sutardji dan menjadi Chairil di masa sekarang. (Agak)
Lengkapnya:
"....Untuk hidup seribu tahun, ujar Sutardji, bukanlah
sekadar membuat novel seribu halaman, atau membuat puisi atau membuat
artikel, atau membuat esai seribu biji. Tetapi, tegas Sutardji,
tentulah dengan semangat membuat karya bernilai seribu tahun.
"Beratnya tantangan masa kini, bukanlah terletak
pada lembaga trik, semacam pasar, kemewahan hidup masa kini. Tetapi
terutama pada godaan-godaan terhadap pandangan budaya hidup,
filosofi-filosofi, visi misi kesenian yang sering menggoda para pemuda
yang tidak kreatif untuk hidup secara serampangan," tutur Presiden
Penyair Indonesia itu, kemarin.
Sutardji juga melihat fakta-fakta inilah, yang kini
merambah dalam diri pemuda yang menjadi seniman. Fakta-fakta itu,
antara lain, munculnya filsafat postmodernisme, urai Sutardji, yang
menolak grand narative pada kata dan menolak
nilai-nilai besar yang bertahan seribu tahun, nilai-nilai relatif yang
ditonjolkan dan diberi justifikasinya, pandangan yang menganggap seni
atau sastra adalah sebuah permainan, magic realisme yang menghasilkan karya-karya besar di Amerika Latin, paham-paham kebebasan bentuk dalam puisi.
"Sehingga puisi bisa dalam bentuk prosa, semuanya
itu banyak memberikan inspirasi bagi para pemuda seniman yang serius
dan kreatif. Tapi pada kenyataannya yang kita lihat di kalangan
para pemuda yang menjadi seniman hanya melihat sisi gampangan dari
aliran-aliran itu," tegas penyair yang pada tahun 1974, pernah
mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam, International
Writing Program di Iowa, Amerika Serikat dan Pertemuan Penyair Dunia
di Kolombia tahun 1979.
Penyair yang lahir pada 24 Juni 1941 di Rengat, Riau
itu, melihat kecenderungan pemuda yang menjadi seniman, maka banyak
yang menulis puisi secara asal-asalan, gampangan, yang akhirnya
menjadikan dirinya sendiri sebagai seniman gampangan.
"Semangat cari gampang ini, akhirnya melahirkan para
sastrawan medioker. Para medioker tidak punya semangat hidup seribu
tahun lagi, tapi sekadar ingin survive sesaat. Atau ingin dianggap berarti dan cukup puas menghadiri komunitasnya.
Penulis antologi puisi O, Amuk dan Kapak
ini, melihat asyik masyuk dalam komunitas sendiri, menjadi jago
kandang, melahirkan sastrawan silaturahmi. Dalam bentuk lain,
komunitas ini jika maju dan berkembang akan memperkenalkan satu bentuk
sastra Gilda.
"Sastrawan yang para sastrawannya self-supporting dalam puji memuji," tegas Sutardji.
P.P.S: Aku jadi deg-degan nih gara-gara overspending di QB Plangi; 70%
coba diskonnya. Duh, Gusti. Kan masih mau ke Bandung, mbayar cicilan,
huks.
Posted at 07:37 pm by i_artharini
Permalink
Monday, May 01, 2006
Sekedar Mencoba Mengingat Pram
"Di manakah kamu saat [kejadian X] terjadi?"
'Kejadian X' aku anggap sebagai sebuah momen yang akan tercatat dalam
sejarah, bagian dari memori kolektif sekelompok besar manusia. Asumsi
itu berdasar pada pernyataan yang pernah aku dengar dari sebuah film
dokumenter atau program dokumenter televisi yang aku tak ingat judul
atau stasiun yang menayangkannya. Salah seorang pembicara pada program
itu mengatakan, "semua orang Amerika yang hidup di kurun waktu 1960-an,
akan ingat dan dapat menjawab pertanyaan: 'di manakah kamu saat JFK
ditembak mati?'"
Mungkin, buat orang Indonesia, salah satu peristiwa yang dapat
membentuk memori kolektif akan sejarah, terjadi kemarin. Jadi aku ingin
menanyakan, di manakah kamu saat pertama kali mendengar sastrawan
Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia?
Jawabanku: di rumah, di sofa panjang ruang tamu yang berwarna hijau,
duduk sempurna, sambil kembali membolak-balik tiga koran minggu secara
simultan untuk kesekian kalinya, ketika Kania Sutisnawinata lewat
Headline News memberitakan secara singkat akan kepergian raksasa itu.
Saat itu sekitar pukul 13.00. Aku baru beberapa belas menit terbangun
dari tidur tengah pagi dari sebelumnya membaca 'Persuasion'. Kania
membacakan sesuatu dari seorang raksasa lain, Sitor Situmorang, yang
bahkan sekarang aku lupa apa kata-kata tepatnya untuk mendiang Pram.
Aku berlari ke depan tivi, melihat jenazahnya terbaring kaku,
beralaskan seprai Winnie the Pooh dan Piglet berwarna hijau dan biru.
Ada seorang pria yang sedang berjongkok di sampingnya, dan aku melihat
punggung seorang pria yang aku curigai sebagai punggung Sitor.
Tidak ada emosi apa pun yang terlintas saat menyadari sesuatu yang baru
terjadi. Kata-kata terakhir yang bisa aku tangkap, ia akan dimakamkan
di TPU Karet Bivak pukul 15.00 nanti.
Should I come there?
Iya, iya, aku harus datang.
Untuk apa?
Memberikan penghormatan terakhir, tentu.
Tapi untuk apa? Toh, kau tak pernah bisa turut berkabung dengan cara yang pantas.
Tapi ini Pram. Bukankah dulu kau pernah menyesal karena tak bisa datang pada pemakaman Umar Kayam?
Ah. Sekarang kau lebih tertarik dengan prospek bertemu Sitor di situ.
Tapi aku harus datang.
Lihat, bahkan sampai sekarang pun kau tak benar-benar merasa kehilangan kan? Jadi untuk apa kau datang?
Memang ada kekecewaan, tapi hanya butuh waktu satu jam untuk menyadari bahwa aku terlalu palsu untuk datang.
SELAMAT JALAN, PRAM
Selamat jalan, buku
Selamat sampai di ibukata, ibunya rindu
Selamat terbang mengarungi ziarah waktu
Maafkan kami yang belum usai membacamu
(Joko Pinurbo, 30-4-2006)
Posted at 10:23 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, April 27, 2006
Tadi siang, sebelum ke kantor, memutuskan untuk mampir di Gramedia
Matraman. Maksudnya cuma mau ngeliat, 'Bordir', novel grafisnya Marjane
Satrapi yang katanya udah diterjemahin itu udah ada belum di sana. Dan
ternyata ada.
Pokoknya harus langsung beli. Apa pun untuk Satrapi. Graphic novelist
asal Iran ini udah membuat aku terpukau sejak pertama kali mbaca
terjemahan 'Persepolis' yang diterbitin sama Resist Book. Ceritanya
sebenarnya sederhana, tentang masa kecilnya, keluarganya, tapi keluarga
Satrapi sendiri adalah keluarga yang menarik; liberal, modern, berasal
dari kalangan menengah ke atas yang terpelajar, dan terpaksa
berhubungan dengan keseharian Iran yang pemerintahannya dikuasai para
mullah. Bisa membayangkan nggak, ibunya Satrapi adalah penggemar berat
Simone de Beauvoir, berhadapan dengan situasi sosial politik Iran yang
saat itu, pada awal-awalnya tidak kondusif terhadap perempuan?
Situasi-situasi yang sulit dan/atau tragis, ia gambarkan dengan sederhana, tapi tetap witty dan tidak dangkal.
Anyway, minggu ini, aku punya dua pahlawan perempuan baru, Woolf dan Satrapi.
Pas mau mbayar pake debet Mandiri, ternyata nggak bisa, minimal harus
Rp 50 ribu. "Tapi biasanya bisa kok mbak nggak harus 50 ribu," aku lagi
ngeyel.
"Oh, itu kalo BCA mbak.."
"Oke, pake BCA deh."
Rada deg-degan juga sih, soalnya saldo di BCA tinggal 59 ribu. Tapi
untungnya bisa. Btw, salah satu alasan aku beli 'Bordir'/'Embroideries'
ini demi mengakali daftar bacaan yang harus selesai bulan ini.
Sebenernya aku berharap selesai Woolf's A Writer Diary weekend lalu,
tapi ternyata nggak...Dan karena ini novel grafis, jadi terpenuhilah
bacaan bulan ini, hahahaha. Yah, nggak juga sih, masih kurang satu lagi
sebenernya...
Hmm, mbaca karya-karyanya Satrapi jadi teringat sama apa yang terjadi
di sekitarku saat ini, bagaimana konservatisme jadi sebuah tindakan
yang anarkis. Belum lagi RUU APP yang meresahkan itu. Duh, apakah
akhirnya kita akan jadi seperti Iran?
Posted at 11:44 pm by i_artharini
Permalink
"....I mention this because I was talking to a rather pompous
Orientalist over the weekend, and at one point, during a very deep,
metaphysical lull in the conversation, I told him I had a little
brother who once got over an unhappy love affair by trying to translate
the Mundaka Upanishad into classical Greek. (He laughed
uproariously--you know the way Orientalists laugh.)"
('Franny and Zooey' - JD Salinger)
Dan ini yang aku minta dalam doaku akhir-akhir ini; semoga, suatu saat,
aku kembali merasakan patah hati, sehingga punya cukup energi untuk
memulai 'Ulysses'.
Posted at 10:45 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, April 25, 2006
Jane Austen lewat Budi Darma
Sejak membaca profilnya Budi Darma di bagian belakang 'Orang-orang
Bloomington' dan mengetahui ia pernah menulis disertasi tentang
karakter dan penilaian moral atas novel-novel Jane Austen, aku selalu
ingin tahu, bagaimana penulis satu itu melihat sosok Austen. Dan
bagaimana karya-karya Austen mempengaruhi karya-karyanya sendiri.
Maksudnya, Queen of Romantic Comedy dan seorang maestro absurditas? I failed to see the connection.
Aku cukup kaget mengetahui ternyata ada seorang laki-laki yang suka
membaca, setidaknya cukup suka sehingga menganalisa tentang, Jane
Austen. Dan ketika laki-laki itu adalah sosok penulis yang aku kagumi,
rasa penasaran tentang pengaruh Austen pada Budi Darma makin tinggi.
I'm a big Austen fan. I'm a romantic girl at heart. Dan Austen,
benar-benar menangkap semangat romantis itu, tanpa membubuhkan emosi
yang meledak-ledak. Cinta pun bisa makes sense, atau harus makes sense.
Buat banyak lelaki, mungkin karakter-karakter perempuan dalam
novel-novel Jane Austen hanya dilihat sebagai pengejar pria untuk
dijadikan suami. Tapi budaya masa itu memang...ah, well, tak usah
diperpanjang lah.
Anyway, salah satu milis yang aku ikuti ternyata memberitahukan bahwa
hari ini adalah hari ulang tahun Budi Darma yang ke-69. Mereka lalu
menawarkan, siapa nih yang mau ikut mengucapkan selamat.
Aduh, ini kesempatanku satu-satunya. Setidaknya begitu menurutku. Dan, voila,
Selamat Ulang Tahun, Pak Budi Darma!
Semoga selalu diberkahi dengan kesehatan agar bisa terus menulis. Saya belum pernah bertemu sama sekali dengan bapak, dan saya malu mengakui sebenarnya, bahwa saya baru membaca karya bapak baru-baru ini. Dan saya rasa, sama seperti orang-orang yang juga ikut mengirim ucapan selamat ini, saya mengagumi tulisan-tulisan bapak. Tapi saya punya pertanyaan untuk bapak, yang entah bagaimana akan terjawab, tentang Jane Austen.
Ada 2 cerpen dalam 'Orang-orang Bloomington' yang menyebut nama Willoughby dan Brandon, lalu Lydia Wickham dan Harriet Smith; nama-nama karakter dalam novel-novel Jane Austen. Dan bapak juga pernah menulis disertasi tentang karakter dan penilaian atas moral dalam novel-novel Austen. Bagaimana sebenarnya Jane Austen berpengaruh pada karya bapak?
Saya memang belum pernah bertemu dengan semua orang di dunia, tapi saya amat sangat jarang menemukan seorang laki-laki yang membaca Jane Austen :)
Terimakasih sebelumnya, Pak. Sekali lagi, selamat ulang tahun!
Moderator milis tersebut memang menyelipkan ucapan selamat ulang
tahunku bersama ucapan dari yang lain. Tetapi ia kemudian menambahkan,
bahwa ia juga menanyakan pertanyaan yang sama pada Budi Darma, dan
hasil wawancara itu akan tampil di suplemen Ruang Baca Koran Tempo,
edisi Minggu (30/4).
Wuaaa...
Pertanyaanku itu akhirnya bakal kejawab. Huks, aku jadi deg-degan banget deh nunggu hari Minggu nanti...
Hihihihihihihihihi. (Cannot stop giggling)
Posted at 10:40 pm by i_artharini
Permalink
Monday, April 24, 2006
Satu lagi Sabtu yang sempurna buat aku.
Pagi: Inacraft
Pergi bertiga tanpa Ayah, macet berat, jalan-jalan hanya di satu hall,
padat orang, barang-barang indah (let's say: imajinasi akan hari
pernikahanku sekarang semakin lengkap dengan kebaya yang akan aku pakai
:D), tidak membeli apa-apa. And, oh yeah, great lunch!
Sore: Bowling
Masih bertiga. Tempatnya enak, sepi pas kita dateng. Had several
strikes, tapi anehnya...begitu strike, langsung nggak sukses lagi. End
up being the loser of the afternoon. I got my ass kicked by my mom!
(Well, anyway, tell me something new...)
Malam: Ronggeng di TUK
Akhirnyaa...
Jumat malemnya ditolak masuk gara-gara dateng baru jam 08.15, dan
katanya nggak bisa masuk gara-gara 'panggungnya' pas di depan pintu.
Yeah, right! Besoknya, sampai jam 08.30 aja masih bisa pada nyelusup
masuk. Dan nggak bener tuh 'panggungnya' pas di depan pintu. Banyak
yang nggak aku ngertiin dari kata-kata yang dinyanyiin, tapi..it was
fun.
Perfect day.
THE END.
Posted at 09:27 pm by i_artharini
Permalink
Ada seorang penulis di kantorku yang tidak bisa tidak menampilkan
wajahnya dalam ukuran cukup signifikan pada poster-poster buku yang
akan diluncurkannya. Setidaknya, pada dua buku terakhirnya.
Poster pertama peluncuran bukunya yang aku lihat, 3/4nya didominasi
oleh foto dirinya, berpose telanjang dada. Sekarang, poster kedua
peluncuran bukunya--buku yang berbeda--tentang Chairil Anwar,
menampilkan foto Chairil Anwar, dan fotonya sendiri. Seakan hampir
berhadapan.
Duh, walaupun itu bukumu, tapi bukunya tentang Chairil kan?
Bukan tentangmu kan?
Anyway, who am I to judge. Tapi, pas pertama kali ngeliat posternya, reaksi pertamaku, "Ah, sooo typical of him."
(Btw, ada yang pernah lihat seorang penulis begitu bersemangat
memampangkan wajahnya dimana-mana? Aku, nggak pernah. Makanya itu, jadi
ngerasa rada aneh melihat yang satu ini.)
Posted at 08:21 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, April 23, 2006
Mengintip Keseharian Virginia
Aku sekarang tak lagi takut dengan Virginia Woolf. Aku jatuh cinta
dengannya. Aku menilainya sebagai orang yang menyenangkan ketika
berbicara tentang buku. Ia memang sosok yang nyinyir ketika berbicara
tentang orang-orang di sekitarnya. Tapi aku merasa tak lagi takut
membaca tulisan-tulisannya.
Pasalnya, beberapa hari ini aku sedang mencuri-curi baca buku
hariannya. Buku itu memang milikku, tapi tetap saja, aku merasa mencuri
milik seseorang; rekaman tentang kehidupan kesehariannya. Leonard
memang membatasi isi buku harian yang ditunjukkan di buku itu. Hanya
tentang proses-proses kepenulisan, berlatih menulis, buku yang
rencananya akan ia tulis, esai-esai yang ditulisnya, proses
penelitiannya, etc. Membaca tentang keseharian Virginia
membuatku merasa lega. Seorang Virginia Woolf pun memiliki keengganan
untuk mulai membaca 'Ulysses' karya Joyce. Lalu ia menulis, baru
sekaranglah, pada usia 38 ia bisa mengerti bagaimana otaknya bekerja
dan tidak merasa cemas ketika mengalami writer's block. Sampai pada
kecemasan-kecemasannya tentang hal yang, kalau terjadi padaku, akan
aku anggap sepele, walaupun tetap akan diributkan; seperti tidak
teraturnya ia mengisi buku hariannya. Dan aku merasa lega,
seorang Virginia pun akan merasa hancur bila tulisannya tak diterima
oleh teman-temannya di komunitas Bloomsbury. Virginia yang
mengkhawatirkan resensi-resensi tentang bukunya; walaupun akhirnya ia
tetap bersemangat ketika mendapat resensi buruk tapi menerima pujian
dari karibnya, Lytton Strachey. Ada banyak ide tentang
mendesain kerangka sebuah novel dalam buku hariannya itu. Dan tentang
ide, Virginia adalah sosok yang tepat untuk memberi masukan. Salah
satu kekuatan Virginia, menurutku lewat buku harian itu, adalah
bentuk. Ia merancang dengan detil bentuk-bentuk tulisan yang akan
ditulisnya. Ia berbicara tentang bentuk jauh lebih banyak daripada
tentang karakter atau dialog atau setting. Dan tidak ada
keraguan lagi akan kecerdasannya, akan kecintaannya pada kata-kata dan
hal-hal detil yang ia lihat sehari-hari, pada bacaan dan sastra yang
tak terentang waktu, dan akan menulis. Ia beristirahat dari
menulis novelnya dengan menulis; cerita-cerita kecil atau buku harian
atau esai tentang buku. Ini mungkin akan menjadi buku Virginia Woolf
pertama yang bisa aku selesaikan. Dari sini, mungkin bisa mulai Mrs D
lagi dari awal untuk keempat atau lima kalinya (sebelumnya tak pernah
selesai), dan Orlando. Ah, aku sedang tidak kehabisan pujian untuk perempuan satu ini. (Btw, Selamat Hari Kartini!)
Posted at 08:30 pm by i_artharini
Permalink
Daaaaaaaaaaaaaaammmmnnn, Pharreeeellll!
You're hooooooooooooooooootttt!
(Suatu malam, nonton MTV, melihat sekilas pembuatan video klipnya
Mariah Carey dan Pharrel Williams di Paris. Aku lupa judulnya. Pharrel
di situ memakai jas lengkap. Lookin ' smokin'! For the record, aku
masih merasa miris, that now, the only guy who has the capability to
turn me on is...someone that I saw on TV. Chemistry-ku sama cowok-cowok
di kehidupan sehari-hari lagi benar-benar nol. Mungkin ini rasanya
pasca terapi hormon. Tapi, hmm, aku masih menikmati aja nih kekosongan
yang sekarang lagi dikasih oleh hidup. Ah, pasti nanti-nanti bakal
ngangenin kalo hidup mulai hectic lagi..)
Posted at 08:22 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|