PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< April 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, April 07, 2009
Micro-manage

Oke, F. I give up.

http://twitter.com/penarimungil 

Posted at 06:11 pm by i_artharini
Comments (2)  

Sunday, April 05, 2009
Curhat dan Semua Implikasinya

Selagi aku memikirkan ulang apa yang terjadi, mencoba membuatnya runut dalam pikiran untuk kemudian diketik sebagai (lagi-lagi) sebuah pelajaran, kesimpulan yang aku capai itu adalah, hmm aku sepertinya membuka pintu terlalu lebar buat orang lain menilai apa yang aku lakukan deh.

Dan ini bukan pertama kalinya. Maksudnya, aku sudah pernah sampai pada kesimpulan serupa untuk kasus yang berbeda. Cuma ya itu, kesimpulannya sebenarnya tetap sama.

So the story goes like this. Sebuah siang menjelang sore dan aku bergegas ke meja Ccr (haiyyah) untuk menyampaikan suatu kesimpulan yang aku yakini. Aku bilang ke dia, "Aku kayaknya nggak bakal cerita lagi ke xxx soal urusan hati deh."

"Kenapa?"

"Jadi gini, waktu itu kita sempat chat di YM, ngobrol, ngobrol, ngobrol, terus akhirnya dia menanyakan soal gimana kehidupan sosial gue sekarang. Dan gue bilang sesuatu lah ama dia. Tapi terus terputus karena emang internetnya mati. Sebelumnya dia sempat mendesak-desak untuk nanya, nyelidik, cerita, gitu deh. Nah terus internetnya mati kan. Eh terus dia sms, bilang gini, 'Yah, kok lu nggak online lagi. Padahal gosipannya pas lagi hot-hotnya. Kalau lu mau curhat, Nar, I'll be here." Pokoknya sebelum itu dia bilang, cewek-cewek juga pada percaya ama dia dan dia nggak bakal ember gitu deh.

"Nah terus, gue melakukan sesuatu yang membuat gue gundah lah intinya. Terus gue butuh second opinion. Gue tanyalah ama ini orang. Lewat telepon pula. Yang ternyata...tanggapannya malah membuat gue ngerasa sakit hati. Intinya dia menyesalkan dan membuat gue merasa such a slut. Walaupun, aku yakin banget nggak melakukan sesuatu yang salah. Aku percaya pada rasionalitasku dan nilai-nilai yang aku pegang dan caraku mengassess sebuah situasi, dan who is he to tell me stuff like that?"

"Okay dia temen sih. Tapi kan kita udah lama nggak ketemu juga. Dia nggak bisa menilai semuanya karena toh yang aku ceritain sama dia juga cuma setengahnya. Dan yang ngeselinnya, selama ini aku nggak pernah menghitung dia sebagai tempat bertanya. Like, he has one successful experience and he can preach to me about it?"

Nah ini baru bagian Ccr, yang mendapat cerita yang kurang lebih serupa dari orang lain, sebuah pengungkapan pendapat/penilaian orang lain yang membuat sakit hati penerimanya.

"Mungkin Nar, dari dua kasus ini, dia merasa bisa menyampaikan apa yang ada di kepalanya karena dia sudah merasa temen deket elu. Jadi dia bisa jujur aja."

"Dan well, yah, aku memberi dia izin sih untuk menyampaikan pemikiran itu," aku bilang. "Pokoknya dari situ aku jadi berkesimpulan untuk nggak ngomong soal apa-apa lagi yang esensial ke dia deh. Tahu kan ada orang yang cocok elu tanyain soal hal-hal ngawang, atau hal-hal praktis, nah ini sih cuman buat didenger ceritanya aja dan percakapan basa-basi. Itu aja cukup aku rasa."

Dari situ terus aku beralih.

"Tapi gue ngerasa ada sesuatu yang aneh di sini. Aku melihat sekitarku dan merasa curhat hal-hal yang berhubungan dengan hati itu terus jadi alat untuk membangun kedekatan, ya personal dan profesional. Gue jadi kehilangan arah itu di sini, seharusnya kan...kedekatan-kedekatan itu bersifat profesional bukan? Yang elu dikenal dari kompetensi elu? Tapi aku ngerasa curhat urusan hati itu jadi berpengaruh untuk ngerebut perhatian sampai akhirnya itu berbuah jadi...elu lebih dikenal dan dianggap gitu. Jadi gue berpikir, apa aku harus mulai mencurhatkan masalah pribadi di kantor, just to get ahead?"

"Enggak, Nar. Jangan ngikutin pola-pola kayak gitu lagi. Ya mungkin emang ada orang-orang yang bisa didekati dengan cara kayak gitu..."

"Tapi siapa ya? Dan maksudnya, aku juga nggak segitu pedenya nganggep orang-orang yang aku curhatin to get ahead itu, bakal peduli ama masalahku, hahaha." 

"Nggak, nggak. Gini, Nar. Kalau pas gue lagi nggak produktif banget, males banget deh pokoknya, Silver Fox itu walaupun lewat-lewat depan sini, nggak mau nyapa. Ndiemin aja. Tapi pas gue ngerasa kerjaan gue lagi maksimal, bagus, dia bakal dateng, ngajak ngobrol soal hal-hal lain. Itu kan bentuk perhatiannya dia. Dia nggak muji sih, itu bukan cara dia. Tapi elu bakal dilibatkan ke sesuatu, didatengin ke meja, dan dia ngobrol secara khusus. Iya kan?" 

Iya juga sih, aku jadi teringat sama beberapa kali didatangi Silver Fox dan baru saja dilibatkan untuk sebuah pertemuan dan proyek dengan pihak eksternal.

"Masak dari halaman-halaman POP elo yang maksimal itu, elo nggak merasa dia memperhatikan? Dan sebenarnya, di sini, perhatian dia kan yang seharusnya elo dapetin? Bukan yang lain-lain? Biarkan pekerjaan lo aja yang menunjukkan siapa elo sebenarnya. Bukan cerita-cerita pribadi elo," ujar Ccr lagi.

Aku cuma manggut-manggut.

Dan setelah gue menyampaikan pertanyaan yang sama pada Jer (haiyyah, sharing teruuss), soal memang tidak patut menceritakan soal-soal pribadi ke para atasan, tapi kok itu jadi lazim dilakukan untuk get ahead? Ternyata selagi aku mengungkapkannya, aku baru sadar inti masalahnya, ini cuma bersumber pada beberapa subjek saja, yang kemudian metodenya terasa jadi hegemoni.

Dan setelah dipilah-pilah, para atasan itu juga punya cara tersendiri untuk menilai kompetensi. Yang bisa didekati dengan pendekatan pribadi, mungkin hanya satu. Lainnya, ya memang hanya bisa dibuat terkesan lewat pekerjaan. "Dan iya ya Jer, aku lebih berharap bisa membuat terkesan yang ini daripada yang itu," aku bilang.

"Naaaahhhh kan."

"Karena dia diem aja gitu, maksudnya lempeng aja gitu mukanya. Jadi it would count as something gitu kalau aku bisa membuat dia terkesan. Iya nggak?"

"Iya kan? Dan dia tuh orang yang menyenangkan juga buat bertukar pikiran. Bisa memotivasi buat urusan-urusan profesional."

Ini semuanya sepertinya seperti pemahaman remeh, yang sering diulang-ulang di halaman karir berbagai majalah perempuan. Tapi sampai aku mengalaminya sendiri, ternyata nasihat-nasihat itu cuma sekadar pengulangan tanpa makna.


Posted at 11:17 am by i_artharini
Make a comment  

Paket

Ini hanya sebuah cerita kecil saja yang ingin aku tulis. Daripada cerita, mungkin lebih tepatnya sebuah catatan akan emosi. Agak-agak aneh sih dan tidak begitu signifikan, cuma tetap ingin aku simpan.

Setiap aku menggunakan jasa pengiriman ekspres untuk mengirim sesuatu ke tempat yang jauh, terus beberapa hari kemudian aku mengecek status pengirimannya lewat kode-kode angka, dan melihat kiriman itu sudah sampai di alamat yang dituju, ditandatangani oleh seseorang yang asing, dibuka dan terkena udara yang ingin aku hirup, rentetan semua itu tidak pernah gagal membuatku merinding.

Seperti merasa ada bagian super kecil dari diriku yang sudah sampai di situ, tempat yang ingin aku tuju, tapi belum kunjung sampai ke situ...Aku jadi membayangkan, buat yang sudah sampai di tempat-tempat itu, mungkin kebahagiaan mereka menghasilkan suatu pengalaman out-of-body gitu kali ya? 


Posted at 10:47 am by i_artharini
Comment (1)  

Monday, March 23, 2009
Reuni

Ini cerita soal 'uncharacteristic' weekend yang ketiga.

Jadi, ya, setelah liputan berpanas-panas, jalan-jalan seputar Senayan dan naik busway ke Museum Prasasti untuk peluncuran peta hijau Jakarta, aku memilih naik taksi untuk ke sebuah kompleks lumayan terkenal di pusat kota.

Setelah menelepon pemilik rumah menanyakan nomor dan jalan tepatnya, dia memberikan arahan yang mudah diikuti dari sekitaran SCBD. Sampailah di sebuah rumah yang...lho kok, kosong?

Tanya ke penjaga rumah bersafari, "Ini rumahnya si xxx?"
"Iya," dia menjawab, tanpa muka angker.

Dan, emang nih, sisa-sisa kumpul di musholla atau rumah teman untuk pengajian, masih kelihatan betapa membekasnya perilaku dan kebiasaan Yogya yang tersisa. Sandal-sandal, yang hanya tiga pasang, sudah dilepas di awaaaaaal banget sebelum masuk rumah. Padahal jalan dari 'awal' lantai marmer sampai area inti itu masih lumayan panjang. Dan dingin karena marmer.

Hey, yang melegakan, Mr. Perenially Cool sudah melambai-lambaikan tangan dari jauh. Or so I thought it was him, terlihat dari siluet jambulnya. Selain tuan rumah, ternyata baru ada tiga tamu. Salah satu tamu, Ms. Highschool Prom Queen (because she is, in all possible fittingly stereotypical of that category), membawa  bayi laki-laki berusia 10 bulan dan pengasuhnya.

Kita datang satu-satu, memesan makanan, menunggu datang sambil cemal-cemil dan bertukar cerita soal pekerjaan dan ayah teman yang baru meninggal atau sudah meninggal dan belum sempat melayat. Soal yang sudah menikah atau berganti agama. Yang baru akan menikah dengan sebelumnya proses pergantian agama juga.

Semuanya ternyata, baru disadari, berasal dari SMP yang sama, kecuali aku. Lalu mereka juga berasal dari kolam yang kurang lebih sama. Yang pada waktu nanti ayah-ayah mereka meninggal sepertinya  'berhak' ditulis obituarinya di koran. Yang akrab memanggil petinggi birokrat republik ini dengan Oom atau Pakde. Baru sekarang aku sadar, oh, ternyata I was once in an Indonesian version of Ivy Leaguer, to?

No wonder my mother has been soooo hopeful. Unfortunately, aku tidak punya kegigihan dan ketangguhan seorang Becky Sharp.

So, okay, salah satu agenda yang sempat dibahas adalah reuni angkatan kita tahun depan. Kenapa tahun depan? Karena momentumnya adalah sepuluh tahun setelah kita lulus.

Oh, oh. Aku dan Bitchiest Straight Guy I Know (karena memang aku nggak pernah ketemu sama pria straight lain yang bicaranya se-bitchy dia) lihat-lihatan dengan tipe kecemasan yang sama di mata kami. Sumber kecemasanku sih: Hah, ini kan such a cheesy John Mayer song. "Run through the halls of my highschool, there's no such thing as the real world, ten years reunion, bust down the double door, you'll know what all those time are for." Nah masalahnya buat aku, semua waktu itu, buat apa?

Aku nggak bisa membaca sih apa sumber kecemasan Mr Bitchiest itu. Tapi ketika selanjutnya yang disebut adalah: "Rencananya sekalian sama family gathering juga." Bola mataku sudah hampir mencelat, dan Bitchiest langsung tegas-tegas bilang, "Kalau itu gue nggak setuju."

Ada hal lain juga yang aku pelajari di situ. Dua dari 10 orang yang datang membawa anak masing-masing, dua-duanya perempuan. Plus ada satu lagi yang sudah punya anak, tapi ini cowok. Yang cowok, dulu sih pas SMA, pernah ditaksir diam-diam sama teman baik masa SMA. Lama-kelamaan, aku jadi mengakui, yeah, he's kinda cool lah.

Sekarang setelah dilihat kok...jadi biasa saja ya?

Dan kalau dipikir-pikir, hampir semua taksiran SMA-ku juga jadi tidak se-mempesona dulu. Jadi, kalau misalnya aku punya anak perempuan nanti, dan dia bilang: I never wanted anything/anyone this much. Aku bisa menjawab: Trust me, you'll want something/someone else even more. It's endless.

Nah, anyway. Mereka yang punya anak-anak ini, bayi-bayi tepatnya, saling bertanya seperti:
"Udah digundulin?"
"Belum, aku nggak tega. Ini masih rambut lahir."

atau,
"Biasanya dia anteng/cerewet/suka senyum. Nggak tahu nih kenapa kok dia sekarang jadi rewel terus, marah gitu lho. Malem suka nggak tidur."
"Oh kalau gitu biasanya dia mau pinter sesuatu. Sama kayak kita, kan suka excited sampai nggak bisa tidur, nah kayak gitu juga biasanya. Si xxx waktu itu juga kayak gitu, eh besoknya dia bisa tengkurap sendiri."

Hmm, aku mencatat ini semua dalam kepalaku. Percakapan basa-basi yang aku belum bisa terlibat di dalamnya.

Selain itu, ada apa lagi ya?

Oh, ini, seperti biasa sih, soal materi.

Bukan iri tepatnya, cuma aku jadi teringat lagi sama...aku kan juga punya mimpi-mimpi apartemen, atau kebingungan mengisi SPT dengan harta yang dimiliki, atau punya properti, dst.

Nah, aku pernah berpikir, aku 'harus' tinggal seberapa jauh lagi dari pusat kota kalau orangtuaku saja sudah tinggal di kawasan pinggiran? Tapi ada teman yang ternyata bertetangga dengan orangtuaku. Padahal aku pikir aku nggak bakal sanggup beli apa pun di dekat-dekat tempat tinggalku sekarang.

Sisanya, ya, pada berapartemen-apartemen. Ada juga sih yang tinggal di Depok dan menjalani kehidupan KRL itu. Tapi, ya itu, aku kan juga punya mimpi-mimpi apartemen ituuu. Kenapa aku belum bisa bergerak?

Ada sedikit post-script juga.

Dari dua jari berderet di tangan kanan Ms Highschool Prom Queen, ada sepasang cincin yang gemerlapnya benar-benar waaoooowww. Besar tapi dirancang seperti cincin vintage tahun 1920an gitu. Jadi cukup tasteful.

Dan pas aku datang, aku melihat ada mobil BMW dari tipe yang kemarin-kemarin sempat dikomentari ayahku, "Kalau orang punya mobil kayak gini, duitnya itu berapa ya?"

Karena aku menganggap semua BMW itu nggak berbeda satu sama lainnya, jadi aku bilang, "Emang yang tipe ini berapa?"

"Ya 1,5 M-an gitu lah."

Aku pikir itu punya tuan rumah, tapi ternyata itu punya Ms Highschool Prom Queen. Aku sempat numpang mobilnya itu karena dia nggak tahu arah dan jalannya agak searah.

Beneran lho, pas di dalam mobil itu, aku langsung merasa bosan dan lelah sama semua kaleng-kaleng kerupuk kota penuh virus penyakit yang setiap hari aku naiki, dan pengamen-pengamennya, dan emisinya yang setiap hari aku hirup dari bangku belakang ojek.

Dia tinggal di daerah Pejaten. Pas aku tanya kenapa memilih di sana, dia bilang, "Asalnya di Cinere, tapi sekarang yang di sana dikontrakin. Terus ada tanah juga di Kemang (haaahhh?--ini dari penulis), tapi karena lagi krisis, yaa sekarang baru mbangun, yang nggak tahu selesainya kapan. Jadi ya ada temennya bapak mertua yang maksa-maksa beli."

Maksudnya, aku nggak punya mimpi-mimpi BMW sih. Aku cukup puas dengan busway dan taksi, tapi punya bioskop kecil dengan desain art-deco atau tinggal di rumah yang desainnya masih gaya Jakarta 1950an, hehehe. Tapi, aku jadi bosaaaan dan muak sama semua moda transportasi yang aku gunakan di Jakarta selama ini.

Di balik semua 'keirian' materi itu, aku ternyata lebih merasa tersentuh sama her most-prized possession, her 10-month old son. Ini bayi dengan the most agreeable disposition I've seen. Nggak rewel, nggak nangisan, penuh rasa ingin tahu, ramah dan kayaknya sih, pengen kenal juga sama aku. Bahunya yang mungil, punggungnya yang masih lunak. Yang kalau aku sentuh punggung dan bahunya, dia terus menjengking-jengking ke belakang, makin nempel ke tanganku, sambil noleh ke aku dan ketawa-ketawa senang.  

Dia ini yang benar-benar membuat sesuatu pada bagian tubuh internal saya jadi bergetar dan mencair. Bayi-bayi sepertinya dibekali kemampuan itu ya.


Posted at 11:30 am by i_artharini
Comments (2)  

Saturday, March 14, 2009
Uncharacteristic

I have been having two uncharacteristic weekends. Dan aku rasa hampir untuk yang ketiga.

Ini berawal dari tiga pekan lalu. Tiba-tiba kok akhir pekanku jadi uncharacteristically unalone, penuh dengan teman-teman dan orang-orang. Padahal saat itu aku mengharapkan kesendirian untuk menyelesaikan hal-hal pada to-do list.

Jumat malamnya ketemuan sama teman-teman mantan MI Siang. Well, tiga masih di kantor yang sama, tapi dua lagi, Xat dan Nachtwey Kecil yang sudah lama nggak ketemu, which is fun.

Hari Minggunya ada ketemuan dengan Ms Know It All, Ms Kawaai, Ms High Society dan Little Miss Graphic Designer untuk bebek, terus pindah ke Sour Sally, dan (minus Little Miss Graphic Designer) for some coffee di Aksara Pacific Place.

Yang paling menonjol dari ketemuan hari Minggu itu sih cerita absurd dari Ms Know It All. Kita janjian jam 12.00 di restoran bebek di bilangan Senopati. Dari jam 11.30 dia sudah menelepon nanya aku di mana. "I'll be on my way. Naik taksi kok," aku bilang.

Jam 12 pas bisa sampai.

"Lho kok cepet banget sih datangnya?" aku tanya ke dia.
"Iya, aku tadi abis dimintain mbak-mbak kos nganterin dia."
"Hah, kok minta anter kamu?"
"Dia mau ke..., jadi gini ceritanya, kemarin Jumat itu di depan kos-kosanku ada yang abis mbuang bayi."
"Haaahhh?"

Bayinya masih berusia dua mingguan, dibuang dalam kondisi hidup dan sehat. Pelakunya siapa belum diketahui dan tampaknya susah diketahui. Soalnya, satpam kos, para tukang ojek yang ramai nongkrong di depan kos, penjaga warung, dll, lagi pada Jumatan. Penemuan itu sudah dilaporkan ke polisi, tapi sama polisinya diminta para penghuni kos yang merawat.

"Jadi kemarin kita udah pada chip in for the baby. Aku abis beli popok ama susu," kata Ms Know It All.
"Hah? Kenapa nggak bilang aku? Aku lagi pengen punya anak cowok nih. Emang bayinya apa?"
"Cowok."

Well, entah kenapa I had an emotional-maternal discharge beberapa minggu lalu, membayangkan, kayaknya lucu ya punya anak cowok yang bisa diajak nonton film lucu terus ketawa-ketawa, happy ngelihat dia ketawa-ketawa kegelian. My little Atticus Finch. Of course, he would not be named Atticus Finch. Holden, maybe? Hehehe.

Nah, uncharacteristic weekend kedua terjadi pekan lalu. Tiba-tiba kok my weekend is uncharacteristically filled with stages and live music. Kamis tepatnya, aku nonton The S.I.G.I.T dan band bluegrass The Student Loan dan White Shoes dan aku merasa, sudah terlalu lama sepertinya tidak menonton sebuah pertunjukan musik live seperti ini.

Pulang dari situ, di taksi, dapat pesan pendek dari Sha yang bilang Eva punya beberapa tiket gratis Java Jazz dan mengajak-ajak ke sana. Oke, jadi Jumat aku ke Java Jazz. Sempat nonton satu vokalis perempuan kulit hitam yang tidak aku tangkap namanya, terus ke Dianne Reeves yang beberapa kali sepanjang pertunjukan aku sampai pada kesimpulan she's really really good, bukan jazz-jazz-an gitu. Terus kembali ke Plennary buat Matt Bianco.

Melihat banyaknya orang ke sana, aku jadi bertanya, should I go there? Maksudnya, sengaja merencanakan dan beli tiket untuk ke sana walaupun aku nggak tahu banyak soal jazz. Aku merasa hampir ketinggalan sesuatu saat berada di sana, yang untungnya 'terselamatkan' oleh tiket gratis. Jadi aku mulai bertanya-tanya, tahun depan, haruskah ke sana?

Btw, it's also filled with orang dewasa tanggung, anak-anak usia 19, 20, 23-an yang hampir semuanya menenteng Blackberry like it's a piece of brick.

Nah akhir pekan ini nih yang hampir uncharacteristic. Ada liputan Sabtu malam di Taman Menteng dan Minggu pagi sampai siang di beberapa lokasi buat Peta Hijau. Dan...

Beberapa hari lalu, di Facebook ada pesan soal reunian teman-teman SMA di rumah salah satu teman. Reaksi pertama, wow, kayaknya bakal asik.

Lambat-lambat, keraguan mulai masuk. Sampai akhirnya aku menelepon seseorang yang bisa disebut Mr Perenially Cool. Ini teman SMA juga, dan sort of teman kuliah walau beda kota.

Nggak diangkat.
Tapi terus aku ditelpon balik oleh sebuah nomor tak dikenal.
"Kenapa, Nar?" kata Mr Perenially Cool.
"Eh kamu tahu kan ada undangan dari xxx soal reunian, etc etc etc."
"Iya, semuanya diundang kok."
"Aku juga dapet, cuman...siapa aja yang dateng sih?"

Mr Perenially Cool mendaftar teman-teman yang akan datang terus bertanya, "Kenapa?"

"Aku agak-agak nervous mau datang."
"Ini kan cuman teman-teman SMA, Nar, yang masih dengan guyonan-guyonan bapuk waktu kita SMA."
"Yes, tapi mereka kan udah jadi stranger. Dan aku udah lama nggak ada di lingkungan yang penuh orang asing dan harus bercakap-cakap. Aku kan nggak tau gimana memulai percakapan. Atau, gimana kalau nggak ada yang ngomong ama akuuu?"

Aku sambil ketawa-ketawa sih di telepon, but it's my biggest fear for this weekend. Telapak tanganku sampai basah.

"Tenang," kata dia lagi, "kan ada Bitchiest Straight Guy I Know."
"YES. But he has his much cooler friends than me."

Yang membuat aku cemas, Mr Perenially Cool masih di area abu-abu soal datang atau tidak. "Aku ada acara kantor, tapi aku mungkin datang mepet," dia bilang. Nah, liputanku itu memasukkan unsur berjalan-jalan dan keringetan dan nggak fresh, yang bakal membuatku nggak wangi. Huks, huks.

Well, okay. Let's see tomorrow how my nerves serve me.

Posted at 02:16 pm by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, March 04, 2009
Kabur

Bob: Can you keep a secret? I'm trying to organize a prison break. I'm looking for, like, an accomplice. We have to first get out of this bar, then the hotel, then the city, and then the country. Are you in or you out?
Charlotte: I'm in. I'll go pack my stuff.
Bob: I hope that you've had enough to drink. It's going to take courage.

(masih dari, Lost in Translation)

Posted at 06:28 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, March 03, 2009
Rambler

ďDo I want it? You bet your fucking ass I do! I think that people assume that I donít care or donít want it or donít need it or something. Itís hard to be there five times, and Iím only human, you know? But I donít go home and cry, because weíre all grown-ups here.Ē

(Kate Winslet di Vanity Fair Desember 2008, artikel: "Isn't She Deneuvely")

Okay, that settles it, I guess. Grown-ups don't cry about it, while I do. So, that makes me a child? Ah, what the hell. I feel like losing it here. Act all childish, cry, and just say hell.

I'm pissed with how things turn out, but I'm even more pissed that after all these years I still can't be happy for other people. I'm ashamed towards the people, and yes, they are sensitive enough to sense this thing I feel.

But I can't help it.

Well, actually I have to help it. But I lose the strength to help it.

I'm not above some show of appreciation. Most of the time, I try to be above it. But there are other times, I need that reinforcement of faith. So yeah, I need it. It. That thing that you keep throwing to others, but not at me.

Have I not been good enough?
Likeable enough?
Or emotionally messed up enough so that I need some form of sympathy?
Or maybe tough enough?
What the hell have I been doing wrong?

Is asking about this is wrong?
But I can't seem to figure out what the hell is the problem.

I had people telling me to keep positive thinking, but that's just one easy conclusion, right? I haven't arrived to that conclusion myself. They're just choking me with it so that I magically, instantly, arrive at that state of normalcy. Because that's what proper grown-ups do.

You know, words can only do so much to convince me. Yeah, so, I know I did fucking great, because I made well damn sure to fulfill my own standard. So your words mean little, because I know I have fulfilled my own standard. And if my standard coincide with yours, that's great for you. Your need is fulfilled. But I need some show of appreciation here.

Have I not been good or even, ah-hem, great or what? This bugs me because I couldn't get to the bottom of this. What's causing it and what can I do to fix it?

Posted at 07:09 pm by i_artharini
Comments (2)  

Thursday, February 26, 2009
On the Subject of Loneliness

Pada suatu Minggu, empat manusia Jakarta yang kesepian bertemu di pusat jajanan di sebuah mal jantung kota.

Ya, pastinya sih aku yang kesepian. Ada Ms.Know-It-All yang menagih janji untuk bertemu di salah satu hari liburku. I thought I was supposed to call her on Monday, tapi pada hari Minggu, dia sudah miscall dan mengirim pesan pendek, "Nari, kita jadi nge-Raffel's nggak?"

Aku menelepon balik dan bilang, jadi. "Oh ya," kata dia, "nanti ada Ms Kawaii dan Ms Pretty Technician juga ya. Mereka juga lagi kesepian katanya."

(Nah, Raffel's itu butuh cerita tersendiri. You know how I always complain about not finding a sandwich shop with a proper bread? No? Well, okay, I grumbled in private. But, yes, I found one. They made the sandwich fresh when you ordered it. They have panini. Well it's not exactly like the panini I know, but it's proper bread. And okay, Cafe Au Lait has a great tasting tuna sandwich with great bread, but they have very limited option for sandwich toppings. Raffel's has chicken pesto [!] and philly and cheese [equivalent of Subway's steak and cheese]. I told Ms Know-It-All about it on Thursday, and she said, "Iyaaaaaaa. Aku juga suka delivery kok." So we build up quite an appetite for their gigantic sandwich)

Kami menanyakan kabar, bertukar cerita. Aku datang di tengah-tengah pembahasan soal proses perceraian hampir final dari Ms Pretty Technician. Ms Kawaii belum datang. Ms Know-It-All langsung menuju order of business for the day, pembahasan soal kesepian itu.

(Sebagai catatan, aku pikir kita berada di sini untuk menyingkirkan perasaan itu, bukan malah membahasnya)

Aku sih waktu itu sempat bilang, tidak tahu apakah ini magnifikasi dari rentetan kejadian atau memang ada hawa tertentu yang lagi melanda manusia-manusia Jakarta. Kok aku jadi menemukan kesepian atau tema-tema semacamnya di berbagai tempat.

Saat lagi blogwalk dan merasa berada di jurang emosi itu, eh kok ya ketemu sama postingan ini. Yang membuat aku merasa, eh rutinitas aku dan sosok yang ditulis di situ kurang lebih sama, imaji-imaji yang kami tangkap lewat mata juga plus minus mirip, dan akhirnya berujung pada kesimpulan emosi yang satu. Ini orang asing yang tidak aku kenal, tapi kok dia mendaftar dengan tepat ya, semua yang aku rasakan?

Di tengah sesuatu semacam epifani itu, aku menyapa mbak Octopus lewat sebuah percakapan maya. Dan aku kaget campur senang menyadari bahwa dia juga ada di titik emosi yang sama, kesepian. Kesimpulanku: apa kesepian itu penyakit manusia kota?

Mbak Octopus mendaftar berbagai ritual pengisi kesepiannya, dari duduk-duduk sendiri di Taman Suropati sampai memilih film secara acak dan tidur di dalam Metropole. Aku bilang, "Lho kok jadi kayak manusia-manusia di film-film Wong Kar Wai?"

Ritualku selalu mengulang-ulang pertanyaan ada apa dengan saya, di antara DVD-DVD atau deretan acara tivi kabel yang aku tonton.

"Coba lihat di sekitar, Nar. Lihat deh," kata Ms Know-It-All. "Masa sih orang Jakarta kesepian? Lha wong nggak ada yang duduk sendiri. "

"Nah itu, makanya yang mbuat aku gentar pas berapa minggu lalu gitu, harus duduk sendiri, makan di foodcourt," kataku.

"But I do that all the time," dia bilang.

"I know. Aku juga biasanya gitu, tapi waktu itu nggak tahu kenapa, mau makan sendirian aja di food court Plaza Senayan sampai gentar, nggak berani. Apa karena itu pas weekend ya?"

"Atau mungkin," ini masih dari dia, "mereka ketemuan di mal, cuma buat janjian ngapain, terus pulang dan ngerasa kesepian lagi? Jadi relasi-relasi yang thin gitu. Lepas lagi kalau nggak ketemu."

Mungkin. Aku nggak tahu. Tapi aku cukup bersyukur soal siang ini.

Entah kenapa dia juga lompat ke konklusi ini. "If you can't manage your loneliness, kamu nggak akan jadi orang yang komplit dalam satu hubungan. You are not the sum of its part. Coba, kalau kamu cuma 50%, tambah 50% lagi orang lain, jadi 100%. Tapi kalau 100% ini pecah, kamu bakal jadi 50% lagi kan?"

Kami bicara runtang-runtung.

Dari soal dia yang pesimis akan circle of friends (dia percaya, semakin kita tua, circle of friends semakin mengecil. "But I know lots of people yang circle of friendsnya tambah luas," aku bilang. "Atau mungkin, itu relation by proxy [sic] yang ada karena hubungan profesional, tapi bukan sesuatu yang lasting. I think it's a very Eastern, atau Indonesian concept, that we can be friends with people at work place or those we meet during work. I don't buy that," kata dia), lalu juga soal kebutuhan akan teman baru ("Why would you need one?" kata dia. Lalu aku mengingat-ingat, teman-teman baru yang aku dapat, yang tidak dari perkuliahan atau kerja, cenderung punya kemiripan dari soal selera, ritme hidup, jangkauan emosi, sampai kebiasaan-kebiasaan pengisi waktu. Jadi aku nggak tahu apa sebenarnya yang aku cari, more of the same atau yang lain. Yang aku tahu sih, aku beruntung karena aku tidak sengaja 'mencari'. Upaya yang dilibatkan relatif minim, tapi mereka datang).

Ms Pretty Technician cerita sesuatu yang membuat aku shock. Dia bilang karena status maritalnya yang terbaru sudah mulai menyebar, pria-pria di sekitarnya lalu mulai menawarkan sebuah jasa khusus.

"Nggak pa-pa, kamu kan bakal punya kebutuhan," dia mengutip kata-kata si cowok.

Mungkin seharusnya aku bilang sesuatu, that it was some form of harassment to her. But I didn't. Dan sampai sekarang aku masih terkaget-kaget sama opini dan perkataan yang mampu disampaikan oleh orang. Aku nggak tahu apakah aku terlalu serius menanggapinya karena yang jadi tujuan kata-kata itu cuma menganggap ringan.

Ms Kawaii datang dari Glodok, mencari DVD di akhir pekan. Kebiasaan yang tampaknya juga awam di banyak orang yang aku kenal. Ingatkah soal Nick Hornby yang mencatat di High Fidelity versi buku, bahwa kebanyakan pencari piringan hitam di akhir pekan itu punya ciri-ciri serupa? (Mostly single male, memakai pakaian yang serupa, membawa tas yang serupa untuk mengangkut koleksi yang baru mereka dapatkan)

Mungkin, jika ingin melakukan pencatatan sebanding untuk tulisan Hornby itu di Jakarta, ada para pencari DVD akhir pekan. Tetapi mereka tidak hanya mostly single male, sudah meluas juga ke single female. That we drown our alone-ness with DVDs.

Oh ya, perbincangan kami juga sampai di sindroma Facebook. Aku menyebutnya itu untuk 'penyakit' yang aku rasa ketika melihat betapa komplitnya hidup orang-orang di berbagai halaman situs pertemanan itu.

"Oh, come on, Nari. Situs-situs pertemanan itu, nge-tag, foto, dan sebagainya. That's all vanity. Mereka kan cuma nunjukin kalau mereka itu fine, fabulous, nggak kesepian. Coba deh lihat, foto-foto di Facebook tuh kan cuma kalau nggak gathering, nikahan, kopdar, ketemuan," says Ms Know-It-All, our shrink for the day.

Kesimpulan yang sudah sering diulang oleh banyak orang, tapi mungkin baru sekarang aku benar-benar sadar akan poin itu. Baru terbenam di penalaran.

Ini mengingatkanku akan sesuatu yang dikatakan Robin Williams(?) di One Hour Photo. Bahwa kita tuh nggak akan memotret momen-momen yang menyedihkan. Selalu acara-acara bahagia. Pesta ulang tahun, liburan bersama, tapi nggak ada soal pertengkaran atau perselisihan. Aku sudah lama tidak menonton film itu, tapi sepertinya pernyataan dia itu berhubungan sama kenapa dia begitu hancur waktu keluarga yang diikutinya juga ternyata tidak seideal di foto.

Sama seperti di Facebook. Kita berusaha merangkum momen-momen bahagia itu dan ditunjukkan (tertunjukkan?) ke orang lain.

But anyway, pada akhirnya Ms Know-It-All memberi cerita soal kenapa dia menganggap loneliness is good. "Nih ya, aku punya to-do-list apa yang pengen aku kerjain. Nah pas aku sendiri tuh aku jadi punya waktu ngelakuin semua itu."

Pernyataan sederhana ini kok ya jadi membuatku nyaman.

Dan di masa mood-ku sedang kacau seperti sekarang, aku juga jadi menemukan berkah.  Bahwa ini adalah waktu yang tepat buatku mendengarkan... MORRISSEEEEYYY!

(aku sudah empat kali bolak-balik menghabiskan "Years of Refusal"-nya yang baru itu dan sudah lama aku tidak sebahagia ini soal sebuah album. Membuatku ingin bernyanyi-nyanyi terus. Dan ini baru pertama kalinya aku mendengar Morissey secara utuh. I'll tell you why, next. Oh, right after I edit some articles first)

Oh, something is squeezing my skull
Something I cannot describe
There is no love in modern life

Oh, something is squeezing my skull
Something I can't fight
No true friends in modern life

Diazapam
Valium
Tarmazpam
Lithium
HRT
ECT
How long must I stay on this stuff?

Please don't gimme anymore
Please don't gimme anymore
Please don't gimme anymore
Please don't gimme anymore

(
Something is Squeezing My Skull--"Years of Refusal", Morissey)

Posted at 02:21 pm by i_artharini
Comments (6)  

Saturday, February 21, 2009
Film dan Eskapisme

I was doing my not-as-usual blogwalk when I happen to meet this quotation:

"Saya menyadari bahwa film ternyata kini telah berubah fungsinya menjadi salah satu alat bertahan, survival essentials, untuk seseorang individu. Tidak hanya perempuan, tetapi para lelaki (terutama mereka yang masih lajang dan memiliki banyak waktu untuk dihabiskan sendirian) berupaya mempertahankan kewarasannya di tengah riuh rendahnya hidup hanya dengan bermodalkan stok koleksi dvd di kediamannya. Dengan kata lain, film menjadi sebuah eskapisme dari kerutinan sehari-hari yang mendera, yang kelak menciptakan sebuah renungan tentang hidup."

(dari Blog Dian Sastrowardoyo, entry "
Perempuan dan Film")

My first reaction was: how so accurate. Well, at least in my case.

Aku kenal tuh beberapa perempuan dan lelaki lajang yang, entah motivasinya mempertahankan kewarasan atau apa, tapi mungkin lebih karena eskapisme dari rutinitas sehari-hari, beralih ke DVD.

(Ya kan, Mas Lambe? Dan Mbak Octopus yang lega asal bisa tidur dan nonton DVD? Dan, aku nggak yakin sih, apakah Xat masih melakukan kebiasaan ini, karena dia sekarang lebih sering berada di tengah laut dan kenyataan yang dia hadapi sekarang tidak selajang saat kami masih bekerja bersama )

Sejak hampir setahun terakhir, seminggu sekali aku mengisi halaman resensi di media tempatku bekerja. Film, musik, buku. Lebih seringnya film dan musik sih, karena sejujurnya, sudah beberapa bulan aku kehilangan selera membaca. Nama halamannya pun menandai pelarian itu, Eskapisme.

So it was only fitting that I watch movies. Although, not as much as I want it to be.

Yang aku cemaskan sekarang, kok makin lama kenyataanku itu jadi tidak terpisah sama yang aku tonton lewat kotak kaca, atau lewat layar lebar ya? Dari seharusnya menjadi sebuah eskapisme, sekarang malah jadi merasa itu tempat tujuan sebenarnya. Dan kenyataan yang saya hadapi sehari-hari, itu malah yang fantasi.

Pada suatu masa, saat sedang menaiki kendaraan umum di sepanjang Sudirman yang kosong, aku sampai di kesimpulan: mungkin hidupku bisa jadi lebih sederhana kalau aku tidak menonton film. Aku tidak akan tahu soal area abu-abu, beragam gradasi emosi yang mampu membuat manusia jadi ini atau itu, tidak akan ada dramatisasi yang berbuah kerumitan. Bahwa  satu-satunya 'kenyataan' atau emosi yang saya lihat dan rasakan ya...berdasar atas kejadian-kejadian yang sudah saya alami. Bukan karena saya melihatnya lewat sebuah film.

Aku menyampaikan pemikiran ini ke Ccr. "Jangan-jangan hidupku bakalan lebih simpel, nggak ribet, kalau aku nggak nonton banyak film ya?"

Dan dia mengangguk pasti, mantap.

Mungkin karena waktu itu dia belum menonton film yang cukup. Tapi sekarang, dia juga kena sama film. Dia juga memproyeksikan kehidupan atau alternatifnya, keputusan, karakter, kemungkinan 'ending' dari keputusan yang dia ambil, pada sebuah film. Sepertinya sekarang dia malah lebih rajin menonton. Kalau dia sudah menonton film yang belum aku tonton, aku akan terpacu menonton film itu.

Percakapan acak dengan mbak Octopus membuat kita saling bertanya. "Apakah kamu juga memproyeksikan kenyataan atau mencocok-cocokkan atau mengasosiasikan hidup pada satu film?"

(Pertanyaan aslinya tentu tak seformal itu, tapi intinya tetap sama)

Kami sama-sama menjawab iya. Dan belum terlalu lama lalu kami menyadari bahwa film bukanlah cantolan yang bisa diandalkan untuk berbagai macam keputusan yang kami ambil di kehidupan nyata.

Kami juga saling bertanya, kapan kamu menyadari hal itu, bahwa film bukan sandaran berarti buat pilihan-pilihan hidup?

Aku lupa jawaban dia (apa ya mbak Octopus? Cinema Paradiso?), tapi buatku, jawabannya itu waktu nonton Jomblo. Waktu karakternya si Ringgo Agus Rahman itu, saat dia memilih si pacar utamanya daripada selingkuhannya yang digambarkan lebih pas buat dia? It's not like he was married to her.

Dari situ aku baru melek, bahwa bisa lho mempertanyakan apa yang terjadi di layar. Bahwa, bisa juga lho, pikirannya nggak sejalan sama si narator. Haha, cemen banget ya? Dan, setelah sekian lama, pencerahannya baru itu?

But anyway, setelah pencerahan itu terjadi, sekarang kok aku malah kembali ke kemenyatuan antara yang fantasi dan yang realita. Jadi sulit dipilah lagi. Membaca ulang beberapa posting terakhir di sini, jadi semakin minim realita manusia-nya (atau manusia nyata-nya), dan lebih banyak soal dunia dan manusia dalam kotak kaca.

Beberapa waktu lalu aku juga menemukan sebuah kutipan. Sekarang aku malah sudah lupa siapa yang bilang dan di mana aku menemukannya. Sepertinya itu antara di sampul belakang sebuah buku yang aku lihat di toko buku, atau sebuah blog. Dalam bahasa Inggris. Katanya, semakin kita tua, semakin kita tidak bisa memisahkan antara hidup kita dan apa yang kita tonton. Benarkah begitu? Kalau iya, apakah ini yang sedang terjadi?

Pauline Kael juga pernah bilang (dan ini aku ingat ada di bagian awal buku berjudul Movie Love in the Fifties) pada sebuah wawancara. Si pewawancara bilang, "When I go to a movie, I feel lost." Dan Kael menjawab, "I feel as if I am found."

Sebuah sesi seminar kritik film dalam Jiffest lalu menghadirkan peresensi untuk majalah Variety bernama Russel Edwards. Aku ada di sana dan mencatat pernyataan-pernyataannya karena..aku nggak tahu tanggung jawab apa yang datang bersama 'pekerjaan' ini.

Kata-kata Edwards yang paling relevan untuk tulisan ini, mungkin soal bahwa meresensi film adalah sebuah pekerjaan yang soliter. "We sit in the dark, paying attention to the screen, it's not exactly a sociable [sic?] job," kata dia.

I'm not ready to call what I do as a job yet. Not if compared to what he's done as a reviewer. At best, I would call what I do a part-time reviewer and full time editor. But I am already starting to feel that solitary type of life.

Mungkin bukan juga karena konsekuensi sebuah tugas, tapi bisa juga karena aku lebih memilih untuk menyelami realita dengan menekan tombol play, daripada bergaul secara 'normal'. Tapi pernah dengar kan soal riset bahwa mereka yang menghabiskan waktu lebih lama di depan televisi adalah mereka yang tidak bahagia?

I am tempted to count that as some sort of answer.

Film juga sepertinya, secara bersamaan, terlalu sederhana untuk jadi bagian dari solusi dan terlalu indah dan kompleks untuk cuma jadi obat ketidakbahagiaan.

So why is it I found myself more alone, and deeper in the fantasy realm? So deep that I could not separate this world and that of optical 'illussion'?

Posted at 02:30 pm by i_artharini
Comments (4)  

Wednesday, February 18, 2009
Hot, Hot, Heat

Rabu Trivia.

Saat baru tiba di IMDB, aku langsung melihat pertanyaan ini: "Do you know that Robert Downey Jr. turned down the role in this classic romantic comedy? (Answer)"

Klik.

Jawabannya: yeah, Say Anything aja lho.

Hah, film yang mendasari karir film John Cusack (semua peran yang ia perankan selanjutnya kan hanya variasi dari Lloyd Dobler bukan? Sama kayak...Diane Keaton yang sering memerankan berbagai variasi karakter Annie Hall begitu? Oh is this the fate that would befall Michael Cera?) pernah hampir dimainkan sama Robert Downey? Film yang membuat John Cusack, sampai hari ini, still gets laid on a daily basis itu hampir jatuh ke Robert Downey?

*Lagi membayangkan Robert Downey sebagai the good man that is Lloyd Dobler*

("I gave her my heart and she gave me a pen!")

Ya, nggak masalah juga sih. I love them both.

Anyway.

Tadi malam baru nonton Defiance. Yang seharusnya ditonton serius, aku malah lebih sibuk menghitung pro dan kontra untuk karakter Daniel Craig dan Liev Schreiber. Kadang-kadang juga, Jamie Bell. I can't decide which one's hotter.

Daniel Craig, whoaa, he's the best kisser kayaknya.
Liev Schreiber, hot, in a boring kind of way. Walaupun poin totalnya tiba-tiba naik drastis di akhir film. He's such a DILF!

(DILF= tahu kepanjangan MILF kan? Nah, D-nya for Dad :D)

(satu lagi catatan nggak penting dari Defiance. Waktu melihat karakter Bella, kok kayak ingat, pernah lihat di mana ya? Sampai akhirnya karakter Bella dan Zus-nya Liev ngomong berdua. Hah, ini kan...si Iben Hjejle yang jadi pacarnya John Cusack, Laura, di High Fidelity. Kok jadi suram banget ya wajahnya? Well, okay, dia jadi korban buruan sih..)

Waktu itu Ccr pernah datang ke mejaku dengan pengumuman: "Eh gue barusan nonton The Darjeeling Limited."

"Ah-ha."

"Coba, Nar. Di antara tiga bersaudara itu, lo pilih yang mana?"

"Hmm."

Sejujurnya, pas nonton film itu aku nggak kepikiran sama sekali untuk melakukan apa yang aku lakukan waktu nonton Defiance. Setelah ditanya itu oleh Ccr, baru deh berpikir. Mungkin karena lebih terhanyut sama ceritanya ya?

"Hmm, kayaknya karakter yang adiknya deh. Yang bungsu."

"AH, ITU TUH. Dia tipe cowok pendek yang hot gitu kan?"

Aku bertanya-tanya: emm, emang tipe kayak gitu ada ya? Kok aku nggak pernah dengar?

"Err, bukan itu sih sebenarnya. Kalau si Owen Wilson, terlalu egosentris, terus yang Adrien Brody, karakter istrinya lagi hamil. Kan gue bisa merasa berdosa milih dia. Kalau yang adiknya kan, dia masih terombang-ambing, nggak bisa ngelupain ceweknya, tapi terus engage in a passionate kiss with another woman untuk ngelupain atau kabur atau mulai sesuatu yang baru. Nggak tahu yang dia mau. Emotional mess lah pokoknya. Cowok-cowok yang emosinya berantakan, yang nggak tahu maunya apa, nah that's hot. Dan suka nulis."

Permainan ini juga bisa diterapkan buat tontonan yang sebenarnya cuma biasa-biasa saja, atau malah nggak penting, tapi terpaksa nonton. Kaya apa ya? Oh, Brothers & Sisters.

Adikku suka sekali nonton itu, tapi aku nggak ngerti apa yang membuat dia kecantol. Hamparan emosinya datar, isu-isu yang mereka angkat juga nggak aku anggap penting (walaupun isu yang sama di serial atau tontonan lain bisa membuat aku terpaku), ya mungkin karena aku nggak bersimpati sama satu pun karakternya.

Sally Field sebagai ibu yang diselingkuhi kan seharusnya bisa jadi poin kuat pembangkit simpati, tapi ternyata enggak. Ingatan akan "You loved me, you really really loved me" jadi terlalu mengganggu. I like perky, but I can't take her perkiness.

Lalu Calista Flockhart yang aku sukai di Ally McBeal, ternyata sekarang masih whining soal hal yang sama lagi di Brothers & Sisters. Aku cuma punya kuota buat satu whiny character yang setia aku ikuti, dan sekarang, kuota itu terisi oleh Meredith Grey.

Hmm, Rachel Griffiths. Aku lebih suka waktu dia sinis, mabuk, berpesta dengan dua pelaut sekaligus, dan kena kanker. Aku sudah bersiap-siap suka sama Balthazar Getty, tapi keburu dengar skandal Sienna Miller, haha.

"Iya sih," kata adikku, "mereka kan keluarga kaya yang bisa membuat orang nggak peduli sama masalah mereka."

Atau ya mungkin itu, karakter mereka kaya.

Sampai akhirnya, itu waktu episode apa ya, yang mereka semua berkumpul di akhir, mengelilingi pohon Natal kalau nggak salah. Yang pas adik bungsunya dikasih tenggat waktu agak longgar sebelum balik ke Afghanistan. Nah, baru deh aku ngerti apa daya tarik sebenarnya serial ini.

"To decide which brother is hotter," aku bilang sama adikku.

Dan dia cuma mengangguk-angguk sambil senyum-senyum. "Yeah, yeah," kata dia.

Posted at 10:45 am by i_artharini
Comments (3)  

Next Page