"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Wednesday, April 30, 2008
Ini sepertinya masih jawaban setengah matang. Tapi aku catat di sini
biar tidak lupa. Kalau hanya untuk di sini saja sih, iya memang.
Menulis aku gunakan untuk melihat diri, bercermin, mengingat, mencatat
peta pemikiran--yang bakal membuatku sadar, hah, ternyata pikiranku
pernah sampai di sini? Hal-hal seperti itu lah.
Tapi kalau untuk profesi? Atau untuk khayalan liar yang masih aku
bayangkan tentang 'profesi' di masa depan, nah ini aku bingung.
Aku nggak yakin bakal mampu memunculkan tulisan yang bisa membuat orang
menahan nafas gitu. Atau mungkin nggak yakin akan pernah mampu.
Kesadaran bahwa aku nggak bakal jadi cukup bagus untuk sesuatu yang
berarti gitu. Dan ketika sudah nggak mampu atau nggak bakal mampu,
terus....(dan ini dengan resiko terdengar fatalis), kenapa terus
berusaha ya?
Dosa nggak sih menginginkan tulisanku bisa sehebat itu, bisa mengaduk rasa? Bisa menulis seperti Mini Tolstoy ini?
Apakah, ketika mulai menulis, keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang
membuat tercekat itu terpisah dari keinginan untuk menulis jujur? Bahwa
keinginan menghasilkan sesuatu yang membuat tercekat itu hanyalah
bagian dari ego saja? Tapi apa sih ego sebenarnya?
Ha ha. Tampaknya aku berakhir dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Always worth trying, I suppose.
Posted at 05:52 am by i_artharini
Permalink
Tuesday, April 29, 2008
Jane Austen, dengan segala lapisannya, buatku masih predominantly area
perempuan. Bukannya bermaksud 'membatasi' penikmat karya Austen tapi
sampai sekarang aku masih belum tahu apa yang didapat pembaca laki-laki
dari karya Jane Austen.
Makanya agak kaget pas kemarin lagi membaca-baca profil dari press kit
sebuah band, ada tuh anggotanya yang mendaftar Jane Austen sebagai
salah satu penulis favoritnya. Dan ini seorang pria.
Penulis lain yang disebut sih ada Elmore Leonard, George Orwell,
Solzhenitsyin. Dan kemunculan Austen di situ jadi agak membuat
bertanya-tanya. Kenapa ya? Aku pikir unsur-unsur
desperation, longing dan romansa itu cewek banget. Well, Austen is a
lot of things as well. Social realism, perbedaan kelas, studi karakter
manusia, motivasi yang menggerakkan tindakan juga melakukan yang
sebaliknya. Tapi ya itu, dengan bungkusan kisah cinta. Yang aku pikir
masih predominantly female. (Mungkin ini yang jadi alasan aku nggak
pernah, secara sengaja, mendorong orang membaca Austen. Yah, setidaknya
dibanding aku mendorong orang untuk membaca Salinger gitu...Ok,
sekarang aku sudah agak tahu bahwa itu bukan hal yang tepat,
'mengarahkan selera' orang, hehe.) Oke, hal termudah yang
bisa dilakukan adalah mengirimi email ke orang ini dan menanyakannya.
Tapi ini terlalu kayak pick up nggak sih?
Di topik yang berbeda, Miss Austen Regrets ternyata bagus. Aku sempat
merasa agak Austen Overload sih, tapi ternyata BBC itu nama yang cukup
bisa diandalkan untuk produksi dramanya.
Dan Austen-nya Olivia Williams benar-benar memenuhi pengharapanku akan
seorang Jane Austen. Sampai ke pandangan mata, intonasi
kalimat-kalimatnya, plus caranya berkomunikasi verbal.
Ada sisi yang membuatku mengerti kenapa ada yang bilang dia itu
silliest husband hunting butterfly. Dan ada masanya bagaimana dia bisa
jadi bibi yang manis, tapi juga bisa sinis. Katanya, satu-satunya cara
bisa ketemu sama seorang kaya Mr Darcy ya dengan menuliskannya.
Atau,
"Well done, Fanny. Now you know the reason why I never got married."
"What? You couldn't find one handsome enough?"
"No. It's that I never found one worth giving up flirting for."
Haha.
Very well done.
Posted at 10:03 pm by i_artharini
Permalink
Monday, April 28, 2008
(atau sembarang kesan yang bisa aku tangkap darinya dengan sumber terbatas)
"I've lived by a man's code designed to fit a man's world, yet at the
same time I never forget that a woman's first job is to choose the
right shade of lipstick."
(Carole Lombard, 1908-1942)
Masa sih, tingginya dia cuma 157 cm? Tapi mungkin yang paling membuatku
tertegun adalah fakta bahwa Lombard pernah menikah dengan Clark Gable.
Dan dia meninggal karena kecelakaan pesawat.
Katanya "A World of Movies":
She soon became one of the pristine comediennes of the
thirties--liberated women who were both glamorous and funny and vastly
different to women in pre-depression movies who had played second
banana to men or served as mere embellishments. After her marriage to
Clark Gable (! catatan pengutip: bisa mbayangin nggak sih married to
Clark Gable?) she subordinated her career to his, and was tragically
killed in a wartime plane crash.
Ada dua versi di Trivia-nya IMDB yang mungkin saling berhubungan
tentang kecelakaan pesawat Lombard. Satu, ibu Lombard sudah meramalkan
kecelakaan itu, tapi Lombard berkeras tidak mau naik kereta ke Los
Angeles. Alasannya, dia ingin memastikan kebenaran gosip kisah cinta
antara Gable dan Lana Turner yang sedang membuat film bersama.
Dua, Lombard memenangi tebakan koin (coin flip) untuk memutuskan naik
apa ke Los Angeles. Hmm, kalau katanya Coen Bersaudara lewat Anton
Chigurgh, the coin stands for everything (Kok pas banget ya,
baruuu aja nonton 'No Country for Old Men').
Pesawat yang mereka tumpangi adalah pesawat militer yang berhenti di
beberapa tempat untuk mengangkut tentara. Tapi setelah perhentian
pertama, Lombard dan rombongannya diminta turun biar lebih banyak
tentara bisa naik. Mungkin karena Lombard merasa masa depannya dengan
Gable lagi dipertaruhkan ya (ini bagiannya interpretasiku ikut
bermain-main), dia berkeras dengan mengatakan bahwa, untuk perang,
dirinya berhasil mengumpulkan setengah juta dollar. Sehingga ia berhak
untuk tetap berada di pesawat. Nggak lama sesudah itu, pesawatnyakecelakaan.
Duh, kok tragis banget sih. Cuma mau menyelamatkan pernikahan kok ya
dikasih kecelakaan pesawat. Tapi mungkin pelajarannya di sini, jangan
mengungkit-ungkit lagi aksi sumbangan yang sudah pernah diberikan untuk
tujuan pribadi kali ya?
Posted at 09:38 pm by i_artharini
Permalink
Oke, setiap orang punya versi jawabannya sendiri-sendiri. Tapi aku belum menemukan versiku.
Pertanyaannya ini (atau perlu mempertanyakan asal pertanyaannya? Halah.
Aku cuma butuh menemukan jawaban dari pertanyaannya kok).
Kalau membaca tulisanku kok pengen muntah ya. Kayak orang yang berusaha
terlalu keras, terlalu ingin membuat terkesan. Jadi tidak jujur dan
tulus kayaknya. Sementara sumber daya tulisannya juga cuma gitu-gitu
aja. Pengetahuannya juga cuma segitu aja.
Maksudnya, ada orang lain yang bisa menuliskan masalah itu dengan lebih
bagus. Punya pengetahuan yang lebih banyak. Jadi atas dasar apa aku
'berhak' terus menulis?
Posted at 06:21 am by i_artharini
Permalink
(1)
"Menurut lo, dia punya pacar nggak? Gimana kalo punya?"
"Asalnya sih gue pikir enggak. Tapi begitu lo nanya, iya ya, gimana kalo punya."
(2)
"Bau lotionnya itu lho. Membuatku jadi pengen makan."
"Nah efek itu juga yang aku tuju. Tapi nggak buat kamu kok. Tenang aja."
"Tujuannya udah tercapai?"
"Belum."
"Agenda lu padat juga ya."
(3)
"Lu sedih nggak mbaca ini. Gue sih sampe nangis lho."
"Apa?"
"(I've made up my mind
Don’t need to think it over
If I'm wrong I am right
Don't need to look no further
This ain't lust I know this is love
But if I tell the world
I'll never say enough
‘Cos it was not said to you
And that’s exactly what I need to do
If I end up with you
Should I give up
Or should I just keep chasing pavements
Even if it leads no where,
Or would it be a waste
Even if I knew my place
Should I leave it there.
Should I give up
Or should I just keep chasing pavements
Even if it leads nowhere
I build myself up
And fly around in circles
Waiting as my heart drops
And my back begins to tingle
Finally could this be it
Or should I give up
Or should I just keep chasing pavements
Even if it leads nowhere,
Or would it be a waste
Even if I knew my place
Should I leave it there.
Adele-"Chasing Pavements")"
"Haduh. Ini sih emang buat nangis."
Posted at 06:07 am by i_artharini
Permalink
Sunday, April 27, 2008
Oke, menurut artikel ini
di TIME, ternyata aku nggak sendiri tentang vinyl dan segala macam
urusannya. It's making a comeback among my generation. Wow, ternyata
iPod dan semua 'kehalusan' teknologi itu ternyata punya kerugiannya
sendiri.
Shall I tell you about the boys that I met over the weekend?
Ya, ada beberapa sih. Pertama, "A World of Movies" (Hahaha. Ingat, my
luck?) Cover depannya Bogart dan Bergman di Casablanca. Ya, ya, Bogart
itu pendek, pakai sepatu berhak di Casablanca biar lebih tinggi dari
Bergman dan biar lebih meyakinkan untuk ngomong, "Here's looking at
you, kid!". Dan, menurut wanita simpanannya yang baru meninggal
beberapa waktu lalu, dia memakai rambut palsu. Tapi ini tetap
Casablanca.
Ceritanya ini buku semi pictorial tentang sejarah perfilman Hollywood.
Dan ada sih tentang sutradara atau bintang film Eropa, tapi mereka yang
akhirnya sempat mampir di Hollywood juga. Dari era film bisu sampai
berbicara sampai sistem bintang. Nggak banyak Katharine atau Audrey
Hepburn di situ. Tapi banyak Jayne Mansfield, Jean Harlow, Gloria
Swanson, Marlene Dietrich, Greta Garbo, Bette Davis, Joan
Crawford, Barbara Stanwyck, Clark Gable, sampai era Mary Pickford
dan Douglas Fairbanks Senior ada di sini.
Beneran deh, tinggal buka aja secara acak buku itu, pasti akan menemukan inspirasi.
Tentang rokok di adegan-adegannya film Dietrich, ditulis begini:
"The cigarette-ubiquitous in every movie where the very soul of
sophistication was sought. Surely future historians will look back on
this bizarre habit without comprehension. Only when they see Dietrich
on film will their eyes open in wonder, and the delectable pasttime
become fashionable once more."
Dan tentang Garbo, "They speak of the timeless perfection of her face;
of her cool silken presence like a flower untouched; and how, when
making love, she would cup a man's head in her hands and drink from his
lips as though for nourishment."
Hehe. Nggak tahu sih ini beneran atau enggak. Sistem bintang bukan
hanya membantu menciptakan bintang, tapi juga mitos. Legenda. Dewa dan
dewi. Garbo adalah salah satunya.
Sisanya sih ada The Sunday Philosophy Club-nya Alexander McCall Smith,
sama dua buku lain yang agak lumayan untuk harga yang di bawah 40 ribu.
Sunday... malah cuma 25 ribu di World Book Day.
Dan, oh, kemarin baru nonton Funny Ha Ha.
Aku ingat kayaknya awal tahun ini bilang kalau my slacker years itu
sudah seharusnya selesai. Sudah waktunya grow old and do some shit lah.
Tapi, melihat film itu, merasa kalau tahun slackingku baru dimulai.
Marnie-nya di situ pindah-pindah dari satu kerjaan yang tidak sesuai ke
kerjaan lain yang juga cuma sementara. Dan yah berpindah dari satu
awkward romantic chances ke awkward romantic chances lain. Aku? Well,
nggak tahu deh apakah kerjaan ini masih suitable atau enggak. Dan ya,
awkward romantic chances? Istilah yang sudah sinonimus dengan namaku
akhir-akhir ini.
Tapi, dari buku A World of Movies itu juga baru tahu, "Orson Welles was
a mere twenty-five years old when he directed, co-authored and starred
in Citizen Kane, a movie closely based on the life of newspaper tycoon,
William Randolph Hearst, and regarded by many critics as the best
motion picture ever made."
Okeee, aku udah nonton Citizen Kane. Dan sekarang aku jadi deg-degan. Itu, hasil kerja orang umur 25?
Gaahhhh. Mengerikan. Tahun ke-25ku belum ada hasil apa-apa.
Posted at 11:49 pm by i_artharini
Permalink
Friday, April 25, 2008
Hari apa ya itu, yang tidur (pagi-siang)nya terasa pulas banget. Dan pas bangun jam setengah empat pun nggak kerasa deg-degan.
Ah gampang itu, udah tau mau nulis apa. Nanti tinggal telpon-telpon aja.
Pastinya nggak bakal jadi karya pemenang Pulitzer, tapi cukup untuk
membuatku melalui hari sampai besok. Katanya Ccr, "Mungkin udah masanya
kerasa santai kayak gitu." Mungkin ya.
Tapi besoknya, rasanya kredit tidurku jadi minus.
Sampai rumah baru jam delapan, jam sembilan harus bangun karena ada
liputan jam sepuluh. Hasilnya jam sepuluh aja baru bangun, cepet-cepet,
baru setengah sebelas berangkat ke...Gambir. Yah, mengandalkan ojek
tangguh Kampung Melayu lah.
Pas di kantor, tidur dulu deh di bawah mejanya Eva. Tapi sebelumnya
bolak-balik koran siang dan membaca artikel yang sampai kebawa mimpi.
Padahal baru paragraf pertama yang dibaca. Mimpi kok isinya
dikejar-kejar kehendak bebas dalam bentuk yang abstrak. (Btw, aku baru
tersadar, apa sih sebenarnya yang dimaksud kehendak bebas itu?
Maksudnya, contohnya apa yang bisa dihasilkan oleh kehendak bebas
atau... free will ya?) Bangun-bangun, yang pertama dilihat adalah wajah
kegelian Bang Vic.
Panik, habis itu. Malam ini kan ngerjain Pop. Dan besok ternyata ada
banyak liputan bagus. Yang pertama pagi di Museum Bank Mandiri, terus
sore menjelang malam di PPHUI. Kapan tidur? (Hidupku tampaknya sudah
teredusir hanya pada pertanyaan ini: kapan tidurnya?)
Dari kantor langsung ke tempat liputan, pulang, cuma tidur satu jam di
rumah. Tapi sebelumnya ketiduran di bis yang udah masuk terminal,
sampai udah kosong semua baru aku melek. Sangat tidak elegan lah. Kaget
megap-megap. Hehe.
Mandi lagi, terus berangkat. Tapi liputannya lumayan hura-hura. Nonton
album launch-nya Sore. Sekarang agak terkantuk-kantuk. Masih keingat
acara hura-hura tadi.
(Itu judul gara-gara tadi pagi...atau pagi kemarin, kemarin, dengar di iPod-nya Ale--AlePod?--)
Posted at 01:33 am by i_artharini
Permalink
Wednesday, April 23, 2008
April dimulai secara ambisius dengan tiga nama. Olenka, Tristram Shandy
dan Lolita. Yang pertama ketemu nggak sengaja (ah, I wish my luck
with meeting boys are like my luck with meeting books. Well then I
still have the 'unlucky' part of finishing them. Buku-buku,
maksudnya.), yang kedua dan ketiga pinjam di Perpus Diknas.
(Sebentar, hah, itu buku kayaknya udah telat dibalikin...Oh, oh)
Tapi akhirnya masih belum lepas dari halaman-halaman pertama. Olenkanya
sih lumayan, sekitar halaman 50an gitu...dan ternyata nggak butuh waktu
lama untuk mencernanya.
Adegan-adegan dalam lift-nya Budi Darma kok selalu membuatku merinding
ya? Merinding karena mengantisipasi adanya kejadian yang membuatku
ketakutan. Pokoknya agak mengingatkan sama pas nonton The Shining deh.
Tapi lalu ada imajinasi tentang peta yang cukup mengasyikkan itu, haha.
Tristram Shandy-nya malah belum aku buka sama sekali. Lolita-nya..baru halaman berapa ya?
Dan oh, berhasil melewati batas halaman 100 Mansfield Park. Akhirnya
aku tahu apa yang 'salah' dengan Fanny Price. Dia seperti teman yang
mengesalkan karena nggak pernah mau diajak melakukan sesuatu yang
nakal. Seperti dia berpegang terlalu keras pada norma-norma kebaikan
dan kesopanan yang ia yakini dan ia harapkan dari society. Mungkin pada
akhirnya dia mendapatkan hadiahnya, tapi tetap saja...aku lebih suka
ide tentang perempuan-perempuan sok tahu dan sok berani dengan standar
nilainya sendiri sebelum akhirnya menerima pelajarannya. Yah, Elizabeth
Bennett, Emma, Marianne Dashwood. Kalau Anne Elliott sih memang cuman
tentang romance.
Night and Day-nya Virginia Woolf ternyata asyik juga. Maksudnya, aku
nggak nyangka Virginia Woolf bisa segitu readable. Dan menyenangkan.
Penuh dengan manusia yang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri sih
memang, cuma terus mereka juga berinteraksi sama manusia lain.
Ternyata ya, pada satu masa, manusia-manusianya Virginia Woolf itu bisa
'sederhana'. Di kepala mereka ada sentimen-sentimen romantis yang
mendasar tapi terus disamarkan (oleh si karakter) jadi sesuatu yang
lebih intelek sedikit. Manusia-manusia yang jaim gitu. Dan mungkin
malah terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai nggak
melakukan sesuatu yang bermakna, dari segi romantis maksudnya. Cuma
berandai-andai saja.
Tunggu. Jangan-jangan aku melakukan hal yang sama?
Dan, oh, ada versi komiknya Proust. Tapi itu mungkin bisa jadi cerita lain lagi.
Posted at 07:41 pm by i_artharini
Permalink
Friday, April 18, 2008
He's an 8. A cool 8.
You don't need (or want him) to go any higher, cause he's just OK being an 8.
Effortlessly cool, sometimes brooding and/or gloomy, that I find hard
to strike a long conversation with. And smart. (Maklum ya, this is
'huge-crush-speak')
In my best days, I can be a 7.
But most of the time, I'm a 6 that's acting way too silly, or trying too hard, or just plain too awkward.
Do I really want to know what I'm missing out on?
Posted at 05:53 am by i_artharini
Permalink
Thursday, April 17, 2008
"Ya mbak, masalahnya apa ya?"
"Ini, dok. Mata saya terlalu antusias. Terlalu artifisial gitu. Maksud saya jadi ketauan semua. Bisa disamarkan pakai apa ya?"
Btw, what's a good eyeliner? And mascara sih...
Posted at 10:54 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|