PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< April 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, April 28, 2008
Carole Lombard

(atau sembarang kesan yang bisa aku tangkap darinya dengan sumber terbatas)

"I've lived by a man's code designed to fit a man's world, yet at the same time I never forget that a woman's first job is to choose the right shade of lipstick."

(Carole Lombard, 1908-1942)

Masa sih, tingginya dia cuma 157 cm? Tapi mungkin yang paling membuatku tertegun adalah fakta bahwa Lombard pernah menikah dengan Clark Gable. Dan dia meninggal karena kecelakaan pesawat.

Katanya "A World of Movies":
She soon became one of the pristine comediennes of the thirties--liberated women who were both glamorous and funny and vastly different to women in pre-depression movies who had played second banana to men or served as mere embellishments. After her marriage to Clark Gable (! catatan pengutip: bisa mbayangin nggak sih married to Clark Gable?) she subordinated her career to his, and was tragically killed in a wartime plane crash.

Ada dua versi di Trivia-nya IMDB yang mungkin saling berhubungan tentang kecelakaan pesawat Lombard. Satu, ibu Lombard sudah meramalkan kecelakaan itu, tapi Lombard berkeras tidak mau naik kereta ke Los Angeles. Alasannya, dia ingin memastikan kebenaran gosip kisah cinta antara Gable dan Lana Turner yang sedang membuat film bersama.

Dua, Lombard memenangi tebakan koin (coin flip) untuk memutuskan naik apa ke Los Angeles. Hmm, kalau katanya Coen Bersaudara lewat Anton Chigurgh, the coin stands for everything  (Kok pas banget ya, baruuu aja nonton 'No Country for Old Men').

Pesawat yang mereka tumpangi adalah pesawat militer yang berhenti di beberapa tempat untuk mengangkut tentara. Tapi setelah perhentian pertama, Lombard dan rombongannya diminta turun biar lebih banyak tentara bisa naik. Mungkin karena Lombard merasa masa depannya dengan Gable lagi dipertaruhkan ya (ini bagiannya interpretasiku ikut bermain-main), dia berkeras dengan mengatakan bahwa, untuk perang, dirinya berhasil mengumpulkan setengah juta dollar. Sehingga ia berhak untuk tetap berada di pesawat. Nggak lama sesudah itu, pesawatnyakecelakaan.

Duh, kok tragis banget sih. Cuma mau menyelamatkan pernikahan kok ya dikasih kecelakaan pesawat. Tapi mungkin pelajarannya di sini, jangan mengungkit-ungkit lagi aksi sumbangan yang sudah pernah diberikan untuk tujuan pribadi kali ya?

Posted at 09:38 pm by i_artharini
Make a comment  

Jawaban

Oke, setiap orang punya versi jawabannya sendiri-sendiri. Tapi aku belum menemukan versiku.

Pertanyaannya ini (atau perlu mempertanyakan asal pertanyaannya? Halah. Aku cuma butuh menemukan jawaban dari pertanyaannya kok).

Kalau membaca tulisanku kok pengen muntah ya. Kayak orang yang berusaha terlalu keras, terlalu ingin membuat terkesan. Jadi tidak jujur dan tulus kayaknya. Sementara sumber daya tulisannya juga cuma gitu-gitu aja. Pengetahuannya juga cuma segitu aja.

Maksudnya, ada orang lain yang bisa menuliskan masalah itu dengan lebih bagus. Punya pengetahuan yang lebih banyak. Jadi atas dasar apa aku 'berhak' terus menulis? 

Posted at 06:21 am by i_artharini
Comment (1)  

Elegi Platonis(?)

(1)
"Menurut lo, dia punya pacar nggak? Gimana kalo punya?"
"Asalnya sih gue pikir enggak. Tapi begitu lo nanya, iya ya, gimana kalo punya."

(2)
"Bau lotionnya itu lho. Membuatku jadi pengen makan."
"Nah efek itu juga yang aku tuju. Tapi nggak buat kamu kok. Tenang aja."
"Tujuannya udah tercapai?"
"Belum."
"Agenda lu padat juga ya."

(3)
"Lu sedih nggak mbaca ini. Gue sih sampe nangis lho."
"Apa?"
"(I've made up my mind
Donít need to think it over
If I'm wrong I am right
Don't need to look no further
This ain't lust I know this is love

But if I tell the world
I'll never say enough
ĎCos it was not said to you
And thatís exactly what I need to do
If I end up with you

Should I give up
Or should I just keep chasing pavements
Even if it leads no where,
Or would it be a waste
Even if I knew my place
Should I leave it there.
Should I give up
Or should I just keep chasing pavements
Even if it leads nowhere

I build myself up
And fly around in circles
Waiting as my heart drops
And my back begins to tingle
Finally could this be it
Or should I give up
Or should I just keep chasing pavements
Even if it leads nowhere,
Or would it be a waste
Even if I knew my place
Should I leave it there.

Adele-"Chasing Pavements")"

"Haduh. Ini sih emang buat nangis."

Posted at 06:07 am by i_artharini
Make a comment  

Sunday, April 27, 2008
Mumblecore

Oke, menurut artikel ini di TIME, ternyata aku nggak sendiri tentang vinyl dan segala macam urusannya. It's making a comeback among my generation. Wow, ternyata iPod dan semua 'kehalusan' teknologi itu ternyata punya kerugiannya sendiri.

Shall I tell you about the boys that I met over the weekend?
Ya, ada beberapa sih. Pertama, "A World of Movies" (Hahaha. Ingat, my luck?) Cover depannya Bogart dan Bergman di Casablanca. Ya, ya, Bogart itu pendek, pakai sepatu berhak di Casablanca biar lebih tinggi dari Bergman dan biar lebih meyakinkan untuk ngomong, "Here's looking at you, kid!". Dan, menurut wanita simpanannya yang baru meninggal beberapa waktu lalu, dia memakai rambut palsu. Tapi ini tetap Casablanca.

Ceritanya ini buku semi pictorial tentang sejarah perfilman Hollywood. Dan ada sih tentang sutradara atau bintang film Eropa, tapi mereka yang akhirnya sempat mampir di Hollywood juga. Dari era film bisu sampai berbicara sampai sistem bintang. Nggak banyak Katharine atau Audrey Hepburn di situ. Tapi banyak Jayne Mansfield, Jean Harlow, Gloria Swanson, Marlene Dietrich, Greta Garbo, Bette Davis, Joan Crawford,  Barbara Stanwyck, Clark Gable, sampai era Mary Pickford dan Douglas Fairbanks Senior ada di sini.

Beneran deh, tinggal buka aja secara acak buku itu, pasti akan menemukan inspirasi.

Tentang rokok di adegan-adegannya film Dietrich, ditulis begini:
"The cigarette-ubiquitous in every movie where the very soul of sophistication was sought. Surely future historians will look back on this bizarre habit without comprehension. Only when they see Dietrich on film will their eyes open in wonder, and the delectable pasttime become fashionable once more."

Dan tentang Garbo, "They speak of the timeless perfection of her face; of her cool silken presence like a flower untouched; and how, when making love, she would cup a man's head in her hands and drink from his lips as though for nourishment."

Hehe. Nggak tahu sih ini beneran atau enggak. Sistem bintang bukan hanya membantu menciptakan bintang, tapi juga mitos. Legenda. Dewa dan dewi. Garbo adalah salah satunya.

Sisanya sih ada The Sunday Philosophy Club-nya Alexander McCall Smith, sama dua buku lain yang agak lumayan untuk harga yang di bawah 40 ribu. Sunday... malah cuma 25 ribu di World Book Day.

Dan, oh, kemarin baru nonton Funny Ha Ha. Aku ingat kayaknya awal tahun ini bilang kalau my slacker years itu sudah seharusnya selesai. Sudah waktunya grow old and do some shit lah. Tapi, melihat film itu, merasa kalau tahun slackingku baru dimulai.

Marnie-nya di situ pindah-pindah dari satu kerjaan yang tidak sesuai ke kerjaan lain yang juga cuma sementara. Dan yah berpindah dari satu awkward romantic chances ke awkward romantic chances lain. Aku? Well, nggak tahu deh apakah kerjaan ini masih suitable atau enggak. Dan ya, awkward romantic chances? Istilah yang sudah sinonimus dengan namaku akhir-akhir ini.

Tapi, dari buku A World of Movies itu juga baru tahu, "Orson Welles was a mere twenty-five years old when he directed, co-authored and starred in Citizen Kane, a movie closely based on the life of newspaper tycoon, William Randolph Hearst, and regarded by many critics as the best motion picture ever made."

Okeee, aku udah nonton Citizen Kane. Dan sekarang aku jadi deg-degan. Itu, hasil kerja orang umur 25?

Gaahhhh. Mengerikan. Tahun ke-25ku belum ada hasil apa-apa.

Posted at 11:49 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, April 25, 2008
Hip Hip Hura Hura

Hari apa ya itu, yang tidur (pagi-siang)nya terasa pulas banget. Dan pas bangun jam setengah empat pun nggak kerasa deg-degan.

Ah gampang itu, udah tau mau nulis apa. Nanti tinggal telpon-telpon aja.

Pastinya nggak bakal jadi karya pemenang Pulitzer, tapi cukup untuk membuatku melalui hari sampai besok. Katanya Ccr, "Mungkin udah masanya kerasa santai kayak gitu." Mungkin ya.

Tapi besoknya, rasanya kredit tidurku jadi minus.

Sampai rumah baru jam delapan, jam sembilan harus bangun karena ada liputan jam sepuluh. Hasilnya jam sepuluh aja baru bangun, cepet-cepet, baru setengah sebelas berangkat ke...Gambir. Yah, mengandalkan ojek tangguh Kampung Melayu lah.

Pas di kantor, tidur dulu deh di bawah mejanya Eva. Tapi sebelumnya bolak-balik koran siang dan membaca artikel yang sampai kebawa mimpi. Padahal baru paragraf pertama yang dibaca. Mimpi kok isinya dikejar-kejar kehendak bebas dalam bentuk yang abstrak. (Btw, aku baru tersadar, apa sih sebenarnya yang dimaksud kehendak bebas itu? Maksudnya, contohnya apa yang bisa dihasilkan oleh kehendak bebas atau... free will ya?) Bangun-bangun, yang pertama dilihat adalah wajah kegelian Bang Vic.

Panik, habis itu. Malam ini kan ngerjain Pop. Dan besok ternyata ada banyak liputan bagus. Yang pertama pagi di Museum Bank Mandiri, terus sore menjelang malam di PPHUI. Kapan tidur? (Hidupku tampaknya sudah teredusir hanya pada pertanyaan ini: kapan tidurnya?)

Dari kantor langsung ke tempat liputan, pulang, cuma tidur satu jam di rumah. Tapi sebelumnya ketiduran di bis yang udah masuk terminal, sampai udah kosong semua baru aku melek. Sangat tidak elegan lah. Kaget megap-megap. Hehe.

Mandi lagi, terus berangkat. Tapi liputannya lumayan hura-hura. Nonton album launch-nya Sore. Sekarang agak terkantuk-kantuk. Masih keingat acara hura-hura tadi.

(Itu judul gara-gara tadi pagi...atau pagi kemarin, kemarin, dengar di iPod-nya Ale--AlePod?--)

Posted at 01:33 am by i_artharini
Comments (2)  

Wednesday, April 23, 2008
Sekilas

April dimulai secara ambisius dengan tiga nama. Olenka, Tristram Shandy dan Lolita.  Yang pertama ketemu nggak sengaja (ah, I wish my luck with meeting boys are like my luck with meeting books. Well then I still have the 'unlucky' part of finishing them. Buku-buku, maksudnya.), yang kedua dan ketiga pinjam di Perpus Diknas.

(Sebentar, hah, itu buku kayaknya udah telat dibalikin...Oh, oh)

Tapi akhirnya masih belum lepas dari halaman-halaman pertama. Olenkanya sih lumayan, sekitar halaman 50an gitu...dan ternyata nggak butuh waktu lama untuk mencernanya.

Adegan-adegan dalam lift-nya Budi Darma kok selalu membuatku merinding ya? Merinding karena mengantisipasi adanya kejadian yang membuatku ketakutan. Pokoknya agak mengingatkan sama pas nonton The Shining deh.

Tapi lalu ada imajinasi tentang peta yang cukup mengasyikkan itu, haha.

Tristram Shandy-nya malah belum aku buka sama sekali. Lolita-nya..baru halaman berapa ya?

Dan oh, berhasil melewati batas halaman 100 Mansfield Park. Akhirnya aku tahu apa yang 'salah' dengan Fanny Price. Dia seperti teman yang mengesalkan karena nggak pernah mau diajak melakukan sesuatu yang nakal. Seperti dia berpegang terlalu keras pada norma-norma kebaikan dan kesopanan yang ia yakini dan ia harapkan dari society. Mungkin pada akhirnya dia mendapatkan hadiahnya, tapi tetap saja...aku lebih suka ide tentang perempuan-perempuan sok tahu dan sok berani dengan standar nilainya sendiri sebelum akhirnya menerima pelajarannya. Yah, Elizabeth Bennett, Emma, Marianne Dashwood. Kalau Anne Elliott sih memang cuman tentang romance.

Night and Day-nya Virginia Woolf ternyata asyik juga. Maksudnya, aku nggak nyangka Virginia Woolf bisa segitu readable. Dan menyenangkan. Penuh dengan manusia yang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri sih memang, cuma terus mereka juga berinteraksi sama manusia lain.

Ternyata ya, pada satu masa, manusia-manusianya Virginia Woolf itu bisa 'sederhana'. Di kepala mereka ada sentimen-sentimen romantis yang mendasar tapi terus disamarkan (oleh si karakter) jadi sesuatu yang lebih intelek sedikit. Manusia-manusia yang jaim gitu. Dan mungkin malah terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai nggak melakukan sesuatu yang bermakna, dari segi romantis maksudnya. Cuma berandai-andai saja.

Tunggu. Jangan-jangan aku melakukan hal yang sama?

Dan, oh, ada versi komiknya Proust. Tapi itu mungkin bisa jadi cerita lain lagi.

Posted at 07:41 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, April 18, 2008
Angka

He's an 8. A cool 8.
You don't need (or want him) to go any higher, cause he's just OK being an 8.
Effortlessly cool, sometimes brooding and/or gloomy, that I find hard to strike a long conversation with. And smart. (Maklum ya, this is 'huge-crush-speak')

In my best days, I can be a 7.
But most of the time, I'm a 6 that's acting way too silly, or trying too hard, or just plain too awkward.

Do I really want to know what I'm missing out on?

Posted at 05:53 am by i_artharini
Make a comment  

Thursday, April 17, 2008
Jendela

"Ya mbak, masalahnya apa ya?"
"Ini, dok. Mata saya terlalu antusias. Terlalu artifisial gitu. Maksud saya jadi ketauan semua. Bisa disamarkan pakai apa ya?"

Btw, what's a good eyeliner? And mascara sih...

Posted at 10:54 pm by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, April 16, 2008
Lagu Dua Hari

"Falling Slowly"-nya Glen Hansard dan Marketa Irglova sekarang sudah tergantikan. Entah untuk sementara atau untuk dikangeni lagi nanti-nanti.

Yang menggantikannya, "Hey Eugene"-nya Pink Martini.

Entah cara mengemas kejadiannya atau memang cerita dalam lagunya yang menarik. Tapi sudah dua hari belakangan lagu itu aku repeat terus-terusan di...apa ya, nama mp3ku?

Btw, liriknya:

Hey Eugene, do you remember me?
I'm that chick you danced with
Two times through the Rufus album
Friday night at that party on Avenue A

Where your skinhead friend passed out for several hours
On the bathroom floor
And you told me you weren't that drunk
And that I was your favorite Salsa dancer
You had ever come across in New York city

Eugene, Eugene, Eugene,
I said hello, Eugene
Are you there, Eugene?

Hey Eugene, then we kissed
Once we lugged your friend into the elevator
And went to write my number on a soggy paper towel
And the car went down

And when we had finished making out
We noticed that your skinhead friend was gone
Long gone
And you looked into my bloodshot eyes and said
"Is it too soon if I call you Sunday?"

Eugene, Eugene, Eugene,
I said hello, Eugene
Are you there, Eugene?

I said hello Eugene, Eugene, Eugene,
I said hello, Eugene
Are you there, Eugene?
Does any of this ring a bell Eugene?

Sumber lagunya sih 'simpel': The title track written by Forbes (about a boy she met at a party who asked for her number and then never called)....

Dan, kalau berguna:
But the band does want its listeners to keep reliving the heartbreak of Hey Eugene!

But if the real Eugene is paying attention and changes his mind, Forbes says she hopes he doesn't try to call her.

"It is way too late," she says.

Will he even know that the album is about him?

"Oh, he'll know," she says. "He'll know."

(sumber: dari sini)

Mencoba 'menganalisa' kenapa aku suka lagu ini, ada beberapa alasan sih:
1. Menghibur gitu mengetahui ada kejadian yang mematahkan hati itu dialami oleh orang lain, hahaha. Maksudnya gini, kalau aku ada di posisi si China Forbes, vokalisnya Pink Martini, dan mengalami semua cerita itu dengan seorang Eugene, maka akan sangat mungkin aku berpikir kalau malam itu bakal jadi suatu awal yang membahagiakan. Dan ternyata sudah cuma berlalu gitu aja. Dan kayaknya sih nggak apa-apa juga gitu. Maksudnya, kontak manusia seperti itu ya bisa saja nggak perlu jadi apa-apa, cuma jadi kejadian yang sekadar lewat. If it's not going to kill China then it's not going to kill me lah.

2. Yang mana sih yang bisa membuat seorang penulis jadi bagus, ketemu subjek atau objek yang menarik atau cara si penulis mengemas bahannya? "Hey Eugene", menurutku, punya dua-duanya.

Bahan ceritanya menarik. (Dance two times[!] through the Rufus album[!]. Btw ini maksudnya Rufus Wainwright atau gimana ya? Terus skinhead friend passed out, haha, this is great. Nyatet nomor di kertas tisu yang lembab. Dan tentu saja, "Is it too soon if I call you Sunday?") Tapi cara mengemasnya, runtutan ceritanya, detil yang ditampilkannya, kadar intimasi yang 'pengen' dibagi, semuanya pas.

3. Dan aku selalu suka ide 'menangkap' seseorang dalam bentuk tulisan. Mengabadikan satu sisi saja dari seseorang dengan cara yang indah tanpa perlu mengindah-indahkan atau malah jatuh jadi menye-menye. Ini, aku rasa, yang terjadi di "Hey Eugene", indah tanpa jatuh jadi menye-menye. Tetap ada patah hatinya tapi baru kerasa sentilannya di bagian akhir.

Posted at 01:13 am by i_artharini
Make a comment  

Monday, April 14, 2008
High Fidelity

Ah, this is so Enid of me. Atau mungkin Rob Fleming/Rob Gordon of me.

Pas hari Sabtu kan sempat ke Jalan Surabaya, walaupun mungkin agak telat, mau nanya-nanya tentang rencana relokasi itu. Waktu diantar ke salah satu toko sesepuhnya, aku melewati kios piringan hitam. Salah satu yang dipajang sampulnya warna hijau solid dengan sampul yang agak kitsch gitu deh. Namanya Andrianie kalau nggak salah penyanyinya.

Selesai wawancara-wawancara, balik lagi ke kios itu. Nggak ngejari piringan hitam itu sih. Tapi iseng aja lihat-lihat.

Bolak-balik, bolak-balik, pokoknya High Fidelity bangetlah. Dan di antara bolak-balik itu aku menemukan piringan hitamnya Upit Sarimanah.

Hah, the record choose me deh kayaknya.

Yang lain-lainnya sih kebanyakan dari era musisi 'pop' 1970an gitu. Cuma beliau sepertinya yang dari foto sampulnya, ringkasan tentang isi album itu di belakang, mewakili sebuah dunia tersendiri. Bahkan di antara tumpukan piringan hitam yang sudah dari masa lalu pun, piringan hitamnya terlihat lebih lampau lagi.

Aku juga nggak tahu banyak tentang beliau kecuali dari satu sumber. Pak Alwi Shahab-nya Republika itu. Aku pernah wawancara Pak Alwi untuk tulisan tentang Gedung Djodo.

Museum Nasional aka Gedung Gajah itu ternyata pada era 1950an dipakai sebagai tempat melihat dan dilihat para generasi mudanya. Alasannya, di situ, tiap Minggu malam, ramaaaai sekali orang berkumpul gara-gara pada ingin mendengar nyanyian Upit Sarimanah.

Katanya Pak Alwi, seringnya Upit menyanyi tembang-tembang Sunda. Selain Upit, ada kelompok teater Miss Tjitjih yang tampil. Keduanya tampil di situ karena bermigrasi dari Jawa Barat dan sekitarnya yang masih bergejolak karena aktivitas DI/TII Kartosoewirjo.

Yang di piringan hitam itu, berdasarkan deskripsi dan setelah dicoba, ternyata lagu 'kontemporer' dengan lirik berbahasa Sunda. Musik yang dihasilkannya sih benar-benar hebat. Benar-benar sesuai dengan yang aku bayangkan ketika membaca deskripsinya. Lebih baik, bahkan.

Aku masih membolak-balik deretan piringan, jangan-jangan ada yang lebih memikat hati. Tapi ya, namanya sudah kecantol ya, nggak ada tuh. Dijual Rp 50 ribu. Itu mahal nggak ya buat sebuah piringan?

Katanya sih kalau yang keluar 1970an masih bisa Rp 40 ribu. "Tapi kalau keluaran Mesra, Rp 50 ribu emang," kata si abang. "Neng orang Sunda?" lanjutnya.

"Bukan."
"Jadi?"
"Ya, katanya sih dia dulu terkenal banget. Suka nyanyi di Museum Gajah."

Si abang cuma mengedikkan bahu, terus bilang, "Maybe yes, maybe no." Tapi pas dia nyoba itu piringan, komentarnya, "Mantap juga ini."

Because it is.

Langsung deh aku beli. Meskipun di rumah belum ada record player/turntable/phonograph. Baru setelah beli itu tanya-tanya tentang berapa sih pemutar piringan hitam. Ternyata sekitar Rp 700 ribuan. Masih harus nambah ampli Rp 500 ribuan gitu. Total-total, lha kok nggak beda sama beli iPod ya?

Yeah, well.

Setidaknya aku tahu sekarang what I'm saving up for. Dan ya, ya, aku jadi bisa membayangkan menghabiskan akhir pekan mencari piringan hitam. Lahir kembali menjadi seorang pria geeky.

Halah.

(Btw, ada yang tahu tentang mengumpulkan piringan? Merawatnya, meletakkannya, mendengarkannya, membersihkannya, memainkan di alatnya, apakah aku membeli dengan harga yang sepantasnya, pilih-pilih pemutarnya, etc?)

Posted at 04:45 am by i_artharini
Make a comment  

Next Page