PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< April 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, April 23, 2008
Sekilas

April dimulai secara ambisius dengan tiga nama. Olenka, Tristram Shandy dan Lolita.  Yang pertama ketemu nggak sengaja (ah, I wish my luck with meeting boys are like my luck with meeting books. Well then I still have the 'unlucky' part of finishing them. Buku-buku, maksudnya.), yang kedua dan ketiga pinjam di Perpus Diknas.

(Sebentar, hah, itu buku kayaknya udah telat dibalikin...Oh, oh)

Tapi akhirnya masih belum lepas dari halaman-halaman pertama. Olenkanya sih lumayan, sekitar halaman 50an gitu...dan ternyata nggak butuh waktu lama untuk mencernanya.

Adegan-adegan dalam lift-nya Budi Darma kok selalu membuatku merinding ya? Merinding karena mengantisipasi adanya kejadian yang membuatku ketakutan. Pokoknya agak mengingatkan sama pas nonton The Shining deh.

Tapi lalu ada imajinasi tentang peta yang cukup mengasyikkan itu, haha.

Tristram Shandy-nya malah belum aku buka sama sekali. Lolita-nya..baru halaman berapa ya?

Dan oh, berhasil melewati batas halaman 100 Mansfield Park. Akhirnya aku tahu apa yang 'salah' dengan Fanny Price. Dia seperti teman yang mengesalkan karena nggak pernah mau diajak melakukan sesuatu yang nakal. Seperti dia berpegang terlalu keras pada norma-norma kebaikan dan kesopanan yang ia yakini dan ia harapkan dari society. Mungkin pada akhirnya dia mendapatkan hadiahnya, tapi tetap saja...aku lebih suka ide tentang perempuan-perempuan sok tahu dan sok berani dengan standar nilainya sendiri sebelum akhirnya menerima pelajarannya. Yah, Elizabeth Bennett, Emma, Marianne Dashwood. Kalau Anne Elliott sih memang cuman tentang romance.

Night and Day-nya Virginia Woolf ternyata asyik juga. Maksudnya, aku nggak nyangka Virginia Woolf bisa segitu readable. Dan menyenangkan. Penuh dengan manusia yang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri sih memang, cuma terus mereka juga berinteraksi sama manusia lain.

Ternyata ya, pada satu masa, manusia-manusianya Virginia Woolf itu bisa 'sederhana'. Di kepala mereka ada sentimen-sentimen romantis yang mendasar tapi terus disamarkan (oleh si karakter) jadi sesuatu yang lebih intelek sedikit. Manusia-manusia yang jaim gitu. Dan mungkin malah terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai nggak melakukan sesuatu yang bermakna, dari segi romantis maksudnya. Cuma berandai-andai saja.

Tunggu. Jangan-jangan aku melakukan hal yang sama?

Dan, oh, ada versi komiknya Proust. Tapi itu mungkin bisa jadi cerita lain lagi.

Posted at 07:41 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, April 18, 2008
Angka

He's an 8. A cool 8.
You don't need (or want him) to go any higher, cause he's just OK being an 8.
Effortlessly cool, sometimes brooding and/or gloomy, that I find hard to strike a long conversation with. And smart. (Maklum ya, this is 'huge-crush-speak')

In my best days, I can be a 7.
But most of the time, I'm a 6 that's acting way too silly, or trying too hard, or just plain too awkward.

Do I really want to know what I'm missing out on?

Posted at 05:53 am by i_artharini
Make a comment  

Thursday, April 17, 2008
Jendela

"Ya mbak, masalahnya apa ya?"
"Ini, dok. Mata saya terlalu antusias. Terlalu artifisial gitu. Maksud saya jadi ketauan semua. Bisa disamarkan pakai apa ya?"

Btw, what's a good eyeliner? And mascara sih...

Posted at 10:54 pm by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, April 16, 2008
Lagu Dua Hari

"Falling Slowly"-nya Glen Hansard dan Marketa Irglova sekarang sudah tergantikan. Entah untuk sementara atau untuk dikangeni lagi nanti-nanti.

Yang menggantikannya, "Hey Eugene"-nya Pink Martini.

Entah cara mengemas kejadiannya atau memang cerita dalam lagunya yang menarik. Tapi sudah dua hari belakangan lagu itu aku repeat terus-terusan di...apa ya, nama mp3ku?

Btw, liriknya:

Hey Eugene, do you remember me?
I'm that chick you danced with
Two times through the Rufus album
Friday night at that party on Avenue A

Where your skinhead friend passed out for several hours
On the bathroom floor
And you told me you weren't that drunk
And that I was your favorite Salsa dancer
You had ever come across in New York city

Eugene, Eugene, Eugene,
I said hello, Eugene
Are you there, Eugene?

Hey Eugene, then we kissed
Once we lugged your friend into the elevator
And went to write my number on a soggy paper towel
And the car went down

And when we had finished making out
We noticed that your skinhead friend was gone
Long gone
And you looked into my bloodshot eyes and said
"Is it too soon if I call you Sunday?"

Eugene, Eugene, Eugene,
I said hello, Eugene
Are you there, Eugene?

I said hello Eugene, Eugene, Eugene,
I said hello, Eugene
Are you there, Eugene?
Does any of this ring a bell Eugene?

Sumber lagunya sih 'simpel': The title track written by Forbes (about a boy she met at a party who asked for her number and then never called)....

Dan, kalau berguna:
But the band does want its listeners to keep reliving the heartbreak of Hey Eugene!

But if the real Eugene is paying attention and changes his mind, Forbes says she hopes he doesn't try to call her.

"It is way too late," she says.

Will he even know that the album is about him?

"Oh, he'll know," she says. "He'll know."

(sumber: dari sini)

Mencoba 'menganalisa' kenapa aku suka lagu ini, ada beberapa alasan sih:
1. Menghibur gitu mengetahui ada kejadian yang mematahkan hati itu dialami oleh orang lain, hahaha. Maksudnya gini, kalau aku ada di posisi si China Forbes, vokalisnya Pink Martini, dan mengalami semua cerita itu dengan seorang Eugene, maka akan sangat mungkin aku berpikir kalau malam itu bakal jadi suatu awal yang membahagiakan. Dan ternyata sudah cuma berlalu gitu aja. Dan kayaknya sih nggak apa-apa juga gitu. Maksudnya, kontak manusia seperti itu ya bisa saja nggak perlu jadi apa-apa, cuma jadi kejadian yang sekadar lewat. If it's not going to kill China then it's not going to kill me lah.

2. Yang mana sih yang bisa membuat seorang penulis jadi bagus, ketemu subjek atau objek yang menarik atau cara si penulis mengemas bahannya? "Hey Eugene", menurutku, punya dua-duanya.

Bahan ceritanya menarik. (Dance two times[!] through the Rufus album[!]. Btw ini maksudnya Rufus Wainwright atau gimana ya? Terus skinhead friend passed out, haha, this is great. Nyatet nomor di kertas tisu yang lembab. Dan tentu saja, "Is it too soon if I call you Sunday?") Tapi cara mengemasnya, runtutan ceritanya, detil yang ditampilkannya, kadar intimasi yang 'pengen' dibagi, semuanya pas.

3. Dan aku selalu suka ide 'menangkap' seseorang dalam bentuk tulisan. Mengabadikan satu sisi saja dari seseorang dengan cara yang indah tanpa perlu mengindah-indahkan atau malah jatuh jadi menye-menye. Ini, aku rasa, yang terjadi di "Hey Eugene", indah tanpa jatuh jadi menye-menye. Tetap ada patah hatinya tapi baru kerasa sentilannya di bagian akhir.

Posted at 01:13 am by i_artharini
Make a comment  

Monday, April 14, 2008
High Fidelity

Ah, this is so Enid of me. Atau mungkin Rob Fleming/Rob Gordon of me.

Pas hari Sabtu kan sempat ke Jalan Surabaya, walaupun mungkin agak telat, mau nanya-nanya tentang rencana relokasi itu. Waktu diantar ke salah satu toko sesepuhnya, aku melewati kios piringan hitam. Salah satu yang dipajang sampulnya warna hijau solid dengan sampul yang agak kitsch gitu deh. Namanya Andrianie kalau nggak salah penyanyinya.

Selesai wawancara-wawancara, balik lagi ke kios itu. Nggak ngejari piringan hitam itu sih. Tapi iseng aja lihat-lihat.

Bolak-balik, bolak-balik, pokoknya High Fidelity bangetlah. Dan di antara bolak-balik itu aku menemukan piringan hitamnya Upit Sarimanah.

Hah, the record choose me deh kayaknya.

Yang lain-lainnya sih kebanyakan dari era musisi 'pop' 1970an gitu. Cuma beliau sepertinya yang dari foto sampulnya, ringkasan tentang isi album itu di belakang, mewakili sebuah dunia tersendiri. Bahkan di antara tumpukan piringan hitam yang sudah dari masa lalu pun, piringan hitamnya terlihat lebih lampau lagi.

Aku juga nggak tahu banyak tentang beliau kecuali dari satu sumber. Pak Alwi Shahab-nya Republika itu. Aku pernah wawancara Pak Alwi untuk tulisan tentang Gedung Djodo.

Museum Nasional aka Gedung Gajah itu ternyata pada era 1950an dipakai sebagai tempat melihat dan dilihat para generasi mudanya. Alasannya, di situ, tiap Minggu malam, ramaaaai sekali orang berkumpul gara-gara pada ingin mendengar nyanyian Upit Sarimanah.

Katanya Pak Alwi, seringnya Upit menyanyi tembang-tembang Sunda. Selain Upit, ada kelompok teater Miss Tjitjih yang tampil. Keduanya tampil di situ karena bermigrasi dari Jawa Barat dan sekitarnya yang masih bergejolak karena aktivitas DI/TII Kartosoewirjo.

Yang di piringan hitam itu, berdasarkan deskripsi dan setelah dicoba, ternyata lagu 'kontemporer' dengan lirik berbahasa Sunda. Musik yang dihasilkannya sih benar-benar hebat. Benar-benar sesuai dengan yang aku bayangkan ketika membaca deskripsinya. Lebih baik, bahkan.

Aku masih membolak-balik deretan piringan, jangan-jangan ada yang lebih memikat hati. Tapi ya, namanya sudah kecantol ya, nggak ada tuh. Dijual Rp 50 ribu. Itu mahal nggak ya buat sebuah piringan?

Katanya sih kalau yang keluar 1970an masih bisa Rp 40 ribu. "Tapi kalau keluaran Mesra, Rp 50 ribu emang," kata si abang. "Neng orang Sunda?" lanjutnya.

"Bukan."
"Jadi?"
"Ya, katanya sih dia dulu terkenal banget. Suka nyanyi di Museum Gajah."

Si abang cuma mengedikkan bahu, terus bilang, "Maybe yes, maybe no." Tapi pas dia nyoba itu piringan, komentarnya, "Mantap juga ini."

Because it is.

Langsung deh aku beli. Meskipun di rumah belum ada record player/turntable/phonograph. Baru setelah beli itu tanya-tanya tentang berapa sih pemutar piringan hitam. Ternyata sekitar Rp 700 ribuan. Masih harus nambah ampli Rp 500 ribuan gitu. Total-total, lha kok nggak beda sama beli iPod ya?

Yeah, well.

Setidaknya aku tahu sekarang what I'm saving up for. Dan ya, ya, aku jadi bisa membayangkan menghabiskan akhir pekan mencari piringan hitam. Lahir kembali menjadi seorang pria geeky.

Halah.

(Btw, ada yang tahu tentang mengumpulkan piringan? Merawatnya, meletakkannya, mendengarkannya, membersihkannya, memainkan di alatnya, apakah aku membeli dengan harga yang sepantasnya, pilih-pilih pemutarnya, etc?)

Posted at 04:45 am by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, April 08, 2008
Attempt

Céline:  No, no, no, wait a minute.  Talking seriously here.  I mean,...I, I always feel this pressure of being a strong and independent icon of womanhood, and without making...making it look my...my whole life is revolving around some guy.  But loving someone, and being loved means so much to me.  We always make fun of it and stuff.  But isn't everything we do in life a way to be loved a  little more?  
 
Jesse:  Hmmm.  Yeah, I don't know  (They sit on a pile of skids in an alley they are walking through.)  Sometimes I dream about being a good father and a good husband, and sometimes that feels really close. 
 
Céline:  Hmm. 
 
Jesse:  But then, other times, it seems silly.  Like it would uh, ruin my whole life.  And it‘s not just a uh, a fear of commitment, or that I'm incapable of caring, or loving, because I can.  It's just that if I'm totally honest with myself, I think I'd rather die knowing that I was really good at something, that I had excelled in some way, you know, then that I had just been in a nice, caring relationship. 
 
Céline:  Yeah, but I had worked for this older man, and once he told me that he had spent all of his life thinking about his career and his work, and...he was fifty-two and it suddenly struck him that he had never really given anything of himself.  His life was for no one, and nothing.  He was almost crying saying that. You know, I believe if there's any kind of God, it wouldn't be in any of us.  Not you, or me...but just this little space in between.  If there's any kind of magic in this world, it must be in the attempt of understanding someone, sharing something.  (Sigh.)  I know, it‘s almost impossible to succeed, but...who cares, really? The answer must be in the attempt. 
 
(They both stare for a while, and then half-sigh, half-laugh.) 

(Before Sunrise--Richard Linklater, 1995)

Menonton ulang Before Sunrise kok rasanya jadi cuma bagian ini saja yang penting. Pada akhirnya, esensinya, otakku yang semakin bertambah usianya jadi berhenti pada adegan di gang itu. Menggantungkan seluruh kesan dan rasanya di situ. Atau karena bagian itu yang sekarang terasa paling relevan buatku?

Mungkin juga, mungkin lhoo, karena sebelumnya habis nonton Once sama My Blueberry Night. Jadi kerasanya terlalu romantic overdrive gitu. It's a good thing, don't get me wrong. Tapi pas sampai di Sunrise, rasanya jadi nggak senyetrum dulu.

Ada bagian-bagian yang aku lupa sih. Seperti waktu penyair gelandangan itu muncul dan tiba-tiba ingat tentang komentar yang disampaikan seorang karakter dari masa lalu. Atau waktu film ini pernah diputar di TV, terus aku heboh kirim-kirim sms ke orang-orang yang aku kenal untuk ngasih tahu, dan pas adegan di gang itu, seorang sahabat yang sekarang ada di jalur berbeda itu bilang, "Huks, that old man is me."

Ya, ya, jangan-jangan kita semua ketakutan kalau kita adalah si lelaki tua itu? Oke, aku memang sedang menggeneralisir, tapi...mungkin nggak?

Impossible to succeed ya, Céline, tapi the answer must be in the attempt. The answer must be in the attempt. The answer must be in the attempt.

Posted at 05:07 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, April 04, 2008
Frustrasi**

(Don't touch kid, sleep with the lights on
Touch kid, how you surprise me
Now roll kid, rock your body off!)

"Gue kayanya lagi merasakan apa yang didefinisikan orang sebagai haus belaian lelaki deh. Tadi dipijet-pijet *** aja gue diemin," kata seorang perempuan yang hormonnya lagi bergerak aktif.

Aku jadi bertanya-tanya, apakah setelah sebulan ritme tubuh kita sekarang sudah jadi serupa? Tahu kan kalau perempuan-perempuan yang tinggal serumah kemudian jadi punya ritme biologis yang sama? Apa itu termasuk pada 'kebangkitan' hormon-hormon yang membuat kita jadi punya sejenis craving?

Because, frankly, I, too, am craving right now.

(You're something like a phenomena
Something like an astronoma
Now roll kid, rock your body off!)

Dari tadi yang ada di kepalaku si orang iniiiii terus. Padahal naksir beratnya sama orang lain lagi (duh kebanyakan naksir orang kayaknya), tapi yang ini kok ya tiba-tiba jadi rising star. Aku benar-benar nggak bisa melepaskan diri dari memikirkan tentang orang ini.

Nggak sampai menginginkan hal-hal yang bakal membuatku tersipu sih, tapi tetap agak malu, karena imaji-imajinya sangat padat dengan aura kedekatan bersifat romantis.

Halah. Mau ngomong gitu aja kok jadi sok serius. Tapi beneran deh, aku nggak tahu gimana caranya mengesampingkan keinginan-keinginan atau pemikiran-pemikiran itu.

(Something like a phenomena, baby
You're something like a phenomena
Something like a phenomena, baby
You're gonna get your body off)

Ah, aku jadi bertanya-tanya. Lagi ngapain ya, lagi mikirin apa ya, ngapain ya dia akhir pekan ini. Tapi sebelumnya, duh, aku nggak tahu caranya ngomong sama orang ini. Other than his cynical one eyebrow lift, aku nggak tahu banyak tentang dia.

Naksir buta kayaknya. Jadi ini hormonal kan?

(Don't fall asleep with the motor running
She'll make you sweat in the water
Don't fall asleep with the motor running
She'll make you sweat in the water) 

Duh, duh, duh.

Sudah jam setengah tiga dan aku masih nggak bisa memusatkan perhatian sama tulisan. Saat tulisan sudah nggak bisa jadi pelarian, mungkin ya memang harus pasrah dulu, mencantolkan imajinasi ke sosok yang mungkin tergapai sih, tapi belum tahu cara menggapainya saja. Dan aku jadi lebih menginginkannya. Hah.

(Hot time kid
Hot time kid
It's cold under the blanket)*

*: Phenomena--Yeah Yeah Yeahs
**
frus·tra·si n rasa kecewa akibat kegagalan di dl mengerjakan sesuatu atau akibat tidak berhasil dl mencapai suatu cita-cita: -- dapat timbul apabila jurang antara harapan dan hasil yg diperoleh tidak sesuai; (KBBI, versi online)

Posted at 02:36 am by i_artharini
Comments (2)  

Thursday, April 03, 2008
Media Indonesia Edisi Siang (Bag 2)

Sekarang aku jadi punya filosofi baru. Be a bitch because I can. Tapi bukan hanya sekedar asal bunyi. Idenya adalah berbicara ketika ada hal yang tidak sesuai di hati dan berani menerima dibilang, "She's such a bitch" hanya karena menuntut standar yang lebih tinggi.

Secara teknis, masih banyak salah daripada benarnya. Masih jadi bitch yang belum efektif. Yang justru memakan korban dengan jadi bitch di saat yang salah, tapi tidak menyalakan mode bitch di saat yang seharusnya membutuhkan kekuatan super itu.

Mudah-mudahan pas tadi liputan itu termasuk momen yang tepat. Melototin dan menggerakkan mulut bilang, "Yang saya tanyain dia" sambil menunjuk ke narasumber untuk seorang mbak-mbak wartawan yang ngepos untuk isu itu. Habis, yang aku tanya narasumbernya, yang ngejawabin dia terus. Walaupun jawaban elu lebih baik dari si bapak, tapi elu cuma wartawan yang mengumpulkan berita. Bukan elu kan yang orang BLU Trans Jakarta?

Si mbak sempat ketawa sinis sebelum akhirnya menjauh. Tapi yes, mission accomplished, si pengganggu pergi. Dan yang lebih membahagiakan, I don't even care what she thinks of me, karena elu memang mengganggu gue.

Sampai kantor tiba-tiba ada momen menggelikan yang punya idiom sendiri. Pernah dengar, "Been there, done that, bought the shirt, puke on it"? Nah, nggak perlu bought the shirt, we got it for free. Media Indonesia Edisi Siang ada kaos khususnya aja lho. Dan itu dikasih ke semua orang. Tinggal puke on it aja, idiomnya sudah lengkap untuk jadi kenyataan.

Heran deh.

Apa yang terjadi dengan wacana 'akan dievaluasi tiga bulan lagi untuk mengetahui kondisi pasar' kalau sudah ada polo shirt-nya? Ini kan artinya sudah jadi artefak sejarah (hahaha!). Written in stone. Dan dari situ aku baru sadar, kita difungsikan jadi iklan berjalan lho.

Fungsi seragam di tempat kerja 'orang dewasa' ternyata bisa jadi iklan berjalan. Nggak ada bedanya sama pria kribo dengan plakat Kick Andy dan berputar-putar di Jakarta. Gimmick pemasaran. Apa bedanya kita, secara fungsi, sama pria-pria di New York yang meluncur dengan in line skate mengenakan sayap bertuliskan MSN? Ya, bedanya kita tidak dibayar ekstra untuk jadi papan iklan.

Tapi ini yang menyenangkan dan patut dicatat. Mungkin teori Tipping Point itu benar adanya dan sekarang sedang terjadi pada produk kita. Aku dan Ccr kemarin punya cerita yang kurang lebih sama, kita mendengar recognition tentang keberadaan produk kita dari orang-orang. Sic pun mendapat hal yang sama, untuk sosok NKOTB-nya yang smoking hot itu.

Dan tadi ada orang sirkulasi datang. We have pick up points, people! Sudah sejak Rabu lalu di terminal-terminal utama Trans Jakarta. Dukuh Atas, Harmoni, Gelora Senayan, Polda, Blok M, Kuningan, untuk menyebut beberapa di antara. And it's free.

Istilah 'we have arrived', menurut Ben Harper, adalah sebuah suap tingkat tinggi. Karena itu bisa jadi alasan untuk lalu memelankan ritme. Intinya sih jangan pernah berhenti berjuang. Tapi menyenangkan rasanya ketika mengetahui produk yang dikerjakan oleh semua orang yang terlibat di dalamnya itu sampai di tangan orang-orang yang dituju. Tak sekadar di-sweeping dan tertumpuk tak berguna di sebuah gudang.

Aku mencoba untuk tidak terdengar seperti Halle Berry saat meraih Oscar, tapi harap maklum saja kalau aku jadi terlalu dramatis dan menye-menye. Tapi ini, buat semua orang, dan maksudku semua, yang terlibat di produksi Media Indonesia Edisi Siang ini, dari mulai atasan-atasanku (sampai level redaktur aja sih, nggak ke atasnya lagi), teman-teman di sekitarku--para pengetik teks, duo mas-mas pencari data, manusia-manusia penata halaman, semuanya dengan tingkat ke-stress-an berbeda-beda tapi tetap melakukan yang terbaik, not that you guys might care or read this blog, tapi aku saluuuuut banget sama apa yang kalian lakukan. I have nothing but my deepest, warmest regard and affection for each and every one in this project. Walaupun Ccr bilang ini bukan pekerjaan dengan rasa, tapi sekadar pekerjaan kuli harian untuk menyambung hidup, but still, you guys are great.

Dengan semua kesel, dongkol, capek, ngantuk dan ketawa-ketawanya...hmm, ini perjalanan yang menyenangkan.

Posted at 08:59 pm by i_artharini
Make a comment  

Media Indonesia Edisi Siang (Bag 1)

Ya, ya, ya, akhirnya aku menyebut secara resmi nama asli Media Insomnia. Bukan lagi sekedar Kirsten-nya, tapi sudah ketahuan 'Ashley Alexandra Dupre'-nya. (Mungkin biar setidaknya kalau nge-Google, ada bukti kalau koran siang tempatku bekerja itu eksis. Ah, lagi-lagi masalah eksis).

Mungkin posting ini adalah sebuah perayaan. Atau peringatan akan hari yang berlalu dengan cukup absurd. Dan layak diingat.

Tadi pagi sampai rumah jam 7.40an. Terakhir kali lihat jam tangan sebelum tidur itu jam 7.45. Pasang alarm buat jam 10 karena jam 12 mau ada liputan. Eh, terbangunnya jam 11.25 aja lho. Itu pun pas pertama kali melek belum tahu waktu. Cuma ditanyain ibu, "Kamu nggak ke mana-mana kan hari ini? Langsung kantor?"

Dan aku langsung, "Bentar. Aku harus ke satu tempat. Tapi ke mana ya?" Benar-benar lupa dan kosong itu kepala. Aku nggak pernah lho lupa sampai segitunya. Langsung panik waktu sadar, oh iya, aku harus ke konpers tentang busway khusus perempuan itu. Acaranya jam 12! Kenapa nggak kedengaran apa-apa dari alarm?

Tujuannya di Suryo Pranoto, di dekat Harmoni, dan aku belum mandi, masih di rumah, dst, dst. Berangkat akhirnya jam 12.15-an, angkot sampai Kampung Melayu dan lanjutin ojek langsung ke tujuan. Tebak-tebak mungkin habis Rp 30 ribu, eh ternyata belum ditawar pun pak ojek sudah memberi Rp 25 ribu. Tapi ternyata, itu motor berjalan dengan kecepatan 10 sampai 20 km per jam.

Susah ya.

Di satu sisi aku menulis dan ingin ada ketertiban berkendara. Di saat genting seperti itu, aku malah pengen throw caution into the wind. Dan aku jadi mengingat akhir-akhir ini, kayanya banyaaaak banget momen-momen yang aku terlambat bangun, tergesa-gesa mandi dan bersiap-siap, terus naik ojek untuk tujuan-tujuan yang agak jauh. Pernah dari BNN sampai Apartemen Gandaria, sehari sebelumnya juga dari Kampung Melayu sampai Wisma Antara, dan sekarang. Deg-degan banget sepanjang perjalanan. Untungnya sampai sana acara masih hangat berlangsung. Ffiuh.

Pulang liputan, menuju ke kantor, jadi ingat tentang salah satu momen Fuck Your Brain yang terjadi beberapa hari lalu. "Gue suka banget kalau elu nulis fesyen. Bagus banget kalau elu nulis fesyen. Elu mending nulis fesyen aja, nggak usah nulis tentang busway," kata Den Baguse Kemaki. Hmm, I should be mightily insulted with that, tapi waktu itu aku (agak) tenang, cuek malah. Karena ini orang juga nggak kenal aku, dan nggak ngerti kapabilitasku, so aku merasa penilaiannya dia nggak valid gitu.

Dan juga karena, ya iya, aku kangen melihat baju-baju cuantik yang menggugah rasa itu. Tapi aku juga sangat, sangat sadar bahwa dengan distribusi MI Edisi Siang yang masih tersendat-sendat, seberapa sering sih elu, Wartawan Yang Yakin Pasti Masuk Surga, mbaca tulisanku? Dan even if you do read every fucking thing I wrote, siapa elu yang bisa memutuskan apa yang bisa atau tidak bisa aku tulis? Hihi, katanya cuek, kok sekarang, looking back in retrospect, jadi agak panas ya?

Plus, maksudnya dia apa juga. Dia pengen dia yang menggantikan posisiku? Silahkan. Banget. Aku pengen bisa tidur di kasurku sendiri di malam hari. Atau nonton DVD. Atau bisa nyelesein satu buku seminggu. Aku pengen nggak menghabiskan akhir pekan dengan tidur. Datang ke acara-acara di malam hari.

Dan iya, kita sama-sama tahu elu punya militansi yang lebih baik. So, please, sok, sok, soookk. Really, no hard feeling at all. (Bersambung)

Posted at 05:40 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, March 31, 2008
Merah itu...

F: btw nari, mac pny lipstick merah keren bgt a la dita von teese. namanya ruby woo. yummmmmmmmmmm

me: 
uughhh aku pengen red lipstick kayak gitu. atau kayak karen o. dia kayaknya selalu punya varied degrees of red lipstick deh. kamu udah pernah nyoba?

F: 
hehehe karen o [tongue]. blm sih, yg nyobain si nany, dan bibirnya sok luscious gitu nar. cmn ruby woo ini matte, jadi ga cocok utk bibir pecah2 [tongue]. sama nany dikasih extra layer of lipgloss warna peach gitu dan hasilnya WOW. i love ruby woo

me:
jadinya gimana kalo dikasih peach layer? btw matte bukannya kesannya jadi lebih tua ya?

F: 
not really. bikin jadi rada glamorous dan fresh gitu. kl matte tuh kesannya kan yg classic. kl ada glossy effect jadi nambah2in the pow effect!

me: 
waahhhh glamorous and fresh. aku mauuuu...

F: 
ugh i wish red lipstick could fix my love life.
life wouldve been easier [tongue]

me: 
hahahahhahaha. yeah, i wish for the same too. maybe that's why i want ruby woo.

Posted at 09:09 pm by i_artharini
Comments (2)  

Next Page