PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< April 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, April 03, 2008
Media Indonesia Edisi Siang (Bag 2)

Sekarang aku jadi punya filosofi baru. Be a bitch because I can. Tapi bukan hanya sekedar asal bunyi. Idenya adalah berbicara ketika ada hal yang tidak sesuai di hati dan berani menerima dibilang, "She's such a bitch" hanya karena menuntut standar yang lebih tinggi.

Secara teknis, masih banyak salah daripada benarnya. Masih jadi bitch yang belum efektif. Yang justru memakan korban dengan jadi bitch di saat yang salah, tapi tidak menyalakan mode bitch di saat yang seharusnya membutuhkan kekuatan super itu.

Mudah-mudahan pas tadi liputan itu termasuk momen yang tepat. Melototin dan menggerakkan mulut bilang, "Yang saya tanyain dia" sambil menunjuk ke narasumber untuk seorang mbak-mbak wartawan yang ngepos untuk isu itu. Habis, yang aku tanya narasumbernya, yang ngejawabin dia terus. Walaupun jawaban elu lebih baik dari si bapak, tapi elu cuma wartawan yang mengumpulkan berita. Bukan elu kan yang orang BLU Trans Jakarta?

Si mbak sempat ketawa sinis sebelum akhirnya menjauh. Tapi yes, mission accomplished, si pengganggu pergi. Dan yang lebih membahagiakan, I don't even care what she thinks of me, karena elu memang mengganggu gue.

Sampai kantor tiba-tiba ada momen menggelikan yang punya idiom sendiri. Pernah dengar, "Been there, done that, bought the shirt, puke on it"? Nah, nggak perlu bought the shirt, we got it for free. Media Indonesia Edisi Siang ada kaos khususnya aja lho. Dan itu dikasih ke semua orang. Tinggal puke on it aja, idiomnya sudah lengkap untuk jadi kenyataan.

Heran deh.

Apa yang terjadi dengan wacana 'akan dievaluasi tiga bulan lagi untuk mengetahui kondisi pasar' kalau sudah ada polo shirt-nya? Ini kan artinya sudah jadi artefak sejarah (hahaha!). Written in stone. Dan dari situ aku baru sadar, kita difungsikan jadi iklan berjalan lho.

Fungsi seragam di tempat kerja 'orang dewasa' ternyata bisa jadi iklan berjalan. Nggak ada bedanya sama pria kribo dengan plakat Kick Andy dan berputar-putar di Jakarta. Gimmick pemasaran. Apa bedanya kita, secara fungsi, sama pria-pria di New York yang meluncur dengan in line skate mengenakan sayap bertuliskan MSN? Ya, bedanya kita tidak dibayar ekstra untuk jadi papan iklan.

Tapi ini yang menyenangkan dan patut dicatat. Mungkin teori Tipping Point itu benar adanya dan sekarang sedang terjadi pada produk kita. Aku dan Ccr kemarin punya cerita yang kurang lebih sama, kita mendengar recognition tentang keberadaan produk kita dari orang-orang. Sic pun mendapat hal yang sama, untuk sosok NKOTB-nya yang smoking hot itu.

Dan tadi ada orang sirkulasi datang. We have pick up points, people! Sudah sejak Rabu lalu di terminal-terminal utama Trans Jakarta. Dukuh Atas, Harmoni, Gelora Senayan, Polda, Blok M, Kuningan, untuk menyebut beberapa di antara. And it's free.

Istilah 'we have arrived', menurut Ben Harper, adalah sebuah suap tingkat tinggi. Karena itu bisa jadi alasan untuk lalu memelankan ritme. Intinya sih jangan pernah berhenti berjuang. Tapi menyenangkan rasanya ketika mengetahui produk yang dikerjakan oleh semua orang yang terlibat di dalamnya itu sampai di tangan orang-orang yang dituju. Tak sekadar di-sweeping dan tertumpuk tak berguna di sebuah gudang.

Aku mencoba untuk tidak terdengar seperti Halle Berry saat meraih Oscar, tapi harap maklum saja kalau aku jadi terlalu dramatis dan menye-menye. Tapi ini, buat semua orang, dan maksudku semua, yang terlibat di produksi Media Indonesia Edisi Siang ini, dari mulai atasan-atasanku (sampai level redaktur aja sih, nggak ke atasnya lagi), teman-teman di sekitarku--para pengetik teks, duo mas-mas pencari data, manusia-manusia penata halaman, semuanya dengan tingkat ke-stress-an berbeda-beda tapi tetap melakukan yang terbaik, not that you guys might care or read this blog, tapi aku saluuuuut banget sama apa yang kalian lakukan. I have nothing but my deepest, warmest regard and affection for each and every one in this project. Walaupun Ccr bilang ini bukan pekerjaan dengan rasa, tapi sekadar pekerjaan kuli harian untuk menyambung hidup, but still, you guys are great.

Dengan semua kesel, dongkol, capek, ngantuk dan ketawa-ketawanya...hmm, ini perjalanan yang menyenangkan.

Posted at 08:59 pm by i_artharini
Make a comment  

Media Indonesia Edisi Siang (Bag 1)

Ya, ya, ya, akhirnya aku menyebut secara resmi nama asli Media Insomnia. Bukan lagi sekedar Kirsten-nya, tapi sudah ketahuan 'Ashley Alexandra Dupre'-nya. (Mungkin biar setidaknya kalau nge-Google, ada bukti kalau koran siang tempatku bekerja itu eksis. Ah, lagi-lagi masalah eksis).

Mungkin posting ini adalah sebuah perayaan. Atau peringatan akan hari yang berlalu dengan cukup absurd. Dan layak diingat.

Tadi pagi sampai rumah jam 7.40an. Terakhir kali lihat jam tangan sebelum tidur itu jam 7.45. Pasang alarm buat jam 10 karena jam 12 mau ada liputan. Eh, terbangunnya jam 11.25 aja lho. Itu pun pas pertama kali melek belum tahu waktu. Cuma ditanyain ibu, "Kamu nggak ke mana-mana kan hari ini? Langsung kantor?"

Dan aku langsung, "Bentar. Aku harus ke satu tempat. Tapi ke mana ya?" Benar-benar lupa dan kosong itu kepala. Aku nggak pernah lho lupa sampai segitunya. Langsung panik waktu sadar, oh iya, aku harus ke konpers tentang busway khusus perempuan itu. Acaranya jam 12! Kenapa nggak kedengaran apa-apa dari alarm?

Tujuannya di Suryo Pranoto, di dekat Harmoni, dan aku belum mandi, masih di rumah, dst, dst. Berangkat akhirnya jam 12.15-an, angkot sampai Kampung Melayu dan lanjutin ojek langsung ke tujuan. Tebak-tebak mungkin habis Rp 30 ribu, eh ternyata belum ditawar pun pak ojek sudah memberi Rp 25 ribu. Tapi ternyata, itu motor berjalan dengan kecepatan 10 sampai 20 km per jam.

Susah ya.

Di satu sisi aku menulis dan ingin ada ketertiban berkendara. Di saat genting seperti itu, aku malah pengen throw caution into the wind. Dan aku jadi mengingat akhir-akhir ini, kayanya banyaaaak banget momen-momen yang aku terlambat bangun, tergesa-gesa mandi dan bersiap-siap, terus naik ojek untuk tujuan-tujuan yang agak jauh. Pernah dari BNN sampai Apartemen Gandaria, sehari sebelumnya juga dari Kampung Melayu sampai Wisma Antara, dan sekarang. Deg-degan banget sepanjang perjalanan. Untungnya sampai sana acara masih hangat berlangsung. Ffiuh.

Pulang liputan, menuju ke kantor, jadi ingat tentang salah satu momen Fuck Your Brain yang terjadi beberapa hari lalu. "Gue suka banget kalau elu nulis fesyen. Bagus banget kalau elu nulis fesyen. Elu mending nulis fesyen aja, nggak usah nulis tentang busway," kata Den Baguse Kemaki. Hmm, I should be mightily insulted with that, tapi waktu itu aku (agak) tenang, cuek malah. Karena ini orang juga nggak kenal aku, dan nggak ngerti kapabilitasku, so aku merasa penilaiannya dia nggak valid gitu.

Dan juga karena, ya iya, aku kangen melihat baju-baju cuantik yang menggugah rasa itu. Tapi aku juga sangat, sangat sadar bahwa dengan distribusi MI Edisi Siang yang masih tersendat-sendat, seberapa sering sih elu, Wartawan Yang Yakin Pasti Masuk Surga, mbaca tulisanku? Dan even if you do read every fucking thing I wrote, siapa elu yang bisa memutuskan apa yang bisa atau tidak bisa aku tulis? Hihi, katanya cuek, kok sekarang, looking back in retrospect, jadi agak panas ya?

Plus, maksudnya dia apa juga. Dia pengen dia yang menggantikan posisiku? Silahkan. Banget. Aku pengen bisa tidur di kasurku sendiri di malam hari. Atau nonton DVD. Atau bisa nyelesein satu buku seminggu. Aku pengen nggak menghabiskan akhir pekan dengan tidur. Datang ke acara-acara di malam hari.

Dan iya, kita sama-sama tahu elu punya militansi yang lebih baik. So, please, sok, sok, soookk. Really, no hard feeling at all. (Bersambung)

Posted at 05:40 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, March 31, 2008
Merah itu...

F: btw nari, mac pny lipstick merah keren bgt a la dita von teese. namanya ruby woo. yummmmmmmmmmm

me: 
uughhh aku pengen red lipstick kayak gitu. atau kayak karen o. dia kayaknya selalu punya varied degrees of red lipstick deh. kamu udah pernah nyoba?

F: 
hehehe karen o [tongue]. blm sih, yg nyobain si nany, dan bibirnya sok luscious gitu nar. cmn ruby woo ini matte, jadi ga cocok utk bibir pecah2 [tongue]. sama nany dikasih extra layer of lipgloss warna peach gitu dan hasilnya WOW. i love ruby woo

me:
jadinya gimana kalo dikasih peach layer? btw matte bukannya kesannya jadi lebih tua ya?

F: 
not really. bikin jadi rada glamorous dan fresh gitu. kl matte tuh kesannya kan yg classic. kl ada glossy effect jadi nambah2in the pow effect!

me: 
waahhhh glamorous and fresh. aku mauuuu...

F: 
ugh i wish red lipstick could fix my love life.
life wouldve been easier [tongue]

me: 
hahahahhahaha. yeah, i wish for the same too. maybe that's why i want ruby woo.

Posted at 09:09 pm by i_artharini
Comments (2)  

Tuesday, March 25, 2008
McDreamy (Lain)

Menjelang akhir membaca jadi deg-degan, merinding, agak berkaca-kaca, menghela nafas, tersenyum, tapi hatinya teraduk-aduk. Jika itu terjadi, artinya aku sedang membaca sesuatu yang sangat bagus. Bagus banget. Sooo fucking good.

Adanya di National Geographic Indonesia edisi April 2008. Benar-benar McDreamy mas satu itu (Jangan ada ge er-ge er yang tidak perlu, please). Aku beberapa kali tersenyum saat membaca artikelnya, tapi juga beberapa kali merasa trenyuh. Di sini dan di sana ada kekayaan kosakata dimunculkan, tapi tidak berlebihan. Bahannya pun punya tekstur, tapi lapis demi lapisnya ditampilkan dengan sederhana. How does he write with such humanity? How does one write with such humanity?

So, so, so, so, so good.

Tulisannya dari sudut pandang si penulis, tapi dia bisa mengambil keberjarakan yang adil? Tepat? Seimbang? Pokoknya takarannya pas. Tahu di mana harus mengatakan 'saya' dengan semua deskripsi personalnya dan kapan harus memunculkan kutipan. Rasanya ekuivalen dengan menonton Before Sunrise atau Before Sunset. (Atau ini kerjaan editornya ya?)

Tapi, hih, aku jadi merinding lagi.

Beneran deh. Kalau aku ketemu orangnya, aku baca artikel ini di depannya. Resikonya memang akan terlihat sangat groupie, tapi, yah...dia sebagus itu.

Posted at 11:24 pm by i_artharini
Comments (2)  

Sehat

"Sehat semua?"

Yah, mungkin ini ujian terberat (so far) buat Media Insomnia. The most amount of personnel down, tiga orang dari 14 di redaksi.

Sakit kok ya kaya arisan. Tunggu giliran, pertama mbak redaktur, terus kode tugas Internasional A, terus Ekonomi A, Photographer of the Year, terus balik lagi ke Internasional A yang harus absen seminggu.

Waktu itu ada yang nanya, jadi kalian sama ya, kalau sakit nggak ada gantinya? Pas  banget sesudah pertanyaan itu, aku dengar Eva sakit. Perfect timing. Padahal sebelumnya baruuu aja bertanya-tanya, iya, gimana ya kalau pengisi halaman sakit, terus yang ngisi siapa. Ya ternyata roda industri tetap berjalan seperti biasa tuh, hehe.

Nggak tahu deh ini, mata kanan kok dari tadi ngelihat selalu kabur. Kacamatanya memang masih pakai resep lama sih, tapi kok sekarang terasa kabur banget ya? Masa nambah lagi dari terakhir periksa? Atau cuma ngantuk?

Hopefully in a decade, the price of LASIK will goes down dramatically. Cause then, without a doubt, I am going under the knife.

Posted at 10:27 pm by i_artharini
Make a comment  

See More Glass

I wanna talk to Seymour.

(Franny di Franny and Zooey)

Iya, aku juga. Atau berbicara dengan seseorang yang kenal sekali dengan Seymour. Buddy? Ah ya, ada Seymour: An Introduction. Buku itu sebenarnya cuma catatan acak Buddy tentang sosok kakaknya. Yang aku tangkap pun cuma patahan-patahan. Ada yang menarik sih.

Katanya Seymour selalu (atau hanya sekali ya?) mengaduk asbak yang penuh abu rokok untuk mencari Tuhan. He was grinning from ear to ear, dan menurut Buddy, 'seolah ia mencari Tuhan yang sedang meringkuk dan bersembunyi di balik tumpukan abu. Dan dari caranya meringis lebar, ia seperti menemukannya'.

I am not that extreme, because secondhand smoke kills. Tapi sepertinya ada Tuhan di gulungan tisu toilet di kantor. Setiap kali ngambil untuk ngelap tangan, eh selalu aja sudah ada lipatan segitiga di ujungnya, seperti di hotel-hotel itu. Memang bukan sesuatu yang muncul secara ajaib, ada mbak-mbak OG yang selalu melipat tiap orang selesai memakai kubik toilet.

Itu kan sebenarnya futile attempt, usaha yang sia-sia. Maksudnya, kenapa juga. Toh pasti akan selalu ada orang yang masuk, menyobek tisu, bahkan langsung setelah segitiga itu selesai dilipat. Tapi itu tetap dilakukannya. Nggak pernah absen. Karena aku selalu menemukan ujung tisu itu terlipat segitiga selama si mbak masih terlihat.

What I am trying to say is that I see God in that very end of toilet paper. Dan itu seharusnya bisa mengajarkanku sesuatu kan, tentang usaha 'sia-sia' yang tetap harus dilakukan. 'Sia-sia' atau tidak adalah penilaian atas hasil kerja kan? Bukan aku yang menentukan apa itu 'berharga', 'penting' atau 'sia-sia'.

Posted at 04:32 am by i_artharini
Make a comment  

Suicide Risk

Juno said that she's at suicide risk by being pregnant. There's nothing that puts me more at my suicide risk than knowing I will write something bad. This is already 11.30 and I still don't know which one's head and which one's foot. Or hands.

(And oh, this is my current soundtrack while typing this:

What gives, what helps
The Intuition
I'll know, I'll know
Oh, I won't have to be shown
The way home
And it's not about a boy
Although, although

They can lead you
Break and defeat you

A destination known
Only by the one
Whose fate is overgrown
Piecemeal can break your home
In half
A love is not complete
With only heat

And they can tease you
Break or complete you

And in came a heat wave
A merciful save
And you choose, you chose
Poetry over prose

A map is more unreal
Than where you've been
Or how you feel
A map is more unreal
Than where you've been
Or how you feel
And it's impossible to tell
How important someone was
And what you might have missed out on
And how he might have changed it all
And how you might have changed it all for him
And how you might have changed it all
And how he might have changed it all for you

And did I, did I...?
And did I, did I...?
And did I, did I...?
And did I, did I...?
And did I, did I...?
(Did I? Did I?)
And did I, did I...?
(Did I? Did I?)
And did I, did I...?
(Did I? Did I?)
And did I, did I miss out on
You...)

Gila deh. Apa sebenarnya yang sedang terjadi sih?
Kenapa aku merasa semuanya itu futile attempts?
Sia-sia aja.

Posted at 12:18 am by i_artharini
Make a comment  

Monday, March 24, 2008
Perkutut

Ya, ya, ya.

Lama kelamaan kok aku jadi seperti perkutut, bercelathu pada waktu-waktu yang sudah bisa ditebak. Dan yang disampaikan pun cuma sekadar sweet nothings. Atau malah bitter nothings.

Hari ini, bangun dengan mendapat wahyu. Well, pesan pendek sih sebenarnya, tapi benar-benar membawa pencerahan. Sampai rumah baru jam 7, terus tidur, tapi pasang alarm buat jam 10. Pas jam 10 terbangun dan mengingatkan, "Ayo, ayo, nyari orang di PU." Tapi terus merem lagi dengan pembenaran: "Nanti telepon aja dehhh."

Akhirnya terbangun sekitar jam 12an kurang. Eh ada sms. Isinya undangan makan siang bersama seorang menteri yang baru jadi profesor kehormatan. Entah kenapa, kok ya aku bangun dan siap-siap mandi. Baru pas mau mandi itu, logikanya jalan, "Oh iya, nanti sekalian tanya aja tentang plastik." Jadwalnya 12.30 aja lho.

Berangkat dari rumah baru 12.51-an (ini menepat-nepatkan, biar agak berbau The Strokes), naik ojek sampai lokasi. Baru beberapa puluh meter dari rumah, aku buka-buka tas dan sadar, "Lho, hape manaaa? Balik dong, bang, hapenya ketinggalan." Pas udah balik, aku ngeliat lagi ada kantung hitam berserut di bagian atasnya dan tempelan bahan lurik dari 'kantung puisi' acaranya CCF. Ah, ternyata ada hape di dalamnya. Abang ojek yang udah menuju arah rumah pun akhirnya kembali "do a 180".

Tiba di sana, lho, lho, lho, kok udah pada bubar? Eh ternyata lagi pada mojok di satu ruang khusus. Dari situ, berangkat ke kantor naik 213. Pas di macet-macetnya lepas Kampung Melayu, ada lagunya Feist dari album pertama, Lover's Spit. Nah pas itu, pikiranku tiba-tiba berjalan dalam bahasa Inggris. I can discern the faint sound of drums being beaten by those drum sticks that resembles the thing you used to whisk egg with. Drum whiskers then, it is called?

I used to listen to a lot of Feist during my brokenheart phase. Not just listen, listen, but you know, like you are able to dissect every layer of sound that she created, and enjoy every bit of it, over, and over, and over again. Having your heart broken, at that time, means that all of your five senses is being magnified hundreds of times. You suddenly can see, hear, feel, taste, smell everything. Is there some sort of chemical changes going on inside your body when you got your heartbroken and you cry your eyes out?

Why does it sound the same like when you're pregnant. But pregnancy is a biological freakshow, it's supposed to change the whole body system whatever, but getting a broken heart is only a matter of emotional change. If so, then, why does it affects our, my senses?

(tadi itu sepanjang macet Kampung Melayu, perempatan Fuji, dan perempatan toko buku Immanuel).

MP3-ku dalam mode acak, jadi ada beberapa Strokes, Kings of Leon, Ben Harper, John Mayer yang datang dan pergi setelah Feist. Tapi waktu di depan Bappenas, rumah Dubes AS dan/atau Museum Naskah Proklamasi, she was back on my two ears. Let it Die was playing, as I recall.

Oh yes, I remember so well crying over this song. I was not feeling something of the same that time, but here's what I realized. Maybe, although I am verging on being sure, that I want to lose my head for the sake of my heart just in order to get my heart broken. That I am always waiting for the heartbreak to come because that's where the enlivening energy comes, you know. The energy that forces me to read more, to listen more, to watch more, to work more, to do more.

But is it?

Because if it is, it sounds too fatalistic to be true. Twisted, even.

I don't know what I do, but I think I have succeeded. I felt the sting of a heartbreak at this time of day, but it wasn't an enlivening energy that's popping its head. Basically, it's just tiredness. But still, a heartbreak all the same. (No doubt about it, I feel my eyes goes misty over this page, although I am aware that the page is being overdone, or maybe trying too hard)

Posted at 09:53 pm by i_artharini
Make a comment  

Sunday, March 23, 2008
Yang Sangat Acak tentang ( )

Sistem tenggat waktu ternyata belum efektif. Otak, di bawah jam 11, masih beku, hihihi. Ini sudah lewat waktu deadline dan masih 15 baris. Hmm, kali ini apa ya?

Oh, pertama ini, forgive me (higher being/substance) for I have sinned. Kenapa ya kok aku bisa memimpikan orang yang sama sampai empat kali dalam dua minggu terakhir. Dua kali dalam empat hari terakhir malah. Yang terakhirnya, huks, itu mimpi punya punchline yang benar-benar membuatku KO.  Dari semua sekuens mimpi, orang ini akhirnya melihatku, sadar ada aku, dan ngomong langsung ke aku, tapi mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ditujukan ke aku. Nggak ada yang aneh-aneh sih, cuma sekelebatan-sekelebatan saja.

Berbicara tentang higher being/substance, aku curiga, jangan-jangan ia adalah Jane Austen. Kemarin-kemarin sedang membayangkan kemungkinannya Jane Austen as God, dan bagaimana adegan-adegan pertemuan itu diciptakan. Mr Darcy ketemu Lizzie Bennett secara nggak sengaja di hutan, Catherine Morland (yang nggak kenal siapa-siapa di Bath) akhirnya bisa berkenalan sama Henry Tilney di sebuah pesta dansa, dan semua adegan yang mempertemukan para pasangan itu. Kebetulan? Hmm, bukankah nggak ada yang namanya kebetulan? Semua pasti ada maksudnya kan ya?

Kenapa bisa sampai ke sini ya?

Oh, ingat. Pertemuan dengan seorang teman SMA, Kamis lalu. Dia bertanya-tanya, ke mana ya nyari pacar? Padahal ini seorang highschool prom queen gitu. Di kota tempat dia bekerja, dia nggak punya banyak teman, nggak ketemu siapa-siapa lah. Pacar terakhirnya, ketemu juga nggak sengaja. Ada faktor hub yang menghubungkan. "Temenku yang lagi ke **** bawa temen," katanya. Dan kenapa ya aku langsung teringat Jane Austen? Karena habis nonton The Jane Austen Book Club kayaknya.

Asyik sih kalau kita ditulis sebagai si heroine. Kalau kita ditulis sebagai salah satu karakter konyolnya? Sepertinya aku sekarang lagi jadi Mrs Elton deh, sedang membuat terlalu banyak kesalahan dengan kata-kata dan/atau perilaku yang berhubungan dengan kepantasan soalnya.

Dan berbicara tentang Austen, waktu pertemuan keluarga itu aku jadi merasa ternyata kehidupan yang dituliskan Austen (tentang kerabat dan kelas) masih berlaku. Kenapa sih Miss dan Mrs Bates itu harus pergi mengunjungi keluarga Woodhouse? (Well, Miss Bates live for that kind of events I think, jadinya mungkin tidak harus dipertanyakan...)

Atau mungkin, ini seperti Lizzie dan Charlotte Lucas dan Mr Collins yang harus menghadap ke Lady Catherine de Bourgh. Dan sekarang (karena lagi membaca Mansfield Park), perbandingan Fanny Price mungkin jadi lebih tepat. Sudah aku bilang kan, aku tinggal di semesta milik Jane Austen?

Ah, anyway.

Salah seorang tante itu bercerita bahwa dia punya seorang ustad, personal trainer untuk urusan-urusan spiritual. Si tante ini mungkin punya status dan kelas yang cukup tinggi sampai merasa sah-sah saja punya ustad pribadi. Madonna dan Kabalah. Tom Cruise dan Scientology. Hey, oh iya, Lady Catherine de Bourgh kan punya parish sendiri di sekitar rumahnya! Sejarah the rich and the religious ternyata goes way back.

Dan dia bercerita tentang perkataan-perkataannya si bapak itu. Cukup masuk akal sih, menurutku. He sounds smart. Salah satunya tentang para televangelist itu. Dia tidak menjelekkan, tapi ada satu metode dari para televangelist itu yang dia pertanyakan. "Kok kayak penonton sinetron aja sih?"

Dan pada saat itulah ada sesuatu yang nge-klik di kepalaku.

Jika ini televisi yang kita perbincangkan, ada CSI: Las Vegas dan ada...(apa ya, judul sinetron, cepat, cepat, cepat) Bawang Merah, Bawang Putih (hah, itu jaman kapan coba?). Masing-masing punya pasar yang berbeda. Hanya karena kebanyakan yang ada di pasaran adalah Bawang Merah, Bawang Putih, bukan berarti yang CSI nggak ada kan? Dan si tante ini sepertinya mendapat yang CSI.

Jadi pengen punya juga deh.

Tapi ada nggak ya yang sudah baca Franny and Zooey? Maksudnya, selama lima tahun terakhir, itulah buku go to-ku untuk semua hal spiritual. Salinger would have absolutely hated me for doing it--but...


Posted at 11:25 pm by i_artharini
Make a comment  

Juno

The funny thing is that Steve Rendazo secretly wants me. Jocks like him always want freaky girls. Girls with horn-rimmed glasses and vegan footwear and Goth makeup. Girls who play the cello and wear Converse All-Stars and want to be children's librarians when they grow up. Oh yeah, jocks eat that shit up.

(Juno, 2007)

Is that for real, Diablo Cody? Because...I really can make a currency out of that, you know.

Tapi, the jock di sekolahku dulu sekarang pada di mana ya? Sepertinya mereka berakhir, boringly, di BUMN-BUMN atau perusahaan-perusahaan pertambangan dan energi deh. Oh, oh, oh, kecuali satu yang masih cukup exciting. Tapi sekarang di mana ya dia? Tibet, London, New York?

Ah, anyway, Juno.

Mengesampingkan beberapa hal yang membuatku mengajukan keberatan, aku tetap punya momen-momen favorit di film itu. Setelah momen ratusan boks tic tac di kotak posnya Bleeker itu, aku nggak bisa berhenti nangis sampai akhir film.

Juno MacGuff: I think I'm, like, in love with you.
Paulie Bleeker: You mean as friends?
Juno MacGuff: No, I mean, like, for real. 'Cause you're, like, the coolest person I've ever met, and you don't even have to try, you know...
Paulie Bleeker: I try really hard, actually.

Lanjutannya sih Juno bilang, and when I see you then the baby is kicking super hard, because my heart beats faster, etc, etc. Ellen Page is totally great. Setiap line dialognya bisa ada muatan emosi gitu. Tetap subtil sih, hati-hati, tapi usahanya nggak kentara.

Dari situ, pas adegan melahirkannya, ada dialognya Mac Macguff yang bilang ke Juno, "You'll be back here, on your own terms." Keputusan untuk tidak mempertemukan Juno-Bleeker dengan bayi mereka juga oke, karena saat ketemu, momen bittersweetnya jadi hilang. Yang ada cuma bitter aja, karena mereka terus kembali ke kenyataan.

Dan, oh, '"Hey there, big puffy version of Junebug" juga konyol.  Yang menurutku jenius adalah saat Vanessa-Mark ngomongin tentang kondisi hubungan mereka, dan Vanessa nanya, Kamu akan tinggal di mana?
Mark: I have a loft.
Vanessa: Well, aren't you the cool guy?

Karena itu benar-benar menunjukkan perbedaan dan apa yang 'salah' dengan hubungan mereka. Mark yang masih berfokus pada dirinya sendiri dan masih menganggap kelihatan cool itu penting (sebuah loft!) dan Vanessa yang Vanessa.

Tapi ya bagian-bagian yang benar-benar menyentuh itu baru terjadi setelah percakapan Juno dan karakter penjaga toko-nya Rainn Wilson yang agak-agak terlalu terasa buatan ("That ain't no etch-a-sketch. This is one doodle that can't be un-did, homeskillet." atau bagian percakapan antara Juno dan, siapa itu nama cheerleader friendnya?)

Yang paling sering membuat 'rame' sebenarnya adalah bungkusan-bungkusan yang diberikan Cody untuk Juno agar membuat sosoknya lebih cool. Kayak Iggy and the Stooges-nya itu atau antara Dario Argento vs .... (siapa sutradara film slasher yang diperdebatkan itu?). Aku jadi mikir, kenapa ini jadi masalah ya? Maksudnya bungkusan selera untuk membuat sebuah karakter jadi lebih cool kan bukan trik baru.

Rob Gordon-nya High Fidelity?
Blue van Meer-nya Special Topics in Calamity Physics?
uumm...siapa lagi ya, kayaknya aku cukup punya banyak referensi bahwa cool itu ditentukan dari selera deh.
Oh, hampir semua karakter perempuannya Jane Austen (d'oh) kan ditentukan 'nilainya' berdasarkan 'taste' mereka pada gambar, buku, musik.

Jadi, yang dilakukan Diablo Cody ini bukan sesuatu yang baru, tapi kenapa ini jadi infuriating people? Mungkin ya karena rasanya terlalu berlebihan, terlalu matang, overdone, trying too hard.

Cukup bagus untuk Oscar?
Hmm, aku nggak tahu lagi itu artinya apa. Apakah Oscar masih penghargaan berarti atau enggak. Ya buat jadi penanda sebuah era sih lumayan lah, sama kaya film-film John Hughes itu mungkin. Tapi aku kan think highly of John Hughes movies, dan Juno cuma sekadar lumayan gitu. Sukses membuatku nangis sih.

Ah, jadi mana itu, cheese to my macaroni?

Posted at 09:26 pm by i_artharini
Comment (1)  

Next Page