"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Monday, April 30, 2007
Apa yang terjadi dengan 'life list'-ku? Kok udah lama banget ya aku
nggak nyatet daftar yang isinya hal-hal yang pengen aku capai dalam
hidup. Oke, kegalauan ini dimulai tadi malam, pas nonton 'High
Fidelity'.
Yes, yes, aku terlalu sering menonton film itu. Tapi semakin aku tua,
aku jadi semakin ngerti, yang dibahas jadi semakin relevan. Sebenarnya
nonton itu juga nggak sengaja. Awalnya mau nonton film-film bertema
young girls as heroine di dunia fantasi. Pertamanya mau nonton 'Pan's
Labyrinth' yang baru dibeli. Eh, ternyata itu film nggak jalan di
laptop. Terus ganti 'Spirited Away' dulu. Pas balik lagi mau nonton
'Pan's...', ternyata tetap aja nggak jalan.
Kadung udah berada di mood nonton, ya udahlah, nonton 'High Fidelity'.
Anyway, aku jadi bertanya-tanya, di mana daftar hidupku? Gara-gara
mbaca artikel keren di New York Times ini,
aku juga jadi bertanya-tanya, apa yang seharusnya ada di daftar
hidupku. Salah satu karakter di laporan itu diceritain menulis:
---
“life list,” with 35 goals and dreams, in pink ink.
She
wants: To write a novel. Own a (red) Jeep Wrangler. Get into college.
Name her firstborn daughter Carmen. Go to carnival in Rio de Janeiro.
Learn to surf. Live in a Spanish-speaking country. Learn to play the
doppio movimiento of Chopin’s Sonata in B Flat. Own a dog. Be a
bridesmaid. Vote for president. Write a really good poem. Never get
divorced.
---
Sama kaya Rob Gordon di High Fidelity, mungkin aku nggak pernah
benar-benar berkomitmen ama sesuatu. Mimpiku, pekerjaanku, keluargaku,
diriku sendiri, hal-hal yang aku kerjakan, dst. Aku selalu punya satu
kaki yang udah siap-siap jalan ke luar. Dan itu, mencegahku untuk
berkomitmen. Sebuah evaluasi, kayaknya aku belum pernah benar-benar
menseriusi sesuatu. Seperti katanya Rob Gordon, "that equals suicide.
By tiny, tiny increments".
Atau mungkin karena aku takut gagal. Jadi dengan tidak menentukan
target, maka aku nggak bakal kecewa-kecewa banget. Oke, mungkin
ketiadaan daftar hidup itu bisa diasosiasikan dengan kecenderunganku
untuk tidak teratur. (Menurut sebuah tes psikologis, aku punya nilai
'orderly' yang rendah banget)
Tapi, di tengah-tengah sikap penuh kekacauan itu, pas mau lulus SMA
dulu aku sempet punya daftar deh, mentargetkan nilai-nilai yang harus
aku capai. Dan pas mau lulus kuliah, di blog lama, kayaknya sempet
nulis my top five dream job.
Sekarang, kenapa saat aku benar-benar punya kendali atas 'aku mau
jadi siapa' sebenarnya, kok malah nggak punya daftar sama sekali ya.
Ini bukan sekedar sama dengan bunuh diri, ini udah bunuh diri itu
sendiri.
Oke, mungkin punya program 50 buku setahun. Tapi, please. You can't
just read books for the rest of your lives, right? Or, can I? Arghhh,
Nari, Nari, ayo, please, be serious.
Seharusnya ini menyenangkan kan? Mendaftar apa-apa yang kamu inginkan.
Tapi kok aku malah ngerasa takut ya, ketika itu nggak tercapai. My
heart, please be brave. Start writing that list.
Posted at 08:10 pm by i_artharini
Permalink
Seorang penulis yang pernah aku wawancarai bilang, dalam fiksi, kita
bisa melihat sejauh apa we can go. 'Go' dalam artian karakter, tingkah
laku, efek dari tingkah laku kita, pokoknya seberapa ekstrim kita bisa
berlaku dan konsekuensi seberat apa yang bisa kita terima.
Nah, Minggu malam kemarin nonton 'Notes on a Scandal' yang kualitas
bajakannya udah okeeee banget. Singkatnya, seorang guru, lebih tua,
closeted lesbian (allegedly), secara nggak sengaja mengetahui rahasia
perselingkuhan temen deketnya, seorang guru, lebih muda dengan muridnya
yang masih di bawah umur.
Yang membuat aku takut dan berdoa sepanjang film, 'Tuhan, tolong jangan
jadikan saya Barbara Covett (tokohnya Judi Dench yang lebih tua, dst,
dst).' Aku mungkin belum berada di kelas yang sama seperti Barbara,
tapi aku jadi takut dengan kecenderungan yang aku miliki untuk 'grab a
popcorn and enjoy the story' ketika ada kisah-kisah romantika kehidupan
nyata yang tersebar di sekitarku, along with its ups and downs.
Ada positifnya sih berada di posisi yang diceritain; bisa belajar
banyak, mengetes kemampuan diri, etc. Tapi, ini kan yang jadi 'sasana
latihan' kehidupannya orang lain. Takutnya, aku nggak bisa lagi ngeliat
batasan ini kehidupan punya siapa. Dan ketika aku nggak ngedapetin
cerita-cerita itu lagi, kemungkinannya bisa banyak. Mulai dari posesif,
menuntut, menghabiskan waktu dengan memikirkan cerita itu,
mempertimbangkan segala kemungkinan, dan, yang paling bahaya, jadi
bermain-main dengan tanggungan orang lain.
Oke, mungkin aku jadi terlalu dramatis. Tapi, hal yang remeh nggak akan
selamanya remeh. Suatu saat, bisa jadi serius. Baca 'Emma' kalau nggak
percaya. (Arrgghhh, aku berharap bisa berhenti mengutip buku sebagai
referensi dan bersandar pada pengalaman sendiri. Tapi, seperti katanya
Deborah Ellis, emang di fiksi kok kita bisa ngeliat sejauh apa kita
bisa go.)
Aku cuma ingin berhati-hati. Aku punya kerapuhan-kerapuhan sendiri
dengan kondisi pribadi sekarang. Jangan sampai cerita-cerita yang masuk
itu jadi malah membuat kecanduan dan justru tambah rapuh.
Posted at 05:35 pm by i_artharini
Permalink
Friday, April 27, 2007
Nah ini. Mungkin bisa buat Ccr, tapi juga bisa buat refleksi pribadi.
Aku kok tiba-tiba ngerasa seperti yang dibilangin partner sms-mu itu
ya, Ccr.
"Gadis remaja yang gelisah dengan identitasnya".
Ada disorientasi kesedihan yang terjadi deh kayaknya. Perasaan not
worthy, unloved, unaccepted yang berujung pada kesedihan ini (aha, jadi
udah ketemu sumbernya?) bukannya 'sepatutnya' dimiliki oleh gadis-gadis
remaja?
Bukankah masalah insekuritas adalah suatu fase yang kita nggak ngalamin
lagi ketika usia semakin bertambah? Sama halnya kayak jerawat masa
puber atau menyukai boyband atau oh, oh, oh, ini nih...suka ama
band-band emo.
Jadi, kenapa aku masih berkubang dalam kolam kesedihan yang sama?
(Btw, ngeliat-liat dailypuppy.com malah jadi pengen nangis terus. Ada
sesuatu yang rapuh dan manis, tapi di saat bersamaan begitu...godlike,
begitu tak bisa tertampung di hati saya, begitu menandai awal sebuah
kehidupan, dan lagi-lagi, membuat nangis)
Posted at 10:36 pm by i_artharini
Permalink
Hari Bumi emang udah hampir seminggu lalu. Tapi, nggak tau kenapa, hari
ini bener-bener, semua topik tentang pemanasan global berkumpul jadi
satu. Sepanjang hari dikasih tanda-tanda terus untuk inget ama masalah
bumi yang satu ini.
Pagi-pagi, pas baca Muda-nya Kompas (cieeeee...make anak Kanisius nih?
Ngikutin kita nih? Ngerasa kecolongan ama kita nggak? Ooops...excuse
me, that was my PMS talking :p) topiknya pemanasan global. Good choice,
I take my hats off to para penulis dan siapa pun yang memikirkan untuk
mengangkat tema itu. Pas lagi di jalan, dari dalam bis 46,
tiba-tiba ngeliat Toyota Rush yang warna trademark-nya biru elektrik
itu. Masih biru. Masih mengkilap. Kalau masuk, pasti baunya masih bau
baru. Tiba-tiba jadi keinget beberapa malam sebelumnya liat episode
serial 'Weeds'. Di serial itu, si ibu dulu punya Range
Rover, typical suburban American soccer mom dengan SUV-SUV mereka. Pas
pulang, dia mbawa mobil baru. Merknya sih nggak disebut dan aku juga
nggak ingat, apakah si ibu membawa pulang sebuah Prius. Anaknya protes,
mobil lamanya kemana, "I like the old car better. This is ugly."
Kata ibunya, "Range Rover is just obnoxious. This is environmentally
friendly. There's this thing now called 'global warming'."
Spot on, spot on. Range Rover is just exactly that. Obnoxious. Sama
dengan Hummer. Obnoxious. Begitu pun dengan SUV-SUV lainnya. Fortuner,
Rush, dan...my dad's Trooper, I guess. Keliatan keren, emang. Tapi
tetep obnoxious. Menyinggung, norak, ngeselin, arogan, nggak punya
manner, nggak sopan, sekedar penanda 'gue punya duit' tanpa punya
tanggung jawab dengan lingkungan. Mulai sekarang, aku akan bilang
'Range Rover' buat orang-orang yang obnoxious. Masih di bis
46 yang sama, di perempatan Kuningan ngeliat ada Rush lain lagi.
Sekarang warnanya hitam. "Duh, Rush lagi. Ini mobil kayaknya belum lama
masuk pasar kok udah banyak banget ditemuin di jalan sih. Siapa sih
yang pada nggak bertanggung jawab ama lingkungan kayak gini?" Baru aja, mak cep mulutku nutup. Eh, bis 46-nya jalan, ngeduluin Rush, dan di pojok kanan dashboard deketnya supir ada topi dengan tulisan gede-gede: 'P-O-L-I-S-I'. Ealaaaahhhh. Pantesan aja.
Ini bukan lagi sekedar arogansi sama lingkungan, tapi juga arogansi
untuk jadi kebal hukum terhadap institusinya sendiri. Motivasi topi itu
ditaruh di pojok kanan deket supir kayaknya nggak jauh beda deh sama
orang-orang yang nempelin stiker 'pers' di mobilnya atau nggantung ID
wartawan di spion mobil. Bener kan? Dan, hari ini tadi liputannya juga pas tentang perubahan iklim/pemanasan global di Walhi. Man, kenapa aku balik ngerasa paling bener sendiri gini ya?
Posted at 07:48 pm by i_artharini
Permalink
Words to live by: "SMS itu murah. Yang lebih penting, gimana perlakuan dia ke elu."
(courtesy dari Sic)
Jadi, kalau misalnya SMS itu murah secara ekonomi, kenapa aku jadi
takut banget dengan semua implikasi-implikasinya? Ini kan cuman SMS,
bukan pemanasan global yang masang AC di sini atau ngegeber SUV
terus efeknya ditabung buat beberapa tahun lagi.
Tapi si QQ yang sekarang berubah jadi Ccr bilang, "Nari, lu harus
bermain cantik. Secantik Al Gore yang bilang, '(pemanasan global) lebih
penting dari perang Irak. Karena semua nanti nggak bakal ada kalau kita
terlambat bertindak.' Lu harus bisa membungkusnya secantik itu."
Nah, nah. Jadi?
(Seorang cowok handsome berusia 27 tahun yang tinggal di Jakarta dan
menyatakan dirinya single di status Friendsternya nggak bakalan
bener-bener single kan?)
Posted at 07:37 pm by i_artharini
Permalink
Posted at 04:35 pm by i_artharini
Permalink
Pernah terbangun dengan sebuah resolusi: aku cuman pengen bahagia hari
ini? (Beneran ya, membuka dengan pertanyaan itu emang cara mengawali
tulisan paling gampang.) Kenapa ya, sekarang kok aku jadi terbangun
dengan pagi-pagi seperti itu terus?
Tapi, pada tengah hari, aku menemukan sebuah kesedihan yang besar
banget dan nggak bisa nggak membuatku pengen nangis. Aku, sudah pasti
lebih tua dari terakhir kali serangan-serangan seperti ini terjadi dan
bisa dibilang lebih bijaksana. Tapi kenapa ya? Kesedihan yang belum aku
temuin sumbernya ini kok tiba-tiba datang lagi dan membuatku ngerasa mak-less.
Aku bisa ngenalin beberapa elemen-elemennya yang nggak rasional, kayak
this hatred for people yang berlaku biasa-biasa aja dan nggak ada yang
salah sebenernya dengan mereka. But I hate them. Dan semua hal aku
anggap membuatku merasa kesal.
Rasanya cuman pengen pulang, terus nangis, terus tidur, bangun, terus
nangis lagi. Penyebabnya abstrak. Emang terasa seperti kesedihan yang
abstrak. Therefore, seharusnya ini kesedihan yang nggak rasional. Tapi
apa sih ini yang membuat aku nangis?
Posted at 03:06 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, April 24, 2007
Apa yang terjadiiii? I felt like I've been living in a cave for the
last....entah how many weeks. Ya walaupun di dalam guanya ada
novel-novel Jane Austen atau perbincangan-perbincangan (baca: gosip)
tentang Budiman Sudjatmiko yang I have to admit, cute, atau
tetek-bengek ngerjain ID atau per-sms-an nggak penting yang sekarang
nggak ada hasilnya kan, but still. It's a cave!
Huks, huks, huks.
Maghrib-maghrib dipanggil Hanum. "Nariiiii, sini, sini. Aduh, udah lama nggak ke kantor deh. Ada apa di kantor?"
(Masa aku cerita BS ke dia, nggak mungkin kan?) "Apa yaaa? Aku nggak tau ada gosip apa."
"Ya, nggak usah gosip. Anak-anak pada mau ada acara apa?"
me: (equally dumbfounded)
Hanum: "Aduhhhh, kantor sepi deh. Anak-anak pada jalan semua. CP ke Palembang, IF ke Bangka, AD ke Shanghai..."
me: "AD ke Shanghaiiiiii?????"
Hanum: "Lho, iyaaaa. Sembilan hari lagi. Buat itu lhoo..."
me: "Olimpiade Fisika ya?"
Hanum: "Iya. Bas ke India...."
me: "Hahhhhh??? Ke Indiaaa?? Kapan? Berapa lama?"
Hanum: "Lho, Nari gimana sih. Malah aku yang jarang ke kantor, tau."
(Indeed, girl. Aku nggak abis-abisnya bertanya pada diri sendiri)
Terus, jadi inget. Siangnya, pas liputan Komisi Penanggulangan AIDS
Nasional ditanyain sama anak Sindo. "Tlc mana? Udah berangkat ke
Vietnam ya?"
"Haaaahhhhh, Tlc mau ke Vietnaam? Kok aku baru tau siihhh???"
Dan, CS datang ke kantor terus iseng-iseng aku tanyain kapan dia
berangkat ke Amerika. This 1st of May. Tlc? 8th of May. Bas? 3rd of May
(menurut Hanum). Me? Tetap di Jakarta, ngurusin ID, ID, ID lagi. Am I
that invisible? Hello, hello, helloooooo.
Oke, biar adil, aku emang udah dapet giliran ke Singapura, cuma satu
malam. But it's a one night Singapore, sebuah paket yang kayaknya
dengan mudah didapatkan reporter-reporter lain. Dan, oh ya, sebelumnya
pernah one night Kuala Lumpur, ngikut rombongan pejabat sementara
Gubernur Aceh.
Tapi yang ke Amerika, Perancis, Vietnam, India, Shanghai. Those are great places. And yes, I am being jealous. Huks, huks, huks. Why not me?
Dan tiba-tiba jadi teringat duit yang ilang di ATM, yah, kalo duitnya
masih ada mah, Mei ini bisa jalan sendiri ke Vietnam, Thailand,
Kamboja. Menghela nafas nih. Ini emang saat mataku berkaca-kaca. Dan
ini juga saatku bilang ke diri sendiri: 'ya kalo sistem nggak ngasih
apa yang kamu pengenin, usahain sendiri dong'. Atau, 'ya namanya rejeki
orang lain, semua orang udah dapet bagiannya sendiri-sendiri, kok nggak
bersyukur ama apa yang udah didapetin sih?'
Aku tahu semua itu. Udah hapal di luar kepala, malah.
Tapi, sekarang, saat ini, aku cuman lagi pengen ngiri.
p.s: Newmont Minahasa Raya dan Richard Ness dapat vonis bebas, btw.
Despite all the debate on tidak mencemarkan/mencemarkan, it feels like
a sad day.
Posted at 09:19 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, April 22, 2007
Duh, aku selalu deg-deg-an kalau nulis resensi. Takutnya, ketika aku
terlihat sangat mudah dipuaskan gitu, padahal sebenernya kalau
dipikir-pikir rada lama dikit aja, kayaknya masih belum segitu puas
kan? Masih ada yang ngganjel kan?
Well, walaupun mungkin rasa ngganjel atau belum puas itu lebih karena
pengaruh suara banyak yang nggak setuju sama pendapat kita juga kan?
Terus, kalau udah gitu, aku jadi malu mengakui selera sendiri.
Anyway. Iseng-iseng nulis resensinya 'Kala' karena merasa butuh
mengekspresikan nulis feature. Dengan halaman yang ada, feature sering
dibabat-babat tanpa alasan jelas. Katanya kalimatnya terlalu
berbunga-bunga. Pembelaan diri: "Lho, ini kan feature. Bukannya ini
saatnya kalimat jadi berbunga-bunga?"
(Although, 'berbunga-bunga' kayaknya nggak pernah jadi gayaku deh. I
always strive to be simplistic, deskriptif tapi memperhatikan ritme.
Makanya keseeeeel banget pas feature tentang penulis Kanada, Camilla
Gibb yang awalnya dibuat rada crescendo jadi diganti dengan dua kalimat
simpel yang monoton. Huks)
Terus. Ngerasa rada deg-degan pas mbaca resensi 'Kala' di Harian Kini,
karena ternyata peresensinya nggak sesuka itu sama 'Kala' kayak aku.
Well, ada satu saat aku mempertanyakan, apakah aku segitu terpesonanya
ama sosok Joko Anwar sebagai pribadi sampai udah percaya aja sama semua
yang dia sodorin. Am I missing something?
Tapi, sambil terus mbaca, aku nemuin satu kesalahan yang menurutku
fatal dilakukan oleh peresensi Harian Kini. Please read these passages:
*SPOILER ALERT! SPOILER ALERT! SPOILER ALERT*
"Film ini
menyuguhkan tema berbeda di tengah-tengah film percintaan remaja dan
horor. Sebuah dunia mistis bercampur metafisik, namun diceritakan
secara realis.
Sayang,
gagasan unik itu tidak diimbangi dengan pengadeganan yang mampu
menerjemahkan gagasan itu. Cerita mengenai perburuan harta karun tidak
nyambung dengan ramalan Jayabaya mengenai akan datangnya ratu adil.
Gagasan
mengenai ratu adil itu melompat terlalu jauh, mengawang-awang. Apalagi,
jika benar sang ratu menyamar sebagai Ranti si penyanyi kafe (Fahrani).
Mungkin, karena ide yang melangit itu, Joko menyiasatinya dengan
menciptakan sebuah waktu yang tidak jelas."
Hellooooo. Are we watching the same movie? Ratu adil, walaupun pakai
istilah 'ratu' yang otomatis menunjukkan jenis kelamin tertentu, pada
film ini tidak merujuk ke sosok Ranti. Ranti cuma penjaga rahasia. Ratu
adil itu Eros.
Dari sisi itu aja, aku udah ngerasa lega, arah review yang aku tulis, beda.
Terus, kalau masalah sambung-menyambung, ide yang terlalu jauh
melompat, terlalu awang-awang. Come on! Ini tuh film yang nggak harus
mikir berat-berat gitu kok. Duduk dan nikmatin aja. Dan ngeloncatnya
juga nggak sampe segitu jauhnya.
Masih banyak hal-hal lain yang bisa membuatku rapture in awe daripada
sekedar membahas nyambung tidaknya perburuan harta karun dengan ramalan
Jayabaya. Dari mulai dialog-dialognya yang...sumpah deh, baru ini ada
film Indonesia yang dialognya 'quotable'. Belum lagi settingnya,
kostumnya, pencahayaan noir-nya.
Dibanding semua keunggulan film ini, ketersambungan cerita yang
disebut-sebut sebagai flaw film ini oleh peresensi Harian Kini, jadi
kerasa keciiiiil banget.
(Btw, kenapa aku repot-repot mereview resensi sih?)
Oke, but I'm still a coward in a way. Masalahnya, mungkin aku nggak
bakal berani ngomong gini kalau nggak mbaca blog Sinema Indonesia. Pas
iseng-iseng mbuka, ternyata udah ada review 'Kala'. And yes! They like
it as well. Berarti aku nggak 'salah'. Hehehe.
Nah, dari sini, aku belajar: peresensi juga manusia. Mereka bisa salah tangkap arti sebuah film atau malah nggak pe-de dengan penilaiannya sendiri dan nyari pengesahan selera dari peresensi lain.
Well, tapi kenapa aku masih terus pengen nulis resensi ya? Mungkin biar
jadi 'peresensi lain' yang nggak peduli ama apa selera orang dan bisa
ngasih legitimasi itu? Hahahah. Udah ah. Jadi geli sendiri.
Posted at 05:47 pm by i_artharini
Permalink
Friday, April 20, 2007
"He must enter into all my feelings; the same books, the same music
must charm us both.......Mama, the more I know of the world, the more I
am convinced that I shall never see a man whom I can really love. I
require so much!"
Marianne Dashwood, Sense & Sensibility
Jane Austen
***
Sumpah, ini pertama kalinya mbaca Sense & Sensibility (finally
finished Emma). But, damn these Jane Austen novels. Meninggikan
harapan. Put romance in my thoughts dan kok ya berani-beraninya
berpikir ngirim-ngirim sms sih? Aku kan nggak mau terjebak dalam ritual
menunggu balesan, memikirkan isi balesan, berharap nggak berharap, tapi
pas dapet balesan seneng. Nooooooo.
This should be the year I'm not thinking about it. At all.
(By the way, mom, boyfriend
does not magically appear after you spend the last 22 years of my life
pretending boys do not exist in the universe.)
Posted at 08:16 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|