PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< April 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, April 10, 2007
Libur Satu Hariku

Ini cerita tentang satu hari libur yang sangat biasa, tapi buat aku menyenangkan. Minggu malam kemarin kan piket, jadi hari Seninnya libur. Lega deh, karena hari Seninnya aku bener-bener bisa santai, untuk sementara nggak mikirin ID karena walopun nongkrong bareng bikin bete itu baru dilakuin pagi-paginya, tapi Minggu sore tulisannya udah masuk.

Foto-foto buat halaman ID pun udah masuk semua. Udah lengkaplah, kecuali tim redaksi. But I'm not worried. Anak-anaknya pada nepatin janji.

Bangun mid morning, santai-santai, terus mandi sambil mikir...mau ke mana ya? Kayaknya ke Gramedia Matraman deh. Berangkat baru tengah hari, mampir ke bank dulu dan nemu antrian panjang. Tapi ternyata cuman 30 menitan di dalam. Sampe Gramedia, lunch dulu, terus muter-muter deh.

Liat-liat di bagian VCD, siapa tau ada edisi dobel itu lho, Sabrina/Funny Face. Ternyata nggak ada. Tapi, yes, yes, yes, yes. 'On Golden Pond' yang beberapa hari lalu liat di Plangi dijual Rp 49 ribu, di situ ternyata cuma Rp 15 ribu. Yihaaa, Katharine Hepburn, wait for me! Benerannya ada Duck Soup juga, cuman masih original price. Ya tunggu nanti-nantilah. Kalo rejeki kan bisa kejadian kayak 'On Golden Pond' juga.

Anyway, naik ke lantai 2. Ternyata proses pembangunannya itu belum selesai. Kok kayaknya waktu itu keliatan dari luar udah jembar ya? Jadi, note to self, jangan pergi ke sana sampai Agustus nanti. Soalnya, bukan cuma jadi nggak nyaman, tapi koleksinya jadi jauh dari lengkap. Pengen nyari cerita-cerita yang ringan, lucu tapi cerdas, kok kayaknya nggak nemu. Semuanya sastra yang berat-berat atau chicklit yang...yah, kesalahanku mungkin tidak bisa obyektif menghadapi chicklit ya.

Eh, nemu Kantor Detektif Wanita Nomor 1. Nah, buku kayak gini nih yang pengen aku baca sekarang. Karya lain penulisnya mana ya? Ngecek di stok, ternyata udah 0. Buku Kantor Detektif aja stoknya tinggal 2, salah satunya lagi aku pegang, kondisinya udah kondisi 'edisi contoh'. Satunya lagi, dicari-cari, taunya plastik pembungkusnya udah setengah kebuka. Terus, pengen nyari Detektif Feng Shui yang ketiga juga nggak ada. Yang nomor satu dan dua juga nggak nemu sama sekali. Variasinya jadi minim banget deh gara-gara pembangunan itu. Di pelataran depan, nemu 'Frida' untuk setengah harga.

Akhirnya, karena nggak bisa ngapa-ngapain lagi, pulang deh. Keputusan yang tepat, soalnya itu udah menjelang jam pulang kantor. Sampai rumah jam 5, manasin air, terus mandi sore (duh, sesuatu yang jarang aku lakukan), ganti daster, minum teh melati, maghriban, ketiduran bentar, bangun jam 8, makan, nonton 'On Golden Pond', mbaca-mbaca, terus tidur lagi. And that concludes my day.

Yang istimewa paling cuma nemu On Golden Pond 15 ribuan, tapi sisanya biasa aja. Tapi kok ya rasanya menyenangkan banget ya? Kayaknya karena lagi nggak ada beban ID deh.

Posted at 03:59 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, April 09, 2007
Out and About

Majalah Out edisi terbaru menurunkan artikel tentang "The Power 50: The Most Powerful Gay Men and Women in America". Yang mbuat heboh, di covernya majalah itu terpampang foto dua orang model dengan topeng muka Anderson Cooper, salah satu anchornya CNN, dan Jodie Foster.  Sebagai pembaca setia blog 'A Socialite Life', aku tahu orientasi seksual dua orang itu udah jadi rahasia umum sih. Tapi, dua orang itu belum secara resmi keluar dari lemari masing-masing. Itu yang dinilai sewenang-wenang dan mencari publisitas.

Tapi, aku mau membahas sisi lainnya lagi.

Ada beberapa blog yang membahas tentang move majalah Out itu. Salah satunya di blog ini. Yang diributkan adalah sebagian besar dari most powerful gay men and women di Amerika itu bekerja di bidang media. Menurut Cheat Seeking Missiles: "People who worry about Jewish control of the media are whacked; people who ponder gay influence and control have reasons to be concerned."

Terus, dia ngedaftar deh Top 10nya. Mulai dari David Geffen yang dukungannya jadi rebutan calon kandidat presiden AS dan berencana mengambil alih LA Times, Anderson Cooper yang anchornya CNN, Ellen DeGenerres yang punya talkshow sendiri dan jadi langganan pembawa acara Oscar, Rosie O'Donnel yang mbawain acara di The View, The New York Times Gay Mafia, 7 wartawan New York Times, dari mulai national correspondent dan assistant managing editor. Lanjutnya ada Marc Jacobs dan Brian Grader, president of entertainment untuk jaringan saluran musik MTV Networks. Graden bertanggungjawab atas penyebaran budaya youth lewat MTV, CMT, MTV2, and VH1.

Nah, yang lucu di blog ini, di akhir tulisan, penulisnya nyantumin 'Homophobe Disclaimer'. Katanya, "This article is about the gay agenda, not gays. Some of my best friends are gays. Really. All of these folks have every right to their jobs, but we also have the right to ponder the consequences of having pro-gay agenda powerhouses like these in positions that afford them so much opportunity to move that agenda throughout society."

Aku nggak ngerti gimana kekhawatiran tentang 'gay agenda' itu bisa tidak masuk dalam kategori homofobia. Gimana bisa, bersikap waspada terhadap gay agenda tidak sama dengan bersikap waspada berlebihan terhadap gay people?

Emang apa salahnya sih punya agenda pro-gay? Bukankah itu artinya juga pro pada nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, keragaman dan tidak mementingkan orientasi seksual sebagai bagian dari penilaian terhadap karakter dan kapabilitas seseorang?

Disclaimer di atas tuh, konyol menurutku. Jadi, dengan mengikutsertakan sebuah 'Homophobe Disclaimer' itu berarti artikelnya bukan artikel yang homofobik gitu? Kok disclaimer jadi kayak cap halal. (Walaupun cap halal juga bukannya jadi bisnis sendiri ya?)

Posted at 01:24 am by i_artharini
Make a comment  

Sunday, April 08, 2007
Film Lama

"Kenapa sih kamu suka banget ama film-film tahun 50an?" tanya ibuku pas ngeliat aku lagi nonton 'Casablanca'.

Karena bagus? Cause it's just simply great? Mudah dicerna dan cerdas pada saat bersamaan? Mungkin yang terakhir paling tepat. Kapan ya terakhir kalinya aku nonton film kontemporer dan bener-bener terbuai dengan penceritaannya?

Ada kekhasan dari produk-produk Hollywood pada masa keemasannya. Penceritaannya tuh sederhana, tapi masih punya wit, kecerdasan bertutur lewat dialog antar karakter. Sementara, film-film sekarang tuh, either they become too simple, sampai menggampangkan tema, penggarapan cerita, penggalian karakter, sampai penulisan dialog. Atau, film-film jadi terlalu 'pintar'. Nggak lagi mentingin penceritaan tapi lebih ke siapa yang bisa pamer membuat plot serumit mungkin, dialog sepintar mungkin sampai ngelewatin batas superfisial, harus ada 'pesannya', duh berat deh. Film kok kesannya jadi conceited.

Dan belum lagi ngomongin akting. Walaupun aktris-aktris jaman dulu cenderung jatuh pada metode akting yang sama, overacting. Tapi ya, mereka tuh masih mampu nunjukin jiwa di layar. Sementara sekarang, mungkin aktris-aktris yang 'I have no problem with seeing on screen' jumlahnya terbatas banget. Apalagi aktris-aktris mudanya.

Oke, sekedar perbandingan. Nonton 'The Holiday' beberapa hari lalu di DVD pinjeman. Cameron Diaz, me no likey. Apakah cewek ini pernah berakting dengan cara yang berbeda? She's the same kooky, insane, crazy type of girl di hampir semua film-filmnya. Saat dia mencoba berbeda, dia cenderung mudah dilupakan, kayak di 'Gangs of New York' atau 'Vanilla Sky'. Dan saya masih harus percaya sama jualannya itu?

Terus, Jude Law. Oke, saya harus percaya kalau dia adalah pria sensitif yang dia tampilkan di 'The Holiday' sementara he's cheating with the nanny while engaged to Sienna Miller? Bukannya saya penggemar Sienna Miller (duh, please don't let me start), tapi...ayolah. Jangan membodohiku sampe segitunya dong.

Aku sempat cemas dengan 'Casablanca' dan kalimat legendaris: "Here's looking at you, kid". Ini kan kata-kata yang sering banget dikutip ama berbagai produk budaya. Aku takut kata-kata ini jadi kehilangan maknanya. Sama kayak pas aku nonton 'Godfather' pertama kalinya, somewhere in 2002 dan aku nggak bisa mengagumi interpretasi Marlon Brando akan peran Don Vito Corleone. Bukannya menilai positif, malah justru aku anggap konyol, karena keseringan diplesetin ama film-film sesudahnya. Austin Powers salah satunya.

Ternyata yang aku khawatirkan dengan 'Casablanca' enggak terjadi tuh. Tiap kali Humphrey Bogart mengatakannya pada Ingrid Bergman, ia memberikan mood yang berbeda-beda. Jiwa kalimatnya jadi beda. Dan di ending film itu, masih dengan kalimat yang sama, huks...hati batuku meleleh, sinismeku nggak ada sama sekali, tenggorokan sempat tercekat, mataku rada berair. Ya adegan terakhir itulah yang menjadi alasan utama kenapa 'that particular line, works'. Padahal, 'Casablanca' mengeksplorasi tentang hal yang paling over-ekspos dan klise di film, cinta antara cowok dan cewek.

Itu, jujur, adalah air mata nonton film yang paling nggak dibuat-buat dalam waktu yang amat lama. Nggak sadar aja tiba-tiba kok pengen nangis. Dan di akhir film, spontan aja keluar, "ooohhh, so wonderful!" Nggak heran kalau ada yang bilang 'Casablanca' "the greatest love story of all time" atau julukan-julukan sejenis yang justru malah membatasi betapa berharganya film ini.

Kamis lalu, di Musik Plus-nya Sarinah dapet VCD Casablanca seharga Rp 29 ribu, Roman Holiday dan Charade Rp 19 ribu. Jadi, libur Paskah kemarin aku pakai buat menenggelamkan diri dalam wonderful old movies itu. Aku hampir loncat-loncat bahagia deh nemuin film-film itu.

Terus, nonton 'Charade'. Ngeliat Cary Grant, jadi sadar, George Clooney nggak ada apa-apanya (walaupun dia masih punya kemampuan super membuat hatiku meleleh). Aku nggak bisa mbayangin aktor jaman sekarang dalam posisi seperti Cary Grant, Clooney mungkin paling tepat, bisa tampak tulus dalam posisi 'dikejar'. Dan, wooooowww, Audrey Hepburn itu ternyata lebih berkesan aktingnya ketika ia jadi pemburu.

Ini lho, perempuan yang nunjukin gimana caranya seduktif dan berkelas di saat bersamaan. Gaun-gaun dari Givenchy membantu juga kali ya. Heheh. Contohnya pas dia nanya sama Cary Grant, sambil menyentuh dekok di dagu Grant, "How do you shave in there?" Naif, funny, masuk akal, dan seksi di saat bersamaan. Dan aku sukaaaaa banget dialog-dialognya Hepburn pas dia nggodain Grant tentang perbedaan usia mereka.

Aku pernah membaca di satu artikel, aku lupa di mana, udah lama banget. Grant katanya nggak pede dipasangin sama Hepburn di film ini, ya karena masalah perbedaan usia itu. Tapi sama penulis skenarionya akhirnya disiasati lewat pembalikan peran. Perempuan yang lebih muda mengejar lelaki lebih tua. Tapi semuanya dilakukan dengan penuh kelas. You can never explain class, but I can always show you the example. 'Charade' adalah salah satunya.

Di akhirnya, kata-kata yang sebelumnya terlontar buat 'Casablanca' keluar lagi di sini. "Oh, so wonderful! A really fun movie."

Dan aku juga pas bilang 'simply great' di awal tulisan tentang film-film Hollywood Lama ya karena memang itu, mengagumkan, dengan cara yang amat simpel.

Posted at 11:22 pm by i_artharini
Make a comment  

Saturday, April 07, 2007
Bukan Hanya Buku

I definitely am not Elizabeth Bennett. Posting sebelumnya masih beberapa poin dari selesai. Ini bukan hanya tentang pencarian akan Mr Darcy atau Mr Knightley yang membuat aku malas berkompromi. Tapi juga tentang banyak hal lain yang memang sudah ditawarkan oleh hidup, sudah disediakan, tapi aku menolak memilihnya karena pertimbangan yang terlalu rumit.

Seperti, contohnya, this attitude that I have been developing as if I don't care for money. Pas awal-awal kerja, aku ngerasa udah cukup bahagia dengan gaji terbatas tapi bisa belanja buku atau produk-produk budaya lainnya. Itu kebutuhan dasarku. Seorang yang rasional, simpel dan praktis bakal menganggap kebutuhan-kebutuhan itu lebih pantas berada di urutan entah nomor berapa. Kalau aku orang yang rasional, simpel dan praktis itu, aku tidak akan mengalami kesulitan memutuskan lebih baik menyimpan uang untuk rainy day daripada beli VCD Casablanca misalnya. Tapi cuma Rp 29 ribu gitu lho. Masa Casablanca dihargain segitu mau dilewatin sih?

Tapi, buat aku kebutuhan-kebutuhan itu terasa lebih penting. Karena aku ngerasa, surely, life is more than just making money right? Apa gunanya, kalau nggak pernah ngeliat Katharine Hepburn di "Bringing Up Baby" dan mendengar kalimat-kalimat witty yang terucap darinya. Atau, ngeliat Fred Astaire menari di "Funny Face". Belum lagi, gaun pengantin yang dipakai Audrey Hepburn di film itu, pas dia menari di belakang gereja. Waktu dia berputar dan roknya mengembang...aku bahkan tidak yakin manusia mampu menciptakan keajaiban seperti itu. Aku pikir cuma tuhan yang mampu membuat sesuatu seperti gaun itu. Ada sesuatu di luar kekuatan manusia dalam mengembangnya rok itu. Atau pada api yang muncul dari Hepburn ketika ia menari di sebuah kafe bawah tanah di Paris.

Setelah melihat semua itu, aku nggak tahu gimana sesuatu yang begitu trivial seperti uang bisa menggantikan apa yang aku rasakan ini. Tapi apakah benar aku merasakan keajaiban-keajaiban itu? Apakah perasaan itu muncul dengan tulus? Atau ini adalah sebuah hasil dari 'pencucian otak' dari keseluruhan pesan yang aku dapetin dari buku (atau film, dalam hal ini)? Yang terus terngiang-ngiang adalah: there's more to life than just this. This dalam artian uang atau apa pun itu.

Lihat kan, bagaimana aku membuat hal ini jadi terlihat rumit dari yang sebenarnya? Seorang yang praktis dengan pertimbangan finansial bakal bilang, "buat apa beli?" dan meletakkannya kembali terus keluar toko.

Aku? Akan memikirkannya untuk waktu yang cukup lama. Aku bakal tercenung lama, sama kayak kemarin malam pas liat VCD-nya Ferris Bueller's Day Off (my favorite movie) atau On Golden Pond (bagaimana bisa aku melewatkan akting Katharine Hepburn?). Atau pas liat VCD Hannah and Her Sisters, film Woody Allen yg aku nggak tau bagus atau nggaknya dan belum pernah aku denger sama sekali tapi tetep mbuat penasaran. Atau Pink Panther versi asli dengan Peter Sellers. "Not again, but for the very first time" kata di jaket VCD-nya. Atau malah film Joan Crawford yang judulnya "Possessed". Aku belum pernah denger film ini sebelumnya, tapi nemesis Bette Davis ini pasti juga bakal mengajukan sesuatu yang nggak main-main.

Aku mengakui, betapa aku menganggap uang itu masalah yang trivial, ada aja caranya menyadarkanku bahwa dia adalah bagian dari realita. Tagihan, tabungan, masa depan, hal-hal tidak terduga. Ini yang membuatku, kadang, harus berkompromi. Dan ketika aku mengaku 'kadang', aku yakin itu masih jauh dari yang seharusnya. Tapi aku yakin nggak akan bisa lebih banyak berkompromi dari sekarang.

Sama halnya dengan kerjaan. I should want high paying job. Dan bukan berarti aku tidak menginginkannya, tapi aku juga tidak secara aktif mengejarnya. Mungkin. Mungkin lhoo. Baru kemungkinan salah satu penyebabnya ya itu...that there's something more to life than something as trivial as money, right? Kalau aku salah, ya sudahlah. Hey, I'm 24. I still have plenty of time to be wrong.

Jadi, mungkin bukan cuma buku penyebabnya. Film-filmnya juga. Musik-musiknya juga. Tapi mungkin juga karena karakterku yang memang mudah teryakinkan oleh produk-produk itu tapi terlalu keras kepala untuk mengakui, "ini kan cuman karya fiksi".

Tapi, pada akhirnya, aku jadi menanyakan, hidupku akan lebih simpel kan kalau aku tidak menginginkan semua hal-hal itu? Opsi yang disediakan buat aku jadi tidak terlalu beragam dan akan tetap berada di pilihan-pilihan yang 'sederhana'. 

Bukankah itu akan jadi hidup yang membosankan? Mungkin enggak ya. Sekarang, setelah aku tahu berbagai opsi berbeda itu, aku nggak bakal bisa balik masuk ke tempurung itu lagi kan? Sementara kalau dari awal aku nggak terlibat segitu jauh dalam 'dimensi' itu...iya kan, proses pengambilan keputusannya akan jadi lebih sederhana?

Bener kali ya. Ignorance is bliss. Ketidaktahuan atau keacuhan adalah sebuah berkah. Toh, society tampaknya lebih menghargai mereka yang keep their options simple.  


Posted at 10:23 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, April 06, 2007
Ketidakpraktisan Buku

Buku, aku akui, sudah membuat hidupku menjadi tidak praktis. Membuatku, kurang sederhana. Terlalu ada di awang-awang. Tidak berarti aku membencinya. I had my share of fun, of course. Tapi ada masa-masanya sih aku ngerasa kalau ignorance is bliss. Ketidaktahuan bisa jadi sebuah berkah.

Iya sih, gara-gara buku, aku nggak pernah tidur sendirian. Selalu ada karakter-karakter menarik yang menemani. Akhir-akhir ini, Emma Woodhouse dan para penduduk Highbury dan Madame Bovary dengan kesenduannya. Aku masuk di kehidupan buku itu terlalu dalam. Tapi, dalam kehidupan nyata, aku ngerasa juga that it's a lonely life I've been leading.

Dan gara-gara buku juga, aku jadi kayak dihadapkan dengan standar-standar yang impossibly high dari hal-hal yang bisa aku dapetin dari hidup. Kayak ada orang-orang yang ngomong ke aku berkali-kali, "you know, life can offer you this much. Terus kenapa kamu harus settle for less?" Ini juga berlaku dengan pencarian akan Mr Darcy atau Mr Knightley, walaupun mereka bukan satu-satunya hal yang aku cari. Atau ketika aku bertanya-tanya, haruskah aku memprotes tiap hal yang menurutku nggak pas? Dan ketika aku mau 'let it go', aku ngerasa gatel sendiri karena kurang berjuang dan pada akhirnya, sebagai pemakluman (atau penyemangat) mengatakan, "inget-inget Nyai Ontosoroh".

Yah, mungkin emang ada bagian dari karakteristikku sendiri yang menginginkan (atau menuntut?) so much out of life dan aku begitu mudah tersugesti dengan buku. Plus juga aku keras kepala, nggak mau mengkompromikan dengan standar kehidupan nyata. Perpaduan beberapa karakteristik yang berefek pada ketidakpraktisan hidup yang aku jalanin. Kalo gitu sih, buku kayaknya cuma jadi minyak tanah aja buat api yang emang udah ada.

Entah kenapa ya, kok rasanya 'pas' menyalahkan buku ketika aku selalu menginginkan sesuatu yang lebih terjadi dalam hidupku. Padahal mungkin yang aku perlu lakukan hanyalah just live life itself. Tapi tiap kali aku mau berkompromi, aku selalu ngerasa, Elizabeth Bennett got that much for being herself, even with her sharp tongue dan kecantikannya yg nggak seberapa dibanding Jane, atau saudara-saudaranya yang lain. 

Tapi, pas mbaca artikel di New York Times yang judulnya 'Amazing Girls', tentang cewek-cewek SMA di Amerika yang berusaha sedemikian keras buat masuk ke universitas unggulan, ada salah satu karakternya yang ngomong, Its out of style to admit it, but it is more important to be hot than smart. Dan, oh ya, cewek yang mengakui hal ini, nge-skor angka perfect 2400 di SAT-nya. Intinya dari kutipan itu? Ya, aku ngerasa cewek ini bener. Itulah kondisi realita sosial yang aku rasain sekarang, when it comes to being a girl. Being just Elizabeth Bennett does not cut it for this world. Dan aku tahu itu. Tapi aku males banget berkompromi dengan keadaan itu. Seperti...hmm, mungkin menghilangkan beberapa kilogram in order to be hotter. Cuman salah satu contoh.

(Btw, kok aku merasa ada sebuah pola ya dari beberapa entry blog terakhir. Mungkinkah ini cuman, keresahan karena nggak ada partner?)

Posted at 07:18 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, April 03, 2007
Belanja vs Membaca

Minggu kemarin kan mbaca Ruang Baca-nya Koran Tempo. Terus, menemukan satu tulisan yang nyentil banget sama kebiasaan membaca-membeli buku-ku. Si penulis menyatakan dirinya sebagai 'pembeli buku yang serakah, pembaca buku yang lamban'. Yes, tell me about it, sister.

Diawali dengan kutipan dari seorang jurnalis yang menyatakan dirinya puasa beli buku karena banyak yang belum sempat dibaca. Si penulis juga setuju karena mengalami hal yang sama. Sampe mbela-mbelain nggak dateng ke Islamic Book Fair karena membeli bukunya kayak deret ukur, sementara membacanya kayak deret hitung. Once again, it's an all too familiar story for me. Ternyata, banyak juga ya yang beli buku like there's no tomorrow and read it like they'll live til 500 years.

Tapi, aku udah sejak...setahun, setahun setengahan (not sure exactly) deh kayaknya nggak dateng ke acara-acara book fair karena tau banget, pasti bakalan belanja. Dan sejak QB Book Sale taun lalu (Jl Sunda, my last one), aku nggak lagi beli buku kayak there's no tomorrow. I went cold turkey. Udah, berenti aja. Jadi terbitan-terbitan baru, aku jarang banget udah mbaca. Lebih berfokus ke bacaan-bacaan klasik yang udah beli pas beberapa kali QB sale itu. (Btw, I cheated baru beberapa minggu lalu, diawalin lewat "My Name is Red"-nya Orhan Pamuk, "Reading Lolita in Tehran", dan "To The Lighthouse", "Tender is the Night", "Emma", ama "Sense and Sensibility"-->yang judul-judul klasik, belinya yang 30ribuan).

Aku sebenernya pengen sih membaca lebih cepet. Tapi lebih karena kebutuhan ego daripada sekedar menyelesaikan terus beli lagi. Yah aku sempet iri banget sama temen sekantor yang udah membaca lebih banyak. Tapi sekarang aku kayaknya udah lebih...tenang dengan persaingan-persaingan itu. I had my share of reading, and so has he.

Nah, tapi, biar jadi pembaca yang bertanggung jawab dan biar nggak "no action, buy only", aku membuatlah program "50 Books a Year" itu. Harapanku sih bisa 100 buku per tahun atau gimana. Tapi, ya 50 buku per tahun itu kayaknya cukup realistis lah dengan kecepatan membacaku.

Sampai akhir tahun lalu, tapinya cuman bisa nyelesein 46 atau 47 judul gitu. Tapiiii...ada kemungkinan bisa lebih aku rasa, karena ada 2 bulanan lebih sempet vakum. But, okelah, close enough kok 46 atau 47 itu. Anyway, tahun ini aku menjalankan program yang sama lagi.

Oh. terus di kolom itu disebut, si penulis punya sekitar 20 buku yang belum ia baca. Dan, walaupun si penulis sudah mengkorting jumlah buku itu secara besar-besaran, aku tetep bertanya-tanya, what is her real number?

Angkaku sih....sekitar 200 lebih ada kali. Atau malah mungkin menjelang 300? Aku harus ngecek lagi daftarnya. Which is why, aku mengambil jalan berbeda dari si penulis di akhir tulisan. Menurut si penulis, setiap buku memiliki cara membaca yang berbeda, kebutuhannya dia sebagai pembaca juga tergantung bukunya. Jadi, dia nggak ragu lagi untuk weekend ini kembali berbelanja buku secara 'normal' (full force maksudnya?).

I agree with her. Setiap buku emang punya cara membaca yang berbeda, fiksi nggak bisa dibaca dengan ngeliat judul bab atau di-skip-skip, menurutku. Karena aku pengen ngeliat gimana narasinya dibangun. Kebutuhanku sebagai pembaca ya jadinya itu, melihat, menikmati, mengamati bangunan narasi. Nggak bisa sekedar ngebut mbaca. Ya mau nggak mau, memang harus pelan-pelan kalo tujuannya kayak gitu.

Tapi, aku tetep nggak bisa memutuskan lagi berbelanja buku dengan lepas kayak dulu. Masalahnya lebih karena menjaga keseimbangan saldo sih daripada takut tidak bisa menyelesaikan membaca buku-buku yang udah dibeli.

Posted at 07:49 pm by i_artharini
Make a comment  

Kemeja Batik

Aku seneng deh Jumat malam ke Plaza Semanggi. Begitu banyak spesimen 'cowok-cowok normal' yang jarang aku temuin saat bekerja. Nggak nyangka lho, kebijakan SBY yang salah kaprah tentang penghematan energi jadi memunculkan serbuan eligible bachelors di Plaza Semanggi pas Jumat malam.

Kebijakan SBY yang salah kaprah yang mana yang aku maksud? (Is that sentence correct? Ada tiga "yang" di situ). Ya hari Jumat pake kemeja batik lahh. (Kebijakan ini kan hubungannya ama penghematan BBM dengan menurunkan suhu AC jadi 25 derajat celsius kan? Implikasinya, jadi panas, implikasinya lagi..jadi pake batik biar nggak panas...)

Pas pesta perpisahan Tere (in absentia) Jumat kemarin, di Plangi, mataku jadi kerasa seger deh liat cowok-cowok muda, ya kira-kira seumuranku atau beberapa tahun di atasku, pake kemeja batik yang casual tapi tetep terlihat rapi itu. Dan ini bukan cuman Jumat kemarin aja, tapi Jumat-Jumat sebelumnya juga. Pokoknya udah proven theory deh: Plangi Jumat malam, bisa buat browsing.

Kayaknya sih, kemunculan mereka didasarkan karena Jumat yang jadi awal weekend, terus pada bersantai di mal sambil nunggu lalu lintas Jumat malem rada sepi. (Ah, Jumat malem mah, sampe jam 11 juga masih macet depan Plangi) Dan posisi Plangi yang diapit oleh Bank Mandiri, Menara BRI dan gedung-gedung perkantoran lainnya, voila!

Ngeliat cowok-cowok itu di foodcourt, lagi makan ama temen-temen kerjanya yang cewek. Sementara, Jumat malam kemarin, di sekitarku ada 'cowok-cowok anti kemapanan' yang puas ber-t-shirt dan jeans, dan mereka, para pemakai kemeja batik itu...duh, terlihat grown-up dan bertanggungjawab. I don't normally judge people by what they wear, biasanya lebih anti kemapanan, lebih appealing buatku (hahaha, ini mah sama aja nge-judge ya). Tapi...ah, nggak tau kenapa nih dengan Jumat malam di Plangi dan cowok-cowok berkemeja batik.

Sekedar membandingkan, ngeliat bapakku pake kemeja batik aja jadi kelihatan rapiiiii banget dibanding kemeja kantorannya sehari-hari. Beneran deh, kemeja batik itu do wonders for men. Ngeliat potongan bahunya yang pas, bahannya yang rada kaku, potongan badannya yang lurus, jadi kesannya si pemakai tuh simetris dan rapi.

Dan ngeliat cowok-cowok muda itu, hmmm, sadi serasa ngeliat kakak-kakak kelasku pas SMA udah jadi mas-mas kantoran. (Btw, what is it with me and kakak kelas SMA? Kayaknya ada obsesi gitu karena nggak pernah bisa berinteraksi dengan mereka secara 'proper' jadinya the sight of them, atau orang-orang yang 'keliatan' kayak mereka, masih kerasa misterius...) 

Mungkin, it's the sense of possibilities. Jumat malam, malam yang jadi awal weekend dan diperuntukkan buat nge-date atau aktivitas berpasangan lainnya dan aku dihadapkan sama begitu banyak opsi partner untuk menghabiskan weekend. Jadi imajinasi dan endorfin bersatu dan membuat aku ngerasa senang. Ah, sense of possibilities itu emang selalu membuat bahagia.

Hmm, rada bertanya-tanya sih, seberapa besar kesempatanku buat meet and greet dengan salah satu lelaki muda berkemeja batik itu?

Posted at 01:59 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, March 29, 2007
Membaca Tentang Membaca Lolita di Tehran

Buku terakhir yang membuat aku nangis pas mbaca setelah aku nggak yakin ada buku yang mampu membuatku seperti itu adalah 'Reading Lolita in Tehran'.

Dan, yang mbuat nangis tuh juga bukan detil-detil mengerikan tentang apa yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa Profesor Azar Nafisi di penjara-penjara Iran, tapi saat salah satu mahasiswanya, Nassrin, pamitan sama dia karena mau kabur ke Canada. Ada satu lagi sih, kayaknya pas Profesor Nafisi pamitan sama 'the magician'.

Buku ini, buat aku, hebat karena kemampuannya untuk menguras kemampatanku membaca karya-karya klasik dan membuatku lebih mengapresiasi yang aku baca. Spons di otak tuh serasa diteken-teken sampai sarinya keluar. Pas mulai mbaca lagi, aku kerasa jadi mangkok kosong yang nunggu diisi lagi. Tapi, nggak sepenuhnya kosong juga. Karena aku ngerasa ada pemahaman yang lebih mendalam di 'kekosongan' itu.

Menggunakan perbandingan yang dipakai Tyler Durden di 'Fight Club', setelah orang tuh selamat dari kematiannya, his breakfast will be the best thing he taste in his entire life. Ini buku yang membuat aku kerasa kayak gitu, naik bis aja jadi kerasa lebih bermakna. Macet aja jadi sebuah pengalaman yang membuat aku merenung instead of marah-marah nggak jelas. Begitu juga dengan membaca, kayak ada penajaman persepsi yang terjadi saat sebelumnya aku berpikir udah merasa mentok.

Ada apa ya dengan penulis-penulis Iran kayak Azar Nafisi atau Marjane Satrapi (not necessarily a writer sih, seorang novelis grafis, graphic-novelist, tapi ya caranya dia memilih cerita yang ditampilkanlah...) yang bisa membahasakan pengalaman-pengalaman surreal mereka dengan cara sederhana. Rapi. Seperti terkontrol tapi juga lepas. Seperti tanpa beban menceritakan pengalaman-pengalaman mereka, tapi aku tau di baliknya pasti ada rasa marah atau geregetan. Nah, rasa marah atau geregetan ini tapinya nggak mempengaruhi cara mereka bercerita.

Elegan. Itu deh kayaknya kata tepat mengenai penyampaian cerita mereka. Jelas, mereka bukan Nawal. Cara penyampaian mereka tidak seperti Nawal. Nawal, kritis dan blak-blakan. Radikal, bahkan. Tapi dua orang itu, elegan.

Ada banyak banget kutipan-kutipan dan refleksi-refleksi yang aku dapetin dari buku ini tentang apa artinya membaca sastra dalam hidup. Dan, apa-apa saja yang dibahas sama murid-muridnya profesor Nafisi jadi membuat aku mencatat aspek-aspek yang mungkin harus dilihat juga ketika membaca.

Tapi mungkin karena pilihan buku-buku yang mereka baca juga, some of them are my favorites. Bab-nya sih ada 'Lolita', 'Gatsby', 'James' dan 'Austen'.

Jane Austen dan F Scott Fitzgerald, iyalah. Tapi Nabokov itu unchartered territory buat aku. James, baru sempat baca sepertiga 'The Portrait of a Lady' sih, tapi aku merasa itu buku yang cukup memikat.

Oke, ada satu kutipan yang membuat aku geli tadi pagi pas keinget-inget sebelum mandi. Ada salah satu muridnya Prof Nafisi yang bilang kalau tokoh ibu di novelnya Maxim Gorky 'Ibunda' itu worth much much more than all the flighty young ladies in Jane Austen's novels.

Hehehe, aku belum mbaca 'Ibunda' sih. Tapi mbaca perbandingan gitu aja aku udah langsung geli. How silly. Aku masih belum bisa menjelaskan betapa konyolnya perbandingan itu, tapi ada senyum pas aku nulis dan mengingat-ingat lagi perbandingan itu. Dan aku nggak yakin, ketika nanti mbaca 'Ibunda', bakal bisa tidak membandingkannya dengan gadis-gadis muda Austen. Well, kutipan itu sih pretty much ruined 'Ibunda' for me. Aku tidak akan bisa membaca 'Ibunda' dengan pikiran netral.

Gara-gara 'Reading Lolita...' aku sekarang lagi mbaca 'Madame Bovary' dan 'Emma' di saat bersamaan. Oh, ini lagi tentang 'Reading Lolita...' ini tuh tipe buku yang nunjukin apa yang penting untuk diamati dan apa yang 'kurang' penting untuk diamati ketika membaca. Jadi ketika aku sekarang mbaca 'Madame Bovary' dan 'Emma' aku nggak terlalu ribet nyari makna di antara hal-hal terkecil dan bisa berfokus hanya pada membaca buku itu.

Posted at 05:58 pm by i_artharini
Make a comment  

Aa'-Aa'-an

"Tuh ada Aa'-aa'an lagi tuh di TV," kata ibuku pas aku keluar dari kamar mandi tadi pagi.
"Aa' siapa?"
"Ya, nggak taulah. Asal orang Sunda aja kan dia bisa dipanggil Aa'."

Taunya, di Indosiar ada acara judulnya "Mamah dan Aa'." Satu lagi acara yang menampilkan televangelist (=television evangelist) yang entah kualifikasinya apa.

Sambil makan jeruk, sempet denger ada salah satu penelpon yang cerita masalahnya. Singkatnya aja ya. Penelepon adalah seorang bapak yang anaknya di-PHK, dapet uang pesangon. Uang pesangon, ditambah uang si bapak dipakai buat mbangun rumah. Si bapak ini juga masih membantu menafkahi cucu-cucunya karena anaknya di-PHK. Tapi, setelah tiga tahun, menantu si bapak ngotot minta cerai dari anaknya si bapak. Si menantu posisinya adalah seorang istri. Si bapak pengen tau, sebenernya gimana ini permintaan cerai si menantu/istri anaknya itu?

Oh, perlu diberi info tambahan, anak si bapak, dalam tiga tahun itu, tetap nganggur.

D'oh.

Kenapa coba si bapak butuh pendapat seorang 'ahli agama' untuk memberi penilaian atau cap buat si istri anaknya? Dia kan nggak pengen nasihat atau pendapat, dia cuman pengen justifikasi untuk mbela anaknya. Bahwa anaknya bener dan istri anaknya berada di posisi yang salah. Dan dia nyari justifikasi dari penceramah di televisi?

Nah, si ustadzah, berkomentar gini: "jadi setelah suaminya di-PHK, trus istrinya minta cerai. Aduh, kalau itu namanya habis manis, sepah dibuang. Ibu-ibu, istri yang saleh itu selalu mendampingi suami ya."

HELLOOOOO. Bagian mana sih dari ungkapan "penelantaran ekonomi" yang tidak dimengerti si ustadzah?

Dari fakta-faktanya aja deh, uang pesangon dari PHK. Kok dibangunin rumah, ya buat usaha lah atau gimana. Dan tiga tahun tetep nganggur, di mana sih tanggung jawab si ayah sebagai penafkah keluarga?

Terus ada kasus lain yang nggak kalah mbuat aku ngerasa: duh, orang-orang, kalian tuh dikasih akal dan pikiran. Nggak selalu deh semua-muanya itu penyelesaian harus tanya ke ahli agama. Please, think for yourself. Logika aja lah.

Cerita kedua, seorang bapak atau mas-mas nggak jelas gitu, telpon. Pas dia telpon, aku baru mbaca tema acara hari itu adalah "Kekerasan Dalam Rumah Tangga". Si mas-mas ini nanya, gimana kalau istri yang mulai mukul, terus karena melindungi diri sendiri (halah!) suami jadi bales mukul. Terus, si anak, karena ketakutan, melaporkan orangtuanya ke polisi. Apakah si anak bisa dinilai durhaka?

Mengutip kata-kata Agnes Monica ya (never thought in a million years her name would appear in this blog, tapi bayangin....AgMon aja bisa lebih make sense dari pada orang-orang ini): "kadang-kadang tak ada logikaa...."

Terus, kalau si ustadzah bilang dia nggak durhaka, bener gitu dia nggak durhaka?

Aku enggak menilai apakah yang dilakukan si anak benar atau salah. Tapiiii, duh, duh, duh. Kenapa sih kita butuh persetujuan seorang 'ahli agama' yang nggak jelas kualifikasinya apa untuk menilai apakah tindakan kita bisa memasukkan kita ke surga atau neraka. Emang dia seorang assessor dengan sertifikat standardisasi penilaian surga dan neraka?

Dan, it got me to think about this, nih, semua ustad-ustad atau ustadzah yang muncul di televisi, kualifikasi mereka apa sih? Orang yang bekerja di media harusnya punya argumentasi yang jelas, kenapa seseorang bisa dipilih sebagai narasumber.

Di mana mereka belajar agama, bagaimana dalamnya ilmu mereka dinilai, standarnya apa, apa mereka sudah nulis buku yang didasarkan dari penelitian dan studi mendalam, lagi-lagi, seberapa dalam studinya, sekarang ngajar atau enggak, etc.

Dan, aku harus 'menyerahkan' sama orang-orang yang tidak jelas kualifikasi keagamaannya ini untuk menentukan mana baik dan buruk? Uh, no thanks. I have my own mind for that.

(Tapi, nulis buku juga nggak bisa jadi ukuran sih. Jangan-jangan, nanti pas ditanyain 'bagaimana proses kreatifnya?' jawabannya, 'oh, baik-baik saja'. Yang itu, asli kejadian, cerita dari temen yang liputan peluncuran bukunya).

Posted at 04:15 pm by i_artharini
Make a comment  

Cerita Tentang Kecerobohan

Lemes deh waktu denger mbak-mbak Halo BCA ngasih tau: "lalu ada penarikan 500 ribu, 500 ribu, 500 ribu dan 300 ribu." Waktu itu, Selasa sore, di pelataran sekitar kolam Rumah Sakit Pusat Pertamina.

Setiap kali si mbak Reva (bener, namanya Reva) nyebutin jumlah-jumlah itu secara berturutan, aduuhhh...ada satu lagi pisau ditancepin di hati. Darahku serasa makin turun tiap kali penarikan-penarikan itu disebutin.

Huks, padahal kan itu ada buat tabungan liburan Grand Asia Tour, buat mbayar cicilan utang juga. Kenapa sih aku bisa seceroboh itu lupa narik kartu ATM?

Kehilangan uang jadi satu masalah emang, tapi yang paling mbuat aku ngerasa jadi korban tuh pas tersadar, kok ya ada ya orang yang tega ngelakuin kayak gitu. Ada kemungkinan, pelakunya juga orang-orang berseragam biru, karena lokasi ATM yang emang di kompleks kerja kita. Untungnya, Senin itu belum gajian. Ternyata ada hikmah juga gajian tanggal 28.

Si QQ ngomong, 'Nari, masak kamu nggak inget sih siapa orang sesudahnya? Soalnya aku juga pernah kayak gitu, selang berapa menit aja, aku balik lagi, udah dimintain nomor PIN lagi.'

Berarti ada orang pas sesudah aku. Tapi aku bener-bener nggak inget. Dan kalau pun aku inget warna-warna biru, ada kemungkinan itu karena imajinasiku menginginkan adanya warna biru di pakaian orang sesudah aku. Biar agak bisa menjawab siapa pelakunya.

Tapi kalo dipikir-pikir, kalo CCTV-nya berfungsi dan aku dikasih izin ngeliat siapa orangnya dan aku bisa ngenalin orangnya, apa yang bisa aku jadiin bukti dia nyuri duitku? Gambar CCTV, kalau ada, cuma menunjukkan orang sesudah aku lagi ngambil ATM. Tapi kan nggak keliatan prosedur apa yang dia lakukan. Yah, mungkin bisa dibuktiin sih, CCTV nggak merekam aku ngambil kartu, sehingga kesimpulannya siapa pun setelah itu melakukan transaksi atas beban kartuku.

Hari pertama itu sih aku cuman mencoba memahami: siapa sih yang tega berbuat gitu? Dan aku beneran menghadapi kesulitan memahami hal kayak gitu. Kalo bener dia pekerja berseragam biru...apa motivasinya, iseng? Udah tanggal tua?

Dan kalo bener pelakunya pekerja berseragam biru, damn...berarti ada orang di kompleks kerja ini yang mentalnya perampok?

Katanya seorang psikiater yang pernah ngasih materi waktu seminar Modalitas Bantuan Kesehatan Jiwa Pasca Trauma, kemampuan menceritakan kembali secara runtun adalah suatu tanda menuju kesembuhan dan meminimalkan trauma yang terjadi. Ya, mungkin ini salah satu cara untuk sembuh. Dan tentunya nggak ngulangin lagi kesalahan itu. (Hint, hint: kejadian serupa terjadi Januari lalu, tapi saldo waktu itu aman. Nari, please be careful.)

Tapi, aku belum menceritakan bagian ini ke ortuku. So, do I still have a chance for recovery from trauma?

Posted at 03:47 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page