PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< April 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, April 06, 2007
Ketidakpraktisan Buku

Buku, aku akui, sudah membuat hidupku menjadi tidak praktis. Membuatku, kurang sederhana. Terlalu ada di awang-awang. Tidak berarti aku membencinya. I had my share of fun, of course. Tapi ada masa-masanya sih aku ngerasa kalau ignorance is bliss. Ketidaktahuan bisa jadi sebuah berkah.

Iya sih, gara-gara buku, aku nggak pernah tidur sendirian. Selalu ada karakter-karakter menarik yang menemani. Akhir-akhir ini, Emma Woodhouse dan para penduduk Highbury dan Madame Bovary dengan kesenduannya. Aku masuk di kehidupan buku itu terlalu dalam. Tapi, dalam kehidupan nyata, aku ngerasa juga that it's a lonely life I've been leading.

Dan gara-gara buku juga, aku jadi kayak dihadapkan dengan standar-standar yang impossibly high dari hal-hal yang bisa aku dapetin dari hidup. Kayak ada orang-orang yang ngomong ke aku berkali-kali, "you know, life can offer you this much. Terus kenapa kamu harus settle for less?" Ini juga berlaku dengan pencarian akan Mr Darcy atau Mr Knightley, walaupun mereka bukan satu-satunya hal yang aku cari. Atau ketika aku bertanya-tanya, haruskah aku memprotes tiap hal yang menurutku nggak pas? Dan ketika aku mau 'let it go', aku ngerasa gatel sendiri karena kurang berjuang dan pada akhirnya, sebagai pemakluman (atau penyemangat) mengatakan, "inget-inget Nyai Ontosoroh".

Yah, mungkin emang ada bagian dari karakteristikku sendiri yang menginginkan (atau menuntut?) so much out of life dan aku begitu mudah tersugesti dengan buku. Plus juga aku keras kepala, nggak mau mengkompromikan dengan standar kehidupan nyata. Perpaduan beberapa karakteristik yang berefek pada ketidakpraktisan hidup yang aku jalanin. Kalo gitu sih, buku kayaknya cuma jadi minyak tanah aja buat api yang emang udah ada.

Entah kenapa ya, kok rasanya 'pas' menyalahkan buku ketika aku selalu menginginkan sesuatu yang lebih terjadi dalam hidupku. Padahal mungkin yang aku perlu lakukan hanyalah just live life itself. Tapi tiap kali aku mau berkompromi, aku selalu ngerasa, Elizabeth Bennett got that much for being herself, even with her sharp tongue dan kecantikannya yg nggak seberapa dibanding Jane, atau saudara-saudaranya yang lain. 

Tapi, pas mbaca artikel di New York Times yang judulnya 'Amazing Girls', tentang cewek-cewek SMA di Amerika yang berusaha sedemikian keras buat masuk ke universitas unggulan, ada salah satu karakternya yang ngomong, Its out of style to admit it, but it is more important to be hot than smart. Dan, oh ya, cewek yang mengakui hal ini, nge-skor angka perfect 2400 di SAT-nya. Intinya dari kutipan itu? Ya, aku ngerasa cewek ini bener. Itulah kondisi realita sosial yang aku rasain sekarang, when it comes to being a girl. Being just Elizabeth Bennett does not cut it for this world. Dan aku tahu itu. Tapi aku males banget berkompromi dengan keadaan itu. Seperti...hmm, mungkin menghilangkan beberapa kilogram in order to be hotter. Cuman salah satu contoh.

(Btw, kok aku merasa ada sebuah pola ya dari beberapa entry blog terakhir. Mungkinkah ini cuman, keresahan karena nggak ada partner?)

Posted at 07:18 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, April 03, 2007
Belanja vs Membaca

Minggu kemarin kan mbaca Ruang Baca-nya Koran Tempo. Terus, menemukan satu tulisan yang nyentil banget sama kebiasaan membaca-membeli buku-ku. Si penulis menyatakan dirinya sebagai 'pembeli buku yang serakah, pembaca buku yang lamban'. Yes, tell me about it, sister.

Diawali dengan kutipan dari seorang jurnalis yang menyatakan dirinya puasa beli buku karena banyak yang belum sempat dibaca. Si penulis juga setuju karena mengalami hal yang sama. Sampe mbela-mbelain nggak dateng ke Islamic Book Fair karena membeli bukunya kayak deret ukur, sementara membacanya kayak deret hitung. Once again, it's an all too familiar story for me. Ternyata, banyak juga ya yang beli buku like there's no tomorrow and read it like they'll live til 500 years.

Tapi, aku udah sejak...setahun, setahun setengahan (not sure exactly) deh kayaknya nggak dateng ke acara-acara book fair karena tau banget, pasti bakalan belanja. Dan sejak QB Book Sale taun lalu (Jl Sunda, my last one), aku nggak lagi beli buku kayak there's no tomorrow. I went cold turkey. Udah, berenti aja. Jadi terbitan-terbitan baru, aku jarang banget udah mbaca. Lebih berfokus ke bacaan-bacaan klasik yang udah beli pas beberapa kali QB sale itu. (Btw, I cheated baru beberapa minggu lalu, diawalin lewat "My Name is Red"-nya Orhan Pamuk, "Reading Lolita in Tehran", dan "To The Lighthouse", "Tender is the Night", "Emma", ama "Sense and Sensibility"-->yang judul-judul klasik, belinya yang 30ribuan).

Aku sebenernya pengen sih membaca lebih cepet. Tapi lebih karena kebutuhan ego daripada sekedar menyelesaikan terus beli lagi. Yah aku sempet iri banget sama temen sekantor yang udah membaca lebih banyak. Tapi sekarang aku kayaknya udah lebih...tenang dengan persaingan-persaingan itu. I had my share of reading, and so has he.

Nah, tapi, biar jadi pembaca yang bertanggung jawab dan biar nggak "no action, buy only", aku membuatlah program "50 Books a Year" itu. Harapanku sih bisa 100 buku per tahun atau gimana. Tapi, ya 50 buku per tahun itu kayaknya cukup realistis lah dengan kecepatan membacaku.

Sampai akhir tahun lalu, tapinya cuman bisa nyelesein 46 atau 47 judul gitu. Tapiiii...ada kemungkinan bisa lebih aku rasa, karena ada 2 bulanan lebih sempet vakum. But, okelah, close enough kok 46 atau 47 itu. Anyway, tahun ini aku menjalankan program yang sama lagi.

Oh. terus di kolom itu disebut, si penulis punya sekitar 20 buku yang belum ia baca. Dan, walaupun si penulis sudah mengkorting jumlah buku itu secara besar-besaran, aku tetep bertanya-tanya, what is her real number?

Angkaku sih....sekitar 200 lebih ada kali. Atau malah mungkin menjelang 300? Aku harus ngecek lagi daftarnya. Which is why, aku mengambil jalan berbeda dari si penulis di akhir tulisan. Menurut si penulis, setiap buku memiliki cara membaca yang berbeda, kebutuhannya dia sebagai pembaca juga tergantung bukunya. Jadi, dia nggak ragu lagi untuk weekend ini kembali berbelanja buku secara 'normal' (full force maksudnya?).

I agree with her. Setiap buku emang punya cara membaca yang berbeda, fiksi nggak bisa dibaca dengan ngeliat judul bab atau di-skip-skip, menurutku. Karena aku pengen ngeliat gimana narasinya dibangun. Kebutuhanku sebagai pembaca ya jadinya itu, melihat, menikmati, mengamati bangunan narasi. Nggak bisa sekedar ngebut mbaca. Ya mau nggak mau, memang harus pelan-pelan kalo tujuannya kayak gitu.

Tapi, aku tetep nggak bisa memutuskan lagi berbelanja buku dengan lepas kayak dulu. Masalahnya lebih karena menjaga keseimbangan saldo sih daripada takut tidak bisa menyelesaikan membaca buku-buku yang udah dibeli.

Posted at 07:49 pm by i_artharini
Make a comment  

Kemeja Batik

Aku seneng deh Jumat malam ke Plaza Semanggi. Begitu banyak spesimen 'cowok-cowok normal' yang jarang aku temuin saat bekerja. Nggak nyangka lho, kebijakan SBY yang salah kaprah tentang penghematan energi jadi memunculkan serbuan eligible bachelors di Plaza Semanggi pas Jumat malam.

Kebijakan SBY yang salah kaprah yang mana yang aku maksud? (Is that sentence correct? Ada tiga "yang" di situ). Ya hari Jumat pake kemeja batik lahh. (Kebijakan ini kan hubungannya ama penghematan BBM dengan menurunkan suhu AC jadi 25 derajat celsius kan? Implikasinya, jadi panas, implikasinya lagi..jadi pake batik biar nggak panas...)

Pas pesta perpisahan Tere (in absentia) Jumat kemarin, di Plangi, mataku jadi kerasa seger deh liat cowok-cowok muda, ya kira-kira seumuranku atau beberapa tahun di atasku, pake kemeja batik yang casual tapi tetep terlihat rapi itu. Dan ini bukan cuman Jumat kemarin aja, tapi Jumat-Jumat sebelumnya juga. Pokoknya udah proven theory deh: Plangi Jumat malam, bisa buat browsing.

Kayaknya sih, kemunculan mereka didasarkan karena Jumat yang jadi awal weekend, terus pada bersantai di mal sambil nunggu lalu lintas Jumat malem rada sepi. (Ah, Jumat malem mah, sampe jam 11 juga masih macet depan Plangi) Dan posisi Plangi yang diapit oleh Bank Mandiri, Menara BRI dan gedung-gedung perkantoran lainnya, voila!

Ngeliat cowok-cowok itu di foodcourt, lagi makan ama temen-temen kerjanya yang cewek. Sementara, Jumat malam kemarin, di sekitarku ada 'cowok-cowok anti kemapanan' yang puas ber-t-shirt dan jeans, dan mereka, para pemakai kemeja batik itu...duh, terlihat grown-up dan bertanggungjawab. I don't normally judge people by what they wear, biasanya lebih anti kemapanan, lebih appealing buatku (hahaha, ini mah sama aja nge-judge ya). Tapi...ah, nggak tau kenapa nih dengan Jumat malam di Plangi dan cowok-cowok berkemeja batik.

Sekedar membandingkan, ngeliat bapakku pake kemeja batik aja jadi kelihatan rapiiiii banget dibanding kemeja kantorannya sehari-hari. Beneran deh, kemeja batik itu do wonders for men. Ngeliat potongan bahunya yang pas, bahannya yang rada kaku, potongan badannya yang lurus, jadi kesannya si pemakai tuh simetris dan rapi.

Dan ngeliat cowok-cowok muda itu, hmmm, sadi serasa ngeliat kakak-kakak kelasku pas SMA udah jadi mas-mas kantoran. (Btw, what is it with me and kakak kelas SMA? Kayaknya ada obsesi gitu karena nggak pernah bisa berinteraksi dengan mereka secara 'proper' jadinya the sight of them, atau orang-orang yang 'keliatan' kayak mereka, masih kerasa misterius...) 

Mungkin, it's the sense of possibilities. Jumat malam, malam yang jadi awal weekend dan diperuntukkan buat nge-date atau aktivitas berpasangan lainnya dan aku dihadapkan sama begitu banyak opsi partner untuk menghabiskan weekend. Jadi imajinasi dan endorfin bersatu dan membuat aku ngerasa senang. Ah, sense of possibilities itu emang selalu membuat bahagia.

Hmm, rada bertanya-tanya sih, seberapa besar kesempatanku buat meet and greet dengan salah satu lelaki muda berkemeja batik itu?

Posted at 01:59 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, March 29, 2007
Membaca Tentang Membaca Lolita di Tehran

Buku terakhir yang membuat aku nangis pas mbaca setelah aku nggak yakin ada buku yang mampu membuatku seperti itu adalah 'Reading Lolita in Tehran'.

Dan, yang mbuat nangis tuh juga bukan detil-detil mengerikan tentang apa yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa Profesor Azar Nafisi di penjara-penjara Iran, tapi saat salah satu mahasiswanya, Nassrin, pamitan sama dia karena mau kabur ke Canada. Ada satu lagi sih, kayaknya pas Profesor Nafisi pamitan sama 'the magician'.

Buku ini, buat aku, hebat karena kemampuannya untuk menguras kemampatanku membaca karya-karya klasik dan membuatku lebih mengapresiasi yang aku baca. Spons di otak tuh serasa diteken-teken sampai sarinya keluar. Pas mulai mbaca lagi, aku kerasa jadi mangkok kosong yang nunggu diisi lagi. Tapi, nggak sepenuhnya kosong juga. Karena aku ngerasa ada pemahaman yang lebih mendalam di 'kekosongan' itu.

Menggunakan perbandingan yang dipakai Tyler Durden di 'Fight Club', setelah orang tuh selamat dari kematiannya, his breakfast will be the best thing he taste in his entire life. Ini buku yang membuat aku kerasa kayak gitu, naik bis aja jadi kerasa lebih bermakna. Macet aja jadi sebuah pengalaman yang membuat aku merenung instead of marah-marah nggak jelas. Begitu juga dengan membaca, kayak ada penajaman persepsi yang terjadi saat sebelumnya aku berpikir udah merasa mentok.

Ada apa ya dengan penulis-penulis Iran kayak Azar Nafisi atau Marjane Satrapi (not necessarily a writer sih, seorang novelis grafis, graphic-novelist, tapi ya caranya dia memilih cerita yang ditampilkanlah...) yang bisa membahasakan pengalaman-pengalaman surreal mereka dengan cara sederhana. Rapi. Seperti terkontrol tapi juga lepas. Seperti tanpa beban menceritakan pengalaman-pengalaman mereka, tapi aku tau di baliknya pasti ada rasa marah atau geregetan. Nah, rasa marah atau geregetan ini tapinya nggak mempengaruhi cara mereka bercerita.

Elegan. Itu deh kayaknya kata tepat mengenai penyampaian cerita mereka. Jelas, mereka bukan Nawal. Cara penyampaian mereka tidak seperti Nawal. Nawal, kritis dan blak-blakan. Radikal, bahkan. Tapi dua orang itu, elegan.

Ada banyak banget kutipan-kutipan dan refleksi-refleksi yang aku dapetin dari buku ini tentang apa artinya membaca sastra dalam hidup. Dan, apa-apa saja yang dibahas sama murid-muridnya profesor Nafisi jadi membuat aku mencatat aspek-aspek yang mungkin harus dilihat juga ketika membaca.

Tapi mungkin karena pilihan buku-buku yang mereka baca juga, some of them are my favorites. Bab-nya sih ada 'Lolita', 'Gatsby', 'James' dan 'Austen'.

Jane Austen dan F Scott Fitzgerald, iyalah. Tapi Nabokov itu unchartered territory buat aku. James, baru sempat baca sepertiga 'The Portrait of a Lady' sih, tapi aku merasa itu buku yang cukup memikat.

Oke, ada satu kutipan yang membuat aku geli tadi pagi pas keinget-inget sebelum mandi. Ada salah satu muridnya Prof Nafisi yang bilang kalau tokoh ibu di novelnya Maxim Gorky 'Ibunda' itu worth much much more than all the flighty young ladies in Jane Austen's novels.

Hehehe, aku belum mbaca 'Ibunda' sih. Tapi mbaca perbandingan gitu aja aku udah langsung geli. How silly. Aku masih belum bisa menjelaskan betapa konyolnya perbandingan itu, tapi ada senyum pas aku nulis dan mengingat-ingat lagi perbandingan itu. Dan aku nggak yakin, ketika nanti mbaca 'Ibunda', bakal bisa tidak membandingkannya dengan gadis-gadis muda Austen. Well, kutipan itu sih pretty much ruined 'Ibunda' for me. Aku tidak akan bisa membaca 'Ibunda' dengan pikiran netral.

Gara-gara 'Reading Lolita...' aku sekarang lagi mbaca 'Madame Bovary' dan 'Emma' di saat bersamaan. Oh, ini lagi tentang 'Reading Lolita...' ini tuh tipe buku yang nunjukin apa yang penting untuk diamati dan apa yang 'kurang' penting untuk diamati ketika membaca. Jadi ketika aku sekarang mbaca 'Madame Bovary' dan 'Emma' aku nggak terlalu ribet nyari makna di antara hal-hal terkecil dan bisa berfokus hanya pada membaca buku itu.

Posted at 05:58 pm by i_artharini
Make a comment  

Aa'-Aa'-an

"Tuh ada Aa'-aa'an lagi tuh di TV," kata ibuku pas aku keluar dari kamar mandi tadi pagi.
"Aa' siapa?"
"Ya, nggak taulah. Asal orang Sunda aja kan dia bisa dipanggil Aa'."

Taunya, di Indosiar ada acara judulnya "Mamah dan Aa'." Satu lagi acara yang menampilkan televangelist (=television evangelist) yang entah kualifikasinya apa.

Sambil makan jeruk, sempet denger ada salah satu penelpon yang cerita masalahnya. Singkatnya aja ya. Penelepon adalah seorang bapak yang anaknya di-PHK, dapet uang pesangon. Uang pesangon, ditambah uang si bapak dipakai buat mbangun rumah. Si bapak ini juga masih membantu menafkahi cucu-cucunya karena anaknya di-PHK. Tapi, setelah tiga tahun, menantu si bapak ngotot minta cerai dari anaknya si bapak. Si menantu posisinya adalah seorang istri. Si bapak pengen tau, sebenernya gimana ini permintaan cerai si menantu/istri anaknya itu?

Oh, perlu diberi info tambahan, anak si bapak, dalam tiga tahun itu, tetap nganggur.

D'oh.

Kenapa coba si bapak butuh pendapat seorang 'ahli agama' untuk memberi penilaian atau cap buat si istri anaknya? Dia kan nggak pengen nasihat atau pendapat, dia cuman pengen justifikasi untuk mbela anaknya. Bahwa anaknya bener dan istri anaknya berada di posisi yang salah. Dan dia nyari justifikasi dari penceramah di televisi?

Nah, si ustadzah, berkomentar gini: "jadi setelah suaminya di-PHK, trus istrinya minta cerai. Aduh, kalau itu namanya habis manis, sepah dibuang. Ibu-ibu, istri yang saleh itu selalu mendampingi suami ya."

HELLOOOOO. Bagian mana sih dari ungkapan "penelantaran ekonomi" yang tidak dimengerti si ustadzah?

Dari fakta-faktanya aja deh, uang pesangon dari PHK. Kok dibangunin rumah, ya buat usaha lah atau gimana. Dan tiga tahun tetep nganggur, di mana sih tanggung jawab si ayah sebagai penafkah keluarga?

Terus ada kasus lain yang nggak kalah mbuat aku ngerasa: duh, orang-orang, kalian tuh dikasih akal dan pikiran. Nggak selalu deh semua-muanya itu penyelesaian harus tanya ke ahli agama. Please, think for yourself. Logika aja lah.

Cerita kedua, seorang bapak atau mas-mas nggak jelas gitu, telpon. Pas dia telpon, aku baru mbaca tema acara hari itu adalah "Kekerasan Dalam Rumah Tangga". Si mas-mas ini nanya, gimana kalau istri yang mulai mukul, terus karena melindungi diri sendiri (halah!) suami jadi bales mukul. Terus, si anak, karena ketakutan, melaporkan orangtuanya ke polisi. Apakah si anak bisa dinilai durhaka?

Mengutip kata-kata Agnes Monica ya (never thought in a million years her name would appear in this blog, tapi bayangin....AgMon aja bisa lebih make sense dari pada orang-orang ini): "kadang-kadang tak ada logikaa...."

Terus, kalau si ustadzah bilang dia nggak durhaka, bener gitu dia nggak durhaka?

Aku enggak menilai apakah yang dilakukan si anak benar atau salah. Tapiiii, duh, duh, duh. Kenapa sih kita butuh persetujuan seorang 'ahli agama' yang nggak jelas kualifikasinya apa untuk menilai apakah tindakan kita bisa memasukkan kita ke surga atau neraka. Emang dia seorang assessor dengan sertifikat standardisasi penilaian surga dan neraka?

Dan, it got me to think about this, nih, semua ustad-ustad atau ustadzah yang muncul di televisi, kualifikasi mereka apa sih? Orang yang bekerja di media harusnya punya argumentasi yang jelas, kenapa seseorang bisa dipilih sebagai narasumber.

Di mana mereka belajar agama, bagaimana dalamnya ilmu mereka dinilai, standarnya apa, apa mereka sudah nulis buku yang didasarkan dari penelitian dan studi mendalam, lagi-lagi, seberapa dalam studinya, sekarang ngajar atau enggak, etc.

Dan, aku harus 'menyerahkan' sama orang-orang yang tidak jelas kualifikasi keagamaannya ini untuk menentukan mana baik dan buruk? Uh, no thanks. I have my own mind for that.

(Tapi, nulis buku juga nggak bisa jadi ukuran sih. Jangan-jangan, nanti pas ditanyain 'bagaimana proses kreatifnya?' jawabannya, 'oh, baik-baik saja'. Yang itu, asli kejadian, cerita dari temen yang liputan peluncuran bukunya).

Posted at 04:15 pm by i_artharini
Make a comment  

Cerita Tentang Kecerobohan

Lemes deh waktu denger mbak-mbak Halo BCA ngasih tau: "lalu ada penarikan 500 ribu, 500 ribu, 500 ribu dan 300 ribu." Waktu itu, Selasa sore, di pelataran sekitar kolam Rumah Sakit Pusat Pertamina.

Setiap kali si mbak Reva (bener, namanya Reva) nyebutin jumlah-jumlah itu secara berturutan, aduuhhh...ada satu lagi pisau ditancepin di hati. Darahku serasa makin turun tiap kali penarikan-penarikan itu disebutin.

Huks, padahal kan itu ada buat tabungan liburan Grand Asia Tour, buat mbayar cicilan utang juga. Kenapa sih aku bisa seceroboh itu lupa narik kartu ATM?

Kehilangan uang jadi satu masalah emang, tapi yang paling mbuat aku ngerasa jadi korban tuh pas tersadar, kok ya ada ya orang yang tega ngelakuin kayak gitu. Ada kemungkinan, pelakunya juga orang-orang berseragam biru, karena lokasi ATM yang emang di kompleks kerja kita. Untungnya, Senin itu belum gajian. Ternyata ada hikmah juga gajian tanggal 28.

Si QQ ngomong, 'Nari, masak kamu nggak inget sih siapa orang sesudahnya? Soalnya aku juga pernah kayak gitu, selang berapa menit aja, aku balik lagi, udah dimintain nomor PIN lagi.'

Berarti ada orang pas sesudah aku. Tapi aku bener-bener nggak inget. Dan kalau pun aku inget warna-warna biru, ada kemungkinan itu karena imajinasiku menginginkan adanya warna biru di pakaian orang sesudah aku. Biar agak bisa menjawab siapa pelakunya.

Tapi kalo dipikir-pikir, kalo CCTV-nya berfungsi dan aku dikasih izin ngeliat siapa orangnya dan aku bisa ngenalin orangnya, apa yang bisa aku jadiin bukti dia nyuri duitku? Gambar CCTV, kalau ada, cuma menunjukkan orang sesudah aku lagi ngambil ATM. Tapi kan nggak keliatan prosedur apa yang dia lakukan. Yah, mungkin bisa dibuktiin sih, CCTV nggak merekam aku ngambil kartu, sehingga kesimpulannya siapa pun setelah itu melakukan transaksi atas beban kartuku.

Hari pertama itu sih aku cuman mencoba memahami: siapa sih yang tega berbuat gitu? Dan aku beneran menghadapi kesulitan memahami hal kayak gitu. Kalo bener dia pekerja berseragam biru...apa motivasinya, iseng? Udah tanggal tua?

Dan kalo bener pelakunya pekerja berseragam biru, damn...berarti ada orang di kompleks kerja ini yang mentalnya perampok?

Katanya seorang psikiater yang pernah ngasih materi waktu seminar Modalitas Bantuan Kesehatan Jiwa Pasca Trauma, kemampuan menceritakan kembali secara runtun adalah suatu tanda menuju kesembuhan dan meminimalkan trauma yang terjadi. Ya, mungkin ini salah satu cara untuk sembuh. Dan tentunya nggak ngulangin lagi kesalahan itu. (Hint, hint: kejadian serupa terjadi Januari lalu, tapi saldo waktu itu aman. Nari, please be careful.)

Tapi, aku belum menceritakan bagian ini ke ortuku. So, do I still have a chance for recovery from trauma?

Posted at 03:47 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, March 16, 2007
Rambut Bob

Mungkin ini gara-gara sakit. Tapi kok satu-satunya hal yang aku pengenin cuman cropped bob brown hair ya? Aku bahkan udah tau jenis coklat yang aku pengenin. Yang rich dan gelap, hampir berbatasan dengan burgundy, kayaknya subversif dan elegan di saat bersamaan gitu.

Fffiuhh.

Posted at 01:22 pm by i_artharini
Make a comment  

Saturday, March 10, 2007
Sebuah Paragraf Pinjeman

"It was like this veil that meant nothing to her anymore yet without which she would be lost. She had always worn the veil. Did she want to wear it or not? She did not know.

.....She said she could not imagine Yassi without a veil. What would she look like? Would it affect the way she walked or how she moved her hands? How would others look at her? Would she become a smarter or a dumber person? These were her obsessions, alongside her favorite novels by Austen, Nabokov and Flaubert.

Again she repeated that she would never get married, never ever. She said that for her a man always existed in books, that she would spend the rest of her life with Mr Darcy--even in the books, there were few men for her. What was wrong with that?"

"Reading Lolita in Tehran"
by Azar Nafisi

(Oh. My. God.)




Currently reading:
The Custom of the Country (Penguin Classics)
By Edith Wharton


Currently reading:
Reading Lolita in Tehran: A Memoir in Books
By Azar Nafisi



Posted at 07:17 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, March 02, 2007
Jazz Soiree dan Kelas

Tadi malem, pas iseng-iseng nanyain ama Redaktur Eksekutif yang ngurusin iklan, masak kita nggak dapet undangan Java Jazz, eh taunya dibales dengan: tuh ada tuh, kayaknya gala dinner pembukaannya deh.

Oke lah, dateng ke sana dengan harapan bakal bisa ngurus Press Pass buat tiga hari ke depan (ternyata nggak). Anyway, pas lagi muter-muter di sana, ini kan acara ceritanya khusus undangan. Yang dateng, selain media, orang-orang yang kerja di perusahaan-perusahaan yang ngesponsorin event itu. Ya dari Dji Sam Soe, Garuda, Telkomsel, BNI, dan aku nggak tau dari mana sisanya.

Tapi, pas lagi muter-muter di sana, ngeliat banyaaak banget cowok-cowok yang yah sebenarnya secara fisik gak model-model banget. Cuman rapi gitu. Clean shaven, clean cut, pakaiannya juga rapi dan 'normal', bahkan berbatasan dengan stylish gitu. Pokoknya cukuplah untuk bertanya: 'where have all these men holed up? Disembunyikan? Sehari-harinya mereka di mana?'

Ya mungkin sehari-harinya, saat aku ngejar-ngejar liputan (atau mencoba menyemangati diri untuk keluar rumah dan ke kantor) mereka udah ngendon di kantor. Dan saat mereka bubar kerja, aku masih di kantor. Dan antara jam kerjaku dan jam kerja mereka, there's no chance meeting, meet-cute, apa pun itu namanya yang pokoknya artinya kita ketemuan.

Dan somehow, dengan tampilanku yang masih pake seragam itu dan muka penuh minyak, dan tampilan mereka yang rapi walopun muka sedikit berminyak, aku kok tiba-tiba ngerasa ada perbedaan kelas ya?

That I'm not in the same class as they are, walaupun wajah-wajah mereka keliatan kayak teman-teman SMA-ku dulu. Dan kesempatanku buat ngedapetin tipe-tipe cowok kayak gitu jadi far and remote, dengan posisiku sekarang. Atau apa karena aku kebanyakan mbaca buku-buku tentang society itu? And yes, jazz and society, oh..betapa 'Great Gatsby'-nya.

Oke, mungkin yang membedakan cowok-cowok seusiaku itu dan aku cuman saldo di bank, we have the same background, education wise, kita sama-sama produk ortu kelas menengah, secara taste...oh, I'm definitely better. Tapi, kenapa ya, I have that sense tentang perbedaan kelas ketika melihat mereka. Apakah ini bagian dari kehidupan orang dewasa? Ketika perbedaan-perbedaan seperti tingkat pemasukan mempengaruhi siapa kita atau cara kita dilihat dan melihat?

Posted at 06:41 pm by i_artharini
Make a comment  

Society Girls

Kayaknya buku pertama yang aku baca tahun ini adalah 'My Name is Red'-nya Orhan Pamuk. Tapi itu bukan buku pertama yang aku selesaikan. Instead aku nyelesein beberapa buku tentang society girls.

Pertamanya, karena pengen mbaca sesuatu yang ringan, akhirnya milih The Pursuit of Love/Love in a Cold Climate, dua buku yang dijadiin satu, dua-duanya karya Nancy Mitford. Ini ceritanya sih cukup lucu lah. Tentang para bangsawan Inggris pedesaan yang hidup di masa-masa antara Perang Dunia I dan II.  Yah, kayak tokoh-tokoh ceweknya Jane Austen kali ya, cuman masanya aja beda. Omongannya, apalagi kalo bukan cari suami-suami.

Tapi, gara-gara di salah satu buku itu dibilangin kalo karakternya mbaca 'The House of Mirth'-nya Edith Wharton, aku jadi mulai mbaca buku itu (yes, yes, ini tentang intertekstualitas). Dan sekarang, ketika selesai, aku malah jadi pusing.

Gara-garanya, aku nggak ngerti motif-motif yang mendasari tindakan-tindakannya karakternya, Lily Bart. Semakin ke belakang, cerita hidupnya jadi semakin sengsara, tapi kok resistensi yang dilakukan si karakter nggak berubah-berubah ya? Gituuu aja. Kadang ada beberapa kali tokoh utama cowoknya nggak disebut sama sekali, padahal aku berharapnya dia yang bakal jadi karakter penolong. Terus ada sebuah obyek yang dimiliki Lily pas di bagian awal, aku berharap ini bakal jadi senjata yang dia pake, kartu As terakhir yang bisa dia tarik. Lha tapi kok sampai terakhir dia baru inget gitu.

Why, why, why Lily Bart seperti itu?

Iya, New York society itu kejam ke dia. Tapi kenapa dia nggak equally mean? Padahal the only thing that she has to be in that world, i.e. reputation, udah dibelah-belah hanya lewat gosip-gosip mereka. Apakah, by refusing to play dirty, Lily berusaha mempertahankan satu-satunya 'virtue' yang dia miliki? (Btw, aku nggak yakin virtue-nya itu apa, tapi...apakah itu playing nice? Atau jujur?) Atau, apa karena dia menahan diri karena perasaannya sama Selden.

But really, for Selden to be the 'only spring in her heart during her whole life' kok kayaknya kurang passionate gitu. And I'm comparing this to another Edith Wharton's novel, Age of Innocence. Ih, di situ mah keliatan jelas yang namanya passion, walopun sopan, tetep aja keliatan antara si Countess Olenska ama siapa itu...pokoknya di versi filmnya, yang jadi si Daniel Day Lewis.

Mbaca ini malah pusing deh. Jadi rada ragu untuk melanjutkan ke bacaan-bacaan tentang society girls lainnya.




Currently reading:
The House of Mirth (Signet Classics)
By Edith Wharton



Posted at 06:09 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page