"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Thursday, April 27, 2006
Tadi siang, sebelum ke kantor, memutuskan untuk mampir di Gramedia
Matraman. Maksudnya cuma mau ngeliat, 'Bordir', novel grafisnya Marjane
Satrapi yang katanya udah diterjemahin itu udah ada belum di sana. Dan
ternyata ada.
Pokoknya harus langsung beli. Apa pun untuk Satrapi. Graphic novelist
asal Iran ini udah membuat aku terpukau sejak pertama kali mbaca
terjemahan 'Persepolis' yang diterbitin sama Resist Book. Ceritanya
sebenarnya sederhana, tentang masa kecilnya, keluarganya, tapi keluarga
Satrapi sendiri adalah keluarga yang menarik; liberal, modern, berasal
dari kalangan menengah ke atas yang terpelajar, dan terpaksa
berhubungan dengan keseharian Iran yang pemerintahannya dikuasai para
mullah. Bisa membayangkan nggak, ibunya Satrapi adalah penggemar berat
Simone de Beauvoir, berhadapan dengan situasi sosial politik Iran yang
saat itu, pada awal-awalnya tidak kondusif terhadap perempuan?
Situasi-situasi yang sulit dan/atau tragis, ia gambarkan dengan sederhana, tapi tetap witty dan tidak dangkal.
Anyway, minggu ini, aku punya dua pahlawan perempuan baru, Woolf dan Satrapi.
Pas mau mbayar pake debet Mandiri, ternyata nggak bisa, minimal harus
Rp 50 ribu. "Tapi biasanya bisa kok mbak nggak harus 50 ribu," aku lagi
ngeyel.
"Oh, itu kalo BCA mbak.."
"Oke, pake BCA deh."
Rada deg-degan juga sih, soalnya saldo di BCA tinggal 59 ribu. Tapi
untungnya bisa. Btw, salah satu alasan aku beli 'Bordir'/'Embroideries'
ini demi mengakali daftar bacaan yang harus selesai bulan ini.
Sebenernya aku berharap selesai Woolf's A Writer Diary weekend lalu,
tapi ternyata nggak...Dan karena ini novel grafis, jadi terpenuhilah
bacaan bulan ini, hahahaha. Yah, nggak juga sih, masih kurang satu lagi
sebenernya...
Hmm, mbaca karya-karyanya Satrapi jadi teringat sama apa yang terjadi
di sekitarku saat ini, bagaimana konservatisme jadi sebuah tindakan
yang anarkis. Belum lagi RUU APP yang meresahkan itu. Duh, apakah
akhirnya kita akan jadi seperti Iran?
Posted at 11:44 pm by i_artharini
Permalink
"....I mention this because I was talking to a rather pompous
Orientalist over the weekend, and at one point, during a very deep,
metaphysical lull in the conversation, I told him I had a little
brother who once got over an unhappy love affair by trying to translate
the Mundaka Upanishad into classical Greek. (He laughed
uproariously--you know the way Orientalists laugh.)"
('Franny and Zooey' - JD Salinger)
Dan ini yang aku minta dalam doaku akhir-akhir ini; semoga, suatu saat,
aku kembali merasakan patah hati, sehingga punya cukup energi untuk
memulai 'Ulysses'.
Posted at 10:45 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, April 25, 2006
Jane Austen lewat Budi Darma
Sejak membaca profilnya Budi Darma di bagian belakang 'Orang-orang
Bloomington' dan mengetahui ia pernah menulis disertasi tentang
karakter dan penilaian moral atas novel-novel Jane Austen, aku selalu
ingin tahu, bagaimana penulis satu itu melihat sosok Austen. Dan
bagaimana karya-karya Austen mempengaruhi karya-karyanya sendiri.
Maksudnya, Queen of Romantic Comedy dan seorang maestro absurditas? I failed to see the connection.
Aku cukup kaget mengetahui ternyata ada seorang laki-laki yang suka
membaca, setidaknya cukup suka sehingga menganalisa tentang, Jane
Austen. Dan ketika laki-laki itu adalah sosok penulis yang aku kagumi,
rasa penasaran tentang pengaruh Austen pada Budi Darma makin tinggi.
I'm a big Austen fan. I'm a romantic girl at heart. Dan Austen,
benar-benar menangkap semangat romantis itu, tanpa membubuhkan emosi
yang meledak-ledak. Cinta pun bisa makes sense, atau harus makes sense.
Buat banyak lelaki, mungkin karakter-karakter perempuan dalam
novel-novel Jane Austen hanya dilihat sebagai pengejar pria untuk
dijadikan suami. Tapi budaya masa itu memang...ah, well, tak usah
diperpanjang lah.
Anyway, salah satu milis yang aku ikuti ternyata memberitahukan bahwa
hari ini adalah hari ulang tahun Budi Darma yang ke-69. Mereka lalu
menawarkan, siapa nih yang mau ikut mengucapkan selamat.
Aduh, ini kesempatanku satu-satunya. Setidaknya begitu menurutku. Dan, voila,
Selamat Ulang Tahun, Pak Budi Darma!
Semoga selalu diberkahi dengan kesehatan agar bisa terus menulis. Saya belum pernah bertemu sama sekali dengan bapak, dan saya malu mengakui sebenarnya, bahwa saya baru membaca karya bapak baru-baru ini. Dan saya rasa, sama seperti orang-orang yang juga ikut mengirim ucapan selamat ini, saya mengagumi tulisan-tulisan bapak. Tapi saya punya pertanyaan untuk bapak, yang entah bagaimana akan terjawab, tentang Jane Austen.
Ada 2 cerpen dalam 'Orang-orang Bloomington' yang menyebut nama Willoughby dan Brandon, lalu Lydia Wickham dan Harriet Smith; nama-nama karakter dalam novel-novel Jane Austen. Dan bapak juga pernah menulis disertasi tentang karakter dan penilaian atas moral dalam novel-novel Austen. Bagaimana sebenarnya Jane Austen berpengaruh pada karya bapak?
Saya memang belum pernah bertemu dengan semua orang di dunia, tapi saya amat sangat jarang menemukan seorang laki-laki yang membaca Jane Austen :)
Terimakasih sebelumnya, Pak. Sekali lagi, selamat ulang tahun!
Moderator milis tersebut memang menyelipkan ucapan selamat ulang
tahunku bersama ucapan dari yang lain. Tetapi ia kemudian menambahkan,
bahwa ia juga menanyakan pertanyaan yang sama pada Budi Darma, dan
hasil wawancara itu akan tampil di suplemen Ruang Baca Koran Tempo,
edisi Minggu (30/4).
Wuaaa...
Pertanyaanku itu akhirnya bakal kejawab. Huks, aku jadi deg-degan banget deh nunggu hari Minggu nanti...
Hihihihihihihihihi. (Cannot stop giggling)
Posted at 10:40 pm by i_artharini
Permalink
Monday, April 24, 2006
Satu lagi Sabtu yang sempurna buat aku.
Pagi: Inacraft
Pergi bertiga tanpa Ayah, macet berat, jalan-jalan hanya di satu hall,
padat orang, barang-barang indah (let's say: imajinasi akan hari
pernikahanku sekarang semakin lengkap dengan kebaya yang akan aku pakai
:D), tidak membeli apa-apa. And, oh yeah, great lunch!
Sore: Bowling
Masih bertiga. Tempatnya enak, sepi pas kita dateng. Had several
strikes, tapi anehnya...begitu strike, langsung nggak sukses lagi. End
up being the loser of the afternoon. I got my ass kicked by my mom!
(Well, anyway, tell me something new...)
Malam: Ronggeng di TUK
Akhirnyaa...
Jumat malemnya ditolak masuk gara-gara dateng baru jam 08.15, dan
katanya nggak bisa masuk gara-gara 'panggungnya' pas di depan pintu.
Yeah, right! Besoknya, sampai jam 08.30 aja masih bisa pada nyelusup
masuk. Dan nggak bener tuh 'panggungnya' pas di depan pintu. Banyak
yang nggak aku ngertiin dari kata-kata yang dinyanyiin, tapi..it was
fun.
Perfect day.
THE END.
Posted at 09:27 pm by i_artharini
Permalink
Ada seorang penulis di kantorku yang tidak bisa tidak menampilkan
wajahnya dalam ukuran cukup signifikan pada poster-poster buku yang
akan diluncurkannya. Setidaknya, pada dua buku terakhirnya.
Poster pertama peluncuran bukunya yang aku lihat, 3/4nya didominasi
oleh foto dirinya, berpose telanjang dada. Sekarang, poster kedua
peluncuran bukunya--buku yang berbeda--tentang Chairil Anwar,
menampilkan foto Chairil Anwar, dan fotonya sendiri. Seakan hampir
berhadapan.
Duh, walaupun itu bukumu, tapi bukunya tentang Chairil kan?
Bukan tentangmu kan?
Anyway, who am I to judge. Tapi, pas pertama kali ngeliat posternya, reaksi pertamaku, "Ah, sooo typical of him."
(Btw, ada yang pernah lihat seorang penulis begitu bersemangat
memampangkan wajahnya dimana-mana? Aku, nggak pernah. Makanya itu, jadi
ngerasa rada aneh melihat yang satu ini.)
Posted at 08:21 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, April 23, 2006
Mengintip Keseharian Virginia
Aku sekarang tak lagi takut dengan Virginia Woolf. Aku jatuh cinta
dengannya. Aku menilainya sebagai orang yang menyenangkan ketika
berbicara tentang buku. Ia memang sosok yang nyinyir ketika berbicara
tentang orang-orang di sekitarnya. Tapi aku merasa tak lagi takut
membaca tulisan-tulisannya.
Pasalnya, beberapa hari ini aku sedang mencuri-curi baca buku
hariannya. Buku itu memang milikku, tapi tetap saja, aku merasa mencuri
milik seseorang; rekaman tentang kehidupan kesehariannya. Leonard
memang membatasi isi buku harian yang ditunjukkan di buku itu. Hanya
tentang proses-proses kepenulisan, berlatih menulis, buku yang
rencananya akan ia tulis, esai-esai yang ditulisnya, proses
penelitiannya, etc. Membaca tentang keseharian Virginia
membuatku merasa lega. Seorang Virginia Woolf pun memiliki keengganan
untuk mulai membaca 'Ulysses' karya Joyce. Lalu ia menulis, baru
sekaranglah, pada usia 38 ia bisa mengerti bagaimana otaknya bekerja
dan tidak merasa cemas ketika mengalami writer's block. Sampai pada
kecemasan-kecemasannya tentang hal yang, kalau terjadi padaku, akan
aku anggap sepele, walaupun tetap akan diributkan; seperti tidak
teraturnya ia mengisi buku hariannya. Dan aku merasa lega,
seorang Virginia pun akan merasa hancur bila tulisannya tak diterima
oleh teman-temannya di komunitas Bloomsbury. Virginia yang
mengkhawatirkan resensi-resensi tentang bukunya; walaupun akhirnya ia
tetap bersemangat ketika mendapat resensi buruk tapi menerima pujian
dari karibnya, Lytton Strachey. Ada banyak ide tentang
mendesain kerangka sebuah novel dalam buku hariannya itu. Dan tentang
ide, Virginia adalah sosok yang tepat untuk memberi masukan. Salah
satu kekuatan Virginia, menurutku lewat buku harian itu, adalah
bentuk. Ia merancang dengan detil bentuk-bentuk tulisan yang akan
ditulisnya. Ia berbicara tentang bentuk jauh lebih banyak daripada
tentang karakter atau dialog atau setting. Dan tidak ada
keraguan lagi akan kecerdasannya, akan kecintaannya pada kata-kata dan
hal-hal detil yang ia lihat sehari-hari, pada bacaan dan sastra yang
tak terentang waktu, dan akan menulis. Ia beristirahat dari
menulis novelnya dengan menulis; cerita-cerita kecil atau buku harian
atau esai tentang buku. Ini mungkin akan menjadi buku Virginia Woolf
pertama yang bisa aku selesaikan. Dari sini, mungkin bisa mulai Mrs D
lagi dari awal untuk keempat atau lima kalinya (sebelumnya tak pernah
selesai), dan Orlando. Ah, aku sedang tidak kehabisan pujian untuk perempuan satu ini. (Btw, Selamat Hari Kartini!)
Posted at 08:30 pm by i_artharini
Permalink
Daaaaaaaaaaaaaaammmmnnn, Pharreeeellll!
You're hooooooooooooooooootttt!
(Suatu malam, nonton MTV, melihat sekilas pembuatan video klipnya
Mariah Carey dan Pharrel Williams di Paris. Aku lupa judulnya. Pharrel
di situ memakai jas lengkap. Lookin ' smokin'! For the record, aku
masih merasa miris, that now, the only guy who has the capability to
turn me on is...someone that I saw on TV. Chemistry-ku sama cowok-cowok
di kehidupan sehari-hari lagi benar-benar nol. Mungkin ini rasanya
pasca terapi hormon. Tapi, hmm, aku masih menikmati aja nih kekosongan
yang sekarang lagi dikasih oleh hidup. Ah, pasti nanti-nanti bakal
ngangenin kalo hidup mulai hectic lagi..)
Posted at 08:22 pm by i_artharini
Permalink
Hasil nonton marathon sitkom Scrubs season 1 dan 2; sebuah ide.
Kenapaaa coba nggak mbuat skenario berdasarkan pengalaman nyata kami
menjadi jurnalis pemula berkemeja biru? Atau, well, setidaknya
pengalaman nyata menjadi jurnalis pemula.
Konsep dasarnya, seperti Scrubs itu.
Nyontek ya, sebenernya?
Tapi ada beberapa kesamaan lho antara para dokter-dokter muda, intern,
di Scrubs dan saya dan teman-teman. Pertama, yang paling simpel aja,
baju yang mereka pakai dan baju yang kami pakai. Mereka memakai scrubs
(seragam walaupun warnanya macam-macam), kami, memakai seragam kemeja
biru. Jam kerja mereka yang panjang, sama, kami juga.
Terus, tentang kesulitan-kesulitan yang mereka temui saat berhadapan
dengan pasien, atau Dr Cox si mentor pemberontak, dan Dr Kelso yang
mewakili kapitalisme rumahsakit. Hmm, kami juga mengalami hal yang
sama; dengan narasumber, redaktur-redaktur yang slengean, dan
mereka-mereka yang mencoba melampaui dua-tiga pulau dengan satu
dayungan.
Lalu ada masalah persaingan antar sesama, belajar menjadi dokter yang
baik, cinta-cinta lokasi karena kehidupan sosial yang minim, berusaha
mendapat penghargaan dari lingkungan kerja dan perhatian tentunya. Tapi
yang paling penting tentang menemukan teman-teman baik yang akhirnya
lebih menjadi keluarga. Dan ah, itu semua nggak asing buat kami disini.
Tapi...(atau mungkin aku memang malas, sehingga belum apa-apa sudah
membuat alasan..), bukannya sebentar lagi akan ada 'Dunia Tanpa Koma'
ya? Sinetronnya Dian Sastro sebagai wartawan kriminal muda, yang
skenarionya ditulis oleh Leila S.Chudori?
Ah.
Hmmm...
Posted at 07:56 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, April 20, 2006
Sebuah pertanyaan sederhana yang aku tidak tahu jawabannya: Makanan terenak apa yang pernah kamu makan?
Seorang teman menanyakannya kemarin malam, saat aku sedang menyantap
Chicken Tandoori dari kantin kantor (rasanya seperti rendang ayam sih
sebenarnya...Bumbu Tandoori instan paketan yang dulu sering aku beli
buat bahan makan malam pas kuliah rasanya lebih jelas deh..), dan si
teman menyantap Cordon Bleu.
(Ah, there's nothing like the foods in our pretentious canteen..I meant it as a cynical comment.)
Ada teman lain yang bercerita dia pernah makan Kobe beef karena
ditraktir temannya seorang pialang, tapi aku cukup tertegun, tidak bisa
memikirkan jawaban atas pertanyaan itu. Dan iya, tertegun juga atas
harga total tagihan Kobe beef dalam cerita si teman.
Akhirnya. karena tidak bisa menjawab, aku membalik pertanyaan itu pada
yang menanyakan. "Ikan tuna kalengan," jawabnya cepat. "Terus
macem-macem soto juga suka," tambahnya.
"Sebentar, kenapa ikan tuna kalengan?"
"Ya...karena bisa terus-terusan makan aja."
"Oh, kalau definisinya itu sih...berarti jawabanku, sate ayam. Ya, karena nggak berenti-berenti aja makannya."
"Oh, terus cincau juga. Cincau item. That, I cannot get enough of," tambahku lagi. "Leci kalengan juga.."
But still, kalau ditanya tentang hidangan, meal, daftar jawabanku masih
panjang sih. Tapi waktu itu, kenapa jawaban pertama di otakku itu pasta
ya?
Dan jadinya mendaftar pasta-pasta yang pernah aku masak. Simply,
because it's the cheapest food product that I can find waktu kuliah
dulu. Penne dengan saus merah tuna. Oh, ini juga, penne dan bayam
rebus, disiram saus alfredo. Spaghetti yang cuma disiram minyak cabe.
Come to think of it, kayaknya ini mah bukan karena makanannya, tapi
occassionnya waktu makan makanan ini. Pas lagi kumpul-kumpul,
bareng-bareng. Ah, jadi kangen pasta dan atribut-atribut pertemanan di
belakangnya...
But anyway, sambil mencari-cari jawaban pertanyaan 'makanan terenak
apa..', aku jadi menyimpulkan, bahwa kejadiannya itulah yang lebih
membuat si makanan terasa enak. Makanan yang dimakan setelah seharian
di kampus, nyelesein skripsi, terus pulang, belanja dulu di Dirk deket
rumah, masak, terus makan di depan tivi, di ruangan yang hangat. Damn,
even the shitload of washing up to do is fun.
Hmm, mungkin harus mulai masak-masak lagi nih...
Posted at 09:52 pm by i_artharini
Permalink
Can you believe it? Dari Senin, pas Rani sampai Jakarta dari Yogya,
sampai Rabu malam kemarin aku pulang kantor, aku belum ketemu sama itu
anak. Akhirnya ketemuan baru tadi pagi.
Dan dia dengan sok marahnya nanya, "EH, kamu sadar nggak sih, dari aku pulang kita belum ketemuan?"
"Iya. Sadar. Lha aku pulang selalu disambut dengan semua orang udah pada tidur gitu. Kamu berangkat pagi-pagi banget."
"Lho, kamu kan bisa mbangunin aku pas kamu pulang," katanya. Btw, emang dia nggak grumpy dibangunin malem-malem?
"Ih males. Kamu kan juga bisa mbangunin aku pagi-pagi sebelum
berangkat," aku membalas. "Aku kan nunggu kamu yang nyari," tambahku
lagi. "Alasanmu apa?"
"Aku juga nunggu dicariin kok," jawabnya.
Hrgghergrhgrhgrghrgh.
Posted at 09:21 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|