PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, April 19, 2006
Anak Perempuan Ayahku

Aku masih bisa mengingat terakhir kalinya aku ingin kembali jadi anak kecil dan percaya sepenuhnya pada ayahku. Mengidolakannya dengan seluruh kekuatan hati, dan ayahku adalah sosok lelaki sempurna.

Hari Minggu lalu.

Adikku sedang di luar kota, aku dan ayah ibuku pergi berkeliling entah ke mana. Ayahku yang mengendarai mobil. Aku lupa tepatnya dimana kami saat itu, ketika ia mengatakan,  tunggu...mungkin kami sedang berada di Prumpung, dan ia mengatakan, "Wah, anginnya udah kenceng banget. Liat, debu-debunya pada terbang. Sebentar lagi pasti mau hujan besar."

That's it.

Dan, aku percaya pada kata-katanya.
Saat itu, aku kembali menjadi anak kecil yang melihat ayahku sebagai sosok yang serba tahu dan punya jawaban atas segalanya.

Hanya untuk sekejap, ayahku kembali menjadi ayahku, dan aku kembali menjadi anak perempuannya yang masih kecil.

Kenapa semua tidak kembali sederhana seperti itu?

Bahwa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang anak perempuan yang baik hanya sekedar komentar tentang cuaca.

Posted at 10:28 pm by i_artharini
Make a comment  

Eureka, It's Buddy!

Tadi pagi, aku bangun dengan suatu jawaban. "Mungkinkah adegan Seymour itu ada di surat yang diterima dan dibaca oleh Zooey? Bukankah ada sebuah surat dari kakak laki-lakinya itu? Surat yang entah usianya sudah berapa tahun, dengan tepi-tepi yang sudah menguning..."

Aku berlari ke atas sambil berkata berulang-ulang, "Surat, surat, surat."

Membaca cepat bagian Zooey, dan ternyata benar. Ada sebuah surat. Tapi surat itu dibaca oleh Zooey saat ia berendam. Sementara sebelumnya aku ingat, surat itu dibacakan oleh Zooey ke Franny. Jadi, aku menyusuri halamannya kurang ke belakang. Well, aku nggak bolak-balik bukunya dari awal sih. Tapi ternyata aku menyusuri halamannya kurang ke belakang.

Dan surat itu, dari Buddy. Kejadian dengan gadis cilik di supermarket itu juga dialami oleh Buddy. Bukan Seymour. Tapi Buddy mengutip sesuatu yang dikatakan oleh Seymour tentang arti kejadian yang dialaminya.

Kejadian tepatnya, seperti ini:

"I was standing at the meat counter, waiting for some rib lamb chops to be cut. A young mother and her little girl were waiting around, too. The little girl was about four, and, to pass the time, she leaned her back against the glass showcase and stared up at my unshaven face. I told her she was about the prettiest little girl I'd seen all day. Which made sense to her; she nodded. I said I'd bet she had a lot of boy friends. I got the same nod again. I asked her how many boy friends she had. She held up two fingers. "Two!" I said. "That's a lot of boy friends. What are their names, sweetheart?" Said she, in a piercing voice, "Bobby and Dorothy." I grabbed my lamb chops and ran. But that's exactly what brought on this letter--much more than Bessie's insistence that I write to you about Ph.D.s and acting. That, and a haiku-style poem I found in the hotel room where Seymour shot himself. It was written in pencil on the desk blotter: "The little girl on the plane/ Who turned her doll's head around/ To look at me."

('Franny and Zooey' -- JD Salinger)

Alasannya si Buddy ketakutan adalah sesuatu yang dikatakan Seymour tentang pelajaran 'agama' atau tentang religiusitas 'yang baik'. Tapi, sebelumnya, ada alasan di balik 'pelajaran agama yang baik' menurut Seymour dan Buddy. Kata mereka:

"Much, much more important, though, Seymour had already begun to believe (and I agreed with him, as far as I was able to see the point) that education by any name would smell as sweet, and maybe much sweeter, if it didn't begin with a quest for knowledge at all but with a quest, as Zen would put it, for no-knowledge. Dr. Suzuki says somewhere that to be in a state of pure consciousness--satori--is to be with God before he said, Let there be light. Seymour and I thought it might be a good thing to hold back this light from you and Franny (at least as far as we were able), and all the many lower, more fashionable lighting effects--the arts, sciences, classics, languages--till you were both able at least to conceive of a state of being where the mind knows the source of all light. We thought it would be wonderfully constructive to at least (that is, if our own "limitations" got in the way) tell you as much as we knew about the men--the saints, the arhats, the bodhisattvas, the jivanmuktas--who knew something or everything about this state of being. That is, we wanted you both to know who and what Jesus and Gautama and Lao-tse and Shan-karacharya and Hui-neng and Sri Ramakrishna, etc., were before you knew too much or anything about Homer or Shakespeare or even Blake or Whitman, let alone George Washington and his cherry tree or the definition of a peninsula or how to parse a sentence. That, anyway, was the big idea."

('Franny and Zooey' -- JD Salinger)


Dan, signifikansi kejadian di supermarket itu, menurut Seymour, dalam surat Buddy untuk Zooey, adalah:

"But I swear to you that I had a perfectly communicable little vision of truth (lamb-chop division) this afternoon the very instant that child told me her boy friends' names were Bobby and Dorothy. Seymour once said to me--in a crosstown bus, of all places-- that all legitimate religious study must lead to unlearning the differences, the illusory differences, between boys and girls, animals and stones, day and night, heat and cold. That suddenly hit me at the meat counter, and it seemed a matter of life and death to drive home at seventy miles an hour to get a letter off to you. Oh, God, how I wish I'd grabbed a pencil right there in the supermarket and not trusted the roads home."

('Franny and Zooey' -- JD Salinger)

Nah.
Sekarang aku bisa tenang.

Posted at 09:06 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, April 18, 2006
Cerita Yang Hilang Tentang Seymour

Aku gelisah karena tidak bisa menemukan sebuah cerita tentang Seymour Glass. Dulu, saat pertama kali membaca salah satu cerita Salinger, aku ingat pernah membaca kisah yang ini: Buddy, mengirim surat ke Zooey, bercerita tentang Seymour.  Isinya, Seymour pernah bercerita ke Buddy tentang seorang gadis kecil yang ditemuinya di supermarket. Seymour tersenyum dan menyapanya, berbasa-basi. Aku sendiri lupa apa saja pertanyaannya. Tapi pertanyaan terakhir Seymour adalah: tell me little girl, do you have a boyfriend? Dan si gadis cilik itu menjawab, "yes. I have two. One is a boy, and one is a girl."

Dan, Seymour, mendengar jawaban ini, lari ke rumah dan menuliskan surat tentang pengalaman ini ke Buddy (yang ini aku tidak begitu yakin, tapi aku ingat jelas tentang bagian berlari secepat-cepatnya menjauhi anak kecil ini). Yang ini aku sudah tidak begitu yakin, tapi sumber ketakutan Seymour adalah kemampuan si anak kecil ini untuk bisa melihat di luar kulit.

Tapi aku tidak yakin dengan kesimpulan ini, dan ingin membacanya sekali lagi.

Aku kira, bagian ini ada di 'Franny and Zooey'. Tapi, aku sudah membolak-baliknya dua kali, tadi pagi terakhir, dan sebelumnya satu bulan yang lalu sepertinya...aku tidak bisa menemukan kisah ini.

Am I imagining it and mistaking that passage from another writer's?

Sepertinya tidak. Karena aku bisa mengingat dengan jelas siapa-siapanya di sana, dan kejadiannya, dan kejadian yang digambarkan itu amat sangat Salinger-like.

Aku mbolak-mbalik Nine Stories, nggak ada juga tuh. Di Raise High the Roofbeam, Carpenters; aku baru sekali membacanya. Di sini. Sementara cerita ini aku baca waktu kuliah dulu.   

Google juga tidak memberi jawaban yang jelas.

Urgh. Gimana bisa ini kejadian?

Posted at 09:46 pm by i_artharini
Make a comment  

Sunday, April 16, 2006
Pelajaran Keanggunan

Beberapa hari yang lalu, baru nonton 'High Fidelity' lagi, gara-gara Rani mbeliin (tapi nantinya harus ngganti) DVD original film itu. Nggak disangka, ternyata pelajaran menjadi seorang perempuan yang anggun itu justru didapat dari sebuah film yang maskulin; bukan film-film Audrey Hepburn, seperti yang aku harapkan.

Wait, apa ini artinya, aku menggunakan standar patriarkis dalam menentukan sebuah keanggunan? Hmm, nggak juga sih, cause this is what I love about Hornby's male character; they have this...feminine side(?). Nggak pasti apa itu sebenarnya yang aku cari, tapi udah ditungguin sama temen pulang.

Pelajaran keanggunan itu lewat kutipan 'High Fidelity' yang ini:

"Top five things I miss about Laura. One; sense of humor. Very dry, but it can also be warm and forgiving. And she's got one of the best all time laughs in the history of all time laughs, she laughs with her entire body. Two; she's got character. Or at least she had character before the Ian nightmare. She's loyal and honest, and she doesn't even take it out on people when she's having a bad day. That's character.

(kalau yang ini mungkin a matter of human chemistry) Three; I miss her smell, and the way she tastes. It's a mystery of human chemistry and I don't understand it, some people, as far as their senses are concerned, just feel like home.

"Four, I really dig how she walks around. It's like she doesn't care how she looks or what she projects and it's not that she doesn't care it's just, she's not affected I guess, and that gives her grace."

(Yang kelima ini sih benerannya nggak gitu berhubungan ama pelajaran keanggunan itu, tapi demi kelengkapan kutipan... ya sudahlah)"And five; she does this thing in bed when she can't get to sleep, she kinda half moans and then rubs her feet together an equal number of times...it just kills me. Believe me, I mean, I could do a top five things about her that drive me crazy but it's just your garden variety women you know, schizo stuff and that's the kind of thing that got me here."

There.

 

Posted at 08:59 pm by i_artharini
Make a comment  

Emas-emas Seharga 50 Sen

Jarang sekali di Jakarta menemukan sebuah flea market buku, yang bau-baunya dan harga-harganya benar-benar mencerminkan flea market.

Kategorinya harga dan bau flea market sendiri seperti apa? Hmm, mungkin lebih baik lewat cerita kali ya? Contohnya sih, pas perpus kampus mengurangi koleksi bukunya, dan menjual buku-buku itu seharga 50 sen. Dari situ, aku bisa dapat: Complete Poems of Emily Dickinson (saat aku masih belum mengetahui dan mengerti sama sekali tentang dia--sekarang juga masih belum sepenuhnya tahu dan mengerti sih..), tebalnya 600an halaman, seharga 50 sen. Complete Poems of Sylvia Plath juga sama. Ulysses juga, 50 sen.

Dan daftar itu terus berlanjut.

Far from the Madding Crowd, To Kill a Mockingbird, bukunya Tom Wolfe--jauh sebelum aku mendengar apa itu jurnalisme sastrawi, dua Kurt Vonnegut, buku-buku teori per-novel-an, Brideshead Revisited, Lives of Girls and Women...

50 sen.
5 ribu.
Semuanya.

Hal terdekat dengan flea market yang pernah aku alami di sini, itu tuh, toko buku di pojokan TIM. Menemukan bukunya Vita Sackville West, masterpiece-nya Carson McCullers -- The Heart is a Lonely Hunter --,  Auntie Mame, Lord Jim, A Tree Grows in Brooklyn, dan beberapa judul lain yang dijual 10 ribu per bukunya.

Memang, cukup membuat euforik. Tapi setelah itu, aku tidak pernah menemukan lagi yang sebanding dengan obralan perpustakaan itu. Sama saja seperti mencari emas di kaki pelangi.

Indah banget ya waktu itu...

Posted at 08:05 pm by i_artharini
Make a comment  

Ibu dan Kisah Cinta Gunung Brokeback

Sepertinya penasaranlah yang menggerakkan ibuku untuk menonton Brokeback Mountain. Atau, pada awalnya, menyuarakan keinginannya untuk menonton film tersebut.

Ayahku langsung menolak ajakannya untuk menonton film itu di bioskop; untuk alasan yang sudah cukup jelas sehingga tak perlu lagi diucapkan. Istilah yang menyederhanakan film ini menjadi 'the gay cowboy movie' membuatnya jengah. Atau malah mungkin lebih dari itu. Aku tidak tahu.

Ibuku tahu, adikku sudah menontonnya bersama teman-temannya. Itu saat keinginannya untuk menonton film tersebut sedang tinggi-tingginya. Ia merasa tertinggal.

Aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi tiba-tiba ada satu copy DVD (bajakan pastinya) 'Brokeback Mountain' di tumpukan atas arsip-arsipnya, di baki arsip dari plastik, sejenis in-tray out-tray, di atas peti kayu, di sebelah kanan meja kerjanya.

"Ih, tapi nggak sukses nih. Belum bagus gambarnya," jawabnya, setelah aku tanya, bagaimana film itu, menurutnya.

Akhirnya, weekend seminggu lalu, Ibuku membeli lagi DVD film itu. Tetap bajakan. Dan di tengah-tengah marathon menonton serial sitkom Scrubs, Ibuku keluar dari ruang kerjanya untuk mengambil air.

"Ran, waktu di bioskop, dilihatin semua nggak sih adegan cowok sama cowoknya?"
Adikku menjawab dengan gumaman tidak jelas. Ibuku akhirnya melanjutkan sendiri, "Aduh, mama pusing lho lihatnya. Kayak otak mama muter gitu, ada sesuatu yang muter di belakang kepala ngeliat mereka. Sekarang pusing banget." Ibuku melanjutkan minum air putih dinginnya.

Tak ada dari kami yang memberikan jawaban jelas atas komentarnya. Aku, dalam hati, cuma bertanya-tanya, apakah sesuatu yang berputar jungkir balik dalam kepalanya itu ketika melihat Jack Twist dan Ennis Del Mar? Mungkinkah standar-standar dan norma-norma yang kita percaya terkumpul di satu bagian otak tersendiri, dan bagian itulah yang berputar kala standar dan norma itu tertantang? Dan apa yang terjadi setelah jungkir balik itu terjadi? Apakah itu saat pikiran kita menjadi lebih terbuka?    

Posted at 07:41 pm by i_artharini
Make a comment  

Bersulang untuk Salinger

Mari bersulang!

Hari ini, aku akhirnya melengkapi koleksi Salinger-ku; 'Franny and Zooey' dan 'For Esme, With Love and Squalor' ('Nine Stories'). Harganya, masih lumayan, ah-heermm.., tapi lumayanlah.

Sebelumnya, sudah pernah membaca keduanya, tapi waktu itu belum bisa menghargai detil percakapan khas Salinger. Tapi khusus untuk 'Franny and Zooey', waktu itu dibaca back-to-back sama 'The Bell Jar'; hmm, serasa menemukan sebuah dunia tempat para perempuan muda 20-something mencoba 'mengobati' meltdown-nya, sebuah krisis kepercayaan atas dirinya dan dunianya.

(Mungkinkah itu krisis tertua di dunia?)

(Hmm...kenapa ya, dulu tertarik banget sama 'genre' itu, female meltdowns...)

Hhmm, still. Bersulang lagi ah untuk Salinger.

(Walaupun, minuman apa yang cocok untuk bersulang bagi Salinger? Orang ini such a freak dalam memilih makanan dan memelihara kesehatannya. Dan dari tulisan-tulisannya pun, apa sih sebenarnya jenis minuman yang cocok untuk dibandingkan sama tulisannya? Kalau dibandingkan dengan Hemingway, contohnya? Wine mungkin tepat... Dan dari tulisan pun Hemingway bisa diidentikkan dengan minuman ini. Tapi, Salinger?)




Posted at 07:11 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, April 06, 2006
Pengekalan Sebuah Sabtu

Ini adalah sebuah catatan tentang hari yang menyenangkan. Sabtu kemarin, seharian, aku benar-benar non stop mengalami keceriaan demi keceriaan. Tidak ada satu titik pun dari garis panjang hari itu yang rusak. Benar-benar sempurna. Indah.

Bangun pagi, janjian di depan Museum Bank Mandiri jam 9. Jam 7.30, udah keluar dari rumah. Udara memang sudah nggak segar lagi, tapi...suatu kebanggaan tersendiri bisa ada di luar rumah, di akhir pekan, jam segitu.

Jam 8.45, di depan Gajah Mada Plaza, seorang teman yang mau jadi partisipan jalan-jalan pagi nelpon. "Gimana niiiihhhhh??? Aku baru banguuuun, belum mandiiii..." katanya memelas. (Btw, katanya Stephen King di 'On Writing', kata keterangan itu seharusnya dikurangin kan?) Aku cuma, haha-hehe, ya sudah nanti aja gabungnya.

Dan, pas itu juga baru baca sms dari teman lain, another participant. "Sorry ya, aku nggak jadi ikut, ada liputan lain, yang ikut jadi si Tuan Hitam dan Nona Putih. Terserah lu mau ikut atau nggak," kata sms-nya.

Huks.

Akhirnya, pas ketemuan sama si Nona Putih, dan tau si Skinny Ass Rapper itu nggak jadi ikut, dia juga males kalau cuman nganterin si Tuan Hitam. "Gimana kalo besok aja?" katanya pas nelpon si Tuan Hitam, "soalnya besok ada acara jalan-jalan bareng komunitasnya." Menurut Nona Putih, yang ditelpon sudah dalam kereta, tapi menjawab antusias, ya sudah...besok aja.

(Bentar, Nona Putih..Tuan Hitam..Skinny-Ass Rapper. Gila. Kenapa aku jadi fisik banget?)

Pas lagi nggosip kanan kiri nungguin teman yang belum datang, tiba-tiba ngeliat sebuah wajah setengah baya yang dikenal. Lagi jadi pimpinan rombongan,  dan berjalan cepat.

"Lho, itu kan Bondan Winarno?" aku bilang.
"Ya udaaahh, ikutin yuk, ikutin yuk.." kata si Nona itu.

Dan di saat yang bersamaan, datanglah si teman yang ditungguin. Dan terbirit-biritlah kita ngejar BW, yang ternyata berbelok di sebuah gang kecil, penuh dengan warung-warung kopi Tionghoa. Salah satunya, jadi tempat syuting 'Berbagi Suami', sebagai set Bebek Goreng Koh Abun.

Harapan kami mencicipi makanan enak plus halal khas BW terpaksa terhenti ketika dia dan rombongannya...memasuki warung nasi campur.

Dari situ, kita jalan ke Gedung Arsip Nasional, dan foto-fotolah di sana. Dapet juga buku bekas, kumpulan cerpen seorang penulis yang aku belum pernah dengar namanya, tapi sebagian besar cerpennya pernah muncul di The New Yorker. Berarti...ceritanya tentang detil-detil keseharian dengan dialog-dialog yang life-like tapi lancar; seperti cerpen-cerpennya Dorothy Parker dan Salinger (sok tahu bentar; katanya Parker dan Salinger memang 'mendirikan' genre baru, genre 'cerita pendek The New Yorker').

Terus lanjut ke Plaza Semanggi, karena si Nona Putih itu mau potong rambut. Sore-nya, pas udah pisah, aku lanjut ke TIM.

Janjian sama ortu untuk nonton pertunjukannya tante. Dan ternyata, pas sampai sana...yang dateng lengkap; oom dan istri dan anak-anaknya (aduuhh, udah lama nggak ketemu bayi-bayi itu, yang...surprisingly, seneng ketemu aku...terharu..), dan dua tante.

Pintunya belum buka, jadinya liat-liat dulu ke toko buku, dan...nemu buku kumpulan puisinya Subagio Sastrowardojo yang 'Keroncong Motinggo' seharga 12.500. Yang paling nyenengin sih sebenarnya isi buku itu, ada bagian yang judulnya 'Kenapa Saya Menulis Sajak'. He has become a recent favorite. Well, tepatnya, langsung jatuh cinta sih pas mbolak-mbalik, mbaca-mbaca puisinya.

Btw, aku rada jarang euy nemu sebuah buku yang menjelaskan tentang proses kreatif penulis Indonesia. Atau alasan yang mendasari kenapa sih mereka menulis, apa artinya menulis buat mereka. Aku yakin buku-buku itu ada, tapi aku nggak tahu aja kali ya judul-judulnya.

Teaternya sih...ya lumayanlah. Nggak banyak eksperimen. Solely based on acting dan naskah yang ketat. Ritmenya cukup cepat. Di bukletnya sendiri, ditulis...naskahnya juga bukan yang terbaik, sedikit nggurui pada beberapa titik, dan ada keklisean dalam dialog. Selain itu, ada beberapa funny line yang bisa ditebak arahnya. Tapi aktingnya emang keren banget. Ya kombinasi singing-acting-dancing-nya lah yang total.

Dan mungkin ini berarti sesuatu, atau mungkin tidak, tapi si tante, di backstage, setelah pertunjukan, setelah ngobrol dengan ortu dan adik-adiknya, memeluk aku dan nanya, "Gimana tadi? Seneng nggak kamu?"

Sampe tersipu-sipu jawabnya. As if, she really cares about my opinion on her work. Padahal kita juga nggak gitu deket.

Dan, ketemu sama seorang cowok yang sebelumnya pernah tukeran nomor telepon. Heheheh.

***

Besoknya, pas nerima Kompas Minggu, ngeliat foto HL-nya serasa balik lagi ke hari Sabtu. Dan mata yang emang belum bener-bener kebuka pas ngeliat foto itu, jadi membuat aku ngerasa nggak yakin...Apa sekarang sudah Minggu, atau masih bermimpi ya?

Emang sih, kemarinnya, di buku tamu, ngeliat nama seorang fotografer harian nomor satu itu, pas di atas nama kita.

Hmm, tapi, if Saturday was such a perfect day, kenapa ya, ketika saya menuliskannya lagi kok terasa tidak terlalu istimewa?  Mungkin emang bener ya, dokumentasi itu sifatnya memang selalu mereduksi.

Posted at 01:14 am by i_artharini
Comments (3)  

Wednesday, April 05, 2006
Iya Nggak Ya?

Jadi punya sudden urge untuk ke Bandung Sabtu ini.

(Berarti sudah nggak sudden lagi ya kalau 'masih' buat Sabtu ini?)

Sebenarnya hanya buat mencari tahu tentang seluk beluk suatu dunia yang pengen aku masuki. Walaupun, buat pergantian suasana juga sih.

Is it worth it?

Maksudnya, apa nanti-nantinya nggak cuman jadi 'no-action-talk-only' dan bisa bener-bener ngehasilin sesuatu?

Ah, aku kayaknya worried too much deh.
Tapi minim aksi.
Huh.

Posted at 11:10 pm by i_artharini
Comment (1)  

Tuesday, April 04, 2006
Total Complainer

Aku merasa hampir mati. Kolamku seperti sedang dikeringkan. Ditaruh di suatu tempat yang menghisap habis semangat kerja. Atau setidaknya, minimnya, bahkan untuk menyemangati diri pun aku nggak lagi punya tenaga.

Fiuh.

Bisa sensitif banget kalau ditelpon sama atasan, yang sepertinya juga lagi clueless. Disuruh wawancara orang tentang sebuah wacana yang lex generalis banget, tapi nggak bisa menjelaskan detilnya apa sih sebenarnya yang mau dicari, atau ditulis.

Alhasil, ketika tadi ketemuan sama orang yang diwawancara, hasilnya masih umum banget, karena nggak tau...sebenarnya mau dikerucutin kemana, dan nggak mungkin kan ngobrol lima jam sama orang ini hanya sekedar ngalor-ngidul.

Dan ketika komunikasi masalah kerjaan terjadi, bahasa tubuh yang 'terlepas' itu jadi defensif banget hasilnya. Gawat, bahaya, aku tahu. Tapi ketika balik lagi ke kantor, aku kerasa nggak kuat lagi berhadapan dengan ketidakpastian.

Maksudnya apa sih sebenarnya dengan semua ini?

Oke, mencoba untuk tetap produktif walaupun di jalur lain. Dan jatuh-jatuhnya jadi  melakukan reduksi dari apa yang sebenarnya ingin aku kerjain. Ah, setidaknya, masih ada sesuatu yang bisa aku kerjain kali ya...Setidaknya, walaupun lagi sekarat, masih nyoba untuk bernafas tanpa bantuan alat lah.

Asphyxation.

Aku belum ngecek ke kamus arti kata itu, tapi kata itu yang aku rasakan sedang aku alami. Bunyi kata itu bergulung-gulung di lidah persis seperti yang aku rasakan sekarang.

Dan ketika weekend kemarin yang benar-benar sempurna membuat aku lupa sama semua masalah kerjaan seminggu sebelumnya; balik lagi hari Senin-nya, dan diarahkan untuk ngewawancara seorang narasumber yang tidak tepat untuk membuat tulisan yang belum jelas arahnya ke mana bener-bener mbuat judeg.

Pas dikasih tau temen se-tim, yang bilang, "iya..kemana kita mo jalan tergantung apa yang kamu dapetin." Lho gimana sih? Jadi aku berangkat dari apa? Kemarin katanya ada 'pesenan'. Kayaknya apa yang aku dapetin juga bisa didapet dari riset-riset internet deh.

GAAAAHHHHH...

Sampe kapan sih aku harus nahan di sini, dan nggak minta pindah?
Bahkan sekarang the smallest amount of pertanyaan normal dari atasan atau temen se-tim bener-bener membuat aku jatuh ke sikap yang negatif.

Lelah, man. Lelah.

Susah untuk bisa semangat ketika aku ngeliat orang-orang lain bergerak, belajar dengan ceria, ketemu orang baru setiap harinya yang ngasih tambahan ilmu; sementara aku...hrgrhhfhgrhgdfrhhrhhffggghhh.

Posted at 09:09 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page