"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Monday, March 31, 2008
F: btw nari, mac pny lipstick merah keren bgt a la dita von teese. namanya ruby woo. yummmmmmmmmmm me: uughhh aku pengen red lipstick kayak gitu. atau kayak karen o. dia kayaknya selalu punya varied degrees of red lipstick deh. kamu udah pernah nyoba?
F: hehehe karen o ![[tongue]](http://mail.google.com/mail/images/cleardot.gif) . blm sih, yg nyobain si nany, dan bibirnya sok luscious gitu nar. cmn ruby woo ini matte, jadi ga cocok utk bibir pecah2 ![[tongue]](http://mail.google.com/mail/images/cleardot.gif) . sama nany dikasih extra layer of lipgloss warna peach gitu dan hasilnya WOW. i love ruby woo me: jadinya gimana kalo dikasih peach layer? btw matte bukannya kesannya jadi lebih tua ya?
F: not really.
bikin jadi rada glamorous dan fresh gitu. kl matte tuh kesannya kan yg
classic. kl ada glossy effect jadi nambah2in the pow effect!
me: waahhhh glamorous and fresh. aku mauuuu... F: ugh i wish red lipstick could fix my love life. life wouldve been easier ![[tongue]](http://mail.google.com/mail/images/cleardot.gif)
me: hahahahhahaha. yeah, i wish for the same too. maybe that's why i want ruby woo.
Posted at 09:09 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, March 25, 2008
Menjelang akhir membaca jadi deg-degan, merinding, agak berkaca-kaca,
menghela nafas, tersenyum, tapi hatinya teraduk-aduk. Jika itu terjadi,
artinya aku sedang membaca sesuatu yang sangat bagus. Bagus banget.
Sooo fucking good.
Adanya di National Geographic Indonesia edisi April 2008. Benar-benar
McDreamy mas satu itu (Jangan ada ge er-ge er yang tidak perlu,
please). Aku beberapa kali tersenyum saat membaca artikelnya, tapi juga
beberapa kali merasa trenyuh. Di sini dan di sana ada kekayaan kosakata
dimunculkan, tapi tidak berlebihan. Bahannya pun punya tekstur, tapi
lapis demi lapisnya ditampilkan dengan sederhana. How does he write
with such humanity? How does one write with such humanity? So, so, so, so, so good.
Tulisannya dari sudut pandang si penulis, tapi dia bisa mengambil
keberjarakan yang adil? Tepat? Seimbang? Pokoknya takarannya pas. Tahu
di mana harus mengatakan 'saya' dengan semua deskripsi personalnya dan
kapan harus memunculkan kutipan. Rasanya ekuivalen dengan menonton Before Sunrise atau Before Sunset. (Atau ini kerjaan editornya ya?)
Tapi, hih, aku jadi merinding lagi. Beneran deh. Kalau
aku ketemu orangnya, aku baca artikel ini di depannya. Resikonya memang
akan terlihat sangat groupie, tapi, yah...dia sebagus itu.
Posted at 11:24 pm by i_artharini
Permalink
"Sehat semua?"
Yah, mungkin ini ujian terberat (so far) buat Media Insomnia. The most amount of personnel down, tiga orang dari 14 di redaksi.
Sakit kok ya kaya arisan. Tunggu giliran, pertama mbak redaktur, terus
kode tugas Internasional A, terus Ekonomi A, Photographer of the Year,
terus balik lagi ke Internasional A yang harus absen seminggu.
Waktu itu ada yang nanya, jadi kalian sama ya, kalau sakit nggak ada
gantinya? Pas banget sesudah pertanyaan itu, aku dengar Eva
sakit. Perfect timing. Padahal sebelumnya baruuu aja bertanya-tanya,
iya, gimana ya kalau pengisi halaman sakit, terus yang ngisi siapa. Ya
ternyata roda industri tetap berjalan seperti biasa tuh, hehe.
Nggak tahu deh ini, mata kanan kok dari tadi ngelihat selalu kabur.
Kacamatanya memang masih pakai resep lama sih, tapi kok sekarang terasa
kabur banget ya? Masa nambah lagi dari terakhir periksa? Atau cuma
ngantuk?
Hopefully in a decade, the price of LASIK will goes down dramatically. Cause then, without a doubt, I am going under the knife.
Posted at 10:27 pm by i_artharini
Permalink
I wanna talk to Seymour.
(Franny di Franny and Zooey)
Iya, aku juga. Atau berbicara dengan seseorang yang kenal sekali dengan Seymour. Buddy? Ah ya, ada Seymour: An Introduction.
Buku itu sebenarnya cuma catatan acak Buddy tentang sosok kakaknya.
Yang aku tangkap pun cuma patahan-patahan. Ada yang menarik sih.
Katanya Seymour selalu (atau hanya sekali ya?) mengaduk asbak yang
penuh abu rokok untuk mencari Tuhan. He was grinning from ear to ear,
dan menurut Buddy, 'seolah ia mencari Tuhan yang sedang meringkuk dan
bersembunyi di balik tumpukan abu. Dan dari caranya meringis lebar, ia
seperti menemukannya'.
I am not that extreme, because secondhand smoke kills. Tapi sepertinya
ada Tuhan di gulungan tisu toilet di kantor. Setiap kali ngambil untuk
ngelap tangan, eh selalu aja sudah ada lipatan segitiga di ujungnya,
seperti di hotel-hotel itu. Memang bukan sesuatu yang muncul secara
ajaib, ada mbak-mbak OG yang selalu melipat tiap orang selesai memakai
kubik toilet.
Itu kan sebenarnya futile attempt, usaha yang sia-sia. Maksudnya,
kenapa juga. Toh pasti akan selalu ada orang yang masuk, menyobek tisu,
bahkan langsung setelah segitiga itu selesai dilipat. Tapi itu tetap
dilakukannya. Nggak pernah absen. Karena aku selalu menemukan ujung
tisu itu terlipat segitiga selama si mbak masih terlihat.
What I am trying to say is that I see God in that very end of toilet
paper. Dan itu seharusnya bisa mengajarkanku sesuatu kan, tentang usaha
'sia-sia' yang tetap harus dilakukan. 'Sia-sia' atau tidak adalah
penilaian atas hasil kerja kan? Bukan aku yang menentukan apa itu
'berharga', 'penting' atau 'sia-sia'.
Posted at 04:32 am by i_artharini
Permalink
Juno said that she's at suicide risk by being pregnant. There's nothing
that puts me more at my suicide risk than knowing I will write
something bad. This is already 11.30 and I still don't know which one's
head and which one's foot. Or hands. (And oh, this is my current soundtrack while typing this: What gives, what helps The Intuition I'll know, I'll know Oh, I won't have to be shown The way home And it's not about a boy Although, although They can lead you Break and defeat you A destination known Only by the one Whose fate is overgrown Piecemeal can break your home In half A love is not complete With only heat And they can tease you Break or complete you And in came a heat wave A merciful save And you choose, you chose Poetry over prose A map is more unreal Than where you've been Or how you feel A map is more unreal Than where you've been Or how you feel And it's impossible to tell How important someone was And what you might have missed out on And how he might have changed it all And how you might have changed it all for him And how you might have changed it all And how he might have changed it all for you And did I, did I...? And did I, did I...? And did I, did I...? And did I, did I...? And did I, did I...? (Did I? Did I?) And did I, did I...? (Did I? Did I?) And did I, did I...? (Did I? Did I?) And did I, did I miss out on You...) Gila deh. Apa sebenarnya yang sedang terjadi sih? Kenapa aku merasa semuanya itu futile attempts?
Sia-sia aja.
Posted at 12:18 am by i_artharini
Permalink
Monday, March 24, 2008
Ya, ya, ya.
Lama kelamaan kok aku jadi seperti perkutut, bercelathu pada
waktu-waktu yang sudah bisa ditebak. Dan yang disampaikan pun cuma
sekadar sweet nothings. Atau malah bitter nothings.
Hari ini, bangun dengan mendapat wahyu. Well, pesan pendek sih
sebenarnya, tapi benar-benar membawa pencerahan. Sampai rumah baru jam
7, terus tidur, tapi pasang alarm buat jam 10. Pas jam 10 terbangun dan
mengingatkan, "Ayo, ayo, nyari orang di PU." Tapi terus merem lagi
dengan pembenaran: "Nanti telepon aja dehhh."
Akhirnya terbangun sekitar jam 12an kurang. Eh ada sms. Isinya undangan
makan siang bersama seorang menteri yang baru jadi profesor kehormatan.
Entah kenapa, kok ya aku bangun dan siap-siap mandi. Baru pas mau mandi
itu, logikanya jalan, "Oh iya, nanti sekalian tanya aja tentang
plastik." Jadwalnya 12.30 aja lho.
Berangkat dari rumah baru 12.51-an (ini menepat-nepatkan, biar agak
berbau The Strokes), naik ojek sampai lokasi. Baru beberapa puluh meter
dari rumah, aku buka-buka tas dan sadar, "Lho, hape manaaa? Balik dong,
bang, hapenya ketinggalan." Pas udah balik, aku ngeliat lagi ada
kantung hitam berserut di bagian atasnya dan tempelan bahan lurik dari
'kantung puisi' acaranya CCF. Ah, ternyata ada hape di dalamnya. Abang
ojek yang udah menuju arah rumah pun akhirnya kembali "do a 180".
Tiba di sana, lho, lho, lho, kok udah pada bubar? Eh ternyata lagi pada
mojok di satu ruang khusus. Dari situ, berangkat ke kantor naik 213.
Pas di macet-macetnya lepas Kampung Melayu, ada lagunya Feist dari
album pertama, Lover's Spit.
Nah pas itu, pikiranku tiba-tiba berjalan dalam bahasa Inggris. I can
discern the faint sound of drums being beaten by those drum sticks that
resembles the thing you used to whisk egg with. Drum whiskers then, it
is called?
I used to listen to a lot of Feist during my brokenheart phase. Not
just listen, listen, but you know, like you are able to dissect every
layer of sound that she created, and enjoy every bit of it, over, and
over, and over again. Having your heart broken, at that time, means
that all of your five senses is being magnified hundreds of times. You
suddenly can see, hear, feel, taste, smell everything. Is there some
sort of chemical changes going on inside your body when you got your
heartbroken and you cry your eyes out?
Why does it sound the same like when you're pregnant. But pregnancy is a biological freakshow, it's supposed
to change the whole body system whatever, but getting a broken heart is
only a matter of emotional change. If so, then, why does it affects
our, my senses?
(tadi itu sepanjang macet Kampung Melayu, perempatan Fuji, dan perempatan toko buku Immanuel).
MP3-ku dalam mode acak, jadi ada beberapa Strokes, Kings of Leon, Ben
Harper, John Mayer yang datang dan pergi setelah Feist. Tapi waktu di
depan Bappenas, rumah Dubes AS dan/atau Museum Naskah Proklamasi, she
was back on my two ears. Let it Die was playing, as I recall.
Oh yes, I remember so well
crying over this song. I was not feeling something of the same that
time, but here's what I realized. Maybe, although I am verging on being
sure, that I want to lose my head for the sake of my heart just in
order to get my heart broken. That I am always waiting for the
heartbreak to come because that's where the enlivening energy comes,
you know. The energy that forces me to read more, to listen more, to
watch more, to work more, to do more.
But is it?
Because if it is, it sounds too fatalistic to be true. Twisted, even.
I don't know what I do, but I think I have succeeded. I felt the sting
of a heartbreak at this time of day, but it wasn't an enlivening energy
that's popping its head. Basically, it's just tiredness. But still, a
heartbreak all the same. (No doubt about it, I feel my eyes goes misty
over this page, although I am aware that the page is being overdone, or maybe trying too hard)
Posted at 09:53 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, March 23, 2008
Yang Sangat Acak tentang ( )
Sistem tenggat waktu ternyata belum efektif. Otak, di bawah jam 11,
masih beku, hihihi. Ini sudah lewat waktu deadline dan masih 15 baris.
Hmm, kali ini apa ya?
Oh, pertama ini, forgive me (higher being/substance) for I have sinned.
Kenapa ya kok aku bisa memimpikan orang yang sama sampai empat kali
dalam dua minggu terakhir. Dua kali dalam empat hari terakhir malah.
Yang terakhirnya, huks, itu mimpi punya punchline
yang benar-benar membuatku KO. Dari semua sekuens mimpi, orang
ini akhirnya melihatku, sadar ada aku, dan ngomong langsung ke aku,
tapi mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ditujukan ke aku. Nggak
ada yang aneh-aneh sih, cuma sekelebatan-sekelebatan saja.
Berbicara tentang higher being/substance, aku curiga, jangan-jangan ia
adalah Jane Austen. Kemarin-kemarin sedang membayangkan kemungkinannya
Jane Austen as God, dan bagaimana adegan-adegan pertemuan itu
diciptakan. Mr Darcy ketemu Lizzie Bennett secara nggak sengaja di
hutan, Catherine Morland (yang nggak kenal siapa-siapa di Bath)
akhirnya bisa berkenalan sama Henry Tilney di sebuah pesta dansa, dan
semua adegan yang mempertemukan para pasangan itu. Kebetulan? Hmm,
bukankah nggak ada yang namanya kebetulan? Semua pasti ada maksudnya
kan ya?
Kenapa bisa sampai ke sini ya?
Oh, ingat. Pertemuan dengan seorang teman SMA, Kamis lalu. Dia
bertanya-tanya, ke mana ya nyari pacar? Padahal ini seorang highschool
prom queen gitu. Di kota tempat dia bekerja, dia nggak punya banyak
teman, nggak ketemu siapa-siapa lah. Pacar terakhirnya, ketemu juga
nggak sengaja. Ada faktor hub
yang menghubungkan. "Temenku yang lagi ke **** bawa temen," katanya.
Dan kenapa ya aku langsung teringat Jane Austen? Karena habis nonton The Jane Austen Book Club kayaknya.
Asyik sih kalau kita ditulis sebagai si heroine. Kalau kita ditulis
sebagai salah satu karakter konyolnya? Sepertinya aku sekarang lagi
jadi Mrs Elton deh, sedang membuat terlalu banyak kesalahan dengan
kata-kata dan/atau perilaku yang berhubungan dengan kepantasan soalnya.
Dan berbicara tentang Austen, waktu pertemuan keluarga itu aku jadi
merasa ternyata kehidupan yang dituliskan Austen (tentang kerabat dan
kelas) masih berlaku. Kenapa sih Miss dan Mrs Bates itu harus pergi
mengunjungi keluarga Woodhouse? (Well, Miss Bates live for that kind of
events I think, jadinya mungkin tidak harus dipertanyakan...)
Atau mungkin, ini seperti Lizzie dan Charlotte Lucas dan Mr Collins
yang harus menghadap ke Lady Catherine de Bourgh. Dan sekarang (karena
lagi membaca Mansfield Park), perbandingan Fanny Price mungkin jadi lebih tepat. Sudah aku bilang kan, aku tinggal di semesta milik Jane Austen?
Ah, anyway.
Salah seorang tante itu bercerita bahwa dia punya seorang ustad,
personal trainer untuk urusan-urusan spiritual. Si tante ini mungkin
punya status dan kelas yang cukup tinggi sampai merasa sah-sah saja
punya ustad pribadi. Madonna dan Kabalah. Tom Cruise dan Scientology.
Hey, oh iya, Lady Catherine de Bourgh kan punya parish sendiri di
sekitar rumahnya! Sejarah the rich and the religious ternyata goes way
back.
Dan dia bercerita tentang perkataan-perkataannya si bapak itu. Cukup
masuk akal sih, menurutku. He sounds smart. Salah satunya tentang para
televangelist itu. Dia tidak menjelekkan, tapi ada satu metode dari
para televangelist itu yang dia pertanyakan. "Kok kayak penonton
sinetron aja sih?"
Dan pada saat itulah ada sesuatu yang nge-klik di kepalaku.
Jika ini televisi yang kita perbincangkan, ada CSI: Las Vegas
dan ada...(apa ya, judul sinetron, cepat, cepat, cepat) Bawang Merah,
Bawang Putih (hah, itu jaman kapan coba?). Masing-masing punya pasar
yang berbeda. Hanya karena kebanyakan yang ada di pasaran adalah Bawang
Merah, Bawang Putih, bukan berarti yang CSI nggak ada kan? Dan si tante
ini sepertinya mendapat yang CSI.
Jadi pengen punya juga deh.
Tapi ada nggak ya yang sudah baca Franny and Zooey? Maksudnya, selama lima tahun terakhir, itulah buku go to-ku untuk semua hal spiritual. Salinger would have absolutely hated me for doing it--but...
Posted at 11:25 pm by i_artharini
Permalink
The funny thing is that Steve
Rendazo secretly wants me. Jocks like him always want freaky girls.
Girls with horn-rimmed glasses and vegan footwear and Goth makeup.
Girls who play the cello and wear Converse All-Stars and want to be
children's librarians when they grow up. Oh yeah, jocks eat that shit
up. ( Juno, 2007) Is that for real, Diablo Cody? Because...I really can make a currency out of that, you know.
Tapi, the jock di sekolahku dulu sekarang pada di mana ya? Sepertinya
mereka berakhir, boringly, di BUMN-BUMN atau perusahaan-perusahaan
pertambangan dan energi deh. Oh, oh, oh, kecuali satu yang masih cukup
exciting. Tapi sekarang di mana ya dia? Tibet, London, New York? Ah, anyway, Juno.
Mengesampingkan beberapa hal yang membuatku mengajukan keberatan, aku
tetap punya momen-momen favorit di film itu. Setelah momen ratusan boks
tic tac di kotak posnya Bleeker itu, aku nggak bisa berhenti nangis
sampai akhir film. Juno MacGuff: I think I'm, like, in love with you. Paulie Bleeker: You mean as friends? Juno MacGuff:
No, I mean, like, for real. 'Cause you're, like, the coolest person
I've ever met, and you don't even have to try, you know... Paulie Bleeker: I try really hard, actually.
Lanjutannya sih Juno bilang, and when I see you then the baby is
kicking super hard, because my heart beats faster, etc, etc. Ellen Page
is totally great. Setiap line dialognya bisa ada muatan emosi gitu.
Tetap subtil sih, hati-hati, tapi usahanya nggak kentara.
Dari situ, pas adegan melahirkannya, ada dialognya Mac Macguff yang
bilang ke Juno, "You'll be back here, on your own terms." Keputusan
untuk tidak mempertemukan Juno-Bleeker dengan bayi mereka juga oke,
karena saat ketemu, momen bittersweetnya jadi hilang. Yang ada cuma
bitter aja, karena mereka terus kembali ke kenyataan. Dan,
oh, '"Hey there, big puffy version of Junebug" juga konyol. Yang
menurutku jenius adalah saat Vanessa-Mark ngomongin tentang kondisi
hubungan mereka, dan Vanessa nanya, Kamu akan tinggal di mana? Mark: I have a loft. Vanessa: Well, aren't you the cool guy?
Karena itu benar-benar menunjukkan perbedaan dan apa yang 'salah'
dengan hubungan mereka. Mark yang masih berfokus pada dirinya sendiri
dan masih menganggap kelihatan cool itu penting (sebuah loft!) dan
Vanessa yang Vanessa. Tapi ya bagian-bagian yang
benar-benar menyentuh itu baru terjadi setelah percakapan Juno dan
karakter penjaga toko-nya Rainn Wilson yang agak-agak terlalu terasa
buatan ("That ain't no etch-a-sketch. This is one doodle that can't be
un-did, homeskillet." atau bagian percakapan antara Juno dan, siapa itu
nama cheerleader friendnya?) Yang paling sering membuat
'rame' sebenarnya adalah bungkusan-bungkusan yang diberikan Cody untuk
Juno agar membuat sosoknya lebih cool. Kayak Iggy and the Stooges-nya
itu atau antara Dario Argento vs .... (siapa sutradara film slasher
yang diperdebatkan itu?). Aku jadi mikir, kenapa ini jadi masalah ya?
Maksudnya bungkusan selera untuk membuat sebuah karakter jadi lebih
cool kan bukan trik baru. Rob Gordon-nya High Fidelity? Blue van Meer-nya Special Topics in Calamity Physics? uumm...siapa lagi ya, kayaknya aku cukup punya banyak referensi bahwa cool itu ditentukan dari selera deh.
Oh, hampir semua karakter perempuannya Jane Austen (d'oh) kan
ditentukan 'nilainya' berdasarkan 'taste' mereka pada gambar, buku,
musik. Jadi, yang dilakukan Diablo Cody ini bukan sesuatu
yang baru, tapi kenapa ini jadi infuriating people? Mungkin ya karena
rasanya terlalu berlebihan, terlalu matang, overdone, trying too hard.
Cukup bagus untuk Oscar?
Hmm, aku nggak tahu lagi itu artinya apa. Apakah Oscar masih
penghargaan berarti atau enggak. Ya buat jadi penanda sebuah era sih
lumayan lah, sama kaya film-film John Hughes itu mungkin. Tapi aku kan
think highly of John Hughes movies, dan Juno cuma sekadar lumayan gitu. Sukses membuatku nangis sih.
Ah, jadi mana itu, cheese to my macaroni?
Posted at 09:26 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, March 19, 2008
Sleepless long nights That was what my youth was for (Feist, 1234) Itu cuma terdengar indah dalam konteks sosio-romantis sepertinya. Kalau diterapkan ke situasi kerjaku sekarang kok jadinya tragis. Banget.
Mungkin memang ada old teenage hopes yang lagi mengetuk-ngetuk di pintu
hatiku. Halah. Tapi juga jadi ingat lagunya Feist yang lain,
Oh I'll be the one who'll break my heart
I'll be the one to hold the gun (I Feel it All).
Jadi heran, kenapa peringatan yang 'populer' adalah
jangan main-main dengan kelaminmu, sementara menurutku, yang lebih
bahaya adalah ketika bermain-main dengan hati. Iya nggak?
I'm not usually this chatty at this time of day. It's all coffee, I think.
Posted at 03:52 am by i_artharini
Permalink
Kalimat: "Austen can plot like a son of a bitch" di The Jane Austen Book Club mungkin adalah pembelaan terbaik tentang Austen yang pernah aku dengar atau baca.
(Dan buat certain someone yang mungkin, mungkin lhoo, khawatir dengan
kewajibanku di blog-blog lain, aku update akhir pekan ini ya, Pak.
Harap maklum :S)
Posted at 03:13 am by i_artharini
Permalink
|
|
|