PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< March 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, March 23, 2008
Yang Sangat Acak tentang ( )

Sistem tenggat waktu ternyata belum efektif. Otak, di bawah jam 11, masih beku, hihihi. Ini sudah lewat waktu deadline dan masih 15 baris. Hmm, kali ini apa ya?

Oh, pertama ini, forgive me (higher being/substance) for I have sinned. Kenapa ya kok aku bisa memimpikan orang yang sama sampai empat kali dalam dua minggu terakhir. Dua kali dalam empat hari terakhir malah. Yang terakhirnya, huks, itu mimpi punya punchline yang benar-benar membuatku KO.  Dari semua sekuens mimpi, orang ini akhirnya melihatku, sadar ada aku, dan ngomong langsung ke aku, tapi mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ditujukan ke aku. Nggak ada yang aneh-aneh sih, cuma sekelebatan-sekelebatan saja.

Berbicara tentang higher being/substance, aku curiga, jangan-jangan ia adalah Jane Austen. Kemarin-kemarin sedang membayangkan kemungkinannya Jane Austen as God, dan bagaimana adegan-adegan pertemuan itu diciptakan. Mr Darcy ketemu Lizzie Bennett secara nggak sengaja di hutan, Catherine Morland (yang nggak kenal siapa-siapa di Bath) akhirnya bisa berkenalan sama Henry Tilney di sebuah pesta dansa, dan semua adegan yang mempertemukan para pasangan itu. Kebetulan? Hmm, bukankah nggak ada yang namanya kebetulan? Semua pasti ada maksudnya kan ya?

Kenapa bisa sampai ke sini ya?

Oh, ingat. Pertemuan dengan seorang teman SMA, Kamis lalu. Dia bertanya-tanya, ke mana ya nyari pacar? Padahal ini seorang highschool prom queen gitu. Di kota tempat dia bekerja, dia nggak punya banyak teman, nggak ketemu siapa-siapa lah. Pacar terakhirnya, ketemu juga nggak sengaja. Ada faktor hub yang menghubungkan. "Temenku yang lagi ke **** bawa temen," katanya. Dan kenapa ya aku langsung teringat Jane Austen? Karena habis nonton The Jane Austen Book Club kayaknya.

Asyik sih kalau kita ditulis sebagai si heroine. Kalau kita ditulis sebagai salah satu karakter konyolnya? Sepertinya aku sekarang lagi jadi Mrs Elton deh, sedang membuat terlalu banyak kesalahan dengan kata-kata dan/atau perilaku yang berhubungan dengan kepantasan soalnya.

Dan berbicara tentang Austen, waktu pertemuan keluarga itu aku jadi merasa ternyata kehidupan yang dituliskan Austen (tentang kerabat dan kelas) masih berlaku. Kenapa sih Miss dan Mrs Bates itu harus pergi mengunjungi keluarga Woodhouse? (Well, Miss Bates live for that kind of events I think, jadinya mungkin tidak harus dipertanyakan...)

Atau mungkin, ini seperti Lizzie dan Charlotte Lucas dan Mr Collins yang harus menghadap ke Lady Catherine de Bourgh. Dan sekarang (karena lagi membaca Mansfield Park), perbandingan Fanny Price mungkin jadi lebih tepat. Sudah aku bilang kan, aku tinggal di semesta milik Jane Austen?

Ah, anyway.

Salah seorang tante itu bercerita bahwa dia punya seorang ustad, personal trainer untuk urusan-urusan spiritual. Si tante ini mungkin punya status dan kelas yang cukup tinggi sampai merasa sah-sah saja punya ustad pribadi. Madonna dan Kabalah. Tom Cruise dan Scientology. Hey, oh iya, Lady Catherine de Bourgh kan punya parish sendiri di sekitar rumahnya! Sejarah the rich and the religious ternyata goes way back.

Dan dia bercerita tentang perkataan-perkataannya si bapak itu. Cukup masuk akal sih, menurutku. He sounds smart. Salah satunya tentang para televangelist itu. Dia tidak menjelekkan, tapi ada satu metode dari para televangelist itu yang dia pertanyakan. "Kok kayak penonton sinetron aja sih?"

Dan pada saat itulah ada sesuatu yang nge-klik di kepalaku.

Jika ini televisi yang kita perbincangkan, ada CSI: Las Vegas dan ada...(apa ya, judul sinetron, cepat, cepat, cepat) Bawang Merah, Bawang Putih (hah, itu jaman kapan coba?). Masing-masing punya pasar yang berbeda. Hanya karena kebanyakan yang ada di pasaran adalah Bawang Merah, Bawang Putih, bukan berarti yang CSI nggak ada kan? Dan si tante ini sepertinya mendapat yang CSI.

Jadi pengen punya juga deh.

Tapi ada nggak ya yang sudah baca Franny and Zooey? Maksudnya, selama lima tahun terakhir, itulah buku go to-ku untuk semua hal spiritual. Salinger would have absolutely hated me for doing it--but...


Posted at 11:25 pm by i_artharini
Make a comment  

Juno

The funny thing is that Steve Rendazo secretly wants me. Jocks like him always want freaky girls. Girls with horn-rimmed glasses and vegan footwear and Goth makeup. Girls who play the cello and wear Converse All-Stars and want to be children's librarians when they grow up. Oh yeah, jocks eat that shit up.

(Juno, 2007)

Is that for real, Diablo Cody? Because...I really can make a currency out of that, you know.

Tapi, the jock di sekolahku dulu sekarang pada di mana ya? Sepertinya mereka berakhir, boringly, di BUMN-BUMN atau perusahaan-perusahaan pertambangan dan energi deh. Oh, oh, oh, kecuali satu yang masih cukup exciting. Tapi sekarang di mana ya dia? Tibet, London, New York?

Ah, anyway, Juno.

Mengesampingkan beberapa hal yang membuatku mengajukan keberatan, aku tetap punya momen-momen favorit di film itu. Setelah momen ratusan boks tic tac di kotak posnya Bleeker itu, aku nggak bisa berhenti nangis sampai akhir film.

Juno MacGuff: I think I'm, like, in love with you.
Paulie Bleeker: You mean as friends?
Juno MacGuff: No, I mean, like, for real. 'Cause you're, like, the coolest person I've ever met, and you don't even have to try, you know...
Paulie Bleeker: I try really hard, actually.

Lanjutannya sih Juno bilang, and when I see you then the baby is kicking super hard, because my heart beats faster, etc, etc. Ellen Page is totally great. Setiap line dialognya bisa ada muatan emosi gitu. Tetap subtil sih, hati-hati, tapi usahanya nggak kentara.

Dari situ, pas adegan melahirkannya, ada dialognya Mac Macguff yang bilang ke Juno, "You'll be back here, on your own terms." Keputusan untuk tidak mempertemukan Juno-Bleeker dengan bayi mereka juga oke, karena saat ketemu, momen bittersweetnya jadi hilang. Yang ada cuma bitter aja, karena mereka terus kembali ke kenyataan.

Dan, oh, '"Hey there, big puffy version of Junebug" juga konyol.  Yang menurutku jenius adalah saat Vanessa-Mark ngomongin tentang kondisi hubungan mereka, dan Vanessa nanya, Kamu akan tinggal di mana?
Mark: I have a loft.
Vanessa: Well, aren't you the cool guy?

Karena itu benar-benar menunjukkan perbedaan dan apa yang 'salah' dengan hubungan mereka. Mark yang masih berfokus pada dirinya sendiri dan masih menganggap kelihatan cool itu penting (sebuah loft!) dan Vanessa yang Vanessa.

Tapi ya bagian-bagian yang benar-benar menyentuh itu baru terjadi setelah percakapan Juno dan karakter penjaga toko-nya Rainn Wilson yang agak-agak terlalu terasa buatan ("That ain't no etch-a-sketch. This is one doodle that can't be un-did, homeskillet." atau bagian percakapan antara Juno dan, siapa itu nama cheerleader friendnya?)

Yang paling sering membuat 'rame' sebenarnya adalah bungkusan-bungkusan yang diberikan Cody untuk Juno agar membuat sosoknya lebih cool. Kayak Iggy and the Stooges-nya itu atau antara Dario Argento vs .... (siapa sutradara film slasher yang diperdebatkan itu?). Aku jadi mikir, kenapa ini jadi masalah ya? Maksudnya bungkusan selera untuk membuat sebuah karakter jadi lebih cool kan bukan trik baru.

Rob Gordon-nya High Fidelity?
Blue van Meer-nya Special Topics in Calamity Physics?
uumm...siapa lagi ya, kayaknya aku cukup punya banyak referensi bahwa cool itu ditentukan dari selera deh.
Oh, hampir semua karakter perempuannya Jane Austen (d'oh) kan ditentukan 'nilainya' berdasarkan 'taste' mereka pada gambar, buku, musik.

Jadi, yang dilakukan Diablo Cody ini bukan sesuatu yang baru, tapi kenapa ini jadi infuriating people? Mungkin ya karena rasanya terlalu berlebihan, terlalu matang, overdone, trying too hard.

Cukup bagus untuk Oscar?
Hmm, aku nggak tahu lagi itu artinya apa. Apakah Oscar masih penghargaan berarti atau enggak. Ya buat jadi penanda sebuah era sih lumayan lah, sama kaya film-film John Hughes itu mungkin. Tapi aku kan think highly of John Hughes movies, dan Juno cuma sekadar lumayan gitu. Sukses membuatku nangis sih.

Ah, jadi mana itu, cheese to my macaroni?

Posted at 09:26 pm by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, March 19, 2008
Sleepless Youth

Sleepless long nights
That was what my youth was for

(Feist, 1234)

Itu cuma terdengar indah dalam konteks sosio-romantis sepertinya.
Kalau diterapkan ke situasi kerjaku sekarang kok jadinya tragis. Banget.

Mungkin memang ada old teenage hopes yang lagi mengetuk-ngetuk di pintu hatiku. Halah. Tapi juga jadi ingat lagunya Feist yang lain, Oh I'll be the one who'll break my heart
I'll be the one to hold the gun (I Feel it All).

Jadi heran, kenapa peringatan yang 'populer' adalah jangan main-main dengan kelaminmu, sementara menurutku, yang lebih bahaya adalah ketika bermain-main dengan hati. Iya nggak?

I'm not usually this chatty at this time of day. It's all coffee, I think.

Posted at 03:52 am by i_artharini
Comment (1)  

Plot

Kalimat: "Austen can plot like a son of a bitch" di The Jane Austen Book Club mungkin adalah pembelaan terbaik tentang Austen yang pernah aku dengar atau baca.

(Dan buat certain someone yang mungkin, mungkin lhoo, khawatir dengan kewajibanku di blog-blog lain, aku update akhir pekan ini ya, Pak. Harap maklum :S)

Posted at 03:13 am by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, March 18, 2008
Cerita Kecil (revised)

(Lama-lama blog ini lebih cocok jadi blognya Media Insomnia deh, mengingat kebanyakan cerita-ceritanya akhir-akhir ini terjadi di seputaran produksi koran edisi siang itu. Dan ternyata bukan aku sendiri, blognya Miss QQ juga tiba-tiba jadi banyak entry baru.

Tapi kemarin-kemarin di tengah mencoba membuat jam biologis jadi agak selaras, aku kepikiran: "These little stories. Mungkin bener ya katanya John Mayer, dia bilang kalau dia bangun suatu pagi dan nggak tergerak untuk ngasih bunga atau nulisin lagu buat ceweknya, 'it means there's something wrong in our relationship'."

Dalam konteks relationship-wise buatku, cerita-cerita itu malah justru muncul setelah berakhir. But yeah, okay, emang ada keinginan untuk 'make something out of this' saat selesai. Manipulatif kah itu? Tapi dalam konteks kerjaan, keadaan masih bisa dibilang menarik ketika cerita-cerita kecil dan nggak penting itu masih bisa muncul. Seperti yang ini...)

Aku jadi suka mencatati (bukan dalam bentuk kongkrit sih, lebih tepatnya mengingat mungkin) lagu-lagu yang ada di mp3 atau handphone orang-orang di sekitarku. Aku melihat ada sebuah pola yang sama.

-Aku, Ccr dan Bas menyimpan beberapa John Mayer.

-Safir, aku dan Sha sama-sama punya 'Somewhere Only We Know'-nya Keane. Mungkin ini sebuah refleksi bahwa kita sama-sama merasa 'getting older and (I) need somewhere to begin'.

-Sha juga punya beberapa Keane yang sama denganku, yang bakal aku delete di akhir minggu panjang ini.

-Aku, Eva, Ccr punya Feist. Eva kebanyakan dari album pertama, yang paling sering diputar dari Macbooknya Ccr 'My Moon, My Man', walaupun aku pernah dengar dia nyanyi 'Brandy Alexander'.

-Aku dan Sha ternyata sama-sama punya 'vintage' Foo Fighters. 'Walking After You'. Ini juga bakal aku delete akhir pekan ini.

Tadi pas terjebak macet 3 jam menuju ke kantor, mendengar lagu yang penyanyinya nggak aku kenal, tapi sukses membuatku ketendang-tendang. Awalnya: "Don't know much about your life,  and I don't know much about your world." Tapi intinya sih tentang starting over, taking chances, gitu-gitulah.

Pas di-Google, ternyata itu lagunya Celine Dion (!) Dan dari liriknya aja sudah kelihatan cheesy banget. Tapi, ah, nggak pernah menyangka seorang Celine Dion
bisa memunculkan adukan emosi yang membuatku jadi mellow.

Someone, please. Bitchslap me.

Posted at 11:27 pm by i_artharini
Comment (1)  

Verbatim

Lagi-lagi, aku seharusnya menulis kerjaan, tapi jadi pengen teralihkan perhatiannya sebentar.

Malam itu sepertinya bagian hari yang, seharusnya, punya sifat alamiah intim. Bukan hanya untuk konotasi-konotasi aktivitasnya (hehe), tapi karena sunyinya, malam jadi masa yang tepat untuk berkontemplasi, refleksi, membaca, atau ndengerin musik sebelum tidur sambil bengong. Itu sudah termasuk aktivitas yang cukup personal kan? Yang butuh privasi dan ketenangan.

Mungkin kita semua jadi 'our best selves' di malam hari. (Catatan, itu kalau kondisinya normal ya, saat kita memang lagi melakukan hal-hal di atas tadi. Bukan terkungkung dan terpaksa bangun sambil masih ngerjain tulisan-tulisan bernada pekerjaan. Btw, bahasaku kok makin dangdut gini sih?) Jika benar begitu, maka izinkan aku menuliskan beberapa kutipan emas yang aku dapat dari manusia-manusia malam hari Media Insomnia.

1) Photographer of the Year-->ini nama subyeknya, btw.
Nggak pernah menyangka bujang Palembang ini bisa jadi teman duet ber-'ella, ella, ella, eh, eh, eh, under my umbrella'. Sesudahnya, dia tiba-tiba nanya tentang kamera dan kebutuhan foto-fotoku. Apakah aku orang yang memfoto sesuai kebutuhan pekerjaan atau orang yang terbiasa membawa kamera, terus motoin apa pun yang ada di sekitar?

Pertama pas punya kamera sih, kayaknya aku tipe yang kedua. Tapi terus lama-lama jadi sekadar kebutuhan aja. Plus karena nggak pe-de juga sih (duh) kok bisa menganggap lucu hal-hal yang 'aneh'.

Photographer of the Year, setahuku selama ini, bukan orang yang verbal (makanya dia jadi fotografer kan?), tapi terus dia bilang gini, "Temenku tuh ada yang suka motoin aja apa yang dia anggap bagus, sign-sign gitu. Tapi terus dia buat kayak cerita gitu. Nggak apa-apa, foto aja lagi. Sekarang foto bagus kan nggak cuma sekadar bagus atau jelek tekniknya, tapi juga gimana itu jadi media ungkap."

(Di titik ini, aku mengambil kertas bekas dan menulis 'foto sebagai media ungkap'. Itu kutipan super kan?)

"Kayak misalnya Mon itu. Idenya dia bagus, walaupun secara teknik biasa aja. Kameranya dipake semaksimal mungkin untuk merekam kejadiannya dia hari itu, tapi bukan buat memenuhi kebutuhan narsisnya aja..."

(Di titik ini diinterupsi oleh Bas, yang sadar aku mencatat kata-katanya si Fotografer. "Tsaahh. Kebutuhan apa, Fir?" Setelah itu, karena Photographer of the Year-nya jadi merasa digoda-godain, berhenti deh).

2) Ah ya, siapa lagi. Ccr.
Awalnya dari mana ya, kok bisa tiba-tiba ngomongin tentang harapan dalam konteks-konteks romantis. Aku berpendapat agak bahaya ketika imajinasi dan harapan di area itu sudah melambung, only to be crushed down later on, walaupun aku sukaaaa banget ama bagian berimajinasi dan berharap itu.

Yah, konsep falling in love with the concept of being in love itu memang bukan sesuatu yang asing. I like the wishful thinking part. Sama halnya kayak mengetahui nominasi Oscar itu lebih mengasyikkan daripada mengetahui siapa atau film apa yang menang.

Nah, Ccr berpendapat sebaliknya--which is quite refreshing, I must admit--. Karena dia tahu pengharapan dan imajinasi itu tidak akan seindah aslinya, ya dia cuek-cuek aja dengan terus hidup dalam imajinasi dan pengharapan itu.

Iya juga ya. Kenapa enggak?

"Biarkan saja orang hidup dengan pikirannya masing-masing," kata-kata Ccr yang paling sering diulang.

Selama ini, aku membayangkan hidup adalah sebuah 1940s screwball comedy in which I will meet a Cary Grant atau Jimmy Stewart. Atau daerah pedesaan Inggris abad ke-18 tepat sebelum Revolusi Industri terjadi, alias: novel-novel Jane Austen yang bakal membuatku bertemu....Captain Wentworth kayaknya. Sepertinya dia karakter hero favoritku deh, bahkan daripada Darcy.

Dan aku sudah tahu, hidup bukan dua pilihan di atas, tapi kenapa aku tidak bisa terus membayangkan hidup alternatif itu?

(Kok kayaknya nggak penting-penting banget ya. But it's still quite a refreshing concept.)

Aku sekarang officially panik. Ccr udah selesaaaiiiii. Ini kan belum pernah terjadi sebelumnya.


Posted at 12:08 am by i_artharini
Make a comment  

Monday, March 17, 2008
Siklus

First come the dreaming, then the Googling.
Thus the obsession is so, so, so well fed.

Ah. Kapan aku lepas dari siklus itu.

(tulisan setengah selesai, jadi malah mengkhayal)

Posted at 01:41 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, March 14, 2008
Jam-jaman (revised)

Huks, aku jadi berasa pengen nangis tadi pagi saking ngantuknya, tapi kalau mau pulang lagi juga tanggung. Pengennya sih tidur di jalan. Maksudnya dalam perjalanan, bukan di jalan-jalan gitu.

Dari kantor, karena server foto yang sudah kepenuhan dan karena ngerjain 'Eskapisme' juga sih, baru pulang jam setengah tujuh pagi. Sampai rumah jam tujuh. Sempat tidur-tidur sebentar, dibangunin sama ibuku gara-gara ada Chinca Lawrah. Dan karena memang sudah waktunya bangun juga untuk janji wawancara jam 9. Mandi, berangkat dari rumah jam 8.25.

Enggak, aku enggak tinggal di sekitar Menteng, tapi memang dengan penuh kesadaran tahu akan terlambat memenuhi janji itu. Dengan seorang narasumber yang, kemarin pas buat janji sih, berasa pengen ditampar deh.

Naik ojek dan angkot dengan mata setengah tertutup, sampai di TIM, ternyata orangnya cukup oke dengan keterlambatanku, selesai dalam satu jam. Yang aku lihat pertama pas keluar, hotel Acacia itu bisa jam-jaman nggak ya? Aku pengen tiduuurrr. Ada nggak sih hotel yang khusus melayani kebutuhan wartawan-wartawan habis begadang terus harus langsung liputan dan waktunya kosong sampai sore nanti. Jadi daripada pulang buat tidur, terus ya...menyewakan kamar jam-jaman buat tidur.

Akhirnya berangkat ke kantor dan memutuskan tidur di sana. Hah. Nggak pernah menyangka kantor dan aku bakal seintim itu. (Sampai di kantor, nyari bawah meja yang kosong, siapin alarm hape, copot kacamata, siapin alas koran, dan tidur. Pas aku melihat sejenak ke samping kanan, adegannya terasa terlalu privat. Kacamata yang dilepas dan alarm hp adalah imaji bedside table. Dan bawah meja ini sekarang jadi bed-ku? Aku mendengar suara ketawa ibu Nda di kejauhan, bercandaan orang-orang ruang foto, suara bang Vic yang berbicara dengan seseorang di telepon. Lalu aku sadar, ada Mia Farrow kecil dalam kepalaku yang teriak: This is no dream! This is really happening!)

Eh, pas lewat Sudirman ketemu MI edisi siang.

Di tengah-tengah ngantuk itu, aku jadi keinget dengan 'kewajiban' besok harus ke Bandung buat acara keluarga. Huks, aku kan Jumat masih harus liputan dan akhir pekan ini aku cuma pengen tiduuuurrr.

Atau kalau enggak, setidaknya menghabiskan waktu dengan cara yang lebih menyenangkan. Habis beli Juno, Into the Wild, Once, Sweeney Todd (!), Gone Baby Gone, The Diving Bell and the Butterfly, sama Jane Austen Book Club. Dan habis pinjem bukunya juga di Perpus Diknas. Dan aku harus mengorbankan semua itu untuk sitting still and talk about really boring trivial stuff yang dipaksakan dengan sekelompok stuffy, snobby rich relatives yang nggak peduli aku ada di sana atau enggak, terus terjebak di kemacetan Bandung akhir pekan?

Wajar deh kayaknya kalau aku merasa layak untuk sesuatu yang lebih baik dari itu untuk menghabiskan akhir pekan. Bahkan jika sesuatu yang layak itu cuma kamar dan laptop yang lagi masang salah satu film di atas. Hey, setidaknya itu bisa buat rubrik Eskapisme minggu depan.  (Salah satu hal yang aku pelajari, Eskapisme itu harus dicicil. Ngantuk dan nulis tentang film adalah resep untuk bencana).

Oke, harus kembali ngetik. Sudah jam 1 dan tulisan belum kelar. Hah.

Posted at 01:45 am by i_artharini
Comments (2)  

Monday, March 10, 2008
Sisa Akhir Pekan

1.
"Nanti cari di Google ya, Mbak. Carl Gustaf Jung."

Really, Mom. Kayanya membawa-bawa nama Jung ke perintah untuk memasukkan 'menikah' ke 'soon-to-do list'-ku itu sebuah move yang oh so unnecessary deh. Tapi di sisi lain, nggak apa-apa, setidaknya 'musuh' itu sekarang jadi punya bentuk.

Yang sebelumnya cuma sekadar sindiran atau (setengah) bercanda, sekarang sudah jadi sabda. Oke, we'll see later lah yaa. Vive la resistance! Hehehe


2.
Kemarin, seorang pria di kantor mengenakan kaus oblong ungu dengan sablonan gambar sepeda dan tulisan: Mijn fiets is bereid(*).

Otakku nggak bisa berhenti memikirkan jawaban yang semi vulgar untuk tulisan itu. Hasilnya adalah: Jadi siap menggenjot ya?

(Ya nggak mungkinlah aku mengatakan kata-kata itu ke si pemakai kaos. Cuma buat bahan ketawa internal).
--------
*: Sepedaku sudah siap

3.
Sebuah peristiwa yang cukup surreal. Ketika aku mau mewawancarai orang hari ini dan dia punya cetakan sebuah tulisan di internet yang ternyata adalah...my own writing di sebuah blog. Huehehe.

Aku nggak tahu siapa yang 'seharusnya' memerah pipinya, tapi aku jadi malu lho, sambil mengingat-ingat apa saja ya yang aku tulis di situ. Dan kenapa si orang ini sampai merasa perlu mencetaknya dan mempersiapkannya untuk aku baca?


4.
Kan udah langganan TIME ya, kok pengen Newsweek juga?

Kalau dibayar secara bulk memang agak mahal sih, tapi kalau dihitung satu-satuannya, jadi bisa beneran berkurang 50 persen harganya. Dan kerjaan sekarang jadi membuatku merasa lebih butuh inspirasi penggalian ide dan cara penulisan (tsaahh) dari banyak sumber. Terlalu pembenaran ya?

Posted at 10:17 pm by i_artharini
Make a comment  

Sunday, March 09, 2008
Film-film (revised)

Akhir pekan yang panjang ternyata tidak bisa jadi penghilang rasa sakit gigitan kenyataan (duh....padahal cuma mau ngomong, reality bites) Minggu ini. I spend it pretty much with watching movies. Tapi pas balik ke kantor, rasanya tetep aja, balik ke kenyataan gitu.

Michael Clayton nonton di bioskop. (Kenapa ya film-film bertema tuntutan class action judulnya nama orang? Contoh sebelumnya yang aku punya cuma Erin Brockovich sih...). (Btw, seperti sudah bisa diduga, partner nontonku adalah para ortu mal itu. Yang agak baru sih, kita mencoba nonton di jam yang lebih sore, karena kalau pulang kemaleman udah pada ngantuk di jalan. So eyang-eyang banget nggak sih, hehehe. Eh ternyata yang nonton jam segitu juga pada bapak-bapak, malah banyak yang kakek-kakek. Ya, ternyata eyang-eyang nonton di jam matinee itu bukan sekedar stereotip kejam, it happens. Atau mungkin itu jadi stereotip kejam karena sering kejadian?)

Terus nonton ulang The Royal Tenenbaums--yang ternyata aku udah lupa ceritanya pas nonton pertama dan sekarang jadi suka ama film itu, walaupun agak terlalu musikal. Kayaknya jarang banget bagian film itu yang tidak tertutup sama soundtrack cool (Aku masih belum bisa memutuskan, apakah soundtrack cool itu sebuah plus atau minus. Plus, karena, yay, ada lagu bagus. Minus karena, hah, kamu mencoba mensubstitusi emosi dengan cara yang mudah, masukin lagu gitu?) . Plus lagi, baru semalem sebelumnya aku bilang ama seorang temen, 'Hey Jude' itu salah satu lagu boring of all time. Eh ada di 'The Royal..' dengan cara pemakaian yang nggak boring. Standar sih, tapi bisa ada nuansa emosi baru yang muncul (dan ternyata belum terkonsumsi habis) dari lagu itu.

Habis itu, 'Miller's Crossing'. Yang aku juga menikmati nontonnya. Dan dari situ berpikiran, kayaknya asyik deh mengadakan Coen Brothers Retrospect. Ada Fargo di rumah--yang belum aku tonton--terus ada The Ladykillers juga. Eh taunya di Bentara Budaya memang mau ada Coen Brothers Retrospect.

Oh, aku suka 'Tristram Shandy: Cock and Bull Story'. Steve Coogan, hehe, ternyata itu orang bisa cool juga, in a vain but fun way.Dan membuatku jadi pengen membaca itu buku.

'Volver', hmm, lumayan sih, but still no 'Todo Sobre Mi Madre'. Dan yang, sumpah, ngeriin, '4 Months, 3 Weeks, 2 Days'. Sampai lupa berapa kali aku menarik dan menghela nafas saking tegangnya dialog dan adegannya. I know the movie will cause me nightmare(s) dan ternyata beneran kejadian. Anehnya, pas hari ini nengok Mama Wey dan newbornnya kok nggak kerasa ngeri-ngeri gimana gitu ya...

Ah anyway, weekend starts early for me. Sampai weekend berikutnya deh.

Posted at 06:07 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page