PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< March 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, March 17, 2008
Siklus

First come the dreaming, then the Googling.
Thus the obsession is so, so, so well fed.

Ah. Kapan aku lepas dari siklus itu.

(tulisan setengah selesai, jadi malah mengkhayal)

Posted at 01:41 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, March 14, 2008
Jam-jaman (revised)

Huks, aku jadi berasa pengen nangis tadi pagi saking ngantuknya, tapi kalau mau pulang lagi juga tanggung. Pengennya sih tidur di jalan. Maksudnya dalam perjalanan, bukan di jalan-jalan gitu.

Dari kantor, karena server foto yang sudah kepenuhan dan karena ngerjain 'Eskapisme' juga sih, baru pulang jam setengah tujuh pagi. Sampai rumah jam tujuh. Sempat tidur-tidur sebentar, dibangunin sama ibuku gara-gara ada Chinca Lawrah. Dan karena memang sudah waktunya bangun juga untuk janji wawancara jam 9. Mandi, berangkat dari rumah jam 8.25.

Enggak, aku enggak tinggal di sekitar Menteng, tapi memang dengan penuh kesadaran tahu akan terlambat memenuhi janji itu. Dengan seorang narasumber yang, kemarin pas buat janji sih, berasa pengen ditampar deh.

Naik ojek dan angkot dengan mata setengah tertutup, sampai di TIM, ternyata orangnya cukup oke dengan keterlambatanku, selesai dalam satu jam. Yang aku lihat pertama pas keluar, hotel Acacia itu bisa jam-jaman nggak ya? Aku pengen tiduuurrr. Ada nggak sih hotel yang khusus melayani kebutuhan wartawan-wartawan habis begadang terus harus langsung liputan dan waktunya kosong sampai sore nanti. Jadi daripada pulang buat tidur, terus ya...menyewakan kamar jam-jaman buat tidur.

Akhirnya berangkat ke kantor dan memutuskan tidur di sana. Hah. Nggak pernah menyangka kantor dan aku bakal seintim itu. (Sampai di kantor, nyari bawah meja yang kosong, siapin alarm hape, copot kacamata, siapin alas koran, dan tidur. Pas aku melihat sejenak ke samping kanan, adegannya terasa terlalu privat. Kacamata yang dilepas dan alarm hp adalah imaji bedside table. Dan bawah meja ini sekarang jadi bed-ku? Aku mendengar suara ketawa ibu Nda di kejauhan, bercandaan orang-orang ruang foto, suara bang Vic yang berbicara dengan seseorang di telepon. Lalu aku sadar, ada Mia Farrow kecil dalam kepalaku yang teriak: This is no dream! This is really happening!)

Eh, pas lewat Sudirman ketemu MI edisi siang.

Di tengah-tengah ngantuk itu, aku jadi keinget dengan 'kewajiban' besok harus ke Bandung buat acara keluarga. Huks, aku kan Jumat masih harus liputan dan akhir pekan ini aku cuma pengen tiduuuurrr.

Atau kalau enggak, setidaknya menghabiskan waktu dengan cara yang lebih menyenangkan. Habis beli Juno, Into the Wild, Once, Sweeney Todd (!), Gone Baby Gone, The Diving Bell and the Butterfly, sama Jane Austen Book Club. Dan habis pinjem bukunya juga di Perpus Diknas. Dan aku harus mengorbankan semua itu untuk sitting still and talk about really boring trivial stuff yang dipaksakan dengan sekelompok stuffy, snobby rich relatives yang nggak peduli aku ada di sana atau enggak, terus terjebak di kemacetan Bandung akhir pekan?

Wajar deh kayaknya kalau aku merasa layak untuk sesuatu yang lebih baik dari itu untuk menghabiskan akhir pekan. Bahkan jika sesuatu yang layak itu cuma kamar dan laptop yang lagi masang salah satu film di atas. Hey, setidaknya itu bisa buat rubrik Eskapisme minggu depan.  (Salah satu hal yang aku pelajari, Eskapisme itu harus dicicil. Ngantuk dan nulis tentang film adalah resep untuk bencana).

Oke, harus kembali ngetik. Sudah jam 1 dan tulisan belum kelar. Hah.

Posted at 01:45 am by i_artharini
Comments (2)  

Monday, March 10, 2008
Sisa Akhir Pekan

1.
"Nanti cari di Google ya, Mbak. Carl Gustaf Jung."

Really, Mom. Kayanya membawa-bawa nama Jung ke perintah untuk memasukkan 'menikah' ke 'soon-to-do list'-ku itu sebuah move yang oh so unnecessary deh. Tapi di sisi lain, nggak apa-apa, setidaknya 'musuh' itu sekarang jadi punya bentuk.

Yang sebelumnya cuma sekadar sindiran atau (setengah) bercanda, sekarang sudah jadi sabda. Oke, we'll see later lah yaa. Vive la resistance! Hehehe


2.
Kemarin, seorang pria di kantor mengenakan kaus oblong ungu dengan sablonan gambar sepeda dan tulisan: Mijn fiets is bereid(*).

Otakku nggak bisa berhenti memikirkan jawaban yang semi vulgar untuk tulisan itu. Hasilnya adalah: Jadi siap menggenjot ya?

(Ya nggak mungkinlah aku mengatakan kata-kata itu ke si pemakai kaos. Cuma buat bahan ketawa internal).
--------
*: Sepedaku sudah siap

3.
Sebuah peristiwa yang cukup surreal. Ketika aku mau mewawancarai orang hari ini dan dia punya cetakan sebuah tulisan di internet yang ternyata adalah...my own writing di sebuah blog. Huehehe.

Aku nggak tahu siapa yang 'seharusnya' memerah pipinya, tapi aku jadi malu lho, sambil mengingat-ingat apa saja ya yang aku tulis di situ. Dan kenapa si orang ini sampai merasa perlu mencetaknya dan mempersiapkannya untuk aku baca?


4.
Kan udah langganan TIME ya, kok pengen Newsweek juga?

Kalau dibayar secara bulk memang agak mahal sih, tapi kalau dihitung satu-satuannya, jadi bisa beneran berkurang 50 persen harganya. Dan kerjaan sekarang jadi membuatku merasa lebih butuh inspirasi penggalian ide dan cara penulisan (tsaahh) dari banyak sumber. Terlalu pembenaran ya?

Posted at 10:17 pm by i_artharini
Make a comment  

Sunday, March 09, 2008
Film-film (revised)

Akhir pekan yang panjang ternyata tidak bisa jadi penghilang rasa sakit gigitan kenyataan (duh....padahal cuma mau ngomong, reality bites) Minggu ini. I spend it pretty much with watching movies. Tapi pas balik ke kantor, rasanya tetep aja, balik ke kenyataan gitu.

Michael Clayton nonton di bioskop. (Kenapa ya film-film bertema tuntutan class action judulnya nama orang? Contoh sebelumnya yang aku punya cuma Erin Brockovich sih...). (Btw, seperti sudah bisa diduga, partner nontonku adalah para ortu mal itu. Yang agak baru sih, kita mencoba nonton di jam yang lebih sore, karena kalau pulang kemaleman udah pada ngantuk di jalan. So eyang-eyang banget nggak sih, hehehe. Eh ternyata yang nonton jam segitu juga pada bapak-bapak, malah banyak yang kakek-kakek. Ya, ternyata eyang-eyang nonton di jam matinee itu bukan sekedar stereotip kejam, it happens. Atau mungkin itu jadi stereotip kejam karena sering kejadian?)

Terus nonton ulang The Royal Tenenbaums--yang ternyata aku udah lupa ceritanya pas nonton pertama dan sekarang jadi suka ama film itu, walaupun agak terlalu musikal. Kayaknya jarang banget bagian film itu yang tidak tertutup sama soundtrack cool (Aku masih belum bisa memutuskan, apakah soundtrack cool itu sebuah plus atau minus. Plus, karena, yay, ada lagu bagus. Minus karena, hah, kamu mencoba mensubstitusi emosi dengan cara yang mudah, masukin lagu gitu?) . Plus lagi, baru semalem sebelumnya aku bilang ama seorang temen, 'Hey Jude' itu salah satu lagu boring of all time. Eh ada di 'The Royal..' dengan cara pemakaian yang nggak boring. Standar sih, tapi bisa ada nuansa emosi baru yang muncul (dan ternyata belum terkonsumsi habis) dari lagu itu.

Habis itu, 'Miller's Crossing'. Yang aku juga menikmati nontonnya. Dan dari situ berpikiran, kayaknya asyik deh mengadakan Coen Brothers Retrospect. Ada Fargo di rumah--yang belum aku tonton--terus ada The Ladykillers juga. Eh taunya di Bentara Budaya memang mau ada Coen Brothers Retrospect.

Oh, aku suka 'Tristram Shandy: Cock and Bull Story'. Steve Coogan, hehe, ternyata itu orang bisa cool juga, in a vain but fun way.Dan membuatku jadi pengen membaca itu buku.

'Volver', hmm, lumayan sih, but still no 'Todo Sobre Mi Madre'. Dan yang, sumpah, ngeriin, '4 Months, 3 Weeks, 2 Days'. Sampai lupa berapa kali aku menarik dan menghela nafas saking tegangnya dialog dan adegannya. I know the movie will cause me nightmare(s) dan ternyata beneran kejadian. Anehnya, pas hari ini nengok Mama Wey dan newbornnya kok nggak kerasa ngeri-ngeri gimana gitu ya...

Ah anyway, weekend starts early for me. Sampai weekend berikutnya deh.

Posted at 06:07 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, March 05, 2008
Bringing Up Screwball

(Mbak Ccr minta bantu terjemahin teks soal kura-kura, tapi sebelumnya pengen nge-blog dulu deh. Dan aku memang seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu--yang sudah sempit itu--untuk membaca sih...)

Ada kutipan-kutipan lucu (and by 'lucu' I mean 'grreaatt') dari artikelnya AL Kennedy di The Guardian. Intinya sih tentang film-film screwball comedy. Judulnya "Head over heels". (And yes, that is Katharine Hepburn and Cary Grant on the photo).

AL Kennedy mengidentikkan screwball comedy sebagai sesuatu yang 'smart, sexy and subversive'. Yeah, well, that is what I have been trying to be all my adult life--yang masih relatif pendek. Walaupun sebenarnya aku juga menyimpan keinginan untuk jadi kaya The Economist dalam penilaian atasanku, "bergaya, intelek, tapi tidak genit."

Suer deh. Waktu The Boss ngomong itu, aku pikir dia lagi membaca mission statement imajiner dalam kepalaku, ternyata dia lagi ngomongin untuk mbaca-mbaca dan lihat-lihat gaya penulisan The Economist, hehehe.

Anyway, kutipan kerennya AL Kennedy:

"If you want to know why my adult life has been constantly tinged with disappointment, consider that I grew up believing glorious creatures along the lines of Cary Grant and Clark Gable and James Stewart were, if not commonplace, then at least occasionally available."

I want that printed on a t-shirt.

Artikelnya sendiri, duuhhh, benar-benar menjelaskan apa yang so so great tentang film-film komedi screwball era 1940an itu. Yang aku tonton sih baru "Bringing Up Baby", "Arsenic and Old Lace", sama "The Philadelphia Story", tapi apa yang disampaikan artikel itu tentang karakter perempuan-perempuannya? Bener banget. And that is exactly the kind of woman that I want to be.

Bukan hanya Katharine Hepburn, tapi juga Claudette Colbert, Carole Lombard, Rosalind Russell, Mae West, Barbara Stanwyck, Judy Holliday, Laura La Plante, aku ingin mengenal mereka semua.

Katanya:

"They were extraordinary because they were funny women. Women aren't supposed to be funny; we still find it difficult to deal with. Too much sexual humour and they appear sluttish, predatory. Too many gags, too many jibes, too much wit and speed, and they'll be mannish, vicious, threatening, when they're meant to be tender. More wit than that and - gawdhelpus - they'll seem clever. Women shouldn't take physical risks - that's upsetting; they shouldn't be too athletic, shouldn't lose their dignity or their grip; they're supposed to be nurturing and steady. Women shouldn't subvert themselves, enjoy their own sexuality or cause unrest. Which is to say, women shouldn't do anything at all involved in being funny. Leaden cultural norms make female comedy a tricky proposition even now; the screwball comediennes were breaking every rule in the book 60 and 70 years ago. They did it by sheer force of talent, and toe-to-toe with the leading men of the day."

Yang menarik buatku sih, di The Philadelphia Story terutama, karakter Tracy Lordnya Hepburn itu bisa begitu multidimensional dengan dialog yang sederhana gitu. Gimana ya, sederhana tapi nggak dangkal. Pokoknya gini, jika penggambaran di atas kok kerasanya terlalu 'banyak', lihat aja Tracy Lord, dan kelihatan gimana semua itu bisa masuk dalam satu karakter. Dan kelihatannya...asyik? Sebuah understatement kayaknya.

Ya, 'hebat' sepertinya adalah kata yang tepat, tapi dilakukannya dengan cara yang membumi gitu.

Hmm, aku merasa terlalu tua dan seperti sudah bukan masanya lagi untuk bermimpi jadi sesosok seseorang, tapi ini yang sedang aku lakukan sekarang. I can't help myself.

Posted at 02:16 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, February 29, 2008
Igau

Saat tulisan ini mulai diketik, jam Fossil yang masih dicicil itu menunjukkan 03.21 pagi. Dan aku masih di kantor. Yeah, the 'perks' of having an author byline, hehe.

Agak lega karena tulisannya selesai lebih cepat dari kemarin dan mataku masih 65 persen melek buat nanti checking. Dibanding kemarin yang cuma 15 persen sampai udah kaya orang mabuk dan lupa ngecek grafis dan nambah kode (ouufff). Seharusnya sekarang lagi browsing-browsing buat besok tapi sepertinya nggak ada yang bisa masuk. Yang aku pikirkan sekarang cuma...weekend.

Ugh. Sudah agak lama aku nggak merindukan akhir pekan. Dan merindukan orangtuaku.

Gara-gara Media Insomnia ini bisa sampai dua hari berturut-turut cuma menjadikan rumah sebagai tempat mandi terus keluar rumah lagi satu jam kemudian. Kamarku mungkin sudah hampir enam hari nggak dimasuki. Sampai rumah cuma bisa sampai ruang tamu, tidur di sofa bentar, terus kamar mandi. Interaksi dengan penghuni rumah praktis cuma sama mahluk-mahluk. Sampai rumah, sudah pada berangkat semua.

Tadi pagi pas ngelihat Ma lagi di rumah dan bilang, "Ya ampun, mbak. Kita udah berapa hari nggak ketemu?" Dan aku juga merasakan rasa bahagia dan lega yang sama kita akhirnya bisa ketemu. Well, yeah, it is a boost to my ego waktu aku mau berangkat beliau bilang, "Yaaa, kamu udah mau berangkat lagi ya? Huu, huu, huu..."

Aku merasa sedih juga sih, tapi ya senang juga dikangenin, hehe.

Jadi sedih banget pas dibilangin, "Jangan tanyain Pa ke mana ya. Lagi ke Bandung, raker, pulangnya baru Minggu."
"Minggu? Oh my God. Aku kan ngantor lagi. Besoknya nggak bakal ketemu lagi dong." (Dan aku langsung membayangkan pertemuan itu baru terjadi Jumat pagi depan. Haegghhh.)

Ini mungkin kedengerannya aku jadi nggak happy. Padahal ya masih happy dengan melihat hasilnya tiap siang. Bukan pada punyaku sih, tapi dengan total paketnya. Jadi suka membaca tulisan Ekonomi-nya Eva, Olahraga juga jadi lucu, Internasionalnya juga. Tulisan-tulisannya Ccr juga pendekatannya lucu-lucu. Ya wajarlah ya masih happy, minggu pertama gitu.

Oke, kalau tulisan ini kedengerannya agak kacau runtutan logikanya, ya maklum.

Dua, tiga minggu lalu aku sempat mengeluh, duh haruskah aku menghabiskan akhir pekan dengan orangtuaku, dengan nonton bareng sama mereka, dst. Tapi sekarang aku jadi pengen banget nonton. Atau jalan ke mal. Bersama mereka.

Ah, tiba-tiba kepala jadi kosong. Nggak ada witty remarks atau jokes yang muncul sama sekali. Emosi dan cara pikir jadi sederhana. Nggak ada kontemplatif-kontemplatifnya blas. Padahal biar ide muncul kan butuh kontemplasi...

Aku sudahi dulu deh.

Posted at 03:18 am by i_artharini
Comments (3)  

Friday, February 22, 2008
Magnet

Saat aku mengira sudah dimuntahkan bulat-bulat oleh institusi tempatku bekerja tanpa menyadari bahwa aku sedang dikunyah, eh ternyata, just when I thought I was out... they pull me back in.

Dan ini untuk suatu proyek yang sangat, sangat menarik.

Aku kaget sama apa yang masih bisa dihasilkan oleh tempat ini. Walaupun mungkin alasan di balik proyek ini tidak murni pengembangan produk, tapi ada unsur-unsur politik yang ikut bermain. But, ah, what the hell, it still is an interesting new project.

Nggak naif sih. Aku sudah bisa membayangkan seberapa capeknya proyek ini, tapi aku masih sangat antusias melakukannya. Mungkin bahayanya kalau antusiasme itu jadi terlalu banyak dan tidak diimbangi dengan kualitas kerja yang jadi turun dan nggak bisa ngejar naik ke atas lagi. Dari segi timbangan, antusiasme sih yang masih lebih berat. Walaupun, sekali lagi, semuanya masih dalam proses simulasi, belum benar-benar terjadi.

Mungkin aku seharusnya sekarang mencari-cari tentang reklamasi pantai utara Jakarta. Tapi membaca-baca, nggak ada yang bisa masuk. Mau pulang dan tidur juga tanggung, di rumah nggak ada orang, dan ini masih tengah hari.

Wow, I've been having such a weird morning.

Nginep di kantor, tidur di sofa ruang pemred, bangun jam 8, dan melihat sekitar udah kosong. Padahal pas jam 6 pagi tadi kayaknya masih pada ngobrol-ngobrol. "Aku ditinggal pulang ya? Haaegghh, udah jam 8." Terus lari-lari ke ruang redaksi sambil masih setengah sadar dan bilang, "Udah jam 8!"

Kepala-kepala orang yang aku kira sudah meninggalkanku pulang lalu bermunculan dari bawah meja kerja para redaktur. Dalam keadaan kurang tidur pun aku masih tahu betapa komiknya momen itu. Ccr juga tiba-tiba kelihatan dan nanya, "Emang kenapa sih jam 8?" Matanya masih setengah terbuka. Akhirnya kita pada nyari lahan bawah meja redaktur yang bisa dibuat tidur. Pilihanku, bawah mejanya Sic yang berfungsi sebagai gudang toko buku onlinenya itu. Ah, my idea of sexual fantasy, tidur dikelilingi buku-buku.

Bas yang membangunkan dan bilang, "Nari, bangun, Nar. Diajak Bang **** sarapan tuh di ruangannya."

Ccr, ketika dibangunin, "Apaan sih? Mau tidur aja. Emang Bang **** di mana?"
Bas: "Udah sampe tuh. Di ruangannya."

Beringsut-ingsut ternyata bukan sekedar sebuah kata. Ada gerakan yang memberi makna pada kata beringsut itu. Gerakan yang aku lakukan saat menuju ruang pemred. Ada boks penuh isi roti-roti coklat, keju, pisang dan berbagai kombinasinya di atas meja oval panjang. Tiga televisi di ruangan itu menyala semua. Volume paling kerasnya dipasang pada monitor tengah, debat politik Hilary-Obama.

Pagi yang aneh karena...bisa membayangkan nggak, at your worst possible hour of the day, pas bangun tidur, belum bener-bener melek, and you look absolutely crap because of not sleeping the whole night, dan baru tidur dua jam dari jam 6 pagi sampai jam 8, belum sikat gigi pula, orang pertama yang kamu temui adalah The Man, The Boss. Rapi, jelas-jelas sudah mandi, tampak segar dibanding kita yang minyakan, masih memakai baju (luar dan dalam) kemarin, dan otak belum bekerja penuh sehingga tidak ada perkataan yang masuk akal.

Dan menghadapi debat politik di televisi, yang dia mengeluarkan komentar-komentar, dan aku nggak bilang apa-apa hanya karena belum benar-benar bangun. Manusiawi memang. Tapi aku kan nggak pengen atasanku melihat itu. Ini kan bukan Tempo yang diceritain Janet Steele itu.

Ah anyway, harusnya sekarang pulang. Tapi malah pengen nge-blog dulu.

Whew, a weird morning.

Sebenarnya aku penasaran dengan hari Senin nanti. Tentang reaksi, tanggapan, apa sebenarnya dibaca atau enggak (secara profesional, aku belum tahu siapa yang membaca tulisanku. Penting nggak sih itu? Seharusnya, jika ada sesuatu yang aku pelajari dari 'Franny and Zooey' adalah 'melakukannya demi Fat Lady' kan ya? Dan nggak ada orang di luar sana yang bukan Fat Lady bagi Seymour [and you know who the Fat Lady is, &etcetera....] Iya kan? Maaf, maaf, masih dalam trance setelah pilgrimage tahunan membaca buku itu), dan beban 'byline' di satu halaman. Tapi ini proyek yang...truly exciting. Dan aku pengen bisa membanggakan apa yang aku kerjakan ini.

Between you and me, Nari, kita tahu kan, masalah terbesarmu ada pada eksekusi dan konsistensi? Tolong ingat itu sebelum kamu menyebut kata 'bangga'.

Posted at 02:44 pm by i_artharini
Comments (4)  

Monday, February 11, 2008
Senin: Hari untuk Procrastinating

Harusnya sih lagi mencari bahan-bahan buat karpet merahnya Grammy, lihat-lihat foto di wire, mulai mendesain tulisan, dst, tapi otakku selalu saja masih setengah terisi hari Senin.

Dari mencari-cari berita Grammy, aku jadi penasaran, berapa penghargaan yang dimenangkan oleh Amy Winehouse ya? Jawabannya, ternyata lima. Nominasi yang diterimanya, enam. Dan aku jadi merasa terharu gitu.

Oke, aku ngetawa-ngetawain dia habis pas tampil di European Music Award, yang dia nyanyi benar-benar nggak ketahuan lagi ngucapin apa...Dan aku sudah merasa muak melihat apa yang dia lakukan lewat pemberitaan A Socialite Life, tapi ini seharusnya bisa jadi bukti betapa dia bisa jauh lebih baik dari caranya memperlakukan dirinya sendiri.

Tapi, tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, pas lagi bedakan, tiba-tiba mendengar lagu yang rasanya familiar. Apakah lagu itu sedang bermain di dalam kepalaku atau muncul dari televisi? Kerasanya kok kayak dari TV ya?

Pas ngelihat, ah, ternyata ada Feist, lagi nyanyi '1234' cuma dengan gitar akustik.

Terus menjelang bagian akhir, this is the coolest part, tiba-tiba ada sekitar delapan orang dengan alat musik tiup tembaga (brass section) yang mengiringi penampilannya. Di situ deh aku merinding.

Dan aku suka banget dengan tekstur suaranya Feist, yang walaupun nyanyi di rekaman atau panggung tapi tetap aja mantap. Rasanya akrab tapi tetap kuat. Penampilan yang cuma 3 menitan itu menunjukkan secara gamblang sama aku apa artinya 'understated elegance'. Sederhana, tapi kuat, dan lebih merasuk daripada penampilan yang aku pikir bakal membuatku merinding, duet 'Proud Mary'-nya Beyonce dan Tina Turner itu.

Dari kemarin sih emang lagi bolak-balik muter lagunya Feist. Mungkin karena Jakarta yang lagi sering hujan, dan musik yang kerasa pas mengiringi saat hujan dan sesudah hujan itu adalah Feist. Lagu-lagunya yang temponya pelan pas buat waktu hujan, dan yang mid tempo kayak '1234' pas buat keceriaan (yang tetap sendu) pasca hujan.

There is something that resembles somewhat of perfection in her writing. Sederhana tapi juga padat makna. Case in point:

one, two, three, four,
tell me that you love me more.
sleepless, long nights.
Old teenage hopes are alive at your door
Left you with nothing but they want some more
oh, oh, oh,
you're changing your heart.
oh, oh, oh,
you know who you are.
sweetheart, bitter heart,
now i can't tell you apart.
cozy and cold,
put the horse before the cart.

Those teenage hopes who have tears in their eyes
Too scared to own up to one little lie
oh, oh, oh,
you're changing your heart.
oh, oh, oh,
you know who you are.

one, two, three, four, five, six, nine, and ten.
money can't buy you back the love that you had then.
one, two, three, four, five, six, nine, and ten.
money can't buy you back the love that you had then.
oh, oh, oh,
you're changing your heart.
oh, oh, oh,
you know who you are.
oh, oh, oh,
you're changing your heart.
oh, oh, oh,
you know who you are.
who you are

For the teenage boys
They're breaking your heart
For the teenage boys
They're breaking your heart

----

Hmm, jadi sendu mengingat "those teenage hopes"...

Posted at 04:47 pm by i_artharini
Make a comment  

Di Sela Kabuki

Minggu sore kemarin, aku ikut liputannya Ccr ke GKJ, nonton kabuki dan ada lektur singkat tentang kesenian itu dan beragam tekniknya. Datang agak terlambat karena makan siang dulu sama si Bapak Mall, tapi akhirnya sampai dan pas cari-cari tempat duduk dalam gelap, lha kok langsung ketemu Ccr.

Anyway, sempat ada beberapa kali istirahat antara tarian pertama, lektur, terus mau mulai tarian ke dua. Di depanku ada tiga orang duduk, satu mbak-mbak muda, dan sepasang pria wanita paruh baya yang aku tebak sebagai orangtua si mbak ini.

Pola interaksi, cara mereka menghabiskan waktu bersama, dan cara berkomunikasi mereka sih agak mengingatkanku sama diriku sendiri dan orangtua (sejak jadi anak tunggal yang masih tetap single, aku jadi stuck menghabiskan weekendku di bioskop sama mereka...*menghela nafas). Cuma si mbak lebih kelihatan santai dibanding aku. "Ayahnya' agak-agak berwajah blasteran Jepang, pakai kemeja garis-garis yang formal tapi santai, bahunya juga tegap, usianya 50an akhir. Ibunya, tampilannya tidak jauh berbeda dengan nyonya-nyonya petinggi penerbitan majalah-majalah perempuan, tipikal Jakarta-ish, atau mungkin Miranda Gultom-ish.

Mereka sering berbicara dan mengapresiasi *dengan suara rendah khas orang sophisticated yang menghadiri pertunjukan*, ketawa, kasih komentar-komentar yang tidak aku dengar, sampai pada salah satu break, si mbak bercerita tentang sesuatu dan 'mengakhirinya' dengan komentar:

"I still don't know if he's actually gay or really jaim. I hope he's gay cause then there's a lot of women...."

Bagian akhirnya sih aku nggak denger lagi, tapi aku nggak bisa berhenti-berhenti senyum waktu denger itu, karena, 'Hah, ternyata itu masalah yang jamak to...'

Aku nggak mencatat adanya kepahitan atau derajat keasaman tertentu dari nada suara si mbak itu sih, tapi yang aku tangkap adalah sebuah keheranan.

Dari ekspresinya juga, benar-benar kelihatan kaya orang yang heran dan nggak habis pikir. Yang agaknya sedang aku alami juga sih. Tapi ya sudahlah.

Anyway, ramalan Tarot ibu Ani-ku hari Minggu kemarin:

Cinta: Cobalah lebih berseni dalam menjalin hubungan dengan mengurangi pikiran-pikiran intelektual secara berlebihan. (Touche, touche. Ccr: *mata membelalak* Hah! Ih ini baru, gue nggak pernah denger yang kayak gitu) Sebaiknya bukalah hati anda untuk lebih saling mengerti. Karena cinta adalah masalah batin, bukan penalaran semata.

(Sylvia Plath emang menemukan keseimbangan intelektual, malah mungkin sosok kuat intelektualitas, lewat Ted Hughes. Tapi perilaku Hughes pasti punya andil ke bunuh dirinya Plath kan?)

(Walaupun mungkin masalahnya bukan sekedar memilih hitam putih antara keseimbangan intelektualitas dan batin ya--kenapa omonganku jadi cheesy banget gini ya?--tapi ya a little bit of both bukan?)

Sudahlah, Nari. Sekarang yang penting kan "menyeberangi entah berapa sungai, mendaki entah berapa gunung, menuruni entah berapa lembah...sebagai sebuah perjalanan menuju pencerahan."

"Tanggalkan semua beban, lepaskan semua kepemilikan dan bebaskan diri dari kepalsuan dan keterkucilan."

(Mengenai keterkucilan,
Ccr: Nah kalau itu bener.
Me: Hah, gue kan nggak mengucilkan diri.
Ccr: Apa rencanamu akhir minggu ini?
Me: Nggak ke mana-mana, di rumah.
Ccr: Nah kan.)

Posted at 04:14 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, February 08, 2008
Coffee Overdrive dan Pernyataan Cinta (halah!)

Pas tadi naik ojek, aku tiba-tiba jadi ingat kemarin, pas naik ojek juga. Secara kumulatif, mungkin waktu yang aku habiskan dengan tukang-tukang ojek itu setara dengan 50 kencan kali...

Oke, terus.

Di sekitar pintu tol Kebon Jeruk, aku tiba-tiba berpikir tentang, gimana ya bentuknya pernyataan cintaku itu, kalau aku berani mengatakannya. Tapi aku lupa, apa ya yang membuatku berpikir sampai ke situ. Pemutar mp3ku masih menyala memang. Tapi apa yang diputar saat itu?

Terakhir kali, waktu di Kemanggisan, aku ingat mendengar lagu 'Hands'-nya The Raconteurs. Aku ingat waktu itu sempat berpikir, 1) ah, The Raconteurs ternyata nggak sedashyat White Stripes. Nggak ada yang nandingin 'Seven Nation Army' atau 'Hardest Button to Button' deh, 2) mungkin asyik kali ya kalau ada yang nyanyiin lagu ini ke aku,  sebelum akhirnya pikiran itu sampai di sebuah acara reuni super kecil dengan seorang bekas teman sekolah beberapa minggu lalu. Dan tentang nasihat-nasihat yang diberikannya.

"Gue nggak setuju/sebel banget kalo ada cewek yang bilang, 'Ya, aku kan cewek, I'm not supposed to say anything first, etc'," katanya.

"Aku juga nggak setuju. I don't believe in things like that," aku bilang.

"Well, why don't you say something then?"

"Nggak tahu. Kenapa ya? Karena aku mikirnya masih punya waktu panjang dan masih bisa jadi lebih dekat?"

"Nari, you're like me kan. Kita easily fall for people, gampang naksir orang, gampang carried away, kita suka ber-what if, what if. Aku kalau naksir orang juga I text them, I text them, I text them again, sampai gue ngerasa, aduh pelacur banget sih ngirim sms terus..."

"What, you feel that way too? I thought only girls have the privilege to feel like that. I mean that's the whole point of feminism, keadilan gender, bla, bla, bla..."

"Enggak kok. Jadi sebelum terbawa terlalu jauh, mending kamu tanya deh. Are you thinking of me, considering me? Because I'm considering you."

"But how? I'm that love dense."

"Ya gue nggak tau sih kalian sedekat apa, tapi coba ..... (ini bagian yang case-specific). Tapi, Nari, we grow up watching Ally McBeal, Party of Five, pasti you can come up with something..."

Dalam hati aku menambahkan, "Dan Grey's Anatomy, Before Sunrise/Sunset, Gilmore Girls, Sex and the City, dan novel-novel Jane Austen, pokoknya semua-mua yang berhubungan dengan urusan hati. Seharusnya aku bisa muncul dengan sesuatu kan?"

Jadi, kalau aku punya cukup keberanian, dan rasa suka itu belum jadi basi ya, aku jadi mencorat-coret, kira-kira gimana ya 'pidato' 'Are you considering me, because I'm considering you' itu...

Pertama, mungkin. Aku suka lho sama kamu. Beneran, aku naksiiir banget ama kamu. Tapi itu dulu. Eh, sekarang masih nggak ya? Kok jadi ragu sih? Kayaknya sih masih. Tapi kamu juga nggak bisa becanda ya. Cakep sih, cuman nggak bisa becanda, nggak ngerti waktu sebuah joke sedang diumpankan, padahal banyak orang lain yang ngerti kalau itu cuma sebuah joke. Plus opini-opini kamu juga klise...

Eh, kayaknya aku berjalan ke arah yang salah deh.

Oke, stop, stop, stop.

*Tarik nafas, tahan, buang*

Ini sih nggak ada manis-manisnya. Nggak kok, aku nggak lagi mengeluarkan bisa, cuma sekedar merasionalisasi aja. Benarkah aku naksir? Masih naksir? Pernah naksir?

Ah, aku jadi heran kenapa kemarin bisa sesendu itu.

Mungkin karena ketemu sama orang yang mirip sama si taksiran, cuma rambutnya panjang tanggung shaggy gitu, dan kelihatan lebih muda, dengan ekspresi yang lebih droopy dan lebih tidak self-conscious. Terus jadi berasa kangen.

Padahal kalau mau dirasionalisasi lagi, kangen akan apa? Lha wong selama ini juga nggak ada yang sifatnya pribadi yang membuat kamu terkesan kan? Yang membuat kamu merasa ada seribu kunang-kunang, eh, kupu-kupu di perut. It was one impersonal matter piled up against another impersonal matter. Tiny impersonal matter pula.

Hmm, ini aneh. Pada pertanyaan, 'jadi kamu kecewa?' yang diajukan oleh dua sosok ibu, yang biologis dan Ccr, pun aku nggak bisa memberikan sebuah jawaban pasti. Mungkin iya, mungkin enggak.

Kalau pun kecewa, untuk menghibur diri, aku selalu punya 'kartu orientasi' yang bisa dimainkan. "Tuh kan, selama ini aku agak ragu, jangan-jangan dia nggak tertarik sama cewek. I mean, all the signs are there gitu lho..."

Posted at 07:50 pm by i_artharini
Comments (3)  

Next Page