PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< March 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, March 29, 2007
Membaca Tentang Membaca Lolita di Tehran

Buku terakhir yang membuat aku nangis pas mbaca setelah aku nggak yakin ada buku yang mampu membuatku seperti itu adalah 'Reading Lolita in Tehran'.

Dan, yang mbuat nangis tuh juga bukan detil-detil mengerikan tentang apa yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa Profesor Azar Nafisi di penjara-penjara Iran, tapi saat salah satu mahasiswanya, Nassrin, pamitan sama dia karena mau kabur ke Canada. Ada satu lagi sih, kayaknya pas Profesor Nafisi pamitan sama 'the magician'.

Buku ini, buat aku, hebat karena kemampuannya untuk menguras kemampatanku membaca karya-karya klasik dan membuatku lebih mengapresiasi yang aku baca. Spons di otak tuh serasa diteken-teken sampai sarinya keluar. Pas mulai mbaca lagi, aku kerasa jadi mangkok kosong yang nunggu diisi lagi. Tapi, nggak sepenuhnya kosong juga. Karena aku ngerasa ada pemahaman yang lebih mendalam di 'kekosongan' itu.

Menggunakan perbandingan yang dipakai Tyler Durden di 'Fight Club', setelah orang tuh selamat dari kematiannya, his breakfast will be the best thing he taste in his entire life. Ini buku yang membuat aku kerasa kayak gitu, naik bis aja jadi kerasa lebih bermakna. Macet aja jadi sebuah pengalaman yang membuat aku merenung instead of marah-marah nggak jelas. Begitu juga dengan membaca, kayak ada penajaman persepsi yang terjadi saat sebelumnya aku berpikir udah merasa mentok.

Ada apa ya dengan penulis-penulis Iran kayak Azar Nafisi atau Marjane Satrapi (not necessarily a writer sih, seorang novelis grafis, graphic-novelist, tapi ya caranya dia memilih cerita yang ditampilkanlah...) yang bisa membahasakan pengalaman-pengalaman surreal mereka dengan cara sederhana. Rapi. Seperti terkontrol tapi juga lepas. Seperti tanpa beban menceritakan pengalaman-pengalaman mereka, tapi aku tau di baliknya pasti ada rasa marah atau geregetan. Nah, rasa marah atau geregetan ini tapinya nggak mempengaruhi cara mereka bercerita.

Elegan. Itu deh kayaknya kata tepat mengenai penyampaian cerita mereka. Jelas, mereka bukan Nawal. Cara penyampaian mereka tidak seperti Nawal. Nawal, kritis dan blak-blakan. Radikal, bahkan. Tapi dua orang itu, elegan.

Ada banyak banget kutipan-kutipan dan refleksi-refleksi yang aku dapetin dari buku ini tentang apa artinya membaca sastra dalam hidup. Dan, apa-apa saja yang dibahas sama murid-muridnya profesor Nafisi jadi membuat aku mencatat aspek-aspek yang mungkin harus dilihat juga ketika membaca.

Tapi mungkin karena pilihan buku-buku yang mereka baca juga, some of them are my favorites. Bab-nya sih ada 'Lolita', 'Gatsby', 'James' dan 'Austen'.

Jane Austen dan F Scott Fitzgerald, iyalah. Tapi Nabokov itu unchartered territory buat aku. James, baru sempat baca sepertiga 'The Portrait of a Lady' sih, tapi aku merasa itu buku yang cukup memikat.

Oke, ada satu kutipan yang membuat aku geli tadi pagi pas keinget-inget sebelum mandi. Ada salah satu muridnya Prof Nafisi yang bilang kalau tokoh ibu di novelnya Maxim Gorky 'Ibunda' itu worth much much more than all the flighty young ladies in Jane Austen's novels.

Hehehe, aku belum mbaca 'Ibunda' sih. Tapi mbaca perbandingan gitu aja aku udah langsung geli. How silly. Aku masih belum bisa menjelaskan betapa konyolnya perbandingan itu, tapi ada senyum pas aku nulis dan mengingat-ingat lagi perbandingan itu. Dan aku nggak yakin, ketika nanti mbaca 'Ibunda', bakal bisa tidak membandingkannya dengan gadis-gadis muda Austen. Well, kutipan itu sih pretty much ruined 'Ibunda' for me. Aku tidak akan bisa membaca 'Ibunda' dengan pikiran netral.

Gara-gara 'Reading Lolita...' aku sekarang lagi mbaca 'Madame Bovary' dan 'Emma' di saat bersamaan. Oh, ini lagi tentang 'Reading Lolita...' ini tuh tipe buku yang nunjukin apa yang penting untuk diamati dan apa yang 'kurang' penting untuk diamati ketika membaca. Jadi ketika aku sekarang mbaca 'Madame Bovary' dan 'Emma' aku nggak terlalu ribet nyari makna di antara hal-hal terkecil dan bisa berfokus hanya pada membaca buku itu.

Posted at 05:58 pm by i_artharini
Make a comment  

Aa'-Aa'-an

"Tuh ada Aa'-aa'an lagi tuh di TV," kata ibuku pas aku keluar dari kamar mandi tadi pagi.
"Aa' siapa?"
"Ya, nggak taulah. Asal orang Sunda aja kan dia bisa dipanggil Aa'."

Taunya, di Indosiar ada acara judulnya "Mamah dan Aa'." Satu lagi acara yang menampilkan televangelist (=television evangelist) yang entah kualifikasinya apa.

Sambil makan jeruk, sempet denger ada salah satu penelpon yang cerita masalahnya. Singkatnya aja ya. Penelepon adalah seorang bapak yang anaknya di-PHK, dapet uang pesangon. Uang pesangon, ditambah uang si bapak dipakai buat mbangun rumah. Si bapak ini juga masih membantu menafkahi cucu-cucunya karena anaknya di-PHK. Tapi, setelah tiga tahun, menantu si bapak ngotot minta cerai dari anaknya si bapak. Si menantu posisinya adalah seorang istri. Si bapak pengen tau, sebenernya gimana ini permintaan cerai si menantu/istri anaknya itu?

Oh, perlu diberi info tambahan, anak si bapak, dalam tiga tahun itu, tetap nganggur.

D'oh.

Kenapa coba si bapak butuh pendapat seorang 'ahli agama' untuk memberi penilaian atau cap buat si istri anaknya? Dia kan nggak pengen nasihat atau pendapat, dia cuman pengen justifikasi untuk mbela anaknya. Bahwa anaknya bener dan istri anaknya berada di posisi yang salah. Dan dia nyari justifikasi dari penceramah di televisi?

Nah, si ustadzah, berkomentar gini: "jadi setelah suaminya di-PHK, trus istrinya minta cerai. Aduh, kalau itu namanya habis manis, sepah dibuang. Ibu-ibu, istri yang saleh itu selalu mendampingi suami ya."

HELLOOOOO. Bagian mana sih dari ungkapan "penelantaran ekonomi" yang tidak dimengerti si ustadzah?

Dari fakta-faktanya aja deh, uang pesangon dari PHK. Kok dibangunin rumah, ya buat usaha lah atau gimana. Dan tiga tahun tetep nganggur, di mana sih tanggung jawab si ayah sebagai penafkah keluarga?

Terus ada kasus lain yang nggak kalah mbuat aku ngerasa: duh, orang-orang, kalian tuh dikasih akal dan pikiran. Nggak selalu deh semua-muanya itu penyelesaian harus tanya ke ahli agama. Please, think for yourself. Logika aja lah.

Cerita kedua, seorang bapak atau mas-mas nggak jelas gitu, telpon. Pas dia telpon, aku baru mbaca tema acara hari itu adalah "Kekerasan Dalam Rumah Tangga". Si mas-mas ini nanya, gimana kalau istri yang mulai mukul, terus karena melindungi diri sendiri (halah!) suami jadi bales mukul. Terus, si anak, karena ketakutan, melaporkan orangtuanya ke polisi. Apakah si anak bisa dinilai durhaka?

Mengutip kata-kata Agnes Monica ya (never thought in a million years her name would appear in this blog, tapi bayangin....AgMon aja bisa lebih make sense dari pada orang-orang ini): "kadang-kadang tak ada logikaa...."

Terus, kalau si ustadzah bilang dia nggak durhaka, bener gitu dia nggak durhaka?

Aku enggak menilai apakah yang dilakukan si anak benar atau salah. Tapiiii, duh, duh, duh. Kenapa sih kita butuh persetujuan seorang 'ahli agama' yang nggak jelas kualifikasinya apa untuk menilai apakah tindakan kita bisa memasukkan kita ke surga atau neraka. Emang dia seorang assessor dengan sertifikat standardisasi penilaian surga dan neraka?

Dan, it got me to think about this, nih, semua ustad-ustad atau ustadzah yang muncul di televisi, kualifikasi mereka apa sih? Orang yang bekerja di media harusnya punya argumentasi yang jelas, kenapa seseorang bisa dipilih sebagai narasumber.

Di mana mereka belajar agama, bagaimana dalamnya ilmu mereka dinilai, standarnya apa, apa mereka sudah nulis buku yang didasarkan dari penelitian dan studi mendalam, lagi-lagi, seberapa dalam studinya, sekarang ngajar atau enggak, etc.

Dan, aku harus 'menyerahkan' sama orang-orang yang tidak jelas kualifikasi keagamaannya ini untuk menentukan mana baik dan buruk? Uh, no thanks. I have my own mind for that.

(Tapi, nulis buku juga nggak bisa jadi ukuran sih. Jangan-jangan, nanti pas ditanyain 'bagaimana proses kreatifnya?' jawabannya, 'oh, baik-baik saja'. Yang itu, asli kejadian, cerita dari temen yang liputan peluncuran bukunya).

Posted at 04:15 pm by i_artharini
Make a comment  

Cerita Tentang Kecerobohan

Lemes deh waktu denger mbak-mbak Halo BCA ngasih tau: "lalu ada penarikan 500 ribu, 500 ribu, 500 ribu dan 300 ribu." Waktu itu, Selasa sore, di pelataran sekitar kolam Rumah Sakit Pusat Pertamina.

Setiap kali si mbak Reva (bener, namanya Reva) nyebutin jumlah-jumlah itu secara berturutan, aduuhhh...ada satu lagi pisau ditancepin di hati. Darahku serasa makin turun tiap kali penarikan-penarikan itu disebutin.

Huks, padahal kan itu ada buat tabungan liburan Grand Asia Tour, buat mbayar cicilan utang juga. Kenapa sih aku bisa seceroboh itu lupa narik kartu ATM?

Kehilangan uang jadi satu masalah emang, tapi yang paling mbuat aku ngerasa jadi korban tuh pas tersadar, kok ya ada ya orang yang tega ngelakuin kayak gitu. Ada kemungkinan, pelakunya juga orang-orang berseragam biru, karena lokasi ATM yang emang di kompleks kerja kita. Untungnya, Senin itu belum gajian. Ternyata ada hikmah juga gajian tanggal 28.

Si QQ ngomong, 'Nari, masak kamu nggak inget sih siapa orang sesudahnya? Soalnya aku juga pernah kayak gitu, selang berapa menit aja, aku balik lagi, udah dimintain nomor PIN lagi.'

Berarti ada orang pas sesudah aku. Tapi aku bener-bener nggak inget. Dan kalau pun aku inget warna-warna biru, ada kemungkinan itu karena imajinasiku menginginkan adanya warna biru di pakaian orang sesudah aku. Biar agak bisa menjawab siapa pelakunya.

Tapi kalo dipikir-pikir, kalo CCTV-nya berfungsi dan aku dikasih izin ngeliat siapa orangnya dan aku bisa ngenalin orangnya, apa yang bisa aku jadiin bukti dia nyuri duitku? Gambar CCTV, kalau ada, cuma menunjukkan orang sesudah aku lagi ngambil ATM. Tapi kan nggak keliatan prosedur apa yang dia lakukan. Yah, mungkin bisa dibuktiin sih, CCTV nggak merekam aku ngambil kartu, sehingga kesimpulannya siapa pun setelah itu melakukan transaksi atas beban kartuku.

Hari pertama itu sih aku cuman mencoba memahami: siapa sih yang tega berbuat gitu? Dan aku beneran menghadapi kesulitan memahami hal kayak gitu. Kalo bener dia pekerja berseragam biru...apa motivasinya, iseng? Udah tanggal tua?

Dan kalo bener pelakunya pekerja berseragam biru, damn...berarti ada orang di kompleks kerja ini yang mentalnya perampok?

Katanya seorang psikiater yang pernah ngasih materi waktu seminar Modalitas Bantuan Kesehatan Jiwa Pasca Trauma, kemampuan menceritakan kembali secara runtun adalah suatu tanda menuju kesembuhan dan meminimalkan trauma yang terjadi. Ya, mungkin ini salah satu cara untuk sembuh. Dan tentunya nggak ngulangin lagi kesalahan itu. (Hint, hint: kejadian serupa terjadi Januari lalu, tapi saldo waktu itu aman. Nari, please be careful.)

Tapi, aku belum menceritakan bagian ini ke ortuku. So, do I still have a chance for recovery from trauma?

Posted at 03:47 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, March 16, 2007
Rambut Bob

Mungkin ini gara-gara sakit. Tapi kok satu-satunya hal yang aku pengenin cuman cropped bob brown hair ya? Aku bahkan udah tau jenis coklat yang aku pengenin. Yang rich dan gelap, hampir berbatasan dengan burgundy, kayaknya subversif dan elegan di saat bersamaan gitu.

Fffiuhh.

Posted at 01:22 pm by i_artharini
Make a comment  

Saturday, March 10, 2007
Sebuah Paragraf Pinjeman

"It was like this veil that meant nothing to her anymore yet without which she would be lost. She had always worn the veil. Did she want to wear it or not? She did not know.

.....She said she could not imagine Yassi without a veil. What would she look like? Would it affect the way she walked or how she moved her hands? How would others look at her? Would she become a smarter or a dumber person? These were her obsessions, alongside her favorite novels by Austen, Nabokov and Flaubert.

Again she repeated that she would never get married, never ever. She said that for her a man always existed in books, that she would spend the rest of her life with Mr Darcy--even in the books, there were few men for her. What was wrong with that?"

"Reading Lolita in Tehran"
by Azar Nafisi

(Oh. My. God.)




Currently reading:
The Custom of the Country (Penguin Classics)
By Edith Wharton


Currently reading:
Reading Lolita in Tehran: A Memoir in Books
By Azar Nafisi



Posted at 07:17 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, March 02, 2007
Jazz Soiree dan Kelas

Tadi malem, pas iseng-iseng nanyain ama Redaktur Eksekutif yang ngurusin iklan, masak kita nggak dapet undangan Java Jazz, eh taunya dibales dengan: tuh ada tuh, kayaknya gala dinner pembukaannya deh.

Oke lah, dateng ke sana dengan harapan bakal bisa ngurus Press Pass buat tiga hari ke depan (ternyata nggak). Anyway, pas lagi muter-muter di sana, ini kan acara ceritanya khusus undangan. Yang dateng, selain media, orang-orang yang kerja di perusahaan-perusahaan yang ngesponsorin event itu. Ya dari Dji Sam Soe, Garuda, Telkomsel, BNI, dan aku nggak tau dari mana sisanya.

Tapi, pas lagi muter-muter di sana, ngeliat banyaaak banget cowok-cowok yang yah sebenarnya secara fisik gak model-model banget. Cuman rapi gitu. Clean shaven, clean cut, pakaiannya juga rapi dan 'normal', bahkan berbatasan dengan stylish gitu. Pokoknya cukuplah untuk bertanya: 'where have all these men holed up? Disembunyikan? Sehari-harinya mereka di mana?'

Ya mungkin sehari-harinya, saat aku ngejar-ngejar liputan (atau mencoba menyemangati diri untuk keluar rumah dan ke kantor) mereka udah ngendon di kantor. Dan saat mereka bubar kerja, aku masih di kantor. Dan antara jam kerjaku dan jam kerja mereka, there's no chance meeting, meet-cute, apa pun itu namanya yang pokoknya artinya kita ketemuan.

Dan somehow, dengan tampilanku yang masih pake seragam itu dan muka penuh minyak, dan tampilan mereka yang rapi walopun muka sedikit berminyak, aku kok tiba-tiba ngerasa ada perbedaan kelas ya?

That I'm not in the same class as they are, walaupun wajah-wajah mereka keliatan kayak teman-teman SMA-ku dulu. Dan kesempatanku buat ngedapetin tipe-tipe cowok kayak gitu jadi far and remote, dengan posisiku sekarang. Atau apa karena aku kebanyakan mbaca buku-buku tentang society itu? And yes, jazz and society, oh..betapa 'Great Gatsby'-nya.

Oke, mungkin yang membedakan cowok-cowok seusiaku itu dan aku cuman saldo di bank, we have the same background, education wise, kita sama-sama produk ortu kelas menengah, secara taste...oh, I'm definitely better. Tapi, kenapa ya, I have that sense tentang perbedaan kelas ketika melihat mereka. Apakah ini bagian dari kehidupan orang dewasa? Ketika perbedaan-perbedaan seperti tingkat pemasukan mempengaruhi siapa kita atau cara kita dilihat dan melihat?

Posted at 06:41 pm by i_artharini
Make a comment  

Society Girls

Kayaknya buku pertama yang aku baca tahun ini adalah 'My Name is Red'-nya Orhan Pamuk. Tapi itu bukan buku pertama yang aku selesaikan. Instead aku nyelesein beberapa buku tentang society girls.

Pertamanya, karena pengen mbaca sesuatu yang ringan, akhirnya milih The Pursuit of Love/Love in a Cold Climate, dua buku yang dijadiin satu, dua-duanya karya Nancy Mitford. Ini ceritanya sih cukup lucu lah. Tentang para bangsawan Inggris pedesaan yang hidup di masa-masa antara Perang Dunia I dan II.  Yah, kayak tokoh-tokoh ceweknya Jane Austen kali ya, cuman masanya aja beda. Omongannya, apalagi kalo bukan cari suami-suami.

Tapi, gara-gara di salah satu buku itu dibilangin kalo karakternya mbaca 'The House of Mirth'-nya Edith Wharton, aku jadi mulai mbaca buku itu (yes, yes, ini tentang intertekstualitas). Dan sekarang, ketika selesai, aku malah jadi pusing.

Gara-garanya, aku nggak ngerti motif-motif yang mendasari tindakan-tindakannya karakternya, Lily Bart. Semakin ke belakang, cerita hidupnya jadi semakin sengsara, tapi kok resistensi yang dilakukan si karakter nggak berubah-berubah ya? Gituuu aja. Kadang ada beberapa kali tokoh utama cowoknya nggak disebut sama sekali, padahal aku berharapnya dia yang bakal jadi karakter penolong. Terus ada sebuah obyek yang dimiliki Lily pas di bagian awal, aku berharap ini bakal jadi senjata yang dia pake, kartu As terakhir yang bisa dia tarik. Lha tapi kok sampai terakhir dia baru inget gitu.

Why, why, why Lily Bart seperti itu?

Iya, New York society itu kejam ke dia. Tapi kenapa dia nggak equally mean? Padahal the only thing that she has to be in that world, i.e. reputation, udah dibelah-belah hanya lewat gosip-gosip mereka. Apakah, by refusing to play dirty, Lily berusaha mempertahankan satu-satunya 'virtue' yang dia miliki? (Btw, aku nggak yakin virtue-nya itu apa, tapi...apakah itu playing nice? Atau jujur?) Atau, apa karena dia menahan diri karena perasaannya sama Selden.

But really, for Selden to be the 'only spring in her heart during her whole life' kok kayaknya kurang passionate gitu. And I'm comparing this to another Edith Wharton's novel, Age of Innocence. Ih, di situ mah keliatan jelas yang namanya passion, walopun sopan, tetep aja keliatan antara si Countess Olenska ama siapa itu...pokoknya di versi filmnya, yang jadi si Daniel Day Lewis.

Mbaca ini malah pusing deh. Jadi rada ragu untuk melanjutkan ke bacaan-bacaan tentang society girls lainnya.




Currently reading:
The House of Mirth (Signet Classics)
By Edith Wharton



Posted at 06:09 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, January 31, 2007
Eye Candy, Insto, Better than Prozac (I think...)



Yesss. Aku memasang foto ini sebagai wallpaper komputer. Di-tile-in. Ohh...McDreamy. Everytime I closed all the windows in my computer, and I catch a glimpse of him...oh, I think I'm having a tiny piece of McOrgasm.

(Kata QQ: "Duh, Nari. Elu kok kayak Indonesia aja sih. Bisanya cuma di atas kertas.")

Posted at 07:48 pm by i_artharini
Comments (3)  

Saturday, January 27, 2007
Kilas 24

Other than my mom dreaming about my future husband, I think I got a glimpse of what 24 is all about. Jadi, beberapa waktu lalu, ceritanya aku rada ngerasa ampang, kosong gitu. Nggak antusias lagi ama kerjaan, atau buku, atau belajar, atau nulis. Tahun baru aja (dua tahun baru, tepatnya) nggak membawa optimisme apa-apa buatku.

Walopun, kalo diliat, everything is...fine. Fine dalam artian nothing is bothering me secara substansial. Kecuali ya...the absent of excitement. Nggak ada itu lhooo...that jolt of fire. Motor di otak tuh kayaknya nggak nyala-nyala, dan nggak ada tujuan buat pergi juga gitu...Pokoknya semua datar aja. Apakah aku ngerasa bosan?

Aku masih meraba-raba dalam gelap sih sebenernya tentang apa yang terjadi. Jadi, ketika aku merasa menemukan jawaban, aku nggak yakin apakah pada awalnya aku memang sedang nyari sesuatu. Dan aku ngerasa, it has to do with being older.

Semua-semua di sekitarku aku rasa gitu-gitu aja, nggak berubah. Tapi mungkin caraku menghadapinya yang berbeda. Nggak bisa kayak waktu abis lulus kuliah. Aku udah jadi lebih skeptis, jadi nggak gampang antusias, nggak gampang terinspirasi, jadi semangat dalam hati tuh nggak semudah dulu munculnya.

Mungkin karena alasan-alasan itu juga, aku jadi lebih susah mbaca, karena sugesti nggak segampang beberapa tahun lalu masuknya ke otak. Sama juga pas belajar. Filter otak jadi lebih ketat, lebih ketat dari perbatasan Amerika Serikat kayaknya.

Dan as for writing and working, ya mungkin karena sekarang lagi masa-masanya ketahanan itu diuji. Stimulus yang dikasih di tempat kerja, sama halnya kayak sugesti-sugesti di luar tempat kerja, nggak lagi segampang itu menginspirasi untuk do my best.

Nggak heran kalau aku ngerasa 'bosan', karena aku berharap hal-hal yang dulu membuat aku terinspirasi dan bersemangat, terus-terusan akan membuatku terinspirasi dan bersemangat. Yah, sama kayak Spice Girls atau every other boyband I screamed on during my teenhood, beberapa dari hal-hal itu jadi melempem.

Kalo buat bacaan atau menulis, I hope those things nggak bakal melempem. Tapi mungkin aku harus memaknainya dengan cara yang beda. Dan aku bisa dengan gampang gonta-ganti penulis kesukaan.

Tapi gimana dengan tempat kerja? Well, I can change work place. Oke, itu mungkin rencana jangka....lima tahun? Atau terlalu lama? Anyway, apa yang penting sekarang, to survive day-by-day in my workplace, ya lagi-lagi memaknainya dengan cara yang berbeda.

Sekarang menyemangati udah jadi tugas diri sendiri. Gimana caranya nemuin hal-hal yang masih menantang. Atau hal-hal yang masih disenengin. Atau nemuin harapan dan optimisme lagi. Dan nggak bergantung sama apakah lingkungan kerja kita ngasih stimulus.

Belajar juga gitu rasanya. Ya, mencoba menggali aja ilmu apa yang pengen dicari instead of males2. Bener juga ternyata, as you get older, menyerap pelajaran jadi lebih susah. Karena kita nggak semudah itu percaya. Kalau buat yang ini, aku masih belum nemu gimana caranya untuk ngerasa haus lagi.  

Posted at 09:27 pm by i_artharini
Make a comment  

Reading Notes: Namaku Merah Kirmizi

Middlemarch ternyata jadi terlalu lambat. Bukan sebuah buku yang bisa dibaca di angkot atau di bis. Well mungkin bisa sih, asal traffic di luar nggak menimbulkan keributan luar biasa dan nggak keganggu konsentrasinya tiap kali bisnya ngerem setiap beberapa detik. So, untuk sementara mungkin bukan bacaan angkot.

Instead, I'm picking up Namaku Merah Kirmizi-nya Orhan Pamuk. Kayaknya sih bahasanya lebih simpel (karena terjemahan bahasa Indonesia juga kali ya..) dan ceritanya lebih eksotis. Plus, tebakanku, ceritanya lebih cepat mengalir dan melibatkan penyelesaian sebuah misteri.

Aku selalu suka sih cerita-cerita atau bagian dari sejarah yang kayaknya bakal membuat Indiana Jones memulai salah satu ekspedisinya. Despite hating Da Vinci Code, aku cukup suka tinjauan-tinjauan sejarah yang dipakai Dan Brown. Eh...bukan dipakai ding, tapi diplagiat.

Aku nggak tau apakah ceritanya My Name is Red bakal membuat Indiana mulai berekspedisi, tapi aku suka settingnya. Yah, kayaknya backdrop yang sesuai buat Indiana Jones. By the way, why am I keep repeating Indiana Jones?

Oke, kayaknya aku udah terlalu lama nggak browsing-browsing judul di toko buku deh. Dan ketika aku ke sana, eh ada beberapa buku terjemahan keren, kayak V for Vendetta (lumayan mahal ya harganya...), trus The Miraculous Journey of Edward Tulane (duh ngeliat sampulnya aja udah merasa 'kayaknya ini buku bakalan so sad, it's heartbreaking deh'. Mbaca Pinokio aja aku nggak tega...), dan ternyata...dua judul dari trilogi His Dark Materials udah diterbitin (walaupun setelah mbaca halaman satu Kompas Emas jadi rada ngerasa it's too fantasy for me..)

Sama 'The History of Love'-nya Nicole Krauss juga udah diterbitin. Sebenernya belum tau apa-apa sih tentang buku ini, selain...yang nulis istrinya Jonathan Safran Foer. Actually, my feeling was a bit moderate for Foer's book, but he represents those cool, young writers yang suka main-main ama bentuk dan kata-kata. And he has Jeffrey Eugenides and Joyce Carol Oates sebagai pembimbing skripsi. Yes, the perks of being a literature major in Ivy League universities.

Balik ke My Name is Red? Hehehe, I ended up mbaca ulang setelah pas 51 halaman karena ketinggalan ngejar si narator. Tiap bab, setidaknya sampai halaman 51, naratornya pindah orang terus. Dan aku terus bertanya-tanya, is this the same person as before? Karena nggak kuat ngejar, ngos-ngos-an deh. Dan ooohhh, okeee..kayaknya sekarang mulai lebih ngerti deh.

Setelah Orhan Pamuk menang Nobel Sastra, seorang redaktur budaya minta tolong buat nulis tentang Pamuk. Yah, oke menggunakan sumber-sumber The Guardian, Wikipedia, dan..aku lupa apa lagi. Mungkin bukan nulis, tapi merangkum tepatnya. So I come to understand, a bit, tentang apa yang dia 'perjuangkan'. Dan semuanya terangkum dalam satu kutipan yang ia cantumkan di halaman awal "Namaku..":

"Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat"
(Al Baqarah: 115)

Hmm...membaca lagi kutipan itu lepas dari halaman buku jadi bisa ngerasa kenapa orang suka salah paham memaknainya. Mungkin ada yang memaknainya jadi, "kalo gitu, orang barat harus tunduk sama (agama) timur dong." Atau mungkin memberi cap murtad pada orang-orang barat yang (dinilai) lupa pada  pemiliknya.

If I may interpret it the way Pamuk sees it, singkatnya, dan normatifnya, kayaknya ini lebih tentang mentoleransi perbedaan deh. Bahwa nggak ada yang lebih salah atau lebih benar. Bukan tentang peradaban siapa yang lebih unggul, karena keduanya berawal dari sumber yang sama.

Hmmm..aku kayaknya harus balik nulis soal asma. Been fooling around too long.

Posted at 06:34 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page