"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Thursday, March 29, 2007
Membaca Tentang Membaca Lolita di Tehran
Buku terakhir yang membuat aku nangis pas mbaca setelah aku nggak yakin
ada buku yang mampu membuatku seperti itu adalah 'Reading Lolita in
Tehran'.
Dan, yang mbuat nangis tuh juga bukan detil-detil mengerikan tentang
apa yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa Profesor Azar Nafisi di
penjara-penjara Iran, tapi saat salah satu mahasiswanya, Nassrin,
pamitan sama dia karena mau kabur ke Canada. Ada satu lagi sih,
kayaknya pas Profesor Nafisi pamitan sama 'the magician'.
Buku ini, buat aku, hebat karena kemampuannya untuk menguras
kemampatanku membaca karya-karya klasik dan membuatku lebih
mengapresiasi yang aku baca. Spons di otak tuh serasa diteken-teken
sampai sarinya keluar. Pas mulai mbaca lagi, aku kerasa jadi mangkok
kosong yang nunggu diisi lagi. Tapi, nggak sepenuhnya kosong juga.
Karena aku ngerasa ada pemahaman yang lebih mendalam di 'kekosongan'
itu.
Menggunakan perbandingan yang dipakai Tyler Durden di 'Fight Club',
setelah orang tuh selamat dari kematiannya, his breakfast will be the
best thing he taste in his entire life. Ini buku yang membuat aku
kerasa kayak gitu, naik bis aja jadi kerasa lebih bermakna. Macet aja
jadi sebuah pengalaman yang membuat aku merenung instead of marah-marah
nggak jelas. Begitu juga dengan membaca, kayak ada penajaman persepsi
yang terjadi saat sebelumnya aku berpikir udah merasa mentok.
Ada apa ya dengan penulis-penulis Iran kayak Azar Nafisi atau Marjane
Satrapi (not necessarily a writer sih, seorang novelis grafis,
graphic-novelist, tapi ya caranya dia memilih cerita yang
ditampilkanlah...) yang bisa membahasakan pengalaman-pengalaman surreal
mereka dengan cara sederhana. Rapi. Seperti terkontrol tapi juga lepas.
Seperti tanpa beban menceritakan pengalaman-pengalaman mereka, tapi aku
tau di baliknya pasti ada rasa marah atau geregetan. Nah, rasa marah
atau geregetan ini tapinya nggak mempengaruhi cara mereka bercerita.
Elegan. Itu deh kayaknya kata tepat mengenai penyampaian cerita mereka.
Jelas, mereka bukan Nawal. Cara penyampaian mereka tidak seperti Nawal.
Nawal, kritis dan blak-blakan. Radikal, bahkan. Tapi dua orang itu,
elegan.
Ada banyak banget kutipan-kutipan dan refleksi-refleksi yang aku
dapetin dari buku ini tentang apa artinya membaca sastra dalam hidup.
Dan, apa-apa saja yang dibahas sama murid-muridnya profesor Nafisi jadi
membuat aku mencatat aspek-aspek yang mungkin harus dilihat juga ketika
membaca.
Tapi mungkin karena pilihan buku-buku yang mereka baca juga, some of
them are my favorites. Bab-nya sih ada 'Lolita', 'Gatsby', 'James' dan
'Austen'.
Jane Austen dan F Scott Fitzgerald, iyalah. Tapi Nabokov itu
unchartered territory buat aku. James, baru sempat baca sepertiga 'The
Portrait of a Lady' sih, tapi aku merasa itu buku yang cukup memikat.
Oke, ada satu kutipan yang membuat aku geli tadi pagi pas keinget-inget
sebelum mandi. Ada salah satu muridnya Prof Nafisi yang bilang kalau
tokoh ibu di novelnya Maxim Gorky 'Ibunda' itu worth much much more
than all the flighty young ladies in Jane Austen's novels.
Hehehe, aku belum mbaca 'Ibunda' sih. Tapi mbaca perbandingan gitu aja
aku udah langsung geli. How silly. Aku masih belum bisa menjelaskan
betapa konyolnya perbandingan itu, tapi ada senyum pas aku nulis dan
mengingat-ingat lagi perbandingan itu. Dan aku nggak yakin, ketika
nanti mbaca 'Ibunda', bakal bisa tidak membandingkannya dengan
gadis-gadis muda Austen. Well, kutipan itu sih pretty much ruined
'Ibunda' for me. Aku tidak akan bisa membaca 'Ibunda' dengan pikiran
netral.
Gara-gara 'Reading Lolita...' aku sekarang lagi mbaca 'Madame Bovary'
dan 'Emma' di saat bersamaan. Oh, ini lagi tentang 'Reading Lolita...'
ini tuh tipe buku yang nunjukin apa yang penting untuk diamati dan apa
yang 'kurang' penting untuk diamati ketika membaca. Jadi ketika aku
sekarang mbaca 'Madame Bovary' dan 'Emma' aku nggak terlalu ribet nyari
makna di antara hal-hal terkecil dan bisa berfokus hanya pada membaca
buku itu.
Posted at 05:58 pm by i_artharini
Permalink
"Tuh ada Aa'-aa'an lagi tuh di TV," kata ibuku pas aku keluar dari kamar mandi tadi pagi. "Aa' siapa?" "Ya, nggak taulah. Asal orang Sunda aja kan dia bisa dipanggil Aa'."
Taunya, di Indosiar ada acara judulnya "Mamah dan Aa'." Satu lagi acara
yang menampilkan televangelist (=television evangelist) yang entah
kualifikasinya apa. Sambil makan jeruk, sempet denger ada
salah satu penelpon yang cerita masalahnya. Singkatnya aja ya.
Penelepon adalah seorang bapak yang anaknya di-PHK, dapet uang
pesangon. Uang pesangon, ditambah uang si bapak dipakai buat mbangun
rumah. Si bapak ini juga masih membantu menafkahi cucu-cucunya karena
anaknya di-PHK. Tapi, setelah tiga tahun, menantu si bapak ngotot minta
cerai dari anaknya si bapak. Si menantu posisinya adalah seorang istri.
Si bapak pengen tau, sebenernya gimana ini permintaan cerai si
menantu/istri anaknya itu? Oh, perlu diberi info tambahan, anak si bapak, dalam tiga tahun itu, tetap nganggur. D'oh.
Kenapa coba si bapak butuh pendapat seorang 'ahli agama' untuk memberi
penilaian atau cap buat si istri anaknya? Dia kan nggak pengen nasihat
atau pendapat, dia cuman pengen justifikasi untuk mbela anaknya. Bahwa
anaknya bener dan istri anaknya berada di posisi yang salah. Dan dia
nyari justifikasi dari penceramah di televisi? Nah, si
ustadzah, berkomentar gini: "jadi setelah suaminya di-PHK, trus
istrinya minta cerai. Aduh, kalau itu namanya habis manis, sepah
dibuang. Ibu-ibu, istri yang saleh itu selalu mendampingi suami ya." HELLOOOOO. Bagian mana sih dari ungkapan "penelantaran ekonomi" yang tidak dimengerti si ustadzah?
Dari fakta-faktanya aja deh, uang pesangon dari PHK. Kok dibangunin
rumah, ya buat usaha lah atau gimana. Dan tiga tahun tetep nganggur, di
mana sih tanggung jawab si ayah sebagai penafkah keluarga?
Terus ada kasus lain yang nggak kalah mbuat aku ngerasa: duh,
orang-orang, kalian tuh dikasih akal dan pikiran. Nggak selalu deh
semua-muanya itu penyelesaian harus tanya ke ahli agama. Please, think
for yourself. Logika aja lah. Cerita kedua, seorang bapak
atau mas-mas nggak jelas gitu, telpon. Pas dia telpon, aku baru mbaca
tema acara hari itu adalah "Kekerasan Dalam Rumah Tangga". Si mas-mas
ini nanya, gimana kalau istri yang mulai mukul, terus karena melindungi
diri sendiri (halah!) suami jadi bales mukul. Terus, si anak, karena
ketakutan, melaporkan orangtuanya ke polisi. Apakah si anak bisa
dinilai durhaka? Mengutip kata-kata Agnes Monica ya (never
thought in a million years her name would appear in this blog, tapi
bayangin....AgMon aja bisa lebih make sense dari pada orang-orang ini):
"kadang-kadang tak ada logikaa...." Terus, kalau si ustadzah bilang dia nggak durhaka, bener gitu dia nggak durhaka?
Aku enggak menilai apakah yang dilakukan si anak benar atau salah.
Tapiiii, duh, duh, duh. Kenapa sih kita butuh persetujuan seorang 'ahli
agama' yang nggak jelas kualifikasinya apa untuk menilai apakah
tindakan kita bisa memasukkan kita ke surga atau neraka. Emang dia
seorang assessor dengan sertifikat standardisasi penilaian surga dan
neraka? Dan, it got me to think about this, nih, semua
ustad-ustad atau ustadzah yang muncul di televisi, kualifikasi mereka
apa sih? Orang yang bekerja di media harusnya punya argumentasi yang
jelas, kenapa seseorang bisa dipilih sebagai narasumber. Di
mana mereka belajar agama, bagaimana dalamnya ilmu mereka dinilai,
standarnya apa, apa mereka sudah nulis buku yang didasarkan dari
penelitian dan studi mendalam, lagi-lagi, seberapa dalam studinya,
sekarang ngajar atau enggak, etc. Dan, aku harus
'menyerahkan' sama orang-orang yang tidak jelas kualifikasi
keagamaannya ini untuk menentukan mana baik dan buruk? Uh, no thanks. I
have my own mind for that.
(Tapi, nulis buku juga nggak bisa jadi ukuran sih. Jangan-jangan, nanti
pas ditanyain 'bagaimana proses kreatifnya?' jawabannya, 'oh, baik-baik
saja'. Yang itu, asli kejadian, cerita dari temen yang liputan
peluncuran bukunya).
Posted at 04:15 pm by i_artharini
Permalink
Cerita Tentang Kecerobohan
Lemes deh waktu denger mbak-mbak Halo BCA ngasih tau: "lalu ada
penarikan 500 ribu, 500 ribu, 500 ribu dan 300 ribu." Waktu itu, Selasa
sore, di pelataran sekitar kolam Rumah Sakit Pusat Pertamina.
Setiap kali si mbak Reva (bener, namanya Reva) nyebutin jumlah-jumlah
itu secara berturutan, aduuhhh...ada satu lagi pisau ditancepin di
hati. Darahku serasa makin turun tiap kali penarikan-penarikan itu
disebutin.
Huks, padahal kan itu ada buat tabungan liburan Grand Asia Tour, buat
mbayar cicilan utang juga. Kenapa sih aku bisa seceroboh itu lupa narik
kartu ATM?
Kehilangan uang jadi satu masalah emang, tapi yang paling mbuat aku
ngerasa jadi korban tuh pas tersadar, kok ya ada ya orang yang tega
ngelakuin kayak gitu. Ada kemungkinan, pelakunya juga orang-orang
berseragam biru, karena lokasi ATM yang emang di kompleks kerja kita.
Untungnya, Senin itu belum gajian. Ternyata ada hikmah juga gajian
tanggal 28.
Si QQ ngomong, 'Nari, masak kamu nggak inget sih siapa orang
sesudahnya? Soalnya aku juga pernah kayak gitu, selang berapa menit
aja, aku balik lagi, udah dimintain nomor PIN lagi.'
Berarti ada orang pas sesudah aku. Tapi aku bener-bener nggak inget.
Dan kalau pun aku inget warna-warna biru, ada kemungkinan itu karena
imajinasiku menginginkan adanya warna biru di pakaian orang sesudah
aku. Biar agak bisa menjawab siapa pelakunya.
Tapi kalo dipikir-pikir, kalo CCTV-nya berfungsi dan aku dikasih izin
ngeliat siapa orangnya dan aku bisa ngenalin orangnya, apa yang bisa
aku jadiin bukti dia nyuri duitku? Gambar CCTV, kalau ada, cuma
menunjukkan orang sesudah aku lagi ngambil ATM. Tapi kan nggak keliatan
prosedur apa yang dia lakukan. Yah, mungkin bisa dibuktiin sih, CCTV
nggak merekam aku ngambil kartu, sehingga kesimpulannya siapa pun
setelah itu melakukan transaksi atas beban kartuku.
Hari pertama itu sih aku cuman mencoba memahami: siapa sih yang tega
berbuat gitu? Dan aku beneran menghadapi kesulitan memahami hal kayak
gitu. Kalo bener dia pekerja berseragam biru...apa motivasinya, iseng?
Udah tanggal tua?
Dan kalo bener pelakunya pekerja berseragam biru, damn...berarti ada orang di kompleks kerja ini yang mentalnya perampok?
Katanya seorang psikiater yang pernah ngasih materi waktu seminar
Modalitas Bantuan Kesehatan Jiwa Pasca Trauma, kemampuan menceritakan
kembali secara runtun adalah suatu tanda menuju kesembuhan dan
meminimalkan trauma yang terjadi. Ya, mungkin ini salah satu cara untuk
sembuh. Dan tentunya nggak ngulangin lagi kesalahan itu. (Hint, hint:
kejadian serupa terjadi Januari lalu, tapi saldo waktu itu aman. Nari,
please be careful.)
Tapi, aku belum menceritakan bagian ini ke ortuku. So, do I still have a chance for recovery from trauma?
Posted at 03:47 pm by i_artharini
Permalink
Friday, March 16, 2007
Mungkin ini gara-gara sakit. Tapi kok satu-satunya hal yang aku
pengenin cuman cropped bob brown hair ya? Aku bahkan udah tau jenis
coklat yang aku pengenin. Yang rich dan gelap, hampir berbatasan dengan
burgundy, kayaknya subversif dan elegan di saat bersamaan gitu.
Fffiuhh.
Posted at 01:22 pm by i_artharini
Permalink
Saturday, March 10, 2007
"It was like this veil that meant nothing to her anymore yet without
which she would be lost. She had always worn the veil. Did she want to
wear it or not? She did not know.
.....She said she could not imagine Yassi without a veil. What would
she look like? Would it affect the way she walked or how she moved her
hands? How would others look at her? Would she become a smarter or a
dumber person? These were her obsessions, alongside her favorite novels
by Austen, Nabokov and Flaubert.
Again she repeated that she would never get married, never ever. She
said that for her a man always existed in books, that she would spend
the rest of her life with Mr Darcy--even in the books, there were few
men for her. What was wrong with that?"
"Reading Lolita in Tehran"
by Azar Nafisi
(Oh. My. God.)
Posted at 07:17 pm by i_artharini
Permalink
Friday, March 02, 2007
Tadi malem, pas iseng-iseng nanyain ama Redaktur Eksekutif yang
ngurusin iklan, masak kita nggak dapet undangan Java Jazz, eh taunya
dibales dengan: tuh ada tuh, kayaknya gala dinner pembukaannya deh.
Oke lah, dateng ke sana dengan harapan bakal bisa ngurus Press Pass
buat tiga hari ke depan (ternyata nggak). Anyway, pas lagi muter-muter
di sana, ini kan acara ceritanya khusus undangan. Yang dateng, selain
media, orang-orang yang kerja di perusahaan-perusahaan yang
ngesponsorin event itu. Ya dari Dji Sam Soe, Garuda, Telkomsel, BNI,
dan aku nggak tau dari mana sisanya.
Tapi, pas lagi muter-muter di sana, ngeliat banyaaak banget cowok-cowok
yang yah sebenarnya secara fisik gak model-model banget. Cuman rapi
gitu. Clean shaven, clean cut, pakaiannya juga rapi dan 'normal',
bahkan berbatasan dengan stylish gitu. Pokoknya cukuplah untuk
bertanya: 'where have all these men holed up? Disembunyikan?
Sehari-harinya mereka di mana?'
Ya mungkin sehari-harinya, saat aku ngejar-ngejar liputan (atau mencoba
menyemangati diri untuk keluar rumah dan ke kantor) mereka udah ngendon
di kantor. Dan saat mereka bubar kerja, aku masih di kantor. Dan antara
jam kerjaku dan jam kerja mereka, there's no chance meeting, meet-cute,
apa pun itu namanya yang pokoknya artinya kita ketemuan.
Dan somehow, dengan tampilanku yang masih pake seragam itu dan muka
penuh minyak, dan tampilan mereka yang rapi walopun muka sedikit
berminyak, aku kok tiba-tiba ngerasa ada perbedaan kelas ya?
That I'm not in the same class as they are, walaupun wajah-wajah mereka
keliatan kayak teman-teman SMA-ku dulu. Dan kesempatanku buat
ngedapetin tipe-tipe cowok kayak gitu jadi far and remote, dengan
posisiku sekarang. Atau apa karena aku kebanyakan mbaca buku-buku
tentang society itu? And yes, jazz and society, oh..betapa 'Great
Gatsby'-nya.
Oke, mungkin yang membedakan cowok-cowok seusiaku itu dan aku cuman
saldo di bank, we have the same background, education wise, kita
sama-sama produk ortu kelas menengah, secara taste...oh, I'm definitely
better. Tapi, kenapa ya, I have that sense tentang perbedaan kelas
ketika melihat mereka. Apakah ini bagian dari kehidupan orang dewasa?
Ketika perbedaan-perbedaan seperti tingkat pemasukan mempengaruhi siapa
kita atau cara kita dilihat dan melihat?
Posted at 06:41 pm by i_artharini
Permalink
Kayaknya buku pertama yang aku baca tahun ini adalah 'My Name is
Red'-nya Orhan Pamuk. Tapi itu bukan buku pertama yang aku selesaikan.
Instead aku nyelesein beberapa buku tentang society girls.
Pertamanya, karena pengen mbaca sesuatu yang ringan, akhirnya milih The
Pursuit of Love/Love in a Cold Climate, dua buku yang dijadiin satu,
dua-duanya karya Nancy Mitford. Ini ceritanya sih cukup lucu lah.
Tentang para bangsawan Inggris pedesaan yang hidup di masa-masa antara
Perang Dunia I dan II. Yah, kayak tokoh-tokoh ceweknya Jane
Austen kali ya, cuman masanya aja beda. Omongannya, apalagi kalo bukan
cari suami-suami.
Tapi, gara-gara di salah satu buku itu dibilangin kalo karakternya
mbaca 'The House of Mirth'-nya Edith Wharton, aku jadi mulai mbaca buku
itu (yes, yes, ini tentang intertekstualitas). Dan sekarang, ketika
selesai, aku malah jadi pusing.
Gara-garanya, aku nggak ngerti motif-motif yang mendasari
tindakan-tindakannya karakternya, Lily Bart. Semakin ke belakang,
cerita hidupnya jadi semakin sengsara, tapi kok resistensi yang
dilakukan si karakter nggak berubah-berubah ya? Gituuu aja. Kadang ada
beberapa kali tokoh utama cowoknya nggak disebut sama sekali, padahal
aku berharapnya dia yang bakal jadi karakter penolong. Terus ada sebuah
obyek yang dimiliki Lily pas di bagian awal, aku berharap ini bakal
jadi senjata yang dia pake, kartu As terakhir yang bisa dia tarik. Lha
tapi kok sampai terakhir dia baru inget gitu.
Why, why, why Lily Bart seperti itu?
Iya, New York society itu kejam ke dia. Tapi kenapa dia nggak equally
mean? Padahal the only thing that she has to be in that world, i.e.
reputation, udah dibelah-belah hanya lewat gosip-gosip mereka. Apakah,
by refusing to play dirty, Lily berusaha mempertahankan satu-satunya
'virtue' yang dia miliki? (Btw, aku nggak yakin virtue-nya itu apa,
tapi...apakah itu playing nice? Atau jujur?) Atau, apa karena dia
menahan diri karena perasaannya sama Selden.
But really, for Selden to be the 'only spring in her heart during her
whole life' kok kayaknya kurang passionate gitu. And I'm comparing this
to another Edith Wharton's novel, Age of Innocence. Ih, di situ mah
keliatan jelas yang namanya passion, walopun sopan, tetep aja keliatan
antara si Countess Olenska ama siapa itu...pokoknya di versi filmnya,
yang jadi si Daniel Day Lewis.
Mbaca ini malah pusing deh. Jadi rada ragu untuk melanjutkan ke bacaan-bacaan tentang society girls lainnya.

Posted at 06:09 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, January 31, 2007
Eye Candy, Insto, Better than Prozac (I think...)
Yesss. Aku memasang foto ini sebagai wallpaper komputer. Di-tile-in.
Ohh...McDreamy. Everytime I closed all the windows in my computer, and
I catch a glimpse of him...oh, I think I'm having a tiny piece of
McOrgasm.
(Kata QQ: "Duh, Nari. Elu kok kayak Indonesia aja sih. Bisanya cuma di atas kertas.")
Posted at 07:48 pm by i_artharini
Permalink
Saturday, January 27, 2007
Other than my mom dreaming about my future husband, I think I got a
glimpse of what 24 is all about. Jadi, beberapa waktu lalu, ceritanya
aku rada ngerasa ampang, kosong gitu. Nggak antusias lagi ama kerjaan,
atau buku, atau belajar, atau nulis. Tahun baru aja (dua tahun baru,
tepatnya) nggak membawa optimisme apa-apa buatku.
Walopun, kalo diliat, everything is...fine. Fine dalam artian nothing
is bothering me secara substansial. Kecuali ya...the absent of
excitement. Nggak ada itu lhooo...that jolt of fire. Motor di otak tuh
kayaknya nggak nyala-nyala, dan nggak ada tujuan buat pergi juga
gitu...Pokoknya semua datar aja. Apakah aku ngerasa bosan?
Aku masih meraba-raba dalam gelap sih sebenernya tentang apa yang
terjadi. Jadi, ketika aku merasa menemukan jawaban, aku nggak yakin
apakah pada awalnya aku memang sedang nyari sesuatu. Dan aku ngerasa,
it has to do with being older.
Semua-semua di sekitarku aku rasa gitu-gitu aja, nggak berubah. Tapi
mungkin caraku menghadapinya yang berbeda. Nggak bisa kayak waktu abis
lulus kuliah. Aku udah jadi lebih skeptis, jadi nggak gampang antusias,
nggak gampang terinspirasi, jadi semangat dalam hati tuh nggak semudah
dulu munculnya.
Mungkin karena alasan-alasan itu juga, aku jadi lebih susah mbaca,
karena sugesti nggak segampang beberapa tahun lalu masuknya ke otak.
Sama juga pas belajar. Filter otak jadi lebih ketat, lebih ketat dari
perbatasan Amerika Serikat kayaknya.
Dan as for writing and working, ya mungkin karena sekarang lagi
masa-masanya ketahanan itu diuji. Stimulus yang dikasih di tempat
kerja, sama halnya kayak sugesti-sugesti di luar tempat kerja, nggak
lagi segampang itu menginspirasi untuk do my best.
Nggak heran kalau aku ngerasa 'bosan', karena aku berharap hal-hal yang
dulu membuat aku terinspirasi dan bersemangat, terus-terusan akan
membuatku terinspirasi dan bersemangat. Yah, sama kayak Spice Girls
atau every other boyband I screamed on during my teenhood, beberapa
dari hal-hal itu jadi melempem.
Kalo buat bacaan atau menulis, I hope those things nggak bakal
melempem. Tapi mungkin aku harus memaknainya dengan cara yang beda. Dan
aku bisa dengan gampang gonta-ganti penulis kesukaan.
Tapi gimana dengan tempat kerja? Well, I can change work place. Oke,
itu mungkin rencana jangka....lima tahun? Atau terlalu lama? Anyway,
apa yang penting sekarang, to survive day-by-day in my workplace, ya
lagi-lagi memaknainya dengan cara yang berbeda.
Sekarang menyemangati udah jadi tugas diri sendiri. Gimana caranya
nemuin hal-hal yang masih menantang. Atau hal-hal yang masih
disenengin. Atau nemuin harapan dan optimisme lagi. Dan nggak
bergantung sama apakah lingkungan kerja kita ngasih stimulus.
Belajar juga gitu rasanya. Ya, mencoba menggali aja ilmu apa yang
pengen dicari instead of males2. Bener juga ternyata, as you get older,
menyerap pelajaran jadi lebih susah. Karena kita nggak semudah itu
percaya. Kalau buat yang ini, aku masih belum nemu gimana caranya untuk
ngerasa haus lagi.
Posted at 09:27 pm by i_artharini
Permalink
Reading Notes: Namaku Merah Kirmizi
Middlemarch ternyata jadi terlalu lambat. Bukan sebuah buku yang bisa
dibaca di angkot atau di bis. Well mungkin bisa sih, asal traffic di
luar nggak menimbulkan keributan luar biasa dan nggak keganggu
konsentrasinya tiap kali bisnya ngerem setiap beberapa detik. So, untuk
sementara mungkin bukan bacaan angkot.
Instead, I'm picking up Namaku Merah Kirmizi-nya Orhan Pamuk. Kayaknya
sih bahasanya lebih simpel (karena terjemahan bahasa Indonesia juga
kali ya..) dan ceritanya lebih eksotis. Plus, tebakanku, ceritanya
lebih cepat mengalir dan melibatkan penyelesaian sebuah misteri.
Aku selalu suka sih cerita-cerita atau bagian dari sejarah yang
kayaknya bakal membuat Indiana Jones memulai salah satu ekspedisinya.
Despite hating Da Vinci Code, aku cukup suka tinjauan-tinjauan sejarah
yang dipakai Dan Brown. Eh...bukan dipakai ding, tapi diplagiat.
Aku nggak tau apakah ceritanya My Name is Red bakal membuat Indiana
mulai berekspedisi, tapi aku suka settingnya. Yah, kayaknya backdrop
yang sesuai buat Indiana Jones. By the way, why am I keep repeating
Indiana Jones?
Oke, kayaknya aku udah terlalu lama nggak browsing-browsing judul di
toko buku deh. Dan ketika aku ke sana, eh ada beberapa buku terjemahan
keren, kayak V for Vendetta (lumayan mahal ya harganya...), trus The
Miraculous Journey of Edward Tulane (duh ngeliat sampulnya aja udah
merasa 'kayaknya ini buku bakalan so sad, it's heartbreaking deh'.
Mbaca Pinokio aja aku nggak tega...), dan ternyata...dua judul dari
trilogi His Dark Materials udah diterbitin (walaupun setelah mbaca
halaman satu Kompas Emas jadi rada ngerasa it's too fantasy for me..)
Sama 'The History of Love'-nya Nicole Krauss juga udah diterbitin.
Sebenernya belum tau apa-apa sih tentang buku ini, selain...yang nulis
istrinya Jonathan Safran Foer. Actually, my feeling was a bit moderate
for Foer's book, but he represents those cool, young writers yang suka
main-main ama bentuk dan kata-kata. And he has Jeffrey Eugenides and
Joyce Carol Oates sebagai pembimbing skripsi. Yes, the perks of being a
literature major in Ivy League universities.
Balik ke My Name is Red? Hehehe, I ended up mbaca ulang setelah pas 51
halaman karena ketinggalan ngejar si narator. Tiap bab, setidaknya
sampai halaman 51, naratornya pindah orang terus. Dan aku terus
bertanya-tanya, is this the same person as before? Karena nggak kuat
ngejar, ngos-ngos-an deh. Dan ooohhh, okeee..kayaknya sekarang mulai
lebih ngerti deh.
Setelah Orhan Pamuk menang Nobel Sastra, seorang redaktur budaya minta
tolong buat nulis tentang Pamuk. Yah, oke menggunakan sumber-sumber The
Guardian, Wikipedia, dan..aku lupa apa lagi. Mungkin bukan nulis, tapi
merangkum tepatnya. So I come to understand, a bit, tentang apa yang
dia 'perjuangkan'. Dan semuanya terangkum dalam satu kutipan yang ia
cantumkan di halaman awal "Namaku..":
"Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat"
(Al Baqarah: 115)
Hmm...membaca lagi kutipan itu lepas dari halaman buku jadi bisa
ngerasa kenapa orang suka salah paham memaknainya. Mungkin ada yang
memaknainya jadi, "kalo gitu, orang barat harus tunduk sama (agama)
timur dong." Atau mungkin memberi cap murtad pada orang-orang barat
yang (dinilai) lupa pada pemiliknya.
If I may interpret it the way Pamuk sees it, singkatnya, dan
normatifnya, kayaknya ini lebih tentang mentoleransi perbedaan deh.
Bahwa nggak ada yang lebih salah atau lebih benar. Bukan tentang
peradaban siapa yang lebih unggul, karena keduanya berawal dari sumber
yang sama.
Hmmm..aku kayaknya harus balik nulis soal asma. Been fooling around too long.
Posted at 06:34 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|