"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Friday, March 31, 2006
Aku nggak pengen macem-macem deh sekarang. Yang aku pengenin cuman, bisa membuat ibuku bahagia.
Posted at 05:27 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, March 30, 2006
I know, I know. I overspend on books. Dan aku udah membeli buku jatah
bulan April bahkan saat Maret belum berakhir (...4 hari menjelang Maret
berakhir lah..), tapi ketika ada berita bakalan ada Bursa Buku
Gramedia, aku nggak bisa nggak datang kan? Walaupun dengan pengharapan
yang sudah minim, karena pelitnya Gramedia ngasih diskon.
So.
Datang telat dari yang sudah aku jadwalkan, pakai salah naik bis AC ke
arah Kalideres pula, di-grope oleh pengamen di dalam bis (dan masih
dimintain duit lagi buat performance-nya. GRRRGGRHHR), diturunin di
pinggir jalan tol, kena gerimis pas jalan kaki di Jalan Panjang, dan
voila. Akhirnya sampai juga di Gramedia Jalan Panjang.
Pas sampe, udah rameee banget. Gara-gara, 'kids corner'-nya terletak
tepat di kiri pintu masuk. Berjuang menyeberangi lautan kepala-kepala
mini, dan tiba di depan lift yang antreannya panjang banget.
Sementara...tempat bursa buku-nya di lantai 8.
Ya karena nggak sabar, akhirnya naik tangga darurat lah aku. Piece of cake, dalam pikiranku. Agak berat, tapi tetep do-able.
Tiga lantai pertama, masih tetep bisa lari-lari kecil naik tangga.
Empat, kok mulai berat. Nafas terutama. Wow, merokok tuh ternyata ngefek ke sini ya...
Ada dua mbak-mbak di depanku, yang juga agak ndut, milih naik tangga. "Ayo, ayo, kita bisa," kata salah satunya.
"Pelan-pelan aja," kata satunya lagi.
Tapi, pas dari lantai 7 ke 7,5, kaki rasanya udah nggak bisa
digerakkan. Dan dari 7,5 ke 8, beneran, udah nggak bisa gerak. Tanpa
ngeliat cermin, aku yakin, wajahku pasti udah memucat. Kekurangan
oksigen. Kepala rasanya berputar-putar, dan semua kelihatan kuning
cerah. Terlalu cerah.
Vertigo seperti ini kah?
Akhirnya, moment of revelation, cahaya dan kerumunan orang di balik
pintu merah terlihat juga. Sambil ngos-ngosan akut, langsung nitipin
tas, dan memutuskan untuk langsung muterin ruangan tanpa istirahat
dulu.
Bad decision.
Akhirnya setelah satu lap, mojok dulu, mengumpulkan nafas dan tenaga.
Barulah.. memulai muter lagi, kali ini dengan konsentrasi lebih.
Dan?
Hasilnya...kecewa.
Udah diskonnya dikit, buku terbitan Gramedia mah ternyata nggak ada
yang menarik hati. Yang dijual tetep aja yang Sandra Brown, Danielle
Steel, tumpukan chick-lit, teenlit, etc, etc. Well, ralat, ada sih yang
menarik hati, tapi diskonnya tetep aja cuma 20%.
Ih.
Kalo pas book fair, di outlet lain bisa lebih gede lah diskonnya. Dan
ramainya orang-orang itu membuat pertanyaan, "Hoi, people, pada jarang
ke book fair lain ya?" menjadi sesuatu yang retoris.
Dan, yang worst of all, mereka menyediakan satu altar pemujaan khusus untuk *brace yourself*...Paulo Coelho.
*menggigil kengerian*
What was I thinking datang ke sini?
(Btw, sebelumnya harus dicatat, aku pulang dengan membeli 'Bel Canto'
sama buku Apresiasi Puisi. Dua-duanya sudah masuk ke daftar 'to buy
this month', tapi pas kemarin dicari ke Gramedia Matraman pada ngilang
dari rak).
Kalau dibandingkan sama karakter di 'The Fountainhead', Gramedia
(melihat mayoritas buku-buku yang diterbitkan dan diobral) adalah
Ellsworth Toohey; kritikus seni yang bersama komunitas sastra-nya
menentukan standar kehebatan suatu karya, dengan menginjak-injak sosok
individual yang menonjolkan karakternya seperti Howard Roark yang tidak
terpengaruh massa, dan meninggikan karya yang sebenarnya cuma mediocre,
tapi dilebih-lebihkan.
Dan melihat diskon yang diberikan. Aduh... please deh. Hari gini, ngadain Bursa Buku diskonnya cuma 20%? Mending nggak usah ngadain sekalian deh...

Posted at 07:58 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, March 29, 2006
"Some people never got over Vietnam or the night their band opened for Nirvana. I guess I never got over Charlie."
(Rob Gordon - High Fidelity [film version])
Dan aku, have not (dan curiganya, will never) got over him.
Argh, argh, argh, aarrrgghhh.
Posted at 07:12 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, March 21, 2006
Tentang Antisosial dan Karakter (yaiks..)
Goethe once said, "One ought, everyday, to hear a song, read a fine
poem, and, if possible, to speak a few reasonable words."
Have you read
your poem today?
(dari about.com)
Ternyata, semua permasalahan membacaku itu terjawab dengan gamblang di about.com, tepatnya di bagian classic literature-nya.
Kenapa coba nggak dari dulu-dulu aja? (Jawaban, karena aku sempat
kehilangan kepercayaan sama about.com; link-nya jadi kebanyakan
iklannya sih..--seperti koran kantor hari ini, contohnya..--)
Tips-tips 'how to' yang dikasih sama about.com, lengkap banget. Mulai
dari 1)how to keep a reading log, 2)how to determine a reading
schedule, 3)how to read a difficult book, 4)how to read like a
professor, 5)speed reading, 6)finding the spot to read, sampai ke...
7)what to read; the essential existential question.
Ih, gila. Aku beneran ngerasa lagi terjatuh ke dalam jurang anti-sosialisasi, tapi aku nyaman-nyaman aja jatuh-jatuh gitu.
Btw, ngomong-ngomong tentang 'what to read', yang aku bilang sebagai
the essential existential question, aku jadi berpikir...karakter tuh
sebenarnya apa sih? Pernah denger di Roger Dodger, si Rogernya ngomong ke seorang cewek, "your character is nothing more than an article in Vanity Fair."
Aduh, aku ngerasa tersodok sekali.
It may not be Vanity Fair for me, tapi Vanity Fair bisa dengan mudah
diganti dengan artikel di Tempo (Catatan Pinggir, mungkin...),
atau salah satu artikel review kebudayaan di Kompas minggu, atau
buku-buku yang aku baca, atau film-film yang aku tonton, lagu yang aku
dengar, kata-kata profound dari para jenius negara ini yang aku kutip,
iya kan?
Jadi, sebenarnya karakter itu apa?
Mungkin benar katanya seorang Radhar Panca Dahana pas diskusi tentang
teater Sabtu kemarin; tanpa 'naskah', manusia itu sebenarnya sama saja
dengan batu, celana dalam, kodok. Dan kita nggak lebih baik dari
mereka. Karena tanpa 'naskah', karakter kita...kosong.
But anyway, aku masih bertanya-tanya, lha karakter itu sakjane opo tho?
Posted at 09:55 pm by i_artharini
Permalink
Monday, March 13, 2006
"Song of One of the Girls"
Here in my heart I am Helen;
I'm Aspasia and Hero, at least.
I'm Judith, and Jael, and Madame de Stael;
I'm Salone, moon of the East.
Here in my soul I am Sappho;
Lady Hamilton am I, as well.
In me Recamier vies with Kitty O'Shea,
With Dido, and Eve, and poor Nell.
I'm of the glamorous ladies
At whose beckoning history shook.
But you are a man, and see only my pan,
So I stay at home with a book.
(Volume: Enough Rope, By: Dorothy Parker)
Posted at 07:40 pm by i_artharini
Permalink
Gimana sih caranya mbaca e-book?
Masa dengan nontonin layar komputer sampe bukunya selesai?
Nggak mungkin kan...
Gutenberg ternyata punya 'Dead Souls', 'Of Human Bondage', sama
'Swann's Way'. Dan beberapa judul Virginia Woolf juga. Kan aku nggak
punya pda.
Njur piye?
(Argh, kenapa nggak dari dulu-dulu mbaca Dorothy Parker...)
Posted at 07:22 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, March 08, 2006
"Selamat Hari Perempuan!" Aku dengan sok jayus
mengucapkan selamat ke mahluk-mahluk perempuan di kantor; salah satunya
waktu ke kamar mandi dan ketemu sekretaris Pemred dan temen cewek.
Sekretaris Pemred terus berkomentar, "iya yah, banyak banget hari buat
cewek. Hari Ibu, Hari Kartini, Hari Perempuan.." Dan aku menimpali, "Iya, tapi teteup aja...nasibnya.."
"Iya," tegas si sekretaris Pemred. "Setinggi-tingginya kita mau mikirin
karir, nggak bisa, yang urusan rumah tetap harus kepegang.
Susah," tambahnya sambil menghapus sabun bekas cuci muka. ***
Malamnya, waktu mbuka Guardian Online, ada kuis yang berhubungan dengan
International Women's Day; di rubrik 'Books', "Take Our Quiz on Women
Writers" judulnya.. Dan end resultnya, aku cuman bisa dapet skor 3 out of 10. Komentarnya: You scored 3 out of a possible 10 "He buys me books, but begs me not to read them, because he fears they joggle the mind." Emily Dickinson Go on, risk joggling your mind a bit more; stock up on some Virago titles, now! Tapi,
dari kuis itu, jadi keinget salah satu kutipan dari Virginia Woolf yang
pernah aku baca. Aku lupa tepatnya kata-katanya, tapi intinya, if a
woman wants to write fiction for a living, then she would need money
and a room of her own. Dari kuis itu, ada refleksi juga
sih, terutama dengan book-a-thon yang lagi aku jalanin. Keberadaan
karya penulis perempuan di buku-buku yang aku baca kok minim ya?
Katanya memang ada perbedaan tulisan karya penulis perempuan dan
lelaki, sesuatu dengan cara mereka menggambarkan, tapi aku belum cukup
perseptif melihat perbedaan itu. (Sama seperti mendengarkan
musik, katanya lelaki akan cenderung memilih beat-beat yang melodis dan
dinamis, sementara perempuan lebih akan memilih/mementingkan lirik.
Benarkah?) Mungkin sudah saatnya aku membaca 'Rebecca', atau
'Jane Eyre'. Well, 'Mrs Dalloway' juga bisa dimulai lagi, dan oh,
'Persuasion' belum disentuh. Dan, aaargh, karya penulis perempuan
Vietnam itu juga masih berhenti di tengah jalan! Banyak pilihan juga ya
ternyata..
 Currently listening to: The DanceBy Fleetwood Mac
Posted at 09:01 pm by i_artharini
Permalink
Monday, March 06, 2006
Judul salah satu cerita pendeknya SGA yang masuk di kumpulan "Matinya
Seorang Penari Telanjang"; dan ada bagian-bagian yang aku merasa sama
dengan si tokoh manusia kamar itu.
Awalnya, dari mbaca terus (aku emang lagi ngebut), dan jadi males
banget pergi keluar rumah atau get my ass of any couch. Terus berimbas
pula ke masalah sosialisasi; karena makin lama...makin ngerasa manusia
itu nggak worth it untuk diajak ngomong. Mending baca buku aja.
Selain orang-orang rumah dan beberapa orang di kantor yang aku kenal
dekat, males ngajak ngomong orang lain. Kesempatan juga nggak membuat
aku ketemu banyak orang baru sih, selain wawancara-wawancara standar
tentunya. Dulu pas di Metropolitan, ketemu sama temen-temen baru di
wilayah, tapi sekarang karena jarang ketemu sama rekan seprofesi,
sekalinya ketemu jadi nggak luwes. Lupa 'caranya' liputan bareng.
Beberapa kali sempat hadir di beberapa acara kesenian yang memungkinkan
aku ketemu orang-orang budaya; hasilnya, sama-sama liat-liatan, tapi
aku juga nggak senyum dan nggak nyapa. Males banget untuk menjalin
kontak dengan manusia lain.Benar-benar zero social life.
Aku sudah sadar dan ngerasa, 'ih, kenapa aku sekarang balik jadi
geeky?' (Atau kalau sebelumnya sudah cukup geek, sekarang jadi super
geek), tapi aku juga nggak punya keinginan untuk memutus mata rantai
kemalasan bersosialisasi ini. Dan karena aku makin males, jadi makin
nggak luwes, dan makin susah menjalin kontak, sampai akhirnya, aku
males berusaha.
Karena banyak makanan otak juga, yang cenderung dalam tempo marathon,
aku juga jadi kerasa lagi balik sinis. Nah ini, susah lagi ngontrol
kesinisan yang sering loncat-loncat dari mulut.
Sekarang, hidupku jadi cuma mbaca aja. Pembelaan diri; karena aku lagi
belajar...dan aku ketinggalan banyak dalam sekolah membaca ini.
Anyhoo, kemarin sempat main games di PDA seseorang yang terakhirnya
ngasih kata bijak yang nendang banget: "Now that I finally get my head
together, my body is falling apart". Ini, dalam artian aku jadi
melakukan zero exercise. Lha gimana mau gerak, sekarang my ass is
glued, stapled, to any sitting object, gara-gara.. mbaca.
Ah, ya wis lah.
Posted at 09:29 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, March 02, 2006
That Obscure Object of Desire...
Kemarin malam, datang ke acara peluncuran novelnya wartawan kebudayaan
kantorku di TIM. Dan, seperti sudah diduga walaupun tidak menyangka
akan segampang itu terjadinya, tadaaa...aku ketemu sama 'that obscure
object of desire', sosok santun di Sabtu siang, yang akhirnya sekarang
menghantui aku secara membabi buta selama 10 hari terakhir.
Sebenarnya, dalam 10 hari terakhir itu, aku sempat ketemu si 'hantu'
ini waktu acara peluncuran buku puisinya Saut Sitompul; ceritanya dia
duduk di sebelah, sebelahnya Rendra, tapi pas lampu menyala, eh 'hantu'
ini sudah hilang sebelum aku sempat menyapa-nyapa. Arrggh! Hantu
beneran jangan-jangan... (Berarti Sabtu siang itu aku bener-bener beruntung kali ya?)
Nah, kemarin malam, ketemu, pas dia lagi ngobrol-ngobrol sama 'man of
the night', the celebrated author. Gara-gara itu, aku menunggu, sampai
si 'hantu' ini sendiri, atau aman untuk didekati. Atau, diterkam
tepatnya. Abis, malu man, kalau sudah melancarkan serangan-serangan
amatirku, tepat di depan seorang...penjahat kelamin yang bakal
terbahak-bahak akan aku yang mencoba menirukan auman singa dewasa.
Lagian, diskusinya kan baru mulai, dan orang itu di situ dalam
kapasitas bekerja, tidak seperti aku yang cuma main-main aja.
Tapi si hantu ini, rupanya, karena dia lebih tua dari aku, jadi bisa
membaca gelagat. Atau setidaknya aku curiga begitu. Dan saat kepala
berputar beberapa menit kemudian, 'hantu' ini kembali menghilang. Waktu
aku ngambil kopi, yang sebenarnya memang sekedar taktik untuk mencari
posisi sang buruan, terlihat kalau buruan ini berlindung bersama
sekelompok mahluk-mahluk budaya lain. Aduh, semakin tidak aman lagi.
Dan ini catatan kaki yang harusnya dijadikan catatan kepala, when
you're trying to score, jangan membawa the non-gay gay best friend
bersamamu. Believe me, mereka hanya akan rewel kelaperan dan mencoba
mensabotase setiap usahamu untuk menerkam mangsa dan mengakhiri
kesendirian. Itu yang terjadi padaku. Konspirasi alam yang
kejam. The non-gay gay best friend merengek-rengek minta ikut dua teman
yang sebelumnya sudah keluar dulu untuk makan. Awalnya tidak aku
turutin, tapi akhirnya dia mengeluarkan muka cemberut yang ngeselin
banget; sampai akhirnya aku nggak tega dan menyerah pada permintaannya.
Setelah dinner selesai, balik lagi ke ruangan diskusi, dan
malam berakhir, aku tidak melihat penampakan lain dari 'hantu' nan
charming dan santun itu. Huks. Dan tadi siang, waktu ke
Gunung Agung Citraland setelah pagi-pagi wawancara di Cempaka Mas (!),
aku melihat buku karangan si 'hantu' ini. Mulailah aku mencari-cari
alasan yang dapat membenarkan aku membeli buku ini; dari Sabtu lusa-nya
akan ada diskusi bukunya ("Harus dibaca dong, biar nanti bisa nanya dan
mbahas secara mendalam.."), sampai butuh memperbanyak wawasan akan
penulis fiksi kontemporer Indonesia, atau tampilan fisiknya...(well,
sebenarnya fisiknya biasa aja, tapi kesantunannya itu lhoo...biasa,
tapi unik). Tapi, semua argumen itu tidak menggoyahkan fakta
bahwa...itu buku harganya Rp 44 ribu! Cinta sih cinta (setidaknya
platonis).. tapi setelah percakapan 10 menitan, kayaknya too much ya?
Apalagi di saat krisis keuangan seperti ini. Tapi gimana
dong, sosok ini masih, dengan suksesnya, menghantui khayalan-khayalan
akan percakapan yang alurnya Before Sunrise-Before Sunset-esque...(dan
katanya si Miss Universe, "ih, keliatan banget pengen nunjukin what
you've been reading, sok-sok ngasih referensi bandingan, etc, etc..") Dan, dalam skenario idealku akan pertemuan Sabtu nanti, aku berharap ini yang bakal kejadian: "Eh, aku udah mbaca lho Iwan Simatupangnya." "Dan?" "Dashyat bangeett..." Sambil ketawa, "Emang kenapa dashyatnya.."
"Ya pernah mbaca 'The Fountainhead' nggak? Apa yang dilakukan Ayn Rand
dalam 700 halaman, bisa dilakukan Iwan Simatupang dengan lebih efektif
dalam 150an halaman..." "Oh ya? Fountainhead? Tentang apa?"
(Here's my answer... terus diakhiri dengan) "Emm, kemaren-kemarennya
abis selesai mbaca Camus sih, dan kok kerasa ada yang sama ya?"
(disinilah, dia akan menjelaskan korelasinya. Aku tahu dia tahu karena
aku pernah mbaca artikel yang membandingkan Camus 'Orang Aneh/Asing'
dan 'Ziarah'). Hahahah. Dangkal banget nggak sih?
Anyway, si Abah memberi pesan: "Act Naturally". Datanglah Sabtu nanti
dengan pikiran ikut diskusi buku untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan hilangkan pikiran-pikiran busuk itu. (Oke, meditasi, ingat-ingat..) (Tapi aku sering terlihat amatir banget kalau sudah berhadapan dengan that obscure object of desire...)

Posted at 09:49 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, February 23, 2006
...Gelas Anggur Terakhir Pun Selesai Diteguk
Di tengah taman kota yang tak kusangka dimiliki oleh Jakarta; ruang
publik nan hijau lengkap dengan kolam milik para pekerja Wisma
BRI, Wisma BRI II, dan Wisma GKBI, aku menyelesaikan Fiesta. Wuhuu!
Tadi siang ke Wisma GKBI, mencari seorang pejabat negara Ginseng, yang
akhirnya baru bisa ditelpon 1,5 jam kemudian. Sebenarnya mau jalan ke
Plaza Semanggi, biar sekedar bisa duduk dan membaca, tapi pas jalan
keluar...ngeliat penunjuk arah ke 'Restoran'. Ternyata, jalan menuju
restoran itu hijau banget, rindang, lengkap dengan kolam yang desainnya
alami. Penuh sama karyawan-karyawan kantoran yang ketawa-ketiwi,
menikmati taman yang...emang indah.
Duh, nggerundelku dalam hati tentang minimnya ruang publik hijau di
Jakarta ternyata tidak sepenuhnya tepat. Ruang publik hijau nyaman di
Jakarta ada kok. Buat mereka yang kerja di jalan protokol tapinya. Huh.
Akhirnya, memilih tempat duduk, mengeluarkan 'Fiesta', dan membaca 80
halaman terakhir 'Fiesta'. Sempet terganggu sebenarnya sama
segerombolan orang-orang kantoran, yang despite the working place and
their smart suits, teteup aja berlaku kayak highschoolers. Ruame banget
nggodain cewek. Atau nggodain salah satu dari mereka yang lagi nggodain
cewek. Pake taruhan-taruhan buat ngedeketin anak SMA magang yang lagi
lunch di situ juga lagi.
Setelah itu, pas udah bisa membaca dengan tenang, 'Fiesta' jadi
mengalir lancar. Baru pada 80 halaman terakhir itulah kalimat-kalimat
yang disusun Hemingway terasa indah; kosakatanya sederhana, tapi kuat.
Cara dia mendeskripsikan pertarungan banteng, lalu saat Brett pergi
bersama Romero...
Ini, kutipannya:
"Kami berita duduk di meja, dan seakan-akan ada enam orang yang tidak hadir di situ."
(Ceritanya grupnya mereka ber-enam gitu...)
Setelah itu, buku ketiganya benar-benar pure bliss. Dari mulai caranya
menghabiskan waktu sendirian di San Sebastian, lalu kutipan-kutipan
singkatnya tentang anggur (wow, this guy is undoubtedly an
alcoholic...), tentang membalas telegram dari Brett, tentang pagi hari
di San Sebastian. Nggak kerasa mbosenin lagi...Kenapa bagian awalnya
kerasa painfully boring ya?
Seperti di 80 halaman terakhir itu, ada sebuah lampu yang menerangi
jalan masuk ke otakku sendiri. Kata-katanya, kalimat-kalimatnya
Hemingway jadi lebih punya arti, karena menemukan jalan masuk ke otak.
Dan iya, bener ternyata, dalam 80 halaman terakhir itu, tulisannya
mengingatkan aku sama cerpen-cerpennya Umar Kayam di Seribu
Kunang-kunang di Manhattan. Mungkin karena itu, aku jadi lebih mengerti?
Posted at 08:46 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|