PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, March 30, 2006
Bursa Buku Gramedia

I know, I know. I overspend on books. Dan aku udah membeli buku jatah bulan April bahkan saat Maret belum berakhir (...4 hari menjelang Maret berakhir lah..), tapi ketika ada berita bakalan ada Bursa Buku Gramedia, aku nggak bisa nggak datang kan? Walaupun dengan pengharapan yang sudah minim, karena pelitnya Gramedia ngasih diskon.

So.

Datang telat dari yang sudah aku jadwalkan, pakai salah naik bis AC ke arah Kalideres pula, di-grope oleh pengamen di dalam bis (dan masih dimintain duit lagi buat performance-nya. GRRRGGRHHR), diturunin di pinggir jalan tol, kena gerimis pas jalan kaki di Jalan Panjang, dan voila. Akhirnya sampai juga di Gramedia Jalan Panjang.

Pas sampe, udah rameee banget. Gara-gara, 'kids corner'-nya terletak tepat di kiri pintu masuk. Berjuang menyeberangi lautan kepala-kepala mini, dan tiba di depan lift yang antreannya panjang banget. Sementara...tempat bursa buku-nya di lantai 8.

Ya karena nggak sabar, akhirnya naik tangga darurat lah aku. Piece of cake, dalam pikiranku. Agak berat, tapi tetep do-able.

Tiga lantai pertama, masih tetep bisa lari-lari kecil naik tangga.

Empat, kok mulai berat. Nafas terutama. Wow, merokok tuh ternyata ngefek ke sini ya...

Ada dua mbak-mbak di depanku, yang juga agak ndut, milih naik tangga. "Ayo, ayo, kita bisa," kata salah satunya.

"Pelan-pelan aja," kata satunya lagi.

Tapi, pas dari lantai 7 ke 7,5, kaki rasanya udah nggak bisa digerakkan. Dan dari 7,5 ke 8, beneran, udah nggak bisa gerak. Tanpa ngeliat cermin, aku yakin, wajahku pasti udah memucat. Kekurangan oksigen. Kepala rasanya berputar-putar, dan semua kelihatan kuning cerah. Terlalu cerah.

Vertigo seperti ini kah?

Akhirnya, moment of revelation, cahaya dan kerumunan orang di balik pintu merah terlihat juga. Sambil ngos-ngosan akut, langsung nitipin tas, dan memutuskan untuk langsung muterin ruangan tanpa istirahat dulu.

Bad decision.

Akhirnya setelah satu lap, mojok dulu, mengumpulkan nafas dan tenaga. Barulah.. memulai muter lagi, kali ini dengan konsentrasi lebih.

Dan?

Hasilnya...kecewa.

Udah diskonnya dikit, buku terbitan Gramedia mah ternyata nggak ada yang menarik hati. Yang dijual tetep aja yang Sandra Brown, Danielle Steel, tumpukan chick-lit, teenlit, etc, etc. Well, ralat, ada sih yang menarik hati, tapi diskonnya tetep aja cuma 20%.

Ih.

Kalo pas book fair, di outlet lain bisa lebih gede lah diskonnya. Dan ramainya orang-orang itu membuat pertanyaan, "Hoi, people, pada jarang ke book fair lain ya?" menjadi sesuatu yang retoris.

Dan, yang worst of all, mereka menyediakan satu altar pemujaan khusus untuk *brace yourself*...Paulo Coelho.

*menggigil kengerian*

What was I thinking datang ke sini?

(Btw, sebelumnya harus dicatat, aku pulang dengan membeli 'Bel Canto' sama buku Apresiasi Puisi. Dua-duanya sudah masuk ke daftar 'to buy this month', tapi pas kemarin dicari ke Gramedia Matraman pada ngilang dari rak).

Kalau dibandingkan sama karakter di 'The Fountainhead', Gramedia (melihat mayoritas buku-buku yang diterbitkan dan diobral) adalah Ellsworth Toohey; kritikus seni yang bersama komunitas sastra-nya menentukan standar kehebatan suatu karya, dengan menginjak-injak sosok individual yang menonjolkan karakternya seperti Howard Roark yang tidak terpengaruh massa, dan meninggikan karya yang sebenarnya cuma mediocre, tapi dilebih-lebihkan.

Dan melihat diskon yang diberikan. Aduh... please deh. Hari gini, ngadain Bursa Buku diskonnya cuma 20%? Mending nggak usah ngadain sekalian deh...




Currently reading:
The Kite Runner
By Khaled Hosseini



Posted at 07:58 pm by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, March 29, 2006
Got Over

"Some people never got over Vietnam or the night their band opened for Nirvana. I guess I never got over Charlie."

(Rob Gordon - High Fidelity [film version])

Dan aku, have not (dan curiganya, will never) got over him.

Argh, argh, argh, aarrrgghhh.


Currently reading:
The Turk and My Mother: A Novel
By Mary Helen Stefaniak



Posted at 07:12 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, March 21, 2006
Tentang Antisosial dan Karakter (yaiks..)

Goethe once said, "One ought, everyday, to hear a song, read a fine poem, and, if possible, to speak a few reasonable words."

Have you read your poem today?

(dari about.com)

Ternyata, semua permasalahan membacaku itu terjawab dengan gamblang di about.com, tepatnya di bagian classic literature-nya. Kenapa coba nggak dari dulu-dulu aja? (Jawaban, karena aku sempat kehilangan kepercayaan sama about.com; link-nya jadi kebanyakan iklannya sih..--seperti koran kantor hari ini, contohnya..--)

Tips-tips 'how to' yang dikasih sama about.com, lengkap banget. Mulai dari 1)how to keep a reading log, 2)how to determine a reading schedule, 3)how to read a difficult book, 4)how to read like a professor, 5)speed reading, 6)finding the spot to read, sampai ke... 7)what to read; the essential existential question.

Ih, gila. Aku beneran ngerasa lagi terjatuh ke dalam jurang anti-sosialisasi, tapi aku nyaman-nyaman aja jatuh-jatuh gitu.

Btw, ngomong-ngomong tentang 'what to read', yang aku bilang sebagai the essential existential question, aku jadi berpikir...karakter tuh sebenarnya apa sih? Pernah denger di Roger Dodger, si Rogernya ngomong ke seorang cewek, "your character is nothing more than an article in Vanity Fair."

Aduh, aku ngerasa tersodok sekali.

It may not be Vanity Fair for me, tapi Vanity Fair bisa dengan mudah diganti dengan  artikel di Tempo (Catatan Pinggir, mungkin...), atau salah satu artikel review kebudayaan di Kompas minggu, atau buku-buku yang aku baca, atau film-film yang aku tonton, lagu yang aku dengar, kata-kata profound dari para jenius negara ini yang aku kutip, iya kan?

Jadi, sebenarnya karakter itu apa?

Mungkin benar katanya seorang Radhar Panca Dahana pas diskusi tentang teater Sabtu kemarin; tanpa 'naskah', manusia itu sebenarnya sama saja dengan batu, celana dalam, kodok. Dan kita nggak lebih baik dari mereka. Karena tanpa 'naskah', karakter kita...kosong.

But anyway, aku masih bertanya-tanya, lha karakter itu sakjane opo tho?

Posted at 09:55 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, March 13, 2006
Dari Dorothy Parker

"Song of One of the Girls"

Here in my heart I am Helen;
    I'm Aspasia and Hero, at least.
I'm Judith, and Jael, and Madame de Stael;
    I'm Salone, moon of the East.

Here in my soul I am Sappho;
    Lady Hamilton am I, as well.
In me Recamier vies with Kitty O'Shea,
    With Dido, and Eve, and poor Nell.

I'm of the glamorous ladies
    At whose beckoning history shook.
But you are a man, and see only my pan,
    So I stay at home with a book.


(Volume: Enough Rope, By: Dorothy Parker)

Posted at 07:40 pm by i_artharini
Make a comment  

E-Book

Gimana sih caranya mbaca e-book?
Masa dengan nontonin layar komputer sampe bukunya selesai?
Nggak mungkin kan...

Gutenberg ternyata punya 'Dead Souls', 'Of Human Bondage', sama 'Swann's Way'. Dan beberapa judul Virginia Woolf juga. Kan aku nggak punya pda.

Njur piye?

(Argh, kenapa nggak dari dulu-dulu mbaca Dorothy Parker...)









Posted at 07:22 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, March 08, 2006
Hari Perempuan Sedunia

"Selamat Hari Perempuan!"

Aku dengan sok jayus mengucapkan selamat ke mahluk-mahluk perempuan di kantor; salah satunya waktu ke kamar mandi dan ketemu sekretaris Pemred dan temen cewek. Sekretaris Pemred terus berkomentar, "iya yah, banyak banget hari buat cewek. Hari Ibu, Hari Kartini, Hari Perempuan.."

Dan aku menimpali, "Iya, tapi teteup aja...nasibnya.."

"Iya," tegas si sekretaris Pemred. "Setinggi-tingginya kita mau mikirin karir, nggak bisa,  yang urusan rumah tetap harus kepegang. Susah," tambahnya sambil menghapus sabun bekas cuci muka.

***

Malamnya, waktu mbuka Guardian Online, ada kuis yang berhubungan dengan International Women's Day; di rubrik 'Books', "Take Our Quiz on Women Writers" judulnya..

Dan end resultnya, aku cuman bisa dapet skor 3 out of 10. Komentarnya:

You scored 3 out of a possible 10
"He buys me books, but begs me not to read them,
because he fears they joggle the mind."
Emily Dickinson
Go on, risk joggling your mind a bit more; stock up on some Virago titles, now!

Tapi, dari kuis itu, jadi keinget salah satu kutipan dari Virginia Woolf yang pernah aku baca. Aku lupa tepatnya kata-katanya, tapi intinya, if a woman wants to write fiction for a living, then she would need money and a room of her own.

Dari kuis itu, ada refleksi juga sih, terutama dengan book-a-thon yang lagi aku jalanin. Keberadaan karya penulis perempuan di buku-buku yang aku baca kok minim ya?

Katanya memang ada perbedaan tulisan karya penulis perempuan dan lelaki, sesuatu dengan cara mereka menggambarkan, tapi aku belum cukup perseptif melihat perbedaan itu.

(Sama seperti mendengarkan musik, katanya lelaki akan cenderung memilih beat-beat yang melodis dan dinamis, sementara perempuan lebih akan memilih/mementingkan lirik. Benarkah?)

Mungkin sudah saatnya aku membaca 'Rebecca', atau 'Jane Eyre'. Well, 'Mrs Dalloway' juga bisa dimulai lagi, dan oh, 'Persuasion' belum disentuh. Dan, aaargh, karya penulis perempuan Vietnam itu juga masih berhenti di tengah jalan! Banyak pilihan juga ya ternyata..


Currently listening to:
The Dance
By Fleetwood Mac



Posted at 09:01 pm by i_artharini
Comment (1)  

Monday, March 06, 2006
Manusia Kamar

Judul salah satu cerita pendeknya SGA yang masuk di kumpulan "Matinya Seorang Penari Telanjang"; dan ada bagian-bagian yang aku merasa sama dengan si tokoh manusia kamar itu.

Awalnya, dari mbaca terus (aku emang lagi ngebut), dan jadi males banget pergi keluar rumah atau get my ass of any couch. Terus berimbas pula ke masalah sosialisasi; karena makin lama...makin ngerasa manusia itu nggak worth it untuk diajak ngomong. Mending baca buku aja.

Selain orang-orang rumah dan beberapa orang di kantor yang aku kenal dekat, males ngajak ngomong orang lain. Kesempatan juga nggak membuat aku ketemu banyak orang baru sih, selain wawancara-wawancara standar tentunya. Dulu pas di Metropolitan, ketemu sama temen-temen baru di wilayah, tapi sekarang karena jarang ketemu sama rekan seprofesi, sekalinya ketemu jadi nggak luwes. Lupa 'caranya' liputan bareng. Beberapa kali sempat hadir di beberapa acara kesenian yang memungkinkan aku ketemu orang-orang budaya; hasilnya, sama-sama liat-liatan, tapi aku juga nggak senyum dan nggak nyapa. Males banget untuk menjalin kontak dengan manusia lain.Benar-benar zero social life.

Aku sudah sadar dan ngerasa, 'ih, kenapa aku sekarang balik jadi geeky?' (Atau kalau sebelumnya sudah cukup geek, sekarang jadi super geek), tapi aku juga nggak punya keinginan untuk memutus mata rantai kemalasan bersosialisasi ini. Dan karena aku makin males, jadi makin nggak luwes, dan makin susah menjalin kontak, sampai akhirnya, aku males berusaha.

Karena banyak makanan otak juga, yang cenderung dalam tempo marathon, aku juga jadi kerasa lagi balik sinis. Nah ini, susah lagi ngontrol kesinisan yang sering loncat-loncat dari mulut.

Sekarang, hidupku jadi cuma mbaca aja. Pembelaan diri; karena aku lagi belajar...dan aku ketinggalan banyak dalam sekolah membaca ini.

Anyhoo, kemarin sempat main games di PDA seseorang yang terakhirnya ngasih kata bijak yang nendang banget: "Now that I finally get my head together, my body is falling apart". Ini, dalam artian aku jadi melakukan zero exercise. Lha gimana mau gerak, sekarang my ass is glued, stapled, to any sitting object, gara-gara.. mbaca.

Ah, ya wis lah.

Posted at 09:29 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, March 02, 2006
That Obscure Object of Desire...

Kemarin malam, datang ke acara peluncuran novelnya wartawan kebudayaan kantorku di TIM. Dan, seperti sudah diduga walaupun tidak menyangka akan segampang itu terjadinya, tadaaa...aku ketemu sama 'that obscure object of desire', sosok santun di Sabtu siang, yang akhirnya sekarang menghantui aku secara membabi buta selama 10 hari terakhir.

Sebenarnya, dalam 10 hari terakhir itu, aku sempat ketemu si 'hantu' ini waktu acara peluncuran buku puisinya Saut Sitompul; ceritanya dia duduk di sebelah, sebelahnya Rendra, tapi pas lampu menyala, eh 'hantu' ini sudah hilang sebelum aku sempat menyapa-nyapa. Arrggh! Hantu beneran jangan-jangan...

(Berarti Sabtu siang itu aku bener-bener beruntung kali ya?)

Nah, kemarin malam, ketemu, pas dia lagi ngobrol-ngobrol sama 'man of the night', the celebrated author. Gara-gara itu, aku menunggu, sampai si 'hantu' ini sendiri, atau aman untuk didekati. Atau, diterkam tepatnya. Abis, malu man, kalau sudah melancarkan serangan-serangan amatirku, tepat di depan seorang...penjahat kelamin yang bakal terbahak-bahak akan aku yang mencoba menirukan auman singa dewasa. Lagian, diskusinya kan baru mulai, dan orang itu di situ dalam kapasitas bekerja, tidak seperti aku yang cuma main-main aja.

Tapi si hantu ini, rupanya, karena dia lebih tua dari aku, jadi bisa membaca gelagat. Atau setidaknya aku curiga begitu. Dan saat kepala berputar beberapa menit kemudian, 'hantu' ini kembali menghilang. Waktu aku ngambil kopi, yang sebenarnya memang sekedar taktik untuk mencari posisi sang buruan, terlihat kalau buruan ini berlindung bersama sekelompok mahluk-mahluk budaya lain. Aduh, semakin tidak aman lagi.

Dan ini catatan kaki yang harusnya dijadikan catatan kepala, when you're trying to score, jangan membawa the non-gay gay best friend bersamamu. Believe me, mereka hanya akan rewel kelaperan dan mencoba mensabotase setiap usahamu untuk menerkam mangsa dan mengakhiri kesendirian.

Itu yang terjadi padaku. Konspirasi alam yang kejam. The non-gay gay best friend merengek-rengek minta ikut dua teman yang sebelumnya sudah keluar dulu untuk makan. Awalnya tidak aku turutin, tapi akhirnya dia mengeluarkan muka cemberut yang ngeselin banget; sampai akhirnya aku nggak tega dan menyerah pada permintaannya.

Setelah dinner selesai, balik lagi ke ruangan diskusi, dan malam berakhir, aku tidak melihat penampakan lain dari 'hantu' nan charming dan santun itu. Huks.

Dan tadi siang, waktu ke Gunung Agung Citraland setelah pagi-pagi wawancara di Cempaka Mas (!), aku melihat buku karangan si 'hantu' ini. Mulailah aku mencari-cari alasan yang dapat membenarkan aku membeli buku ini; dari Sabtu lusa-nya akan ada diskusi bukunya ("Harus dibaca dong, biar nanti bisa nanya dan mbahas secara mendalam.."), sampai butuh memperbanyak wawasan akan penulis fiksi kontemporer Indonesia, atau tampilan fisiknya...(well, sebenarnya fisiknya biasa aja, tapi kesantunannya itu lhoo...biasa, tapi unik).

Tapi, semua argumen itu tidak menggoyahkan fakta bahwa...itu buku harganya Rp 44 ribu! Cinta sih cinta (setidaknya platonis).. tapi setelah percakapan 10 menitan, kayaknya too much ya? Apalagi di saat krisis keuangan seperti ini.

Tapi gimana dong, sosok ini masih, dengan suksesnya, menghantui khayalan-khayalan akan percakapan yang alurnya Before Sunrise-Before Sunset-esque...(dan katanya si Miss Universe, "ih, keliatan banget pengen nunjukin what you've been reading, sok-sok ngasih referensi bandingan, etc, etc..")

Dan, dalam skenario idealku akan pertemuan Sabtu nanti, aku berharap ini yang bakal kejadian:

"Eh, aku udah mbaca lho Iwan Simatupangnya."
"Dan?"
"Dashyat bangeett..."
Sambil ketawa, "Emang kenapa dashyatnya.."
"Ya pernah mbaca 'The Fountainhead' nggak? Apa yang dilakukan Ayn Rand dalam 700 halaman, bisa dilakukan Iwan Simatupang dengan lebih efektif dalam 150an halaman..."
"Oh ya? Fountainhead? Tentang apa?"
(Here's my answer... terus diakhiri dengan) "Emm, kemaren-kemarennya abis selesai mbaca Camus sih, dan kok kerasa ada yang sama ya?"
(disinilah, dia akan menjelaskan korelasinya. Aku tahu dia tahu karena aku pernah mbaca artikel yang membandingkan Camus 'Orang Aneh/Asing' dan 'Ziarah').

Hahahah. Dangkal banget nggak sih? 

Anyway, si Abah memberi pesan: "Act Naturally". Datanglah Sabtu nanti dengan pikiran ikut diskusi buku untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan hilangkan pikiran-pikiran busuk itu.

(Oke, meditasi, ingat-ingat..)

(Tapi aku sering terlihat amatir banget kalau sudah berhadapan dengan that obscure object of desire...)


Currently reading:
The Grapes of Wrath (Penguin Modern Classics)
By John Steinbeck



Posted at 09:49 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, February 23, 2006
...Gelas Anggur Terakhir Pun Selesai Diteguk

Di tengah taman kota yang tak kusangka dimiliki oleh Jakarta; ruang publik nan hijau  lengkap dengan kolam milik para pekerja Wisma BRI, Wisma BRI II, dan Wisma GKBI, aku menyelesaikan Fiesta. Wuhuu!

Tadi siang ke Wisma GKBI, mencari seorang pejabat negara Ginseng, yang akhirnya baru bisa ditelpon 1,5 jam kemudian. Sebenarnya mau jalan ke Plaza Semanggi, biar sekedar bisa duduk dan membaca, tapi pas jalan keluar...ngeliat penunjuk arah ke 'Restoran'. Ternyata, jalan menuju restoran itu hijau banget, rindang, lengkap dengan kolam yang desainnya alami. Penuh sama karyawan-karyawan kantoran yang ketawa-ketiwi, menikmati taman yang...emang indah.

Duh, nggerundelku dalam hati tentang minimnya ruang publik hijau di Jakarta ternyata tidak sepenuhnya tepat. Ruang publik hijau nyaman di Jakarta ada kok. Buat mereka yang kerja di jalan protokol tapinya. Huh.

Akhirnya, memilih tempat duduk, mengeluarkan 'Fiesta', dan membaca 80 halaman terakhir 'Fiesta'. Sempet terganggu sebenarnya sama segerombolan orang-orang kantoran, yang despite the working place and their smart suits, teteup aja berlaku kayak highschoolers. Ruame banget nggodain cewek. Atau nggodain salah satu dari mereka yang lagi nggodain cewek. Pake taruhan-taruhan buat ngedeketin anak SMA magang yang lagi lunch di situ juga lagi.

Setelah itu, pas udah bisa membaca dengan tenang, 'Fiesta' jadi mengalir lancar. Baru pada 80 halaman terakhir itulah kalimat-kalimat yang disusun Hemingway terasa indah; kosakatanya sederhana, tapi kuat. Cara dia mendeskripsikan pertarungan banteng, lalu saat Brett pergi bersama Romero...

Ini, kutipannya:

"Kami berita duduk di meja, dan seakan-akan ada enam orang yang tidak hadir di situ."

(Ceritanya grupnya mereka ber-enam gitu...)

Setelah itu, buku ketiganya benar-benar pure bliss. Dari mulai caranya menghabiskan waktu sendirian di San Sebastian, lalu kutipan-kutipan singkatnya tentang anggur (wow, this guy is undoubtedly an alcoholic...), tentang membalas telegram dari Brett, tentang pagi hari di San Sebastian. Nggak kerasa mbosenin lagi...Kenapa bagian awalnya kerasa painfully boring ya?

Seperti di 80 halaman terakhir itu, ada sebuah lampu yang menerangi jalan masuk ke otakku sendiri. Kata-katanya, kalimat-kalimatnya  Hemingway jadi lebih punya arti, karena menemukan jalan masuk ke otak.

Dan iya, bener ternyata, dalam 80 halaman terakhir itu, tulisannya mengingatkan aku sama cerpen-cerpennya Umar Kayam di Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Mungkin karena itu, aku jadi lebih mengerti?

Posted at 08:46 pm by i_artharini
Make a comment  

Pesan Buruk Sebuah Editorial

Membuka topik tentang Howard Roark dan Fountainhead, aku jadi teringat lagi pada 'pelajaran-pelajaran' yang aku dapat saat membaca buku itu. Sebenarnya, yang paling penting, dan jadi inti buku itu adalah tentang 'selling-out' kan? Antara memilih idealisme atau berkompromi karena tawaran finansial.

Dan aku ingat, setelah selesai membaca buku itu, mengatakan pada diri sendiri, "Jika aku membaca buku ini beberapa tahun lebih cepat, aku mungkin akan lebih militan dalam mempertahankan idealisme dan tidak berkompromi."

Dengan bekerja di tempat aku bekerja sekarang, apakah level kompromi-ku jadi semakin menurun? Aku berusaha untuk tidak. Tapi ada masa-masanya saat aku merasa, 'apa sih yang sedang aku lakukan di kolam ini?'

Hari ini, akan aku catat, sebagai suatu bukti, that this place contain an evil force so obvious, that you cannot help to do anything, than feeling weak in the knees and throw up all the food you have for lunch...

(Apa yang bisa saya 'laporkan' pada Ayn Rand? Fuck that. Apa yang bisa saya katakan pada hati dan kesadaran saya?)

***
PESAN BURUK DARI PAPUA

SETIAP hari bangsa Indonesia mengirim pesan buruk kepada dunia tentang siapa kita. Kedutaan negara lain dirusak, perusahaan asing diduduki, orang asing dirampok, ditipu, dan banyak lagi.

Lebih celaka lagi, kita bangga dengan perilaku itu. Kita mengatakan kepada dunia bahwa seluruh aksi itu adalah bagian dari kesadaran mempertahankan harga diri.

Dalam konteks global apa yang sedang digemari manusia Indonesia itu sama dengan menyiram kebun dengan lahar gunung berapi. Kita sedang melakukan aksi bunuh diri dengan bangga.

Pesan buruk terbaru tentang diri sendiri yang disiarkan ke seantero jagat datang dari Papua. Sekitar 300 warga memblokade jalan masuk ke kompleks PT Freeport. Mereka bersenjata parang dan anak panah.

Akibatnya perusahaan tembaga asal Amerika Serikat itu menghentikan operasi untuk waktu yang tidak ditentukan. Kerugiannya bisa dihitung. Indonesia kehilangan tidak kurang US$3 juta/hari. Ribuan tenaga kerja kehilangan pendapatan. Kalau berlarut-larut, mereka bisa diberhentikan.

Tentu, penutupan jalan oleh warga itu ada sebabnya. Sebelumnya, sejumlah warga yang disebut sebagai penambang liar diminta tidak mendulang di daerah aliran sungai dan bekas pertambangan karena sangat berbahaya. Salah satu bahaya yang diwaspadai adalah potensi longsor akibat curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini.

Tetapi permintaan itu malah menimbulkan bentrokan yang mencederai para penambang liar maupun aparat keamanan. Bentrokan itulah yang kemudian berdampak pada kemarahan kolektif dan berkembang liar pula menjadi pemblokadean.

Sebagai usaha pertambangan sekaliber Freeport, dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan pasti ada. Terutama kerusakan pada permukaan tanah akibat eksplorasi dan limbah. Akan tetapi, yang tidak kalah penting adalah komitmen sebuah usaha tambang untuk merenovasi lingkungan setelah pertambangan berhenti di kemudian hari.

Freeport bukan perusahaan yang baru kemarin beroperasi di Papua. Pemerintah, LSM, dan dunia pun amat peduli pada standar-standar global tentang pemeliharaan lingkungan. Jadi, kalau Freeport sudah beroperasi sejak 1976 dan sudah diperpanjang untuk beberapa puluh tahun lagi, berarti ada kesepakatan tentang risiko dan keuntungan.

Masih banyak cara untuk mempertemukan perbedaan kepentingan dan keinginan. Salah satu cara terhormat adalah berdialog. Mob seperti yang dilakukan warga yang menutup jalan ke Freeport adalah contoh buruk. Selama konflik kepentingan penduduk dengan pabrik dan unit-unit ekonomi diselesaikan melalui kekerasan, kita mengirim pesan buruk kepada dunia agar tidak membawa modalnya ke negeri ini.

Dalam dunia yang begitu terbuka dan tidak lagi berjarak, persepsi global tentang peradaban sebuah bangsa amat menentukan.


Posted at 06:13 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page