PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, March 08, 2006
Hari Perempuan Sedunia

"Selamat Hari Perempuan!"

Aku dengan sok jayus mengucapkan selamat ke mahluk-mahluk perempuan di kantor; salah satunya waktu ke kamar mandi dan ketemu sekretaris Pemred dan temen cewek. Sekretaris Pemred terus berkomentar, "iya yah, banyak banget hari buat cewek. Hari Ibu, Hari Kartini, Hari Perempuan.."

Dan aku menimpali, "Iya, tapi teteup aja...nasibnya.."

"Iya," tegas si sekretaris Pemred. "Setinggi-tingginya kita mau mikirin karir, nggak bisa,  yang urusan rumah tetap harus kepegang. Susah," tambahnya sambil menghapus sabun bekas cuci muka.

***

Malamnya, waktu mbuka Guardian Online, ada kuis yang berhubungan dengan International Women's Day; di rubrik 'Books', "Take Our Quiz on Women Writers" judulnya..

Dan end resultnya, aku cuman bisa dapet skor 3 out of 10. Komentarnya:

You scored 3 out of a possible 10
"He buys me books, but begs me not to read them,
because he fears they joggle the mind."
Emily Dickinson
Go on, risk joggling your mind a bit more; stock up on some Virago titles, now!

Tapi, dari kuis itu, jadi keinget salah satu kutipan dari Virginia Woolf yang pernah aku baca. Aku lupa tepatnya kata-katanya, tapi intinya, if a woman wants to write fiction for a living, then she would need money and a room of her own.

Dari kuis itu, ada refleksi juga sih, terutama dengan book-a-thon yang lagi aku jalanin. Keberadaan karya penulis perempuan di buku-buku yang aku baca kok minim ya?

Katanya memang ada perbedaan tulisan karya penulis perempuan dan lelaki, sesuatu dengan cara mereka menggambarkan, tapi aku belum cukup perseptif melihat perbedaan itu.

(Sama seperti mendengarkan musik, katanya lelaki akan cenderung memilih beat-beat yang melodis dan dinamis, sementara perempuan lebih akan memilih/mementingkan lirik. Benarkah?)

Mungkin sudah saatnya aku membaca 'Rebecca', atau 'Jane Eyre'. Well, 'Mrs Dalloway' juga bisa dimulai lagi, dan oh, 'Persuasion' belum disentuh. Dan, aaargh, karya penulis perempuan Vietnam itu juga masih berhenti di tengah jalan! Banyak pilihan juga ya ternyata..


Currently listening to:
The Dance
By Fleetwood Mac



Posted at 09:01 pm by i_artharini
Comment (1)  

Monday, March 06, 2006
Manusia Kamar

Judul salah satu cerita pendeknya SGA yang masuk di kumpulan "Matinya Seorang Penari Telanjang"; dan ada bagian-bagian yang aku merasa sama dengan si tokoh manusia kamar itu.

Awalnya, dari mbaca terus (aku emang lagi ngebut), dan jadi males banget pergi keluar rumah atau get my ass of any couch. Terus berimbas pula ke masalah sosialisasi; karena makin lama...makin ngerasa manusia itu nggak worth it untuk diajak ngomong. Mending baca buku aja.

Selain orang-orang rumah dan beberapa orang di kantor yang aku kenal dekat, males ngajak ngomong orang lain. Kesempatan juga nggak membuat aku ketemu banyak orang baru sih, selain wawancara-wawancara standar tentunya. Dulu pas di Metropolitan, ketemu sama temen-temen baru di wilayah, tapi sekarang karena jarang ketemu sama rekan seprofesi, sekalinya ketemu jadi nggak luwes. Lupa 'caranya' liputan bareng. Beberapa kali sempat hadir di beberapa acara kesenian yang memungkinkan aku ketemu orang-orang budaya; hasilnya, sama-sama liat-liatan, tapi aku juga nggak senyum dan nggak nyapa. Males banget untuk menjalin kontak dengan manusia lain.Benar-benar zero social life.

Aku sudah sadar dan ngerasa, 'ih, kenapa aku sekarang balik jadi geeky?' (Atau kalau sebelumnya sudah cukup geek, sekarang jadi super geek), tapi aku juga nggak punya keinginan untuk memutus mata rantai kemalasan bersosialisasi ini. Dan karena aku makin males, jadi makin nggak luwes, dan makin susah menjalin kontak, sampai akhirnya, aku males berusaha.

Karena banyak makanan otak juga, yang cenderung dalam tempo marathon, aku juga jadi kerasa lagi balik sinis. Nah ini, susah lagi ngontrol kesinisan yang sering loncat-loncat dari mulut.

Sekarang, hidupku jadi cuma mbaca aja. Pembelaan diri; karena aku lagi belajar...dan aku ketinggalan banyak dalam sekolah membaca ini.

Anyhoo, kemarin sempat main games di PDA seseorang yang terakhirnya ngasih kata bijak yang nendang banget: "Now that I finally get my head together, my body is falling apart". Ini, dalam artian aku jadi melakukan zero exercise. Lha gimana mau gerak, sekarang my ass is glued, stapled, to any sitting object, gara-gara.. mbaca.

Ah, ya wis lah.

Posted at 09:29 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, March 02, 2006
That Obscure Object of Desire...

Kemarin malam, datang ke acara peluncuran novelnya wartawan kebudayaan kantorku di TIM. Dan, seperti sudah diduga walaupun tidak menyangka akan segampang itu terjadinya, tadaaa...aku ketemu sama 'that obscure object of desire', sosok santun di Sabtu siang, yang akhirnya sekarang menghantui aku secara membabi buta selama 10 hari terakhir.

Sebenarnya, dalam 10 hari terakhir itu, aku sempat ketemu si 'hantu' ini waktu acara peluncuran buku puisinya Saut Sitompul; ceritanya dia duduk di sebelah, sebelahnya Rendra, tapi pas lampu menyala, eh 'hantu' ini sudah hilang sebelum aku sempat menyapa-nyapa. Arrggh! Hantu beneran jangan-jangan...

(Berarti Sabtu siang itu aku bener-bener beruntung kali ya?)

Nah, kemarin malam, ketemu, pas dia lagi ngobrol-ngobrol sama 'man of the night', the celebrated author. Gara-gara itu, aku menunggu, sampai si 'hantu' ini sendiri, atau aman untuk didekati. Atau, diterkam tepatnya. Abis, malu man, kalau sudah melancarkan serangan-serangan amatirku, tepat di depan seorang...penjahat kelamin yang bakal terbahak-bahak akan aku yang mencoba menirukan auman singa dewasa. Lagian, diskusinya kan baru mulai, dan orang itu di situ dalam kapasitas bekerja, tidak seperti aku yang cuma main-main aja.

Tapi si hantu ini, rupanya, karena dia lebih tua dari aku, jadi bisa membaca gelagat. Atau setidaknya aku curiga begitu. Dan saat kepala berputar beberapa menit kemudian, 'hantu' ini kembali menghilang. Waktu aku ngambil kopi, yang sebenarnya memang sekedar taktik untuk mencari posisi sang buruan, terlihat kalau buruan ini berlindung bersama sekelompok mahluk-mahluk budaya lain. Aduh, semakin tidak aman lagi.

Dan ini catatan kaki yang harusnya dijadikan catatan kepala, when you're trying to score, jangan membawa the non-gay gay best friend bersamamu. Believe me, mereka hanya akan rewel kelaperan dan mencoba mensabotase setiap usahamu untuk menerkam mangsa dan mengakhiri kesendirian.

Itu yang terjadi padaku. Konspirasi alam yang kejam. The non-gay gay best friend merengek-rengek minta ikut dua teman yang sebelumnya sudah keluar dulu untuk makan. Awalnya tidak aku turutin, tapi akhirnya dia mengeluarkan muka cemberut yang ngeselin banget; sampai akhirnya aku nggak tega dan menyerah pada permintaannya.

Setelah dinner selesai, balik lagi ke ruangan diskusi, dan malam berakhir, aku tidak melihat penampakan lain dari 'hantu' nan charming dan santun itu. Huks.

Dan tadi siang, waktu ke Gunung Agung Citraland setelah pagi-pagi wawancara di Cempaka Mas (!), aku melihat buku karangan si 'hantu' ini. Mulailah aku mencari-cari alasan yang dapat membenarkan aku membeli buku ini; dari Sabtu lusa-nya akan ada diskusi bukunya ("Harus dibaca dong, biar nanti bisa nanya dan mbahas secara mendalam.."), sampai butuh memperbanyak wawasan akan penulis fiksi kontemporer Indonesia, atau tampilan fisiknya...(well, sebenarnya fisiknya biasa aja, tapi kesantunannya itu lhoo...biasa, tapi unik).

Tapi, semua argumen itu tidak menggoyahkan fakta bahwa...itu buku harganya Rp 44 ribu! Cinta sih cinta (setidaknya platonis).. tapi setelah percakapan 10 menitan, kayaknya too much ya? Apalagi di saat krisis keuangan seperti ini.

Tapi gimana dong, sosok ini masih, dengan suksesnya, menghantui khayalan-khayalan akan percakapan yang alurnya Before Sunrise-Before Sunset-esque...(dan katanya si Miss Universe, "ih, keliatan banget pengen nunjukin what you've been reading, sok-sok ngasih referensi bandingan, etc, etc..")

Dan, dalam skenario idealku akan pertemuan Sabtu nanti, aku berharap ini yang bakal kejadian:

"Eh, aku udah mbaca lho Iwan Simatupangnya."
"Dan?"
"Dashyat bangeett..."
Sambil ketawa, "Emang kenapa dashyatnya.."
"Ya pernah mbaca 'The Fountainhead' nggak? Apa yang dilakukan Ayn Rand dalam 700 halaman, bisa dilakukan Iwan Simatupang dengan lebih efektif dalam 150an halaman..."
"Oh ya? Fountainhead? Tentang apa?"
(Here's my answer... terus diakhiri dengan) "Emm, kemaren-kemarennya abis selesai mbaca Camus sih, dan kok kerasa ada yang sama ya?"
(disinilah, dia akan menjelaskan korelasinya. Aku tahu dia tahu karena aku pernah mbaca artikel yang membandingkan Camus 'Orang Aneh/Asing' dan 'Ziarah').

Hahahah. Dangkal banget nggak sih? 

Anyway, si Abah memberi pesan: "Act Naturally". Datanglah Sabtu nanti dengan pikiran ikut diskusi buku untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan hilangkan pikiran-pikiran busuk itu.

(Oke, meditasi, ingat-ingat..)

(Tapi aku sering terlihat amatir banget kalau sudah berhadapan dengan that obscure object of desire...)


Currently reading:
The Grapes of Wrath (Penguin Modern Classics)
By John Steinbeck



Posted at 09:49 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, February 23, 2006
...Gelas Anggur Terakhir Pun Selesai Diteguk

Di tengah taman kota yang tak kusangka dimiliki oleh Jakarta; ruang publik nan hijau  lengkap dengan kolam milik para pekerja Wisma BRI, Wisma BRI II, dan Wisma GKBI, aku menyelesaikan Fiesta. Wuhuu!

Tadi siang ke Wisma GKBI, mencari seorang pejabat negara Ginseng, yang akhirnya baru bisa ditelpon 1,5 jam kemudian. Sebenarnya mau jalan ke Plaza Semanggi, biar sekedar bisa duduk dan membaca, tapi pas jalan keluar...ngeliat penunjuk arah ke 'Restoran'. Ternyata, jalan menuju restoran itu hijau banget, rindang, lengkap dengan kolam yang desainnya alami. Penuh sama karyawan-karyawan kantoran yang ketawa-ketiwi, menikmati taman yang...emang indah.

Duh, nggerundelku dalam hati tentang minimnya ruang publik hijau di Jakarta ternyata tidak sepenuhnya tepat. Ruang publik hijau nyaman di Jakarta ada kok. Buat mereka yang kerja di jalan protokol tapinya. Huh.

Akhirnya, memilih tempat duduk, mengeluarkan 'Fiesta', dan membaca 80 halaman terakhir 'Fiesta'. Sempet terganggu sebenarnya sama segerombolan orang-orang kantoran, yang despite the working place and their smart suits, teteup aja berlaku kayak highschoolers. Ruame banget nggodain cewek. Atau nggodain salah satu dari mereka yang lagi nggodain cewek. Pake taruhan-taruhan buat ngedeketin anak SMA magang yang lagi lunch di situ juga lagi.

Setelah itu, pas udah bisa membaca dengan tenang, 'Fiesta' jadi mengalir lancar. Baru pada 80 halaman terakhir itulah kalimat-kalimat yang disusun Hemingway terasa indah; kosakatanya sederhana, tapi kuat. Cara dia mendeskripsikan pertarungan banteng, lalu saat Brett pergi bersama Romero...

Ini, kutipannya:

"Kami berita duduk di meja, dan seakan-akan ada enam orang yang tidak hadir di situ."

(Ceritanya grupnya mereka ber-enam gitu...)

Setelah itu, buku ketiganya benar-benar pure bliss. Dari mulai caranya menghabiskan waktu sendirian di San Sebastian, lalu kutipan-kutipan singkatnya tentang anggur (wow, this guy is undoubtedly an alcoholic...), tentang membalas telegram dari Brett, tentang pagi hari di San Sebastian. Nggak kerasa mbosenin lagi...Kenapa bagian awalnya kerasa painfully boring ya?

Seperti di 80 halaman terakhir itu, ada sebuah lampu yang menerangi jalan masuk ke otakku sendiri. Kata-katanya, kalimat-kalimatnya  Hemingway jadi lebih punya arti, karena menemukan jalan masuk ke otak.

Dan iya, bener ternyata, dalam 80 halaman terakhir itu, tulisannya mengingatkan aku sama cerpen-cerpennya Umar Kayam di Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Mungkin karena itu, aku jadi lebih mengerti?

Posted at 08:46 pm by i_artharini
Make a comment  

Pesan Buruk Sebuah Editorial

Membuka topik tentang Howard Roark dan Fountainhead, aku jadi teringat lagi pada 'pelajaran-pelajaran' yang aku dapat saat membaca buku itu. Sebenarnya, yang paling penting, dan jadi inti buku itu adalah tentang 'selling-out' kan? Antara memilih idealisme atau berkompromi karena tawaran finansial.

Dan aku ingat, setelah selesai membaca buku itu, mengatakan pada diri sendiri, "Jika aku membaca buku ini beberapa tahun lebih cepat, aku mungkin akan lebih militan dalam mempertahankan idealisme dan tidak berkompromi."

Dengan bekerja di tempat aku bekerja sekarang, apakah level kompromi-ku jadi semakin menurun? Aku berusaha untuk tidak. Tapi ada masa-masanya saat aku merasa, 'apa sih yang sedang aku lakukan di kolam ini?'

Hari ini, akan aku catat, sebagai suatu bukti, that this place contain an evil force so obvious, that you cannot help to do anything, than feeling weak in the knees and throw up all the food you have for lunch...

(Apa yang bisa saya 'laporkan' pada Ayn Rand? Fuck that. Apa yang bisa saya katakan pada hati dan kesadaran saya?)

***
PESAN BURUK DARI PAPUA

SETIAP hari bangsa Indonesia mengirim pesan buruk kepada dunia tentang siapa kita. Kedutaan negara lain dirusak, perusahaan asing diduduki, orang asing dirampok, ditipu, dan banyak lagi.

Lebih celaka lagi, kita bangga dengan perilaku itu. Kita mengatakan kepada dunia bahwa seluruh aksi itu adalah bagian dari kesadaran mempertahankan harga diri.

Dalam konteks global apa yang sedang digemari manusia Indonesia itu sama dengan menyiram kebun dengan lahar gunung berapi. Kita sedang melakukan aksi bunuh diri dengan bangga.

Pesan buruk terbaru tentang diri sendiri yang disiarkan ke seantero jagat datang dari Papua. Sekitar 300 warga memblokade jalan masuk ke kompleks PT Freeport. Mereka bersenjata parang dan anak panah.

Akibatnya perusahaan tembaga asal Amerika Serikat itu menghentikan operasi untuk waktu yang tidak ditentukan. Kerugiannya bisa dihitung. Indonesia kehilangan tidak kurang US$3 juta/hari. Ribuan tenaga kerja kehilangan pendapatan. Kalau berlarut-larut, mereka bisa diberhentikan.

Tentu, penutupan jalan oleh warga itu ada sebabnya. Sebelumnya, sejumlah warga yang disebut sebagai penambang liar diminta tidak mendulang di daerah aliran sungai dan bekas pertambangan karena sangat berbahaya. Salah satu bahaya yang diwaspadai adalah potensi longsor akibat curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini.

Tetapi permintaan itu malah menimbulkan bentrokan yang mencederai para penambang liar maupun aparat keamanan. Bentrokan itulah yang kemudian berdampak pada kemarahan kolektif dan berkembang liar pula menjadi pemblokadean.

Sebagai usaha pertambangan sekaliber Freeport, dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan pasti ada. Terutama kerusakan pada permukaan tanah akibat eksplorasi dan limbah. Akan tetapi, yang tidak kalah penting adalah komitmen sebuah usaha tambang untuk merenovasi lingkungan setelah pertambangan berhenti di kemudian hari.

Freeport bukan perusahaan yang baru kemarin beroperasi di Papua. Pemerintah, LSM, dan dunia pun amat peduli pada standar-standar global tentang pemeliharaan lingkungan. Jadi, kalau Freeport sudah beroperasi sejak 1976 dan sudah diperpanjang untuk beberapa puluh tahun lagi, berarti ada kesepakatan tentang risiko dan keuntungan.

Masih banyak cara untuk mempertemukan perbedaan kepentingan dan keinginan. Salah satu cara terhormat adalah berdialog. Mob seperti yang dilakukan warga yang menutup jalan ke Freeport adalah contoh buruk. Selama konflik kepentingan penduduk dengan pabrik dan unit-unit ekonomi diselesaikan melalui kekerasan, kita mengirim pesan buruk kepada dunia agar tidak membawa modalnya ke negeri ini.

Dalam dunia yang begitu terbuka dan tidak lagi berjarak, persepsi global tentang peradaban sebuah bangsa amat menentukan.


Posted at 06:13 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, February 21, 2006
I Don't Need No Education?

Sesiangan dan sesorean berusaha menghubungi seorang pengacara kondang tanpa hasil. Terakhir, katanya, dia masih belum selesai meeting dan tidak menjanjikan waktu yang jelas untuk dihubungi kembali...

Argh. Kerjaan sendiri juga masih belum beres.
Duh, mengutip katanya teman, serasa ingin menjadi burung unta yang bisa memasukkan kepalanya ke gundukan pasir, dan menyembunyikan diri dari dunia dan tanggung jawab. Atau, naik ke tempat tidur, berbungkus selimut, krukupan, dan tidak melakukan apa-apa.

Di tengah-tengah ketidakberdayaan, akhirnya browsing-browsing lebih lanjut tentang sebuah ide yang baru aku dengar dari seorang senior tadi malam. Tentang kembali ke kampus.

Harus aku akui, ide yang sangat menarik. Apalagi karena biaya yang harus dikeluarkan ternyata tidak semahal seperti yang aku bayangkan sebelumnya. "Asal bukan magister manajemen atau accounting aja sih, lumayan murahlah," kata bapakku tadi pagi. Masalah biaya itu yang sebenarnya membuat aku semakin tertarik.

Dan untuk bidang yang aku minati pula.

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat kehilangan minat buat S2, terutama karena biayanya itu. Dan karena aku juga jadi nggak tertarik lagi untuk belajar 'Manajemen Pemasaran' atau topik-topik yang berhubungan dengan manajemen dan/atau bisnis.
Oke, aku masih ada minat sih sebenarnya untuk ngejar S2, tapi beasiswa, heheh. Tapi kalau nggak dapat itu? Masa balik ke belajar manajemen bisnis?

Lalu, out of nowhere, si senior ini bercerita, dia mau mengikuti ujian masuk untuk S2 Kajian Wilayah Amerika. Selanjutnya, browsing-browsing, eh ternyata ada S2 Sastra dengan salah satu pilihan pengkhususannya pada Cultural Studies.

Mbaca kurikulumnya, kok menarik ya?
Harganya juga...sesuai kantong lah.
Dan mengingat kompartemenku sekarang, hmm...kayaknya bisa nih disambi.

Alternatif lain juga ada; S2 Filsafat, di sekolah lain, yang biaya per semesternya setengah yang pertama. Sekolah ini ternyata juga punya program kursus semesteran dan kuliahnya seminggu sekali. Harganya? 200 ribu per semester!

Sesaat, aku merasakan euforia. Tapi yang ini, euforia yang membumi; karena apa yang aku inginkan ini, masih dalam jangkauan kemampuan, tenaga dan finansial.

Tapi, sekarang pertanyaannya, apa ini benar-benar yang aku inginkan dan butuhkan? Inginkan? Iya, pasti. Butuhkan? Hmm...yang ini sepertinya butuh pemikiran lebih matang.

Si senior mungkin sudah waktunya lagi, sesuai perputaran siklus hidup, untuk kembali mengasah dirinya di dunia akademis. Memberi stimulasi dari dunia yang berbeda pada otak, mengisi kembali batere-batere pengetahuan, memperluas perspektif untuk menghasilkan tulisan yang kaya. Sementara aku? Tidak sampai dua tahun yang lalu aku selesai (sementara) dengan dunia itu. Jangan-jangan ini cuma sekedar klangenan baru, cara untuk melarikan diri dari tanggung jawab dunia nyata. Dan cuma gara-gara ikut-ikutan.

Nggak tahu ini sekedar pembenaran atau sebuah argumen yang makes sense...aku merasa ketinggalan jauh dalam masalah kekayaan perspektif, dan perspektif yang kaya itu dibutuhkan dalam menjalani pekerjaanku, dan pendidikan adalah salah satu jalan untuk memperkaya perspektif itu kan?

Selain itu, meyakinkan orangtuaku adalah suatu 'pekerjaan' lain lagi. It's my money, I know. Tapi mereka tidak bisa tidak akan mengajukan pertanyaan tentang apa yang mau aku lakukan dengan uang itu, dan tidak membuangnya secara sembarangan.

Aku sendiri masih belum bisa menjawab pertanyaan: apa benar, aku benar-benar butuh pendidikan itu sekarang?

Posted at 06:25 pm by i_artharini
Make a comment  

Piket Pagi

Piket pagi, resminya mulai jam 09.00. Tapi memulai tugas piket tepat jam 09.00 juga rasanya terlalu pagi. Sementara, aku tadi sampai di kantor jam 07.30. Alasannya; Kalimalang di pagi hari bener-bener such a bitch, padatnya itu lho. Akhirnya ikut bapakku berangkat pagi ke kantor.

Sampai kantor, langsung ke musholla, dan..tidur. Yah, masih ada cukup dua jamlah untuk mengistirahatkan diri. Mana tadi malam juga baru tidur jam setengah dua. Jam 09.00 itu biasanya aku baru bangun..

Jam 10-an akhirnya ketemu beberapa atasan yang pada nanya: "Lho, kamu nginep di kantor?"

Aku rada trauma piket pagi sebenernya. Berbeda dengan malam hari yang ideal buat nge-blog, bermimpi dengan mata terbuka, atau membaca dan ndengerin musik, piket pagi lebih ngerepotin. Kehidupan masih berjalan, dan banyak yang masih harus diawasi.  

Dan, hiihh...ac-nya dingin banget sih.

Terus, bener kan, pas di tengah-tengah ngetik ini, tiba-tiba telpon bunyi. Ikut rapat dulu katanya. Ah, moga-moga nggak dapet tugas 'side-job'..

Posted at 10:24 am by i_artharini
Make a comment  

Monday, February 20, 2006
Pada Awalnya, Pada Akhirnya

Pada awalnya, pertemuan sekilas dengan sesosok santun di Sabtu siang. Lalu, aku pulang dan ngebut membaca 'Ziarah' --yang sebenarnya juga nggak bisa dibilang ngebut, karena baru selesai hari ini-- Dan pada akhirnya, sebuah kesimpulan; "Gila, 'Ziarah' itu dashyat banget. Apa yang sudah disampaikan Ayn Rand lewat 'The Fountainhead' dalam 720 halaman, bisa disampaikan oleh Iwan Simatupang dengan lebih baik dalam 140 halaman."

Lebih baik, karena, pertamanya, lebih singkat. Entah kenapa, buat aku itu artinya less self-indulgent. Kedua, disampaikan dalam bahasa ibuku sendiri. Ketiga, ada lebih banyak ungkapan-ungkapan yang quotable dan dapat 'digunakan' dalam kehidupan sehari-hari, sementara dialog-dialog 'Fountain..' lebih...panjang, menjelaskan, dan tidak quote-friendly. (Hmm, apakah berarti aku termasuk tipe 'pengutip'? Biasanya aku memasukkan para pengutip itu ke kategori sombong. But I don't feel like a snob doing that, karena memang nggak banyak kesempatannya juga...tapi yang terakhir ini sepertinya lebih sebagai pembelaan diri.)

Ah, Fountainhead...yang kuingat dengan jelas darinya; nama Howard Roark (menjelaskan sekali karakter si tokoh), deskripsi mengagumkan tentang arsitektur suatu bangunan, dan ya..tentu saja pembelaan diri Roark, monolog yang puanjang banget itu. One of those books I've read, gara-gara..(lagi-lagi) Rory Gilmore.

Btw, boleh nggak sih laporan sama sosok santun itu, aku sudah mengerjakan pekerjaan rumah darimu lho...

Posted at 10:02 pm by i_artharini
Comment (1)  

Sunday, February 19, 2006
Weekend Story

Kantor, Minggu malam, biasanya sepi-sepi aja. Dan emang, udah dari tadi kedengerannya sepi, damai. Mungkin karena aku sekarang nggak duduk di deket para golden boys itu ya, yang suka heboh-heboh sendiri dengan pembicaraan telepon yang tak henti-hentinya dengan para ketua lembaga negara atau setidaknya anggota lembaga negara.

Deretan mejaku dulu sekarang udah jadi deretan meja orang-orang serem, euy. Meja orang-orang terpilih, murid-murid pilihan; hmm, kok jadi aromanya seperti Perjamuan Kudus?

Tiba-tiba ada rame-rame di dekat deretan itu, dan terdengar tawa khas seorang tua , ups..matang mungkin tepatnya, membahana. Sang PU,  Legenda Hidup, favorit beberapa perempuan muda angkatan Agustus, ternyata memang sedang memunculkan diri. Berjalan mondar-mandir di lorong panjang, yang sekarang baru aku sadar dan curiga... kok kayak catwalk sih? Apa memang dibentuk seperti itu?

Anyhow, komputerku udah nge-hang dua kali. Sebelumnya sempet mbaca-mbaca artikelnya Kompas Sabtu kemarin, tentang BLBI yang dikupas tuntas. Lha, kalau gitu, apa lagi dong yang mau kita bahas sekarang? Mau ngelanjutin kerja, tapi udah kehilangan semangat gara-gara komputer hang itu.

Sayangnya, komputer nge-hang itu bukan karena masalah kerjaan, tapi karena di antara kerjaan, aku lagi pengen goofing off, dan nge-Google orang yang baru aku ketemu Sabtu kemarin.

Weekend story yang lumayan...yah, ada warnanya dari sekedar jalan-jalan ke mal. Sabtu siang, pergi ke sebuah perpustakaan di tengah kota, karena ada diskusi tentang penulisan kreatif. Acara jam 1, berangkat dari rumah jam 1 kurang 5. Parah.

Sampe di lokasi 1.45, dan ternyata acaranya baru mulai. Hahahah.

Yang dateng ternyata sedikit. Dan para penulisnya, ceritanya itu buku diterbitin borongan ama 3 orang penulisnya, cuma satu orang yang cukup lancar berbicara tentang penulisan kreatif. Padahal moderator, dibantu beberapa orang di sekitarnya, udah memancing reaksi dengan berbagai cara. Gawatnya, yang nulis paling banyak malah yang kurang komunikatif.

Tapi, tidak bersedia untuk membiarkan siang itu tanpa makna, akhirnya setelah diskusi selesai nanya-nanya lebih jauh ama salah seorang pembicara de facto yang cukup articulate.  Namanya sih udah pernah denger sebelumnya, udah pernah liat buku yang ditulisnya di Gramedia juga, tapi baru tau..."Oh, ini to yang namanya..."

Akhirnya nanya-nanyalah aku tentang cara membaca yang baik, mengapresiasi bacaan, apa ada yang salah dengan caraku selama ini, etc, etc. Ada beberapa nama yang disebutnya terus-terusan, dan saat dia membaca semacam check-list apa yang udah aku baca dan belum.

Dia membaca Steinbeck, tapi tidak menyukai caranya bercerita, karena terlalu banyak tentang detil eksterior alam, tapi kurang pada psikologis para tokoh. Lalu dia menyebut Octavio Paz, dia menyukainya untuk suatu alasan, aku lupa apa...tapi tidak menyukai ke-asosial-an Paz. Lalu dia menyebut Neruda, tapi aku curiga...mungkin dia menyukai Neruda untuk Canto General dan 'the struggle for the social justice' daripada Neruda yang menulis sajak-sajak cinta. Dia mengaku belajar tentang alegori dari Marquez. ("Siapa?" tanyaku, karena dia menyebutnya Mark West.. Baru setelah dia bilang, "Gabriel Garcia.." aku baru meng-ooh, dan menjawab iya sudah mbaca kok.)

(Abah waktu aku ceritain tentang percakapan ini bilang, "Ih, aneh ya. Kenalan bisa sampe menyeluruh gitu." Aku: "Lha, kan emang sengaja apa yang harus dibaca, terus dia yang kayak ngecek gitu, apa aja yang udah aku baca..")

Nah, sehubungan dengan dia nanya apa yang udah aku baca, it was quite pathetic, man. Di kepalaku cuman keinget, Salinger ama Umar Kayam sebagai penulis favorit. Pas dia nanya, "Iwan Simatupang?" aku langsung teringat sama 'Ziarah' yang baru dibeli sekitar akhir November, awal Desember lalu pas ada jualan buku 50% di Perpus Diknas, dan sampai sekarang masih kebungkus rapi, gara-gara aku masih milih mbaca yang lain. Oh ya, tiga cerita pendek di 'Tegak Lurus Dengan Langit' pinjeman dari si ex, yang akhirnya harus cepet-cepet dibalikin karena hubungannya berakhir, bisa diitung nggak sih? Dan aku kok ya lupa pas itu...

Dan ada penulis-penulis lain yang nggak aku sebutin pas dia nanya. Huks, jadi ngerasa kecil. Padahal kan preferences-nya aja yang emang beda. Oke, oke, aku emang harus ngebut mbaca, tapi ada kan yang udah aku baca dan yang lain belum...

Anyway, browsing-browsing di Google (yang akibatnya nge-hang dua kali), ngeliat tulisannya si sosok yang ternyata juga kerja sebagai wartawan budaya di sebuah harian sore, dan kelihatan banget..apa yang dia baca tercermin di tulisannya. Dari tema, gaya penulisan, warna-warnanya; sedikit Steinbeck, sejumput Marquez, beberapa tetes Neruda.

Dia sempat menanyakan kabar dua orang temannya yang bekerja di kantorku. Dan ini, aku tidak bisa tidak membandingkan dia dan salah seorang temannya di kantorku. Orang ini, cukup simpatik. Santun dalam berbicara, tidak menimbulkan kesan ingin membuat orang terkesan dengan siapa dia, berbeda dengan...ah, well.

Karyanya juga cukup aksesibel, berbicara dengan orangnya juga nggak aneh-aneh. Sosok menyenangkan untuk berdiskusi singkat di Sabtu siang. 

Dari situ, terus ke daerah Jakarta Timur, ada rockumentary; sempet nonton dua, yang pertama tentang Bob Dylan (fake! Corporate sellout!), dan Flaming Lips (ah, nggak pernah ngecewain mereka... my favorite...)

Arrgh, jam 10. Anteran udah mo berangkat. Weekend almost oveeerr!!!


Currently reading:
The Great Gatsby
By F. Scott Fitzgerald





Posted at 09:08 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, February 14, 2006
Ingatan Kebahagiaan, pt.2

Ada kan istilah 'count your blessings'? Tapi aku lupa, konteksnya itu 'you should always count your blessings' atau 'you shouldn't'? Kalau arti terjemahannya mensyukuri nikmat, berari 'you should always' kan ya, konteksnya?

 

Ah anyway, aku lagi pengen count my blessing kemarin. Ada sesuatu yang tidak terduga, terjadi, kemarin. Ceritanya berawal dari Sabtu malam, pas lagi liat Metro, eh kok tiba-tiba ada versi instrumentalnya 'Moon River', dan gambar seorang perempuan kurus dengan gaun hitam panjang tanpa lengan, dan rambut disanggul ke atas berdiri di depan…Tiffany's?

 

"Kyaaaaaaaaa, Breakfast at Tiffany's!!!" teriakku di depan tivi, ngagetin si Rani.

"Duh, biasa aja kenapa sih. Kan kamu juga udah punya DVD-nya.."

"Yeah, but still. Ini bakalan ditayangin di tivi…"

 

Aku nggak bisa merasionalisasi alasan kehisterisan itu, karena aku bisa nonton filmnya kapan aja, karena udah punya DVD-nya. Mungkin kalau gini, aku jadi bisa share ama orang yang nonton di tivi kali ya, tanpa punya DVD-nya. Ah, mbulet.

 

Dari kehisterisan itu, aku tapi langsung ngerasa sedih. Gara-garanya, udah jadi kebiasaanku, kalo ada suatu film yang bagus, aku bakal sms-sms orang-orang deket, ngasih tau ada film keren, ya dengan harapan biar aku bisa diskusi ama mereka kali ya…

 

Dan, hiks, orang yang pertama keinget, adalah si cerita lama. Tapi, ih nggak bisalah aku nge-sms dia, even atas nama 'Breakfast at Tiffany's'. Lagian, sekarang kan udah punya cewek baru gitu. Kamu nggak mau kan, Nar, memberi dia dan cewek barunya kepuasan untuk nge-cap kamu psikopat, stalker, atau malah bunny boiler? (Yes, I know, inner heartmu berteriak-teriak: 'itu semua memang aku'. Tapi please, sekali ini, act cool…)

 

Sambil menyusun rencana biar besok bisa pulang cepet dari kantor, tetep aja ngerasa sedih euy, nggak bisa share film bagus ke orang itu.

 

* * *

 

Besoknya, sampe kantor jam 5-an, dan keukeuh, nanti pengen pulang cepet ah. Dan ternyata ada temen yang pulang ke arah yang sama, jadi mempercepat waktu perjalanan pulang.

 

Akhirnya, jam 20.20lah udah sampai rumah. Kapuk ama si Item udah njegok-njegok kenceeeng banget pas denger motor tukang ojek berenti di depan pager. Pas aku udah mbuka gembok pager, terus mau mbuka pintu teras, eh dari pintu ruang tamu ternyata ada bunyi kunci juga jegrek-jegrek. Ternyata si bapak.

 

"Hayoo, kamu pulang cepet mo nonton Breakfast at Tiffany's kan?"

 

Aku cuma ber-hehehe, sambil sibuk menerima sambutan dari para kaki empat. Pas masuk rumah, si ibu juga sudah menyambut di ujung ruang tamu menuju ruang keluarga, "iya, ini film kesukaanmu kan? Breakfast at Tiffany's?"

 

Aku ngeliat ke layar tivi, dan wajah Audrey Hepburn dan George Peppard sudah memenuhinya.

 

"Iya ya, Mbak, kamu pulang cepet mo nonton ini ya?" tanya Papa.

 

"Enggak sih sebenernya, udah nggak ada kerjaan juga, tadi ada temenku yang mbawa mobil, jadi ikut nebeng pulang. Tapi ya karena ada ini juga makanya jadi rada cepet…Walopun sebenernya bisa nonton DVD sih, tapi mumpung ada di tivi.."

 

"Hebat ya Papa, empatinya, bisa tau kalo ini film kesukaanmu.." kata si bapak.

 

"Paling tau dari Rani," aku menimpali.

 

"Enggak, Rani nggak ngomong apa-apa gitu kok," si ibu ikut nimbrung. "Emang kenapa sih seneng film ini?" lanjutnya.

 

"Ya, soalnya New York gitu…, tahun 50-an lagi, terus gayanya Audrey Hepburn-nya kan juga stylish banget. Keren aja…"

 

"Oh, harusnya kasih tau Eyang Mimi, kan Eyang Guritnya pas tahun segitu ada di Amerika. Oh, telpon Eyang Uti juga.." kata ibuku, sekarang sambil melangkah ke arah telepon rumah, memencet nomor, dan langsung berbicara dengan eyang putriku.

 

"Ibu? Ibu lagi ngapain? Udah nonton Metro?"

 

Tak lama kemudian, "Eyang Uti juga lagi nonton tuh.."

 

Aduh.. nggak tau kenapa, aku jadi ngerasa sayang banget sama bapak-ibuku. Bapakku yang biasanya cuek bukan main, tiba-tiba mau bother ngambil kesimpulan akan kepulangan awalku dari kantor, walaupun mungkin tau dari Rani atau ibuku tentang kesukaanku sama film ini, tapi tetep aja..beliau ikut antusias.

Terus ibuku yang juga ikut antusias dan ngasih-ngasih tau eyang-eyang lewat telpon kalo ada Breakfast at Tiff's.

 

Mungkin bukan karena aku juga tindakan yang kedua, tapi…kayak diingetin, eh ada lho orang lain yang appreciate what you appreciate. Nggak hanya si bapak satu itu yang bisa dikasih tau…

 

Aku pengen nulis ini, sebagai pengingat, ini lho..ortumu yang merhatiin kamu, Nari. Dan I have to admit, akhir-akhir ini aku lagi dalam periode yang baik dengan mereka; hubungannya lagi sehat.

 

Oh iya, terus pas adegan Audrey/Holly nyanyi 'Moon River' dengan gitar kecil di jendela, otomatis aku ikut nyanyi dong. Terus ibuku yang lagi di kamarnya, tiba-tiba keluar (swear, nyanyiku pelan, dan ketika pintu kamar ibuku ditutup, suaranya nggak nembus), "Oh, oh, oh, anakku nyanyi nonton film…"

 

"Iyalah, 'Moon River' gitu…"

 

And the night turns out to be good, also. Selesai Breakfast.. terus pindah ke channel lain, eh… ada 'Ed Wood'. Wuah, kemaren sempet liat di Subtitles, tapi belum rencana nyewa. Tapi ternyata keren itu film. Tim Burton is my new favorite director!

 

Ah, aku dan my zero social life…My happiness, consist of good movies played on national television. Sad.


Posted at 06:55 am by i_artharini
Comment (1)  

Next Page