"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Friday, February 29, 2008
Saat tulisan ini mulai diketik, jam Fossil yang masih dicicil itu
menunjukkan 03.21 pagi. Dan aku masih di kantor. Yeah, the 'perks' of
having an author byline, hehe.
Agak lega karena tulisannya selesai lebih cepat dari kemarin dan mataku
masih 65 persen melek buat nanti checking. Dibanding kemarin yang cuma
15 persen sampai udah kaya orang mabuk dan lupa ngecek grafis dan
nambah kode (ouufff). Seharusnya sekarang lagi browsing-browsing buat
besok tapi sepertinya nggak ada yang bisa masuk. Yang aku pikirkan
sekarang cuma...weekend.
Ugh. Sudah agak lama aku nggak merindukan akhir pekan. Dan merindukan orangtuaku.
Gara-gara Media Insomnia ini bisa sampai dua hari berturut-turut cuma
menjadikan rumah sebagai tempat mandi terus keluar rumah lagi satu jam
kemudian. Kamarku mungkin sudah hampir enam hari nggak dimasuki. Sampai
rumah cuma bisa sampai ruang tamu, tidur di sofa bentar, terus kamar
mandi. Interaksi dengan penghuni rumah praktis cuma sama mahluk-mahluk.
Sampai rumah, sudah pada berangkat semua.
Tadi pagi pas ngelihat Ma lagi di rumah dan bilang, "Ya ampun, mbak.
Kita udah berapa hari nggak ketemu?" Dan aku juga merasakan rasa
bahagia dan lega yang sama kita akhirnya bisa ketemu. Well, yeah, it is
a boost to my ego waktu aku mau berangkat beliau bilang, "Yaaa, kamu
udah mau berangkat lagi ya? Huu, huu, huu..."
Aku merasa sedih juga sih, tapi ya senang juga dikangenin, hehe.
Jadi sedih banget pas dibilangin, "Jangan tanyain Pa ke mana ya. Lagi ke Bandung, raker, pulangnya baru Minggu."
"Minggu? Oh my God. Aku kan ngantor lagi. Besoknya nggak bakal ketemu
lagi dong." (Dan aku langsung membayangkan pertemuan itu baru terjadi
Jumat pagi depan. Haegghhh.)
Ini mungkin kedengerannya aku jadi nggak happy. Padahal ya masih happy
dengan melihat hasilnya tiap siang. Bukan pada punyaku sih, tapi dengan
total paketnya. Jadi suka membaca tulisan Ekonomi-nya Eva, Olahraga
juga jadi lucu, Internasionalnya juga. Tulisan-tulisannya Ccr juga
pendekatannya lucu-lucu. Ya wajarlah ya masih happy, minggu pertama
gitu.
Oke, kalau tulisan ini kedengerannya agak kacau runtutan logikanya, ya maklum.
Dua, tiga minggu lalu aku sempat mengeluh, duh haruskah aku
menghabiskan akhir pekan dengan orangtuaku, dengan nonton bareng sama
mereka, dst. Tapi sekarang aku jadi pengen banget nonton. Atau jalan ke
mal. Bersama mereka.
Ah, tiba-tiba kepala jadi kosong. Nggak ada witty remarks atau jokes
yang muncul sama sekali. Emosi dan cara pikir jadi sederhana. Nggak ada
kontemplatif-kontemplatifnya blas. Padahal biar ide muncul kan butuh
kontemplasi...
Aku sudahi dulu deh.
Posted at 03:18 am by i_artharini
Permalink
Friday, February 22, 2008
Saat aku mengira sudah dimuntahkan bulat-bulat oleh institusi tempatku
bekerja tanpa menyadari bahwa aku sedang dikunyah, eh ternyata, just when I thought I was out... they pull me back in.
Dan ini untuk suatu proyek yang sangat, sangat menarik.
Aku kaget sama apa yang masih bisa dihasilkan oleh tempat ini. Walaupun
mungkin alasan di balik proyek ini tidak murni pengembangan produk,
tapi ada unsur-unsur politik yang ikut bermain. But, ah, what the hell,
it still is an interesting new project.
Nggak naif sih. Aku sudah bisa membayangkan seberapa capeknya proyek
ini, tapi aku masih sangat antusias melakukannya. Mungkin bahayanya
kalau antusiasme itu jadi terlalu banyak dan tidak diimbangi dengan
kualitas kerja yang jadi turun dan nggak bisa ngejar naik ke atas lagi.
Dari segi timbangan, antusiasme sih yang masih lebih berat. Walaupun,
sekali lagi, semuanya masih dalam proses simulasi, belum benar-benar
terjadi.
Mungkin aku seharusnya sekarang mencari-cari tentang reklamasi pantai
utara Jakarta. Tapi membaca-baca, nggak ada yang bisa masuk. Mau pulang
dan tidur juga tanggung, di rumah nggak ada orang, dan ini masih tengah
hari.
Wow, I've been having such a weird morning.
Nginep di kantor, tidur di sofa ruang pemred, bangun jam 8, dan melihat
sekitar udah kosong. Padahal pas jam 6 pagi tadi kayaknya masih pada
ngobrol-ngobrol. "Aku ditinggal pulang ya? Haaegghh, udah jam 8." Terus
lari-lari ke ruang redaksi sambil masih setengah sadar dan bilang,
"Udah jam 8!"
Kepala-kepala orang yang aku kira sudah meninggalkanku pulang lalu
bermunculan dari bawah meja kerja para redaktur. Dalam keadaan kurang
tidur pun aku masih tahu betapa komiknya momen itu. Ccr juga tiba-tiba
kelihatan dan nanya, "Emang kenapa sih jam 8?" Matanya masih setengah
terbuka. Akhirnya kita pada nyari lahan bawah meja redaktur yang bisa
dibuat tidur. Pilihanku, bawah mejanya Sic yang berfungsi sebagai
gudang toko buku onlinenya itu. Ah, my idea of sexual fantasy, tidur
dikelilingi buku-buku.
Bas yang membangunkan dan bilang, "Nari, bangun, Nar. Diajak Bang **** sarapan tuh di ruangannya."
Ccr, ketika dibangunin, "Apaan sih? Mau tidur aja. Emang Bang **** di mana?"
Bas: "Udah sampe tuh. Di ruangannya."
Beringsut-ingsut ternyata bukan sekedar sebuah kata. Ada gerakan yang
memberi makna pada kata beringsut itu. Gerakan yang aku lakukan saat
menuju ruang pemred. Ada boks penuh isi roti-roti coklat, keju, pisang
dan berbagai kombinasinya di atas meja oval panjang. Tiga televisi di
ruangan itu menyala semua. Volume paling kerasnya dipasang pada monitor
tengah, debat politik Hilary-Obama.
Pagi yang aneh karena...bisa membayangkan nggak, at your worst possible
hour of the day, pas bangun tidur, belum bener-bener melek, and you
look absolutely crap because of not sleeping the whole night, dan baru
tidur dua jam dari jam 6 pagi sampai jam 8, belum sikat gigi pula,
orang pertama yang kamu temui adalah The Man, The Boss. Rapi,
jelas-jelas sudah mandi, tampak segar dibanding kita yang minyakan,
masih memakai baju (luar dan dalam) kemarin, dan otak belum bekerja
penuh sehingga tidak ada perkataan yang masuk akal.
Dan menghadapi debat politik di televisi, yang dia mengeluarkan
komentar-komentar, dan aku nggak bilang apa-apa hanya karena belum
benar-benar bangun. Manusiawi memang. Tapi aku kan nggak pengen
atasanku melihat itu. Ini kan bukan Tempo yang diceritain Janet Steele
itu.
Ah anyway, harusnya sekarang pulang. Tapi malah pengen nge-blog dulu.
Whew, a weird morning.
Sebenarnya aku penasaran dengan hari Senin nanti. Tentang reaksi,
tanggapan, apa sebenarnya dibaca atau enggak (secara profesional, aku
belum tahu siapa yang membaca tulisanku. Penting nggak sih itu?
Seharusnya, jika ada sesuatu yang aku pelajari dari 'Franny and Zooey'
adalah 'melakukannya demi Fat Lady' kan ya? Dan nggak ada orang di luar
sana yang bukan Fat Lady bagi Seymour [and you know who the Fat Lady
is, &etcetera....] Iya kan? Maaf, maaf, masih dalam trance setelah
pilgrimage tahunan membaca buku itu), dan beban 'byline' di satu
halaman. Tapi ini proyek yang...truly exciting. Dan aku pengen bisa
membanggakan apa yang aku kerjakan ini.
Between you and me, Nari, kita tahu kan, masalah terbesarmu ada pada
eksekusi dan konsistensi? Tolong ingat itu sebelum kamu menyebut kata
'bangga'.
Posted at 02:44 pm by i_artharini
Permalink
Monday, February 11, 2008
Senin: Hari untuk Procrastinating
Harusnya sih lagi mencari bahan-bahan buat karpet merahnya Grammy,
lihat-lihat foto di wire, mulai mendesain tulisan, dst, tapi otakku
selalu saja masih setengah terisi hari Senin.
Dari mencari-cari berita Grammy, aku jadi penasaran, berapa penghargaan
yang dimenangkan oleh Amy Winehouse ya? Jawabannya, ternyata lima.
Nominasi yang diterimanya, enam. Dan aku jadi merasa terharu gitu.
Oke, aku ngetawa-ngetawain dia habis pas tampil di European Music
Award, yang dia nyanyi benar-benar nggak ketahuan lagi ngucapin
apa...Dan aku sudah merasa muak melihat apa yang dia lakukan lewat
pemberitaan A Socialite Life, tapi ini seharusnya bisa jadi bukti
betapa dia bisa jauh lebih baik dari caranya memperlakukan dirinya
sendiri.
Tapi, tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, pas lagi bedakan,
tiba-tiba mendengar lagu yang rasanya familiar. Apakah lagu itu sedang
bermain di dalam kepalaku atau muncul dari televisi? Kerasanya kok
kayak dari TV ya?
Pas ngelihat, ah, ternyata ada Feist, lagi nyanyi '1234' cuma dengan gitar akustik.
Terus menjelang bagian akhir, this is the coolest part, tiba-tiba ada
sekitar delapan orang dengan alat musik tiup tembaga (brass section)
yang mengiringi penampilannya. Di situ deh aku merinding.
Dan aku suka banget dengan tekstur suaranya Feist, yang walaupun nyanyi
di rekaman atau panggung tapi tetap aja mantap. Rasanya akrab tapi
tetap kuat. Penampilan yang cuma 3 menitan itu menunjukkan secara
gamblang sama aku apa artinya 'understated elegance'. Sederhana, tapi
kuat, dan lebih merasuk daripada penampilan yang aku pikir bakal
membuatku merinding, duet 'Proud Mary'-nya Beyonce dan Tina Turner itu.
Dari kemarin sih emang lagi bolak-balik muter lagunya Feist. Mungkin
karena Jakarta yang lagi sering hujan, dan musik yang kerasa pas
mengiringi saat hujan dan sesudah hujan itu adalah Feist. Lagu-lagunya
yang temponya pelan pas buat waktu hujan, dan yang mid tempo kayak
'1234' pas buat keceriaan (yang tetap sendu) pasca hujan.
There is something that resembles somewhat of perfection in her writing. Sederhana tapi juga padat makna. Case in point:
one, two, three, four, tell me that you love me more. sleepless, long nights. Old teenage hopes are alive at your door Left you with nothing but they want some more oh, oh, oh, you're changing your heart. oh, oh, oh, you know who you are. sweetheart, bitter heart, now i can't tell you apart. cozy and cold, put the horse before the cart.
Those teenage hopes who have tears in their eyes Too scared to own up to one little lie oh, oh, oh, you're changing your heart. oh, oh, oh, you know who you are.
one, two, three, four, five, six, nine, and ten. money can't buy you back the love that you had then. one, two, three, four, five, six, nine, and ten. money can't buy you back the love that you had then. oh, oh, oh, you're changing your heart. oh, oh, oh, you know who you are. oh, oh, oh, you're changing your heart. oh, oh, oh, you know who you are. who you are
For the teenage boys They're breaking your heart For the teenage boys They're breaking your heart
----
Hmm, jadi sendu mengingat "those teenage hopes"...
Posted at 04:47 pm by i_artharini
Permalink
Minggu sore kemarin, aku ikut liputannya Ccr ke GKJ, nonton kabuki dan
ada lektur singkat tentang kesenian itu dan beragam tekniknya. Datang
agak terlambat karena makan siang dulu sama si Bapak Mall, tapi
akhirnya sampai dan pas cari-cari tempat duduk dalam gelap, lha kok
langsung ketemu Ccr.
Anyway, sempat ada beberapa kali istirahat antara tarian pertama,
lektur, terus mau mulai tarian ke dua. Di depanku ada tiga orang duduk,
satu mbak-mbak muda, dan sepasang pria wanita paruh baya yang aku tebak
sebagai orangtua si mbak ini.
Pola interaksi, cara mereka menghabiskan waktu bersama, dan cara
berkomunikasi mereka sih agak mengingatkanku sama diriku sendiri dan
orangtua (sejak jadi anak tunggal yang masih tetap single, aku jadi
stuck menghabiskan weekendku di bioskop sama mereka...*menghela nafas).
Cuma si mbak lebih kelihatan santai dibanding aku. "Ayahnya' agak-agak
berwajah blasteran Jepang, pakai kemeja garis-garis yang formal tapi
santai, bahunya juga tegap, usianya 50an akhir. Ibunya, tampilannya
tidak jauh berbeda dengan nyonya-nyonya petinggi penerbitan
majalah-majalah perempuan, tipikal Jakarta-ish, atau mungkin Miranda
Gultom-ish.
Mereka sering berbicara dan mengapresiasi *dengan suara rendah khas
orang sophisticated yang menghadiri pertunjukan*, ketawa, kasih
komentar-komentar yang tidak aku dengar, sampai pada salah satu break,
si mbak bercerita tentang sesuatu dan 'mengakhirinya' dengan komentar:
"I still don't know if he's actually gay or really jaim. I hope he's gay cause then there's a lot of women...."
Bagian akhirnya sih aku nggak denger lagi, tapi aku nggak bisa
berhenti-berhenti senyum waktu denger itu, karena, 'Hah, ternyata itu
masalah yang jamak to...'
Aku nggak mencatat adanya kepahitan atau derajat keasaman tertentu dari
nada suara si mbak itu sih, tapi yang aku tangkap adalah sebuah
keheranan.
Dari ekspresinya juga, benar-benar kelihatan kaya orang yang heran dan
nggak habis pikir. Yang agaknya sedang aku alami juga sih. Tapi ya
sudahlah.
Anyway, ramalan Tarot ibu Ani-ku hari Minggu kemarin:
Cinta: Cobalah lebih berseni dalam menjalin hubungan dengan mengurangi
pikiran-pikiran intelektual secara berlebihan. (Touche, touche. Ccr:
*mata membelalak* Hah! Ih ini baru, gue nggak pernah denger yang kayak
gitu) Sebaiknya bukalah hati anda untuk lebih saling mengerti. Karena
cinta adalah masalah batin, bukan penalaran semata.
(Sylvia Plath emang menemukan keseimbangan intelektual, malah mungkin
sosok kuat intelektualitas, lewat Ted Hughes. Tapi perilaku Hughes
pasti punya andil ke bunuh dirinya Plath kan?)
(Walaupun mungkin masalahnya bukan sekedar memilih hitam putih antara
keseimbangan intelektualitas dan batin ya--kenapa omonganku jadi cheesy
banget gini ya?--tapi ya a little bit of both bukan?)
Sudahlah, Nari. Sekarang yang penting kan "menyeberangi entah berapa
sungai, mendaki entah berapa gunung, menuruni entah berapa
lembah...sebagai sebuah perjalanan menuju pencerahan."
"Tanggalkan semua beban, lepaskan semua kepemilikan dan bebaskan diri dari kepalsuan dan keterkucilan."
(Mengenai keterkucilan,
Ccr: Nah kalau itu bener.
Me: Hah, gue kan nggak mengucilkan diri.
Ccr: Apa rencanamu akhir minggu ini?
Me: Nggak ke mana-mana, di rumah.
Ccr: Nah kan.)
Posted at 04:14 pm by i_artharini
Permalink
Friday, February 08, 2008
Coffee Overdrive dan Pernyataan Cinta (halah!)
Pas tadi naik ojek, aku tiba-tiba jadi ingat kemarin, pas naik ojek
juga. Secara kumulatif, mungkin waktu yang aku habiskan dengan
tukang-tukang ojek itu setara dengan 50 kencan kali... Oke, terus.
Di sekitar pintu tol Kebon Jeruk, aku tiba-tiba berpikir tentang,
gimana ya bentuknya pernyataan cintaku itu, kalau aku berani
mengatakannya. Tapi aku lupa, apa ya yang membuatku berpikir sampai ke
situ. Pemutar mp3ku masih menyala memang. Tapi apa yang diputar saat
itu? Terakhir kali, waktu di Kemanggisan, aku ingat
mendengar lagu 'Hands'-nya The Raconteurs. Aku ingat waktu itu sempat
berpikir, 1) ah, The Raconteurs ternyata nggak sedashyat White Stripes.
Nggak ada yang nandingin 'Seven Nation Army' atau 'Hardest Button to
Button' deh, 2) mungkin asyik kali ya kalau ada yang nyanyiin lagu ini
ke aku, sebelum akhirnya pikiran itu sampai di sebuah acara reuni
super kecil dengan seorang bekas teman sekolah beberapa minggu lalu.
Dan tentang nasihat-nasihat yang diberikannya. "Gue nggak
setuju/sebel banget kalo ada cewek yang bilang, 'Ya, aku kan cewek, I'm
not supposed to say anything first, etc'," katanya. "Aku juga nggak setuju. I don't believe in things like that," aku bilang. "Well, why don't you say something then?" "Nggak tahu. Kenapa ya? Karena aku mikirnya masih punya waktu panjang dan masih bisa jadi lebih dekat?"
"Nari, you're like me kan. Kita easily fall for people, gampang naksir
orang, gampang carried away, kita suka ber-what if, what if. Aku kalau
naksir orang juga I text them, I text them, I text them again, sampai
gue ngerasa, aduh pelacur banget sih ngirim sms terus..."
"What, you feel that way too? I thought only girls have the privilege
to feel like that. I mean that's the whole point of feminism, keadilan
gender, bla, bla, bla..." "Enggak kok. Jadi sebelum terbawa
terlalu jauh, mending kamu tanya deh. Are you thinking of me,
considering me? Because I'm considering you." "But how? I'm that love dense."
"Ya gue nggak tau sih kalian sedekat apa, tapi coba ..... (ini bagian
yang case-specific). Tapi, Nari, we grow up watching Ally McBeal, Party
of Five, pasti you can come up with something..." Dalam hati
aku menambahkan, "Dan Grey's Anatomy, Before Sunrise/Sunset, Gilmore
Girls, Sex and the City, dan novel-novel Jane Austen, pokoknya
semua-mua yang berhubungan dengan urusan hati. Seharusnya aku bisa
muncul dengan sesuatu kan?" Jadi, kalau aku punya cukup
keberanian, dan rasa suka itu belum jadi basi ya, aku jadi
mencorat-coret, kira-kira gimana ya 'pidato' 'Are you considering me,
because I'm considering you' itu... Pertama, mungkin. Aku
suka lho sama kamu. Beneran, aku naksiiir banget ama kamu. Tapi itu
dulu. Eh, sekarang masih nggak ya? Kok jadi ragu sih? Kayaknya sih
masih. Tapi kamu juga nggak bisa becanda ya. Cakep sih, cuman nggak
bisa becanda, nggak ngerti waktu sebuah joke sedang diumpankan, padahal
banyak orang lain yang ngerti kalau itu cuma sebuah joke. Plus
opini-opini kamu juga klise... Eh, kayaknya aku berjalan ke arah yang salah deh. Oke, stop, stop, stop. *Tarik nafas, tahan, buang*
Ini sih nggak ada manis-manisnya. Nggak kok, aku nggak lagi
mengeluarkan bisa, cuma sekedar merasionalisasi aja. Benarkah aku
naksir? Masih naksir? Pernah naksir? Ah, aku jadi heran kenapa kemarin bisa sesendu itu.
Mungkin karena ketemu sama orang yang mirip sama si taksiran, cuma
rambutnya panjang tanggung shaggy gitu, dan kelihatan lebih muda,
dengan ekspresi yang lebih droopy dan lebih tidak self-conscious. Terus
jadi berasa kangen. Padahal kalau mau dirasionalisasi lagi,
kangen akan apa? Lha wong selama ini juga nggak ada yang sifatnya
pribadi yang membuat kamu terkesan kan? Yang membuat kamu merasa ada
seribu kunang-kunang, eh, kupu-kupu di perut. It was one impersonal
matter piled up against another impersonal matter. Tiny impersonal
matter pula.
Hmm, ini aneh. Pada pertanyaan, 'jadi kamu kecewa?' yang diajukan oleh
dua sosok ibu, yang biologis dan Ccr, pun aku nggak bisa memberikan
sebuah jawaban pasti. Mungkin iya, mungkin enggak.
Kalau pun kecewa, untuk menghibur diri, aku selalu punya 'kartu
orientasi' yang bisa dimainkan. "Tuh kan, selama ini aku agak ragu,
jangan-jangan dia nggak tertarik sama cewek. I mean, all the signs are
there gitu lho..."
Posted at 07:50 pm by i_artharini
Permalink
Jadi terharu waktu Mbak Wey, si ibu hamil, tadi bilang: "Hore, duit tanggal 5 udah keluar. Aku jadi bisa ke dokter."
Maksudnya, hah, ke dokter buat si ibu hamil delapan bulan itu ternyata
tergantung duit tanggal 5? Ya nggak tau apakah dia melebih-lebihkan
atau memang kondisinya seperti itu, tapi tadi pagi aku juga pinjam duit
ke ayahku, nggak banyak sih, just enough to get me to the nearest ATM.
Komentarnya, "Oh, pantesan Papa belum ditransfer.."
Sebenernya kemarin sudah mau menyelesaikan urusan-urusan finansial itu,
tapi ternyata ATM Mandiri di kantor rusak, padahal duit di kantong
tinggal 6 ribu (!), dan ATM BCA yang oke-oke aja itu sudah nggak ada
isinya. Duh, mengenaskan.
Tapi, aku jadi bertanya-tanya.
Mungkin ya, mungkin, berada di pekerjaan ini berarti harus membiasakan
diri untuk hidup dengan kultur miskin. Yang hidup dari penghasilan ke
penghasilan. Yang kalau ada duit tanggal 5 atau duit pulsa baru bisa ke
dokter dan beli pulsa. Yang nggak menyimpan sisa.
Makanya kan begitu sulit buat orang miskin beralih ke gas karena
harganya yang tinggi dan mereka nggak terbiasa nabung, sementara dengan
minyak tanah, dengan duit seadanya yang ada di tangan, mereka bisa
mendapat sesuatu untuk mengepulkan asap di dapur.
Terus, Eva yang biasanya jarang ke kantor tadi terlihat, dandan ayu dan wuangi.
Aku: "Ini yang Carolina Herrera 212 Sexy itu?"
Eva: "Bukan. Ini Clinique Happy Heart."
Ccr: "Ih, sama kayak Safir. Dia juga punya."
Aku: "Mungkin aku harus menyisihkan sebagian gaji buat beli parfum ya biar wangi."
Eva: "Oh nggak usah, Nari. Simpan saja duitmu, tapi cari pria yang mau membelanjakan uangnya untuk membelikanmu parfum."
Aku: "...."
Posted at 05:52 pm by i_artharini
Permalink
Beberapa hari lalu di tivi nonton Mystic River. Pertama kali melihatnya
aku jadi merasa tahu artinya sebuah film drama yang baik. Tapi,
kemarin-kemarin, yang muncul cuma: Duh, Sean Penn udah setua itu ya
untuk memainkan karakter ayah yang anaknya udah segede itu? (Emmy
Rossum ternyata main di sana juga...)
Anyway.
Aku agak lupa yang jadi istrinya Penn siapa, sampai Laura Linney
muncul. Oh ya, Laura Linney yang main. Tapi siapa itu aktris pirang
juga yang namanya Laura yang pernah tunangan sama Billy Bob Thornton
dan baru tahu pertunangannya putus setelah tahu Billy Bob udah nikah
sama Angelina Jolie? Laura...Dern, ya? Kayaknya iya deh.
Gee, I wonder whatever happen to her. Dia main di mana lagi ya?
Terakhir sih nonton di DVD 'We Don't Live Here Anymore'. Tapi, habis
itu? (Yang setelah aku cek IMDB, ternyata dia main di "Year of the
Dog". Kok aku nggak inget ya? I quite like the movie, btw)
Nah, terus. Pikiran-pikiran iseng itu akhirnya berhenti aja.
Sampai kemarin, tiba-tiba, aku memutuskan untuk mendengar lagu-lagunya
Ben Harper di pemutar mp3, tidak memencet tombol skip maksudnya. Merasa
jadi sendu mendengar "Younger than Today", mencari-cari liriknya, dan
mengakui dia seorang penulis lirik yang handal.
Walaupun Wikipedia sudah dilarang penggunaannya oleh kantor berita AFP
sebagai sumber, tapi itu alamat pertama yang aku tuju ketika mencari
tahu tentang Ben Harper. Siapa sih dia, apa yang jadi sumber
inspirasinya, siapa yang memengaruhi dia menulis, dst. Dan di halaman
entry tentang Ben Harper itu, menemukan data "spouse: Laura Dern".
Hmm, mungkin itu memang caranya dunia sosio-romantis bekerja. Harus
bertunangan dulu dengan seorang badass, bajingan kaya Billy Bob
Thornton sebelum bertemu dengan musisi pemain gitar yang ngguanteng dan
seksi dan penulis hebat yang bakal memberi elu dua anak.
Posted at 05:28 pm by i_artharini
Permalink
Beberapa hari belakangan, setiap kali membuka blog ini, rasanya seperti
bukan milik sendiri (and, oh yeah, I'm guilty of daily checking, twice
daily checking *ah-hem* sambil bertanya-tanya, kapan 'keajaiban' ini
bakal memudar...). Dan aku agak canggung sebenarnya mau melakukan ini,
tapi sepertinya tata perilaku dan etika blogging mewajarkannya. Jadi: Oh hai, hai, hello, haiii, hey, iya salam kenal juga, halo, halo, halo, hei, hai, hay hay, nice to have you here, welcome, thank you, thank you,
terima kasih, makasih, tengkyuuuu, so sweet, that's great if you enjoy
it, *wave wave*, *salaman-salaman* nice to meet you too, hope you have
a pleasant time, linkback? sure, let me know if you still want me to
linkback yours, dan I do appreciate both her and your opinion :)
'Kejadian' atau 'keajaiban' (you say potato, I say potahto-lah) cukup
banyak menjelaskan ke pikiranku yang naif dan ignorant kenapa Oprah
bisa menjadi sebuah kekaisaran. Jadi ini to efeknya celebrity
endorsement pada sebuah produk. Oh, baru ngerti aku, that it actually
works! Walaupun yang aku sayangkan, ketika 'kejadian' itu terjadi,
belum ada sesuatu yang nyata yang bisa aku 'jual', hehe. (Yeah, banner
ke Sabuku, mungkin?) Dan, well, yeah, there goes my post tentang Nicholas Saputra deh...
Dan, oh, courtesy of Mas Firman, sebuah kutipan yang bagus: “You blog because you love it, not because you want it as your career,
or because Google Adsense might make you rich. It’s like being a rock
star, but less cool, and no one knows you.” — Cameron Hunt
Posted at 03:57 pm by i_artharini
Permalink
Friday, February 01, 2008
Sebelumnya, benar kata Ccr: "Eh, nggak ada Pak Harto, piket tuh jadi kerasa lama banget lhooo..."
Yeah, so true.
Oke, catatan pertama. Dan ternyata aku benar-benar sudah jadi silliest
husband-hunting butterfly deh. Ini ada percakapan antara aku dan ibu.
Ma: Iya lho, mbak. Bulik ***** ama Oom ******** kan ketemunya di perpustakaan. Jadi waspada, mbak, waspada.
Me: (Dalam hati: Thank Goooooddd. Aku pikir skenario impian itu cuma
dalam kepalaku aja, hehe) Ya aku juga gitu sih. Mbayanginnya ngambil
buku yang sama di toko buku. Atau di toko CD ngambil CD yang sama.
(Atau mungkin dalam kasusku, ngambil DVD bajakan yang sama ya...)
Ma: Hrrmmpphh...
Me: Jangan ketawa dong. Aku kan sebenarnya juga udah sering liat-liat
kalo ada peluncuran buku. Tapi kok orang-orang pada tenggelam ama
dunianya sendiri ya?
Ma: Ya kamu ngapain juga jelalatan?
Me: .......
--------
Catatan kedua. Masih dengan lawan bicara yang sama.
Me: Ih aku dapet vouchernya Skin Food 100 ribu. Tapi cuma bisa dipakai
sampai 50 persennya total pembelian. Jadi harus belanja 200 ribu dulu
gitu, baru setengahnya pake voucher.
Ma: Mau dong, mau dong. Emang ada di mana?
Me: Di eX, ada. Di Senayan....
Ma: Oh, bagus, bagus. Kalau gitu kita ke Sushi Tei dulu, baru belanja.
Me: Oh no.
Aku sebenarnya nggak ada masalah dengan Sushi Tei. Ada masa-masanya aku
menyukai, bahkan nagih ke sana, tapi sejak si Madame Sushi itu dengan
niat belanja sushi di mana-mana (termasuk Carrefour. Dan aku langsung
trauma masuk Carrefour semenjak itu), kayaknya aku merasa krisis
perikanan dunia itu terjadi karena memenuhi pasokan sushi di rumahku
deh.
Ada masanya tiap pulang kantor di meja makan tergeletak sushi-sushi tak
berdaya. Dari yang Carrefour membuat trauma itu sampai yang
dibela-belain belanja di supermarket Jepang di Dharmawangsa (From where
she got the address and/or knowledge of that place existing is beyond
my comprehension). Uba rampe-nya sushi (itu sukses nggak
meng-Kayam-nya? Heheh) pun sekarang lengkap di rumah. Dari bubuk wasabi
sampai lembaran pink tipis jahe itu. Oh, kecapnya juga.
---------
Catatan ketiga. Ini tentang my other parent. Dad.
Pagi-pagi pas mau berangkat ngantor.
Pa: Areeng, Areeeng. Dhuweet, Dhuweet, Dhuweeett.
Areng: *ipit-ipit ekor, bergerak ke garasi depan, melepas kepergian Pa*
Dhuwet: *tetap diam di bawah meja makan*
Pa: (ke Ma dengan ekspresi kecewa yang serius) Dhuwet tuh nggak menyenangkan ya?
Ma: (ke aku, privately) So what gitu loohhh...
Mungkin durhaka ya, tapi kenapa makin hari tinggal ama mereka (kedua orangtua maksudnya), aku jadi makin sering kegelian?
Posted at 12:21 am by i_artharini
Permalink
Wednesday, January 30, 2008
Tentang Perangkap dan Pola
"Itu bagus. Nulisnya penuh cinta ya?"
"Haha. Masa sih?"
Di antara tulisan-tulisan lain yang memang sengaja diposisikan untuk
membuat terkesan, yang ini cuma diinginkan jadi sesuatu yang jujur.
Mungkin karena, aku menebak, obyeknya bisa dibuat terkesan dengan
kejujuran.
Halah, ini sih ya taktik baru lagi namanya. Walaupun masih ragu, kayaknya pas nulis nggak penuh cinta deh...
(Tapi, sebenarnya, bisa nggak seorang cowok dibuat terkesan dengan tulisan?)
Oke, yang ini benar-benar nggak ada cute-cutenya, cuma menarik. Dan
dengan 'menarik' buatku artinya sama dengan pertama, pintar,
kedua...mungkin--mungkin lho, mungkin--jutek.
(Ini ada hubungannya dengan pola. Pas mendengarkan mp3 kemarin,
tersadar isinya ada The Strokes, Kings of Leon, The
Raconteurs...ternyata aku punya preferensi ke band-band cool yang
anggotanya cowok-cowok cuek yang benar-benar too cool for school, and
even if we're on the same school, wouldn't give me their time of day.
Yang jutek dan cuek. Damn it, Lizzie Bennett--agak berima kan?--Nari,
elu mengejar Mr Darcy ternyata.
Bukan Mr Darcy yang sudah reformis dan sombongnya agak berkurang, tapi
Mr Darcy di pesta dansa pertama di Longbourn yang menolak dansa dan
meremehkan Lizzie. Damn it, baru sadar aku.)
Pas mau ketemuan, pakai maskara Volume Express Maybelline punya ibu
yang tidak membuat bulu mata terlihat menebal, tapi malah jadi
jarang-jarang dan menjulang banget tingginya.
Aku nggak yakin sih apakah perangkapnya bekerja. Sampai akhir ketemuan, mungkin sih cuma karena penasaran, tapi dia nanya:
"Mbak aslinya orang mana?"
"Orang mana hayo?" (mengingat mukaku yang sering dianggap ambigu secara etnis)
"Orang Jawa ya?" (sinismenya yang hampir tak kentara tak lepas dari
tangkapan telingaku. Dan melihat dari ekspresi nyinyirnya juga sih...)
"Kok sinis sih. Taunya dari mana?"
"Soalnya kalo orang Jawa biasanya matanya kayak gitu."
Oh, yeah. Dia masuk perangkap. " The prettiest, silliest, most affected, husband-hunting butterfly" sudah lahir.
Terus di depan wastafel kan ada cermin. Pas ngelihat, halah, matanya
kok jadi coklat banget sih, kayanya biasanya nggak secoklat itu deh.
Tapi ya biasanya bulu matanya kan nggak pernah diangkat sevulgar itu.
(Bener lho, pake Volume Express, aku merasa itu bulu mata jadi
perangkat pornografi gitu, karena matanya kesannya telanjang)
Tapi nggak ada lanjutannya gitu ya sekarang.
Yeah, that never stop you before right?
Iya sih.
Hehehe.
Posted at 03:10 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|