PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< February 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, February 29, 2008
Igau

Saat tulisan ini mulai diketik, jam Fossil yang masih dicicil itu menunjukkan 03.21 pagi. Dan aku masih di kantor. Yeah, the 'perks' of having an author byline, hehe.

Agak lega karena tulisannya selesai lebih cepat dari kemarin dan mataku masih 65 persen melek buat nanti checking. Dibanding kemarin yang cuma 15 persen sampai udah kaya orang mabuk dan lupa ngecek grafis dan nambah kode (ouufff). Seharusnya sekarang lagi browsing-browsing buat besok tapi sepertinya nggak ada yang bisa masuk. Yang aku pikirkan sekarang cuma...weekend.

Ugh. Sudah agak lama aku nggak merindukan akhir pekan. Dan merindukan orangtuaku.

Gara-gara Media Insomnia ini bisa sampai dua hari berturut-turut cuma menjadikan rumah sebagai tempat mandi terus keluar rumah lagi satu jam kemudian. Kamarku mungkin sudah hampir enam hari nggak dimasuki. Sampai rumah cuma bisa sampai ruang tamu, tidur di sofa bentar, terus kamar mandi. Interaksi dengan penghuni rumah praktis cuma sama mahluk-mahluk. Sampai rumah, sudah pada berangkat semua.

Tadi pagi pas ngelihat Ma lagi di rumah dan bilang, "Ya ampun, mbak. Kita udah berapa hari nggak ketemu?" Dan aku juga merasakan rasa bahagia dan lega yang sama kita akhirnya bisa ketemu. Well, yeah, it is a boost to my ego waktu aku mau berangkat beliau bilang, "Yaaa, kamu udah mau berangkat lagi ya? Huu, huu, huu..."

Aku merasa sedih juga sih, tapi ya senang juga dikangenin, hehe.

Jadi sedih banget pas dibilangin, "Jangan tanyain Pa ke mana ya. Lagi ke Bandung, raker, pulangnya baru Minggu."
"Minggu? Oh my God. Aku kan ngantor lagi. Besoknya nggak bakal ketemu lagi dong." (Dan aku langsung membayangkan pertemuan itu baru terjadi Jumat pagi depan. Haegghhh.)

Ini mungkin kedengerannya aku jadi nggak happy. Padahal ya masih happy dengan melihat hasilnya tiap siang. Bukan pada punyaku sih, tapi dengan total paketnya. Jadi suka membaca tulisan Ekonomi-nya Eva, Olahraga juga jadi lucu, Internasionalnya juga. Tulisan-tulisannya Ccr juga pendekatannya lucu-lucu. Ya wajarlah ya masih happy, minggu pertama gitu.

Oke, kalau tulisan ini kedengerannya agak kacau runtutan logikanya, ya maklum.

Dua, tiga minggu lalu aku sempat mengeluh, duh haruskah aku menghabiskan akhir pekan dengan orangtuaku, dengan nonton bareng sama mereka, dst. Tapi sekarang aku jadi pengen banget nonton. Atau jalan ke mal. Bersama mereka.

Ah, tiba-tiba kepala jadi kosong. Nggak ada witty remarks atau jokes yang muncul sama sekali. Emosi dan cara pikir jadi sederhana. Nggak ada kontemplatif-kontemplatifnya blas. Padahal biar ide muncul kan butuh kontemplasi...

Aku sudahi dulu deh.

Posted at 03:18 am by i_artharini
Comments (3)  

Friday, February 22, 2008
Magnet

Saat aku mengira sudah dimuntahkan bulat-bulat oleh institusi tempatku bekerja tanpa menyadari bahwa aku sedang dikunyah, eh ternyata, just when I thought I was out... they pull me back in.

Dan ini untuk suatu proyek yang sangat, sangat menarik.

Aku kaget sama apa yang masih bisa dihasilkan oleh tempat ini. Walaupun mungkin alasan di balik proyek ini tidak murni pengembangan produk, tapi ada unsur-unsur politik yang ikut bermain. But, ah, what the hell, it still is an interesting new project.

Nggak naif sih. Aku sudah bisa membayangkan seberapa capeknya proyek ini, tapi aku masih sangat antusias melakukannya. Mungkin bahayanya kalau antusiasme itu jadi terlalu banyak dan tidak diimbangi dengan kualitas kerja yang jadi turun dan nggak bisa ngejar naik ke atas lagi. Dari segi timbangan, antusiasme sih yang masih lebih berat. Walaupun, sekali lagi, semuanya masih dalam proses simulasi, belum benar-benar terjadi.

Mungkin aku seharusnya sekarang mencari-cari tentang reklamasi pantai utara Jakarta. Tapi membaca-baca, nggak ada yang bisa masuk. Mau pulang dan tidur juga tanggung, di rumah nggak ada orang, dan ini masih tengah hari.

Wow, I've been having such a weird morning.

Nginep di kantor, tidur di sofa ruang pemred, bangun jam 8, dan melihat sekitar udah kosong. Padahal pas jam 6 pagi tadi kayaknya masih pada ngobrol-ngobrol. "Aku ditinggal pulang ya? Haaegghh, udah jam 8." Terus lari-lari ke ruang redaksi sambil masih setengah sadar dan bilang, "Udah jam 8!"

Kepala-kepala orang yang aku kira sudah meninggalkanku pulang lalu bermunculan dari bawah meja kerja para redaktur. Dalam keadaan kurang tidur pun aku masih tahu betapa komiknya momen itu. Ccr juga tiba-tiba kelihatan dan nanya, "Emang kenapa sih jam 8?" Matanya masih setengah terbuka. Akhirnya kita pada nyari lahan bawah meja redaktur yang bisa dibuat tidur. Pilihanku, bawah mejanya Sic yang berfungsi sebagai gudang toko buku onlinenya itu. Ah, my idea of sexual fantasy, tidur dikelilingi buku-buku.

Bas yang membangunkan dan bilang, "Nari, bangun, Nar. Diajak Bang **** sarapan tuh di ruangannya."

Ccr, ketika dibangunin, "Apaan sih? Mau tidur aja. Emang Bang **** di mana?"
Bas: "Udah sampe tuh. Di ruangannya."

Beringsut-ingsut ternyata bukan sekedar sebuah kata. Ada gerakan yang memberi makna pada kata beringsut itu. Gerakan yang aku lakukan saat menuju ruang pemred. Ada boks penuh isi roti-roti coklat, keju, pisang dan berbagai kombinasinya di atas meja oval panjang. Tiga televisi di ruangan itu menyala semua. Volume paling kerasnya dipasang pada monitor tengah, debat politik Hilary-Obama.

Pagi yang aneh karena...bisa membayangkan nggak, at your worst possible hour of the day, pas bangun tidur, belum bener-bener melek, and you look absolutely crap because of not sleeping the whole night, dan baru tidur dua jam dari jam 6 pagi sampai jam 8, belum sikat gigi pula, orang pertama yang kamu temui adalah The Man, The Boss. Rapi, jelas-jelas sudah mandi, tampak segar dibanding kita yang minyakan, masih memakai baju (luar dan dalam) kemarin, dan otak belum bekerja penuh sehingga tidak ada perkataan yang masuk akal.

Dan menghadapi debat politik di televisi, yang dia mengeluarkan komentar-komentar, dan aku nggak bilang apa-apa hanya karena belum benar-benar bangun. Manusiawi memang. Tapi aku kan nggak pengen atasanku melihat itu. Ini kan bukan Tempo yang diceritain Janet Steele itu.

Ah anyway, harusnya sekarang pulang. Tapi malah pengen nge-blog dulu.

Whew, a weird morning.

Sebenarnya aku penasaran dengan hari Senin nanti. Tentang reaksi, tanggapan, apa sebenarnya dibaca atau enggak (secara profesional, aku belum tahu siapa yang membaca tulisanku. Penting nggak sih itu? Seharusnya, jika ada sesuatu yang aku pelajari dari 'Franny and Zooey' adalah 'melakukannya demi Fat Lady' kan ya? Dan nggak ada orang di luar sana yang bukan Fat Lady bagi Seymour [and you know who the Fat Lady is, &etcetera....] Iya kan? Maaf, maaf, masih dalam trance setelah pilgrimage tahunan membaca buku itu), dan beban 'byline' di satu halaman. Tapi ini proyek yang...truly exciting. Dan aku pengen bisa membanggakan apa yang aku kerjakan ini.

Between you and me, Nari, kita tahu kan, masalah terbesarmu ada pada eksekusi dan konsistensi? Tolong ingat itu sebelum kamu menyebut kata 'bangga'.

Posted at 02:44 pm by i_artharini
Comments (4)  

Monday, February 11, 2008
Senin: Hari untuk Procrastinating

Harusnya sih lagi mencari bahan-bahan buat karpet merahnya Grammy, lihat-lihat foto di wire, mulai mendesain tulisan, dst, tapi otakku selalu saja masih setengah terisi hari Senin.

Dari mencari-cari berita Grammy, aku jadi penasaran, berapa penghargaan yang dimenangkan oleh Amy Winehouse ya? Jawabannya, ternyata lima. Nominasi yang diterimanya, enam. Dan aku jadi merasa terharu gitu.

Oke, aku ngetawa-ngetawain dia habis pas tampil di European Music Award, yang dia nyanyi benar-benar nggak ketahuan lagi ngucapin apa...Dan aku sudah merasa muak melihat apa yang dia lakukan lewat pemberitaan A Socialite Life, tapi ini seharusnya bisa jadi bukti betapa dia bisa jauh lebih baik dari caranya memperlakukan dirinya sendiri.

Tapi, tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, pas lagi bedakan, tiba-tiba mendengar lagu yang rasanya familiar. Apakah lagu itu sedang bermain di dalam kepalaku atau muncul dari televisi? Kerasanya kok kayak dari TV ya?

Pas ngelihat, ah, ternyata ada Feist, lagi nyanyi '1234' cuma dengan gitar akustik.

Terus menjelang bagian akhir, this is the coolest part, tiba-tiba ada sekitar delapan orang dengan alat musik tiup tembaga (brass section) yang mengiringi penampilannya. Di situ deh aku merinding.

Dan aku suka banget dengan tekstur suaranya Feist, yang walaupun nyanyi di rekaman atau panggung tapi tetap aja mantap. Rasanya akrab tapi tetap kuat. Penampilan yang cuma 3 menitan itu menunjukkan secara gamblang sama aku apa artinya 'understated elegance'. Sederhana, tapi kuat, dan lebih merasuk daripada penampilan yang aku pikir bakal membuatku merinding, duet 'Proud Mary'-nya Beyonce dan Tina Turner itu.

Dari kemarin sih emang lagi bolak-balik muter lagunya Feist. Mungkin karena Jakarta yang lagi sering hujan, dan musik yang kerasa pas mengiringi saat hujan dan sesudah hujan itu adalah Feist. Lagu-lagunya yang temponya pelan pas buat waktu hujan, dan yang mid tempo kayak '1234' pas buat keceriaan (yang tetap sendu) pasca hujan.

There is something that resembles somewhat of perfection in her writing. Sederhana tapi juga padat makna. Case in point:

one, two, three, four,
tell me that you love me more.
sleepless, long nights.
Old teenage hopes are alive at your door
Left you with nothing but they want some more
oh, oh, oh,
you're changing your heart.
oh, oh, oh,
you know who you are.
sweetheart, bitter heart,
now i can't tell you apart.
cozy and cold,
put the horse before the cart.

Those teenage hopes who have tears in their eyes
Too scared to own up to one little lie
oh, oh, oh,
you're changing your heart.
oh, oh, oh,
you know who you are.

one, two, three, four, five, six, nine, and ten.
money can't buy you back the love that you had then.
one, two, three, four, five, six, nine, and ten.
money can't buy you back the love that you had then.
oh, oh, oh,
you're changing your heart.
oh, oh, oh,
you know who you are.
oh, oh, oh,
you're changing your heart.
oh, oh, oh,
you know who you are.
who you are

For the teenage boys
They're breaking your heart
For the teenage boys
They're breaking your heart

----

Hmm, jadi sendu mengingat "those teenage hopes"...

Posted at 04:47 pm by i_artharini
Make a comment  

Di Sela Kabuki

Minggu sore kemarin, aku ikut liputannya Ccr ke GKJ, nonton kabuki dan ada lektur singkat tentang kesenian itu dan beragam tekniknya. Datang agak terlambat karena makan siang dulu sama si Bapak Mall, tapi akhirnya sampai dan pas cari-cari tempat duduk dalam gelap, lha kok langsung ketemu Ccr.

Anyway, sempat ada beberapa kali istirahat antara tarian pertama, lektur, terus mau mulai tarian ke dua. Di depanku ada tiga orang duduk, satu mbak-mbak muda, dan sepasang pria wanita paruh baya yang aku tebak sebagai orangtua si mbak ini.

Pola interaksi, cara mereka menghabiskan waktu bersama, dan cara berkomunikasi mereka sih agak mengingatkanku sama diriku sendiri dan orangtua (sejak jadi anak tunggal yang masih tetap single, aku jadi stuck menghabiskan weekendku di bioskop sama mereka...*menghela nafas). Cuma si mbak lebih kelihatan santai dibanding aku. "Ayahnya' agak-agak berwajah blasteran Jepang, pakai kemeja garis-garis yang formal tapi santai, bahunya juga tegap, usianya 50an akhir. Ibunya, tampilannya tidak jauh berbeda dengan nyonya-nyonya petinggi penerbitan majalah-majalah perempuan, tipikal Jakarta-ish, atau mungkin Miranda Gultom-ish.

Mereka sering berbicara dan mengapresiasi *dengan suara rendah khas orang sophisticated yang menghadiri pertunjukan*, ketawa, kasih komentar-komentar yang tidak aku dengar, sampai pada salah satu break, si mbak bercerita tentang sesuatu dan 'mengakhirinya' dengan komentar:

"I still don't know if he's actually gay or really jaim. I hope he's gay cause then there's a lot of women...."

Bagian akhirnya sih aku nggak denger lagi, tapi aku nggak bisa berhenti-berhenti senyum waktu denger itu, karena, 'Hah, ternyata itu masalah yang jamak to...'

Aku nggak mencatat adanya kepahitan atau derajat keasaman tertentu dari nada suara si mbak itu sih, tapi yang aku tangkap adalah sebuah keheranan.

Dari ekspresinya juga, benar-benar kelihatan kaya orang yang heran dan nggak habis pikir. Yang agaknya sedang aku alami juga sih. Tapi ya sudahlah.

Anyway, ramalan Tarot ibu Ani-ku hari Minggu kemarin:

Cinta: Cobalah lebih berseni dalam menjalin hubungan dengan mengurangi pikiran-pikiran intelektual secara berlebihan. (Touche, touche. Ccr: *mata membelalak* Hah! Ih ini baru, gue nggak pernah denger yang kayak gitu) Sebaiknya bukalah hati anda untuk lebih saling mengerti. Karena cinta adalah masalah batin, bukan penalaran semata.

(Sylvia Plath emang menemukan keseimbangan intelektual, malah mungkin sosok kuat intelektualitas, lewat Ted Hughes. Tapi perilaku Hughes pasti punya andil ke bunuh dirinya Plath kan?)

(Walaupun mungkin masalahnya bukan sekedar memilih hitam putih antara keseimbangan intelektualitas dan batin ya--kenapa omonganku jadi cheesy banget gini ya?--tapi ya a little bit of both bukan?)

Sudahlah, Nari. Sekarang yang penting kan "menyeberangi entah berapa sungai, mendaki entah berapa gunung, menuruni entah berapa lembah...sebagai sebuah perjalanan menuju pencerahan."

"Tanggalkan semua beban, lepaskan semua kepemilikan dan bebaskan diri dari kepalsuan dan keterkucilan."

(Mengenai keterkucilan,
Ccr: Nah kalau itu bener.
Me: Hah, gue kan nggak mengucilkan diri.
Ccr: Apa rencanamu akhir minggu ini?
Me: Nggak ke mana-mana, di rumah.
Ccr: Nah kan.)

Posted at 04:14 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, February 08, 2008
Coffee Overdrive dan Pernyataan Cinta (halah!)

Pas tadi naik ojek, aku tiba-tiba jadi ingat kemarin, pas naik ojek juga. Secara kumulatif, mungkin waktu yang aku habiskan dengan tukang-tukang ojek itu setara dengan 50 kencan kali...

Oke, terus.

Di sekitar pintu tol Kebon Jeruk, aku tiba-tiba berpikir tentang, gimana ya bentuknya pernyataan cintaku itu, kalau aku berani mengatakannya. Tapi aku lupa, apa ya yang membuatku berpikir sampai ke situ. Pemutar mp3ku masih menyala memang. Tapi apa yang diputar saat itu?

Terakhir kali, waktu di Kemanggisan, aku ingat mendengar lagu 'Hands'-nya The Raconteurs. Aku ingat waktu itu sempat berpikir, 1) ah, The Raconteurs ternyata nggak sedashyat White Stripes. Nggak ada yang nandingin 'Seven Nation Army' atau 'Hardest Button to Button' deh, 2) mungkin asyik kali ya kalau ada yang nyanyiin lagu ini ke aku,  sebelum akhirnya pikiran itu sampai di sebuah acara reuni super kecil dengan seorang bekas teman sekolah beberapa minggu lalu. Dan tentang nasihat-nasihat yang diberikannya.

"Gue nggak setuju/sebel banget kalo ada cewek yang bilang, 'Ya, aku kan cewek, I'm not supposed to say anything first, etc'," katanya.

"Aku juga nggak setuju. I don't believe in things like that," aku bilang.

"Well, why don't you say something then?"

"Nggak tahu. Kenapa ya? Karena aku mikirnya masih punya waktu panjang dan masih bisa jadi lebih dekat?"

"Nari, you're like me kan. Kita easily fall for people, gampang naksir orang, gampang carried away, kita suka ber-what if, what if. Aku kalau naksir orang juga I text them, I text them, I text them again, sampai gue ngerasa, aduh pelacur banget sih ngirim sms terus..."

"What, you feel that way too? I thought only girls have the privilege to feel like that. I mean that's the whole point of feminism, keadilan gender, bla, bla, bla..."

"Enggak kok. Jadi sebelum terbawa terlalu jauh, mending kamu tanya deh. Are you thinking of me, considering me? Because I'm considering you."

"But how? I'm that love dense."

"Ya gue nggak tau sih kalian sedekat apa, tapi coba ..... (ini bagian yang case-specific). Tapi, Nari, we grow up watching Ally McBeal, Party of Five, pasti you can come up with something..."

Dalam hati aku menambahkan, "Dan Grey's Anatomy, Before Sunrise/Sunset, Gilmore Girls, Sex and the City, dan novel-novel Jane Austen, pokoknya semua-mua yang berhubungan dengan urusan hati. Seharusnya aku bisa muncul dengan sesuatu kan?"

Jadi, kalau aku punya cukup keberanian, dan rasa suka itu belum jadi basi ya, aku jadi mencorat-coret, kira-kira gimana ya 'pidato' 'Are you considering me, because I'm considering you' itu...

Pertama, mungkin. Aku suka lho sama kamu. Beneran, aku naksiiir banget ama kamu. Tapi itu dulu. Eh, sekarang masih nggak ya? Kok jadi ragu sih? Kayaknya sih masih. Tapi kamu juga nggak bisa becanda ya. Cakep sih, cuman nggak bisa becanda, nggak ngerti waktu sebuah joke sedang diumpankan, padahal banyak orang lain yang ngerti kalau itu cuma sebuah joke. Plus opini-opini kamu juga klise...

Eh, kayaknya aku berjalan ke arah yang salah deh.

Oke, stop, stop, stop.

*Tarik nafas, tahan, buang*

Ini sih nggak ada manis-manisnya. Nggak kok, aku nggak lagi mengeluarkan bisa, cuma sekedar merasionalisasi aja. Benarkah aku naksir? Masih naksir? Pernah naksir?

Ah, aku jadi heran kenapa kemarin bisa sesendu itu.

Mungkin karena ketemu sama orang yang mirip sama si taksiran, cuma rambutnya panjang tanggung shaggy gitu, dan kelihatan lebih muda, dengan ekspresi yang lebih droopy dan lebih tidak self-conscious. Terus jadi berasa kangen.

Padahal kalau mau dirasionalisasi lagi, kangen akan apa? Lha wong selama ini juga nggak ada yang sifatnya pribadi yang membuat kamu terkesan kan? Yang membuat kamu merasa ada seribu kunang-kunang, eh, kupu-kupu di perut. It was one impersonal matter piled up against another impersonal matter. Tiny impersonal matter pula.

Hmm, ini aneh. Pada pertanyaan, 'jadi kamu kecewa?' yang diajukan oleh dua sosok ibu, yang biologis dan Ccr, pun aku nggak bisa memberikan sebuah jawaban pasti. Mungkin iya, mungkin enggak.

Kalau pun kecewa, untuk menghibur diri, aku selalu punya 'kartu orientasi' yang bisa dimainkan. "Tuh kan, selama ini aku agak ragu, jangan-jangan dia nggak tertarik sama cewek. I mean, all the signs are there gitu lho..."

Posted at 07:50 pm by i_artharini
Comments (3)  

Kultur Miskin

Jadi terharu waktu Mbak Wey, si ibu hamil, tadi bilang: "Hore, duit tanggal 5 udah keluar. Aku jadi bisa ke dokter."

Maksudnya, hah, ke dokter buat si ibu hamil delapan bulan itu ternyata tergantung duit tanggal 5? Ya nggak tau apakah dia melebih-lebihkan atau memang kondisinya seperti itu, tapi tadi pagi aku juga pinjam duit ke ayahku, nggak banyak sih, just enough to get me to the nearest ATM. Komentarnya, "Oh, pantesan Papa belum ditransfer.."

Sebenernya kemarin sudah mau menyelesaikan urusan-urusan finansial itu, tapi ternyata ATM Mandiri di kantor rusak, padahal duit di kantong tinggal 6 ribu (!), dan ATM BCA yang oke-oke aja itu sudah nggak ada isinya. Duh, mengenaskan.

Tapi, aku jadi bertanya-tanya.

Mungkin ya, mungkin, berada di pekerjaan ini berarti harus membiasakan diri untuk hidup dengan kultur miskin. Yang hidup dari penghasilan ke penghasilan. Yang kalau ada duit tanggal 5 atau duit pulsa baru bisa ke dokter dan beli pulsa. Yang nggak menyimpan sisa.

Makanya kan begitu sulit buat orang miskin beralih ke gas karena harganya yang tinggi dan mereka nggak terbiasa nabung, sementara dengan minyak tanah, dengan duit seadanya yang ada di tangan, mereka bisa mendapat sesuatu untuk mengepulkan asap di dapur.

Terus, Eva yang biasanya jarang ke kantor tadi terlihat, dandan ayu dan wuangi.

Aku: "Ini yang Carolina Herrera 212 Sexy itu?"
Eva: "Bukan. Ini Clinique Happy Heart."
Ccr: "Ih, sama kayak Safir. Dia juga punya."
Aku: "Mungkin aku harus menyisihkan sebagian gaji buat beli parfum ya biar wangi."
Eva: "Oh nggak usah, Nari. Simpan saja duitmu, tapi cari pria yang mau membelanjakan uangnya untuk membelikanmu parfum."
Aku: "...."

Posted at 05:52 pm by i_artharini
Comments (2)  

Pikiran Iseng

Beberapa hari lalu di tivi nonton Mystic River. Pertama kali melihatnya aku jadi merasa tahu artinya sebuah film drama yang baik. Tapi, kemarin-kemarin, yang muncul cuma: Duh, Sean Penn udah setua itu ya untuk memainkan karakter ayah yang anaknya udah segede itu? (Emmy Rossum ternyata main di sana juga...)

Anyway.

Aku agak lupa yang jadi istrinya Penn siapa, sampai Laura Linney muncul. Oh ya, Laura Linney yang main. Tapi siapa itu aktris pirang juga yang namanya Laura yang pernah tunangan sama Billy Bob Thornton dan baru tahu pertunangannya putus setelah tahu Billy Bob udah nikah sama Angelina Jolie? Laura...Dern, ya? Kayaknya iya deh.

Gee, I wonder whatever happen to her. Dia main di mana lagi ya? Terakhir sih nonton di DVD 'We Don't Live Here Anymore'. Tapi, habis itu? (Yang setelah aku cek IMDB, ternyata dia main di "Year of the Dog". Kok aku nggak inget ya? I quite like the movie, btw)

Nah, terus. Pikiran-pikiran iseng itu akhirnya berhenti aja.

Sampai kemarin, tiba-tiba, aku memutuskan untuk mendengar lagu-lagunya Ben Harper di pemutar mp3, tidak memencet tombol skip maksudnya. Merasa jadi sendu mendengar "Younger than Today", mencari-cari liriknya, dan mengakui dia seorang penulis lirik yang handal.

Walaupun Wikipedia sudah dilarang penggunaannya oleh kantor berita AFP sebagai sumber, tapi itu alamat pertama yang aku tuju ketika mencari tahu tentang Ben Harper. Siapa sih dia, apa yang jadi sumber inspirasinya, siapa yang memengaruhi dia menulis, dst. Dan di halaman entry tentang Ben Harper itu, menemukan data "spouse: Laura Dern".

Hmm, mungkin itu memang caranya dunia sosio-romantis bekerja. Harus bertunangan dulu dengan seorang badass, bajingan kaya Billy Bob Thornton sebelum bertemu dengan musisi pemain gitar yang ngguanteng dan seksi dan penulis hebat yang bakal memberi elu dua anak.

Posted at 05:28 pm by i_artharini
Comment (1)  

Beberes

Beberapa hari belakangan, setiap kali membuka blog ini, rasanya seperti bukan milik sendiri (and, oh yeah, I'm guilty of daily checking, twice daily checking *ah-hem* sambil bertanya-tanya, kapan 'keajaiban' ini bakal memudar...). Dan aku agak canggung sebenarnya mau melakukan ini, tapi sepertinya tata perilaku dan etika blogging mewajarkannya. Jadi:

Oh hai, hai, hello, haiii, hey, iya salam kenal juga, halo, halo, halo, hei, hai, hay hay, nice to have you here, welcome, thank you, thank you, terima kasih, makasih, tengkyuuuu, so sweet, that's great if you enjoy it, *wave wave*, *salaman-salaman* nice to meet you too, hope you have a pleasant time, linkback? sure, let me know if you still want me to linkback yours, dan I do appreciate both her and your opinion :)

'Kejadian' atau 'keajaiban' (you say potato, I say potahto-lah) cukup banyak menjelaskan ke pikiranku yang naif dan ignorant kenapa Oprah bisa menjadi sebuah kekaisaran. Jadi ini to efeknya celebrity endorsement pada sebuah produk. Oh, baru ngerti aku, that it actually works! Walaupun yang aku sayangkan, ketika 'kejadian' itu terjadi, belum ada sesuatu yang nyata yang bisa aku 'jual', hehe. (Yeah, banner ke Sabuku, mungkin?) Dan, well, yeah, there goes my post tentang Nicholas Saputra deh...

Dan, oh, courtesy of Mas Firman, sebuah kutipan yang bagus: “You blog because you love it, not because you want it as your career, or because Google Adsense might make you rich. It’s like being a rock star, but less cool, and no one knows you.” — Cameron Hunt

Posted at 03:57 pm by i_artharini
Comment (1)  

Friday, February 01, 2008
Catatan Acak Piket Malam

Sebelumnya, benar kata Ccr: "Eh, nggak ada Pak Harto, piket tuh jadi kerasa lama banget lhooo..."

Yeah, so true.

Oke, catatan pertama. Dan ternyata aku benar-benar sudah jadi silliest husband-hunting butterfly deh. Ini ada percakapan antara aku dan ibu.

Ma: Iya lho, mbak. Bulik ***** ama Oom ******** kan ketemunya di perpustakaan. Jadi waspada, mbak, waspada.

Me: (Dalam hati: Thank Goooooddd. Aku pikir skenario impian itu cuma dalam kepalaku aja, hehe) Ya aku juga gitu sih. Mbayanginnya ngambil buku yang sama di toko buku. Atau di toko CD ngambil CD yang sama. (Atau mungkin dalam kasusku, ngambil DVD bajakan yang sama ya...)

Ma: Hrrmmpphh...

Me: Jangan ketawa dong. Aku kan sebenarnya juga udah sering liat-liat kalo ada peluncuran buku. Tapi kok orang-orang pada tenggelam ama dunianya sendiri ya?

Ma: Ya kamu ngapain juga jelalatan?

Me: .......


--------
Catatan kedua. Masih dengan lawan bicara yang sama.

Me: Ih aku dapet vouchernya Skin Food 100 ribu. Tapi cuma bisa dipakai sampai 50 persennya total pembelian. Jadi harus belanja 200 ribu dulu gitu, baru setengahnya pake voucher.

Ma: Mau dong, mau dong. Emang ada di mana?

Me: Di eX, ada. Di Senayan....

Ma: Oh, bagus, bagus. Kalau gitu kita ke Sushi Tei dulu, baru belanja.

Me: Oh no.

Aku sebenarnya nggak ada masalah dengan Sushi Tei. Ada masa-masanya aku menyukai, bahkan nagih ke sana, tapi sejak si Madame Sushi itu dengan niat belanja sushi di mana-mana (termasuk Carrefour. Dan aku langsung trauma masuk Carrefour semenjak itu), kayaknya aku merasa krisis perikanan dunia itu terjadi karena memenuhi pasokan sushi di rumahku deh.

Ada masanya tiap pulang kantor di meja makan tergeletak sushi-sushi tak berdaya. Dari yang Carrefour membuat trauma itu sampai yang dibela-belain belanja di supermarket Jepang di Dharmawangsa (From where she got the address and/or knowledge of that place existing is beyond my comprehension). Uba rampe-nya sushi (itu sukses nggak meng-Kayam-nya? Heheh) pun sekarang lengkap di rumah. Dari bubuk wasabi sampai lembaran pink tipis jahe itu. Oh, kecapnya juga.

---------
Catatan ketiga. Ini tentang my other parent. Dad.

Pagi-pagi pas mau berangkat ngantor.

Pa: Areeng, Areeeng. Dhuweet, Dhuweet, Dhuweeett.
Areng: *ipit-ipit ekor, bergerak ke garasi depan, melepas kepergian Pa*
Dhuwet: *tetap diam di bawah meja makan*
Pa: (ke Ma dengan ekspresi kecewa yang serius) Dhuwet tuh nggak menyenangkan ya?
Ma: (ke aku, privately) So what gitu loohhh...

Mungkin durhaka ya, tapi kenapa makin hari tinggal ama mereka (kedua orangtua maksudnya), aku jadi makin sering kegelian?

Posted at 12:21 am by i_artharini
Comments (4)  

Wednesday, January 30, 2008
Tentang Perangkap dan Pola

"Itu bagus. Nulisnya penuh cinta ya?"
"Haha. Masa sih?"

Di antara tulisan-tulisan lain yang memang sengaja diposisikan untuk membuat terkesan, yang ini cuma diinginkan jadi sesuatu yang jujur. Mungkin karena, aku menebak, obyeknya bisa dibuat terkesan dengan kejujuran.

Halah, ini sih ya taktik baru lagi namanya. Walaupun masih ragu, kayaknya pas nulis nggak penuh cinta deh...

(Tapi, sebenarnya, bisa nggak seorang cowok dibuat terkesan dengan tulisan?)

Oke, yang ini benar-benar nggak ada cute-cutenya, cuma menarik. Dan dengan 'menarik' buatku artinya sama dengan pertama, pintar, kedua...mungkin--mungkin lho, mungkin--jutek.

(Ini ada hubungannya dengan pola. Pas mendengarkan mp3 kemarin, tersadar isinya ada The Strokes, Kings of Leon, The Raconteurs...ternyata aku punya preferensi ke band-band cool yang anggotanya cowok-cowok cuek yang benar-benar too cool for school, and even if we're on the same school, wouldn't give me their time of day. Yang jutek dan cuek. Damn it, Lizzie Bennett--agak berima kan?--Nari, elu mengejar Mr Darcy ternyata.

Bukan Mr Darcy yang sudah reformis dan sombongnya agak berkurang, tapi Mr Darcy di pesta dansa pertama di Longbourn yang menolak dansa dan meremehkan Lizzie. Damn it, baru sadar aku.)

Pas mau ketemuan, pakai maskara Volume Express Maybelline punya ibu yang tidak membuat bulu mata terlihat menebal, tapi malah jadi jarang-jarang dan menjulang banget tingginya.

Aku nggak yakin sih apakah perangkapnya bekerja. Sampai akhir ketemuan, mungkin sih cuma karena penasaran, tapi dia nanya:

"Mbak aslinya orang mana?"
"Orang mana hayo?" (mengingat mukaku yang sering dianggap ambigu secara etnis)
"Orang Jawa ya?" (sinismenya yang hampir tak kentara tak lepas dari tangkapan telingaku. Dan melihat dari ekspresi nyinyirnya juga sih...)
"Kok sinis sih. Taunya dari mana?"
"Soalnya kalo orang Jawa biasanya matanya kayak gitu."

Oh, yeah. Dia masuk perangkap. "The prettiest, silliest, most affected, husband-hunting butterfly" sudah lahir.

Terus di depan wastafel kan ada cermin. Pas ngelihat, halah, matanya kok jadi coklat banget sih, kayanya biasanya nggak secoklat itu deh. Tapi ya biasanya bulu matanya kan nggak pernah diangkat sevulgar itu. (Bener lho, pake Volume Express, aku merasa itu bulu mata jadi perangkat pornografi gitu, karena matanya kesannya telanjang)

Tapi nggak ada lanjutannya gitu ya sekarang.
Yeah, that never stop you before right?
Iya sih.
Hehehe.

Posted at 03:10 pm by i_artharini
Comments (3)  

Next Page