PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< February 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, February 08, 2008
Coffee Overdrive dan Pernyataan Cinta (halah!)

Pas tadi naik ojek, aku tiba-tiba jadi ingat kemarin, pas naik ojek juga. Secara kumulatif, mungkin waktu yang aku habiskan dengan tukang-tukang ojek itu setara dengan 50 kencan kali...

Oke, terus.

Di sekitar pintu tol Kebon Jeruk, aku tiba-tiba berpikir tentang, gimana ya bentuknya pernyataan cintaku itu, kalau aku berani mengatakannya. Tapi aku lupa, apa ya yang membuatku berpikir sampai ke situ. Pemutar mp3ku masih menyala memang. Tapi apa yang diputar saat itu?

Terakhir kali, waktu di Kemanggisan, aku ingat mendengar lagu 'Hands'-nya The Raconteurs. Aku ingat waktu itu sempat berpikir, 1) ah, The Raconteurs ternyata nggak sedashyat White Stripes. Nggak ada yang nandingin 'Seven Nation Army' atau 'Hardest Button to Button' deh, 2) mungkin asyik kali ya kalau ada yang nyanyiin lagu ini ke aku,  sebelum akhirnya pikiran itu sampai di sebuah acara reuni super kecil dengan seorang bekas teman sekolah beberapa minggu lalu. Dan tentang nasihat-nasihat yang diberikannya.

"Gue nggak setuju/sebel banget kalo ada cewek yang bilang, 'Ya, aku kan cewek, I'm not supposed to say anything first, etc'," katanya.

"Aku juga nggak setuju. I don't believe in things like that," aku bilang.

"Well, why don't you say something then?"

"Nggak tahu. Kenapa ya? Karena aku mikirnya masih punya waktu panjang dan masih bisa jadi lebih dekat?"

"Nari, you're like me kan. Kita easily fall for people, gampang naksir orang, gampang carried away, kita suka ber-what if, what if. Aku kalau naksir orang juga I text them, I text them, I text them again, sampai gue ngerasa, aduh pelacur banget sih ngirim sms terus..."

"What, you feel that way too? I thought only girls have the privilege to feel like that. I mean that's the whole point of feminism, keadilan gender, bla, bla, bla..."

"Enggak kok. Jadi sebelum terbawa terlalu jauh, mending kamu tanya deh. Are you thinking of me, considering me? Because I'm considering you."

"But how? I'm that love dense."

"Ya gue nggak tau sih kalian sedekat apa, tapi coba ..... (ini bagian yang case-specific). Tapi, Nari, we grow up watching Ally McBeal, Party of Five, pasti you can come up with something..."

Dalam hati aku menambahkan, "Dan Grey's Anatomy, Before Sunrise/Sunset, Gilmore Girls, Sex and the City, dan novel-novel Jane Austen, pokoknya semua-mua yang berhubungan dengan urusan hati. Seharusnya aku bisa muncul dengan sesuatu kan?"

Jadi, kalau aku punya cukup keberanian, dan rasa suka itu belum jadi basi ya, aku jadi mencorat-coret, kira-kira gimana ya 'pidato' 'Are you considering me, because I'm considering you' itu...

Pertama, mungkin. Aku suka lho sama kamu. Beneran, aku naksiiir banget ama kamu. Tapi itu dulu. Eh, sekarang masih nggak ya? Kok jadi ragu sih? Kayaknya sih masih. Tapi kamu juga nggak bisa becanda ya. Cakep sih, cuman nggak bisa becanda, nggak ngerti waktu sebuah joke sedang diumpankan, padahal banyak orang lain yang ngerti kalau itu cuma sebuah joke. Plus opini-opini kamu juga klise...

Eh, kayaknya aku berjalan ke arah yang salah deh.

Oke, stop, stop, stop.

*Tarik nafas, tahan, buang*

Ini sih nggak ada manis-manisnya. Nggak kok, aku nggak lagi mengeluarkan bisa, cuma sekedar merasionalisasi aja. Benarkah aku naksir? Masih naksir? Pernah naksir?

Ah, aku jadi heran kenapa kemarin bisa sesendu itu.

Mungkin karena ketemu sama orang yang mirip sama si taksiran, cuma rambutnya panjang tanggung shaggy gitu, dan kelihatan lebih muda, dengan ekspresi yang lebih droopy dan lebih tidak self-conscious. Terus jadi berasa kangen.

Padahal kalau mau dirasionalisasi lagi, kangen akan apa? Lha wong selama ini juga nggak ada yang sifatnya pribadi yang membuat kamu terkesan kan? Yang membuat kamu merasa ada seribu kunang-kunang, eh, kupu-kupu di perut. It was one impersonal matter piled up against another impersonal matter. Tiny impersonal matter pula.

Hmm, ini aneh. Pada pertanyaan, 'jadi kamu kecewa?' yang diajukan oleh dua sosok ibu, yang biologis dan Ccr, pun aku nggak bisa memberikan sebuah jawaban pasti. Mungkin iya, mungkin enggak.

Kalau pun kecewa, untuk menghibur diri, aku selalu punya 'kartu orientasi' yang bisa dimainkan. "Tuh kan, selama ini aku agak ragu, jangan-jangan dia nggak tertarik sama cewek. I mean, all the signs are there gitu lho..."

Posted at 07:50 pm by i_artharini
Comments (3)  

Kultur Miskin

Jadi terharu waktu Mbak Wey, si ibu hamil, tadi bilang: "Hore, duit tanggal 5 udah keluar. Aku jadi bisa ke dokter."

Maksudnya, hah, ke dokter buat si ibu hamil delapan bulan itu ternyata tergantung duit tanggal 5? Ya nggak tau apakah dia melebih-lebihkan atau memang kondisinya seperti itu, tapi tadi pagi aku juga pinjam duit ke ayahku, nggak banyak sih, just enough to get me to the nearest ATM. Komentarnya, "Oh, pantesan Papa belum ditransfer.."

Sebenernya kemarin sudah mau menyelesaikan urusan-urusan finansial itu, tapi ternyata ATM Mandiri di kantor rusak, padahal duit di kantong tinggal 6 ribu (!), dan ATM BCA yang oke-oke aja itu sudah nggak ada isinya. Duh, mengenaskan.

Tapi, aku jadi bertanya-tanya.

Mungkin ya, mungkin, berada di pekerjaan ini berarti harus membiasakan diri untuk hidup dengan kultur miskin. Yang hidup dari penghasilan ke penghasilan. Yang kalau ada duit tanggal 5 atau duit pulsa baru bisa ke dokter dan beli pulsa. Yang nggak menyimpan sisa.

Makanya kan begitu sulit buat orang miskin beralih ke gas karena harganya yang tinggi dan mereka nggak terbiasa nabung, sementara dengan minyak tanah, dengan duit seadanya yang ada di tangan, mereka bisa mendapat sesuatu untuk mengepulkan asap di dapur.

Terus, Eva yang biasanya jarang ke kantor tadi terlihat, dandan ayu dan wuangi.

Aku: "Ini yang Carolina Herrera 212 Sexy itu?"
Eva: "Bukan. Ini Clinique Happy Heart."
Ccr: "Ih, sama kayak Safir. Dia juga punya."
Aku: "Mungkin aku harus menyisihkan sebagian gaji buat beli parfum ya biar wangi."
Eva: "Oh nggak usah, Nari. Simpan saja duitmu, tapi cari pria yang mau membelanjakan uangnya untuk membelikanmu parfum."
Aku: "...."

Posted at 05:52 pm by i_artharini
Comments (2)  

Pikiran Iseng

Beberapa hari lalu di tivi nonton Mystic River. Pertama kali melihatnya aku jadi merasa tahu artinya sebuah film drama yang baik. Tapi, kemarin-kemarin, yang muncul cuma: Duh, Sean Penn udah setua itu ya untuk memainkan karakter ayah yang anaknya udah segede itu? (Emmy Rossum ternyata main di sana juga...)

Anyway.

Aku agak lupa yang jadi istrinya Penn siapa, sampai Laura Linney muncul. Oh ya, Laura Linney yang main. Tapi siapa itu aktris pirang juga yang namanya Laura yang pernah tunangan sama Billy Bob Thornton dan baru tahu pertunangannya putus setelah tahu Billy Bob udah nikah sama Angelina Jolie? Laura...Dern, ya? Kayaknya iya deh.

Gee, I wonder whatever happen to her. Dia main di mana lagi ya? Terakhir sih nonton di DVD 'We Don't Live Here Anymore'. Tapi, habis itu? (Yang setelah aku cek IMDB, ternyata dia main di "Year of the Dog". Kok aku nggak inget ya? I quite like the movie, btw)

Nah, terus. Pikiran-pikiran iseng itu akhirnya berhenti aja.

Sampai kemarin, tiba-tiba, aku memutuskan untuk mendengar lagu-lagunya Ben Harper di pemutar mp3, tidak memencet tombol skip maksudnya. Merasa jadi sendu mendengar "Younger than Today", mencari-cari liriknya, dan mengakui dia seorang penulis lirik yang handal.

Walaupun Wikipedia sudah dilarang penggunaannya oleh kantor berita AFP sebagai sumber, tapi itu alamat pertama yang aku tuju ketika mencari tahu tentang Ben Harper. Siapa sih dia, apa yang jadi sumber inspirasinya, siapa yang memengaruhi dia menulis, dst. Dan di halaman entry tentang Ben Harper itu, menemukan data "spouse: Laura Dern".

Hmm, mungkin itu memang caranya dunia sosio-romantis bekerja. Harus bertunangan dulu dengan seorang badass, bajingan kaya Billy Bob Thornton sebelum bertemu dengan musisi pemain gitar yang ngguanteng dan seksi dan penulis hebat yang bakal memberi elu dua anak.

Posted at 05:28 pm by i_artharini
Comment (1)  

Beberes

Beberapa hari belakangan, setiap kali membuka blog ini, rasanya seperti bukan milik sendiri (and, oh yeah, I'm guilty of daily checking, twice daily checking *ah-hem* sambil bertanya-tanya, kapan 'keajaiban' ini bakal memudar...). Dan aku agak canggung sebenarnya mau melakukan ini, tapi sepertinya tata perilaku dan etika blogging mewajarkannya. Jadi:

Oh hai, hai, hello, haiii, hey, iya salam kenal juga, halo, halo, halo, hei, hai, hay hay, nice to have you here, welcome, thank you, thank you, terima kasih, makasih, tengkyuuuu, so sweet, that's great if you enjoy it, *wave wave*, *salaman-salaman* nice to meet you too, hope you have a pleasant time, linkback? sure, let me know if you still want me to linkback yours, dan I do appreciate both her and your opinion :)

'Kejadian' atau 'keajaiban' (you say potato, I say potahto-lah) cukup banyak menjelaskan ke pikiranku yang naif dan ignorant kenapa Oprah bisa menjadi sebuah kekaisaran. Jadi ini to efeknya celebrity endorsement pada sebuah produk. Oh, baru ngerti aku, that it actually works! Walaupun yang aku sayangkan, ketika 'kejadian' itu terjadi, belum ada sesuatu yang nyata yang bisa aku 'jual', hehe. (Yeah, banner ke Sabuku, mungkin?) Dan, well, yeah, there goes my post tentang Nicholas Saputra deh...

Dan, oh, courtesy of Mas Firman, sebuah kutipan yang bagus: “You blog because you love it, not because you want it as your career, or because Google Adsense might make you rich. It’s like being a rock star, but less cool, and no one knows you.” — Cameron Hunt

Posted at 03:57 pm by i_artharini
Comment (1)  

Friday, February 01, 2008
Catatan Acak Piket Malam

Sebelumnya, benar kata Ccr: "Eh, nggak ada Pak Harto, piket tuh jadi kerasa lama banget lhooo..."

Yeah, so true.

Oke, catatan pertama. Dan ternyata aku benar-benar sudah jadi silliest husband-hunting butterfly deh. Ini ada percakapan antara aku dan ibu.

Ma: Iya lho, mbak. Bulik ***** ama Oom ******** kan ketemunya di perpustakaan. Jadi waspada, mbak, waspada.

Me: (Dalam hati: Thank Goooooddd. Aku pikir skenario impian itu cuma dalam kepalaku aja, hehe) Ya aku juga gitu sih. Mbayanginnya ngambil buku yang sama di toko buku. Atau di toko CD ngambil CD yang sama. (Atau mungkin dalam kasusku, ngambil DVD bajakan yang sama ya...)

Ma: Hrrmmpphh...

Me: Jangan ketawa dong. Aku kan sebenarnya juga udah sering liat-liat kalo ada peluncuran buku. Tapi kok orang-orang pada tenggelam ama dunianya sendiri ya?

Ma: Ya kamu ngapain juga jelalatan?

Me: .......


--------
Catatan kedua. Masih dengan lawan bicara yang sama.

Me: Ih aku dapet vouchernya Skin Food 100 ribu. Tapi cuma bisa dipakai sampai 50 persennya total pembelian. Jadi harus belanja 200 ribu dulu gitu, baru setengahnya pake voucher.

Ma: Mau dong, mau dong. Emang ada di mana?

Me: Di eX, ada. Di Senayan....

Ma: Oh, bagus, bagus. Kalau gitu kita ke Sushi Tei dulu, baru belanja.

Me: Oh no.

Aku sebenarnya nggak ada masalah dengan Sushi Tei. Ada masa-masanya aku menyukai, bahkan nagih ke sana, tapi sejak si Madame Sushi itu dengan niat belanja sushi di mana-mana (termasuk Carrefour. Dan aku langsung trauma masuk Carrefour semenjak itu), kayaknya aku merasa krisis perikanan dunia itu terjadi karena memenuhi pasokan sushi di rumahku deh.

Ada masanya tiap pulang kantor di meja makan tergeletak sushi-sushi tak berdaya. Dari yang Carrefour membuat trauma itu sampai yang dibela-belain belanja di supermarket Jepang di Dharmawangsa (From where she got the address and/or knowledge of that place existing is beyond my comprehension). Uba rampe-nya sushi (itu sukses nggak meng-Kayam-nya? Heheh) pun sekarang lengkap di rumah. Dari bubuk wasabi sampai lembaran pink tipis jahe itu. Oh, kecapnya juga.

---------
Catatan ketiga. Ini tentang my other parent. Dad.

Pagi-pagi pas mau berangkat ngantor.

Pa: Areeng, Areeeng. Dhuweet, Dhuweet, Dhuweeett.
Areng: *ipit-ipit ekor, bergerak ke garasi depan, melepas kepergian Pa*
Dhuwet: *tetap diam di bawah meja makan*
Pa: (ke Ma dengan ekspresi kecewa yang serius) Dhuwet tuh nggak menyenangkan ya?
Ma: (ke aku, privately) So what gitu loohhh...

Mungkin durhaka ya, tapi kenapa makin hari tinggal ama mereka (kedua orangtua maksudnya), aku jadi makin sering kegelian?

Posted at 12:21 am by i_artharini
Comments (4)  

Wednesday, January 30, 2008
Tentang Perangkap dan Pola

"Itu bagus. Nulisnya penuh cinta ya?"
"Haha. Masa sih?"

Di antara tulisan-tulisan lain yang memang sengaja diposisikan untuk membuat terkesan, yang ini cuma diinginkan jadi sesuatu yang jujur. Mungkin karena, aku menebak, obyeknya bisa dibuat terkesan dengan kejujuran.

Halah, ini sih ya taktik baru lagi namanya. Walaupun masih ragu, kayaknya pas nulis nggak penuh cinta deh...

(Tapi, sebenarnya, bisa nggak seorang cowok dibuat terkesan dengan tulisan?)

Oke, yang ini benar-benar nggak ada cute-cutenya, cuma menarik. Dan dengan 'menarik' buatku artinya sama dengan pertama, pintar, kedua...mungkin--mungkin lho, mungkin--jutek.

(Ini ada hubungannya dengan pola. Pas mendengarkan mp3 kemarin, tersadar isinya ada The Strokes, Kings of Leon, The Raconteurs...ternyata aku punya preferensi ke band-band cool yang anggotanya cowok-cowok cuek yang benar-benar too cool for school, and even if we're on the same school, wouldn't give me their time of day. Yang jutek dan cuek. Damn it, Lizzie Bennett--agak berima kan?--Nari, elu mengejar Mr Darcy ternyata.

Bukan Mr Darcy yang sudah reformis dan sombongnya agak berkurang, tapi Mr Darcy di pesta dansa pertama di Longbourn yang menolak dansa dan meremehkan Lizzie. Damn it, baru sadar aku.)

Pas mau ketemuan, pakai maskara Volume Express Maybelline punya ibu yang tidak membuat bulu mata terlihat menebal, tapi malah jadi jarang-jarang dan menjulang banget tingginya.

Aku nggak yakin sih apakah perangkapnya bekerja. Sampai akhir ketemuan, mungkin sih cuma karena penasaran, tapi dia nanya:

"Mbak aslinya orang mana?"
"Orang mana hayo?" (mengingat mukaku yang sering dianggap ambigu secara etnis)
"Orang Jawa ya?" (sinismenya yang hampir tak kentara tak lepas dari tangkapan telingaku. Dan melihat dari ekspresi nyinyirnya juga sih...)
"Kok sinis sih. Taunya dari mana?"
"Soalnya kalo orang Jawa biasanya matanya kayak gitu."

Oh, yeah. Dia masuk perangkap. "The prettiest, silliest, most affected, husband-hunting butterfly" sudah lahir.

Terus di depan wastafel kan ada cermin. Pas ngelihat, halah, matanya kok jadi coklat banget sih, kayanya biasanya nggak secoklat itu deh. Tapi ya biasanya bulu matanya kan nggak pernah diangkat sevulgar itu. (Bener lho, pake Volume Express, aku merasa itu bulu mata jadi perangkat pornografi gitu, karena matanya kesannya telanjang)

Tapi nggak ada lanjutannya gitu ya sekarang.
Yeah, that never stop you before right?
Iya sih.
Hehehe.

Posted at 03:10 pm by i_artharini
Comments (3)  

Tuesday, January 22, 2008
Hasrat

Izinkan aku mengutip isi sebuah surat:

'I can listen no longer in silence. I must speak to you by such means as are within my reach. You pierce my soul. I am half agony, half hope. Tell me not that I am too late, that such precious feelings are gone for ever. I offer myself to you again with a heart even more your own, than when you almost broke it eight years and a half ago. Dare not say that man forgets sooner than woman, that his love has an earlier death. I have loved none but you. Unjust I may have been, weak and resentful I have been, but never inconstant. You alone have brought me to Bath. For you alone I think and plan. --Have you not seen this? Can you fail to understand my wishes?--I had not waited even these ten days, could I have read your feelings, as I think you must have penetrated mine. I can hardly write. I am every instant hearing something which overpowers me. You sink your voice, but I can distinguish the tones of that voice when they would be lost on others. --Too good, too excellent creature! You do us justice indeed. You do believe that there is true attachment and constancy among men. Believe it to be most fervent, most deviating in

F.W.

Benar, Jane Austen, 'such a letter was not to be soon recovered from'.

(Kutipan surat di atas aku ambil dari 'Persuasion'-nya Jane Austen, btw).

Itu lho yang aku pengen ada di hidupku sekarang. Passion, hasrat, hati. As well as wanting someone with a heart.

Jane Austen katanya selalu memberikan peran 'man of books' untuk karakter-karakter hero-nya. Darcy, Mr Knightley, Henry Tilney seperti itu. Aku juga pengen punya my own man of books, tapi aku juga pengen si man of books ini menggunakan hatinya.

Nggak selalu berarti dia harus mellow-mellow dan/atau puitis, tapi ada sesuatu yang sifatnya personal yang muncul dalam interaksinya. Ada rekam jejak kepribadiannya gitu yang berbekas di aku, atau tandatangan kepribadiannya gitu. Bukan sekedar sesuatu yang impersonal.

Ah, I am now without a crush in sight.

Posted at 06:58 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, January 07, 2008
2008

Nothing says 'mediocre geek' more than wearing a Windows Vista t-shirt while in a gym. Apalagi kalau di punggungnya ada tulisan "The 'Wow' starts now".

Tapi semuanya itu baru disadari setelah kaosnya aku pakai dan mulai jalan di treadmill. Dan aku juga baru sadar kalau ada tulisan "the wow.."-nya itu pas sudah di gym.

Anyway, I'm back on my gym, sebagai bagian dari pemenuhan dua resolusi 2008 sekaligus.

1. Plan your day for tomorrow and stick to it.
2. Lose 23 kgs.

Tahun-tahunku menjadi seorang slacker seharusnya sudah selesai. Pasalnya, tahun ini aku akan jadi 25. Itu usia yang serius. Nggak seserius itu sampai nggak bisa ketawa-ketawa, tapi ibuku menikah di usia 26. Tidak berarti aku ingin mengikuti jejaknya pada usia 26, tapi buatku, ini seharusnya jadi tahun awal bagi hal-hal besar mulai terjadi di hidupku.

Melihat ke belakang, aku nggak yakin ada sesuatu yang bisa dibanggakan gitu. Sesuatu yang aku inginkan banget terus tercapai berkat usaha sendiri. Mungkin juga karena aku belum pernah menginginkan sesuatu that bad, dan belum pernah berusaha that hard. Jadi, ini dua resolusi lagi.

3. (duh jadi deg-degan deh mau nulisnya...) Liburan dua minggu ke Kamboja (Phnom Penh, Siem Reap), Vietnam (Saigon, walopun pengen juga sampe Hanoi), kemungkinan besar masuk lewat Bangkok dan pengennya sampai ke Laos, kalau waktu dan duit memungkinkan.

Pengennya sih Maret, tapi kayaknya terlalu mepet, harganya udah agak mahal dan pasporku bentar lagi udah mau mati, jadi masih harus ngurus dulu. Jadi mungkin Mei.

Buat resolusi yang ini, aku belum menemukan partner jalan. Worse come to worst, ya mungkin harus melihat dan mempertimbangkan kemungkinan jalan sendiri.

Ok, next.

4. Punya manuskrip yang siap ditunjukin ke penerbit.

Aku sudah memimpikannya terlalu lama. Aku sudah menulis tentang terlalu banyak hal, kecuali untuk manuskrip ini. Kalau aku mau karir kepenulisanku (tsaaahhh) bisa take off, mulai lakukan sekarang.

So far, aku punya dua halaman, hehe. Ok, aku akui, it's still nothing, tapi kayaknya aku mulai melihat cahayanya deh.

5. Menepati komitmen-komitmen yang sudah aku buat ke orang-orang yang percaya sama aku. Buat blog Cerpen dan Teenlit, contohnya.

6. Belajar nyetir.

Really, walaupun malu mengakuinya, and as sad as it may sound, tapi ya...I can't drive a car.

7. Ngurus persyaratan administrasi buat ngedaftar beasiswa-beasiswa. Dan ngedaftar beasiswa-beasiswa.

8. Read 50 books a year. Agak basi sih, tapi buatku ini bakal jadi tahun ketiga program ini jalan. Tahun-tahun sebelumnya sih, close call lah, 45-an gitu...

9. I do still want to have 50 dates a year too, dalam rangka mencari temen nonton yang bisa di-upgrade jadi cowok, atau ya sekedar kenalan-kenalan sama orang-orang baru, trying to find out my femme fatale IQ, hehe. Pokoknya yang hopefully bisa membawaku ke resolusi nomor 10...

10. Punya cerita cinta yang berakhir bahagia.

What can I say, I'm a hopeless romantic. Atau mungkin harusnya diganti jadi hopeful romantic?

Wish me luck.

Di samping life-list yang sudah aku catat di posting-posting sebelumnya, kayaknya ini resolusi tahunan pertama yang aku catat deh. Dan aku rasa paling realistis gitu. Yes, even the number 10 one.

Dan aku jadi heran juga di akhir tulisan, membaca ulang resolusi-resolusi itu, kenapa nggak ada yang berhubungan sama kerjaan, alih profesi, atau nambah pemasukan ya? Apakah itu berarti aku bahagia-bahagia aja dengan yang sekarang?

Hmm..

Posted at 10:49 am by i_artharini
Comment (1)  

Saturday, December 22, 2007
Drama Tak Diundang

Rasional: Nari, Nari, Nari. Pulang-pulang dari Bali kok malah membawa drama. Tak diundang pula. Ckckck.

Irasional: Tapi paketnya itu too good to be true. Wartawan handal, fotografer top, punya banyak cerita dan trik di balik lengan bajunya, kritikus tulisan, bisa mencegah orang terlalu dalam dengan neurosisnya sendiri...

Rasional: Kamu lupa yang paling mendasar. Istri dan seorang anak. Memang, too good to be true. Dengan elemen mendasar itu, dia bisa dibilang tidak nyata.

Irasional: Oh, I know that. Dan aku juga cuma mengagumi dari jauh. Tapi kenapa platonisnya jadi makin mendalam? Sampai merasuk ke dunia mimpi segala? Sampai sering kepikiran di tengah-tengah siang bolong? Sampai jadi terbayang-bayang dan kangen? Dan did I mention beberapa jam nge-Google tentang dia?

Rasional: Please, get over yourself. Bisa saja dia hanya mewakili sebuah simbol, akan ritual dan masa liputan yang kamu rindukan dan tidak mungkin terulang. Ingat kan betapa kamu, pada senja terakhir, merasa sangat kehilangan ritual liputan selama dua minggu sebelumnya? Dan bilang, 'I'm gonna miss this'? Dia adalah bagian dari dua minggu itu. Kamu cuma merasa kangen sama dua minggu itu, bukan padanya.

(Jeda)

Rasional: Ini hanya sekedar masalah aklimatisasi. Kamu sedang menyesuaikan diri lagi dengan ritme dan kondisi kerja di Jakarta. Mungkin kamu sedang bingung. Karena kamu menyukai apa yang kamu kerjakan dan menyukai kondisi kerja di Bali selama dua minggu terakhir, tapi tak yakin apakah perasaan itu akan tersisa untuk Jakarta. "Segala sesuatu yang berhubungan dengan Jakarta itu tidak penting," kata si mas platonis dan kata seorang teman yang juga habis liputan panjang di luar negeri. Iya sih, tapi kan kita masih digaji dengan standar Jakarta...

Irasional: Lho, kamu kan harus bersuara rasional, jangan membuat pertanyaan-pertanyaan sendiri dong.

Rasional: Ya, ya, ya. Aku lanjutkan ya, si mas itu, walaupun tak sering ketemu, mewakili dua minggu saat semua pertanyaan-pertanyaanmu tentang mimpi dan cita-cita tak perlu lagi terus-terus ditanyakan, karena sudah otomatis terjawab dengan begitu mudahnya. Iya kan? Sekarang, kamu tak lagi yakin, apakah jawaban yang kamu dapat di Bali, bisa berlaku juga di Jakarta.

Kalau kamu bertanya padaku, jawabnya, seharusnya iya, nona. Kalau kamu tidak takut dengan konsekuensinya, jawaban yang kamu dapat tidak berlaku surut. Atau berlaku sesuai lokasi. Tapi mungkin kamu masih takut.

Dan si mas itu, adalah bentuk nyata dari dua minggu saat kamu tidak merasa takut dengan konsekuensi dan merasa nyaman dengan jawaban yang kamu dapat. Sepengertianku, lebih mudah mengangeni sesuatu yang nyata daripada yang abstrak. Si mas itu bentuknya lebih nyata dari rekaman kenangan selama dua minggu kan?

Irasional: Rasional, apakah aku bisa memercayaimu?

Rasional: Terserah. Aku hanya berusaha membantu. Sepertinya aku terpaksa berhenti dulu di sini.  Kuatkan hati untuk memilih ya.

Posted at 07:43 pm by i_artharini
Comments (2)  

Friday, November 30, 2007
Mabuk

Gosip-gosipnya siihh...salah satu petinggi di sini, waktu bekerja di kantor sebelumnya, pernah muntah gara-gara mabuk pas deadline. Sementara gue, ih, udah pengen muntah lihat kondisi meja sendiri di kantor. Hhheghhhh.

Semangat, semangat.

Posted at 07:48 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page