PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< February 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, February 14, 2006
Ingatan Kebahagiaan, pt.2

Ada kan istilah 'count your blessings'? Tapi aku lupa, konteksnya itu 'you should always count your blessings' atau 'you shouldn't'? Kalau arti terjemahannya mensyukuri nikmat, berari 'you should always' kan ya, konteksnya?

 

Ah anyway, aku lagi pengen count my blessing kemarin. Ada sesuatu yang tidak terduga, terjadi, kemarin. Ceritanya berawal dari Sabtu malam, pas lagi liat Metro, eh kok tiba-tiba ada versi instrumentalnya 'Moon River', dan gambar seorang perempuan kurus dengan gaun hitam panjang tanpa lengan, dan rambut disanggul ke atas berdiri di depan…Tiffany's?

 

"Kyaaaaaaaaa, Breakfast at Tiffany's!!!" teriakku di depan tivi, ngagetin si Rani.

"Duh, biasa aja kenapa sih. Kan kamu juga udah punya DVD-nya.."

"Yeah, but still. Ini bakalan ditayangin di tivi…"

 

Aku nggak bisa merasionalisasi alasan kehisterisan itu, karena aku bisa nonton filmnya kapan aja, karena udah punya DVD-nya. Mungkin kalau gini, aku jadi bisa share ama orang yang nonton di tivi kali ya, tanpa punya DVD-nya. Ah, mbulet.

 

Dari kehisterisan itu, aku tapi langsung ngerasa sedih. Gara-garanya, udah jadi kebiasaanku, kalo ada suatu film yang bagus, aku bakal sms-sms orang-orang deket, ngasih tau ada film keren, ya dengan harapan biar aku bisa diskusi ama mereka kali ya…

 

Dan, hiks, orang yang pertama keinget, adalah si cerita lama. Tapi, ih nggak bisalah aku nge-sms dia, even atas nama 'Breakfast at Tiffany's'. Lagian, sekarang kan udah punya cewek baru gitu. Kamu nggak mau kan, Nar, memberi dia dan cewek barunya kepuasan untuk nge-cap kamu psikopat, stalker, atau malah bunny boiler? (Yes, I know, inner heartmu berteriak-teriak: 'itu semua memang aku'. Tapi please, sekali ini, act cool…)

 

Sambil menyusun rencana biar besok bisa pulang cepet dari kantor, tetep aja ngerasa sedih euy, nggak bisa share film bagus ke orang itu.

 

* * *

 

Besoknya, sampe kantor jam 5-an, dan keukeuh, nanti pengen pulang cepet ah. Dan ternyata ada temen yang pulang ke arah yang sama, jadi mempercepat waktu perjalanan pulang.

 

Akhirnya, jam 20.20lah udah sampai rumah. Kapuk ama si Item udah njegok-njegok kenceeeng banget pas denger motor tukang ojek berenti di depan pager. Pas aku udah mbuka gembok pager, terus mau mbuka pintu teras, eh dari pintu ruang tamu ternyata ada bunyi kunci juga jegrek-jegrek. Ternyata si bapak.

 

"Hayoo, kamu pulang cepet mo nonton Breakfast at Tiffany's kan?"

 

Aku cuma ber-hehehe, sambil sibuk menerima sambutan dari para kaki empat. Pas masuk rumah, si ibu juga sudah menyambut di ujung ruang tamu menuju ruang keluarga, "iya, ini film kesukaanmu kan? Breakfast at Tiffany's?"

 

Aku ngeliat ke layar tivi, dan wajah Audrey Hepburn dan George Peppard sudah memenuhinya.

 

"Iya ya, Mbak, kamu pulang cepet mo nonton ini ya?" tanya Papa.

 

"Enggak sih sebenernya, udah nggak ada kerjaan juga, tadi ada temenku yang mbawa mobil, jadi ikut nebeng pulang. Tapi ya karena ada ini juga makanya jadi rada cepet…Walopun sebenernya bisa nonton DVD sih, tapi mumpung ada di tivi.."

 

"Hebat ya Papa, empatinya, bisa tau kalo ini film kesukaanmu.." kata si bapak.

 

"Paling tau dari Rani," aku menimpali.

 

"Enggak, Rani nggak ngomong apa-apa gitu kok," si ibu ikut nimbrung. "Emang kenapa sih seneng film ini?" lanjutnya.

 

"Ya, soalnya New York gitu…, tahun 50-an lagi, terus gayanya Audrey Hepburn-nya kan juga stylish banget. Keren aja…"

 

"Oh, harusnya kasih tau Eyang Mimi, kan Eyang Guritnya pas tahun segitu ada di Amerika. Oh, telpon Eyang Uti juga.." kata ibuku, sekarang sambil melangkah ke arah telepon rumah, memencet nomor, dan langsung berbicara dengan eyang putriku.

 

"Ibu? Ibu lagi ngapain? Udah nonton Metro?"

 

Tak lama kemudian, "Eyang Uti juga lagi nonton tuh.."

 

Aduh.. nggak tau kenapa, aku jadi ngerasa sayang banget sama bapak-ibuku. Bapakku yang biasanya cuek bukan main, tiba-tiba mau bother ngambil kesimpulan akan kepulangan awalku dari kantor, walaupun mungkin tau dari Rani atau ibuku tentang kesukaanku sama film ini, tapi tetep aja..beliau ikut antusias.

Terus ibuku yang juga ikut antusias dan ngasih-ngasih tau eyang-eyang lewat telpon kalo ada Breakfast at Tiff's.

 

Mungkin bukan karena aku juga tindakan yang kedua, tapi…kayak diingetin, eh ada lho orang lain yang appreciate what you appreciate. Nggak hanya si bapak satu itu yang bisa dikasih tau…

 

Aku pengen nulis ini, sebagai pengingat, ini lho..ortumu yang merhatiin kamu, Nari. Dan I have to admit, akhir-akhir ini aku lagi dalam periode yang baik dengan mereka; hubungannya lagi sehat.

 

Oh iya, terus pas adegan Audrey/Holly nyanyi 'Moon River' dengan gitar kecil di jendela, otomatis aku ikut nyanyi dong. Terus ibuku yang lagi di kamarnya, tiba-tiba keluar (swear, nyanyiku pelan, dan ketika pintu kamar ibuku ditutup, suaranya nggak nembus), "Oh, oh, oh, anakku nyanyi nonton film…"

 

"Iyalah, 'Moon River' gitu…"

 

And the night turns out to be good, also. Selesai Breakfast.. terus pindah ke channel lain, eh… ada 'Ed Wood'. Wuah, kemaren sempet liat di Subtitles, tapi belum rencana nyewa. Tapi ternyata keren itu film. Tim Burton is my new favorite director!

 

Ah, aku dan my zero social life…My happiness, consist of good movies played on national television. Sad.


Posted at 06:55 am by i_artharini
Comment (1)  

Ingatan Kebahagiaan, pt.1

Senin pagi minggu lalu. Aku bangun tidur dan pertanyaan pertamaku adalah, jam berapa sekarang. HP yang tergeletak di kiri kepalaku langsung kuambil; ternyata ada sebuah pesan pendek yang masuk jam 9 tadi.

 

"Hari ini ultah Pram ke-81 di TIM, acara-acaranya mulai jam 11. Datang yo.."

 

Pengirimnya seorang teman yang sudah agak lama tidak bertemu. Dengan mata yang masih kriyip-kriyip, aku menyimpan pesan singkat itu dalam inbox, dan mengecek waktu. Ternyata saat aku bangun sudah sekitar jam 10 pagi.

 

Disgusting habit, sebenarnya, bangun di jam segini. Tapi minggu ini aku sedang dalam masa 'libur', tulisanku minggu ini turun, kataku membenarkan dalam hati. Mungkin bisa datang ke acara itu. Tapi masa nggak ke kantor sama sekali dan nongkrong terus dari pagi di situ, lha kok tidak produktif sekali…

 

Sambil turun tangga, aku membalas pesan singkat si teman:

 

"Lha kok saka isuk2 to, mas? Acaranya ada apa aja?"

 

"Paginya pembukaan pameran, malamnya dialog. Datang ya.."

 

"Malamnya jam berapa? Biar aku bisa siap-siap berangkat dari Kedoya."

 

"Selesainya jam setengah sebelas.."

 

Lha, piye to? Aku kan maksudnya nanya mulainya. Tapi ya sudah, setidaknya sampailah di sana sebelum jam setengah sebelas. Sebenernya mau aku tegesin lagi ke si temen, tapi dia sering punya pulsa terbatas. Ya wislah…

 

* * *

 

Sorenya, setelah berhasil membajak seorang temen dari rapat mingguan kompartemennya, aku berangkat ke TIM. Dari kantor jam 19.30. Hm..kayaknya bakal sampe di sana jam 21.30 deh. Dan ternyata, bener.

 

Dan nggak nyangka, dua jam perjalanan itu bener-bener nyiksa ya, walaupun sudah diperkirakan. Sampe omongan udah garing, berantem dua kali sama date for the night, baikan lagi, dan akhirnya ngantuk, beluum sampe juga.

 

Ketika sampe, aku cuma ngerasa seneng aja, pantat nggak didudukin lagi. Terus sempet ketemu temen lain yang njualin buku di acara itu, dan udah nentengin traveling bag yang isinya buku-buku jualannya. Sempet aku minta bukain buku-bukunya, tapi nggak ada yang menarik, dan aku juga kan lagi menyusutkan jumlah buku yang dibeli bulan ini. Akhirnya pisahlah sama si pedagang buku sebelum dia ngundang ke pementasan teaternya tanggal 7 bulan depan. Dan oh ya, dia bertanya tentang si cerita lama.

 

"Lho, kenapa nggak bareng lagi sama dia?" tanya si pedagang buku.

"Errm…aku harus njawab apa nih?" aku nanya ke 'date for the night'.

"Soalnya si itu-nya lagi sibuk," jawab date for the night. Aduh, pahlawanku. 

 

Sampe Teater Kecil, tempat yang pertama kita cari, tentu aja toilet. Dan sekeluarnya dari toilet, mau masuk, tapi harus nungguin date for the night, terus…mata tiba-tiba jatuh ke sepatu seorang sosok. Dan celana jinsnya yang potongannya baggy.

 

Otomatis aku ngeliat ke atas, terus ke bawah lagi, ke atas, ke kaki lagi, dan pas mata lagi di kaki, aku baru sadar. "Lho, tadi orang itu mukanya gimana sih?" Akhirnya mata bergerak lagi ke atas. Aih, ternyata 'rebound-guy-who-reject-me'.

 

Kaget, aku cuma bisa nunjuk ke arahnya, melambaikan tangan kecil, terus senyum. Sementara dia yang lagi nelpon, juga terbelalak kaget, terus senyum terpaksa tapi tetep manis (dasar Mr.Etiquette!), sebelum akhirnya menutup matanya, rada memalingkan wajah, dan bibirnya bergerak seiring kata 'Aduh'.

 

Di saat itu, untung date for the night keluar dari kamar mandi (Bukannya aku yang seringnya lama di toilet ya?), aku 'njemput' dia, terus meng-update dengan situasi, dan kita dengan belagak cuek masuk ke ruang teaternya. Happily, buat aku.. kok ya aku nggak care lagi ya ama 'rebound-guy..' setelah itu.

 

Aku dan date for the night langsung cari posisi di belakang, tapi..pengen foto-foto juga, mumpung bawa kamera. Akhirnya aku bergerak rada ke depan sambil ngeluarin kamera. Tapi masa ngandelin zoom aja sih? Kan menurut sebuah kutipan yang aku baca di kaos seorang fotografer kantor, "if you think your picture is not good enough, then you're not close enough." Ambil resiko, ambil resiko, ayo berani ke depan. Sadly, aku emang sepenakut itu.

 

Pas aku berbalik, mau ngajakin date for the night ikutan maju, malah kuaget setengah mati. 'Rebound-guy..' ada di belakangku, tersenyum, dan bertanya.

 

"Lho, dateng sendiri?"

"Enggak, ama temen."

"Liputan apa…"

"Dateng-dateng aja"

 

And honestly, aku lupa apa aku ama dia punya longer conversation, atau jawaban tepatku apa. Lebih leganya lagi sih, karena I don't care.

 

Akhirnya ke depan sendirian, ketemu fotografer kantor. Ngobrol-ngobrol, dia nginceng kamera, aku ikut. Liat hasil foto-fotonya dia, terus berusaha mbuat yang sama. Sementara aku udah ngerasa dapet yang lumayan keren (tapi terus terhenti gara-gara battery low. Raniii, kamu nggak nge-charge kan abis dipake kawinannya Ikrar?), si fotografer kantor berkomentar, "Waduh, fotoku jik elek-elek iki lho…"

 

Ternyata malem itu, sumpahku untuk tidak berbelanja buku gagal oy. Ada satu stand yang nggelar buku-buku 50 % off. Ada 'Second Sex' edisi Indonesia, terus ada 'Il Postino' terjemahan akubaca, terus ada beberapa buku lainlah. Tapi, sekuat-kuatnya nahan, ternyata aku tetep nggak bisa ngelepasin 'Hadji Murat'-nya Tolstoy terbitan Bentang. CMIIW, kayaknya udah susah ya nyari di toko buku? Dan akhirnya, keluarlah 15 ribu.

 

Acara bubar, hang out2 dulu, coffee and cigarettes never absent. Terus membahas lebih lanjut tentang 'rebound-guy..'

 

Aku: ih seneng deh, ngeliat dia yang kayak annoyed ngeliat aku. Dan akunya yang cool-cool aja ngadepin dia.

 

Date: ah, enggak lagi… aku kan tadi berdiri di belakangnya dia. Pas yang elu maju ngeluarin kamera itu, dia kan asalnya di belakangku, terus ikut maju ngedeketin elu. Pokoknya tinggal elu balik badan aja deh, pasti ngobrol. Orang asalnya aku ngira dia mau nyapa kamu kok. Anaknya aja tuh, yang pengen disapa duluan.

 

Aku: hahahhaa. Serius? Well, walopun nggak bener sih, tetep cerita yang bagus buat malem yang asik lah.

 

Yang lebih asik lagi dari incident itu sih sebenernya…karena aku udah berharap banget punya kesempatan kayak gitu. Aku dan 'rebound-guy..' ketemu pas liputan or something, dianya, dengan GR yang pol mengira aku bakal nemplokin, tapi ternyata akunya yang bisa have fun sibuk-sibuk sendiri.

 

And, it happens.

Atau, ya setidaknya 'terjadi' dalam versi cerita yang akan aku ulang terus-menerus, scenario itu terjadi. Jarang-jarang nih ada kemenangan kecil kayak gini.

 

(Tapi aku tetep ngerasa: gilaaa, hidupku pathetic banget yah..)






Posted at 06:48 am by i_artharini
Make a comment  

Cerita Kecil Tentang Kesepian

Sabtu pagi, sekitar pukul 06.45, aku keluar dari kantor. Aku baru saja menghabiskan Jumat malamku di kantor, menyelesaikan tulisan untuk pekerjaan kantor. Sepertinya dari situ semua berasal. Sabtu pagi itu.

 

Aku tidak sendiri. Seorang teman yang juga harus menyelesaikan tulisan untk akhir pekan itu juga ikut menginap. Tapi pagi itu, sambil menonton sekilas lima menit terakhir salah satu episode Friends di televisi ruang kantor, di lantai dasar, ada sesuatu yang terasa absen. Tidak ada di tempat yang seharusnya.

 

"Nggak mau ke kamar mandi dulu, cuci muka atau gimana?" tanya si teman. Aku cuma mengiyakan. Dan segera bergerak ke kamar mandi, mencuci muka, berkumur. Aku hanya tertidur satu jam tadi pagi.

 

Aku membereskan barang-barang, memakai jaket, dan berjalan bersama keluar. Pagi yang aneh. Atau mungkin cuma perasaanku saja yang aneh; aku tidak pernah berada di kantor pukul 06.45 di pagi hari.

 

"Aneh," kataku, "nggak pernah lho, ada di kantor jam segini."

"Aku nggak pernah di luar rumah jam segini," balas si teman. "Mau nyari sarapan?"

 

Sebenarnya malas, tapi mungkin makanan dapat membantuku merasa lebih baik. Hanya saja, aku terlalu lelah mengunyah. Tapi aku mengiyakan, ketika memikirkan kemungkinan adanya bubur ayam.

 

Kantin menyiapkan mie ayam pagi itu; dan kami berdua terus berjalan menuju gerbang. "Kalau bubur mungkin mau," cetus si teman. Aku mengiyakan saja dalam hati. Sekarang yang ada di pikiranku hanya ibuku, dan betapa aku ingin memeluknya.

 

Aku mengamati semuanya dalam perjalanan pulang. Kehidupan yang berjalan di sekitarku; yang bukan menjadi bagianku. Sinar matahari yang hangat. Sudah lama aku tidak merasakan sinar matahari pagi.

 

Aku memilih duduk di dekat jendela. Mencoba mendinginkan dan membuat nyaman badan. Aku bisa saja melepas jaketku, tapi aku sedang tidak ingin.

 

Ketika bis sampai di perempatan Tomang, aku menyalakan musik, mencoba memilih lagu yang tepat untuk mengisi kekosongan, tapi juga sesuatu yang tak terlalu mengalihkan aku dari suasana pagi hari yang jarang aku lewati di luar rumah.

 

Tetapi aku tidak ingat berada di mana, saat aku mencoba untuk menutup mata, mencoba keras untuk menikmati sinar matahari di wajah, dan angin dari jendela bis. Mencoba keras, karena aku ingin merasakan sesuatu yang berbeda. Dan ini adalah pagi yang berbeda. Jadi logisnya, aku harus merasakan dan mengingat semua yang terjadi.

 

Tapi ketika aku menutup mata itulah, aku mulai teringat bahwa ini hari Sabtu pagi. Delapan bulan yang lalu, aku akan kebingungan memilih tempat yang akan kita kunjungi. Aku tiba-tiba teringat akan teleponmu.

 

"Kamu libur hari apa, mbak?"

"Sabtu."

"Weiss, mantap. Besok kita ke mana?"

 

Dan mulai pagi hari, pikiranku terus tertuju padamu. Tentang bagaimana aku harus mengatakan pada orangtuaku bahwa aku akan pergi, dan bagaimana aku terus ketakutan mereka akan mencurigai aku pergi dengan siapa, dan tentang waktu yang tidak akan pernah cukup, dan aku yang tidak benar-benar bebas.

 

Sekarang, aku teringat pada helm kecil berwarna ungu tua di motormu. Helm kedua. Untuk siapakah kau siapkan helm itu? Kamu bukan seseorang yang menyiapkan helm kedua di motormu. Kamu tidak membiarkan orang masuk dalam hidupmu. Tapi sekarang, siapakah yang kau biarkan masuk? Akan pergi kemanakah kalian Sabtu pagi ini? Apakah kau menanyakan padanya untuk memilihkan tempat yang akan kalian kunjungi hari ini?

 

Cawang.

 

Aku berganti ke M19.

Aku hanya ingin sampai di rumah dan tidur.

Ini hanya karena tidak tidur semalaman.

 

Pagar terbuka ketika aku sampai di rumah, dan aku membuka pintu depan dengan kunciku. Di ruang tengah tidak ada siapa-siapa. Melepas jam tangan, kacamata, dan melihat sebuah paket yang pastinya berisi buku yang kupesan beberapa hari sebelumnya. Lalu aku berganti baju, mencuci tangan, dan membuka bungkusan berisi buku itu. Ada segelas jus jambu di gelas tinggi di atas meja makan. Aku baru mengangkat tutup gelasnya yang berwarna hijau, ketika ibuku keluar dari kamar.

 

"Haloo," katanya hangat. "Baru sampai ya?"

"Iya."

 

Aku mencari gula rendah kalori, membuka sachetnya, menuangkan isinya ke jus jambu di gelas tinggi, dan mengaduknya dengan sendok bertangkai panjang. Aku meminumnya sampai habis dengan beberapa teguk, tanpa menurunkannya. Aku mengelap mulutku, mengambil buku yang sudah terbuka dari bungkusnya, dan berjalan menuju kamar ibuku.

 

"Sampai jam berapa tadi?"

"Setengah sembilan."

 

Aku mengambil remote control, merebahkan badan, dan menyalakan TV, lalu memindah-mindah saluran. Aku geletakkan buku-buku yang kubeli di sebelahku. Ibuku lalu masuk membawa telepon genggamnya di tangan, yang lalu ia tunjukkan padaku.

 

Layarnya mati. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang ingin ia tunjukkan padaku, tapi aku membiarkannya melakukan itu. Aku hanya melihat bayangan mata kananku, sesekali berkedip. Ibuku mengelus dan mencium lengan kananku. Kemudian ia melihat kea rah telepon genggamnya.

 

"Kok mati, gimana sih, nggak ngomong-ngomong?"

"Lho, aku pikir…" Aku tidak meneruskan.

 

Ia menunjukkan sebuah pesan pendek, tentang acara ulang tahun sepupunya, pamanku, Sabtu depan nanti.

 

"Datang aja, mbak. Sepertinya menarik."

"Oom itu sudah 60?"

"Iya."

 

Diam.

 

"Mama nanti harus ke Berlan. Menemani eyangmu. Bibimu mau pergi ke Suralaya hari ini, ngambil obat."

 

Aku hanya diam saja.

 

"Ma, aku lagi sedih. Ma, aku lagi sedih. Ma, aku patah hati," kataku dalam hati.

 

Tapi kemudian ia bercerita tentang seorang kerabat yang mengalami masalah keuangan, dan bagaimana ia terbebani dan cemas menghadapi permasalahan si kerabat.

 

"Apalah masalahku dibandingkan kegalauannya," kataku, "aku tidak bisa bercerita tentang masalahku."

 

Kedua buku yang aku letakkan di sampingku aku ambil, dan sisipkan di bawah bantal. Ibuku akhirnya selesai bercerita. Lalu aku membalikkan badan.

 

"Kenapa, mbak? Kamu lagi sedih kenapa?" tanyanya.

 

Aku masih tetap diam.

 

"Ayo cerita aja," katanya lagi. Aku merasakan dagunya di punggungku.

 

Aku memutuskan untuk tetap diam, walaupun dalam otakku, mulutku mengulang-ngulang cerita kesedihan. Yang keluar, aku hanya bisa mengatakan, "nggak" berulang-ulang.

"Kenapa? Kamu…kecewa, sedih, takut? Kecewa tentang…pekerjaan? Kenapa tentang pekerjaan?" ia mencoba menebak-nebak dan menganalisa.

 

Cerita itu sudah ada di ujung lidahku, Ma. Tapi kalau aku bercerita, aku tahu kau pasti akan marah; karena aku berhubungan dengan seseorang yang tidak kau izinkan. Dan aku akan merasa malu, karena Sabtu pagi ini, yang aku rasakan sebenarnya cuma kesepian, dan cemburu.

 

Aku mulai kesulitan bernafas. Dan ketika aku menarik nafas, ada sesuatu yang menghalangi jalur pernafasanku. Ibuku kini tahu aku sudah mulai menangis.

 

"Ayo cerita. Mama jadi ngganjel nih. Kamu sedih kenapa, kok sampai nangis?"

 

Aku ingin, Ma, tapi aku tidak bisa.

 

"Nggak apa-apa. Bukan sesuatu yang penting. Remeh banget, makanya aku nggak mau cerita."

"Tapi masak kamu sampai nangis?" ia kini mengusap rambut dan melepaskan jepit rambut di belakang telinga, penahan anak rambutku.

 

Tapi aku bangun, mengambil dua buku dari bawah bantal, dan keluar dari kamarnya.

 

"Kamu selalu gitu sih, nggak pernah mau share."

 

Ma, aku men-share terlalu banyak. Dan aku tahu, Mama tidak akan menjadi lega mendengar cerita ini.

 

Aku pindah ke kamarku sendiri, tertidur sekitar pukul sembilan. Saat terbangun, aku melihat jam sekitar pukul 12.30. ibuku sudah tidak ada, lalu aku pindah ke kamarnya. Aku sempat mendengar adikku dan ayahku datang. Kami sempat berbicara saat aku setengah tertidur. Mereka mengajakku pergi, aku menjawab tidak. Dan kemudian melanjutkan tidur. Dan saat terbangun, jam menunjukkan pukul 17.30. Aku sudah tertidur sembilan jam.

 

Malam itu, menjelang tidur, aku merasakan kekosongan itu kembali. Merasakan kehidupanku terbuang begitu saja, tak ada manusia, kehidupan yang berarti. A life of no importance.

 

Seorang sahabat sempat menelepon, setelah aku mengiriminya pesan pendek. Ketika dia menanyakan, "tapi kamu baik-baik aja kan?", awalnya akan menjawab tidak, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana harus bercerita padanya bahwa aku tidak baik-baik saja.

 

Aku berubah pikiran, dan tidak jadi bercerita padanya.

 

Aku tertidur pukul 00.00 malam itu, dan terbangun dengan berkeringat. Ketika aku keluar kamar dan melihat jam di atas meja makan, pukul 12.00. Ini semakin parah.

Sambil meminum segelas air dingin, aku mencoba mengingat-ingat, kenapa aku terbangun masih dengan rasa kosong itu. Sesuatu yang berhubungan dengan mimpi tadi malam.

 

Oh, aku bermimpi tentang sebuah pernikahan. Pernikahanku. Tidak, tidak denganmu. Aku tidak pernah memimpikan itu tentangmu, tidak dalam dunia nyata, dan tidak dalam tidur.

 

Ceritanya, aku bertemu seseorang di toko buku, entah bagaimana aku dan lelaki itu hanya bertukar beberapa kata, tapi aku merasa dekat dengannya, dan kami bertukar nomor telepon. Entah bagaimana, dia menelepon dan berkata, ayo kita menikah, atau sesuatu seperti itu. Aku dan lelaki itu hanya bertemu satu kali di toko buku, dan aku tidak melihatnya lagi sampai akhir mimpi.

 

Tapi ada kesibukan yang luar biasa terjadi di sekitarku, dalam mimpi itu. The idea ada seseorang yang akan menikah denganku, dan the idea aku tidak akan kesepian lagi, membuat aku terus bahagia di mimpi itu.

 

Sampai pada hari-H-nya, semua orang di keluargaku sudah siap, dan entah kenapa, mereka memutuskan untuk memakai baju berwarna hitam-putih. Aku bahkan melihat ayah dari ayahku, memakai baju hitam panjang, seperti baju seorang pastur yang berbentuk gaun terusan berwarna hitam. Semua orang sudah siap untuk pergi ke tempat si mempelai pria (kenapa keluargaku yang harus datang ke sana? Atau kami akan pergi ke tempat resepsi?), dan hanya aku yang belum bersiap-siap. Aku belum mandi, dan aku belum keramas. Dan untuk mandi dan mencuci rambut, aku butuh waktu yang lama. Dan semua rasa bahagia yang sebelumnya ada, menjadi hilang, berganti dengan kegelisahan akan keterlambatanku, dan ketakutan akan orang yang tadinya akan menikahiku berubah pikiran, karena aku bersiap-siap terlalu lama. Lalu aku terbangun. Masih dengan rasa gelisah dan ketakutan itu. dan sekarang terasa lebih parah, karena aku tahu, kegelisahan dan ketakutan itu bukan hanya dari mimpi, tapi sedang kualami dalam kehidupan nyata. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

 

Aku masuk ke kamar ibuku, dan merebahkan diri lagi di situ.

 

Ayahku pulang sekitar satu jam kemudian, melihatku tertidur di tempat tidurnya, dan bertanya pada adikku, "Mbak-mu sakit ya?"

 

Aku mendengar pertanyaannya setengah sadar, dan dalam hati, aku mengiyakan 



Currently reading:
The Stranger (Vintage International)
By Albert Camus



Posted at 06:41 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, February 08, 2006
Multitasking Bacaan

Rory Gilmore, atau nonton Gilmore Girls-lah, berguna buat ngasih beberapa tips dan motivator buat mbaca lebih banyak. Apakah aku terlalu sering mengatakannya? Ouw, sorry. Ah, what the hell. Emang bener kok.

Episode-nya pas Rory ngadepin finals, dia belajarnya multitasking gitu, "So for example, if I've hit a Bolshevik Revolution overloads, I shift over, and hello...Louis XVI is getting his head chopped off, and if I move over, there's Algebra (or Calculus gitu, aku rada lupa)".

Lorelei: "Wow, saving the party subject for last, huh?"
Rory: "It just seems to produce better results"

Nah, aku jadi mengadopsi teknik ini untuk mbaca. Emang udah my nature to get bored so easily. Too easily, in fact. Jadi, pas kemaren nge-organise buku di lemari kecil, lebih banyak yang ada di bagian 'udah setengah dibaca, tapi belum selesai karena keburu pindah ke buku lain' dari pada bagian 'belum dibaca sama sekali' atau 'sudah selesai dbaca'. Dan I used to feel very guilty about it. Karena rasanya, bagian lemari itu membuktikan asumsi ibuku tentang aku, yang never being able to finish anything.

Little did I know (haduh), kalo mungkin Attention Deficit Disorder itu emang sifat alami-ku, dan emang aku harus nyari jalan untuk ngelompatin masalah itu. Ugh, kenapa coba, nggak dari dulu-dulu kepikiran mbaca kayak gini?  (And not feeling guilty about it...)

Jadi sekarang, korbannya emang tas-ku jadi rada berat, tapi tak apalah, setidaknya biar bisa selesai mbaca buku. Sekarang jadi ada 4, 5, 6-an buku lah di tas. Dan ketika aku mengalami Tolstoy overload, hello...ada Stephen King lagi ngajarin nulis, terus bosen lagi...ada laporan jurnalisme mendalam yang bisa ngajarin cara nulis reportase yang menarik, terus ada Hemingway yang menawarkan kisahnya tentang menikmati nonton adu banteng di Pamplona bareng temen-temennya, dan...kumpulan short stories.

Sebagai seorang perempuan, multitasking harusnya udah jadi second nature kan?

Dan sejauh ini juga cukup bisa mengatasi kebosenan-kebosenan pas mbaca juga kok. Terus ada satu hal lagi yang bisa diambil dari Rory, attitude-nya yang ngerasa dia ketinggalan dalam daftar bacaannya, terus dia menggunakan semua waktu luang yang ada untuk 'catch up on (my) reading'. ("But I need to catch up on my reading.."-->ingat-ingat Nari, and live by it...)

Posted at 09:40 pm by i_artharini
Make a comment  

Money, Membership, and Me Giving Up

Due to some mismanagement of financial aspect, nggak tau kenapa, lho kok duitku tinggal segini ya? Untungnya cicilan-cicilan dan tanggungan udah dibayarkan, cuman ya korbannya tabungan sendiri.

Tapi, sayangnya, keanggotaan bulanan di Subtitles belum diperbaharui. Anyhow, hari ini kan aku emang harus ke sana karena ngembaliin DVD, jadi...aku pastinya nggak bisa ngabur dari pertanyaan: mau diperpanjang lagi nggak?

Aku awalnya udah memantapkan hati untuk menjawab enggak, karena uang membershipnya lumayan buat operasional sehari-hari, dan sekalian biar tumpukan DVD di rumah mulai ditontonin lah.

Oke, udah sampe di Dharmawangsa Square, langsung turun ke lantai bawah, dan berjalan ke tempat penyewaan di dungeon (heheh) itu. Pas masuk, cuman aku sendirian, sepi. Well, ada mbak-mbak yang njaga sih, tapi selain aku nggak ada customer lain. Hati udah mantap, nggak mau diperpanjang. Alasan? Bakal sering keluar kota bulan ini, kali ya..

Ah, ngapain repot-repot boong. Lha wong emang lagi kekurangan duit.

Tapi, pas nunggu dilayanin sama si mbak, aku jadi mikir, waduh...kalo nggak langsung memperpanjang sekarang, nanti harus nyerahin fotokopi KTP lagi, ngisi formulir lagi, ribet gitu. Dan sepi nih, jangan-jangan juga ada 'My Beautiful Laundrette'.

Dan just like that, dalam lima menit, cetring... aku berubah pikiran.

"Ngembaliin, mbak, sekalian (mem)perpanjang," kataku. D'oh.

Oke, akhirnya, jadilah aku memperpanjang membership di situ. Ya, mungkin bulan depan nggak usah beli National Geographic dari pak majalah di kantorlah sebagai kompensasi. Sementara keanggotaanku didaftarin lagi sama si mbak, aku akhirnya muter-muter di bagian indie/foreign, dan....'My Beautiful Laundrette' is in! Juga 'Il Postino'.

Wuhuu, wuhuu, wuhuuu. Nggak rugi kan? (Ih, itu mah pembenaran aja, nyari-nyari alasan biar nggak ngerasa bersalah). Tapi nggak pa-pa, malem ini...nonton 'Beautiful Laundrette'!

Sedikit sesuatu tentang film ini, beberapa kali aku ngeliat Amazon.com, sering banget  orang masukin film ini ke kategori: 'film that make me believe in love'. Dua , tiga kali, ada sih... Tapi, come to think of it, jangan-jangan aku membaca daftar milik orang yang sama. Lupa sih namanya, yang pertama siapa user-nya, yang kedua siapa. But anyhow, jadi penasaran.

Posted at 09:12 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, February 07, 2006
Gramedia Phobia

Gramedia Matraman sudah tidak lagi menjadi sebuah tempat yang membuatku merasa nyaman. Dua kunjungan terakhir membuktikannya.

Biasanya, toko-toko yang mengizinkan aku menyusuri deretan lemari bukunya sampai 4-5 jam tanpa gangguan 'Ada yang bisa saya bantu' tiap lima menit sekali sudah cukup membuat aku merasa nyaman. Belum lagi judul-judul buku yang ditampung tempat itu; mungkin setiap kata di KBBI sudah dipakai jadi judul buku yang terdaftar di katalognya kali.(Eh, gimana sih? Kok jadi mbulet?)

Jadi, Gramedia, mana pun, bisa memunculkan rasa nyaman. Tapi karena yang paling dekat rumah dan ternyata paling lengkap ada di Matraman, dan karena tempat yang paling sering didatangi itu menimbulkan rasa familiar dan rasa familiar menimbulkan rasa nyaman, kesimpulannya...Gramedia Matramanlah Gramedia yang paling membuat aku merasa nyaman.

Tapi, sekali lagi, dua kunjungan terakhir membuat aku...gelisah.

Aku lupa kunjungan sebelum terakhir kapan, sepertinya dua minggu yang lalu. Tapi kunjunganku yang terakhir itu Senin kemarin; waktu kantorku officially libur, tapi paginya aku tetep harus ke BPOM di Percetakan Negara.

"Horee, I'm free for the afternoon. Nggak harus ke kantor. Jalan ke mana ya?"

Dari rumah sih sebenernya pengen ke kawasan Sarinah Thamrin, lunch di Bakmi GM, ke QB, duduk menikmati sore, atau apalah. Tapi kok pengen ke Gramedia Matraman dulu, pengen nyari bolpen mini yang aku ngeliat iklannya di sebuah majalah cewek.

Asalnya nggak mau jalan ke bagian buku, tapi...sudah terlanjur basah rasanya pas cuma liat-liat alat tulis, ya udah 'natural course'-nya lah, naik ke lantai dua, ke bagian buku-buku.

Tapi gila, man. Tumpukan buku-buku yang biasanya membuat aku ngerasa nyaman itu jadi membuat gelisah, poll. Ceritanya, ngeliat tumpukan buku itu aku jadi keingat sama tumpukan buku di rumah, yang belum kebaca. Terus masih ada lagi, buku-buku yang numpuk di rumah nunggu giliran dibaca itu sepertinya berasal dari kategori "yang salah", yang kayaknya masih ada buku-buku yang lebih penting untuk dibaca. Tapi untuk beli lagi buku-buku yang 'penting' itu juga nggak bisa, karena ada buku-buku yang masih belum selesai dibaca itu.

Oke, untuk meredakan kegelisahan, ya penyelesaiannya.. baca aja buku-buku yang belum dibaca itu. Tapi muncul kegelisahan yang lain, aduh..kenapa ya aku mbacanya nggak bisa cepet? Dan kayaknya aku tidak mengapresiasinya dengan cara yang 'tepat' deh, setidaknya aku belum bisa mencerna terus mengambil sesuatu dari situ, sebagai pelajaran lah.

Dan kepalaku terus langsung merekam betapa buanyaknya judul-judul buku yang masih harus dibaca itu, baik yang udah dibeli, ataupun yang masih numpuk di Gramedia. "Gilaaa, kapan aku bakal selesai dengan semua itu?" Dan aku nggak tau, apakah itu otakku atau hatiku yang berteriak.

Dan no matter how hard I tried, pasti pasti pasti aku bakal tergoda beli sesuatu. Argh, pemborosan uang dan ruang yang sebenarnya bisa dihindarkan dengan akal sehat. Tapi, it's the panic talking, honey.

Anyway, itu baru dari satu aspek; aku sebagai pembaca. Belum lagi aku sebagai...orang yang belajar menulis-lah, biar aman. Naive as it may sound, aku punya mimpi; to write something, publish it, and  for people to enjoy it. Dan ngeliat tumpukan buku di Gramedia itu, aku cuma tersadar: the competition is fierce!

Competition, my ass. Ladang pembantaian itu sebenernya.

Dan kekhawatiran itu punya alasan, kayak:
1. Hmm, aku nggak bisa nemuin 'shelves' that I want to belong in. (Sombong nggak sih?) Well, intinya nggak di bagian 'sastra', karena aku nggak bakal sampai ke level itu. Tapi juga nggak pengen berada di bagian chicklit.

2. Aduh, orang-orang yang kemampuannya udah nggak butuh pengakuan, karena udah jelas-jelas keliatan, hasil karya kerja kerasnya cuman numpuk gitu aja. Dalam tumpukan yang kayaknya tiap aku datang nggak pernah...berkurang. Mungkin persediaan stock roomnya aja sih yang banyak, tapi ada kemungkinan juga kan nggak kebeli?

Akhirnya, daripada ngerasa santai, atau terinspirasi, atau energi-energi positif lainnya yang biasanya aku dapetin dari berkunjung ke toko buku, sekarang.. malah dapetnya pusing karena overload informasi, bingung, dan...wes, pusing, pokoke.

Jadi kayaknya aku harus jauh-jauh dulu dari toko buku nih.

Dan good thing juga sih, mengingat duit di tabungan yang langsung... tipiiis banget, padahal ini baru tanggal berapa nih...


Currently reading:
Hadji Murat
By Leo Tolstoy



Posted at 07:54 pm by i_artharini
Comment (1)  

Sunday, January 15, 2006
A Gilmore Hangover

Dipenuhi dengan kafein, orang berbicara dengan ritme senapan mesin, dan referensi buku, film, dan musik yang top notch. Buat aku, itu rasanya hangover abis maraton nonton Gilmore Girls. Behold, aku baru nonton delapan episode di dua CD dari total enam, yang merekam keseluruhan season 2. Fiuh.

Oke, aku emang nggak harus nonton semuanya, yang pengen nonton kan Rani. Cuman, setelah merasa terinspirasi untuk mbaca lebih banyak buku gara-gara nonton serial itu, masak sih..mau aku tinggal gitu aja?

Kalau sebelumnya aku bilang 'Lorelei Gilmore menjadi seorang yang annoying, tapi any TV show yang mengenalkan aku ke Ayn Rand dan 'The Fountainhead' deserves some respect' harus diralat, menjadi: 'Lorelei Gilmore, at some point, bisa menjadi too annoying. Tapi any TV show yang membuat aku pengen mbaca lebih banyak, listen to some good music, and watch more movies, deserve a lot of respect.'

Dateng ke kantor, akhirnya dihabiskan buat browsing-browsing di Amazon, nyari para Listmania yang udah mbuat ndaftar buku-buku yang muncul di serial itu. Dan ternyata.. menemukan quite a list. Tapi belum nemuin yang fanatic enough, sampe mendaftar referensi pop culture yang disebutin oleh tiap karakter, di tiap episodenya.

Hmm...anyway, jadi ngerasa syohok aja. I',m...23, right? Dan kalau didaftar, kayaknya buku yang aku baca belum sampe 200-300an. 100? Hwuaaa.. aku nggak berani ngedaftar.

Kemarin ngeliat episode Rory berkunjung ke Harvard. Terus, dia terkaget-kaget ngeliat perpustakaannya Harvard yang menyimpan 13 juta buku. Well, I'm not aiming for that. Tapi dia bilang di usia 16, dia udah mbaca sekitar 300an buku. Gludaks.

I sleep too much. (yang akhir-akhir ini kerasanya bener)
I spend my time in doing God knows what.

Argh. I have to get my life back on track nih.
Bukan karena Gilmore Girls aja, tapi secara keseluruhan lah. Feel like slacking too much.   


Currently watching:
Secret Window



Currently reading:
The Rock of Tanios
By Amin Maalouf



Posted at 06:52 pm by i_artharini
Comments (2)  

Friday, January 13, 2006
DVD, DVD

Seorang teman memilih untuk mendaftar keanggotaan sebuah gym dengan harga +/- (kalau nggak salah, seingatku) Rp430 ribu per bulan. Sementara aku memilih untuk menjadi potato couch, dan mendaftar keanggotaan tempat penyewaan DVD di bilangan Blok M dengan membayar Rp 75 ribu per bulan, untuk 2 DVD per hari. Menjadi potato couch memang lebih murah. Setidaknya keanggotaan ini mendukung program nonton film rutin tiap malem-ku. Ya, setidaknya membantu untuk menseriuskan diri dengan program itu lah.

Anyway, sejauh ini sih, sayangnya, dari dua minggu keanggotaan yang udah berjalan, baru nyewa 'Waking Life', 'Flower of My Secrets', 'Pride & Prejudice', 'A Bout de Souffle', sama tadi 'Gilmore Girls' Season 2, pesenannya Rani. (Ok, Lorelei can be such an annoying character, tapi any tv show yang bisa mengenalkan aku ke penulis seperti Ayn Rand dan membuat aku mbaca 'The Fountainhead' yang tebel banget itu, deserves respect). (Lagi berpikir, aku bisa get snuggly weekend ini cuman dengan 'My Beautiful Laundrette' dan 'Ghost World'. Tapi ya sudahlah...Senin kan masih bisa.)

Jadi ngitung-ngitung. Is it possible untuk nonton dua DVD per malem, biar bisa sebulan nyewa 60 DVD? Hmm..kayaknya tricky deh. Tapi ya kalau nyewa dua buat dua hari juga udah balik modal dibanding beli kan? Malahan save 50% juga dari harus beli. Koleksinya boleh juga kok tempat itu. Bahkan 'Cold Comfort Farm' pun ada!



Currently watching:
Breathless
Staring Jean-Paul Belmondo




Currently watching:
In Her Shoes



Currently watching:
Memoirs of a Geisha



Currently watching:
Shopgirl






Posted at 06:23 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, January 02, 2006
Kritikus dan Label

Aku suka banget mbaca review film, terutama kalo yang nulis Peter Bradshaw-nya The Guardian dan Peter Travers-nya Rolling Stone. (Wait, ada apa dengan aku dan penulis review film bernama Peter?). Dari segi gaya penulisan, mereka eksploratif dan kreatif banget. Pasti ada selalu kalimat-kalimatnya yang bener-bener mengena., sinismenya nendang atau bisa mbuat ketawa. Dan secara selera, yaa plus minus apa yang mereka tulis cucoklah.. sama apa yang aku suka.

(For the record, aku juga seneng tulisan-tulisannya F Dewi Ria Utari kalo dia nge-review pertunjukan tari atau teater. Well, terutama tari sih. Karena dia berani bilang "iya, ini bagus karena..." atau "ini tidak bagus karena saya tidak mengerti.." Berdasarkan pengalaman, orang cenderung menyukai sesuatu yang tidak mereka mengerti, karena kesannya it's challenging, out of their mind, dan rumit. Tapi dia, cukup jujur dan tidak pretensius.)

Tapi, tunggu sebentar.

Di sini aku harus berhenti dan merefleksi. Apakah benar aku menyukai sebuah film dan sependapat dengan para kritikus film itu, atau aku menyukainya setelah diberi 'label' oleh para kritikus tersebut. Nggak bisa dipungkiri, aku mendaftar 'must-see films' berdasarkan review-review yang mereka buat.

Aku tidak sadar, betapa fatalnya kondisi ini sampai aku harus membuat review sendiri. Aku jadi tidak berani bertanggungjawab atas seleraku sendiri, caraku menilai suatu film, atau produk budaya lain. Masalahnya, karena aku lebih sering percaya sama selera orang lain daripada my own. Dan ketika aku menulis review, aku cenderung menceritakan tentang produk budaya tersebut, dan tidak menuliskan tentang kesan yang aku peroleh setelah  'menggunakan' produk tersebut. Tidak ada premis yang sebelumnya terbentuk di kepala.

Padahal, kalau nggak salah waktu aku diem-diem mbaca 'Letters to a Young Poet'-nya Rilke sebelum dikasihin ke orang (heheh),  menurut Rilke, hal yang paling tidak menyentuh esensi karya seni adalah review atau criticism.

Ketidakpercayaanku atas penilaian selera sendiri ini juga berlanjut ke mendengarkan musik, sebagai salah satu contoh. Weekend kemarin, Rantje kan baru beli kasetnya 'Letto', band asal Yogya, yang baru aku denger kemaren2 itu lagunya. Tapi Rantje udah pengen beli kasetnya pas tau mereka band dari Yogya.

Anyhow, pas dengerin kaset itu, aku berulang kali nanya ke si Rantje: Siapa sih mereka? Dan Rani bolak-balik njawab, 'band dari Yogya'.

Tapi, tentu saja, jawaban itu tidak membuat aku puas. Yang pengen aku dapetin jawabannya adalah: genre musik mereka apa sih? Cool nggak sih mereka? Atau kualitas mereka cuma seperti 'Radja' berikutnya? Mereka mewakili apa? dst, dst, yang ujung-ujungnya sebenernya cuma menyimpulkan: aku tidak tahu, apakah mereka worth listening to or not. Apakah mereka merepresentasikan 'bad taste' atau 'good taste' dengan keahlian musikalitas nan tinggi.

Sebenarnya kan pertanyaan itu bisa aku jawab sendiri. Worth listening to, karena... Atau not worth listening to, karena... Cuma masalah menemukan hal-hal yang disukai dan tidak disukai kan?

Cuma ya itu, entah karena aku sudah terkungkung di dunia yang semua tentang 'image', sehingga menentukan mereka cool atau tidak pun harus menunggu persetujuan orang lain, pengkotakan genre dari kritikus musik, dan 'company overview' dari perusahaan rekaman, atau...aku sebenarnya memang tidak berani menyatakan pendapat. Contoh gini, aku udah suka sama band itu duluan, terus...perusahaan rekaman mengkategorikan mereka atau memasarkan mereka sebagai band 'emo' misalnya. Misalnya. Aku pasti udah cold turkey, bubar jalan, sambil ber-cuih-cuih. Aku bakalan tidak mau repot-repot untuk find things out.

Oleh para kritikus, semua seperti sudah terkotak-kotak dengan nyaman. Tinggal pilih, konsumsi atau tidak?

Nah, ini yang pada 2006 akan aku kurangin; membaca review sebelum nonton film, salah satunya. Dan instead, ya nulis review sendiri lah.

Intinya sih percaya sama penilaian sendiri, dan mampu memberi alasan deskriptif akan apa yang aku sukai dan tidak sukai; mempertajam apresiasi akan produk budaya yang sedang dipakai.

(Karya seni sebagai produk budaya mungkin bisa jadi entry sendiri ya, kalau karya itu tak beda dengan produk yang dikonsumsi dan setelah habis, dibuang...)

Dan ini yang mbuat penting, note to self, berapa banyak sih film yang udah aku tonton, buku yang udah aku baca? Dan dari semua itu, apa coba yang bisa aku ambil gist-nya? Bisa nggak aku mbuat lima kalimat aja, dari semua itu? Tertatih-tatih banget kan?

Hidup, waktu yang udah terlewat itu, cuman bisa diingat kalau tercatat. Karakternya Guy Pearce di 'Memento' itu ada benarnya.  Bisa dicontoh, walaupun aku nggak punya short-time memory lapse. Kalau nggak, waktu yang udah terlewat ya kelewat aja. Habis, hilang, partikel-partikel yang ditiup angin.

Anyway, ini waktu yang tepat aku rasa. Karena 2006 juga menjadi tahun awal program 'One Movie a Day, 50 Books a Year'. Okeeee... let's start documenting!


Have just finished watching:
The Flower of My Secret



Have just finished watching:
Waking Life
Staring Eamonn Healy


Have just finished watching:
Pride and Prejudice (Special Edition)




Posted at 08:13 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, December 27, 2005
Ya Udah, Terserah...

Ohh..udah gitu aja jadinya yang namanya temen?
Oke, ya sudah.
Have fun with your life.

Posted at 08:00 pm by i_artharini
Comment (1)  

Next Page