PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< February 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, February 08, 2006
Multitasking Bacaan

Rory Gilmore, atau nonton Gilmore Girls-lah, berguna buat ngasih beberapa tips dan motivator buat mbaca lebih banyak. Apakah aku terlalu sering mengatakannya? Ouw, sorry. Ah, what the hell. Emang bener kok.

Episode-nya pas Rory ngadepin finals, dia belajarnya multitasking gitu, "So for example, if I've hit a Bolshevik Revolution overloads, I shift over, and hello...Louis XVI is getting his head chopped off, and if I move over, there's Algebra (or Calculus gitu, aku rada lupa)".

Lorelei: "Wow, saving the party subject for last, huh?"
Rory: "It just seems to produce better results"

Nah, aku jadi mengadopsi teknik ini untuk mbaca. Emang udah my nature to get bored so easily. Too easily, in fact. Jadi, pas kemaren nge-organise buku di lemari kecil, lebih banyak yang ada di bagian 'udah setengah dibaca, tapi belum selesai karena keburu pindah ke buku lain' dari pada bagian 'belum dibaca sama sekali' atau 'sudah selesai dbaca'. Dan I used to feel very guilty about it. Karena rasanya, bagian lemari itu membuktikan asumsi ibuku tentang aku, yang never being able to finish anything.

Little did I know (haduh), kalo mungkin Attention Deficit Disorder itu emang sifat alami-ku, dan emang aku harus nyari jalan untuk ngelompatin masalah itu. Ugh, kenapa coba, nggak dari dulu-dulu kepikiran mbaca kayak gini?  (And not feeling guilty about it...)

Jadi sekarang, korbannya emang tas-ku jadi rada berat, tapi tak apalah, setidaknya biar bisa selesai mbaca buku. Sekarang jadi ada 4, 5, 6-an buku lah di tas. Dan ketika aku mengalami Tolstoy overload, hello...ada Stephen King lagi ngajarin nulis, terus bosen lagi...ada laporan jurnalisme mendalam yang bisa ngajarin cara nulis reportase yang menarik, terus ada Hemingway yang menawarkan kisahnya tentang menikmati nonton adu banteng di Pamplona bareng temen-temennya, dan...kumpulan short stories.

Sebagai seorang perempuan, multitasking harusnya udah jadi second nature kan?

Dan sejauh ini juga cukup bisa mengatasi kebosenan-kebosenan pas mbaca juga kok. Terus ada satu hal lagi yang bisa diambil dari Rory, attitude-nya yang ngerasa dia ketinggalan dalam daftar bacaannya, terus dia menggunakan semua waktu luang yang ada untuk 'catch up on (my) reading'. ("But I need to catch up on my reading.."-->ingat-ingat Nari, and live by it...)

Posted at 09:40 pm by i_artharini
Make a comment  

Money, Membership, and Me Giving Up

Due to some mismanagement of financial aspect, nggak tau kenapa, lho kok duitku tinggal segini ya? Untungnya cicilan-cicilan dan tanggungan udah dibayarkan, cuman ya korbannya tabungan sendiri.

Tapi, sayangnya, keanggotaan bulanan di Subtitles belum diperbaharui. Anyhow, hari ini kan aku emang harus ke sana karena ngembaliin DVD, jadi...aku pastinya nggak bisa ngabur dari pertanyaan: mau diperpanjang lagi nggak?

Aku awalnya udah memantapkan hati untuk menjawab enggak, karena uang membershipnya lumayan buat operasional sehari-hari, dan sekalian biar tumpukan DVD di rumah mulai ditontonin lah.

Oke, udah sampe di Dharmawangsa Square, langsung turun ke lantai bawah, dan berjalan ke tempat penyewaan di dungeon (heheh) itu. Pas masuk, cuman aku sendirian, sepi. Well, ada mbak-mbak yang njaga sih, tapi selain aku nggak ada customer lain. Hati udah mantap, nggak mau diperpanjang. Alasan? Bakal sering keluar kota bulan ini, kali ya..

Ah, ngapain repot-repot boong. Lha wong emang lagi kekurangan duit.

Tapi, pas nunggu dilayanin sama si mbak, aku jadi mikir, waduh...kalo nggak langsung memperpanjang sekarang, nanti harus nyerahin fotokopi KTP lagi, ngisi formulir lagi, ribet gitu. Dan sepi nih, jangan-jangan juga ada 'My Beautiful Laundrette'.

Dan just like that, dalam lima menit, cetring... aku berubah pikiran.

"Ngembaliin, mbak, sekalian (mem)perpanjang," kataku. D'oh.

Oke, akhirnya, jadilah aku memperpanjang membership di situ. Ya, mungkin bulan depan nggak usah beli National Geographic dari pak majalah di kantorlah sebagai kompensasi. Sementara keanggotaanku didaftarin lagi sama si mbak, aku akhirnya muter-muter di bagian indie/foreign, dan....'My Beautiful Laundrette' is in! Juga 'Il Postino'.

Wuhuu, wuhuu, wuhuuu. Nggak rugi kan? (Ih, itu mah pembenaran aja, nyari-nyari alasan biar nggak ngerasa bersalah). Tapi nggak pa-pa, malem ini...nonton 'Beautiful Laundrette'!

Sedikit sesuatu tentang film ini, beberapa kali aku ngeliat Amazon.com, sering banget  orang masukin film ini ke kategori: 'film that make me believe in love'. Dua , tiga kali, ada sih... Tapi, come to think of it, jangan-jangan aku membaca daftar milik orang yang sama. Lupa sih namanya, yang pertama siapa user-nya, yang kedua siapa. But anyhow, jadi penasaran.

Posted at 09:12 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, February 07, 2006
Gramedia Phobia

Gramedia Matraman sudah tidak lagi menjadi sebuah tempat yang membuatku merasa nyaman. Dua kunjungan terakhir membuktikannya.

Biasanya, toko-toko yang mengizinkan aku menyusuri deretan lemari bukunya sampai 4-5 jam tanpa gangguan 'Ada yang bisa saya bantu' tiap lima menit sekali sudah cukup membuat aku merasa nyaman. Belum lagi judul-judul buku yang ditampung tempat itu; mungkin setiap kata di KBBI sudah dipakai jadi judul buku yang terdaftar di katalognya kali.(Eh, gimana sih? Kok jadi mbulet?)

Jadi, Gramedia, mana pun, bisa memunculkan rasa nyaman. Tapi karena yang paling dekat rumah dan ternyata paling lengkap ada di Matraman, dan karena tempat yang paling sering didatangi itu menimbulkan rasa familiar dan rasa familiar menimbulkan rasa nyaman, kesimpulannya...Gramedia Matramanlah Gramedia yang paling membuat aku merasa nyaman.

Tapi, sekali lagi, dua kunjungan terakhir membuat aku...gelisah.

Aku lupa kunjungan sebelum terakhir kapan, sepertinya dua minggu yang lalu. Tapi kunjunganku yang terakhir itu Senin kemarin; waktu kantorku officially libur, tapi paginya aku tetep harus ke BPOM di Percetakan Negara.

"Horee, I'm free for the afternoon. Nggak harus ke kantor. Jalan ke mana ya?"

Dari rumah sih sebenernya pengen ke kawasan Sarinah Thamrin, lunch di Bakmi GM, ke QB, duduk menikmati sore, atau apalah. Tapi kok pengen ke Gramedia Matraman dulu, pengen nyari bolpen mini yang aku ngeliat iklannya di sebuah majalah cewek.

Asalnya nggak mau jalan ke bagian buku, tapi...sudah terlanjur basah rasanya pas cuma liat-liat alat tulis, ya udah 'natural course'-nya lah, naik ke lantai dua, ke bagian buku-buku.

Tapi gila, man. Tumpukan buku-buku yang biasanya membuat aku ngerasa nyaman itu jadi membuat gelisah, poll. Ceritanya, ngeliat tumpukan buku itu aku jadi keingat sama tumpukan buku di rumah, yang belum kebaca. Terus masih ada lagi, buku-buku yang numpuk di rumah nunggu giliran dibaca itu sepertinya berasal dari kategori "yang salah", yang kayaknya masih ada buku-buku yang lebih penting untuk dibaca. Tapi untuk beli lagi buku-buku yang 'penting' itu juga nggak bisa, karena ada buku-buku yang masih belum selesai dibaca itu.

Oke, untuk meredakan kegelisahan, ya penyelesaiannya.. baca aja buku-buku yang belum dibaca itu. Tapi muncul kegelisahan yang lain, aduh..kenapa ya aku mbacanya nggak bisa cepet? Dan kayaknya aku tidak mengapresiasinya dengan cara yang 'tepat' deh, setidaknya aku belum bisa mencerna terus mengambil sesuatu dari situ, sebagai pelajaran lah.

Dan kepalaku terus langsung merekam betapa buanyaknya judul-judul buku yang masih harus dibaca itu, baik yang udah dibeli, ataupun yang masih numpuk di Gramedia. "Gilaaa, kapan aku bakal selesai dengan semua itu?" Dan aku nggak tau, apakah itu otakku atau hatiku yang berteriak.

Dan no matter how hard I tried, pasti pasti pasti aku bakal tergoda beli sesuatu. Argh, pemborosan uang dan ruang yang sebenarnya bisa dihindarkan dengan akal sehat. Tapi, it's the panic talking, honey.

Anyway, itu baru dari satu aspek; aku sebagai pembaca. Belum lagi aku sebagai...orang yang belajar menulis-lah, biar aman. Naive as it may sound, aku punya mimpi; to write something, publish it, and  for people to enjoy it. Dan ngeliat tumpukan buku di Gramedia itu, aku cuma tersadar: the competition is fierce!

Competition, my ass. Ladang pembantaian itu sebenernya.

Dan kekhawatiran itu punya alasan, kayak:
1. Hmm, aku nggak bisa nemuin 'shelves' that I want to belong in. (Sombong nggak sih?) Well, intinya nggak di bagian 'sastra', karena aku nggak bakal sampai ke level itu. Tapi juga nggak pengen berada di bagian chicklit.

2. Aduh, orang-orang yang kemampuannya udah nggak butuh pengakuan, karena udah jelas-jelas keliatan, hasil karya kerja kerasnya cuman numpuk gitu aja. Dalam tumpukan yang kayaknya tiap aku datang nggak pernah...berkurang. Mungkin persediaan stock roomnya aja sih yang banyak, tapi ada kemungkinan juga kan nggak kebeli?

Akhirnya, daripada ngerasa santai, atau terinspirasi, atau energi-energi positif lainnya yang biasanya aku dapetin dari berkunjung ke toko buku, sekarang.. malah dapetnya pusing karena overload informasi, bingung, dan...wes, pusing, pokoke.

Jadi kayaknya aku harus jauh-jauh dulu dari toko buku nih.

Dan good thing juga sih, mengingat duit di tabungan yang langsung... tipiiis banget, padahal ini baru tanggal berapa nih...


Currently reading:
Hadji Murat
By Leo Tolstoy



Posted at 07:54 pm by i_artharini
Comment (1)  

Sunday, January 15, 2006
A Gilmore Hangover

Dipenuhi dengan kafein, orang berbicara dengan ritme senapan mesin, dan referensi buku, film, dan musik yang top notch. Buat aku, itu rasanya hangover abis maraton nonton Gilmore Girls. Behold, aku baru nonton delapan episode di dua CD dari total enam, yang merekam keseluruhan season 2. Fiuh.

Oke, aku emang nggak harus nonton semuanya, yang pengen nonton kan Rani. Cuman, setelah merasa terinspirasi untuk mbaca lebih banyak buku gara-gara nonton serial itu, masak sih..mau aku tinggal gitu aja?

Kalau sebelumnya aku bilang 'Lorelei Gilmore menjadi seorang yang annoying, tapi any TV show yang mengenalkan aku ke Ayn Rand dan 'The Fountainhead' deserves some respect' harus diralat, menjadi: 'Lorelei Gilmore, at some point, bisa menjadi too annoying. Tapi any TV show yang membuat aku pengen mbaca lebih banyak, listen to some good music, and watch more movies, deserve a lot of respect.'

Dateng ke kantor, akhirnya dihabiskan buat browsing-browsing di Amazon, nyari para Listmania yang udah mbuat ndaftar buku-buku yang muncul di serial itu. Dan ternyata.. menemukan quite a list. Tapi belum nemuin yang fanatic enough, sampe mendaftar referensi pop culture yang disebutin oleh tiap karakter, di tiap episodenya.

Hmm...anyway, jadi ngerasa syohok aja. I',m...23, right? Dan kalau didaftar, kayaknya buku yang aku baca belum sampe 200-300an. 100? Hwuaaa.. aku nggak berani ngedaftar.

Kemarin ngeliat episode Rory berkunjung ke Harvard. Terus, dia terkaget-kaget ngeliat perpustakaannya Harvard yang menyimpan 13 juta buku. Well, I'm not aiming for that. Tapi dia bilang di usia 16, dia udah mbaca sekitar 300an buku. Gludaks.

I sleep too much. (yang akhir-akhir ini kerasanya bener)
I spend my time in doing God knows what.

Argh. I have to get my life back on track nih.
Bukan karena Gilmore Girls aja, tapi secara keseluruhan lah. Feel like slacking too much.   


Currently watching:
Secret Window



Currently reading:
The Rock of Tanios
By Amin Maalouf



Posted at 06:52 pm by i_artharini
Comments (2)  

Friday, January 13, 2006
DVD, DVD

Seorang teman memilih untuk mendaftar keanggotaan sebuah gym dengan harga +/- (kalau nggak salah, seingatku) Rp430 ribu per bulan. Sementara aku memilih untuk menjadi potato couch, dan mendaftar keanggotaan tempat penyewaan DVD di bilangan Blok M dengan membayar Rp 75 ribu per bulan, untuk 2 DVD per hari. Menjadi potato couch memang lebih murah. Setidaknya keanggotaan ini mendukung program nonton film rutin tiap malem-ku. Ya, setidaknya membantu untuk menseriuskan diri dengan program itu lah.

Anyway, sejauh ini sih, sayangnya, dari dua minggu keanggotaan yang udah berjalan, baru nyewa 'Waking Life', 'Flower of My Secrets', 'Pride & Prejudice', 'A Bout de Souffle', sama tadi 'Gilmore Girls' Season 2, pesenannya Rani. (Ok, Lorelei can be such an annoying character, tapi any tv show yang bisa mengenalkan aku ke penulis seperti Ayn Rand dan membuat aku mbaca 'The Fountainhead' yang tebel banget itu, deserves respect). (Lagi berpikir, aku bisa get snuggly weekend ini cuman dengan 'My Beautiful Laundrette' dan 'Ghost World'. Tapi ya sudahlah...Senin kan masih bisa.)

Jadi ngitung-ngitung. Is it possible untuk nonton dua DVD per malem, biar bisa sebulan nyewa 60 DVD? Hmm..kayaknya tricky deh. Tapi ya kalau nyewa dua buat dua hari juga udah balik modal dibanding beli kan? Malahan save 50% juga dari harus beli. Koleksinya boleh juga kok tempat itu. Bahkan 'Cold Comfort Farm' pun ada!



Currently watching:
Breathless
Staring Jean-Paul Belmondo




Currently watching:
In Her Shoes



Currently watching:
Memoirs of a Geisha



Currently watching:
Shopgirl






Posted at 06:23 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, January 02, 2006
Kritikus dan Label

Aku suka banget mbaca review film, terutama kalo yang nulis Peter Bradshaw-nya The Guardian dan Peter Travers-nya Rolling Stone. (Wait, ada apa dengan aku dan penulis review film bernama Peter?). Dari segi gaya penulisan, mereka eksploratif dan kreatif banget. Pasti ada selalu kalimat-kalimatnya yang bener-bener mengena., sinismenya nendang atau bisa mbuat ketawa. Dan secara selera, yaa plus minus apa yang mereka tulis cucoklah.. sama apa yang aku suka.

(For the record, aku juga seneng tulisan-tulisannya F Dewi Ria Utari kalo dia nge-review pertunjukan tari atau teater. Well, terutama tari sih. Karena dia berani bilang "iya, ini bagus karena..." atau "ini tidak bagus karena saya tidak mengerti.." Berdasarkan pengalaman, orang cenderung menyukai sesuatu yang tidak mereka mengerti, karena kesannya it's challenging, out of their mind, dan rumit. Tapi dia, cukup jujur dan tidak pretensius.)

Tapi, tunggu sebentar.

Di sini aku harus berhenti dan merefleksi. Apakah benar aku menyukai sebuah film dan sependapat dengan para kritikus film itu, atau aku menyukainya setelah diberi 'label' oleh para kritikus tersebut. Nggak bisa dipungkiri, aku mendaftar 'must-see films' berdasarkan review-review yang mereka buat.

Aku tidak sadar, betapa fatalnya kondisi ini sampai aku harus membuat review sendiri. Aku jadi tidak berani bertanggungjawab atas seleraku sendiri, caraku menilai suatu film, atau produk budaya lain. Masalahnya, karena aku lebih sering percaya sama selera orang lain daripada my own. Dan ketika aku menulis review, aku cenderung menceritakan tentang produk budaya tersebut, dan tidak menuliskan tentang kesan yang aku peroleh setelah  'menggunakan' produk tersebut. Tidak ada premis yang sebelumnya terbentuk di kepala.

Padahal, kalau nggak salah waktu aku diem-diem mbaca 'Letters to a Young Poet'-nya Rilke sebelum dikasihin ke orang (heheh),  menurut Rilke, hal yang paling tidak menyentuh esensi karya seni adalah review atau criticism.

Ketidakpercayaanku atas penilaian selera sendiri ini juga berlanjut ke mendengarkan musik, sebagai salah satu contoh. Weekend kemarin, Rantje kan baru beli kasetnya 'Letto', band asal Yogya, yang baru aku denger kemaren2 itu lagunya. Tapi Rantje udah pengen beli kasetnya pas tau mereka band dari Yogya.

Anyhow, pas dengerin kaset itu, aku berulang kali nanya ke si Rantje: Siapa sih mereka? Dan Rani bolak-balik njawab, 'band dari Yogya'.

Tapi, tentu saja, jawaban itu tidak membuat aku puas. Yang pengen aku dapetin jawabannya adalah: genre musik mereka apa sih? Cool nggak sih mereka? Atau kualitas mereka cuma seperti 'Radja' berikutnya? Mereka mewakili apa? dst, dst, yang ujung-ujungnya sebenernya cuma menyimpulkan: aku tidak tahu, apakah mereka worth listening to or not. Apakah mereka merepresentasikan 'bad taste' atau 'good taste' dengan keahlian musikalitas nan tinggi.

Sebenarnya kan pertanyaan itu bisa aku jawab sendiri. Worth listening to, karena... Atau not worth listening to, karena... Cuma masalah menemukan hal-hal yang disukai dan tidak disukai kan?

Cuma ya itu, entah karena aku sudah terkungkung di dunia yang semua tentang 'image', sehingga menentukan mereka cool atau tidak pun harus menunggu persetujuan orang lain, pengkotakan genre dari kritikus musik, dan 'company overview' dari perusahaan rekaman, atau...aku sebenarnya memang tidak berani menyatakan pendapat. Contoh gini, aku udah suka sama band itu duluan, terus...perusahaan rekaman mengkategorikan mereka atau memasarkan mereka sebagai band 'emo' misalnya. Misalnya. Aku pasti udah cold turkey, bubar jalan, sambil ber-cuih-cuih. Aku bakalan tidak mau repot-repot untuk find things out.

Oleh para kritikus, semua seperti sudah terkotak-kotak dengan nyaman. Tinggal pilih, konsumsi atau tidak?

Nah, ini yang pada 2006 akan aku kurangin; membaca review sebelum nonton film, salah satunya. Dan instead, ya nulis review sendiri lah.

Intinya sih percaya sama penilaian sendiri, dan mampu memberi alasan deskriptif akan apa yang aku sukai dan tidak sukai; mempertajam apresiasi akan produk budaya yang sedang dipakai.

(Karya seni sebagai produk budaya mungkin bisa jadi entry sendiri ya, kalau karya itu tak beda dengan produk yang dikonsumsi dan setelah habis, dibuang...)

Dan ini yang mbuat penting, note to self, berapa banyak sih film yang udah aku tonton, buku yang udah aku baca? Dan dari semua itu, apa coba yang bisa aku ambil gist-nya? Bisa nggak aku mbuat lima kalimat aja, dari semua itu? Tertatih-tatih banget kan?

Hidup, waktu yang udah terlewat itu, cuman bisa diingat kalau tercatat. Karakternya Guy Pearce di 'Memento' itu ada benarnya.  Bisa dicontoh, walaupun aku nggak punya short-time memory lapse. Kalau nggak, waktu yang udah terlewat ya kelewat aja. Habis, hilang, partikel-partikel yang ditiup angin.

Anyway, ini waktu yang tepat aku rasa. Karena 2006 juga menjadi tahun awal program 'One Movie a Day, 50 Books a Year'. Okeeee... let's start documenting!


Have just finished watching:
The Flower of My Secret



Have just finished watching:
Waking Life
Staring Eamonn Healy


Have just finished watching:
Pride and Prejudice (Special Edition)




Posted at 08:13 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, December 27, 2005
Ya Udah, Terserah...

Ohh..udah gitu aja jadinya yang namanya temen?
Oke, ya sudah.
Have fun with your life.

Posted at 08:00 pm by i_artharini
Comment (1)  

Monday, December 26, 2005
Run Baby Run

Percakapan awalnya berjalan normal. Sampai aku melihat seseorang memencet tuts telepon, dan deringan terdengar dari jarak dekat.

Love can be so strange
Don't it amaze you?
Every time you give yourself away
It comes back to haunt you
Love's an elusive charm and it can be painful

Seseorang di dekatku melihat ke arah layar LCD dan mengangkatnya. "Halo?" sapanya dengan lembut. Dari seberang, aku melihat kepala yang bergerak menyembunyikan diri dari tatapan tajamku, sedikit di belakang komputer.

Ah, aku mengerti tanda-tanda itu. Remote control mini dari sebuah mp3 player aku pencet beberapa kali. Volume kini berada di ambang 20.

Berbahaya untuk telingaku, aku tahu. Tapi setidaknya itu mengamankan hati dari reaksi-reaksi yang membuat orang lain tidak nyaman.

To understand thIS CRAZY WORLD
BUT YOU'RE NOT GONNA CRACK
NO YOU'RE NEVER GONNA CRACK

RUN MY BABY RUN MY BABY RUN
RUN FROM THE NOISE OF THE STREET AND THE LOADED GUN
TOO LATE FOR SOLUTIONS TO SOLVE IN THE SETTING SUN
SO RUN MY BABY RUN MY BABY RUN

Di depan, perempuan muda itu mulai berdiri, membereskan barang-barangnya. Teleponnya sudah dimatikan. Di sebelah, sosok pemegang telepon juga sudah menjauhkan gagang dari kepalanya, tapi gelombang-gelombang elektromagnetik telepon genggamnya masih terpancar di layar komputerku.

LIFE CAN BE SO CRUEL
DON'T IT ASTOUND YOU?
SO WHEN NOTHING SEEMS TOO CERTAIN OR SAFE

Di sebelahku, sosok itu memencet sesuatu, dan ia meletakkan telepon genggam di sisi kiri layar komputernya. Ia kembali melihat ke layar, dan mengarahkan panah mouse ke ujung kiri layar, dan mematikan komputer. Ah, keadaan mulai aman.

LET IT BURN THROUGH YOU
YOU CAN KEEP IT PURE ON THE INside
And you know what you believe to be right
So you're not gonna crack
No you're never gonna crack

(Duh, Tuhan. Terima kasih atas mp3 player, atau earphone lah setidaknya. Tapi, aku kok jahat sih? Kenapa sih, nggak bisa normal aja?)


Posted at 09:07 pm by i_artharini
Make a comment  

Ritual Natal

Hmm.. walaupun tidak merayakan, tapi ada ritual-ritual Natal, atau setidaknya menjelang Natal, yang aku kangenin, seperti...

a. duduk nyaman di tengah ruangan berpemanas di depan tivi, sambil ceklak-ceklek remote dan hanya menemukan berbagai versi dari apa itu.. ceritanya Charles Dickens tentang Ebenezer Scrooge, yang didatangi ghost of christmas past, present, dan future. Terus berakhir dengan Timmy kecil yang berkata dengan suara bergetar, "Merry Christmas, everyone!"

(sebentar, googling dulu...)

AH! 'A Christmas Carol' judulnya!

b. melihat ke luar jendela, bersiap-siap mau pergi keluar, tapi batal, karena ngeliat lautan putih dan jejak-jejak kaki orang, dan membayangkan: hiiii.. pasti dingin banget.

c. ngumpul di kamar seorang temen. Prasma, kayaknya, most likely. Berhangat-hangat, hang out di depan tivi, menghabiskan waktu libur yang kemungkinan akan terus berlanjut sampai malam tahun baru.

Tahun kemarin... oh iya, aku menghabiskan malam Natal di tempat seorang Eyang. Tahun sebelumnya lagi, kayaknya waktu itu ke Weesp deh. Menemani, well, tepatnya diundang sih sama Denny, buat dinner di tempatnya.

Tapi at that moment, ah gila. Bener-bener sendirian. Aku inget hari itu aku tetep ke sekolah, buat cuman sekedar online bentar. Dan akhirnya, luckily, 'ketemu' Denny di messenger.

Tiwas udah sediih banget karena malam Natal bakal sendirian. Tapi ternyata dapet undangan last minute. Hmm, emang tidak merayakan sih, tapi iklan-iklan, billboard-billboard yang dipasang menjelang Natal sudah membangun harapan-harapan akan sekelompok keluarga dekat atau teman-teman yang akan menemani sehingga tidak sendirian. Waktu spesial untuk dihabiskan bersama keluarga dekat lah.

Oh iya, kangen juga sama rush orang-orang belanja di Albertheijn, berjalan di sepanjang Kalverstraat dan ngeliat lampu-lampu di depan toko-toko, Kermis di Dam., toetje-toetje yang semakin mewah dengan semakin mendekatnya Natal dan Tahun Baru. (Dulu aku sering tambah gendut nggak sih menjelang akhir tahun?)

Ah, hidup...aku dulu di mana, sekarang di tempat lain lagi...
*sigh*

Posted at 08:36 pm by i_artharini
Make a comment  

Sunday, December 25, 2005
Happy Couples are My Enemy

Aku selalu merasa marah, kesal, dan berlaku tidak ramah pada teman-temanku yang sedang memiliki pasangan. Dan aku dulu merasa, itu adalah bagian dari sebuah fase menjadi dewasa. Pasti, aku nanti akan menertawai sosok aku yang selalu iri melihat kasih sayang antara dua kekasih.

Tapi sekarang aku yakin, aku tidak akan menjadi sosok yang lebih baik, di masa depan, ketika melihat seorang teman memiliki pasangan, sementara aku single.

Nggak peduli, seberapa keras aku berusaha untuk tetap ramah, tersenyum, ikut berbahagia (dan percaya deh, semua itu benar-benar atas dasar ketulusan), akan ada titik-titik saat aku merasa iri dengan kasih sayang yang ter-ping-pong dari dua arah itu.

Dan ya mungkin memang harus diterima aja, kalau aku tidak akan menjadi teman yang baik untuk mereka yang sedang berpasangan. Teman baik untuk nonton, untuk nemenin ke toko buku, main bowling, curhat tentang cowok-cowok bajingan, berbohong pada ortumu, tidak menilai seleramu atas segala sesuatunya atau apapun tindakanmu, hold your hand when you terminate a pregnancy, hayuhlah.

Tapi ketika aku mendengar sweet talks, sweet dates, dan melihat sweet gestures... Maafkan. Tapi aku yakin, aku tidak akan menjadi seorang teman yang baik. Aku tidak mampu untuk 'bersikap normal'.

Sindiran tajam, tatapan mata penuh rasa iri, reaksi berlebih, perilaku kasar; yang jatuh-jatuhnya akan membuat orang sakit hati, pasti akan ada yang terlontar, walaupun dijaga seminim mungkin.

Jadi sudahlah.
Entah aku mengatakan ini pada siapa.
Tapi sepertinya lebih untuk diriku sendiri.

That I'm not a good person when it comes to my friend being couple.
Dan, aku juga malas untuk 'deal with it'.

Apa yang harus di-deal with?

Ada teman yang cocok untuk ngrokok di bawah, tapi bukan untuk percakapan panjang tentang hidup. Ada yang cocok untuk bertanya tentang cara menulis, tapi tidak untuk teman muter-muter nggak jelas keliling kota. (Dan ada yang cuma cocok buat kissing-buddy, tapi nggak buat pacar, heheh).

Mungkin ini sih yang lebih harus di-deal with:

Apakah kesadaranku 'diizinkan' untuk tidak merasa bersalah ketika mendengar tawa bahagia seseorang, terus kepala dan hati jadi merasa terbelah saking sakitnya, dan akhirnya pengen meredam sumber suara dengan melempar layar komputer?

No, honey. I don't hate you.
Mungkin kamu tidak percaya, tapi I'm happy for you. I really do.
It's just that my genes, they are not made to stand seeing people who are in love.

Akhirnya, ya, cari aku untuk sesuatu yang lain. Tapi I'm not good at respecting the coupling part.

Posted at 05:54 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page