"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Wednesday, January 30, 2008
Tentang Perangkap dan Pola
"Itu bagus. Nulisnya penuh cinta ya?"
"Haha. Masa sih?"
Di antara tulisan-tulisan lain yang memang sengaja diposisikan untuk
membuat terkesan, yang ini cuma diinginkan jadi sesuatu yang jujur.
Mungkin karena, aku menebak, obyeknya bisa dibuat terkesan dengan
kejujuran.
Halah, ini sih ya taktik baru lagi namanya. Walaupun masih ragu, kayaknya pas nulis nggak penuh cinta deh...
(Tapi, sebenarnya, bisa nggak seorang cowok dibuat terkesan dengan tulisan?)
Oke, yang ini benar-benar nggak ada cute-cutenya, cuma menarik. Dan
dengan 'menarik' buatku artinya sama dengan pertama, pintar,
kedua...mungkin--mungkin lho, mungkin--jutek.
(Ini ada hubungannya dengan pola. Pas mendengarkan mp3 kemarin,
tersadar isinya ada The Strokes, Kings of Leon, The
Raconteurs...ternyata aku punya preferensi ke band-band cool yang
anggotanya cowok-cowok cuek yang benar-benar too cool for school, and
even if we're on the same school, wouldn't give me their time of day.
Yang jutek dan cuek. Damn it, Lizzie Bennett--agak berima kan?--Nari,
elu mengejar Mr Darcy ternyata.
Bukan Mr Darcy yang sudah reformis dan sombongnya agak berkurang, tapi
Mr Darcy di pesta dansa pertama di Longbourn yang menolak dansa dan
meremehkan Lizzie. Damn it, baru sadar aku.)
Pas mau ketemuan, pakai maskara Volume Express Maybelline punya ibu
yang tidak membuat bulu mata terlihat menebal, tapi malah jadi
jarang-jarang dan menjulang banget tingginya.
Aku nggak yakin sih apakah perangkapnya bekerja. Sampai akhir ketemuan, mungkin sih cuma karena penasaran, tapi dia nanya:
"Mbak aslinya orang mana?"
"Orang mana hayo?" (mengingat mukaku yang sering dianggap ambigu secara etnis)
"Orang Jawa ya?" (sinismenya yang hampir tak kentara tak lepas dari
tangkapan telingaku. Dan melihat dari ekspresi nyinyirnya juga sih...)
"Kok sinis sih. Taunya dari mana?"
"Soalnya kalo orang Jawa biasanya matanya kayak gitu."
Oh, yeah. Dia masuk perangkap. " The prettiest, silliest, most affected, husband-hunting butterfly" sudah lahir.
Terus di depan wastafel kan ada cermin. Pas ngelihat, halah, matanya
kok jadi coklat banget sih, kayanya biasanya nggak secoklat itu deh.
Tapi ya biasanya bulu matanya kan nggak pernah diangkat sevulgar itu.
(Bener lho, pake Volume Express, aku merasa itu bulu mata jadi
perangkat pornografi gitu, karena matanya kesannya telanjang)
Tapi nggak ada lanjutannya gitu ya sekarang.
Yeah, that never stop you before right?
Iya sih.
Hehehe.
Posted at 03:10 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, January 22, 2008
Izinkan aku mengutip isi sebuah surat:
'I can listen no longer in silence. I must speak to you by such means
as are within my reach. You pierce my soul. I am half agony, half hope.
Tell me not that I am too late, that such precious feelings are gone
for ever. I offer myself to you again with a heart even more your own,
than when you almost broke it eight years and a half ago. Dare not say
that man forgets sooner than woman, that his love has an earlier death.
I have loved none but you. Unjust I may have been, weak and resentful I
have been, but never inconstant. You alone have brought me to Bath. For
you alone I think and plan. --Have you not seen this? Can you fail to
understand my wishes?--I had not waited even these ten days, could I
have read your feelings, as I think you must have penetrated mine. I
can hardly write. I am every instant hearing something which overpowers
me. You sink your voice, but I can distinguish the tones of that voice
when they would be lost on others. --Too good, too excellent creature!
You do us justice indeed. You do believe that there is true attachment
and constancy among men. Believe it to be most fervent, most deviating
in
F.W.
Benar, Jane Austen, 'such a letter was not to be soon recovered from'.
(Kutipan surat di atas aku ambil dari 'Persuasion'-nya Jane Austen, btw).
Itu lho yang aku pengen ada di hidupku sekarang. Passion, hasrat, hati. As well as wanting someone with a heart.
Jane Austen katanya selalu memberikan peran 'man of books' untuk
karakter-karakter hero-nya. Darcy, Mr Knightley, Henry Tilney seperti
itu. Aku juga pengen punya my own man of books, tapi aku juga pengen si
man of books ini menggunakan hatinya.
Nggak selalu berarti dia harus mellow-mellow dan/atau puitis, tapi ada
sesuatu yang sifatnya personal yang muncul dalam interaksinya. Ada
rekam jejak kepribadiannya gitu yang berbekas di aku, atau tandatangan
kepribadiannya gitu. Bukan sekedar sesuatu yang impersonal.
Ah, I am now without a crush in sight.
Posted at 06:58 pm by i_artharini
Permalink
Monday, January 07, 2008
Nothing says 'mediocre geek' more than wearing a Windows Vista t-shirt
while in a gym. Apalagi kalau di punggungnya ada tulisan "The 'Wow'
starts now".
Tapi semuanya itu baru disadari setelah kaosnya aku pakai dan mulai
jalan di treadmill. Dan aku juga baru sadar kalau ada tulisan "the
wow.."-nya itu pas sudah di gym.
Anyway, I'm back on my gym, sebagai bagian dari pemenuhan dua resolusi 2008 sekaligus.
1. Plan your day for tomorrow and stick to it.
2. Lose 23 kgs.
Tahun-tahunku menjadi seorang slacker seharusnya sudah selesai.
Pasalnya, tahun ini aku akan jadi 25. Itu usia yang serius. Nggak
seserius itu sampai nggak bisa ketawa-ketawa, tapi ibuku menikah di
usia 26. Tidak berarti aku ingin mengikuti jejaknya pada usia 26, tapi
buatku, ini seharusnya jadi tahun awal bagi hal-hal besar mulai terjadi
di hidupku.
Melihat ke belakang, aku nggak yakin ada sesuatu yang bisa dibanggakan
gitu. Sesuatu yang aku inginkan banget terus tercapai berkat usaha
sendiri. Mungkin juga karena aku belum pernah menginginkan sesuatu that
bad, dan belum pernah berusaha that hard. Jadi, ini dua resolusi lagi.
3. (duh jadi deg-degan deh mau nulisnya...) Liburan dua minggu ke
Kamboja (Phnom Penh, Siem Reap), Vietnam (Saigon, walopun pengen juga
sampe Hanoi), kemungkinan besar masuk lewat Bangkok dan pengennya
sampai ke Laos, kalau waktu dan duit memungkinkan.
Pengennya sih Maret, tapi kayaknya terlalu mepet, harganya udah agak
mahal dan pasporku bentar lagi udah mau mati, jadi masih harus ngurus
dulu. Jadi mungkin Mei.
Buat resolusi yang ini, aku belum menemukan partner jalan. Worse come
to worst, ya mungkin harus melihat dan mempertimbangkan kemungkinan
jalan sendiri.
Ok, next.
4. Punya manuskrip yang siap ditunjukin ke penerbit.
Aku sudah memimpikannya terlalu lama. Aku sudah menulis tentang terlalu
banyak hal, kecuali untuk manuskrip ini. Kalau aku mau karir
kepenulisanku (tsaaahhh) bisa take off, mulai lakukan sekarang.
So far, aku punya dua halaman, hehe. Ok, aku akui, it's still nothing, tapi kayaknya aku mulai melihat cahayanya deh.
5. Menepati komitmen-komitmen yang sudah aku buat ke orang-orang yang
percaya sama aku. Buat blog Cerpen dan Teenlit, contohnya.
6. Belajar nyetir.
Really, walaupun malu mengakuinya, and as sad as it may sound, tapi ya...I can't drive a car.
7. Ngurus persyaratan administrasi buat ngedaftar beasiswa-beasiswa. Dan ngedaftar beasiswa-beasiswa.
8. Read 50 books a year. Agak basi sih, tapi buatku ini bakal jadi
tahun ketiga program ini jalan. Tahun-tahun sebelumnya sih, close call
lah, 45-an gitu...
9. I do still want to have 50 dates a year too, dalam rangka mencari
temen nonton yang bisa di-upgrade jadi cowok, atau ya sekedar
kenalan-kenalan sama orang-orang baru, trying to find out my femme
fatale IQ, hehe. Pokoknya yang hopefully bisa membawaku ke resolusi
nomor 10...
10. Punya cerita cinta yang berakhir bahagia.
What can I say, I'm a hopeless romantic. Atau mungkin harusnya diganti jadi hopeful romantic?
Wish me luck.
Di samping life-list yang sudah aku catat di posting-posting
sebelumnya, kayaknya ini resolusi tahunan pertama yang aku catat deh.
Dan aku rasa paling realistis gitu. Yes, even the number 10 one.
Dan aku jadi heran juga di akhir tulisan, membaca ulang
resolusi-resolusi itu, kenapa nggak ada yang berhubungan sama kerjaan,
alih profesi, atau nambah pemasukan ya? Apakah itu berarti aku
bahagia-bahagia aja dengan yang sekarang?
Hmm..
Posted at 10:49 am by i_artharini
Permalink
Saturday, December 22, 2007
Rasional: Nari, Nari, Nari. Pulang-pulang dari Bali kok malah membawa drama. Tak diundang pula. Ckckck.
Irasional: Tapi paketnya itu too good to be true. Wartawan handal,
fotografer top, punya banyak cerita dan trik di balik lengan bajunya,
kritikus tulisan, bisa mencegah orang terlalu dalam dengan neurosisnya
sendiri...
Rasional: Kamu lupa yang paling mendasar. Istri dan seorang anak. Memang, too good to be true. Dengan elemen mendasar itu, dia bisa dibilang tidak nyata.
Irasional: Oh, I know that. Dan aku juga cuma mengagumi dari jauh. Tapi
kenapa platonisnya jadi makin mendalam? Sampai merasuk ke dunia mimpi
segala? Sampai sering kepikiran di tengah-tengah siang bolong? Sampai
jadi terbayang-bayang dan kangen? Dan did I mention beberapa jam nge-Google tentang dia?
Rasional: Please, get over yourself. Bisa saja dia hanya mewakili
sebuah simbol, akan ritual dan masa liputan yang kamu rindukan dan
tidak mungkin terulang. Ingat kan betapa kamu, pada senja terakhir,
merasa sangat kehilangan ritual liputan selama dua minggu sebelumnya?
Dan bilang, 'I'm gonna miss this'? Dia adalah bagian dari dua minggu
itu. Kamu cuma merasa kangen sama dua minggu itu, bukan padanya.
(Jeda)
Rasional: Ini hanya sekedar masalah aklimatisasi. Kamu sedang
menyesuaikan diri lagi dengan ritme dan kondisi kerja di Jakarta.
Mungkin kamu sedang bingung. Karena kamu menyukai apa yang kamu
kerjakan dan menyukai kondisi kerja di Bali selama dua minggu terakhir,
tapi tak yakin apakah perasaan itu akan tersisa untuk Jakarta. "Segala
sesuatu yang berhubungan dengan Jakarta itu tidak penting," kata si mas
platonis dan kata seorang teman yang juga habis liputan panjang di luar
negeri. Iya sih, tapi kan kita masih digaji dengan standar Jakarta...
Irasional: Lho, kamu kan harus bersuara rasional, jangan membuat pertanyaan-pertanyaan sendiri dong.
Rasional: Ya, ya, ya. Aku lanjutkan ya, si mas itu, walaupun tak sering
ketemu, mewakili dua minggu saat semua pertanyaan-pertanyaanmu tentang
mimpi dan cita-cita tak perlu lagi terus-terus ditanyakan, karena sudah
otomatis terjawab dengan begitu mudahnya. Iya kan? Sekarang, kamu tak
lagi yakin, apakah jawaban yang kamu dapat di Bali, bisa berlaku juga
di Jakarta.
Kalau kamu bertanya padaku, jawabnya, seharusnya iya, nona. Kalau kamu
tidak takut dengan konsekuensinya, jawaban yang kamu dapat tidak
berlaku surut. Atau berlaku sesuai lokasi. Tapi mungkin kamu masih
takut.
Dan si mas itu, adalah bentuk nyata dari dua minggu saat kamu tidak
merasa takut dengan konsekuensi dan merasa nyaman dengan jawaban yang
kamu dapat. Sepengertianku, lebih mudah mengangeni sesuatu yang nyata
daripada yang abstrak. Si mas itu bentuknya lebih nyata dari rekaman
kenangan selama dua minggu kan?
Irasional: Rasional, apakah aku bisa memercayaimu?
Rasional: Terserah. Aku hanya berusaha membantu. Sepertinya aku
terpaksa berhenti dulu di sini. Kuatkan hati untuk memilih ya.
Posted at 07:43 pm by i_artharini
Permalink
Friday, November 30, 2007
Gosip-gosipnya siihh...salah satu petinggi di sini, waktu bekerja di
kantor sebelumnya, pernah muntah gara-gara mabuk pas deadline.
Sementara gue, ih, udah pengen muntah lihat kondisi meja sendiri di
kantor. Hhheghhhh.
Semangat, semangat.
Posted at 07:48 pm by i_artharini
Permalink
(Pertama-pertama: ah, aku lega pas tahu kalau bukan cuma aku yang bisa
nangis tentang kerjaan ini. Kalau atasanku membacanya, yaa..gimana lagi
ya? Maklumin aja kali ya, hehe)
Seharusnya kan aku nggak perlu deg-degan ya dengan pergi ke Bali? Toh
aku cuma aktris pendukung gitu. Tapi tetep aja, even a supporting
actress harus hapal dialog-dialognya. Dan aku belum belajar. Belum
sempet juga.
Duh kayaknya Sabtu harus crash course deh. Tapi kan pengen belanja
juga. Yah, walaupun aktris pendukung kan tetap harus mikirin kostum...
Posted at 05:36 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, November 29, 2007
Di tengah-tengah mencoret-coret "puff sleeves, balloon skirts, V
neckline, hideous combination", dst waktu menonton pagelaran busana
kemarin malam, aku sempat melihat wajah familiar. Wajah seorang model cowok.
Familiar karena model ini pernah dipakai sebelumnya di sebuah show
kecil di Plaza Indonesia yang aku tonton. Oops, maksudnya yang aku
liput. Waktu itu sih, seingatku, dia berjalan kayak manusia gua gitu
lho. Yang kayak ada pipa paralon terjepit di antara dua kakinya dan dia
harus berjalan sambil tidak mengenai pipa itu... Nah, waktu
di Plaza Indonesia itu, di belakangku ada wartawan cowok. Dia sibuk
ngasih subtitle deh dari awal pagelaran sampai habis. Dari mulai, "Ini
kan si ... ya? Gayanya cool banget deh. Asik gitu." Atau, "Ih, lihat
deh. Gayanya sok cakep banget." Tapi, komentarnya tentang si 'Manusia
Gua' itu yang membuatku terbatuk-batuk. "Hmmmmmm..Duh, liat deh bo', liat deh bo'. Mukanya tuh minta dibawa tidur. Eeeghhh." Yah, aku akan secara resmi menerjemahkan "come-hither look" jadi "minta dibawa tidur".
Tapi yang membuatku ketawa geli pas pertama kali liat si Minta Dibawa
Tidur ini adalah, dia lagi memeragakan sarung, baju koko plus peci.
Yes, ikon seks buat satu pria bisa jadi guru ngaji buat perempuan lain.
Posted at 10:46 pm by i_artharini
Permalink
(milih judul tuh ngeselin nggak sih?)
Hari ini aku belajar bahwa nangis stress sama ketawa histeris karena geli itu dekat banget. Kayak dari A ke B.
Posted at 10:30 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, November 27, 2007
Mata udah kriyip-kriyip, lensa udah minta dicopot, masih ada ibu hamil,
wartawan lingkungan hidup sejati dan webstore builder/wartawan polkam
di kantor. (Ngapain kita masih pada di kantor ya? Aku sih sebenernya
masih ada kerjaan, cuman udah ngantuk dan si temen sharing taksi belum
ada niat-niat pulang..)
Tapi, oke. Ini sekedar pengingat hari aja, biar nggak kelupaan.
1. Cafe au Lait Bowl
I'm seriously (bermain-main sebenernya, tapi main-main yang serius.
Kayak Deathproof atau Kill Bill gitu lho) thinking of being an MT in a
bank. Gila. Ini udah hari kedua berturut-turut aku nongkrong di Cafe au
Lait pagi-pagi dan minum latte yang ukurannya bowl. Kemarin, karena
emang butuh kopi dan belum sarapan. Hari ini, karena emang mau
pagi-pagi ke BKPM. Dan...ck, ck, ck. Deretan cowok-cowok sebayaku yang
rapi dan bersih itu berseliweran nggak berhenti-berhenti. Pagi-pagi
udah membuatku berfantasi aja nih. Walaupun bayangan pertamaku adalah,
hmm....kalau kerja di bank, boleh pake sepatu dengan sentuhan gaya
dominatrix gitu nggak?
2. 'Nyolong' buku di BKPM
Pas ke BKPM, serasa kembali ke dunia nyata deh. Sampai sana udah jam
8.15 menjelang 8.20an, kantor Humasnya masih kosong booo. Padahal di
kantor sebelahnya yang tadi aku tongkrongin, dari jam 7.15an orang udah
ngantre cuman buat naik lift ke tempat kerja. Orwell-ian banget nggak
sih?
Nunggu-menunggu, muncul seorang bapak dari dalam lift yang aku pikir si
bapak humas. Ternyata dia dari biro hukum. Untungnya baik. Dia ternyata
punya saudara di tempatku bekerja, yang aku kenal juga, redaktur kelas
atas deh. Akhirnya si bapak ini nelponin bapak humasnya dan dari situ
disuruh untuk langsung aja ke bagian yang aku butuhin, nggak perlu
pakai surat-surat pengantar atau sejenisnya. Dua pegawai lain, yang
muncul sebelum si bapak ini muncul, dari tadi cuman sok cuek aja.
Akhirnya, pas ke bawah, ya intinya sih data lengkapnya nggak bisa
didapetin hari ini, dan aku masih harus nge-faks surat permohonan, etc,
etc. Tapi si bapak kabag data itu ngasih buku contoh laporan bulanan
BKPM. Aku baca-baca, kayaknya sih ini udah lengkap. Tapi terus aku
dioper ke bawahannya. Pas selesai nge-brief apa yang aku butuhin, itu
buku mau aku tinggal di meja, eh si bawahan bilang: "ini bukunya jangan
sampai ketinggalan". Ya sudahlah, aku masukin ke tas, tasnya ditutup.
Eh pas pamit sama si kabagnya, dia bilang: "ya sudah nanti difaks aja
suratnya, no-nya.....kalau mau bukunya yang tadi itu, daftar dulu, buat
izin, dst, dst". Dan ya of course lah, itu buku udah ada di dalam tas
dan aku cuma ber-oh ya, oh ya.
Merasa punya barang panas di dalam tas, aku jalan sampai mau
nabrak-nabrak, nunggu 46 kok juga nggak datang-datang, keburu itu si
bapak muncul di tikungan antara Direktorat Pajak-BKPM. Dan pas bisnya
datang, hahaha, jadi ngerasa lega. Padahal kalau dipikir-pikir, katanya
itu buku ada versi lengkapnya di situsnya. Cuma aku suka rada nggak
percaya gitu. Takutnya ada sejenis glitch teknis yang membuatku nggak
dapet data itu...Stupid nggak?
Dan aku men-Yudhistira-kan keadaan itu dengan bilang dalam hati: "Lha kan tadi udah disuruh mbawa ama mbaknya". Hehehe.
3. Nge-mail UNFCCC
Seharian udah mbayangin bakal sepedaan di Nusa Dua. Pulang dari Bali
dengan muka dan lengan yang tambah hitam dan terbakar. Tapi kerasa
happy gitu karena fit dan berhasil menyelesaikan sebuah misi yang bisa
ditaruh di CV, hehe. Telpon-telpon ke media centernya juga nggak ada
yang ngangkat. Dan ternyata, by the end of the day, udah dapet status
Ok. Wohoo, I'm going to Bali!
4. Edisi akhir tahun
Ah, seharian habisnya buat 'deskripsi acara' ama konversi data
kunjungan wisatawan 1997an sampe 2006 atau mid 2007 di empat negara,
plus data pemasukannya. One thing for sure, Malaysian tourism is scary.
Singapura ama Thailand--walaupun nominal pemasukannya gede--tetep
labil. Malaysia tuh naik terus grafiknya.
5. Nggosip
And this is where I have my 6th and 7th cigs of the year. I'm only
planning to have five each year. Tapi ternyata...hhaeghhh. My first is
at my last birthday, terakhir, saat beresolusi untuk berhenti.
Keduanya, dua minggu kemudian, minta punya Sic, cuman karena craving
aja gitu. Ketiganya...oh, abis pulang dari Mapia, pertama kali masuk
mingguan lagi dan deg-degan disuruh nulis 'Jeda'. Nomor empat, pas
Lebaran. Thanks to bulik-bulik cerewet yang (entah gimana dan jangan
tanya kenapa) buatku jadi terlihat keren dengan menghirup kopi dan
nggosip dan ngrokok setelah anak-anak mereka SMP-SMA. Kelima, oh, pas
sendirian di rumah, yang ngerasa patah hati ama kerjaan itu lho. Terus
aku memberi pembenaran dengan: you're allowed to have one when you're
heart is breaking. Hehe.
Enam dan tujuh? Ugh, nggak ada alasan kuat buat yang dua ini, kecuali indulging. Huks.
Ah, ini si taxi-sharer kok belum mau pulang seehhh?
Posted at 10:14 pm by i_artharini
Permalink
Monday, November 26, 2007
Life List 2 (sedikit modifikasi)
(Yang terakhir sebelum mulai ngetik tugas-tugas terbengkalai)
22. Bisa memasak, menjahit, mem-bake kue. Pokoknya ilmu-ilmu domestik
yang katanya merupakan bagian dari peran tradisional perempuan itu, aku
harus bisa. Bukan masalah kodrat atau sesuatu seklise itu sih, cuma
karena kemampuan-kemampuan itu bisa membuat hidup lebih nyaman. Dan itu
sebenarnya yang dituju.
Dari sedikit perbincangan dengan Sic:
"Gue juga bisa ke London gara-gara itu lho. Ditulis aja. Nggak nyangka
gimana bisa akhirnya kesampean.... Tulisan elu menang sesuatu juga
harus ditulis."
Oh iya, ya.
Aku: "Aku pengen menang sesuatu yang bisa nambah tabungan."
Sic: "Ah sebenernya enggak harus gitu juga. Elu menang aja kan elu udah
nggak mikir yang lain-lain lagi (apakah kutipanku tepat? Tapi intinya
sih itu)."
Aku: "Hhmm..mungkin sih."
Tapi, oke.
23. Tulisanku bisa menang suatu penghargaan positif.
Sic: Gue, ke London kesampean. Kuliah juga jadi. Yang nggak jadi cuma punya kisah cinta yang menyenangkan.
Aku: Berarti nulisnya harus "punya kisah cinta menyenangkan yang berakhir bahagia."
Sic: Iya ya. Kalau cuma menyenangkan aja, buat orang yang masokis kayak gue kan ya jadi nggak berakhir bahagia ya?
Jadi,
24. Punya kisah cinta menyenangkan yang berakhir bahagia. Ini berlaku mulai sekarang. Harapannya sih buat 2008, hehe.
Dan, oh, tentang keinginan get married, have kids, mungkin aku harus
nambahin ini: Since I'm a hopeless incurable romantic, I hope to marry
for love. There will be movies to watch every night, or every Friday
night, yang semuanya berakhir dengan make out session ^_^
Ah, beberapa redaktur sudah muncul buat rapat pagi. Dan aku, harus kembali bekerja..
(ps: Aku tiba-tiba mengerti tentang fenomena chicklit yang meledak itu.
Blog ini, sepertinya, sudah mulai senafas dengan chicklit-chicklit itu.
Sepertinya tidak bisa dihindari. Kayak ada sebuah proses inisiasi yang
membuatku jadi seperti ini, tapi aku lupa kapan dilakukannya dan
bagaimana itu bisa merubahku jadi chicklit-ers. Tapi nggak ada yang
salah juga kan ya dengan jadi seperti itu?)
Posted at 08:57 am by i_artharini
Permalink
|
|
|