"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Wednesday, January 31, 2007
Eye Candy, Insto, Better than Prozac (I think...)
Yesss. Aku memasang foto ini sebagai wallpaper komputer. Di-tile-in.
Ohh...McDreamy. Everytime I closed all the windows in my computer, and
I catch a glimpse of him...oh, I think I'm having a tiny piece of
McOrgasm.
(Kata QQ: "Duh, Nari. Elu kok kayak Indonesia aja sih. Bisanya cuma di atas kertas.")
Posted at 07:48 pm by i_artharini
Permalink
Saturday, January 27, 2007
Other than my mom dreaming about my future husband, I think I got a
glimpse of what 24 is all about. Jadi, beberapa waktu lalu, ceritanya
aku rada ngerasa ampang, kosong gitu. Nggak antusias lagi ama kerjaan,
atau buku, atau belajar, atau nulis. Tahun baru aja (dua tahun baru,
tepatnya) nggak membawa optimisme apa-apa buatku.
Walopun, kalo diliat, everything is...fine. Fine dalam artian nothing
is bothering me secara substansial. Kecuali ya...the absent of
excitement. Nggak ada itu lhooo...that jolt of fire. Motor di otak tuh
kayaknya nggak nyala-nyala, dan nggak ada tujuan buat pergi juga
gitu...Pokoknya semua datar aja. Apakah aku ngerasa bosan?
Aku masih meraba-raba dalam gelap sih sebenernya tentang apa yang
terjadi. Jadi, ketika aku merasa menemukan jawaban, aku nggak yakin
apakah pada awalnya aku memang sedang nyari sesuatu. Dan aku ngerasa,
it has to do with being older.
Semua-semua di sekitarku aku rasa gitu-gitu aja, nggak berubah. Tapi
mungkin caraku menghadapinya yang berbeda. Nggak bisa kayak waktu abis
lulus kuliah. Aku udah jadi lebih skeptis, jadi nggak gampang antusias,
nggak gampang terinspirasi, jadi semangat dalam hati tuh nggak semudah
dulu munculnya.
Mungkin karena alasan-alasan itu juga, aku jadi lebih susah mbaca,
karena sugesti nggak segampang beberapa tahun lalu masuknya ke otak.
Sama juga pas belajar. Filter otak jadi lebih ketat, lebih ketat dari
perbatasan Amerika Serikat kayaknya.
Dan as for writing and working, ya mungkin karena sekarang lagi
masa-masanya ketahanan itu diuji. Stimulus yang dikasih di tempat
kerja, sama halnya kayak sugesti-sugesti di luar tempat kerja, nggak
lagi segampang itu menginspirasi untuk do my best.
Nggak heran kalau aku ngerasa 'bosan', karena aku berharap hal-hal yang
dulu membuat aku terinspirasi dan bersemangat, terus-terusan akan
membuatku terinspirasi dan bersemangat. Yah, sama kayak Spice Girls
atau every other boyband I screamed on during my teenhood, beberapa
dari hal-hal itu jadi melempem.
Kalo buat bacaan atau menulis, I hope those things nggak bakal
melempem. Tapi mungkin aku harus memaknainya dengan cara yang beda. Dan
aku bisa dengan gampang gonta-ganti penulis kesukaan.
Tapi gimana dengan tempat kerja? Well, I can change work place. Oke,
itu mungkin rencana jangka....lima tahun? Atau terlalu lama? Anyway,
apa yang penting sekarang, to survive day-by-day in my workplace, ya
lagi-lagi memaknainya dengan cara yang berbeda.
Sekarang menyemangati udah jadi tugas diri sendiri. Gimana caranya
nemuin hal-hal yang masih menantang. Atau hal-hal yang masih
disenengin. Atau nemuin harapan dan optimisme lagi. Dan nggak
bergantung sama apakah lingkungan kerja kita ngasih stimulus.
Belajar juga gitu rasanya. Ya, mencoba menggali aja ilmu apa yang
pengen dicari instead of males2. Bener juga ternyata, as you get older,
menyerap pelajaran jadi lebih susah. Karena kita nggak semudah itu
percaya. Kalau buat yang ini, aku masih belum nemu gimana caranya untuk
ngerasa haus lagi.
Posted at 09:27 pm by i_artharini
Permalink
Reading Notes: Namaku Merah Kirmizi
Middlemarch ternyata jadi terlalu lambat. Bukan sebuah buku yang bisa
dibaca di angkot atau di bis. Well mungkin bisa sih, asal traffic di
luar nggak menimbulkan keributan luar biasa dan nggak keganggu
konsentrasinya tiap kali bisnya ngerem setiap beberapa detik. So, untuk
sementara mungkin bukan bacaan angkot.
Instead, I'm picking up Namaku Merah Kirmizi-nya Orhan Pamuk. Kayaknya
sih bahasanya lebih simpel (karena terjemahan bahasa Indonesia juga
kali ya..) dan ceritanya lebih eksotis. Plus, tebakanku, ceritanya
lebih cepat mengalir dan melibatkan penyelesaian sebuah misteri.
Aku selalu suka sih cerita-cerita atau bagian dari sejarah yang
kayaknya bakal membuat Indiana Jones memulai salah satu ekspedisinya.
Despite hating Da Vinci Code, aku cukup suka tinjauan-tinjauan sejarah
yang dipakai Dan Brown. Eh...bukan dipakai ding, tapi diplagiat.
Aku nggak tau apakah ceritanya My Name is Red bakal membuat Indiana
mulai berekspedisi, tapi aku suka settingnya. Yah, kayaknya backdrop
yang sesuai buat Indiana Jones. By the way, why am I keep repeating
Indiana Jones?
Oke, kayaknya aku udah terlalu lama nggak browsing-browsing judul di
toko buku deh. Dan ketika aku ke sana, eh ada beberapa buku terjemahan
keren, kayak V for Vendetta (lumayan mahal ya harganya...), trus The
Miraculous Journey of Edward Tulane (duh ngeliat sampulnya aja udah
merasa 'kayaknya ini buku bakalan so sad, it's heartbreaking deh'.
Mbaca Pinokio aja aku nggak tega...), dan ternyata...dua judul dari
trilogi His Dark Materials udah diterbitin (walaupun setelah mbaca
halaman satu Kompas Emas jadi rada ngerasa it's too fantasy for me..)
Sama 'The History of Love'-nya Nicole Krauss juga udah diterbitin.
Sebenernya belum tau apa-apa sih tentang buku ini, selain...yang nulis
istrinya Jonathan Safran Foer. Actually, my feeling was a bit moderate
for Foer's book, but he represents those cool, young writers yang suka
main-main ama bentuk dan kata-kata. And he has Jeffrey Eugenides and
Joyce Carol Oates sebagai pembimbing skripsi. Yes, the perks of being a
literature major in Ivy League universities.
Balik ke My Name is Red? Hehehe, I ended up mbaca ulang setelah pas 51
halaman karena ketinggalan ngejar si narator. Tiap bab, setidaknya
sampai halaman 51, naratornya pindah orang terus. Dan aku terus
bertanya-tanya, is this the same person as before? Karena nggak kuat
ngejar, ngos-ngos-an deh. Dan ooohhh, okeee..kayaknya sekarang mulai
lebih ngerti deh.
Setelah Orhan Pamuk menang Nobel Sastra, seorang redaktur budaya minta
tolong buat nulis tentang Pamuk. Yah, oke menggunakan sumber-sumber The
Guardian, Wikipedia, dan..aku lupa apa lagi. Mungkin bukan nulis, tapi
merangkum tepatnya. So I come to understand, a bit, tentang apa yang
dia 'perjuangkan'. Dan semuanya terangkum dalam satu kutipan yang ia
cantumkan di halaman awal "Namaku..":
"Dan kepunyaan Allahlah Timur dan Barat"
(Al Baqarah: 115)
Hmm...membaca lagi kutipan itu lepas dari halaman buku jadi bisa
ngerasa kenapa orang suka salah paham memaknainya. Mungkin ada yang
memaknainya jadi, "kalo gitu, orang barat harus tunduk sama (agama)
timur dong." Atau mungkin memberi cap murtad pada orang-orang barat
yang (dinilai) lupa pada pemiliknya.
If I may interpret it the way Pamuk sees it, singkatnya, dan
normatifnya, kayaknya ini lebih tentang mentoleransi perbedaan deh.
Bahwa nggak ada yang lebih salah atau lebih benar. Bukan tentang
peradaban siapa yang lebih unggul, karena keduanya berawal dari sumber
yang sama.
Hmmm..aku kayaknya harus balik nulis soal asma. Been fooling around too long.
Posted at 06:34 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, January 21, 2007
"Eh, mbak, mama tadi malem mimpi kamu nikahan lho."
(Uh-oh. Kejadian: Jumat, 19/1 siang)
"Cowoknya tinggi, putih, pake kacamata, agak kutu buku gitu deh."
(Oh, my McGeeky)
"Namanya...mungkin karena kemaren mama lagi nyoba-nyoba font buat kalungku.com kali yaa. Namanya masak Arthur Verdana."
(....)
(Seriously? SERIOUSLY.)
Keinginan bawah sadar itu akhirnya muncul juga ke permukaan. Yep, 24 is when the 'terror' start, I guess.
Posted at 09:00 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, January 17, 2007
2007, the year I turn 24.
The year that I didn't feel anything at the beginning of the year.
Not a single thing.
No overflow of emotion, or resolutions, or regrets.
It was basically just another day gone by.
Basically, a whizz.
Nggak menilai apa yang negatif atau positif dari tahun yang sudah terlewat.
Tapi beneran deh.
Nggak ada injeksi semangat baru.
Atau sesuatu yang nge-kick start gitu.
My life has gotten soooo boring, in fact I only saw cute guys cuman kalo nonton film atau pas masang DVD.
McDreamy, McSteamy, sexy landscaper/gardener, sampe nonton film yg cheesy bukan main kayak Bring It On 3: All or Nothing (Tiga, bayangin. TIGAAAA!), ada cowok keren.
But in real life?
Duh, kayaknya my social life udah mentok mana-mana deh.
Huks huks, I want my energy boost.
I want a new boyfriend.
I want me loving my job again.
I want me loving to write again.
Oke, psychologically, mungkin buruk minta, minta. minta terus.
But for once, lagi pengen something new.
Posted at 09:21 pm by i_artharini
Permalink
Friday, December 29, 2006
"We mortals, men and women, devour many dissapointment between
breakfast and dinner-time; keep back the tears and look a little pale
about the lips, and in answer to inquiries say, "Oh nothing!" Pride
helps us; and pride is not a bad thing when it only urges us to hide
our own hurts--not to hurt others."
('Middlemarch' - George Eliot)
"It is troublesome to talk to such women. They are always wanting
reasons, yet they are too ignorant to understand the merits of any
question, and usually fall back on their moral sense to settle things
after their own taste."
(why do I get the sense that I am
one of those women. Oh, and it's from 'Middlemarch' too. Haven't
decided whether it is a good thing or a bad thing, though. Being one of
those women. But Middlemarch is great, so far.)
Posted at 09:30 pm by i_artharini
Permalink
Saturday, December 23, 2006
Malam minggu harus piket di kantor. Sebenarnya piket pagi, cuman karena
teman piket malam belum pulang dari Dubai, jadi disuruh datang sore
aja, biar piket malam. Anyhoo, sambil makan cordon bleu yang ayamnya
rada alot, nonton Oprah.
Ada seorang perempuan yang selama tiga tahun, sama suaminya, hidup
dengan cara yang paling ekstravagan. Dan, she woke up one morning,
ternyata suaminya udah ilang. Udah, pergi gitu aja. Ninggalin dia.
Nggak ada alasan, nggak ada berita. Udah setahun ilang. Kata si istri,
suaminya adalah seorang narsisis. Itulah yang menyumbang besar ke
kepergiannya.
Yang jadi isu, atau setidaknya salah satunya, adalah si perempuan
pengen dapet penutupan. Closure. Tapi, the message of the story is, you
can never get your closure from a narcissist. So you need to find the
closure somewhere else. Hopefully, it's from the circle of love
(duuhh...begitu self-help book deh kata2nya, circle of love) dari
temen-temen dan keluarga. And to not, never dream about a closure from
him.
Not even think, bahwa someday, di deathbed-nya, dia bakal inget-inget
lagi kesalahan-kesalahan yang udah dilakukannya. Atau memikirkan,
gimana si narcissist bisa tidur tenang malam hari and look at himself
in the mirror.
Karena, buat seorang narcissist, other people didn't exist. Si istri
nggak pernah ada buat si suami, cuman sebuah obyek untuk membuat diri
si suami ngerasa hebat. Sama kayak benda-benda lain dalam hidup si
suami. Oke, I know that I'm already in the rrreaallly OK phase. So I
would just say that it is so true that if someone would said I never
exist for the narcissist. And I felt OK admitting that.
Aku asalnya udah nggak mau posting tentang ini. Karena, what for, toh
aku juga udah pulih. Udah memaafkan. Udah berdamai dengan kenangan.
Udah nggak lagi membutuhkan closure dari dia, karena...well, sebenarnya
aku nggak tau dalam bentuk apa aku mendapat closure. But I just feel
healthy again. And OK. Dan ringan.
Tapi...just in case, aku butuh pengingat. And it was too great a lesson not to be noted down.

Posted at 07:53 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, December 20, 2006
"Isyana hrp ke rumah kebubes inggris skrg jl teuku umar 72 menteng. Wajib"
Pesan itu masuk tadi siang, sekitar jam 12.50 WIB. Lokasi, P6 baruu aja
ngelewatin halte Komdak. Plan of action selanjutnya, oke..turun di
Farmasi, terus nyebrang, terus naik 213.
Jam 13.15, sampe di Taman Suropati. Jalan dikit ke Teuku Umar, udah
nungguin bajaj karena mikir nomor 72 jauh, eh ternyata cuma tiga rumah
dari ujung Teuku Umar. Pikiranku sama sekali blank tentang apa yang
akan aku hadapi, atau kapan sebenarnya jam pertemuan. Pesan singkat
dari redaktur cuman bilang "Perubahn iklim, lingkungan".
Ternyata, sempet di-harass sama satpam-satpam yang bilang, "Acaranya
udah dari tadiii. Jam setengah satuuu. Mbak masuk juga acaranya udah
selesaiii. Metro emang sering gitu, pas Tony Blair dateng juga gituuu."
Hrgghhh.
"Saya cuman disuruh dateng, paakk. Baru dapet undangannya juga jam satuuu."
"Tapi nama mbak nggak ada di daftar."
(melongok. Ternyata yang ada di daftar nama petinggi-petinggi harian
dan majalah berita nasional. Harusnya yang dateng antara Redaktur
Internasional atau Deputi Direktur Pemberitaan).
"Acaranya udah dari tadi mbaaaakk. Masuk juga paling udah selesaaiiii."
Hrrghhh. Orang-orang ini.
Oke, akhirnya, setelah ngobrol bentar ama Head of Press and Public
Affairs-nya, dibawalah aku masuk ke rumah Dubes yang aku bahkan tak
tahu namanya. (Charles Humfrey, sekarang setelah tahu).
Pintu dibuka, ternyata ada meja panjang, 4 orang masing-masing di satu
sisi dan masing-masing satu orang di kepala meja. It was almost an all
boys' club before I came. Para Pemred dan petinggi dengan kemeja batik,
kemeja katun rapi dan dasi. Sementara akuuu....kemeja biru yang
lengannya dilipat, bagian perut yang udah semi-semi nggak muat. Pas,
hari itu aku lagi pake celana yang cut-nya nggak gitu bagus dan jilbab
yang rada fading. Duuhh..lengkap deh melasnya.
Samping kananku, yak, pemred Tempo, depanku pemred The Jakarta Post,
kanannya dia, sekarang Wakil Presiden Senior KKG. Oke, kalau misalnya
Direktur Pemberitaanku nggak bisa dateng, Deputinya nggak bisa dateng,
Redaktur yang diundang nggak bisa dateng, bukankah masih ada Asisten
Redaktur Eksekutif atau Redaktur Eksekutif?
Di satu sisi, it was an eye opening experience. Tentang media-media
berita Indonesia (Jakarta, tepatnya) yang ternyata kok ya masih all
boys club di tingkat pimpinan. So, that might provide a motivation for
me. Or something like that.
Tapi di satu sisi, aku nggak habis pikir dengan cara pikir kantor yang
menyuruh prajurit lapangan dateng ke pertemuan tingkat tinggi seperti
itu. Setidaknya level menteri lah yang dateng. Toh ini juga bukan
sesuatu yang bisa diterbitin, cuma diskusi aja, diskusi tingkat tinggi
gitu.
Pengalaman yang cukup daunting, cukup merasa agak terintimidasi, tapi
berusaha untuk terlihat natural dan sekali mengeluarkan komentar. I
hope I'm not making too much fool of myself.
It only lasts for 15 minutes. Tapi makan siang yang cukup menarik. Eh, cuman sempet dapet dessert ding...
Posted at 10:12 pm by i_artharini
Permalink
Seminggu yang lalu, kurang lebih, aku datang ke acara Komnas Perempuan.
Acaranya tentang pertanggungjawaban publik ama perkenalan anggota
Komnas Perempuan masa bakti 2007-2009.
I try not to be cengeng atau terlalu sentimental, tapi aku cukup
terharu pas anggota-anggota barunya pada dipanggil dan kualifikasi
mereka dibacain. Aduh, serasa kecemasan-kecemasanku akan politisasi
identitas yang makin merebak (halah!) jadi agak terkurangi.
Tapi, ceritanya ada satu komisioner yang membuat aku paling merinding.
And she was soooo pleasant to talk to. Pas kualifikasinya dibacain, ibu
ini dapat tepuk tangan paling meriah.
Dia seorang polisi, pangkatnya sudah Kombes. Dia pernah jadi komandan
pasukan Garuda ke Bosnia-Herzegovina. Aku sengaja nyari beliau pas
mencari 'sampel' komisioner baru untuk diwawancarai.
She was just so warm, so loveable, walaupun tegas. Ramah banget. Dan
kerendahan hatinya itu lho. Caranya dia bilang, "ini masih dunia yang
baru buat saya." Aku nggak nyangka, willingness to learn itu bisa
kedengaran di intonasi.
Terus, "kita masih belum dilihat sebagai bangsa yang beradab kalau belum bisa memperlakukan perempuan dengan baik."
Dan, dia pernah jadi Kabid Humas Polda Bali waktu bom Bali 1 dan 2. But
she was so warm dan bisa ngomong seperti 'manusia biasa'. Nggak kayak
normatif-normatifnya polisi.
Anyway, pas dua hari lalu datang ke acara Komnas Perempuan lain, ibu
ini datang lagi. Aku sempet say hi, dan beliau langsung, "halooo, apa
kabar?" sambil menarik buat cipika-cipiki.
Secara body chemistry, tangannya si ibu ini juga hangat menyenangkan
gitu. Nggak terlalu panas yang sampe berkeringat. (Atau karena ruangan
itu dingin ac-nya nggak kira-kira ya?)
Terus, pas beliau memperkenalkan diri, pas ngomong latar belakangnya
polisi, ada sedikit nada "heh" dari audience. Cukup pelan, hampir tak
kentara, tapi tetap tak lepas dari pendengaran tajam si ibu. "Kenapa
kok 'heh' waktu dengar polisi? Iya memang polisi itu tidak disukai,"
katanya. Tapi terus dia menjelaskan bahwa dia juga jadi instruktur HAM
di sebuah institusi (aku agak lupa apa).
Nah, yang membuat aku teringat-ingat terus dan cheering for her,
gara-gara pas mbaca majalah TEMPO terbaru, edisi Hari Ibu,
ternyata....jreng, jreng, kok ada wajah yang terlihat familiar.
Waaahhh, ternyata si ibu Pengasihan Gaut itu.
Hwalah.
Ternyata, she is all that. And even more.
Selamat buat ibu yang satu ini.
Posted at 06:28 pm by i_artharini
Permalink
Oh My God!
Oke, aku tahu suatu hari ini bakal kejadian ke aku. Tapi aku nggak nyangka bakalan secepat ini.
Terpilih jadi TIME Person of the Year!
(hehehe)
Sebenarnya, membaca berita ini kemarin di Koran Tempo. Tapi baru sekarang sempat nge-blognya.
Yes, kita harus memberi selamat pada diri kita sendiri, para penyumbang
content di internet. Penulis blog, yang nge-post tulisan atau video
atau musik di MySpace dan YouTube, atau mungkin di situs-situs lain,
pokoknya orang-orang yang mengupload content ke internet deh. Selamat.
Yah, walaupun gelar ini harus dibagi dengan entah berapa ratus juta
(atau sudah milyar?) orang yang mengupload content di internet, tapi
mungkin sesekali bisa ditaruh di CV.
'Chosen as TIME Person of the Year 2006'
Posted at 06:19 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|