PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, December 20, 2005
JIFFEST

Darmanto Jatman, dalam bukunya, 'Perilaku Kelas Menengah Indonesia' pernah mengutarakan beberapa ciri-ciri kelas menengah Indonesia. Aku lagi nggak punya bukunya sama aku sekarang, tapi yang paling keinget contohnya: mereka yang mengeret-eret laptop, menenteng Tempo (ouch!), Detik, atau.. aku lupa satunya. Sepertinya Pak Darmanto bisa menambah satu lagi ciri-ciri perilaku kelas menengah Indonesia; Mereka yang menonton Jiffest.

Jiffest, walaupun gegap gempitanya selalu hadir di berbagai media, tidak menjadi suatu event yang terjadwal rutin di agendaku.  Nggak tau kenapa. Well, mungkin aku tau kenapa. Aku pernah mbaca wawancara dengan seorang pembuat film independen yang tidak senang dengan festival-festival film. "Karena terlalu crowded, terlalu banyak orang, terlalu sibuk," cetusnya. (heheh, 'cetus'...)

Dan, aku yang juga nggak seneng dengan atmosfer 'dikejar-kejar' untuk nonton film, mendapat pembenaran tanpa pernah benar-benar mengalaminya. Ya aku dapat sekilas gambaran tentang film festival, tapi tidak mendalam, tapi aku udah keburu mengamini kata-kata si pembuat film itu.

Dan Jiffest sendiri, film-film menonjolnya sering udah muncul di kios-kios dvd bajakan sejak beberapa minggu sebelumnya. Jadi mending milih yang lebih murah dan tenang kan, daripada harus berada di tengah gelombang manusia-manusia kelas menengah Indonesia itu...

Anyhow, kemaren sebenernya pas Jiffest mulai, aku lagi di Yogya dan ketinggalan workshop2 gratisnya. Padahal itu yang lebih pengen aku kejar. Filmnya, cuman pengen liat 'Broken Flowers', tapi pas liat jadwalnya, aku nge-predict aku bakal ketinggalan.

Pas balik ke Jakarta, aku juga masih belum minat ngejar, walaupun festival masih ada empat hari lagi. Sampai, aku akhirnya ketemuan ama seorang kakak kelas.

Waktu si kakak kelas mbuka jaket, eh.. dia udah pake kaos Jiffest. (Snob, snob, snob, kataku dalam hati :D). Dan dia ngakuin, asalnya mau nonton, tapi takut nggak ngerti, akhirnya beli kaosnya aja, biar keliatan keren. Tapi terus dia ngasih buklet jadwalnya.

Sambil setengah minat sih mbolak-mbaliknya. Sampai akhirnya ngeliat.. Broken Flowers ternyata masih ada jadwalnya, trus ada dokumenternya Lars von Trier yang gratis (!!!), ada juga dokumenter The Corporation yang gratis. Dan itu udah aku tungguin sejak setahun lalu. Dan ada beberapa film lain lah yang tampak menarik..

Akhirnya, mbuat jadwal lah aku. Dan dengan aktivitas kompartemenku yang lumayan minim, mengharapkan bisa nonton beberapa yang aku kejar. Terutama 'Broken Flowers'.

Akhirnya, pas hari Kamis nonton 'Mountain Patrol' ama 'Yasmin'. Jumatnya, nonton 'Broken Flowers', Sabtunya...nggak bisa kabur dari rumah, dan Minggu baru nonton lagi. 'Mondovino' ama 'The Five Obstructions'-nya Lars von Trier.

Tapi anyhow, tiga hari nongkrong di TIM itu, ya itulah....ngeliat berbagai potret kelas menengah Indonesia. Mereka, yang dilihat dari gelagat dan cara berpakaiannya, mengesankan tidak pernah pergi ke bioskop sebelumnya. Ya, pakaian yang super stylish...

Dan dalam semangat Holden-esque atau High-Fidelity-ish, mereka yang berpakain semeriah itu tidak benar-benar mencintai film. Mereka tidak menonton Jiffest based on their love of film.

Tapi mereka, seperti katanya Radhar Panca Dahana di Kompas saat dia menulis tentang I La Galigo, menonton karena alasan-alasan sosio-politis. Bukan karena mereka cinta, atau mengerti, atau menyukai, tapi karena datang ke event tersebut dapat menambah nilai tentang siapa mereka di mata orang-orang di sekitarnya.

Dan dengan media hype yang terjadi tentang Jiffest, event ini menjadi sesuatu yang hip. Dan, I hate it. Aku benci segala sesuatunya yang hip.

Dan, di sebelahnya GBB kan ada toko buku kecil yang juga njual DVD bajakan. Udah pada berjejer tuh film-film yang pengen aku tonton dan aku pikir susah nyari bajakannya; Mountain Patrol, dan juga Broken Flowers. Film-film Jiffest juga nggak gitu baru-barulah.

Ya sudah, berarti tahun depan, tak usahlah aku merasa cemas karena belum membeli membership card, atau merasa dikejar-kejar harus menonton suatu film di Jiffest, dan terlihat seperti bagian dari hype.

Posted at 08:21 pm by i_artharini
Make a comment  

Anak Emas

Menghabiskan beberapa puluh menit aja bersama para "Polkam Golden Boys" itu akan selalu berakhir buruk. Make a mental note of it. Nggak pernah ada baiknya buat self-esteem, jatuh-jatuhnya pasti akan ngerasa pencapaian-pencapaianku itu minim arti.

Secara insting, ngeliat The Misogynist dan Paus Biru bareng pun, udah rada-rada ngerasa sebel. "Ih, para anak emas itu," dalam hati pasti langsung ngomong gitu.

Awalnya sih karena kemaleman ngerjain riset data pengungsi Aceh, jadinya udah nggak punya teman makan malam. The Misogynist, yang lagi sibuk ama urusan wakil rakyat lagi pada ngeliat piramida, akhirnya kelaperan tak tertahankan dan ngajakin. Okelah, daripada nggak ada temen. (Aduh, masak aku prefer ditemenin makan malam ama seorang misoginis, hanya demi ada temennya? Does this say something about my relationships pattern?)

Ternyata, The Misogynist alias Golden Boy #2 ngajakin Golden Boy #1, Paus Biru. Tadaa! Sudahlah, aku bakalan jadi pelengkap penderita aja, bakalan lebih sering diem, merasa kecil, etc etc. Tapi, ini re-cap-nya...

Percakapan 1
T(he) M(isogynist): Kemaren, aku ke Bandung lho, terus jalan ke mall... Dan aku kaget, shock. Ituuu, cewek-ceweknya..
P(aus) B(iru): Kenapa? Pada pake baju seksi-seksi ya?
TM: Iyaaaa. Masa pake baju terusan, nggak pake lengan, trus panjangnya cuman seginiii (menggarisi daerah paha, antara pangkal dan lutut). Terus nyalam2in satpamnya segala..Kaget aku. Parah bangeet.
Aku: (keras banget) AHH KALIAANN! DASAR MUNAFIK!

Percakapan 2
Intinya, mereka saling bertukar cerita tentang kompetensi masing-masing dalam menggempur institusi-institusi negara yang menjadi pos-pos mereka. Aduh.. achievement-ku makin tiada arti. Salah satunya si PB, yang cerita dia ngarahin seorang ketua Komisi negara untuk mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang lebih 'mantap', saking dekatnya.

Percakapan 3
PB: Sekarang siapa yang bareng elu di DPR?
TM: Si 'Gupuh Boy' (GB)
PB: Wah mantap itu si GB. Kata temen gue yang waktu itu pernah di Sulianti, dia nanyanya detil banget, "yang mati siapa, kenapa, usianya, masuk kapan," wah pokoknya lengkap banget. Nanyaaaa terus.
TM: Iya, di DPR juga gitu. Mantap kalo nyuri-nyuri data.
PB: Iya, tapi trus data udah banyak gitu, dia nanya ke temen gue: 'Nulisnya gimana ini?'
TM: Kemaren juga, aku suruh nyuri-nyuri data, dapet terus dia. Mantap sekali anak itu.
PB: Calon penjahat lah. Kayak si siapa itu, BabyFace juga. Calon penjahat itu.
Aku: (dalam hati) duh...banyak banget ya yang aku nggak bisa. Nanya tanpa akhir, nyuri data, nembus sumber...Kapan aku jadi calon penjahat.

Percakapan 4
(yang ini okelah, membangun kok buat aku, tapi tetep aja sempet mbuat aku ngerasa 'kecil')

PB: Tulisan elu, yang kemarin tentang novel apa tuh? Jelek.
Aku: (menelan ludah, agak ikhlas menerima kritik, tapi ya shock juga) Yang 'Catcher'?
PB: Ya itulah, gue lupa judulnya. Jelek. Terlalu banyak data. Data kan bisa nyari di internet. Apresiasinya minim.
Aku: Ya, emang itu sih yang aku akuin kurang.
PB: Harusnya pilih satu aja. Karakter yang menarik, contohnya, trus baru.. data melengkapi premise yang udah kita punyain di kepala. Trus kemaren baru dari Yogya ya?
Aku: Iya.
PB: Pertama-tamanya sih oke, tapi mundur-mundur, elo udah capek ya? Udah makin...
Aku: Iya sih, lama-lama bosen.
PB: Kalo buat feature tuh, jangan sering pake 'katanya, katanya'. Diperbanyaklah. Cetusnya, imbuhnya, selanya, tegas, (dan aku lupa apa lagi, tapi dia nyebut setidaknya tujuh variasi lagi di sini. Sesuatu yang cukup mbuat aku ngerasa, 'wah, aku berhadapan dengan penulis handal nih'.)

Hmm.. seorang dewasa pasti akan ngerasa berterimakasih kan dengan advis-advis PB? Dan nggak ngerasa apa-apa lagi. Aku? Berterimakasih, iya. Tapi terus aku jadi ngerasa kecil. (Sigh)

Tipikal aku banget.

Banyak memang yang harus dipelajarin.
Tapi salah satu catatannya: jangan pernah makan bareng para anak emas itu.
(Yah, tips-tips menulis dari PB, masih bolehlah..)

Posted at 07:13 pm by i_artharini
Comment (1)  

Sunday, December 18, 2005
Yogyakarta

Yogya, walaupun dengan semua tuntutan kewajiban yang membuatku berada di sana, tetap bisa membuat hati tentram.

Terakhir kali ke sana, emang belum lama. Baru Lebaran kemarin. Dan itu bukan sesuatu yang aku nikmati. Antara ingin dan tidak ingin mengalami badai kenangan.

Ingin, karena ya, emang kangen sama cerita-cerita yang dulu pernah terjadi di situ. Enggak pengen, karena takut, badai kenangan itu akan terlalu kuat untuk aku hadapi. Kenyataan yang terjadi, aku malah mati rasa. Sesuatu yang membingungkan, karena ternyata aku membenci ke-mati-rasa-an itu.

Tapi, sepuluh hari di Yogya kemarin, walaupun dikejar-kejar per telepon oleh seorang redaktur, dan tiga di hari terakhir, tidak mendapat waktu luang untuk jalan-jalan mengeksplorasi kota sendirian, tetap saja bisa menentramkan hati.

Berada di sana, aku nggak pengen berada di tempat lain. Ada di sana saja sudah cukup.

Aku juga nggak ngerasa iri sama hidup orang lain, relationship-nya orang lain, kemampuannya orang lain, keadaan fisik dan spiritual orang lain; apa yang aku punyai sudah cukup. Yang penting, yang ada di kepala, hanya saat itu, kota itu.

Tidak ada rasa dikejar-kejar oleh sesuatu; bahkan aku merasa mengatakan sesuatu yang sangat konyol, ketika meminta seorang supir taksi mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi, demi mengejar seseorang.

Oke, aku memang masih sempat teringat pada seseorang. Tapi terbatas hanya pada kelebatan nama dan sosok. Tak lebih. Tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Sedang bersama siapa ia sekarang? Apa yang sedang ia baca atau pikirkan sekarang?

So, tetep aja, masih belum kena diskualifikasi pernyataan "Yogya menentramkan hati". 

Kenapa dulu aku tidak menerima Yogya seperti sekarang? 
Aku dulu menginginkan Yogya yang lebih meriah dari sekedar suburban wasteland. Dan Yogya sekarang menjadi lebih meriah dengan papan iklan perumahan baru yang sedang dibangun bertebaran di mana-mana. Pusat-pusat perbelanjaan baru sedang dibangun. Dan aku membenci itu.

Tapi di tengah kecemasan akan Yogya yang mulai menyemburkan api konsumerisme, rasa tentram itu tetap dominan. Ah, keluar dari Jakarta memang menyenangkan.

Dengan segala modus, akhirnya sempat juga satu hari diluangkan untuk lihat Jogja Biennale dan belanja buku ke 'Taman Pintar'. (Ini nama barunya, dulu kan namanya 'Shopping' ya? Tapi aku nggak tau nulisnya sebenernya gimana, karena dibacanya 'soping', dengan 'i' yang lebih menjurus ke 'e' khas orang Jawa). Dan mborong pula. Semua buku pada 30% off, nemu buku-buku yang nggak dicetak lagi.

Hmm, berusaha sebisa mungkin mereload batere, agar kembali kuat menghadapi Jakarta yang akan memeras habis optimisme, kedalaman pikiran, ketenangan hati, kesabaran, dan rasa nrimo atas hidup yang kita jalani.

Dan kembali ke Jakarta, aku berusaha keras untuk tetap terus menjaga kesederhanaan dan kedamaian yang mengendap dari kunjungan Yogya, agar tidak cepat hilang.

Hmm.
Ternyata susah.
Ngeliat kebahagiaan orang lain di depanku, relationship yang sempurna di depanku, pasangan saling menelepon dengan kata-kata manis penuh perhatian untuk satu sama lain...

Ah.

Sudahlah, sudahlah.
Salah satu bagian dari 'pencerahan Yogya' kan memfokuskan diri pada pekerjaan. Dan pada kualitas tulisan. Dan untuk tidak berpikir yang lain-lain.

Ayo, ayo. Let's get to work.


Posted at 02:23 am by i_artharini
Make a comment  

Resensi Buku

Satu Minggu malam, di Yogya, di sebuah hotel bintang lima kala menunggui hasil rapat pengesahan peraih medali Olimpiade sains internasional, aku ngeliat seorang LO yang memegang sebuah lembaran cetakan mencurigakan.

Mencurigakan, karena dilihat dari ukuran lembaran itu dan font tulisan-tulisan di dalamnya, kok seperti Ruang Baca-nya Koran Tempo. Dan itu mengingatkan aku, oh iya, ini hari Minggu. Walaupun bukan minggu keempat, yang jadi waktu terbitnya Ruang Baca, aku tetep aja yakin. Lha, kemarin pas minggu keempat juga nggak terbit.

Berada di Yogya yang mendamaikan hati itu ternyata juga bisa mbuat geregetan kalau udah soal nyari koran. Kompas, dengan cetak jarak jauhnya yang tidak terkalahkan itu, jelas lebih mudah dicari di pagi hari. Sementara, Koran Tempo, harus nyari rada siangan dan di agen yang agak besar. Dan kemarin-kemarin waktu ngeliput, rada siangan itu aku sudah berada di tempat yang agak jauh dari agen koran agak besar.

Ah, semoga hari Minggu ini, Dedi si pengantar koran nggak salah nganterin koran kayak waktu itu, Republika dan bukan Tempo.

Beberapa hari setelah sampai di Jakarta, baru keinget lagi sama Ruang Baca.

Cari-cari di tumpukan belakang, teras, ruang tengah, dan akhirnya ketemu di kamar ortu. Dan, hore! Emang bener ada Ruang Baca, dengan tema yang sudah aku duga sebelumnya, pasti ada hubungannya sama "The Catcher in the Rye".

Heheh, agak iri sih sebenarnya, karena mereka bisa nulis itu dengan lebih elaboratif, mendalam, dengan wawasan yang super luas, dan gaya tulisan yang lentur. Tapi, seneng juga, karena tulisan "Catcher"-ku udah terbit seminggu sebelumnya.

Hmm..
Untung aja, seminggu sebelumnya, tulisanku langsung diterbitin. Kalau enggak ya mati berdiri aja deh. Kalah jauh.

Hmm, can't stop feeling exhilarated selama beberapa menit pas mbolak-mbalik Ruang Baca. Hihihi, aku duluan, aku duluan, aku duluan. Walopun, yah, dari segi kualitas punyaku masih harus di-improve lah.

Tapi, aku duluan, aku duluan, aku duluan. Cuman masalah luck, I guess.

:)    


Posted at 02:01 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, December 16, 2005
I'm Very Good At...

Pas seminggu di Yogya kemarin-kemarin, sempet ketemu seorang anak perempuan berusia sekitar 15 tahunan dari Korea Selatan. Ini anak, agak ajaib. Dia seneng banget ngomong; kasihan yang jadi lawan bicaranya, cuman jadi obyek penderita aja. Jadi ya dia cuman nyari orang yang mau denger dia berbicara.

Nah, karena itu seriing banget omongannya dia cuman di-ohh,ohh-in, atau di-angguk-anggukin aja. Itu buat yang masih sopan. Sering ada yang ninggalin dia begitu aja, karena ini anak nggak bisa di-stop kalo ngomong. Dan ya itu, nggak mbaca situasi, walopun si lawan bicara keliatan enggan, dia masih tetep rajin.

Kasihan juga sih benernya kalau lihat dia dicuekin aja. But well, aku juga nggak tau mau gimana. Dan dia sepertinya juga oke2 aja dengan keadaan itu.

Suatu malam, si gadis Korea yang ternyata bernama Soo itu lagi duduk sendirian di sebuah kursi rotan di depan lift. Dia lagi menulis-nulis sesuatu di bloc note berlogo hotel. Aku nggak sadar kalau dia sedang mendengarkan musik. Jadi, karena aku ngira dia selalu seneng berbicara dan selama ini nggak nemuin orang yang mau diajak bicara, aku mengajaknya ngobrol: "Hi, what are you doing here, sitting alone?"

Hmm, matanya malah ngeliat jutek, dagunya diangkat, dan dia cuma njawab pendek: "Thinking. Just thinking. I'm very good at thinking," sambil terus kembali menulis.

"Oh, okeyyy..."
"And listening to the music," lanjutnya sambil mengeluarkan kabel earphone, sebelum akhirnya kembali menulis.

Aku juga tidak memperpanjang pembicaraan, karena pintu lift sudah membuka. Dan aku sadar, ini anak tidak butuh teman bicara, dia memilih orang yang akan mendengar monolognya. Akan lho, bukan mau.

Btw, kata-katanya tadi so witty, unik, dan mencerminkan rasa percaya dirinya. Ya itu tadi, dia bukan orang yang desperate untuk teman bicara, dia dengan pe-de memilih orang untuk mendengar monolognya.

Dan, hmm, I'm also good at thinking.
Atau, atau, staring out of the window. Hehehe, that is something I can enjoy for hours.

Jadi semangat mendaftar 'things I'm good at' untuk sesuatu yang tidak 'berbentuk'.

Posted at 07:09 pm by i_artharini
Make a comment  

Nobel

Orang yang kata-katanya paling sering aku kutip dalam seminggu terakhir ini, Yohanes Surya, kemarin menyatakan keyakinannya, pada 2020 nanti akan ada kandidat peraih Nobel di bidang sains dari Indonesia. Keyakinannya ini atas dasar anak-anak Indonesia yang sering menang di berbagai Olimpiade Sains internasional.

Logikanya begini: Pak Yohanes ini sering membaca kisah-kisah para pemenang Nobel di bidang sains. Nah, para pemenang Nobel ini dalam riset-risetnya dilatih oleh para pemenang Nobel sebelumnya. Tentu saja, para pemenang Nobel tidak akan memilih sembarang siswa untuk dilatih, mereka akan sangat selektif memilih siswa-siswa unggul. Caranya siswa-siswa calon murid peraih Nobel ini bisa unggul, adalah dengan menjadi juara dunia pada Olimpiade-olimpiade Sains tingkat internasional. Itulah yang membuat dia terus driven untuk melatih anak-anak Indonesia. (Walaupun aku agak bertanya-tanya, emang yang ngebiayain kerjanya Pak Yo ini siapa sih? Dan atas motivasi apa?)

Buktinya, para peraih medali emas Olimpiade Fisika internasional sekarang banyak yang dilatih para peraih Nobel.

"Seperti di Princeton, Oki Gunawan sedang dilatih oleh Daniel Tsui (peraih Nobel Fisika 1998). Lalu ada lagi anak Indonesia yang sedang dilatih oleh peraih Nobel, Wolfgang Ketterle (pemenang Nobel Fisika 2001) di MIT, di Stanford University ada anak Indonesia yang menjadi asisten dosen peraih Nobel, Douglas Osheroff (Nobel Fisika 1996), ada juga Rizal Fajar Haryadi yang sedang berada di California Technical University dan menjadi murid para peraih Nobel di sana. Bahkan Rizal pernah mengajar peraih Nobel Fisika 2004," jelas Yohanes.

(kutipan dari berita-ku kemarin)

Jadi, kata Pak Yohanes, bukan tidak mungkin 2020 nanti Indonesia punya kandidat peraih hadiah Nobel di bidang sains.

Dan percaya atau tidak, Nobel, setidaknya pada bidang sains, jatuh-jatuhnya adalah masalah networking. Track record penelitian si kandidat harus diketahui dengan baik oleh mereka yang tergabung di komunitas peraih Nobel; ya mungkin biar menjaga nilai penghargaan ini tetap tinggi dan tidak tainted kali ya. Penelitian yang bagus, kalau tidak terpantau dan tidak 'ketahuan' siapa yang ngerjain juga nggak bakal dicalonkan untuk meraih Nobel.

Tapi, tapi, yang jadi pertanyaanku, gimana dengan Nobel Sastra?
Mungkin nggak sih ada pelatihan model seperti ini diterapkan untuk meraih Nobel Sastra?

Dengan banyaknya perhatian (oleh pihak tertentu, tentunya) dan publikasi diberikan untuk  bidang sains, gimana dengan bidang lain seperti Sastra?

Just my two cents.

Posted at 06:45 pm by i_artharini
Make a comment  

Evaluasi

Waduh, nggak nyangka sembilan bulan sudah kelewat, dihabiskan untuk bolak-balik Jatiwaringin-Kedoya enam hari seminggu. Atau kurang sih kalau lagi pengen kabur, heheh.

Anyway, Selasa sore, pas lagi nunggu di bandara ditelpon seorang sekretaris, katanya aku diundang Pemred untuk datang ke ruang kerjanya besok pagi jam 10, yang kemudian diralat jadi jam 9. Tiwas aku udah deg-degan, mengira hanya aku yang mendapat cercaan mengenai tulisan hasil aku seminggu di Yogya, eh ternyata temen-temen seangkatan juga dapet undangan.

Ada sesuatu yang aku senengin kalau ketemu Pemred. Bukan, bukan berbagai camilan di toples-toples di mejanya, tapi...ada sesuatu dengan cara beliau berbicara yang bisa membangkitkan motivasi. Padahal kata-katanya biasa aja, standar lah..

Kayak waktu itu pas aku di Metropolitan, dia nyuruh kita mengasah ketajaman rasa dengan banyak-banyak mbaca, nonton film, ndengerin jazz. Ya mungkin itu juga yang mbuat aku jadi mencanangkan gerakan one movie a day, 50 books a year.

Terus, kemarin juga beliau tidak mengecewakanku. Kata-kata seperti contohnya, "Kalian itu kan berada di sini juga karena pilihan-pilihan masa lalu kalian." Kayak disadarin aja sih, kalau semain-mainnya, se-asal-asalannya mengambil keputusan untuk ada di sini, itu tetap sebuah pilihan yang aku buat.

Dan ada satu lagi, "apa pun yang kalian kerjakan, yakinlah kalau itu akan selalu terpantau. Setidaknya terpantau oleh mata Tuhan." Pesannya sih, jadi walaupun ada yang memperhatikan atau tidak, janganlah 'berhitung' kalau mengerjakan sesuatu, tetep lakukan aja yang terbaik. Tidak akan, menurut Pak Pemred, good efforts go unnoticed.

Terakhir, beliau menekankan tentang budaya keunggulan, itu sesuatu yang harus dibiasakan dan ditumbuhkan. Hmm, kenapa jadi pidato Presiden gini ya?

Tapi kadang, aku seneng kok mendengarkan nasihat-nasihat yang mengingatkan untuk bertindak normatif dan sifatnya agak menggurui. Heheheh. Mungkin kalau datang di saat yang tepat dan dari orang yang aku hormatin.

Kemarin itu, di saat yang tepat, karena pas balik dari Yogya, aku dapat pencerahan untuk mulai fokus ke kerjaan aja, dan nggak usah bingung mikir hal-hal lain yang secara skala prioritas memang nggak gitu penting.    

Posted at 05:11 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, December 05, 2005
Kuis di Udara (duh, jijay judulnya...)

Di era penerbangan murah seperti sekarang, aku enggak pernah naik pesawat murah selain Citilink. Well, kapan juga naik Citilink kan ya pas masih nganggur, jadi bolak-balik Yogya-Jkt, dan harganya juga waktu itu emang lebih murah bahkan dari Lion, dsb, dsb kan?

Lalu, avtur naik, dan Citilink tak semurah dulu. Rute Yogyanya pun sekarang udah... eh, berkurang drastis, atau malah udah ilang ya?

Dan kemaren, pas lagi butuh cheap flight ke Yogya, pilihan yang ada dan murah jatuh ke Adam Air. Minggu kemarin, naiklah aku ke badan pesawat oranye-hijau terang itu. Betapa syohoknya aku, ketika berapa puluh menit setelah take off, ternyata ada jejreng... kuis tebak-tebakan!

Hadiahnya? Merchandise Adam Air. Kayak topi, kaus, yang paling heboh dan worth it sih menurutku jam dinding, hihihi.

Tiwas aku udah mikir itu acara yang jayuuus banget, dan sampe pura-pura cuek, memalingkan mata yang emang udah merem ke jendela. Tapi ternyata, orang-orang pada dengan antusiasnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan si mbak pramugari.

Walaupun aku ngerasa itu acara jayus banget, ada sih pertanyaan-pertanyaan yang pengen aku jawab dengan jawaban iseng, kayak:

"Siapa yang tau apa bahan bakar pesawat?"
Nari: (dalam hati) "Avtur campur aiirr..."

Dan pertanyaan, berapa-pramugari-yang-sedang-bertugas-dan-siapa aja-namanya-? ternyata dapat terjawab dengan baik oleh seorang penumpang. So, apa yang dia lakukan, ngitung pramugari dan mencatat nama-nama mereka semua?

Segitunya sih demi topi...Hehehe.

Tapi, ngeliat Merapi kemarin sore tuh indah banget, keliatan magis. Bukit-bukit di sekitarnya yang ijo, dengan saputan kabut, wuah.. memang kayaknya ada jam-jam tertentu Merapi keliatan magis. Ya kemarin sih sekitar jam 5-an.

Posted at 05:40 pm by i_artharini
Comment (1)  

Sunday, December 04, 2005
Menjadi 22

Malam 1 Desember, saat aku kehabisan pulsa, tiba-tiba satu sms masuk. Ternyata dari seorang teteh. Katanya, out of the blue:

"Nar umurmu skr brp,22?kbetulan gw lg bc diary wkt umur 22.dan ampir ky blog Nari juga;p msh suka sebel ma diri sndr.sambil terus melontar ptanyaan2 yg byk skl!"

Hahaha. Such a sweet sms, I think. Mau mbales tapi tak bisa. Untung masih di kantor, jadi bisa nelpon dari kantor. Tapi si mas operator bersuara empuk tidak kunjung mengangkat. Aduh, udah dipanggil Ass.RE lagi.

Akhirnya nggak sempet berterimakasih malam itu.

Tapi, sekedar refleksi. Hmm, mungkin iya ya, pertanyaan-pertanyaanku yang segudang itu akan memudar seiring usia, karena kita udah bisa nemuin jawabannya sendiri, atau mungkin nemuin masalah lain yang lebih penting.

Aku selalu punya pertanyaan-pertanyaan buat hal-hal yang nggak penting (yang anehnya, pas saatnya aku ngajuin pertanyaan, kayak pas ngewawancara narasumber, justru nggak keluar :<), yang sering aku tanyain sama orang-orang di sekitarku. Hmm, nggak heran juga kalau pernah ada yang bilang pertanyaanku kayak teror, atau malah bilang 'emang penting yah?'

Huks, huks.

Tapi ya gimana lagi, that's me. Ya nggak ada yang salah sih sama pertanyaan-pertanyaan itu, dan aku juga tidak berharap aku punya lebih sedikit pertanyaan. But anyway, anyway, intinya...hmm, menyenangkan juga ya dapet 'bocoran' kayak gitu. Tentang, usia yang cuma sebuah fase aja, tentang 'aku-juga-dulu-pernah-mengalaminya-kok' dari orang yang lebih tua, dan ngeliat mereka sekarang yang lebih tenang.

Jadinya merasa lebih tentram. Aku emang udah bukan remaja puber lagi, tapi masih menyenangkan untuk sesekali nerima 'nasihat', "no, you're not alone, kamu nggak aneh kok, aku juga dulu seperti itu."

Dari ketulusan hati, terima kasih, teteh.

Posted at 12:11 am by i_artharini
Make a comment  

Saturday, December 03, 2005
Titik Didih

Setahunan yang lalu, sempet sering ketemu acara 'Boiling Point' di MTV waktu lagi ceklak-ceklik remote nggak jelas. Kalo nggak salah sih judulnya itu. Anyway, inti acaranya sih rada-rada sama kayak 'Punk'd'; ngerjain orang dengan segala macem trik, dan ngetes orang yang dikerjain bakal marah atau enggak. Tapi di 'Boiling..', kalo misalnya setelah melewati waktu tertentu dan si orang masih bisa tetep stay calm, dia bakal dapat duit.

Nah, tanpa ada maksud apa-apa, aku kayaknya udah mbuat seseorang ngelewatin boiling point-nya deh. Ceritanya dari Sabtu weekend lalu, lagi packing-packing buat..interupsi bentar, di tv kedengeran suaranya Nirina mbawain Gigi by Request; gosh, SHE'S SO ANNOYING! oke.. back on track. Lagi packing buat ke Ancol. Asalnya mau berangkat jam 10, eh aku malah baru mulai packing jam 10.

Diburu-burulah aku sama si ibu. Dan karena barang-barang kayaknya pada ngilang semua, jadi pontang-panting nyari-nyari, ex: jilbab item, lha.. nggak ada, kalo nggak ada kan nggak bisa pake baju yang ini, oke cari baju yang lain...tapi baju putih dalemannya nggak ada, lha terus pake yang mana lagi dong, etc etc.

Akhirnya kelar.

Tapi, hp mana? Kayaknya udah dimasukin tas sih, tapi tasnya penuh banget, diaduk-aduk nanti berantakan. Oke, coba telpon, coba telpon.

Ngambil handset, mencet nomor...
Berapa sih nomorku?

08...berapa ya? Pokoknya berurutan deh. Oh, kalo gitu, 123.. trus lanjutannya? Oh 54xxxx.
Hmm, tapi kok kerasanya aneh ya?
Is it really my number?

Dan terdengarlah nada sambung yang semi-semi familiar. Lho, kok pake lagu sih nada sambungnya?
"Windu, windu, windu, windu, windu, windu, windu, windu, Devrina..."

Hah? Siapa yang masangin nada sambung ini?
Ada yang pulling pranks on me atau gimana, gara-gara sempet mbuat beberapa orang yang sebel ama lagu ini makin kesel gara-gara aku nyanyiin secara sengaja dengan amat falsnya. Tapi niat banget nge-pranks-in. Dan buat apa?

Akhirnya, kesadar. 'Eh, ini bukan nomerku kali..' Dan langsung aku tutup.
'Mam, nomerku berapa sih?'
'08...5673xxxxx'
'Oh yaaaa...Ternyata urutannya tuh 567 tho...'

Langsung dipencet dan terdengarlah ringtone dari dalam tas yang penuh sesak. Tenang. Oke, tinggal nunggu taksi.

Tapi, lha tadi berarti nomernya siapa dong?
Jangan-jangan nomernya Charlie Nicholson-ku?
Eh tapi kalo dia...kan 0815 trus...oh iya, 13xxxxxxx
Lha terus ini siapa?

Pikir, pikir, pikir...*gasp* aduh, jangan-jangan si...

Cetring!

Lha, udah langsung ngirim sms? Sambil deg-degan dan setengah nutup mata, ngeliat siapa yang ngirim pesan pendek. Eh ternyata temen sekantor. Fiuh.

Oke, oke, bales pesan pendek dulu aja.

Dan di tengah-tengah ngetik, tiba-tiba, cetring! 

Kali ini, tak ada nama, cuma deretan nomor yang sekarang aku ingat karena tadi aku hubungi.

Katanya:
"Tadi yang telp aku pake telp rmhmu itu kmu ya!? Ada apa?! Ta'pikir kmu sm skali dah gmau knal aku. Kmu td telp, tp gk jls jg mksdmu td apa?!"

Oh-oh.
Waduh, belum apa-apa, aku sudah membuat orang lain mendidih marah nih kayaknya.
Mungkin aku punya sense of penilaian yang rada-rada cuek, tapi menurutku aku melakukan sesuatu yang cukup kecil untuk mendapat reaksi seperti itu.

Anyhow, agak jahat sih, tapi aku lagi malas berhadapan dengan neurosis seperti itu untuk tindakan yang, menurutku, sepele. Dan lagi malas menjelaskan pula. Ya sudah, nanti dulu lah, didiamkan saja.

Sesampainya di Seaworld, sempet sih cerita tentang insiden itu ke Rani, ples reaksi yang aku terima, dan tindakanku yang males menjelaskan.

"Ih, bilang aja lagi salah mencet. Tapi nanti dia ke-GR-an ngira kamu masih apal no-nya. Lha kok kamu masih apal?" saran dan cecar Rani.
"Ya, aku keingetnya cuma nomerku berurutan aja, trus otomatisnya keluar itu. Dan ya itu, aku males njelasin jadi sekarang," aku ngeles.

Dan 'pendiaman' itu berlanjut sampai Senin.
Senin siang, saat baru megang hp lagi, mbaca sms dari Rani:
"Eh si mas *** sms aq nanyain kmrn aq tlp ke hpnya pk no rmh qt ga? dn blg dia sms kmu tp g bls.aq hrs jwb apa?"

Pesan pendeknya Rani juga nggak aku balas. 'Maaf ya, Ran. Decide what you want to do,' kataku dalam hati. Aseli, jahat.

Dan sampai sekarang, aku masih belum njelasin duduk perkaranya.

Posted at 11:51 pm by i_artharini
Comment (1)  

Previous Page Next Page