"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Sunday, January 15, 2006
Dipenuhi dengan kafein, orang berbicara dengan ritme senapan mesin, dan
referensi buku, film, dan musik yang top notch. Buat aku, itu rasanya
hangover abis maraton nonton Gilmore Girls. Behold, aku baru nonton
delapan episode di dua CD dari total enam, yang merekam keseluruhan
season 2. Fiuh.
Oke, aku emang nggak harus nonton semuanya, yang pengen nonton kan
Rani. Cuman, setelah merasa terinspirasi untuk mbaca lebih banyak buku
gara-gara nonton serial itu, masak sih..mau aku tinggal gitu aja?
Kalau sebelumnya aku bilang 'Lorelei Gilmore menjadi seorang yang
annoying, tapi any TV show yang mengenalkan aku ke Ayn Rand dan 'The
Fountainhead' deserves some respect' harus diralat, menjadi: 'Lorelei
Gilmore, at some point, bisa menjadi too annoying. Tapi any TV show
yang membuat aku pengen mbaca lebih banyak, listen to some good music,
and watch more movies, deserve a lot of respect.'
Dateng ke kantor, akhirnya dihabiskan buat browsing-browsing di Amazon,
nyari para Listmania yang udah mbuat ndaftar buku-buku yang muncul di
serial itu. Dan ternyata.. menemukan quite a list. Tapi belum nemuin
yang fanatic enough, sampe mendaftar referensi pop culture yang
disebutin oleh tiap karakter, di tiap episodenya.
Hmm...anyway, jadi ngerasa syohok aja. I',m...23, right? Dan kalau
didaftar, kayaknya buku yang aku baca belum sampe 200-300an. 100?
Hwuaaa.. aku nggak berani ngedaftar.
Kemarin ngeliat episode Rory berkunjung ke Harvard. Terus, dia
terkaget-kaget ngeliat perpustakaannya Harvard yang menyimpan 13 juta
buku. Well, I'm not aiming for that. Tapi dia bilang di usia 16, dia
udah mbaca sekitar 300an buku. Gludaks.
I sleep too much. (yang akhir-akhir ini kerasanya bener)
I spend my time in doing God knows what.
Argh. I have to get my life back on track nih.
Bukan karena Gilmore Girls aja, tapi secara keseluruhan lah. Feel like slacking too much.

Posted at 06:52 pm by i_artharini
Permalink
Friday, January 13, 2006
Seorang teman memilih untuk mendaftar
keanggotaan sebuah gym dengan harga +/- (kalau nggak salah,
seingatku) Rp430 ribu per bulan. Sementara aku memilih untuk menjadi
potato couch, dan mendaftar keanggotaan tempat penyewaan DVD di
bilangan Blok M dengan membayar Rp 75 ribu per bulan, untuk 2 DVD per
hari. Menjadi potato couch memang lebih murah. Setidaknya keanggotaan
ini mendukung program nonton film rutin tiap malem-ku. Ya, setidaknya
membantu untuk menseriuskan diri dengan program itu lah.
Anyway, sejauh ini sih,
sayangnya, dari dua minggu keanggotaan yang udah berjalan, baru nyewa
'Waking Life', 'Flower of My Secrets', 'Pride & Prejudice', 'A
Bout de Souffle', sama tadi 'Gilmore Girls' Season 2, pesenannya
Rani. (Ok, Lorelei can be such an annoying character, tapi any tv
show yang bisa mengenalkan aku ke penulis seperti Ayn Rand dan
membuat aku mbaca 'The Fountainhead' yang tebel banget itu, deserves
respect). (Lagi berpikir, aku bisa get snuggly weekend ini cuman
dengan 'My Beautiful Laundrette' dan 'Ghost World'. Tapi ya
sudahlah...Senin kan masih bisa.)
Jadi ngitung-ngitung. Is it
possible untuk nonton dua DVD per malem, biar bisa sebulan nyewa 60
DVD? Hmm..kayaknya tricky deh. Tapi ya kalau nyewa dua buat dua hari
juga udah balik modal dibanding beli kan? Malahan save 50% juga dari
harus beli. Koleksinya boleh juga kok tempat itu. Bahkan 'Cold
Comfort Farm' pun ada!

Posted at 06:23 pm by i_artharini
Permalink
Monday, January 02, 2006
Aku suka banget mbaca review film, terutama kalo yang nulis Peter
Bradshaw-nya The Guardian dan Peter Travers-nya Rolling Stone. (Wait,
ada apa dengan aku dan penulis review film bernama Peter?). Dari segi
gaya penulisan, mereka eksploratif dan kreatif banget. Pasti ada selalu
kalimat-kalimatnya yang bener-bener mengena., sinismenya nendang atau
bisa mbuat ketawa. Dan secara selera, yaa plus minus apa yang mereka
tulis cucoklah.. sama apa yang aku suka.
(For the record, aku juga seneng tulisan-tulisannya F Dewi Ria Utari
kalo dia nge-review pertunjukan tari atau teater. Well, terutama tari
sih. Karena dia berani bilang "iya, ini bagus karena..." atau "ini
tidak bagus karena saya tidak mengerti.." Berdasarkan pengalaman, orang
cenderung menyukai sesuatu yang tidak mereka mengerti, karena kesannya
it's challenging, out of their mind, dan rumit. Tapi dia, cukup jujur
dan tidak pretensius.)
Tapi, tunggu sebentar.
Di sini aku harus berhenti dan merefleksi. Apakah benar aku menyukai
sebuah film dan sependapat dengan para kritikus film itu, atau aku
menyukainya setelah diberi 'label' oleh para kritikus tersebut. Nggak
bisa dipungkiri, aku mendaftar 'must-see films' berdasarkan
review-review yang mereka buat.
Aku tidak sadar, betapa fatalnya kondisi ini sampai aku harus membuat
review sendiri. Aku jadi tidak berani bertanggungjawab atas seleraku
sendiri, caraku menilai suatu film, atau produk budaya lain.
Masalahnya, karena aku lebih sering percaya sama selera orang lain
daripada my own. Dan ketika aku menulis review, aku cenderung
menceritakan tentang produk budaya tersebut, dan tidak menuliskan
tentang kesan yang aku peroleh setelah 'menggunakan' produk
tersebut. Tidak ada premis yang sebelumnya terbentuk di kepala.
Padahal, kalau nggak salah waktu aku diem-diem mbaca 'Letters to a
Young Poet'-nya Rilke sebelum dikasihin ke orang (heheh), menurut
Rilke, hal yang paling tidak menyentuh esensi karya seni adalah review
atau criticism.
Ketidakpercayaanku atas penilaian selera sendiri ini juga berlanjut ke
mendengarkan musik, sebagai salah satu contoh. Weekend kemarin, Rantje
kan baru beli kasetnya 'Letto', band asal Yogya, yang baru aku denger
kemaren2 itu lagunya. Tapi Rantje udah pengen beli kasetnya pas tau
mereka band dari Yogya.
Anyhow, pas dengerin kaset itu, aku berulang kali nanya ke si Rantje:
Siapa sih mereka? Dan Rani bolak-balik njawab, 'band dari Yogya'.
Tapi, tentu saja, jawaban itu tidak membuat aku puas. Yang pengen aku
dapetin jawabannya adalah: genre musik mereka apa sih? Cool nggak sih
mereka? Atau kualitas mereka cuma seperti 'Radja' berikutnya? Mereka
mewakili apa? dst, dst, yang ujung-ujungnya sebenernya cuma
menyimpulkan: aku tidak tahu, apakah mereka worth listening to or not.
Apakah mereka merepresentasikan 'bad taste' atau 'good taste' dengan
keahlian musikalitas nan tinggi.
Sebenarnya kan pertanyaan itu bisa aku jawab sendiri. Worth listening
to, karena... Atau not worth listening to, karena... Cuma masalah
menemukan hal-hal yang disukai dan tidak disukai kan?
Cuma ya itu, entah karena aku sudah terkungkung di dunia yang semua
tentang 'image', sehingga menentukan mereka cool atau tidak pun harus
menunggu persetujuan orang lain, pengkotakan genre dari kritikus musik,
dan 'company overview' dari perusahaan rekaman, atau...aku sebenarnya
memang tidak berani menyatakan pendapat. Contoh gini, aku udah suka
sama band itu duluan, terus...perusahaan rekaman mengkategorikan mereka
atau memasarkan mereka sebagai band 'emo' misalnya. Misalnya. Aku pasti
udah cold turkey, bubar jalan, sambil ber-cuih-cuih. Aku bakalan tidak
mau repot-repot untuk find things out.
Oleh para kritikus, semua seperti sudah terkotak-kotak dengan nyaman. Tinggal pilih, konsumsi atau tidak?
Nah, ini yang pada 2006 akan aku kurangin; membaca review sebelum
nonton film, salah satunya. Dan instead, ya nulis review sendiri lah.
Intinya sih percaya sama penilaian sendiri, dan mampu memberi alasan
deskriptif akan apa yang aku sukai dan tidak sukai; mempertajam
apresiasi akan produk budaya yang sedang dipakai.
(Karya seni sebagai produk budaya mungkin bisa jadi entry sendiri ya,
kalau karya itu tak beda dengan produk yang dikonsumsi dan setelah
habis, dibuang...)
Dan ini yang mbuat penting, note to self, berapa banyak sih film yang
udah aku tonton, buku yang udah aku baca? Dan dari semua itu, apa coba
yang bisa aku ambil gist-nya? Bisa nggak aku mbuat lima kalimat aja,
dari semua itu? Tertatih-tatih banget kan?
Hidup, waktu yang udah terlewat itu, cuman bisa diingat kalau tercatat.
Karakternya Guy Pearce di 'Memento' itu ada benarnya. Bisa
dicontoh, walaupun aku nggak punya short-time memory lapse. Kalau
nggak, waktu yang udah terlewat ya kelewat aja. Habis, hilang,
partikel-partikel yang ditiup angin.
Anyway, ini waktu yang tepat aku rasa. Karena 2006 juga menjadi tahun
awal program 'One Movie a Day, 50 Books a Year'. Okeeee... let's start
documenting!

Posted at 08:13 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, December 27, 2005
Ohh..udah gitu aja jadinya yang namanya temen?
Oke, ya sudah.
Have fun with your life.
Posted at 08:00 pm by i_artharini
Permalink
Monday, December 26, 2005
Percakapan awalnya berjalan normal. Sampai aku melihat seseorang
memencet tuts telepon, dan deringan terdengar dari jarak dekat. Love can be so strange Don't it amaze you? Every time you give yourself away It comes back to haunt you Love's an elusive charm and it can be painful
Seseorang di dekatku melihat ke arah layar LCD dan mengangkatnya.
"Halo?" sapanya dengan lembut. Dari seberang, aku melihat kepala yang
bergerak menyembunyikan diri dari tatapan tajamku, sedikit di belakang
komputer. Ah, aku mengerti tanda-tanda itu. Remote control
mini dari sebuah mp3 player aku pencet beberapa kali. Volume kini
berada di ambang 20. Berbahaya untuk telingaku, aku tahu.
Tapi setidaknya itu mengamankan hati dari reaksi-reaksi yang membuat
orang lain tidak nyaman. To understand thIS CRAZY WORLD BUT YOU'RE NOT GONNA CRACK NO YOU'RE NEVER GONNA CRACK RUN MY BABY RUN MY BABY RUN RUN FROM THE NOISE OF THE STREET AND THE LOADED GUN TOO LATE FOR SOLUTIONS TO SOLVE IN THE SETTING SUN SO RUN MY BABY RUN MY BABY RUN
Di depan, perempuan muda itu mulai berdiri, membereskan
barang-barangnya. Teleponnya sudah dimatikan. Di sebelah, sosok
pemegang telepon juga sudah menjauhkan gagang dari kepalanya, tapi
gelombang-gelombang elektromagnetik telepon genggamnya masih terpancar
di layar komputerku. LIFE CAN BE SO CRUEL DON'T IT ASTOUND YOU? SO WHEN NOTHING SEEMS TOO CERTAIN OR SAFE
Di sebelahku, sosok itu memencet sesuatu, dan ia meletakkan telepon
genggam di sisi kiri layar komputernya. Ia kembali melihat ke layar,
dan mengarahkan panah mouse ke ujung kiri layar, dan mematikan
komputer. Ah, keadaan mulai aman. LET IT BURN THROUGH YOU YOU CAN KEEP IT PURE ON THE INside And you know what you believe to be right So you're not gonna crack No you're never gonna crack
(Duh, Tuhan. Terima kasih atas mp3 player, atau earphone lah
setidaknya. Tapi, aku kok jahat sih? Kenapa sih, nggak bisa normal aja?)
Posted at 09:07 pm by i_artharini
Permalink
Hmm.. walaupun tidak merayakan, tapi ada ritual-ritual Natal, atau setidaknya menjelang Natal, yang aku kangenin, seperti...
a. duduk nyaman di tengah ruangan berpemanas di depan tivi, sambil
ceklak-ceklek remote dan hanya menemukan berbagai versi dari apa itu..
ceritanya Charles Dickens tentang Ebenezer Scrooge, yang didatangi
ghost of christmas past, present, dan future. Terus berakhir dengan
Timmy kecil yang berkata dengan suara bergetar, "Merry Christmas,
everyone!"
(sebentar, googling dulu...)
AH! 'A Christmas Carol' judulnya!
b. melihat ke luar jendela, bersiap-siap mau pergi keluar, tapi batal,
karena ngeliat lautan putih dan jejak-jejak kaki orang, dan
membayangkan: hiiii.. pasti dingin banget.
c. ngumpul di kamar seorang temen. Prasma, kayaknya, most likely.
Berhangat-hangat, hang out di depan tivi, menghabiskan waktu libur yang
kemungkinan akan terus berlanjut sampai malam tahun baru.
Tahun kemarin... oh iya, aku menghabiskan malam Natal di tempat seorang
Eyang. Tahun sebelumnya lagi, kayaknya waktu itu ke Weesp deh.
Menemani, well, tepatnya diundang sih sama Denny, buat dinner di
tempatnya.
Tapi at that moment, ah gila. Bener-bener sendirian. Aku inget hari itu
aku tetep ke sekolah, buat cuman sekedar online bentar. Dan akhirnya,
luckily, 'ketemu' Denny di messenger.
Tiwas udah sediih banget karena malam Natal bakal sendirian. Tapi
ternyata dapet undangan last minute. Hmm, emang tidak merayakan sih,
tapi iklan-iklan, billboard-billboard yang dipasang menjelang Natal
sudah membangun harapan-harapan akan sekelompok keluarga dekat atau
teman-teman yang akan menemani sehingga tidak sendirian. Waktu spesial
untuk dihabiskan bersama keluarga dekat lah.
Oh iya, kangen juga sama rush orang-orang belanja di Albertheijn,
berjalan di sepanjang Kalverstraat dan ngeliat lampu-lampu di depan
toko-toko, Kermis di Dam., toetje-toetje yang semakin mewah dengan
semakin mendekatnya Natal dan Tahun Baru. (Dulu aku sering tambah
gendut nggak sih menjelang akhir tahun?)
Ah, hidup...aku dulu di mana, sekarang di tempat lain lagi...
*sigh*
Posted at 08:36 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, December 25, 2005
Happy Couples are My Enemy
Aku selalu merasa marah, kesal, dan berlaku tidak ramah pada
teman-temanku yang sedang memiliki pasangan. Dan aku dulu merasa, itu
adalah bagian dari sebuah fase menjadi dewasa. Pasti, aku nanti akan
menertawai sosok aku yang selalu iri melihat kasih sayang antara dua
kekasih.
Tapi sekarang aku yakin, aku tidak akan menjadi sosok yang lebih baik,
di masa depan, ketika melihat seorang teman memiliki pasangan,
sementara aku single.
Nggak peduli, seberapa keras aku berusaha untuk tetap ramah, tersenyum,
ikut berbahagia (dan percaya deh, semua itu benar-benar atas dasar
ketulusan), akan ada titik-titik saat aku merasa iri dengan kasih
sayang yang ter-ping-pong dari dua arah itu.
Dan ya mungkin memang harus diterima aja, kalau aku tidak akan menjadi
teman yang baik untuk mereka yang sedang berpasangan. Teman baik untuk
nonton, untuk nemenin ke toko buku, main bowling, curhat tentang
cowok-cowok bajingan, berbohong pada ortumu, tidak menilai seleramu
atas segala sesuatunya atau apapun tindakanmu, hold your hand when you
terminate a pregnancy, hayuhlah.
Tapi ketika aku mendengar sweet talks, sweet dates, dan melihat sweet
gestures... Maafkan. Tapi aku yakin, aku tidak akan menjadi seorang
teman yang baik. Aku tidak mampu untuk 'bersikap normal'.
Sindiran tajam, tatapan mata penuh rasa iri, reaksi berlebih, perilaku
kasar; yang jatuh-jatuhnya akan membuat orang sakit hati, pasti akan
ada yang terlontar, walaupun dijaga seminim mungkin.
Jadi sudahlah.
Entah aku mengatakan ini pada siapa.
Tapi sepertinya lebih untuk diriku sendiri.
That I'm not a good person when it comes to my friend being couple.
Dan, aku juga malas untuk 'deal with it'.
Apa yang harus di-deal with?
Ada teman yang cocok untuk ngrokok di bawah, tapi bukan untuk
percakapan panjang tentang hidup. Ada yang cocok untuk bertanya tentang
cara menulis, tapi tidak untuk teman muter-muter nggak jelas keliling
kota. (Dan ada yang cuma cocok buat kissing-buddy, tapi nggak buat
pacar, heheh).
Mungkin ini sih yang lebih harus di-deal with:
Apakah kesadaranku 'diizinkan' untuk tidak merasa bersalah ketika
mendengar tawa bahagia seseorang, terus kepala dan hati jadi merasa
terbelah saking sakitnya, dan akhirnya pengen meredam sumber suara
dengan melempar layar komputer?
No, honey. I don't hate you.
Mungkin kamu tidak percaya, tapi I'm happy for you. I really do.
It's just that my genes, they are not made to stand seeing people who are in love.
Akhirnya, ya, cari aku untuk sesuatu yang lain. Tapi I'm not good at respecting the coupling part.
Posted at 05:54 pm by i_artharini
Permalink
Konsep membaca ulang suatu buku kan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh
ya buatku? Ternyata. Setelah nyadar. 'High Fidelity'? 'Pride and
Prejudice'? 'The Catcher in the Rye'? 'Franny and Zooey'?
Tapi ya emang, membaca ulangnya lebih sebagai usaha untuk
menikmati kembali makna-makna yang tersembunyi, mendapatkan pelajaran
untuk hidup, bukan untuk teknik penulisan.
Anyway, aku lagi jatuh cinta nih sama antologi-antologi cerpen dari
ON/OFF dan Bentang. Waktu ke Yogya, sempat beli dua kopi. Satu yang
judulnya 'Sepuluh Kisah Cinta yang Mencurigakan', satunya lagi
'Perempuan Mencatat Kenangan'.
Sebenarnya, aku lebih sempet mbolak-mbalik yang 'Perempuan...' dan
tertarik sama isinya. Tapi, udah lebih tergoda sama judul yang
satunya. Akhirnya, daripada menyesal, beli dua-duanya lah.
Dari yang harganya Rp22.750 each, didiskon 30% jadi Rp16-17an; akhirnya ditawar jadi Rp30 buat dua. Dan boleh!
Anyway, pas mbaca yang 'Sepuluh Kisah..' aku ngerasa tulisan-tulisan
yang terkumpul di antologi itu dashyat-dashyat banget tekniknya. Dan
pas mbolak-mbalik profil para penulisnya, mbaca tulisan ini:
"On/Off adalah sebuah media yang berniat mewadahi proses menulis,
termasuk di antaranya proses menemukan bentuk-bentuk dan teknik-teknik
tulisan yang baru.."
Ealah, pantesaan..
Kedashyatan itu ternyata tidak berhenti pada antologi 'Sepuluh
Kisah...' . Setidaknya sampai dua cerita pertama di 'Perempuan...'
rahangku tak kunjung terangkat dari lantai.
Wow.
Btw, ini back copies-nya antologi yang lain-lain bisa dicari dimana ya di Jakarta?
Dan, apakah mereka masih rutin ngeluarin antologi cerpen yang dashyat-dashyat itu?
Posted at 05:24 pm by i_artharini
Permalink
Friday, December 23, 2005
Sampai sekarang, aku masih belum tahu caranya membaca buku dengan
benar. Benar, dalam artian tidak hanya membaca yang tersurat.
tapi juga yang tersirat. Duh, bahasanya itu...
Pengisahan yang baik itu kan yang menunjukkan, bukan yang menceritakan
(show, not tell). Jadi, bisa saja ada pesan yang tersembunyi ketika
seorang karakter lelaki, pada kekasihnya, mengatakan: "Baby, you look
super fine in that dress."
(Pesan tersembunyi seperti, mungkin, "We haven't had sex in six months!")
Nah, aku pengen bisa lebih jeli membaca pesan tersembunyi itu.
Lalu, membaca dengan benar juga berarti mengambil suatu manfaat dari
bacaan itu. Apresiasi akan gaya penceritaan, alasan kenapa si penulis
memilih kata-kata itu dan bukan yang lainnya, cara si penulis
menggambarkan karakter, pilihan kejadian yang dituliskannya untuk para
karakter itu, dan kenapa ia memilih penyelesaian cerita dengan gaya
seperti itu; untuk menyebut beberapa contoh.
Hal-hal tersebut, masih cukup dangkal aku apresiasi.
Dan pastinya masih banyak hal-hal lain juga yang luput aku 'baca'.
Anyway, pas kemaren malam lagi duduk di teras, sipping coffee dan
menghembuskan asap rokok menthol, sesuatu yang terkesan seperti sebuah
jawaban terlintas di kepala.
Di 'Finding Forrester', tokoh William Forrester (Sean Connery)
menasehati seorang penulis muda: menulislah pertama kali dengan hati,
lalu menulislah dengan otak.
Draft pertama, ya biarkan aja mengalir. Baru dibaca ulang, dan diedit dengan otak.
Jika menulis adalah hasil 'pembuangan' dari apa yang sudah kita makan,
yaitu bacaan, maka cara kita membaca harusnya plus minus sama dengan
cara kita menulis kan?
Pertama membaca dengan hati, dirasakan dulu, suka atau tidak, kenapa
suka, kenapa tidak. Baru setelah itu membaca dengan otak; kenapa si
karakter melakukan ini, kenapa si penulis memilih bercerita seperti
itu, apa sebenarnya yang coba disampaikan.
Bener nggak? Sama kayak nonton film favorit aja berkali-kali, setiap
kali nonton lagi ada sesuatu yang sebelumnya kelewatan dan semakin
menguatkan (atau malah menurunkan) rasa suka kan?
Sounds making sense, setidaknya untuk aku.
Tapi, ini berarti aku harus membaca ulang lagi buku-buku atau cerpen-cerpen yang udah aku baca ya?
*Sigh*
Apresiasi yang sempurna itu emang butuh banyak kerja keras.
(Dan makanya aku iri sama orang-orang yang punya kemampuan mengapresiasi dashyat dengan begitu otomatisnya...)

Posted at 07:32 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, December 21, 2005
Nggak nyangka, ternyata si Rantje punya DVD film itu di rumah.
Diem-diem, seneng juga sih, karena penasaran pengen nonton suatu film
dengan body-function joke di dalamnya.
Esensinya sih... nggak banyak. Kalau mau didaftar:
1. Aku naksir Catherine Keener. Huks, ibu satu itu cakep bangeeet.. dan so cool.
2. Salah satu line terbaik dalam film pada 2005 (walaupun aku ingin
memasukkannya untuk 'best line in a movie of all time' versiku)
"You wanna know how I know that you're gay? Cause you like Coldplay."
HAHAHAHAHAHHAHAHAHA.
Oops. Maaf para penggemar Coldplay.
Tapi, why am I laughing?
Sedikit serius, apa itu artinya I'm laughing at suatu joke yang tidak sopan secara orientasi seksual?
Posted at 08:56 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|