PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, April 23, 2006
Scrubs vs Kemeja Biru

Hasil nonton marathon sitkom Scrubs season 1 dan 2; sebuah ide. Kenapaaa coba nggak mbuat skenario berdasarkan pengalaman nyata kami menjadi jurnalis pemula berkemeja biru? Atau, well, setidaknya pengalaman nyata menjadi jurnalis pemula.

Konsep dasarnya, seperti Scrubs itu.
Nyontek ya, sebenernya?

Tapi ada beberapa kesamaan lho antara para dokter-dokter muda, intern, di Scrubs dan saya dan teman-teman. Pertama, yang paling simpel aja, baju yang mereka pakai dan baju yang kami pakai. Mereka memakai scrubs (seragam walaupun warnanya macam-macam), kami, memakai seragam kemeja biru. Jam kerja mereka yang panjang, sama, kami juga.

Terus, tentang kesulitan-kesulitan yang mereka temui saat berhadapan dengan pasien, atau Dr Cox si mentor pemberontak, dan Dr Kelso yang mewakili kapitalisme rumahsakit. Hmm, kami juga mengalami hal yang sama; dengan narasumber, redaktur-redaktur yang slengean, dan mereka-mereka yang mencoba melampaui dua-tiga pulau dengan satu dayungan.

Lalu ada masalah persaingan antar sesama, belajar menjadi dokter yang baik, cinta-cinta lokasi karena kehidupan sosial yang minim, berusaha mendapat penghargaan dari lingkungan kerja dan perhatian tentunya. Tapi yang paling penting tentang menemukan teman-teman baik yang akhirnya lebih menjadi keluarga. Dan ah, itu semua nggak asing buat kami disini.

Tapi...(atau mungkin aku memang malas, sehingga belum apa-apa sudah membuat alasan..), bukannya sebentar lagi akan ada 'Dunia Tanpa Koma' ya? Sinetronnya Dian Sastro sebagai wartawan kriminal muda, yang skenarionya ditulis oleh Leila S.Chudori?

Ah.
Hmmm...

Posted at 07:56 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry