PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, March 21, 2006
Tentang Antisosial dan Karakter (yaiks..)

Goethe once said, "One ought, everyday, to hear a song, read a fine poem, and, if possible, to speak a few reasonable words."

Have you read your poem today?

(dari about.com)

Ternyata, semua permasalahan membacaku itu terjawab dengan gamblang di about.com, tepatnya di bagian classic literature-nya. Kenapa coba nggak dari dulu-dulu aja? (Jawaban, karena aku sempat kehilangan kepercayaan sama about.com; link-nya jadi kebanyakan iklannya sih..--seperti koran kantor hari ini, contohnya..--)

Tips-tips 'how to' yang dikasih sama about.com, lengkap banget. Mulai dari 1)how to keep a reading log, 2)how to determine a reading schedule, 3)how to read a difficult book, 4)how to read like a professor, 5)speed reading, 6)finding the spot to read, sampai ke... 7)what to read; the essential existential question.

Ih, gila. Aku beneran ngerasa lagi terjatuh ke dalam jurang anti-sosialisasi, tapi aku nyaman-nyaman aja jatuh-jatuh gitu.

Btw, ngomong-ngomong tentang 'what to read', yang aku bilang sebagai the essential existential question, aku jadi berpikir...karakter tuh sebenarnya apa sih? Pernah denger di Roger Dodger, si Rogernya ngomong ke seorang cewek, "your character is nothing more than an article in Vanity Fair."

Aduh, aku ngerasa tersodok sekali.

It may not be Vanity Fair for me, tapi Vanity Fair bisa dengan mudah diganti dengan  artikel di Tempo (Catatan Pinggir, mungkin...), atau salah satu artikel review kebudayaan di Kompas minggu, atau buku-buku yang aku baca, atau film-film yang aku tonton, lagu yang aku dengar, kata-kata profound dari para jenius negara ini yang aku kutip, iya kan?

Jadi, sebenarnya karakter itu apa?

Mungkin benar katanya seorang Radhar Panca Dahana pas diskusi tentang teater Sabtu kemarin; tanpa 'naskah', manusia itu sebenarnya sama saja dengan batu, celana dalam, kodok. Dan kita nggak lebih baik dari mereka. Karena tanpa 'naskah', karakter kita...kosong.

But anyway, aku masih bertanya-tanya, lha karakter itu sakjane opo tho?

Posted at 09:55 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry