PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< August 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, August 22, 2009
Percakapan

Pada sebuah detik, aku mendapati kekangenan ini.

 

Akan percakapan yang baik, yang mampu menggerakkan respons dan indera bukan hanya pada permukaan. Aku akan tahu jika sedang berada dalam sebuah percakapan yang aku anggap 'baik' itu. Otakku akan berdenyut, mengingat, mencerna, lalu mulai menuliskan sesuatu di sini. Sering potongan-potongan percakapan 'baik' itu masih akan aku ingat sampai waktu lama.

 

Dengan analogi tersebut, aman diasumsikan bahwa sejak 7 Juni 2009, atau masukan terakhir dalam blog ini, aku tidak lagi mengalami percakapan-percakapan yang masuk kategori 'baik' itu.

 

Setidaknya, tidak ada sesuatu dari semua percakapan itu yang kemudian aku ingat lalu menjadi makanan buat otak, untuk kemudian bisa dimunculkan atau dirasai di sini.

 

Terlepas dari banyaknya waktu yang aku habiskan di Twitter, upaya-upaya percakapan yang dibangun, aku tidak menganggap serius semua itu. Hanya sekadar basa-basi antara sesama orang asing yang jika di dunia nyata akan dilakukan di antrian anjungan tunai, halte bus, atau sekadar sebuah bentuk maya dari, "Permisi, sekarang jam berapa ya?"

 

Aku tidak percaya ada percakapan baik yang bisa terjadi dalam batasan 140 karakter.

 

Salah satu sumber keyakinan itu adalah bab pertama dari "Rafilus"-nya Budi Darma. "Dalam kebosanan pun kadang-kadang kita masih berdebar, karena selamanya kita masih mempunyai harapan, betapa kecil pun harapan itu. Memperoleh rejeki, berjumpa dengan sahabat terkasih, lulus ujian kesehatan, dan lain-lain adalah riak-riak kecil yang dapat memberi kenikmatan."

 

Aku cukup percaya ini adalah kutipan yang baik. Dan aku hampir saja mengetikkan dan mengirimkannya di Twitter. Kemudian yang terbayang adalah berapa tweet yang harus dikirim untuk menyampaikan sesuatu yang sederhana tapi indah seperti itu. Proses mekanis pengiriman kutipan itu kok terancam menghilangkan efek dahsyat dari kumpulan kata 'debaran', 'harapan', atau 'riak kecil'. Contoh-contoh peristiwa hidup yang disebut Budi Darma di kalimat-kalimat di atas pun sebenarnya sesuatu yang trivial, tapi tak menjadikan pemahamannya sebagai sesuatu yang klise.

 

Lainnya lagi, kalimat-kalimat Budi Darma itu diberi kesempatan bernafas. Ada struktur yang dipatuhi. Ia membangun klimaks/antiklimaks dengan penyusunannya. Hal-hal yang belum aku temukan dalam sistem reply, retweet, pertukaran atau pengumuman tautan, atau lontaran pemikiran yang langsung diekspresikan tanpa mungkin sempat dicerna lama.

 

Sepertinya kita sedang berputar-putar, tetapi penyadaran yang waktu itu aku alami terjadi lumayan cepat. Sehingga aku sampai pada kesimpulan, jika kamu menginginkan sesuatu yang bermakna lebih, jangan mencari itu dalam batasan 140 karakter. Mungkin bisa saja kamu akan menemukannya, tapi jangan terlalu berharap akan peluangmu. Kesalahanku adalah menganggap Twitter sebagai sebentuk blog mini.

 

***

 

"Yang gue khawatirin dari puasa, nggak bisa ngelamun jorok siang-siang gitu lho. Padahal itu kan aktivitas yang biasa dilakuin kalo siang-siang lagi nggak ada kerjaan."

 

"Bisa kok. Tapi harus dibawa ke arah yang positif," kata Nona Larutan Buffer alias Ccr. Semua dengan pandangan positif dan optimis, sementara aku masih berpikir: gimana caranya ngelamun jorok bisa dibawa ke arah yang positif? "Eh tapi, ini sesuatu yang bisa disiasati nggak sih? Hehehehe," tambah dia dengan mata membesar.  

 

"Jadi gini, siang-siang, lo ceritanya ketemu di masjid."

 

Ealah, positifnya itu maksudnya cuma karena lokasinya masjid?

 

"Nah terus pisah dulu. Lanjut lagi sore-sore, ketemu di gang-gang kecil yang banyak toko buku di Paris. Baru deh, pas udah maghrib, nanti bisa lo puaskan imajinasi itu dengan…ya gue nggak bisa membayangkan pakai apa ya. Hahahaha." Menjelang tawa di akhir itu, Ccr mulai ngangkat mug kaca dengan tangan kirinya, sejengkal di atas meja. Gestur yang memberi kesan dia menyarankan aku melakukannya dengan mug kaca itu. Tangan kanannya menutup pelipis dan mata kanannya.

 

"Jadi lo buat aja ceritanya panjang, Nar. Terus bisa dikirim buat lomba cerpen Femina. Hadiahnya Rp 4,5 juta lho. Kalau lo bisa buat ceritanya panjang banget, hadiahnya malah Rp 10 juta. Itu kan yang dilakukan orang-orang jaman dulu? Atau enggak?"

 

***

 

Gestur, suara tawa manusia—jenis yang dihasilkan jika tertawa dilakukan dengan seluruh bagian tubuh, bukan sekadar ketikan 'Hahahaha' dari jari—keabsurdan ide dan arah percakapan, serta yang terpenting, sensasi keterhubungan itu. Himpunan semua itu sepertinya yang aku kangeni dari sebuah percakapan.

 


Posted at 04:56 pm by i_artharini

setia
November 15, 2009   01:36 PM PST
 
sulitnya mencari sahabat yang obrolannya nyambung n tulus di dunia nyata. ^^
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry