PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< November 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, November 21, 2005
Shattered Glass

Saya baru seminggu yang lalu menonton film ini. Terlambat sebenarnya, karena dvd bajakannya sudah terlalu sering saya lihat bertebaran di Ambassador sejak setahun yang lalu, tapi saya tak kunjung membelinya. Akhirnya, Sabtu malam minggu lalu saya menontonnya. And it was okay. Film yang rapi, menurut saya. Rapi dalam penyutradaraan, timing, dialog, akurat dan realistis sehubungan dengan dunia yang ditampilkan, enjoyable lah.

Mungkin karena didasarkan dari kisah nyata, jadi para pembuat filmnya punya dasar untuk mengembangkan setting waktu, tempat, dan karakter orang-orang yang terlibat. Dan jika ini bisa dikategorikan sebagai akting yang bagus; Hayden Christensen dapat membuat Stephen Glass sebagai sosok menyebalkan untuk seorang pembohong patologis. Atau mungkin karena saya akan selalu membenci sosok seperti Stephen Glass di dunia nyata. Bagaimana ia bisa populer di kalangan peers-nya, kemampuan menulisnya (harus diakui, tulisannya setidaknya memenuhi standar kualitas tertentu untuk masuk di TNR, The New Republic, bukan Tempo News Room :D) yang juga membuat iri peersnya. Lalu, bagaimana Glass bisa menjadi favorit para editor, bukan hanya majalahnya sendiri, tapi juga di George, Harper's, atau RollingStone.

Ada satu adegan yang membuat saya tertawa. Bukan karena adegan itu lucu, tapi karena it hits home, saya merasa terwakili di situ. Salah satu kolega Stephen, Amy Brand (Melanie Lynskey) , meminta Caitlin Avey (Chloe Sevigny) untuk memeriksa tulisannya.

"What do you think?" tanya Amy penuh harap. Saya lupa jawaban tepatnya, tapi intinya Caitlin memberi tanggapan negatif. "Kenapa kamu mau beralih dari keahlianmu dan menulis sesuatu seperti ini?" Caitlin balik bertanya. "Kamu bagus menulis tentang kebijakan, bukan tentang sesuatu yang lucu. You don't write funny," tegas Caitlin.

Lalu, Amy, perempuan dengan pipi tembam itu mengatakan, "Tapi para editor itu tidak mau lagi tulisan seperti ini.Mereka ingin tulisan yang lucu."

"Jadi itu alasannya? Kamu mau menulis seperti Stephen?"

--dan ini saya kutip langsung dari imdb.com--

Amy: "Have you noticed the way Steve's phone has been ringing lately? Did you see all those editors at the correspondence dinner? The way they were circling him?

Caitlin: "Is that what you want, Amy? To get a bunch of smoke blown up your ass by a pack of editors?"

Amy Brand: "Yes. Yes it is."

--end quote--

Amy mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Ia menginginkan apa yang saya inginkan; get a bunch of smoke blown up my ass by a pack of editors.

Tak usahlah TNR, yang katanya the snobbiest rag in the business, in flight magazine di Air Force One, di tempat saya juga ada seorang Stephen Glass. Sayangnya, atau untungnya, tergantung dari sisi mana melihatnya, Stephen Glass ini tidak mengarang beritanya. Favorit para redaktur, dikagumi teman-teman sejawatnya, atau setidaknya diakui kemampuannya oleh peers-nya, dan orang ini tahu bahwa dia is that good.

Sekali, saya pernah mencoba peruntungan dan bertanya ke seorang teman, kenapa tulisan 'Stephen Glass' itu bagus?

Jawaban si teman, "dia itu diksinya kuat, vocabnya banyak, dan punya banyak referensi." Dan saya, seperti jawaban karakter Chuck Lane setelah Glass mempresentasikan idenya, hanya bisa mengatakan, "Wow, a tough act to follow." Dan ini terjadi sebelum saya menonton filmnya.

Ternyata, di kantor, banyak juga Stephen Glass-Stephen Glass yang lain, masing-masing dengan kemampuan yang beragam. Dan mereka-mereka yang ada di pikiran saya ini memiliki banyak hal secara bersamanaan; kekuatan diksi, referensi yang luas, apresiasi yang dashyat, imajinasi tanpa batas, kepekaan menakjubkan pada detil, dan perlukah disebutkan kemampuan merangkainya menjadi satu tulisan?

Jika semua itu adalah hasil kerja keras, dan bukan bakat, seberapa keraskah mereka bekerja? Saya bergidik membayangkannya.

Tapi saya juga merasa menjadi bayi besar, karena tidak bisa mengakui keunggulan mereka.

Oke, oke, saya pernah bertanya pada seorang senior, apa sih bagusnya tulisan saya? "Kamu kuat di gaya bertutur," jawabnya. What the hell was that? Itu belum cukuplah. That's nothing.

Tapi oke, mencoba berhenti menjadi bayi dan produktif, selain menambah referensi, apa lagi sih yang harus dilakukan agar menjadi bagus? Adakah manual, seperti judul bukunya Nick Hornby, tentang how to be good?

Posted at 09:54 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry