PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< April 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, April 25, 2009
Indera

So okay, setelah menonton beberapa film Perancis untuk tujuan review dan makan kaya toast with butter, telur rebus setengah matang dan kopi susu untuk tujuan hiburan, aku pulang naik taksi.

Aku sebutkan tujuan kepada supir taksi tarif bawah lalu mengeluarkan alat bantu dengar yang baru dibeli untuk pemutar mp3.

(Jeda sebentar, sepertinya aku menemukan nama tepat untuk pemutar mp3, si hitam Samsung YP-U3 itu. Lagi berpikir-pikir, ini alat sebenarnya bisa merubah mood dengan cepat, tergantung albumnya siapa yang ada di dalamnya. So it's a mood-altering device, disingkat MAD. Cocoknya...Maddie? Madge? It's a she? Kayaknya lebih cocok cowok deh. Dan yang pertama teringat adalah Maddox. Well, this is a Korean device, not a Cambodian one. And I bought it. Well, belum tahu sih Maddox itu adopsi atau hasil perdagangan manusia, hehehe. Terus aku ingat, Ford Madox Ford! Ford Madox! Atau Maddox, bisalah. Biar membedakan sama yang asli. Kan laptopnya udah Ford Prefect, hahaha. There it is, he's officially Ford Maddox)

The Postal Service jadi terasa seperti si roti kaya toast atau soft boiled eggsnya. Sederhana tapi menyamankan. Aku mendengarkan mereka buat mengedit, buat teman perjalanan pulang di malam hari, dan untuk perjalanan berangkat di pagi atau siang hari.   

Dengan earphone yang baru itu pula aku mendengar The District Sleeps Alone Tonight. Dan dalam upaya tanpa henti mendefinisikan apa itu Gibbardism, aku baru bisa menangkap kekayaan nuansa dan atmosfer yang coba dibangun The Postal Service. Wujudnya berupa bebunyian efek-efek elektronik yang semakin mengeskalasi, dikelupas bungkusan-bungkusan peredamnya.

Volumenya bisa aku kecilkan sampai skala 10 atau 12, padahal sebelumnya aku tidak bisa mendengar apa-apa sampai volumenya dikeraskan ke 20. Terakhir malah sudah ke 28-29 dan 30.

Anak perempuan bosku yang sesekali datang ke kantor dan masih kelas 3 SD pernah meminjam Ford Maddox.

"Tante, ini 'Fag Hag' ya?"

Aku hampir tersedak. Dari mana dia pernah dengar 'fag hag'?

"Lho kok tahu?"

"Iya, tadi aku denger di mp3-nya Tante Ccr. Dia juga punya lagu ini."

It was Lily Allen, guys.

"Kamu bisa denger?" aku tanya. "Kan earphone-nya suka mati-mati gitu."

"Iya sih. Kalau gini," terus dia menaikkan bahu kanannya, "mati. Kalau gini," gantian bahu kirinya yang dia naikkan, "yang ini yang mati," sambil menunjuk ke earphone telinga kiri.

Sekarang, mendengar Ben Gibbard menyanyi, "you look so out of context//in this gaudy apartment complex," aku baru tersadar, betapa bisa mendengarkan sesuatu se-kaya ini terasa sangat menyenangkan.

Ada juga momen lain yang mirip-mirip. Ini berhubungan dengan mata.

Aku mulai memakai kacamata sekitar enam atau tujuh tahun lalu. itu pun dirasakan secara tidak sengaja. Saat pergi praktek kerja di pagi buta musim dingin, semuanya terlihat gelap dan kabur. Jadi aku memeriksakan dan langsung mendapat vonis -0,5 dan -2,50. Naturally I bought glasses dan setelah beberapa lama, saat berjalan ke kampus, aku melihat ada temanku di seberang jalan. Kami saling melambai, saling tersenyum dan tiba-tiba, DUAKK. Seorang pria berjalan cepat menubrukku dan tidak berhenti meminta maaf.

Pelipis kananku sampai cenut-cenut karena terhantam bingkai kacamata. Kacamatanya sampai miring sebelah. Dari yang asalnya miring sebelah itu, karena berusaha aku betulkan, jadi tambah parah. Sampai akhirnya patah.

Jadi aku mengerjakan skripsi dengan mata cacat dan kacamata sebelah tangkai saja. Sampai di Jakarta, tempat kacamata berharga lebih murah, aku membeli lagi. Yang 0,5 sudah jadi 1,5 dan 2,50 jadi 2,75.

Momen yang penting itu terjadi setelah aku mencoba kacamata baru dan kaget melihat, jerawat di pipi-pipiku, BANYAK BANGEEEEEEET. Di dagu juga ada. Semuanya jadi terlihat banyak setelah aku punya sepasang mata baru. Aku bisa mengidentifikasi tuh dengan momen-momennya Erica Hahn yang bilang ke Callie Torres, "You make see leaves." But instead of leaves, all I see is pimple. Lots of them.

Waktu aku ceritakan ke teman dekatku, dia cuma komentar, "Ignorance is indeed bliss ya."(bersambung)  


Posted at 08:12 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry