I have been having two uncharacteristic weekends. Dan aku rasa hampir untuk yang ketiga.
Ini berawal dari tiga pekan lalu. Tiba-tiba kok akhir pekanku jadi
uncharacteristically unalone, penuh dengan teman-teman dan orang-orang.
Padahal saat itu aku mengharapkan kesendirian untuk menyelesaikan
hal-hal pada to-do list.
Jumat malamnya ketemuan sama teman-teman mantan MI Siang. Well, tiga
masih di kantor yang sama, tapi dua lagi, Xat dan Nachtwey Kecil yang
sudah lama nggak ketemu, which is fun.
Hari Minggunya ada ketemuan dengan Ms Know It All, Ms Kawaai, Ms High
Society dan Little Miss Graphic Designer untuk bebek, terus pindah ke
Sour Sally, dan (minus Little Miss Graphic Designer) for some coffee di
Aksara Pacific Place.
Yang paling menonjol dari ketemuan hari Minggu itu sih cerita absurd
dari Ms Know It All. Kita janjian jam 12.00 di restoran bebek di
bilangan Senopati. Dari jam 11.30 dia sudah menelepon nanya aku di
mana. "I'll be on my way. Naik taksi kok," aku bilang.
Jam 12 pas bisa sampai.
"Lho kok cepet banget sih datangnya?" aku tanya ke dia.
"Iya, aku tadi abis dimintain mbak-mbak kos nganterin dia."
"Hah, kok minta anter kamu?"
"Dia mau ke..., jadi gini ceritanya, kemarin Jumat itu di depan kos-kosanku ada yang abis mbuang bayi."
"Haaahhh?"
Bayinya masih berusia dua mingguan, dibuang dalam kondisi hidup dan
sehat. Pelakunya siapa belum diketahui dan tampaknya susah diketahui.
Soalnya, satpam kos, para tukang ojek yang ramai nongkrong di depan
kos, penjaga warung, dll, lagi pada Jumatan. Penemuan itu sudah
dilaporkan ke polisi, tapi sama polisinya diminta para penghuni kos
yang merawat.
"Jadi kemarin kita udah pada chip in for the baby. Aku abis beli popok ama susu," kata Ms Know It All.
"Hah? Kenapa nggak bilang aku? Aku lagi pengen punya anak cowok nih. Emang bayinya apa?"
"Cowok."
Well, entah kenapa I had an emotional-maternal discharge beberapa
minggu lalu, membayangkan, kayaknya lucu ya punya anak cowok yang bisa
diajak nonton film lucu terus ketawa-ketawa, happy ngelihat dia
ketawa-ketawa kegelian. My little Atticus Finch. Of course, he would
not be named Atticus Finch. Holden, maybe? Hehehe.
Nah, uncharacteristic weekend kedua terjadi pekan lalu. Tiba-tiba kok
my weekend is uncharacteristically filled with stages and live music.
Kamis tepatnya, aku nonton The S.I.G.I.T dan band bluegrass The Student
Loan dan White Shoes dan aku merasa, sudah terlalu lama sepertinya
tidak menonton sebuah pertunjukan musik live seperti ini.
Pulang dari situ, di taksi, dapat pesan pendek dari Sha yang bilang Eva
punya beberapa tiket gratis Java Jazz dan mengajak-ajak ke sana. Oke,
jadi Jumat aku ke Java Jazz. Sempat nonton satu vokalis perempuan kulit
hitam yang tidak aku tangkap namanya, terus ke Dianne Reeves yang
beberapa kali sepanjang pertunjukan aku sampai pada kesimpulan she's
really really good, bukan jazz-jazz-an gitu. Terus kembali ke Plennary
buat Matt Bianco.
Melihat banyaknya orang ke sana, aku jadi bertanya, should I go there?
Maksudnya, sengaja merencanakan dan beli tiket untuk ke sana walaupun
aku nggak tahu banyak soal jazz. Aku merasa hampir ketinggalan sesuatu
saat berada di sana, yang untungnya 'terselamatkan' oleh tiket gratis.
Jadi aku mulai bertanya-tanya, tahun depan, haruskah ke sana?
Btw, it's also filled with orang dewasa tanggung, anak-anak usia 19,
20, 23-an yang hampir semuanya menenteng Blackberry like it's a piece
of brick.
Nah akhir pekan ini nih yang hampir uncharacteristic. Ada liputan Sabtu
malam di Taman Menteng dan Minggu pagi sampai siang di beberapa lokasi
buat Peta Hijau. Dan...
Beberapa hari lalu, di Facebook ada pesan soal reunian teman-teman SMA
di rumah salah satu teman. Reaksi pertama, wow, kayaknya bakal asik.
Lambat-lambat, keraguan mulai masuk. Sampai akhirnya aku menelepon
seseorang yang bisa disebut Mr Perenially Cool. Ini teman SMA juga, dan
sort of teman kuliah walau beda kota.
Nggak diangkat.
Tapi terus aku ditelpon balik oleh sebuah nomor tak dikenal.
"Kenapa, Nar?" kata Mr Perenially Cool.
"Eh kamu tahu kan ada undangan dari xxx soal reunian, etc etc etc."
"Iya, semuanya diundang kok."
"Aku juga dapet, cuman...siapa aja yang dateng sih?"
Mr Perenially Cool mendaftar teman-teman yang akan datang terus bertanya, "Kenapa?"
"Aku agak-agak nervous mau datang."
"Ini kan cuman teman-teman SMA, Nar, yang masih dengan guyonan-guyonan bapuk waktu kita SMA."
"Yes, tapi mereka kan udah jadi stranger. Dan aku udah lama nggak ada
di lingkungan yang penuh orang asing dan harus bercakap-cakap. Aku kan
nggak tau gimana memulai percakapan. Atau, gimana kalau nggak ada yang
ngomong ama akuuu?"
Aku sambil ketawa-ketawa sih di telepon, but it's my biggest fear for this weekend. Telapak tanganku sampai basah.
"Tenang," kata dia lagi, "kan ada Bitchiest Straight Guy I Know."
"YES. But he has his much cooler friends than me."
Yang membuat aku cemas, Mr Perenially Cool masih di area abu-abu soal
datang atau tidak. "Aku ada acara kantor, tapi aku mungkin datang
mepet," dia bilang. Nah, liputanku itu memasukkan unsur berjalan-jalan
dan keringetan dan nggak fresh, yang bakal membuatku nggak wangi. Huks,
huks.
Well, okay. Let's see tomorrow how my nerves serve me.