PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< February 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, February 26, 2009
On the Subject of Loneliness

Pada suatu Minggu, empat manusia Jakarta yang kesepian bertemu di pusat jajanan di sebuah mal jantung kota.

Ya, pastinya sih aku yang kesepian. Ada Ms.Know-It-All yang menagih janji untuk bertemu di salah satu hari liburku. I thought I was supposed to call her on Monday, tapi pada hari Minggu, dia sudah miscall dan mengirim pesan pendek, "Nari, kita jadi nge-Raffel's nggak?"

Aku menelepon balik dan bilang, jadi. "Oh ya," kata dia, "nanti ada Ms Kawaii dan Ms Pretty Technician juga ya. Mereka juga lagi kesepian katanya."

(Nah, Raffel's itu butuh cerita tersendiri. You know how I always complain about not finding a sandwich shop with a proper bread? No? Well, okay, I grumbled in private. But, yes, I found one. They made the sandwich fresh when you ordered it. They have panini. Well it's not exactly like the panini I know, but it's proper bread. And okay, Cafe Au Lait has a great tasting tuna sandwich with great bread, but they have very limited option for sandwich toppings. Raffel's has chicken pesto [!] and philly and cheese [equivalent of Subway's steak and cheese]. I told Ms Know-It-All about it on Thursday, and she said, "Iyaaaaaaa. Aku juga suka delivery kok." So we build up quite an appetite for their gigantic sandwich)

Kami menanyakan kabar, bertukar cerita. Aku datang di tengah-tengah pembahasan soal proses perceraian hampir final dari Ms Pretty Technician. Ms Kawaii belum datang. Ms Know-It-All langsung menuju order of business for the day, pembahasan soal kesepian itu.

(Sebagai catatan, aku pikir kita berada di sini untuk menyingkirkan perasaan itu, bukan malah membahasnya)

Aku sih waktu itu sempat bilang, tidak tahu apakah ini magnifikasi dari rentetan kejadian atau memang ada hawa tertentu yang lagi melanda manusia-manusia Jakarta. Kok aku jadi menemukan kesepian atau tema-tema semacamnya di berbagai tempat.

Saat lagi blogwalk dan merasa berada di jurang emosi itu, eh kok ya ketemu sama postingan ini. Yang membuat aku merasa, eh rutinitas aku dan sosok yang ditulis di situ kurang lebih sama, imaji-imaji yang kami tangkap lewat mata juga plus minus mirip, dan akhirnya berujung pada kesimpulan emosi yang satu. Ini orang asing yang tidak aku kenal, tapi kok dia mendaftar dengan tepat ya, semua yang aku rasakan?

Di tengah sesuatu semacam epifani itu, aku menyapa mbak Octopus lewat sebuah percakapan maya. Dan aku kaget campur senang menyadari bahwa dia juga ada di titik emosi yang sama, kesepian. Kesimpulanku: apa kesepian itu penyakit manusia kota?

Mbak Octopus mendaftar berbagai ritual pengisi kesepiannya, dari duduk-duduk sendiri di Taman Suropati sampai memilih film secara acak dan tidur di dalam Metropole. Aku bilang, "Lho kok jadi kayak manusia-manusia di film-film Wong Kar Wai?"

Ritualku selalu mengulang-ulang pertanyaan ada apa dengan saya, di antara DVD-DVD atau deretan acara tivi kabel yang aku tonton.

"Coba lihat di sekitar, Nar. Lihat deh," kata Ms Know-It-All. "Masa sih orang Jakarta kesepian? Lha wong nggak ada yang duduk sendiri. "

"Nah itu, makanya yang mbuat aku gentar pas berapa minggu lalu gitu, harus duduk sendiri, makan di foodcourt," kataku.

"But I do that all the time," dia bilang.

"I know. Aku juga biasanya gitu, tapi waktu itu nggak tahu kenapa, mau makan sendirian aja di food court Plaza Senayan sampai gentar, nggak berani. Apa karena itu pas weekend ya?"

"Atau mungkin," ini masih dari dia, "mereka ketemuan di mal, cuma buat janjian ngapain, terus pulang dan ngerasa kesepian lagi? Jadi relasi-relasi yang thin gitu. Lepas lagi kalau nggak ketemu."

Mungkin. Aku nggak tahu. Tapi aku cukup bersyukur soal siang ini.

Entah kenapa dia juga lompat ke konklusi ini. "If you can't manage your loneliness, kamu nggak akan jadi orang yang komplit dalam satu hubungan. You are not the sum of its part. Coba, kalau kamu cuma 50%, tambah 50% lagi orang lain, jadi 100%. Tapi kalau 100% ini pecah, kamu bakal jadi 50% lagi kan?"

Kami bicara runtang-runtung.

Dari soal dia yang pesimis akan circle of friends (dia percaya, semakin kita tua, circle of friends semakin mengecil. "But I know lots of people yang circle of friendsnya tambah luas," aku bilang. "Atau mungkin, itu relation by proxy [sic] yang ada karena hubungan profesional, tapi bukan sesuatu yang lasting. I think it's a very Eastern, atau Indonesian concept, that we can be friends with people at work place or those we meet during work. I don't buy that," kata dia), lalu juga soal kebutuhan akan teman baru ("Why would you need one?" kata dia. Lalu aku mengingat-ingat, teman-teman baru yang aku dapat, yang tidak dari perkuliahan atau kerja, cenderung punya kemiripan dari soal selera, ritme hidup, jangkauan emosi, sampai kebiasaan-kebiasaan pengisi waktu. Jadi aku nggak tahu apa sebenarnya yang aku cari, more of the same atau yang lain. Yang aku tahu sih, aku beruntung karena aku tidak sengaja 'mencari'. Upaya yang dilibatkan relatif minim, tapi mereka datang).

Ms Pretty Technician cerita sesuatu yang membuat aku shock. Dia bilang karena status maritalnya yang terbaru sudah mulai menyebar, pria-pria di sekitarnya lalu mulai menawarkan sebuah jasa khusus.

"Nggak pa-pa, kamu kan bakal punya kebutuhan," dia mengutip kata-kata si cowok.

Mungkin seharusnya aku bilang sesuatu, that it was some form of harassment to her. But I didn't. Dan sampai sekarang aku masih terkaget-kaget sama opini dan perkataan yang mampu disampaikan oleh orang. Aku nggak tahu apakah aku terlalu serius menanggapinya karena yang jadi tujuan kata-kata itu cuma menganggap ringan.

Ms Kawaii datang dari Glodok, mencari DVD di akhir pekan. Kebiasaan yang tampaknya juga awam di banyak orang yang aku kenal. Ingatkah soal Nick Hornby yang mencatat di High Fidelity versi buku, bahwa kebanyakan pencari piringan hitam di akhir pekan itu punya ciri-ciri serupa? (Mostly single male, memakai pakaian yang serupa, membawa tas yang serupa untuk mengangkut koleksi yang baru mereka dapatkan)

Mungkin, jika ingin melakukan pencatatan sebanding untuk tulisan Hornby itu di Jakarta, ada para pencari DVD akhir pekan. Tetapi mereka tidak hanya mostly single male, sudah meluas juga ke single female. That we drown our alone-ness with DVDs.

Oh ya, perbincangan kami juga sampai di sindroma Facebook. Aku menyebutnya itu untuk 'penyakit' yang aku rasa ketika melihat betapa komplitnya hidup orang-orang di berbagai halaman situs pertemanan itu.

"Oh, come on, Nari. Situs-situs pertemanan itu, nge-tag, foto, dan sebagainya. That's all vanity. Mereka kan cuma nunjukin kalau mereka itu fine, fabulous, nggak kesepian. Coba deh lihat, foto-foto di Facebook tuh kan cuma kalau nggak gathering, nikahan, kopdar, ketemuan," says Ms Know-It-All, our shrink for the day.

Kesimpulan yang sudah sering diulang oleh banyak orang, tapi mungkin baru sekarang aku benar-benar sadar akan poin itu. Baru terbenam di penalaran.

Ini mengingatkanku akan sesuatu yang dikatakan Robin Williams(?) di One Hour Photo. Bahwa kita tuh nggak akan memotret momen-momen yang menyedihkan. Selalu acara-acara bahagia. Pesta ulang tahun, liburan bersama, tapi nggak ada soal pertengkaran atau perselisihan. Aku sudah lama tidak menonton film itu, tapi sepertinya pernyataan dia itu berhubungan sama kenapa dia begitu hancur waktu keluarga yang diikutinya juga ternyata tidak seideal di foto.

Sama seperti di Facebook. Kita berusaha merangkum momen-momen bahagia itu dan ditunjukkan (tertunjukkan?) ke orang lain.

But anyway, pada akhirnya Ms Know-It-All memberi cerita soal kenapa dia menganggap loneliness is good. "Nih ya, aku punya to-do-list apa yang pengen aku kerjain. Nah pas aku sendiri tuh aku jadi punya waktu ngelakuin semua itu."

Pernyataan sederhana ini kok ya jadi membuatku nyaman.

Dan di masa mood-ku sedang kacau seperti sekarang, aku juga jadi menemukan berkah.  Bahwa ini adalah waktu yang tepat buatku mendengarkan... MORRISSEEEEYYY!

(aku sudah empat kali bolak-balik menghabiskan "Years of Refusal"-nya yang baru itu dan sudah lama aku tidak sebahagia ini soal sebuah album. Membuatku ingin bernyanyi-nyanyi terus. Dan ini baru pertama kalinya aku mendengar Morissey secara utuh. I'll tell you why, next. Oh, right after I edit some articles first)

Oh, something is squeezing my skull
Something I cannot describe
There is no love in modern life

Oh, something is squeezing my skull
Something I can't fight
No true friends in modern life

Diazapam
Valium
Tarmazpam
Lithium
HRT
ECT
How long must I stay on this stuff?

Please don't gimme anymore
Please don't gimme anymore
Please don't gimme anymore
Please don't gimme anymore

(
Something is Squeezing My Skull--"Years of Refusal", Morissey)

Posted at 02:21 pm by i_artharini

rani
March 5, 2009   01:58 AM PST
 
saya mendengarkan Tomorrow. eskapisme kayaknya. kalo dengerin Morissey takut kepikiran yang enggak2 :D
lambe
March 4, 2009   10:38 PM PST
 
being alone emang nikmat sih. tp belakangan aku juga ngerasa kalau kenikmatan menyendiri jadi nggak bisa menyembunyikan perasaan kesepian T_T. bored of being alone, mungkin cuma karena itu kok nar
yusi
March 4, 2009   01:19 AM PST
 
nice writing!
bikin kita mikir berkali-kali

mengenai situs pertemanan itu, anggap saja sebagai pertemanan, bukan untuk menunjukan =)
dan apa yg di-post disitu, hanya untuk diri sendiri, mem-folder-kan moment istilah saya

mengenai circle of friend, yg semakin tua semakin mengecil..
agree with that also, truly friend i mean..bukan semata2 networking yg semakin membesar jumlah temannya seoerti di situs pertemanan tadi.
apalagi semakin tua kita semakin 'berbeda' tidak hanya seputaran janjian makan di food court atau nonton bioskop sendirian

agree with other comment, sendirian ga berarti kesepian
being alone is choice also =)
isyana
February 28, 2009   01:30 PM PST
 
girls, girls, girls, pleaseee... there's nothing wrong with it. i know well the difference about lonely and alone. i get pity look too. sometime it hurts me, sometimes i say, what the hell to it all.

but when i write this, i happen to be alone AND feel lonely. i'm not used to being scared eating alone, so when i felt that, it shocks me and made me write this sort of 'reflection'. this condition concerns mostly me. i'm not trying to generalize anything.

people can feel lonely in the middle of a huge crowd or feel okay being alone, we all know that. what i try to get at is the 'loneliness' feeling i feel, not the alone-ness. which is why it puzzles me why ms know it all directly jumps to the relationship part.
F
February 27, 2009   08:43 PM PST
 
@niken: happens to me too. being alone is a choice. being lonely is a condition. i still get that "pity" look from people when i tell them i'm going to concerts/movies alone. i enjoy the silence. i enjoy not having a company. what's wrong with it anyway?
Niken
February 27, 2009   02:04 PM PST
 
Pernah suatu Sabtu sore, aku menunggu teman yang masih dalam perjalanan ke Plaza Senayan. Aku jalan2 dan akhirnya keburu lapar, makan sendirian di foodcourt. Sebelum menuju foodcourt, papasan dengan teman kantorku dan pacarnya. Waktu aku bilang mau makan sendirian, mereka menatap prihatin, menawarkan menemani tapi setengah hati.

Memangnya 'sendirian' harus selalu berarti 'kesepian' ya?

Padahal justru kalo waktu itu mereka beneran mau menemani, aku justru jadi 'kesepian'. Lha wong malah awkward dan ga nyaman to?
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry