PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< February 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, February 21, 2009
Film dan Eskapisme

I was doing my not-as-usual blogwalk when I happen to meet this quotation:

"Saya menyadari bahwa film ternyata kini telah berubah fungsinya menjadi salah satu alat bertahan, survival essentials, untuk seseorang individu. Tidak hanya perempuan, tetapi para lelaki (terutama mereka yang masih lajang dan memiliki banyak waktu untuk dihabiskan sendirian) berupaya mempertahankan kewarasannya di tengah riuh rendahnya hidup hanya dengan bermodalkan stok koleksi dvd di kediamannya. Dengan kata lain, film menjadi sebuah eskapisme dari kerutinan sehari-hari yang mendera, yang kelak menciptakan sebuah renungan tentang hidup."

(dari Blog Dian Sastrowardoyo, entry "
Perempuan dan Film")

My first reaction was: how so accurate. Well, at least in my case.

Aku kenal tuh beberapa perempuan dan lelaki lajang yang, entah motivasinya mempertahankan kewarasan atau apa, tapi mungkin lebih karena eskapisme dari rutinitas sehari-hari, beralih ke DVD.

(Ya kan, Mas Lambe? Dan Mbak Octopus yang lega asal bisa tidur dan nonton DVD? Dan, aku nggak yakin sih, apakah Xat masih melakukan kebiasaan ini, karena dia sekarang lebih sering berada di tengah laut dan kenyataan yang dia hadapi sekarang tidak selajang saat kami masih bekerja bersama )

Sejak hampir setahun terakhir, seminggu sekali aku mengisi halaman resensi di media tempatku bekerja. Film, musik, buku. Lebih seringnya film dan musik sih, karena sejujurnya, sudah beberapa bulan aku kehilangan selera membaca. Nama halamannya pun menandai pelarian itu, Eskapisme.

So it was only fitting that I watch movies. Although, not as much as I want it to be.

Yang aku cemaskan sekarang, kok makin lama kenyataanku itu jadi tidak terpisah sama yang aku tonton lewat kotak kaca, atau lewat layar lebar ya? Dari seharusnya menjadi sebuah eskapisme, sekarang malah jadi merasa itu tempat tujuan sebenarnya. Dan kenyataan yang saya hadapi sehari-hari, itu malah yang fantasi.

Pada suatu masa, saat sedang menaiki kendaraan umum di sepanjang Sudirman yang kosong, aku sampai di kesimpulan: mungkin hidupku bisa jadi lebih sederhana kalau aku tidak menonton film. Aku tidak akan tahu soal area abu-abu, beragam gradasi emosi yang mampu membuat manusia jadi ini atau itu, tidak akan ada dramatisasi yang berbuah kerumitan. Bahwa  satu-satunya 'kenyataan' atau emosi yang saya lihat dan rasakan ya...berdasar atas kejadian-kejadian yang sudah saya alami. Bukan karena saya melihatnya lewat sebuah film.

Aku menyampaikan pemikiran ini ke Ccr. "Jangan-jangan hidupku bakalan lebih simpel, nggak ribet, kalau aku nggak nonton banyak film ya?"

Dan dia mengangguk pasti, mantap.

Mungkin karena waktu itu dia belum menonton film yang cukup. Tapi sekarang, dia juga kena sama film. Dia juga memproyeksikan kehidupan atau alternatifnya, keputusan, karakter, kemungkinan 'ending' dari keputusan yang dia ambil, pada sebuah film. Sepertinya sekarang dia malah lebih rajin menonton. Kalau dia sudah menonton film yang belum aku tonton, aku akan terpacu menonton film itu.

Percakapan acak dengan mbak Octopus membuat kita saling bertanya. "Apakah kamu juga memproyeksikan kenyataan atau mencocok-cocokkan atau mengasosiasikan hidup pada satu film?"

(Pertanyaan aslinya tentu tak seformal itu, tapi intinya tetap sama)

Kami sama-sama menjawab iya. Dan belum terlalu lama lalu kami menyadari bahwa film bukanlah cantolan yang bisa diandalkan untuk berbagai macam keputusan yang kami ambil di kehidupan nyata.

Kami juga saling bertanya, kapan kamu menyadari hal itu, bahwa film bukan sandaran berarti buat pilihan-pilihan hidup?

Aku lupa jawaban dia (apa ya mbak Octopus? Cinema Paradiso?), tapi buatku, jawabannya itu waktu nonton Jomblo. Waktu karakternya si Ringgo Agus Rahman itu, saat dia memilih si pacar utamanya daripada selingkuhannya yang digambarkan lebih pas buat dia? It's not like he was married to her.

Dari situ aku baru melek, bahwa bisa lho mempertanyakan apa yang terjadi di layar. Bahwa, bisa juga lho, pikirannya nggak sejalan sama si narator. Haha, cemen banget ya? Dan, setelah sekian lama, pencerahannya baru itu?

But anyway, setelah pencerahan itu terjadi, sekarang kok aku malah kembali ke kemenyatuan antara yang fantasi dan yang realita. Jadi sulit dipilah lagi. Membaca ulang beberapa posting terakhir di sini, jadi semakin minim realita manusia-nya (atau manusia nyata-nya), dan lebih banyak soal dunia dan manusia dalam kotak kaca.

Beberapa waktu lalu aku juga menemukan sebuah kutipan. Sekarang aku malah sudah lupa siapa yang bilang dan di mana aku menemukannya. Sepertinya itu antara di sampul belakang sebuah buku yang aku lihat di toko buku, atau sebuah blog. Dalam bahasa Inggris. Katanya, semakin kita tua, semakin kita tidak bisa memisahkan antara hidup kita dan apa yang kita tonton. Benarkah begitu? Kalau iya, apakah ini yang sedang terjadi?

Pauline Kael juga pernah bilang (dan ini aku ingat ada di bagian awal buku berjudul Movie Love in the Fifties) pada sebuah wawancara. Si pewawancara bilang, "When I go to a movie, I feel lost." Dan Kael menjawab, "I feel as if I am found."

Sebuah sesi seminar kritik film dalam Jiffest lalu menghadirkan peresensi untuk majalah Variety bernama Russel Edwards. Aku ada di sana dan mencatat pernyataan-pernyataannya karena..aku nggak tahu tanggung jawab apa yang datang bersama 'pekerjaan' ini.

Kata-kata Edwards yang paling relevan untuk tulisan ini, mungkin soal bahwa meresensi film adalah sebuah pekerjaan yang soliter. "We sit in the dark, paying attention to the screen, it's not exactly a sociable [sic?] job," kata dia.

I'm not ready to call what I do as a job yet. Not if compared to what he's done as a reviewer. At best, I would call what I do a part-time reviewer and full time editor. But I am already starting to feel that solitary type of life.

Mungkin bukan juga karena konsekuensi sebuah tugas, tapi bisa juga karena aku lebih memilih untuk menyelami realita dengan menekan tombol play, daripada bergaul secara 'normal'. Tapi pernah dengar kan soal riset bahwa mereka yang menghabiskan waktu lebih lama di depan televisi adalah mereka yang tidak bahagia?

I am tempted to count that as some sort of answer.

Film juga sepertinya, secara bersamaan, terlalu sederhana untuk jadi bagian dari solusi dan terlalu indah dan kompleks untuk cuma jadi obat ketidakbahagiaan.

So why is it I found myself more alone, and deeper in the fantasy realm? So deep that I could not separate this world and that of optical 'illussion'?

Posted at 02:30 pm by i_artharini

Ablayani
February 26, 2009   01:29 PM PST
 
Yeah right, nice post.. sgt mewakilkan perasaan sy sebagai sesama pencinta film ^^
Puri
February 24, 2009   07:34 PM PST
 
hahaha...
nari nari, irisan dalam hidup itu terlalu banyak ya? :)
rani
February 23, 2009   06:12 PM PST
 
riset bahwa mereka yang menghabiskan waktu lebih lama di depan televisi adalah mereka yang tidak bahagia?----> benarkah??
oh noooo
avianti
February 23, 2009   12:03 PM PST
 
it works for me... everytime i feel restless movie will be my ultimate solitude to find an answer. well..movies, books, songs.. kalo ga, gw dah lama masuk rumah sakit jiwa kali... :)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry