PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, January 02, 2006
Kritikus dan Label

Aku suka banget mbaca review film, terutama kalo yang nulis Peter Bradshaw-nya The Guardian dan Peter Travers-nya Rolling Stone. (Wait, ada apa dengan aku dan penulis review film bernama Peter?). Dari segi gaya penulisan, mereka eksploratif dan kreatif banget. Pasti ada selalu kalimat-kalimatnya yang bener-bener mengena., sinismenya nendang atau bisa mbuat ketawa. Dan secara selera, yaa plus minus apa yang mereka tulis cucoklah.. sama apa yang aku suka.

(For the record, aku juga seneng tulisan-tulisannya F Dewi Ria Utari kalo dia nge-review pertunjukan tari atau teater. Well, terutama tari sih. Karena dia berani bilang "iya, ini bagus karena..." atau "ini tidak bagus karena saya tidak mengerti.." Berdasarkan pengalaman, orang cenderung menyukai sesuatu yang tidak mereka mengerti, karena kesannya it's challenging, out of their mind, dan rumit. Tapi dia, cukup jujur dan tidak pretensius.)

Tapi, tunggu sebentar.

Di sini aku harus berhenti dan merefleksi. Apakah benar aku menyukai sebuah film dan sependapat dengan para kritikus film itu, atau aku menyukainya setelah diberi 'label' oleh para kritikus tersebut. Nggak bisa dipungkiri, aku mendaftar 'must-see films' berdasarkan review-review yang mereka buat.

Aku tidak sadar, betapa fatalnya kondisi ini sampai aku harus membuat review sendiri. Aku jadi tidak berani bertanggungjawab atas seleraku sendiri, caraku menilai suatu film, atau produk budaya lain. Masalahnya, karena aku lebih sering percaya sama selera orang lain daripada my own. Dan ketika aku menulis review, aku cenderung menceritakan tentang produk budaya tersebut, dan tidak menuliskan tentang kesan yang aku peroleh setelah  'menggunakan' produk tersebut. Tidak ada premis yang sebelumnya terbentuk di kepala.

Padahal, kalau nggak salah waktu aku diem-diem mbaca 'Letters to a Young Poet'-nya Rilke sebelum dikasihin ke orang (heheh),  menurut Rilke, hal yang paling tidak menyentuh esensi karya seni adalah review atau criticism.

Ketidakpercayaanku atas penilaian selera sendiri ini juga berlanjut ke mendengarkan musik, sebagai salah satu contoh. Weekend kemarin, Rantje kan baru beli kasetnya 'Letto', band asal Yogya, yang baru aku denger kemaren2 itu lagunya. Tapi Rantje udah pengen beli kasetnya pas tau mereka band dari Yogya.

Anyhow, pas dengerin kaset itu, aku berulang kali nanya ke si Rantje: Siapa sih mereka? Dan Rani bolak-balik njawab, 'band dari Yogya'.

Tapi, tentu saja, jawaban itu tidak membuat aku puas. Yang pengen aku dapetin jawabannya adalah: genre musik mereka apa sih? Cool nggak sih mereka? Atau kualitas mereka cuma seperti 'Radja' berikutnya? Mereka mewakili apa? dst, dst, yang ujung-ujungnya sebenernya cuma menyimpulkan: aku tidak tahu, apakah mereka worth listening to or not. Apakah mereka merepresentasikan 'bad taste' atau 'good taste' dengan keahlian musikalitas nan tinggi.

Sebenarnya kan pertanyaan itu bisa aku jawab sendiri. Worth listening to, karena... Atau not worth listening to, karena... Cuma masalah menemukan hal-hal yang disukai dan tidak disukai kan?

Cuma ya itu, entah karena aku sudah terkungkung di dunia yang semua tentang 'image', sehingga menentukan mereka cool atau tidak pun harus menunggu persetujuan orang lain, pengkotakan genre dari kritikus musik, dan 'company overview' dari perusahaan rekaman, atau...aku sebenarnya memang tidak berani menyatakan pendapat. Contoh gini, aku udah suka sama band itu duluan, terus...perusahaan rekaman mengkategorikan mereka atau memasarkan mereka sebagai band 'emo' misalnya. Misalnya. Aku pasti udah cold turkey, bubar jalan, sambil ber-cuih-cuih. Aku bakalan tidak mau repot-repot untuk find things out.

Oleh para kritikus, semua seperti sudah terkotak-kotak dengan nyaman. Tinggal pilih, konsumsi atau tidak?

Nah, ini yang pada 2006 akan aku kurangin; membaca review sebelum nonton film, salah satunya. Dan instead, ya nulis review sendiri lah.

Intinya sih percaya sama penilaian sendiri, dan mampu memberi alasan deskriptif akan apa yang aku sukai dan tidak sukai; mempertajam apresiasi akan produk budaya yang sedang dipakai.

(Karya seni sebagai produk budaya mungkin bisa jadi entry sendiri ya, kalau karya itu tak beda dengan produk yang dikonsumsi dan setelah habis, dibuang...)

Dan ini yang mbuat penting, note to self, berapa banyak sih film yang udah aku tonton, buku yang udah aku baca? Dan dari semua itu, apa coba yang bisa aku ambil gist-nya? Bisa nggak aku mbuat lima kalimat aja, dari semua itu? Tertatih-tatih banget kan?

Hidup, waktu yang udah terlewat itu, cuman bisa diingat kalau tercatat. Karakternya Guy Pearce di 'Memento' itu ada benarnya.  Bisa dicontoh, walaupun aku nggak punya short-time memory lapse. Kalau nggak, waktu yang udah terlewat ya kelewat aja. Habis, hilang, partikel-partikel yang ditiup angin.

Anyway, ini waktu yang tepat aku rasa. Karena 2006 juga menjadi tahun awal program 'One Movie a Day, 50 Books a Year'. Okeeee... let's start documenting!


Have just finished watching:
The Flower of My Secret



Have just finished watching:
Waking Life
Staring Eamonn Healy


Have just finished watching:
Pride and Prejudice (Special Edition)




Posted at 08:13 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry