PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< July 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, July 26, 2008
Paspor

Pertanyaan, berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang wartawan untuk membuat paspor?

Jawabannya, satu jam.

(Dan satu hari untuk mengambilnya sih)

Jadi, Kamis kemarin aku, akhirnya, memaksakan diri untuk meluangkan waktu membuat paspor. Sehari sebelumnya sudah minta surat keterangan dari kantor biar lebih mantap urusannya. Plus minta nomor telepon orang Imigrasi yang biasa membantu proses pembuatan paspor orang-orang kantor, hehe.

Baru sampai rumah jam 6.30 pagi dan berencana bangun jam 7.30an. Tapi akhirnya bangun jam 11, itu pun dipaksa-paksa. Telpon orangnya, dan baru sampai di Mampang jam duaan. Tambah dua puluh menitan buat fotokopi-fotokopi, terus ketemu deh. "Haduh, mbak. Kok datangnya sore banget sih?"

Lha saya baru kerja kayak satpam, Pak. (Ini cuma dalam hati)

Akhirnya cepat-cepat beli formulir, isi, melengkapi dokumen, dan diserahkan ke bapak yang membantu itu. Langsung dibawa ke balik pintu permohonan berkas. Eh sebelumnya sempat suruh fotokopi kartu pers dulu, terus dicepret deh di bagian depan penahan dokumen.

Lima sampai sepuluh menit duduk, bahuku dicolek-colek. Ternyata si bapak yang membantu itu. Singkatnya mungkin kita panggil Pak Kumis saja.

"Mbak, dipanggil Pak *** tuh. Dia nggak percaya mbaknya wartawan."

Ternyata si bapak yang pengen memastikan statusku itu cuma mau bilang, "Mbak, maklum ya kalau selesainya nggak bisa cepat. Dan harus berlanjut sampai minggu depan. Soalnya kita mau ada pembaruan sistem. Tapi mbaknya butuh cepat?"

Aku yang tadi cuma ngangguk-ngangguk terus menjawab, "Emm, iya sih. Butuhnya agak cepat."

"Ya ini saya cuma ngasih tau aja. Jadi kalau nanti nggak cepat selesai biar mbaknya nggak marah-marah, 'Gimana sih, kok nggak selesai hari ini'."

Dalam hati aku agak berseri-seri, 'Hah, masa sih mau selesai hari ini? Yang bener aja?' Di sisi lain, aku jadi berpikir, hmm, padahal aku sudah menggunakan nama institusi dan status pekerjaan untuk mendapat kemudahan, tapi si bapak ini sampai harus mengingatkan biar aku nggak marah-marah kalau dia nggak bisa memberikan kemudahan. Kemudahan yang sebenarnya...seharusnya tidak ada, mungkin.

Akhirnya nunggu di luar lagi sekitar 10 sampai 15 menitan. Pak Kumis ternyata sudah keluar dengan formulir-formulirku sudah ditandatangani dan disuruh membayar ke atas. Waktu lagi ngantre di kassa, ada petugas dari belakangku yang bilang, "Mau mbayar, mbak?"
"Iya."
"Sini, sini."

Mapku terus diambil dan dia masukkan ke loket. "Tunggu dipanggil namanya ya."

Lima sampai sepuluh menit dan namaku dipanggil. "Media Indonesia."

Hahaha.

Sudah deh, dari situ langsung foto dan pencatatan sidik jari. Selesai, wawancara, yang ternyata cuma ketemu Pak Kumis dan dia melengkapi bagian formulir yang belum lengkap. Katanya, "Besok ya ngambilnya. Siangan. Lepas jam 2."

Dan aku keluar dari gedung itu jam 3.30.

Ck, ck, ck. 


Posted at 02:18 am by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry