PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< June 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, June 24, 2008
We're Gonna Go Dancing!!

Ini sisa dari liputan pertunjukan We're Gonna Go Dancing!! di Goethe Haus, Rabu (18/6) lalu. Awalnya agak bimbang, mau dibuat liputan atau tidak. Tapi karena keterbatasan stok liputan, ya sudahlah. Toh juga nggak akan diambil sama edisi pagi.

Ceritanya pertunjukan ini adalah bagian dari turnya jaringan tari kontemporer Jepang (Japan Contemporary Dance Network-JCDN) ke empat kota di Indonesia; Jakarta, Bandung, Yogya dan Solo. Tahun lalu, mereka cuma mampir di Jakarta dan Solo. Tahun ini, bertepatan dengan 50 tahun peringatan hubungan Indonesia-Jepang, perhentian tur pun ditambah.

Ada empat komposisi yang ditampilkan. Masing-masing komposisi memungkinkan penontonnya icip-icip rasa tari kontemporer Jepang, seberapa mendebarkannya (atau mungkin membosankannya) scene itu di berbagai kota di Jepang. Tapi salah satu komposisinya ditarikan oleh penari-penari Namarina. Koreografinya karya koreografer Jepang.

Oke, tarian pertama. Yang aku tulis di buku catatan: 'a hip-hop affair?'

Curiganya sih dari loncatan, langkah-langkahnya, dan gerakan mengalir yang khas itu. Akhirnya lampu mati. Dan pas menyala lagi, kecurigaanku benar. Sebuah komposisi hip-hop.

Ada varian gerakan moonwalk diiringi musik-musik electronica model Daft Punk. Dan breakdance dalam kekuatan penuh. Sampai, beberapa saat kemudian, musiknya kembali ke tempo yang lebih santai dan karakter yang ditampilkan Kentaro, si penari solo itu, balik ke 'dirinya' yang pemalu dan tertutup.

Ia mencoba melakukan pengontrasan bunyi lagu latar. Antara yang 'kasar' dan 'buram' dari bunyi piringan hitam ke kerenyahan emosi lagu-lagu R&B tipe-tipe Chris Brown dan Ne-Yo itu. Seperti momen atau ruang gelap yang personal dan kadang menyergap itu dikontraskan dengan ritme kehidupan yang 'pop'.

Gerakan breakdancenya kembali muncul lebih kentara. Musik latarnya juga lebih cepat dan lebih elektronik. Semuanya sangat pop dan muda. Lalu komposisinya lebih menjadi sebuah gaya jalanan yang tidak terlalu tertata. Dan Kentaro terus menari tanpa musik.

Lumayan. Tapi tidak ada saat-saat yang membuatku merinding. Padahal ruangannya dingin banget.

Selanjutnya, sembilan penari perempuan dan seorang penari laki-laki dari Namarina. Komposisinya butuh waktu (agak) lama sebelum aku sampai pada kesimpulan. Inti-inti gerakan baletnya masih ada.

Ada gerakan yang aku sukai. Banget. Badan si penarinya berputar, tapi kaki yang jadi tumpuannya berganti-ganti. Pada saat itulah aku berharap menjadi seorang penari balet. Tapi terus aku teringat dengan kisah Zelda Fitzgerald. Dan memilih untuk langsung mengabaikan keinginan itu.

Komposisinya penuh permainan, energetik. Kadang mereka menjadi marionette, kadang jadi chorus girl dengan gerakannya yang seragam. Ternyata intinya adalah masing-masing dari mereka menari dengan kekuatannya masing-masing. Komposisi yang (seharusnya) menegaskan individualisme. Masing-masing menjadi penari solo dalam ensemble.

Mungkin karena faktor usia atau entah apa. Penampilan mereka dingin dan tanpa emosi. Kosong. Yang bergerak hanya badan, tapi tidak ada getaran yang sampai di hatiku. Baru gerakan-gerakan tanpa jiwa. Dan 'kegagalan' menggetarkan itu terlihat lebih jelas dalam komposisi yang lebih pelan.

Seperti kharisma masing-masing mereka belum cukup kuat atau menonjol untuk menguasai seni menjadi individual di tengah kerumunan.

Dan keyakinanku akan 'vonis' itu jadi makin kuat setelah melihat penampilan selanjutnya. Pasangan laki-laki dan perempuan dari Dance Theatre Ludens (dari homo ludens). Komposisinya paling subtil, sublim, anggun tapi sederhana. Ternyata when it comes to....everything really, I like subtle best.

Menarik sekali. Komposisinya berawal dari rambut. Penari perempuannya hanya memindah-mindahkan rambutnya. Si penari laki-laki, yang memang gundul, menggesturkan tak memiliki apa yang dimiliki 'Sang Hawa'.

Gerakannya berawal sangat sederhana, tapi sarat emosi. Yang terjadi selanjutnya adalah pengejaran si laki-laki akan rambut si perempuan. Dari rambut, ke kaki.

Oh, ini cerita tentang pengejaran tubuh orang lain untuk sekadar menjadi. Pengejaran dan penghindaran yang jadi permainan menggoda. Membuat penasaran. Menyenangkan tapi juga mengesalkan.

Pengejaran-pengejaran itu yang, pada satu saat dalam komposisi, membuatku tergelitik. Tak sampai tergelak saking subtilnya koreografinya. Tapi cukup untuk membuat tersentuh.

Pas aku bilang ke Photographer of the Year yang ikut datang memotret tentang komposisi ini, dia bilang, "Aku nggak suka. Aku nggak suka kepala diinjak-injak walaupun atas nama seni." Ya sudahlah, ini orang memang sudah punya kode moral yang tegas. Biarkan saja dia dengan pikirannya.

Setelah si penari laki-laki pergi, si penari perempuan menari solo yang mengesankan ia sedang mengecek 'kelengkapan' tubuhnya. Paha, pantat, perut, punggung, pinggang, dada. Semuanya ternyata masih pada tempatnya.

Semuanya, benarkah?

Lalu berlanjut ke lengah, wajah, hidung, sampai kerutan di mukanya.

Saat si penari laki-laki muncul lagi, gerakannya berfokus pada usaha 'menangkap' si perempuan. Yang awalnya nuansa penolakan kuat, sekarang jadi pemaksaan. Tapi kenapa lebih banyak senyuman?

Memaksa, dilepas, terus seperti itu berulang. Sampai si perempuan akhirnya menggantungkan lengannya ke leher si laki-laki dan berputar bersama beberapa kali.

Pada akhirnya, ini posisi yang benar-benar indah. Masing-masing menempelkan bahu dan lengannya pada pasangannya, kakinya diletakkan saling menjauh, tapi mereka menemukan keseimbangan untuk berjalan bersama dengan saling bersandar.

Komposisi terakhirnya dari Kikikikikiki. Judulnya Beehive 007. Kelompok tari dari Kansai ini terdiri dari empat perempuan dengan berbagai bentuk tubuh. Usia mereka di kisaran 23 sampai 25 tahun.

Yang ini benar-benar butuh waktu lama banget sampai akhirnya berani membuat kesimpulan. Itu terjadi ketika kostum mereka berganti dari pakaian tidur ke gaun-gaun satin yang desainnya sesuai bentuk tubuh mereka. Gaun-gaun pendek yang biasanya digunakan untuk acara-acara formal. Masing-masing dengan warna berbeda. Gaun warna merah, sepatunya merah. Hijau dengan hijau, ungu dengan ungu.Seperti siap untuk have a girl night out.

Mereka melakukan segalanya di atas panggung. Saling menendang, memaksa, berteriak, bergetar, berganti baju (ya, berganti baju), berebut tas dan sepatu dan baju.

Tapi pas mereka menggunakan gaun-gaun malam itu, aku jadi mengidentikkannya dengan SATC, hehe. Dan jangan-jangan Beehive yang dimaksud adalah pengibaratan tempat kost atau apartemen tempat empat perempuan pekerja berbagi ruang hidup yang sudah sempit. Dan ini adalah gambaran kekerasan terhadap satu perempuan di kelompok itu.

Koreografernya, Kitamari yang terlihat sangat muda itu, menyatakan sangat tertarik pada perasaan dan sosok manusia yang bisa berbalik 180 derajat. "Semua manusia bisa mengalaminya. Dan kenapa saat melihat adegan kekerasan, kita jadi tertawa?"

Koreografer Masako Yasumoto yang bekerjasama dengan penari Namarina sebenarnya punya filosofi bagus. Konsep tariannya adalah membuat si penari bisa menikmati menari dengan dirinya sendiri. Lalu ia menambahkannya dengan gerakan yang belum pernah dicoba si penari. Sehingga pada akhirnya, mereka menemukan dirinya yang baru. Tapi ia juga melihat gerakan apa yang paling baik dibawakan oleh masing-masing penari.

"Bagaimana caranya mereka bisa lebih menikmati menari. Itu yang harus dicari terus, itu tidak ada batasnya. Kenikmatan menari tidak ada batasnya, itu yang saya harap mereka mencari terus. Tapi menari itu sendiri sudah cukup nikmat," kata Masako lewat penerjemah.

Dari koreografer Ludens, Takiko Iwabuchi, cuma ada ini. Bahwa ia tidak punya teori khusus tentang ekspresi perasaan. "(Tapi) saya selalu memikirkan hubungan antara tokoh dan kosakata tubuh."

*mematikan mode 'kritikus tari amatir'*

Posted at 06:12 am by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry