PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< June 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, June 12, 2008
Peran

"You know you don't have to act with me, Steve. You don't have to say anything, and you don't have to do anything. Not a thing. Oh, maybe just whistle. You know how to whistle, don't you, Steve? You just put your lips together and... blow."

(To Have and Have Not -1944)

Penyadaran yang terlambat sebenarnya. Tapi masing-masing dari kita sebenarnya menjalani sebuah peran kan? Baik disadari atau tidak.

'Politik' pengemasan diri inilah yang menjadikan kita diterima sebagai sosok yang kita proyeksikan. Kadang berhasil, kadang tidak. Yang tidak, mungkin berusaha memproyeksikan citra yang terlalu serius, tapi jatuhnya konyol. Coba tanya Coldplay, haha.

Aku sudah agak lupa sih sama kejadian utama yang mendorong posting ini. Cuma kejadian atau contoh-contoh kecilnya terus bertambah. Seperti waktu itu, aku lagi ngobrol dengan anak Salman.

A(nak) S(alman): Dia itu sebenarnya orang yang pintar. Wawasannya luas, ngomongnya cerdas. Tapi suka loading lama juga.

Aku: Contohnya?

AS: Emmm..Misalnya kita lagi ngumpul bareng, komentar tentang sesuatu, terus komentar itu sudah dibahas habis sampai kita sudah nggak ketawa lagi. Eh lima menit kemudian, dia bakal ngulangin komentar pertama itu tadi.

Aku: Ah, acting kaliii. Jaga imej.

AS: Ngapain? Waktu itu situasinya lagi pada ngumpul bareng sama temen aja, kayak kita gitu lho. Ngapain harus acting? Emang orangnya beneran lo-la.

Aku: Ooh. (Dalam hati: Aku nggak akan segitu yakin deh)

AS: Emang kamu mengambil peran apa?

Hmm. Ini yang membuat aku terhenyak.

Aku: Nggak ada yang aku pilih secara sengaja sih.

Mungkin ini waktu yang tepat buat memilih peran ya.

Dulunya sih aku mencoba jadi pintar. Tapi jatuhnya malah snob.  Terus ada masanya aku berusaha untuk membuat terkesan, impressive mode on. Tapi ternyata itu cuma berlaku buat orang-orang tertentu saja. Dan jatuhnya juga jadi terlalu overeager. Taking myself too seriously lah.

Mbak Koalala mengusulkan: Kenapa elu enggak jadi cewek budayawati aja?

Ah ya, it could have been a brilliant career.

Cuma aku ingat tuh ada masanya saat telapak tanganku nggak pernah seberkeringat dan sedingin itu daripada ketika disodorin sebendel puisi ketikan dan ditanyai: Gimana menurutmu?

Aku suka banget sama yang nyodorin puisi itu, cuma kok ya aku nggak pernah lebih menginginkan berada di tempat lain daripada harus menerima (dan menjawab) pertanyaan itu.

Besoknya, Ms Koalala mengajukan usul lagi: Gimana kalau cewek bola? Gue pengen tau, sejauh mana kemasan itu bisa menjual.

Hahaha. Bisa aja sih, tapi aku punya kesulitan menghubungkan nama dan angka. Pertandingan kan bukan film yang punya dialog atau plot, walaupun sama-sama bisa mengaduk emosi.

Pilihan lain...hmm, apa ya?

Oh, ini saja. Female Woody Allen.

Bukan, bukan dalam artian jadi Scarlett Johansson ya. Atau kabur dengan anak angkat pasangan hidupmu. Tapi funny women writer gitu. Seperti Tina Fey, atau Julie Delpy di '2 Days in Paris' atau Jennifer Westfeldt di 'Ira and Abby'. Bukan sebagai aktrisnya, tapi sebagai penulis.

Sepertinya cukup mengasyikkan.

Mungkin agak susah dipraktekkan di kehidupan nyata, tapi setidaknya bisa lewat blog kan?

Blog ini juga sebuah peran bukan?

Posted at 06:34 am by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry