PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< December 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, December 20, 2005
JIFFEST

Darmanto Jatman, dalam bukunya, 'Perilaku Kelas Menengah Indonesia' pernah mengutarakan beberapa ciri-ciri kelas menengah Indonesia. Aku lagi nggak punya bukunya sama aku sekarang, tapi yang paling keinget contohnya: mereka yang mengeret-eret laptop, menenteng Tempo (ouch!), Detik, atau.. aku lupa satunya. Sepertinya Pak Darmanto bisa menambah satu lagi ciri-ciri perilaku kelas menengah Indonesia; Mereka yang menonton Jiffest.

Jiffest, walaupun gegap gempitanya selalu hadir di berbagai media, tidak menjadi suatu event yang terjadwal rutin di agendaku.  Nggak tau kenapa. Well, mungkin aku tau kenapa. Aku pernah mbaca wawancara dengan seorang pembuat film independen yang tidak senang dengan festival-festival film. "Karena terlalu crowded, terlalu banyak orang, terlalu sibuk," cetusnya. (heheh, 'cetus'...)

Dan, aku yang juga nggak seneng dengan atmosfer 'dikejar-kejar' untuk nonton film, mendapat pembenaran tanpa pernah benar-benar mengalaminya. Ya aku dapat sekilas gambaran tentang film festival, tapi tidak mendalam, tapi aku udah keburu mengamini kata-kata si pembuat film itu.

Dan Jiffest sendiri, film-film menonjolnya sering udah muncul di kios-kios dvd bajakan sejak beberapa minggu sebelumnya. Jadi mending milih yang lebih murah dan tenang kan, daripada harus berada di tengah gelombang manusia-manusia kelas menengah Indonesia itu...

Anyhow, kemaren sebenernya pas Jiffest mulai, aku lagi di Yogya dan ketinggalan workshop2 gratisnya. Padahal itu yang lebih pengen aku kejar. Filmnya, cuman pengen liat 'Broken Flowers', tapi pas liat jadwalnya, aku nge-predict aku bakal ketinggalan.

Pas balik ke Jakarta, aku juga masih belum minat ngejar, walaupun festival masih ada empat hari lagi. Sampai, aku akhirnya ketemuan ama seorang kakak kelas.

Waktu si kakak kelas mbuka jaket, eh.. dia udah pake kaos Jiffest. (Snob, snob, snob, kataku dalam hati :D). Dan dia ngakuin, asalnya mau nonton, tapi takut nggak ngerti, akhirnya beli kaosnya aja, biar keliatan keren. Tapi terus dia ngasih buklet jadwalnya.

Sambil setengah minat sih mbolak-mbaliknya. Sampai akhirnya ngeliat.. Broken Flowers ternyata masih ada jadwalnya, trus ada dokumenternya Lars von Trier yang gratis (!!!), ada juga dokumenter The Corporation yang gratis. Dan itu udah aku tungguin sejak setahun lalu. Dan ada beberapa film lain lah yang tampak menarik..

Akhirnya, mbuat jadwal lah aku. Dan dengan aktivitas kompartemenku yang lumayan minim, mengharapkan bisa nonton beberapa yang aku kejar. Terutama 'Broken Flowers'.

Akhirnya, pas hari Kamis nonton 'Mountain Patrol' ama 'Yasmin'. Jumatnya, nonton 'Broken Flowers', Sabtunya...nggak bisa kabur dari rumah, dan Minggu baru nonton lagi. 'Mondovino' ama 'The Five Obstructions'-nya Lars von Trier.

Tapi anyhow, tiga hari nongkrong di TIM itu, ya itulah....ngeliat berbagai potret kelas menengah Indonesia. Mereka, yang dilihat dari gelagat dan cara berpakaiannya, mengesankan tidak pernah pergi ke bioskop sebelumnya. Ya, pakaian yang super stylish...

Dan dalam semangat Holden-esque atau High-Fidelity-ish, mereka yang berpakain semeriah itu tidak benar-benar mencintai film. Mereka tidak menonton Jiffest based on their love of film.

Tapi mereka, seperti katanya Radhar Panca Dahana di Kompas saat dia menulis tentang I La Galigo, menonton karena alasan-alasan sosio-politis. Bukan karena mereka cinta, atau mengerti, atau menyukai, tapi karena datang ke event tersebut dapat menambah nilai tentang siapa mereka di mata orang-orang di sekitarnya.

Dan dengan media hype yang terjadi tentang Jiffest, event ini menjadi sesuatu yang hip. Dan, I hate it. Aku benci segala sesuatunya yang hip.

Dan, di sebelahnya GBB kan ada toko buku kecil yang juga njual DVD bajakan. Udah pada berjejer tuh film-film yang pengen aku tonton dan aku pikir susah nyari bajakannya; Mountain Patrol, dan juga Broken Flowers. Film-film Jiffest juga nggak gitu baru-barulah.

Ya sudah, berarti tahun depan, tak usahlah aku merasa cemas karena belum membeli membership card, atau merasa dikejar-kejar harus menonton suatu film di Jiffest, dan terlihat seperti bagian dari hype.

Posted at 08:21 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry