PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< November 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, November 26, 2007
Kebutuhan Dasar

"Mbak, kamu S2nya gimana? Jadi nggak?"
"Ya, belum tahu."
"Kamu udah mau jadi wartawan terus di tempat sekarang?"
"Heeghhh...nggak tahu."
"Ya rencanamu gimana lho..."
"Duh, nanti dulu deh, aku masih mikirin deadline banyak banget nih..."
"Ya kalau S2 belum, nikahnya jadinya kapan?"
"....."

Senin pagi, jam setengah tujuh juga belum, tiba-tiba sudah harus memikirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan besar itu dari ayahku. Pikiranku cuma sampai akhir minggu ini, deadline edisi akhir tahun, majalah sebuah bank, pekerjaan sehari-hari, dan terancam nggak bisa masuk ke KTT Perubahan Iklim. Heegghh.

Tapi, setelah ikut turun di kantornya ayahku, beli cafe au lait yang bowl (beneran dikasih mangkuk sop), tiba-tiba ada lampu yang menyala di dalam kepalaku. Semuanya jadi terang.Aku kembali jadi optimis.

Terancam nggak bisa masuk KTT Perubahan Iklim? Ya tinggal diurus aja.
Deadline edisi akhir tahun? Ya jalanin aja. Kalau mepet bisa telpon-telpon.
Deadline majalah bank? Tinggal artikel kesehatan sekitar 80 barisan kan?
Merasa nggak dapet reward? Ya tinggal retail therapy aja. Belanja dong.
Pekerjaan sehari-hari? Kuliner udah nyicil, masih ada sisa punya FI lagi, dan tasting di resto baru, Sehat masih ada sisa dari minggu lalu, ada Tendance juga. Pokoknya semangat!

Ah, inilah sebabnya orang ngomong: I can't function without my coffee in the morning. Bukan hanya sekedar membangunkan mata, itu mah udah bisa dilakukan lewat mandi, tapi kopi bisa membangunkan rasa. Semangat. Optimisme. Hidup.

(Spoken like a true junkie)

Posted at 08:27 am by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry