PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< July 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, July 18, 2007
Menentukan Mau

Katanya, orang yang paling tersiksa adalah orang yang nggak tau apa maunya. Sepertinya aku sekarang jadi salah satu orang itu.

Aku belum pernah jadi penggemar sepakbola. Dan tidak pernah juga jadi penggemar sepakbola. Seharusnya dengan kesimpulan itu di kepala, nggak susah untuk menjawab tawaran tiket nonton Indonesia lawan Korea Selatan, nanti malam. Apalagi kalau harganya mencapai Rp 75 ribu.

Tapi, aduuuh, kok susah banget menentukan maunya hati ya. Pas udah menolak tawaran tiket, Selasa paginya membaca berita di Kompas yang mewawancara mantan pelatih tim Indonesia. Si mantan pelatih bilang Korea S Selatan sekarang beda sama Korsel yang dilatih Guus Hiddink dan bermain hebat di Piala Dunia...kapan ya itu? 2002? (Seburuk itulah memori sepakbolaku).

Si mantan pelatih ini juga mengajukan beberapa argumen yang membuatnya menyimpulkan, "Indonesia punya kemungkinan bertahan atau malah punya peluang menang." Argumen-argumen yang disusunnya cukup logis sampai, wah, kok ya jadi tergerak untuk nonton.

Selasa siang kemarin, pas sampai kantor juga ditanyain lagi, "Yakin nggak mau nonton? Banyak lho yang mau nonton." Sudah mulai agak goyah sih. Tapi pas sorenya tanya ama Bintang Pelem dan telepon ke Irvan yang lagi nungguin tiket, katanya udah dipesenin sama sekretarisnya siapa gitu dengan jumlah yang sebelumnya, dan udah nggak kekejar lagi kalau mau nyerahin duit, soalnya pasti udah dipesenin dan kantor si sekretaris ini skrg tutup. Singkatnya, aku nggak bakal nonton bareng rombongan media yang katanya sampai 16 orang itu.

Tiba-tiba, kok jadi teringat adegannya "The Perfect Catch" ya? Yang pas karakter Jimmy Fallon memilih datang ke pesta ultah temennya Drew Barrymore dengan tema The Great Gatsby, dan mereka have a great time, yakin bahwa masing-masing adalah "the one" bagi pasangannya, pokoknya semuanya sempurna sampai...Red Sox yang jadi tim favoritnya Fallon menang melawan musuh bebuyutannya. Selama berapa puluh tahun gitu Red Sox nggak pernah menang ngelawan tim lawan. Yankee apa ya?

Pokoknya, itu adalah malam yang bersejarah buat penggemar Red Sox dan Fallon ketinggalan. Di cerita itu sih, karakter Fallon dan Barrymore akhirnya bertengkar karena Barrymore sakit hati Fallon setengah menyalahkannya untuk tidak hadir di pertandingan bersejarah itu. "Itu kan keputusanmu sendiri pergi sama aku," kata Barrymore yang sakit hati.

(Btw, aku nggak tau adegan ini ada atau enggak di "Fever Pitch" buku yang jadi dasar film ini. Hornby kayaknya baru membayangkan worst case scenarionya deh. Setidaknya aku baru membaca sampai bagian itu)

Oke, aku jadi berpikir, bagaimana jika inilah malam bersejarah itu? Seharusnya apa pun yang terjadi tidak akan menggangguku, karena, toh aku bukan penggemar sepakbola gitu. Tapi kenapa ya, kejadian ini, Indonesia di Piala Asia maksudnya, jadi terasa seperti sesuatu yang mampu menembus batas. Batas apa pun itu. Ini sudah menjadi sesuatu yang besar. Buueessaarr. Dan aku akan melewatkan berada di lokasi sejarah dibuat, di kandang kita. Hehe.

Ya mungkin masih bisa sih ngantre tiket di Senayan. Tapi tadi pagi aku juga lebih milih nge-gym walaupun dengan instruktur yang menyebalkan, terus..ada liputan sih, sekarang nge-blog dan siang ada liputan lagi. Intinya, aku juga tidak tergerak untuk berupaya lebih keras untuk bisa ada di sana. Bingung kan?

Kalau mungkin sekedar permainannya, bisa diikuti lewat televisi. Sesuatu yang mau aku lakukan dengan langsung pulang habis liputan. (Ini salah satu sebab aku cinta banget sama communicatorku) Tapi mungkin aku juga ingin merasakan suasananya ya.

Tapi lagi, di saat aku sudah bisa meredam keinginan untuk ada di sana, teman sekelas Basic Step yang kerasa kayak kelas Real Stepper itu ngomong ama si instruktur nyebelin, "Iya, Korsel kan kalah ama Bahrain. Kita kemarin menang lawan Bahrain. Jadi pasti seru nih."

Arrgh.

Bener, memang. Tersiksa.


Posted at 01:46 pm by i_artharini

puri
July 23, 2007   05:22 PM PDT
 
kalah, nar, kalah...
markus ga jauh beda sama pitoy. at least kamu ikut bersorak dan gregetan di senayan kan? hihi..
Niken
July 20, 2007   04:55 PM PDT
 
ga segitu ruginya kok. wong ya akhirnya kalah.

aku juga bukan die-hard soccer fan, tapi nonton juga. kiper indonesia keren banget mainnya. kalo ga dia yang jaga, ntah udah kebobolan brapa deh...
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry