PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< December 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, December 16, 2005
Nobel

Orang yang kata-katanya paling sering aku kutip dalam seminggu terakhir ini, Yohanes Surya, kemarin menyatakan keyakinannya, pada 2020 nanti akan ada kandidat peraih Nobel di bidang sains dari Indonesia. Keyakinannya ini atas dasar anak-anak Indonesia yang sering menang di berbagai Olimpiade Sains internasional.

Logikanya begini: Pak Yohanes ini sering membaca kisah-kisah para pemenang Nobel di bidang sains. Nah, para pemenang Nobel ini dalam riset-risetnya dilatih oleh para pemenang Nobel sebelumnya. Tentu saja, para pemenang Nobel tidak akan memilih sembarang siswa untuk dilatih, mereka akan sangat selektif memilih siswa-siswa unggul. Caranya siswa-siswa calon murid peraih Nobel ini bisa unggul, adalah dengan menjadi juara dunia pada Olimpiade-olimpiade Sains tingkat internasional. Itulah yang membuat dia terus driven untuk melatih anak-anak Indonesia. (Walaupun aku agak bertanya-tanya, emang yang ngebiayain kerjanya Pak Yo ini siapa sih? Dan atas motivasi apa?)

Buktinya, para peraih medali emas Olimpiade Fisika internasional sekarang banyak yang dilatih para peraih Nobel.

"Seperti di Princeton, Oki Gunawan sedang dilatih oleh Daniel Tsui (peraih Nobel Fisika 1998). Lalu ada lagi anak Indonesia yang sedang dilatih oleh peraih Nobel, Wolfgang Ketterle (pemenang Nobel Fisika 2001) di MIT, di Stanford University ada anak Indonesia yang menjadi asisten dosen peraih Nobel, Douglas Osheroff (Nobel Fisika 1996), ada juga Rizal Fajar Haryadi yang sedang berada di California Technical University dan menjadi murid para peraih Nobel di sana. Bahkan Rizal pernah mengajar peraih Nobel Fisika 2004," jelas Yohanes.

(kutipan dari berita-ku kemarin)

Jadi, kata Pak Yohanes, bukan tidak mungkin 2020 nanti Indonesia punya kandidat peraih hadiah Nobel di bidang sains.

Dan percaya atau tidak, Nobel, setidaknya pada bidang sains, jatuh-jatuhnya adalah masalah networking. Track record penelitian si kandidat harus diketahui dengan baik oleh mereka yang tergabung di komunitas peraih Nobel; ya mungkin biar menjaga nilai penghargaan ini tetap tinggi dan tidak tainted kali ya. Penelitian yang bagus, kalau tidak terpantau dan tidak 'ketahuan' siapa yang ngerjain juga nggak bakal dicalonkan untuk meraih Nobel.

Tapi, tapi, yang jadi pertanyaanku, gimana dengan Nobel Sastra?
Mungkin nggak sih ada pelatihan model seperti ini diterapkan untuk meraih Nobel Sastra?

Dengan banyaknya perhatian (oleh pihak tertentu, tentunya) dan publikasi diberikan untuk  bidang sains, gimana dengan bidang lain seperti Sastra?

Just my two cents.

Posted at 06:45 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry