PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< May 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, May 08, 2007
Awal Sebuah Langkah

Ternyata, interior kantor yang super mewah tapi ala OKB dan tidak mencerminkan intelektualitas yang harusnya diberikan sebuah produk media (therefore, I used to hate it) sekarang sudah mulai jadi sebuah kebiasaan. Mungkin malah sebuah standar.

Jadi pas ngeliat tempat kerja lain yang menyimpan kemungkinan untuk jadi tempat kerja baru, aku jadi kaget juga. Waks, kecil juga ya. Atau kantor selama ini yang memang terlalu ekstravagan?

Tapi ya, aku kaget ngeliat interior kantor lain yang produknya justru lebih mewah, tapi kantornya lebih sederhana. Dan aku kaget karena merasa kaget telah meributkan hal itu. Dari situ ngerasa, wah kantorku yang sekarang, dengan segala baik buruknya, influential juga ya. Bukan hanya dari segi interior kantor atau gimana, tapi entitas dia sebagai sebuah media, peran (ideal)nya, akses-akses yang diberikannya, dia seharusnya jadi siapa, dan seterusnya. Dan aku masih merasa peduli dengan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. At some point. Kalau aku jujur dan tidak memasukkan pikiran tentang gaji.

Anyway.

Itu persiapan yang cukup menarik, menurutku. Dari yang udah lama nggak njahit gara-gara sekarang banyak penjahit murah kalau cuman mau mendekkin celana sementara dulu pas kuliah harus mendekkin sendiri, nyetrika kemeja putih pagi-pagi, pokoknya put on all these efforts untuk membuat diriku terlihat agreeable dan representatif di depan orang lain.

Kenapa coba aku nggak berpikir tentang hal ini dari dulu?

Semua orang harus punya pengalaman wawancara pertama untuk pekerjaan kedua. It was a pretty informal interview, jadi aku juga nggak ngerasa tegang. Dan itu juga situasi nothing to lose, ya jadinya aku ngerasa santai. Tapi, gimana coba ya nanti kalau ada taruhan yang lebih besar. Tugas-tugas yang lebih menarik, institusi yang lebih kredibel, dan gaji yang minimal tiga kali dari yang sekarang, apakah aku akan tetap merasa tenang?

Ya pastinya enggak lah. Tapi setidaknya harus ada langkah pertama kan?

Posted at 07:06 pm by i_artharini

nari
May 9, 2007   09:57 PM PDT
 
belum kok, nin. still here. cuman lagi coba2 venturing out, belum tau resultnya gimana.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry