PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< April 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, April 27, 2007
Affliction

Pernah terbangun dengan sebuah resolusi: aku cuman pengen bahagia hari ini? (Beneran ya, membuka dengan pertanyaan itu emang cara mengawali tulisan paling gampang.) Kenapa ya, sekarang kok aku jadi terbangun dengan pagi-pagi seperti itu terus?

Tapi, pada tengah hari, aku menemukan sebuah kesedihan yang besar banget dan nggak bisa nggak membuatku pengen nangis. Aku, sudah pasti lebih tua dari terakhir kali serangan-serangan seperti ini terjadi dan bisa dibilang lebih bijaksana. Tapi kenapa ya? Kesedihan yang belum aku temuin sumbernya ini kok tiba-tiba datang lagi dan membuatku ngerasa mak-less.

Aku bisa ngenalin beberapa elemen-elemennya yang nggak rasional, kayak this hatred for people yang berlaku biasa-biasa aja dan nggak ada yang salah sebenernya dengan mereka. But I hate them. Dan semua hal aku anggap membuatku merasa kesal.

Rasanya cuman pengen pulang, terus nangis, terus tidur, bangun, terus nangis lagi. Penyebabnya abstrak. Emang terasa seperti kesedihan yang abstrak. Therefore, seharusnya ini kesedihan yang nggak rasional. Tapi apa sih ini yang membuat aku nangis?

Posted at 03:06 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry