PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< March 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, March 02, 2007
Jazz Soiree dan Kelas

Tadi malem, pas iseng-iseng nanyain ama Redaktur Eksekutif yang ngurusin iklan, masak kita nggak dapet undangan Java Jazz, eh taunya dibales dengan: tuh ada tuh, kayaknya gala dinner pembukaannya deh.

Oke lah, dateng ke sana dengan harapan bakal bisa ngurus Press Pass buat tiga hari ke depan (ternyata nggak). Anyway, pas lagi muter-muter di sana, ini kan acara ceritanya khusus undangan. Yang dateng, selain media, orang-orang yang kerja di perusahaan-perusahaan yang ngesponsorin event itu. Ya dari Dji Sam Soe, Garuda, Telkomsel, BNI, dan aku nggak tau dari mana sisanya.

Tapi, pas lagi muter-muter di sana, ngeliat banyaaak banget cowok-cowok yang yah sebenarnya secara fisik gak model-model banget. Cuman rapi gitu. Clean shaven, clean cut, pakaiannya juga rapi dan 'normal', bahkan berbatasan dengan stylish gitu. Pokoknya cukuplah untuk bertanya: 'where have all these men holed up? Disembunyikan? Sehari-harinya mereka di mana?'

Ya mungkin sehari-harinya, saat aku ngejar-ngejar liputan (atau mencoba menyemangati diri untuk keluar rumah dan ke kantor) mereka udah ngendon di kantor. Dan saat mereka bubar kerja, aku masih di kantor. Dan antara jam kerjaku dan jam kerja mereka, there's no chance meeting, meet-cute, apa pun itu namanya yang pokoknya artinya kita ketemuan.

Dan somehow, dengan tampilanku yang masih pake seragam itu dan muka penuh minyak, dan tampilan mereka yang rapi walopun muka sedikit berminyak, aku kok tiba-tiba ngerasa ada perbedaan kelas ya?

That I'm not in the same class as they are, walaupun wajah-wajah mereka keliatan kayak teman-teman SMA-ku dulu. Dan kesempatanku buat ngedapetin tipe-tipe cowok kayak gitu jadi far and remote, dengan posisiku sekarang. Atau apa karena aku kebanyakan mbaca buku-buku tentang society itu? And yes, jazz and society, oh..betapa 'Great Gatsby'-nya.

Oke, mungkin yang membedakan cowok-cowok seusiaku itu dan aku cuman saldo di bank, we have the same background, education wise, kita sama-sama produk ortu kelas menengah, secara taste...oh, I'm definitely better. Tapi, kenapa ya, I have that sense tentang perbedaan kelas ketika melihat mereka. Apakah ini bagian dari kehidupan orang dewasa? Ketika perbedaan-perbedaan seperti tingkat pemasukan mempengaruhi siapa kita atau cara kita dilihat dan melihat?

Posted at 06:41 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry