PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< March 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, March 02, 2007
Society Girls

Kayaknya buku pertama yang aku baca tahun ini adalah 'My Name is Red'-nya Orhan Pamuk. Tapi itu bukan buku pertama yang aku selesaikan. Instead aku nyelesein beberapa buku tentang society girls.

Pertamanya, karena pengen mbaca sesuatu yang ringan, akhirnya milih The Pursuit of Love/Love in a Cold Climate, dua buku yang dijadiin satu, dua-duanya karya Nancy Mitford. Ini ceritanya sih cukup lucu lah. Tentang para bangsawan Inggris pedesaan yang hidup di masa-masa antara Perang Dunia I dan II.  Yah, kayak tokoh-tokoh ceweknya Jane Austen kali ya, cuman masanya aja beda. Omongannya, apalagi kalo bukan cari suami-suami.

Tapi, gara-gara di salah satu buku itu dibilangin kalo karakternya mbaca 'The House of Mirth'-nya Edith Wharton, aku jadi mulai mbaca buku itu (yes, yes, ini tentang intertekstualitas). Dan sekarang, ketika selesai, aku malah jadi pusing.

Gara-garanya, aku nggak ngerti motif-motif yang mendasari tindakan-tindakannya karakternya, Lily Bart. Semakin ke belakang, cerita hidupnya jadi semakin sengsara, tapi kok resistensi yang dilakukan si karakter nggak berubah-berubah ya? Gituuu aja. Kadang ada beberapa kali tokoh utama cowoknya nggak disebut sama sekali, padahal aku berharapnya dia yang bakal jadi karakter penolong. Terus ada sebuah obyek yang dimiliki Lily pas di bagian awal, aku berharap ini bakal jadi senjata yang dia pake, kartu As terakhir yang bisa dia tarik. Lha tapi kok sampai terakhir dia baru inget gitu.

Why, why, why Lily Bart seperti itu?

Iya, New York society itu kejam ke dia. Tapi kenapa dia nggak equally mean? Padahal the only thing that she has to be in that world, i.e. reputation, udah dibelah-belah hanya lewat gosip-gosip mereka. Apakah, by refusing to play dirty, Lily berusaha mempertahankan satu-satunya 'virtue' yang dia miliki? (Btw, aku nggak yakin virtue-nya itu apa, tapi...apakah itu playing nice? Atau jujur?) Atau, apa karena dia menahan diri karena perasaannya sama Selden.

But really, for Selden to be the 'only spring in her heart during her whole life' kok kayaknya kurang passionate gitu. And I'm comparing this to another Edith Wharton's novel, Age of Innocence. Ih, di situ mah keliatan jelas yang namanya passion, walopun sopan, tetep aja keliatan antara si Countess Olenska ama siapa itu...pokoknya di versi filmnya, yang jadi si Daniel Day Lewis.

Mbaca ini malah pusing deh. Jadi rada ragu untuk melanjutkan ke bacaan-bacaan tentang society girls lainnya.




Currently reading:
The House of Mirth (Signet Classics)
By Edith Wharton



Posted at 06:09 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry