PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, January 27, 2007
Kilas 24

Other than my mom dreaming about my future husband, I think I got a glimpse of what 24 is all about. Jadi, beberapa waktu lalu, ceritanya aku rada ngerasa ampang, kosong gitu. Nggak antusias lagi ama kerjaan, atau buku, atau belajar, atau nulis. Tahun baru aja (dua tahun baru, tepatnya) nggak membawa optimisme apa-apa buatku.

Walopun, kalo diliat, everything is...fine. Fine dalam artian nothing is bothering me secara substansial. Kecuali ya...the absent of excitement. Nggak ada itu lhooo...that jolt of fire. Motor di otak tuh kayaknya nggak nyala-nyala, dan nggak ada tujuan buat pergi juga gitu...Pokoknya semua datar aja. Apakah aku ngerasa bosan?

Aku masih meraba-raba dalam gelap sih sebenernya tentang apa yang terjadi. Jadi, ketika aku merasa menemukan jawaban, aku nggak yakin apakah pada awalnya aku memang sedang nyari sesuatu. Dan aku ngerasa, it has to do with being older.

Semua-semua di sekitarku aku rasa gitu-gitu aja, nggak berubah. Tapi mungkin caraku menghadapinya yang berbeda. Nggak bisa kayak waktu abis lulus kuliah. Aku udah jadi lebih skeptis, jadi nggak gampang antusias, nggak gampang terinspirasi, jadi semangat dalam hati tuh nggak semudah dulu munculnya.

Mungkin karena alasan-alasan itu juga, aku jadi lebih susah mbaca, karena sugesti nggak segampang beberapa tahun lalu masuknya ke otak. Sama juga pas belajar. Filter otak jadi lebih ketat, lebih ketat dari perbatasan Amerika Serikat kayaknya.

Dan as for writing and working, ya mungkin karena sekarang lagi masa-masanya ketahanan itu diuji. Stimulus yang dikasih di tempat kerja, sama halnya kayak sugesti-sugesti di luar tempat kerja, nggak lagi segampang itu menginspirasi untuk do my best.

Nggak heran kalau aku ngerasa 'bosan', karena aku berharap hal-hal yang dulu membuat aku terinspirasi dan bersemangat, terus-terusan akan membuatku terinspirasi dan bersemangat. Yah, sama kayak Spice Girls atau every other boyband I screamed on during my teenhood, beberapa dari hal-hal itu jadi melempem.

Kalo buat bacaan atau menulis, I hope those things nggak bakal melempem. Tapi mungkin aku harus memaknainya dengan cara yang beda. Dan aku bisa dengan gampang gonta-ganti penulis kesukaan.

Tapi gimana dengan tempat kerja? Well, I can change work place. Oke, itu mungkin rencana jangka....lima tahun? Atau terlalu lama? Anyway, apa yang penting sekarang, to survive day-by-day in my workplace, ya lagi-lagi memaknainya dengan cara yang berbeda.

Sekarang menyemangati udah jadi tugas diri sendiri. Gimana caranya nemuin hal-hal yang masih menantang. Atau hal-hal yang masih disenengin. Atau nemuin harapan dan optimisme lagi. Dan nggak bergantung sama apakah lingkungan kerja kita ngasih stimulus.

Belajar juga gitu rasanya. Ya, mencoba menggali aja ilmu apa yang pengen dicari instead of males2. Bener juga ternyata, as you get older, menyerap pelajaran jadi lebih susah. Karena kita nggak semudah itu percaya. Kalau buat yang ini, aku masih belum nemu gimana caranya untuk ngerasa haus lagi.  

Posted at 09:27 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry