PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, September 25, 2006
Wide Sargasso Sea

Hurrah! Finished my 40th book this year, last Saturday in fact. 'Wide Sargasso Sea'. Buku yang aku beli pas closing sale-nya QB Plaza Semanggi dan aku beli karena aku punya 'Jane Eyre'.

Jadi, aku baru menemukan satu pola lagi membaca yang (mungkin) bisa meningkatkan efektivitas. Haduh, bahasanya itu lho. Anyway, pola itu sih namanya 'intertekstualitas'. Dan kayaknya, this might be it; pola membaca yang sesuai buat aku dalam men-tackle koleksi buku yang udah semakin mekar dan biar aku nggak asal ngambil juga, dan biar pemaknaannya nggak sekadarnya juga sih. Oke, tentang intertekstualitas sendiri sih maksudnya memilih buku-buku dengan tema yang berhubungan dekat, kayak contohnya 'Jane Eyre' ama 'Wide Sargasso Sea'.

'Wide Sargasso Sea' yang rilis tahun 1966 memposisikan diri sebagai prekuel dari 'Jane Eyre'; bercerita tentang siapa dan asal mula si perempuan gila di loteng. Yang nulis penulis lain tentunya, dan Jean Rhys memiliki alasan yang cukup legit untuk memberi pemaknaan lain atas sosok madwoman in the attic itu. Alasan utamanya sih menurutku karena latar belakang budaya dan asal-usul yang sama dari Antoinette/Bertha Mason dengan Rhys sendiri. Antoinette/Bertha yang besar di Jamaika dan dipindah ke Inggris yang dingin dan steril akan merasa suatu keterasingan, lalu belum lagi status pernikahannya dengan Rochester yang lebih sebagai jual beli dari pada pernikahan. Belum lagi penjelasan atas kegilaan yang degeneratif dan a hint of racism di 'Jane Eyre' tentang penggambaran sosok Bertha Mason.

Buat aku, memang jadi ada suatu sisi cerita lain tentang Bertha. Aku nggak tau apa kata tepatnya untuk memberi suatu penilaian positif untuk adanya cerita tentang Bertha. 'Lebih baik'? Bisa sih. Tapi ceritanya Bertha ternyata tragis. Jadi apakah lebih baik mengetahui cerita yang tragis itu atau tidak? 'Melegakan'? Mungkin juga bisa. Tapi cerita tentang Bertha diceritakan dengan cara yang menyesakkan. Nggak ada sedikit pun nada 'harapan' di buku itu. Berawal dari kesedihan, terus menurun sampai menjadi sesuatu yang tragis. Gimana bisa ada orang se-tidak beruntung Bertha? Benar-benar buku yang membuat depresi. Belum lagi cara tiap karakternya bertutur, 2/3nya dihabiskan dengan cara yang terbata-bata, lalu ada pula tipisnya batas kenyataan-rumor-khayalan; semuanya digabung, kesan yang tercipta jadi menyesakkan.

Bukunya nggak tebel, cuma 123 halaman, tapi nembus bukunya itu susah. It's pretty dense. Struktur, penokohan, kata-kata yang diucapkan sih memang masih jelas banget, cuman, ya itulah...menyesakkannya itu lho yang membuatku susah nembus.

Anyway, dalam menggunakan pola intertekstualitas itu, setelah 'Wide Sargasso Sea' selesai sih maksudnya mau berlanjut ke 'Rebecca'. Ada kesamaan tema dengan 'Jane Eyre', seorang governess yang polos dan naif menikah dengan sosok lelaki yang gelap, murung, misterius, dan menemukan misteri-misteri tentang mantan istrinya yang ada cerita tragis-tragisnya juga, dan setting lokasi yang kuat. Di 'Jane Eyre', settingnya Thornfield, 'Rebecca' di Manderlay.

Tapi, sekarang malah lagi mbaca 'The African Queen'. Gara-garanya, setelah JE, aku mbaca 'Kate Remembered' biar agak rileks sedikit, tapi terus inget...aku punya 'The African Queen' dengan Katharine Hepburn dan Humphrey Bogart di sampulnya. Oh iya, mereka kan pernah main di versi filmnya. Ya sudahlah, since Kate Hepburn is a rarity here, aku cuman bisa membayangkan Hepburn sebagai Rosie Sayer di 'The African Queen'.

Setelah dua peta itu selesai dijalanin, I'm thinking of going the socialite map, jadi..Vanity Fair, novel-novelnya Edith Wharton, Bel-Ami, terus F Scott Fitzgerald kali ya, sebelum akhirnya membuat cabang peta baru ke 1920s writers yang bermuara ke Gertrude Stein--gurunya Hemingway dan Fitzgerald--dengan 'The Autobiography of Alice B Toklas'.

Dan oh, I'm also thinking about 'short story ladies', diawali dari Alice Munro mungkin, terus berlanjut ke Collected Short Storiesnya Katherine Ann Porter yang dibaca back-to-back ama Collected Short Storiesnya Eudora Welty (mereka saling mengagumi ternyata, dan Porter adalah mentornya Welty), sebelum lanjut ke novel-novelnya Welty sampai ke Faulkner yang sama-sama Southern Writers. Hah! Jadi inget, dari situ kan bisa ke Carson McCullers...

(Ough, I'm definitely going to be a spinster...)

Posted at 07:37 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry