PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< November 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, November 29, 2005
Shopping pt.2

Hari ini, setelah menemui kebuntuan gara-gara orang yang aku kejar di BNN ternyata lagi ke luar negeri sampai tanggal 3 dan baru masuk Senin, aku pergi (lagi) ke Perpustakaan Depdiknas. *Sigh*

Emang kok, it ain't over till it's over.

Dan pas ke sana, ternyata ada beberapa kios yang pas Jumat lalu aku ke sana belum buka, sekarang buka. Contoh, stand (atau petak kali ya tepatnya?) milik Komunitas Bambu yang ngejual buku-buku kumpulan sajaknya Sitor Situmorang, tapi akhirnya aku malah ngambil buku seken ber-hardcover karangan W.Somerset Maugham, "Liza of Lambeth". Habis masak 'Paris La Nuit' harganya setelah di-diskon tetep Rp 49,5 sih?

Puter-puter kanan kiri, eh di Grasindo ternyata ada 'Salju di Paris' seharga Rp 10 ribu. Dan mundur sedikit, lho kok banyak buku-buku dari penerbit Yogya ya?

Aku cuma bisa nge-scan judulnya satu per satu, karena there's so much yang menarik mata, dan aku cuma berdiri sendirian di depan dua mas-mas yang kayaknya juga ngikutin ke mana mataku bergerak. Akhirnya salah satu mas itu bilang, "Dibaca dong belakangnya, jangan cuma diliatin dari atas aja." Buku-bukunya mereka emang digelar lesehan dan ada yang ditaruh di meja pendek. Aku cuman bisa senyum dan ber-"iya, iya, Mas."

Tapi aku masih tetep scanning-mode, karena kalau it really up to me dan aku mbaca bagian belakangnya, ya mau aku beli semua. Ya enggak juga sih, sebenernya karena ada beberapa buku yang sifatnya nge-pamflet. Eh, terus akhirnya nemuin buku kumpulan cerita pendek Afrika yang terjemahannya dikerjain Sapardi, dan dua buku dari penulis Vietnam, Duong Thu Huong. Udah naksir buku2 itu sejak lama, tapi kok ya harganya mahal untuk buku ukuran kecil yang standar, Rp 50 ribu.

"Mas, ini di-diskon?" tanyaku. Kalau mas-nya bilang belum, aku akan menjadikannya sebagai pembenaran untuk tidak belanja. Tapi sayangnya, jawaban salah satu mas itu, yang memakai kaos merah bertuliskan 'Against Turtle Trade', "belum. Yang di sini," sambil menunjuk ke buku-buku di meja rendah, "50 persen. Yang di situ," menunjuk buku-buku yang digelar di lantai, "40 persen."

*Gasp*

Langsung aja, tiga buku yang udah aku lihat tadi aku tumpuk, sambil ngeliat-liat yang lain. Buku-buku Jalasutra, hmm.. menarik hati, cuman terjemahannya sering kacau, lewatin. Buku-buku Resist, hmm..menarik sih, tapi kesannya kayak itu lhoo.. orang-orang yang clueless dan merasa harus belanja banyak untuk 'catch-up' yang sudah ketinggalan. Well, I am clueless, dan seringnya aku emang belanja banyak untuk catch-up, tapi males ah nunjukinnya di depan mas-mas penjual yang satunya memakai kaus bernada pencinta lingkungan dan yang satunya bernada pro petani, dengan tulisan: Farmer is King. Tebakanku sih, mereka udah menguasai lah apa yang mereka pakai di dada mereka. So, they'll figure out I'm a newbie. 'High Fidelity', anyone?

Sebenarnya ada buku-buku sajak tipis-tipis yang harganya 7500an sebelum diskon (dan buku-buku itu ada di tumpukan 50% off), tapi lagi-lagi rasanya kayak orang clueless yang mau belanja banyak buat mengejar ketertinggalan. Akhirnya batal deh.

Anyway, settle untuk tiga buku itu.

"Ini dari Yogya, mas? Datang ke sini cuma buat pameran?" tanyaku.
"Oh enggak, mbak. Kita di Jakarta kok. Di Jatinegara. Di depan Stasiun Jatinegara, main ke sana aja. Itu alamatnya ada di nota-nya. Di sana juga buku-bukunya terus diskon, nggak se-gede di sini sih memang."

Hmm..kenapa semua deskripsi itu sounds familiar ya?

Aku memberanikan diri untuk nanyain ciri-ciri lain dari toko mereka, untuk mencocokkan karakter-karakter identifyer mencurigakan yang muncul. Tapi mas berkaus 'Farmer is King' dengan rambut gondrong keriting semburat pirang menegasikan ciri-ciri yang aku berikan. Jadi keder juga di tengah jalan. "Oh, nggak jadi deh mas, kayaknya aku salah tempat," kataku.

Mas satunya lagi, si kaus merah, yang baru aku sadar berjenggot agak panjang, memakai kalung gading tiruan berbentuk cakar hewan raksasa yang serenteng, malah bertanya, "Oh, temennya si ini ya mbak?"

Dan aku cuma bisa tersenyum kecut. Aduh. Dan seketika aku ingat, dari mana aku mendapat informasi-informasi itu.

Dalam hati: Ermm, bukan.
Yang keluar: Ermm... *senyum salah tingkah, canggung, etc*

"Sering-sering aja mbak main ke sana," kata mas berkaus merah yang juga memakai kupluk hitam dengan kacamata motorcycle-goggle ala Perang Dunia. Ya tak pa-pa lah, style-nya ada substansinya, heheh.

Aku cuma balas tersenyum dan berbasa-basi, iya, iya. Walaupun dalam hati aku bilang, "waduh, susah nih. Mending nggak usahlah."

Hmm, gak bisa kabur juga nih dari badai kenangan.

Anyhow, muter-muter lagi, dan nemu 'Batas Nalar' sama 'Damai di Bumi' dengan setengah harga! Terus ada juga sih yang lain, kayak buku tipis tentang Virginia Woolf, bukunya Seno Gumira Adjidarma, sama ada satu bukunya Marco Kusumawidjaya tentang tata ruang Jakarta.

Dan, dan, aku ketemu Haha, alias Fani, alias Stephanie Surya. Sambil berdiri kita bisa catch-up sampe setengah jam-an sendiri. Sempet nggak ngenalin, karena dia keliatan lebih seger, lebih putih (mungkin karena dulu sering kedinginan, pipinya jadi merah terus), lebih chubby pipinya, pokoknya sempet ragulah. Wow, what a coincidence. What a nice coincidence.

Btw, ini ada info dari penjaga buku cute di petak Paguyuban Karl May Indonesia, katanya tanggal 7-11 Desember nanti di JCC bakal ada Indonesia Book Fair! That's one book fair that I'm definitely not going to go.

Katanya si mas, "Nih ya mbak, saya kasih bocoran. Kita itu, di Diknas, pasti seminggu sebelum Jakarta Book Fair atau Indonesia Book Fair. Off the recordnya: kok jadi ngehantam IKAPI gini sih aku ngomongnya? Tapi ya intinya itu, kita di sini penerbit2 kecil kan susah mbiayain stand di situ, dan kita juga pengen pameran..."

Terus dia ngomong rada panjang tentang memberikan diskonnya kembali ke pembaca dan bukan ke retour-retour ke penerbitan besar, atau apaaa gitu, rada nggak dong juga sama penjelasannya, pokoknya dia terus menyingkatnya jadi: memanusiakan pembaca.

Ah well. Bolong lagi kantongkuuuu...

Posted at 09:41 pm by i_artharini

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry